Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Hubungan Kompetensi Kader Posyandu dalam Pelayanan Balita dengan Capaian Pelayanan Gizi Balita di Desa Gunungrejo Kecamatan Singosari Suhailah, Wildatus; Fransiska, Ratna Diana; Ratri, Devita Rahmani
Journal of Issues in Midwifery Vol. 9 No. 1 (2025): Volume 9 No 1
Publisher : Journal of Issues in Midwifery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.JOIM.2025.009.01.4

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Berdasarkan riset dari (SSGI) pada tahun 2022 mengenai status gizi balita di Indonesia, prevalensi stunting di Indonesia 21,6%, overweight 3,5%, underweight 17,1% dan wasting 7,7%. Pemantauan status gizi balita dilaksanakan melalui penimbangan bulanan di posyandu dengan mengacu pada parameter SKDN. Salah satu parameter yang digunakan ialah N/D (persentase anak yang mengalami kenaikan berat badan dibandingkan dengan total anak yang diperiksa). Indikator N/D pada tahun 2022, di desa Gunungrejo hanya mencapai 52,9%. Kader posyandu diharapkan memiliki kompetensi yang baik dalam melakukan pelayanan karena dengan kompetensi yang baik bisa mengentaskan masalah gizi pada balita. Tujuan: untuk mengetahui hubungan kompetensi kader posyandu dalam pelayanan balita dengan capaian pelayanan gizi balita di posyandu. Metode: menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian observasional dan menggunakan pendekatan cross sectional serta dianalisis dengan metode spearman. Pengambilan data pada penelitian ini menggunakan kuisioner kompetensi kader posyandu dalam pelayanan balita dan kuisioner capaian pelayanan gizi balita. Besar sampel diambil menggunakan pendekatan purposive sampling, dan mendapatkan hasil 70 sampel ibu balita. Hasil: terdapat korelasi yang signifikan antara kompetensi kader posyandu dan capaian pelayanan gizi balita. Dari hasil analisis didapatkan bahwa responden menilai kompetensi kader posyandu dalam pelayanan balita dengan kategori baik 28 (40,0%), cukup 19 (27,1%) dan kurang 23 (32,9%). Kemudian, capaian pelayanan gizi balita dengan kategori baik 27 (38,6%), cukup 18 (25,7%), kurang 25 (35,7%). Selanjutnya, terdapat hubungan kompetensi kader posyandu dalam pelayanan balita dengan capaian pelayanan gizi balita dengan (pvalue 0,002) dan korelasi koefisien sebesar 0.365 menunjukkan kedua hubungan variabel tersebut lemah dikarenakan kompetensi kader posyandu merupakan faktor eksternal dalam capaian pelayanan gizi balita. Kesimpulan: terdapat hubungan antara kompetensi kader posyandu dalam pelayanan balita dan capaian pelayanan gizi balita di Desa Gunungrejo Kecamtan Singosari.Kata kunci : kompetensi, kader, posyandu, gizi, balita
ECG-Based Heart Rate Variability and KNN Classification for Early Detection of Baby Blues Syndrome in Postpartum Mothers Megawati, Citra Dewi; Asriningtias, salnan Ratih; Bima Romadhon Parada Dian; Teo Pei Kian; Sutawijaya, Bayu; Fransiska, Ratna Diana
Sinkron : jurnal dan penelitian teknik informatika Vol. 9 No. 4 (2025): Articles Research October 2025
Publisher : Politeknik Ganesha Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33395/sinkron.v9i4.14956

Abstract

Early detection of baby blues syndrome plays an important role in preventing postpartum emotional disturbances from developing into more serious mental health conditions. This study proposes a simple and non-invasive approach to identify early signs of baby blues in postpartum mothers by analyzing electrocardiogram (ECG) signals using the K-Nearest Neighbor (KNN) algorithm. The ECG data were gathered through wearable sensors and processed to extract heart rate variability (HRV) features such as RMSSD, SDNN, entropy, and energy. These features were then used to train and test a KNN classification model through a five-fold cross-validation process. KNN was chosen because it is easy to implement, does not assume any specific data pattern, and works well with small datasets like those commonly found in clinical settings. Its ability to group data based on similarity makes it suitable for recognizing subtle physiological changes linked to emotional stress. The model reached an accuracy of 87.5%, with strong precision and recall scores, showing its reliability in distinguishing mothers who show early symptoms of baby blues from those who do not. Among all features, RMSSD and SDNN had the highest impact, pointing to reduced parasympathetic activity in affected individuals. These findings suggest that combining HRV analysis with a straightforward machine learning approach like KNN offers a promising, low-cost solution for early emotional screening in maternal care, especially where resources are limited.
Associated factors of cervical cancer screening intention among reproductive aged women: A cross-sectional study Putri, Santy Irene; Devi, Hilda Mazarina; Fransiska, Ratna Diana
Pediomaternal Nursing Journal Vol. 11 No. 2 (2025): VOLUME 11 NO 2 SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/pmnj.v11i2.70638

