Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Adolescent Characteristics And The Role Of Friends In Behavioral Efforts Prevention Of Hiv/Aids Metri, Deni; Hasan, Amrul
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 11, No 3 (2025): Volume 11 No 3 Maret 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v11i3.19798

Abstract

 ABSTRAK : KARAKTERISTIK REMAJA DAN PENGARUH TEMAN SEBAYA  DALAM UPAYA  PENCEGAHAN PENULARAN HIV AIDS Latar Belakang: Remaja adalah masa dimana tanda-tanda seksual sekunder seseorang sudah berkembang mengalami kematangan secara fisik, psikologis, maupun sosial.  Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 25 tahun 2014, remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-18 tahun. Pada usia itu permasalahan yang sering terjadi pada remaja  yang dikenal dengan  Tiga Permasalahan Kesehatan Reproduksi atau yang disebut juga dengan TRIAD KRR yaitu seksualitas, HIV/AIDS dan NAPZA. Adanya peningkatan Kasus HIV/AIDS pada remaja di Indonesia sebesar 3,8 % pada tahun 2022  dari pada tahun sebelumnya.  Kementerian Kesehatan menyebutkan  sekitar 1.929  pada rentang usia  15-24. tahun yang terinfeksi HIV. Jenis kelamin menentukan  perilaku pencegahan HIV aids. Perilaku positif terhadap pencegahan HIV/AIDS paling banyak dilakukan jenis kelamin perempuan dari pada laki-laki. Pendidikan sangat diperlukan untuk mendapatkan informasi dan . Semakin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi (Wawan 2010).  Menurut teori L.Green di Notoadmodjo ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku pencegahan HIV/AIDS pada remaja yaitu faktor predisposisi (jenis kelamin, tingkat pendidikan)  dan faktor pendorong peran teman sebaya dalam upaya pencegahan penularan HIV Aids. Tujuan: Menganalisis karakteristik remaja dan peran teman sebaya dalam upaya pencegahan penularan HIV AidsMetode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, dengan pendekatan atau desain cross sectional study.  Populasi penelitian adalah Ramaja yang berusia 10-18 tahun di wilayah kerja puskesmas Negara Ratu  Lampung Utara Jumlah total populasi. 141 orang. Sampel  pada penelitian ini menggunakan  rumus Vincent Gaspersz, didapatkan 57 responden. Analisis data dengan univariat dan bivariat. Uji statistik yang digunakan adalah chi-square dengan confidence interval 95%,  digunakan batas kemaknaan α = 0,05.Hasil: ada hubungan yang bermakna antara peran teman sebaya dengan perilaku pencegahan penularan HIV Aids.Kesimpulan:  peran teman sebaya berhubungan dengan perilaku pencegahan HIV Aids pada remajaSaran: Meningkatkan pemberian edukasi tentang perilaku pencegahan HIV Aids dan bahaya HIV pada remaja  sehingga dapat meningkatkan pengetahuan sebagai upaya pencegahan HIV Aids dan dapat menjadi salah satu intervensi alternatif untuk  meningkatkan  perilaku  kesehatan dalam   mencegah  HIV Aids   Kata kunci , karakteristik, peran teman, pencegahan HIV Aids ABSTRACT Background:: Adolescence is a period when a person's secondary sexual characteristics have developed and become physically, psychologically and socially mature.  According to the Republic of Indonesia Minister of Health Regulation Number 25 of 2014, teenagers are residents in the age range 10-18 years. At that age, the problems that often occur in teenagers are known as the Three Reproductive Health Problems or also known as the TRIAD KRR, namely sexuality, HIV/AIDS and narcotics. There will be an increase in HIV/AIDS cases among teenagers in Indonesia by 3.8% in 2022 compared to the previous year.  The Ministry of Health said around 1,929 were in the age range 15-24. years infected with HIV. Gender determines HIV AIDS prevention behavior. Positive behavior towards preventing HIV/AIDS is most often carried out by women than men. Education is very necessary to obtain information and . The higher a person's education, the easier it is to receive information (Wawan 2010).  According to L.Green's theory in Notoadmodjo, there are several factors that influence HIV/AIDS prevention behavior in adolescents, namely predisposing factors (gender, level of education) and factors that encourage the role of peers in efforts to prevent the transmission of HIV/AIDS.Objective: Analyzing the characteristics of adolescents and the role of peers in efforts to prevent HIV/AIDS transmissionMethod: This research uses quantitative methods, with a cross sectional study approach or design.  The research population was Ramaja aged 10-18 years in the working area of the Negara Ratu Health Center, North Lampung. Total population. 141 people. The sample in this study used Vincent Gaspersz's formula, obtaining 57 respondents. Data analysis using univariate and bivariate. The statistical test used was chi-square with a confidence interval of 95%, a significance limit of α = 0.05 was used.Results: There is a significant relationship between the role of peers and behavior to prevent HIV/AIDS transmission.Suggestion: Increasing the provision of education about HIV Aids prevention behavior and the dangers of HIV in adolescents so that it can increase knowledge as an effort to prevent HIV Aids and can be an alternative intervention to improve health behavior in preventing HIV Aids Keywords: characteristics, role of friends, prevention of HIV Aids 
Penguatan Peran Interprofessional Untuk Meningkatkan Layanan Kesehatan Masyarakat Berbasis Individu, Keluarga, dan Komunitas Di Pekon Sukoharjo III Barat Hasan, Amrul; Muslim, Zainal
Jompa Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2025): Jompa Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Jompa Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57218/jompaabdi.v4i2.1573

