Hartatik Hartatik
Program Studi DIII Teknik Informatika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sebelas Maret Surakarta

Published : 18 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

HUBUNGAN GENEALOGIS MASYARAKAT DAYAK BAWO DENGAN LAWANGAN DAN BENUAQ BERDASARKAN KONSEP RELIGI DAN BAHASA Hartatik Hartatik
Naditira Widya Vol 4 No 2 (2010): Oktober 2010
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v4i2.33

Abstract

Abstrak. Masing-masing komunitas Dayak yang berdiam di pedalaman Kalimantan merasa berdiri sebagai komunitaseksklusif. Namun, ada beberapa komunitas yang mengaku bahwa dia merupakan keturunan atau bagian darikomunitas yang lain, misalnya Dayak Bawo dan Benuaq yang mengakui bahwa dirinya merupakan keturunan dariDayak Lawangan yang tinggal di Tiwei. Tulisan ini membahas kemungkinan adanya hubungan genealogis antarakomunitas Bawo, Benuaq, dan Lawangan. Kajian ini dilakukan berdasarkan pendekatan deskriptif-komparatif ataskonsep religi dalam bentuk artefak penguburan dan bahasa. Berdasarkan pembahasan tersebut diharapkanadanya pemahaman tentang hubungan genealogis antarkomunitas yang ada di pedalaman Kalimantan. Hasil dariperbandingan tersebut ternyata menunjukkan bahwa ketiga komunitas tersebut memang mempunyai hubungangenealogis.
KUBUR TAJAU SANGA SANGA DAN VARIASI TRADISI BUDAYA AUSTRONESIA DI ASIA TENGGARA Hartatik Hartatik
Naditira Widya Vol 5 No 1 (2011): April 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v5i1.100

Abstract

Kubur tajau merupakan bentuk penguburan yang menggunakan wadah berupa tajaubahan batuan atau guci keramik sebagai wadah kubur. Lima puluh dua kubur tajau telah ditemukanpada ekskavasi 2010 di Sanga Sanga. Ada beberapa aspek yang dapat diungkapkan daripengkajian kubur tajau tersebut, yaitu aspek religi, sejarah pendukung budaya kubur tajau, danaspek sosial ekonomi. Sampai saat ini, Balai Arkeologi Banjarmasin telah dapat mengungkapkankarakter Situs Sanga Sanga sebagai situs tunggal dengan pertanggalan situs awal abad ke-18Masehi. Tulisan ini mengulas beberapa hal yang belum dikaji dalam penelitian tahun 2010, yaitumengapa bekal kubur tidak ditemukan dalam himpunan kubur tajau ini? Dan, apakah hubungannyadengan tradisi kubur Austronesia? Kajian ini akan dilakukan dengan menggunakan perbandingandata penguburan di wilayah lain di Kalimantan dan analogi etnografis. Jawaban pertanyaan tersebutmemberikan pemahaman tentang sejarah kebudayaan Sanga Sanga, terutama tentang masyarakatpendukung budaya kubur tajau dan konsep kepercayaannya.
PENGARUH PEMBANGUNAN PERMUKIMAN MASYARAKAT DAYAK BAWO TERHADAP PERUBAHAN KEBUDAYAANNNYA Hartatik Hartatik
Naditira Widya Vol 4 No 1 (2010): April 2010
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v4i1.133

Abstract

The Bawo people reside in the northern part of Meratus Mountain and survive by living a continuous nomadic life roaming from one hill to other until today. The Bawo people preferred to live solitary life instead and practically have no contact with the outside world. Material data on the existence of the Bawo people comprise of ‘keriring’ and ‘raung’ found stored in rock shelters. Through a long process, the Social Departement of the Republic of Indonesia with its population resettlement program had succeeded to provide ideal kampong for them to live in named PMT Malungai. This article discusses how the Bawo people respond to such program and the impact on the Bawo culture in respect with its survival.
RUMAH PANJANG DAN PERUBAHAN FUNGSINYA KAJIAN SOSIAL PADA MASYARAKAT DAYAK DI KABUPATEN KUTAI BARAT Hartatik Hartatik
Naditira Widya Vol 3 No 2 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.2
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v3i2.149

Abstract

A long house is a traditional communal house, which is occupied by a number of Dayak families. Such house usually accomodates traditional ceremonies sush as marriage, mortuary and other traditional gatherings. Today, most of the long houses are abandoned and deteriorate, and what is left is mere symbol of old custom which is also gradually dimishing. This article discusses the archaeological and sociological perspective on factors causing of the degrading existence and function of long houses of the Dayak in Kutai Barat.
UNSUR SIMBOLIS DAN ESTETIS DALAM SENI PAHAT SUKU DAYAK BENUAQ DAN TUJUNG DI KALIMANTAN TIMUR Hartatik Hartatik
Naditira Widya Vol 2 No 1 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.1
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v2i1.162