Abstract

Introduction: Cervical cancer screening has consistently proven effective in reducing both the incidence and mortality of cervical cancer. However, in many developing countries, including Indonesia, participation in screening programs remains considerably low. The primary objective of this study was to examine the intention toward cervical cancer screening and the associated factors among reproductive-aged women in Malang city, East Java, Indonesia. Methods: This study employed an observational analytic approach with a cross-sectional design. Researchers conducted the study with 410 participants selected through a simple random sampling technique in Malang. The study focused on cervical cancer screening intention as the dependent variable, while considering attitude, affordability of health services, and health worker support as independent variables. The data collection instrument utilized was a questionnaire comprising various aspects such as attitude, affordability of healthcare services, and health worker support. The researcher-designed questionnaire was guided by the PRECEDE-PROCEED Model. The data were analyzed through multiple linear regression. Results: The results revealed that favorable attitudes (B = .08, SE = .04, P-value = .026), affordable healthcare services (B = 1.06, SE = .19, P-value = < .001), and support from healthcare workers (B = .59, SE = .24, P-value = .013) were associated with an increased intention toward undergoing cervical cancer screening. Conclusion: This study highlights that favorable attitudes, affordable access to healthcare services, and adequate support from health workers are significantly associated with the intention to undergo cervical cancer screening among reproductive-aged women. Keywords: attitude; cervical cancer screening; health worker support; healthcare services; reproductive-aged women
Hubungan Supportive Environment dengan Peran Kader Posyandu dalam Pelayanan Kesehatan Masyarakat Sholikhah, Laila Aminatus; Wardhani, Viera; Fransiska, Ratna Diana; Wardani, Diadjeng Setya
Jurnal Kebidanan Vol 14 No 2 (2024): Jurnal Kebidanan Edisi September 2024
Publisher : ITSKES Insan Cendekia Medika Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35874/jib.v14i2.1375

Abstract

P Posyandu diukur melalui cakupan SKDN, dengan salah satu indikator jumlah balita yang ditimbang dibagi jumlah sasaran balita (D/S). Pencapaian target SKDN di Kelurahan Pagentan tahun 2022 untuk balita yang memiliki KMS (K/S) adalah 41,9% dan balita yang datang dan ditimbang (D/S) adalah 41,9%, serta pencapaian target balita yang naik berat badannya dari seluruh balita (N/S) adalah 32% dari target 75%. Kader berperan penting dalam meningkatkan keberhasilan posyandu. Oleh karena itu, keberhasilan tersebut dipengaruhi oleh peran kader itu sendiri. Tujuan penelitian ini, yaitu mengetahui hubungan supportive environment dengan peran kader posyandu dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Penelitian menggunakan pendekatan cross-sectional dengan menggunakan sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 69 kader. Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang kemudian dianalisis menggunakan rank spearman. Hasil penelitian menunjukan terdapat hubungan positif yang signifikan antara komponen supportive environment, yaitu reward and punishment (p-value 0,044), dukungan keluarga (p-value 0,000), dukungan tokoh masyarakat (p-value 0,027), dan dukungan masyarakat (p-value 0,005) dengan peran kader posyandu dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Dengan demikian, strategi yang tepat dibutuhkan untuk meningkatkan dukungan, seperti penyuluhan yang berkaitan dengan pentingnya peran kader posyandu
Strategi Holistik Penanganan Anemia Remaja Putri untuk Mencegah Stunting Antar Generasi di SMPN 2 Singosari, Malang Wardani, Diadjeng Setya; Fransiska, Ratna Diana; Hastuti, Nur Aini Retno; Sebrina, Keyko Dyandra; Sinta, Dewi; Hernistanti, Alya Dwi Rahma
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 10 No. 4 (2025): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/ssze1k21

Abstract

Anemia pada remaja putri masih menjadi masalah kesehatan yang berdampak terhadap kualitas generasi mendatang dan berpotensi meningkatkan risiko stunting pada anak di masa depan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku remaja putri dalam pencegahan anemia melalui pendekatan holistik yang mencakup aspek biomedik, sosial, dan intervensi gizi di SMPN 2 Singosari, Malang. Kegiatan dilaksanakan melalui skrining kadar hemoglobin, penyuluhan kesehatan reproduksi, edukasi pentingnya konsumsi tablet tambah darah, serta pelatihan penyusunan menu bergizi seimbang berbasis bahan pangan lokal. Pendekatan sosial melibatkan guru, orang tua, serta kader kesehatan sebagai agen perubahan dalam mendukung keberlanjutan program. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta sebesar 82%, peningkatan kepatuhan konsumsi tablet tambah darah dari 40% menjadi 75%, serta peningkatan kadar hemoglobin rata-rata dari 11,2 g/dL menjadi 12,4 g/dL. Selain itu, partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan gizi meningkat signifikan. Selain menghasilkan perubahan jangka pendek, program ini berpotensi mendorong perilaku sehat yang berkelanjutan melalui keterlibatan komunitas dan pemantauan rutin oleh sekolah serta kader kesehatan. Keberlanjutan program ini diharapkan dapat berkontribusi pada penurunan risiko stunting di masa mendatang dan menjadi model intervensi terpadu bagi sekolah lain. A Holistic Strategy for Managing Anemia Among Adolescent Girls to Prevent Intergenerational Stunting in Junior High School 2 Singosari, Malang Abstract Anemia in adolescent girls is still a health problem that has an impact on the quality of future generations and has the potential to increase the risk of stunting in children in the future. This community service activity aims to improve the knowledge, attitudes, and behaviors of adolescent girls in the prevention of anemia through a holistic approach that includes biomedical, social, and nutritional intervention aspects at SMPN 2 Singosari, Malang. Activities were carried out through hemoglobin level screening, reproductive health counseling, education on the importance of consuming blood-boosting tablets, and training on preparing balanced nutritious menus based on local food. The social approach involves teachers, parents, and health cadres as agents of change in supporting the sustainability of the program. The results showed an increase in participants' knowledge by 82%, an increase in adherence to blood supplement consumption from 40% to 75%, and an increase in average hemoglobin levels from 11.2 g/dL to 12.4 g/dL. In addition, the active participation of the community in nutrition activities has increased significantly. In addition to generating short-term change, the program has the potential to encourage sustainable healthy behaviors through community engagement and regular monitoring by schools and health cadres. The sustainability of this program is expected to contribute to reducing the risk of stunting in the future and become a model of integrated intervention for other schools.