Abstract

Pendidikan berperan penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, terutama dalam menghadapi kompleksitas kasus pasien yang memerlukan kolaborasi antarprofesi. Melalui kegiatan interprofessional education (IPE), mahasiswa dari berbagai program studi melakukan pengabdian masyarakat di Pekon Sukoharjo III Barat, Kabupaten Pringsewu. Kegiatan pengabdian masyarakat berbasis IPE dilaksanakan oleh mahasiswa dari tujuh program studi (kesehatan lingkungan, kebidanan, keperawatan, TLM, gizi, kesehatan gigi, dan teknik gigi) di Pekon Sukoharjo III Barat, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu. Metode pelaksanaan berupa observasi lapangan, edukasi kelompok, dan intervensi promotif-preventif. Hasil yang di peroleh dari kegiatan adalah: Masyarakat telah mengetahui dan paham tentang Prilaku Hidup Bersih dan Sehat, Masyarakat mampu melakukan pemeriksaan tekanan darah untuk mengetahui apakah mempunyai riwayat hipertensi, Siswa siswi sekolah dasar telah mengetahui cara mencuci tangan dan ber- PHBS di Sekolah, Masayarakat telah mengerti dan paham tentang penyakit hipertensi dan paham cara mengontrol hipertensi, Masyarakat telah mengerti dan faham tentang penyakit degeneraif (asam urat) dan cara perawatannya secara sederhana dirumah serta paham Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM). Kegiatan ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai PHBS, deteksi dini hipertensi, dan penanganan mandiri penyakit degeneratif secara sederhana di rumah.
Sanitasi Rumah Penderita Tubercullosis Paru Kadarusman, Haris; Sutopo, Agus; Hasan, Amrul
MIDWIFERY JOURNAL Vol 4, No 4 (2024): Volume 4, Nomor 4 Desember 2024
Publisher : Universitas Malahayati Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mj.v4i4.18439

Abstract

Background : Pulmonary Tuberculosis is still become issue problem health in Indonesia and Indonesia is the second country the biggest after India in matter amount pulmonary tuberculosis sufferer  as well as spread in a way wide throughout Indonesia. One of the factors related to close with occurrence and spread Pulmonary TB disease is a Home Sanitation Factor .Objective : It is known condition sanitation House sufferer Pulmonary Tuberculosis in the work area Health Center Hajimena Year 2024.Method : Study done with do observation and measurement condition sanitation House sufferer as well as do interview to sufferer Tuberculosis . Types of research descriptive with respondents 16 people with pulmonary tuberculosis in the Health Center area Hajimena . Analysis of the data used is Uni Variat, for variable Lighting, Temperature, Humidity and area room Sleep use Minister of Health Regulation Number 2 of 2024, concerning Regulation Implementation Regulation Government Number 66 of 2014 concerning Environmental Health, whereas For variable ventilation, enclosure and housing room based on literature .Results : For variable Lighting, Temperature, Bedroom Size  part big Not yet No fulfil Conditions and ventilation, Cage distance, Number of residence room Still Not yet good for humidity room part big Already fulfil terms and conditions big own ceiling .Conclusion : Sanitation House sufferer Tuberculosis in the Health Center Area Hajime No Good Keywords : Home Sanitation, Tuberculosis, Condition  
Hubungan Perilaku Pemberantasan Sarang Nyamuk dan Kejadian Demam Berdarah Dengue di Kota Bandar Lampung Hasan, Amrul
Kesmas Vol. 2, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kasus demam berdarah dengue di Kota Bandar Lampung terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2001 incidence rate sebesar 13,56 per 100.000 penduduk, meningkat menjadi 109,8/100.000 penduduk pada tahun 2006 dan akhir Februari 2007 Kota Bandar Lampung dinyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB) Demam berdarah dengue lokal. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan kebiasaan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan kejadian demam berdarah dengue di Kota Bandar Lampung. Penelitian ini menggunakan desain kasus kontrol dengan jumlah sampel sebanyak 406 individu terdiri dari 203 kasus dan 203 kontrol. Kasus adalah individu yang menderita DBD yang pernah dirawat di rumah sakit dan dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung dari tanggal 1 Maret 2007 sampai 15 Mei 2007, sedangkan kontrol dipilih dari tetangga kasus yang bertempat tinggal dalam radius 100 meter dari tempat tinggal kasus. Penelitian ini menemukan bahwa ada hubungan kebiasaan melakukan PSN dengan kejadian demam berdarah dengue, individu yang tidak melakukan PSN berisiko 5,85 kali terkena DBD dibandingkan dengan individu yang melakukan PSN setelah variabel riwayat tetangga yang pernah sakit DBD, keberadaan benda yang dapat penampung air di sekitar rumah dan kebiasaan melakukan pencegahan gigitan nyamuk dikendalikan. Petugas puskesmas agar melaksanakan kegiatan Penyelidikan Epidemiologi dalam menanggulangi demam berdarah lebih memfokuskan kepada penggerakan masyarakat. Dengue hemorrhagic fever poses as the most important public health problem in Bandar Lampung today. Increasing number of cases has been occurred from 2001 to 2006, when in 2001 incidence rate was 13.56/100.000 and became 109.8/100.00 at 2006 and at the end of February 2007 it was stated that Bandar Lampung experienced local outbreak dengue hemorrhagic fever. A case-control study was conducted to explore the correlation of suspected risk factors with dengue infection in Bandar Lampung from 20 April to 30 May 2007. 230 cases and 230 controls were included for statistical analysis. After further adjusting of confounders, there are strong correlation between habitual elimination of mosquito breeding sites and use of personal protective (e.g. the use repellent, mosquito coil and use insecticide hand sprayer) with dengue case. Individual has one PSN estimated to be 2,22 (95% CI : 1,32-3,72) times as great for individual has 3 PSN and individual did not PSN estimates to be 5,85 (95% CI : 2,86 - 11,99) times as great has dengue fever for individual has 3 PSN after controlled by history neighborhood DHF, water container around house, use of mosquito prevention agent. Community health center staff should conduct epidemiology investigation to eradicate dengue fever by focusing on community empowerment.
Edukasi dan Pelatihan Keluarga dan Kader Kesehatan tentang Pencegahan dan Perawatan Anak dengan Tuberkulosis Paru di rumah Desa Sidodadi Kecamatan Pardasuka Kabupaten Pringsewu Anita, Anita; Aprina, Aprina; Astuti, Titi; Hasan, Amrul; Kadarusman, Haris; Siregar, Maria Tuntun; Fauziah, Raden Roro Nur
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 11 (2024): Volume 7 No 11 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i11.15071