Abstract

The Benuaq and Tunjung inhabit the high hinterland of Kutai Barat in the Province of East Kalimantan. Both communities have the sustainable potency to uphold their skill in wood carving; the existence of balontang, tugu ngugu tautn, templaq, klerekng and ornaments on old lamin, which abundantly found in their village signify their centuries-old competence in wood carving. Nevertheless, there are some style and type differences on carved wooden object between the Benuaq-Tunjung and that of the Ngaju, Lawangan and Maanyan. For instance, physically, the Ngaju, Lawangan and Maanyan tends to carve plain and massive wooden figures, whereas those of the Benuaq-Tunjung are more dynamic and enriched with attractive scrolls. This article discusses the aesthetic and symbolic representation of balontang, tugu ngugu tautn, templaq, klerekng, ornaments on old lamin.
AGRIBISNIS PERUNGGASAN UNTUK MENINGKATKAN PERFORMAN UKBM (UNIT KEWIRAUSAHAAN BRAHMA MANDIRI) Hartatik hartatik; Yunianta yunianta; Sudarisman Sudarisman
Agros Journal of Agriculture Science Vol 18, No 1: Edisi Januari 2016
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.324 KB)

Abstract

Program Iptek Bagi Kewirausahaan (IBK) dengan Agrobisnis Perunggasan diharapkan dapat meningkatkan kinerja Unit Kewirausahaan Brahma Mandiri (UKBM). Metode  yang  dilakukan  adalah  merekrut  20  tenant   dari  mahasiswa  dan alumni Akademi Peternakan Brahmaputra. Peserta mengikuti pelatihan: ceramah, praktek, dan kunjungan ke indutri agrobisnis perunggasan. Kemudian peserta diwajibkan membuat rencana bisnis dan dipresentasikan. Mahasiswa yang belum merasa cukup ketrampilan di bidang usaha yang direncanakan disarankan untuk magang. Mahasiswa yang telah siap berusaha diberikan dana stimulan. Hasil dari Program Iptek Bagi Kewirausahaan dengan Agrobisnis Perunggasan menghasilkan 18 rencana bisnis di bidang perunggasan yang layak dilaksanakan dan mendapat  dana stimulan, walaupun mayoritas tidak melaksanakan magang oleh karena sudah mempunyai ketrampilan yang cukup hasil dari kegiatan praktikum dan PKM. Performan tenant IbK dengan Agribisnis Perunggasan adalah aktifitas selama pelatihan rata–rata kehadiran 76 persen, kemampuan membuat rencana bisnis 90 persen, kualitas produk yang dihasilkan rerata belum mencapai kualitas maksimal  dan keberlanjutan usaha yang dilakukan adalah 12 tenant lanjut (60 persen) dan enam tenant berhenti usaha.
Rancang Bangun Sistem Antrian Terkustomisasi Berbasis Android Nanang Maulana Yoeseph; Berliana Kusuma Riasti; Hartatik Hartatik; Eko Harry Pratisto; Fiddin Yusfida A'la
IJAI (Indonesian Journal of Applied Informatics) Vol 6, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/ijai.v6i1.56778

Abstract

Abstrak : Sebagian besar pelayanan publik di era ini masih menggunakan sistem konvensional. Yang mana, klien layanan mendapatkan tiket antrean, menunggu, dan dilayani di tempat yang sama. Penelitian ini bertujuan untuk memudahkan dan memungkinkan orang untuk mengantre dari jarak jauh. Dengan demikian waktu yang awalnya digunakan untuk dihabiskan menunggu, bisa digunakan untuk dihabiskan melakukan sesuatu yang lain lebih berguna.Berdasarkan kondisi yang dikatakan di atas, aplikasi yang menghubungkan agen layanan dengan klien layanan perlu dibuat. Aplikasi ini memanfaatkan internet dan smartphone yang dapat diakses melalui aplikasi Android atau browser web. Pengembangan aplikasi ini menggunakan kerangka kerja Ionic React. Aplikasi ini dirancang dan dibangun menggunakan metode Waterfall yang terdiri dari pengamatan dan pengumpulan data, analisis, desain sistem, bangunan dan pengujian, kesimpulan dan saran.Dari desain dan bangunan yang telah dilakukan, dibuat aplikasi yang memiliki ftur dasar untuk antrean online. Aplikasi ini dapat dijalankan di browser web dan perangkat Android dengan sistem operasi minimum Android 4.4 KitKat.Abstract : Most public services in this era still use conventional systems. Which is, service clients get queue tickets, wait, and be served in the same place. This research aims to ease and enable people to queue remotely. Thus the time that is originally used to be spent waiting, could be used to be spent doing something else more useful. Based on the conditions said above, an application that connects service agencies with service clients needs to be made. This application utilizes the internet and smartphone which can be accessed through Android application or web browser. The development of this application uses the Ionic React framework. This app is designed and built using the Waterfall method consisting of observation and data collection, analysis, system design, building and testing, conclusion and suggestion.
First Experimental Iron Process Based on The Montalat Iron Sites in Central Kalimantan – Indonesia Harry Octavianus Sofian; Hartatik Hartatik; Sunarningsih Sunarningsih; Nugroho Nur Susanto; Gauri Vidya Dhaneswara; Restu Budi Sulistiyo; Agus Karyanantio
KALPATARU Vol. 32 No. 2 (2023)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/kpt.2023.1078

Abstract

This article is based on an experimental iron furnace from archaeological sites in Central Kalimantan – Indonesia, from July 2019. The iron furnace for the experiment is replicated the original iron furnaces from the latest research found in 2017 in the Benangin and Temelalo sites from Central Kalimantan, Indonesia. The experiment aims to prove whether the iron furnace can melt metal. From the archaeological experiment we can answer questions about the iron process in Central Kalimantan in the past with the local resource’s laterite and hematite. From archaeological experiments, duplicate iron furnaces can make iron raw materials into melts and extract iron from hematite and laterite raw materials. The results showed that the ancient people in Central Kalimantan were able to make iron from raw materials and process it as iron ingot.