Abstract

ABSTRAK Indonesia merupakan salah satu negara dengan penderita Tuberkulosis (TBC) tertinggi ketiga di dunia dengan perkiraan jumlah orang penderita akibat TBC mencapai 845.000 dengan angka kematian 98.000 orang atau setara dengan 11 kematian/jam. Faktor risiko TBC pada anak diantaranya adalah status gizi, ASI eksklusif, riwayat kontak TBC, usia imunisasi BCG, keberadaan perokok dan sanitasi lingkungan. TBC pada anak dapat dicegah dengan meningkatkan status kesehatan & nutrisi yang baik, memutus rantai penularan TBC dengan  PHBS, mengubah perilaku anak, keluarga dan lingkungan secara terus menerus. Pengabdian bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga dan Kader Kesehatan tentang pencegahan dan perawatan  TBC. Pelaksanaan kegiatan secara kelompok di Desa Sidodadi Kecamatan Pardasuka Kabupaten Pringsewu, pada bulan Agustus 2024. Sasaran kegiatan adalah 20 keluarga yang memiliki balita resiko TBC. Kegiatan diawali dengan pelatihan dan edukasi, keberhasilan pelatihan diukur dengan membandingkan hasil pre-test dan post-test. Hasil Pengabdian ini menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan pengetahuan baik pada kelompok usia dewasa maupun kelompok keluarga dengan anak penderita TBC terkait perawatan balita/anak dengan TBC di rumah setelah dilakukan pelatihan keluarga dan kader kesehatan. Kata kunci: Anak, Pencegahan, Perawatan, TBC  ABSTRACT Indonesia is one of the countries with the third highest TB burden in the world with an estimated number of people falling ill due to TB reaching 845,000 with a death rate of 98,000 or equivalent to 11 deaths/hour. Risk factors for tuberculosis in children include nutritional status, exclusive breastfeeding, history of contact with tuberculosis, age of BCG immunization, the presence of smokers and environmental sanitation. Tuberculosis in children can be prevented by improving good health & nutrition status, breaking the chain of TB transmission with PHBS, changing the behavior of children, families and the environment continuously. The service aims to improve the knowledge and skills of families and Health Cadres about TB prevention and treatment. The implementation of group activities in Sidodadi Village, Pardasuka District, Pringsewu Regency, in August 2024. The target of the activity is 20 families with toddlers at risk of TB. The activity began with training and education, the success of the training was measured by comparing the results of the pretest and posttest. The results of this service show an increase in understanding and knowledge in both adult and child age groups related to the care of toddlers and children with tuberculosis at home after training families and health cadres. Keywords: Children, Prevention, Treatment, TB
Pemberdayaan Masyarakat untuk Mencegahan dan Menurunkan Stunting di Pekon Kanoman Kecamatan Semaka Kabupaten Tanggamus Lampung Aprina, Aprina; Ahyanti, Mei; Hasan, Amrul; Astuti, Titi; Amatiria, Gustop; Nugroho, Ari; Mustafa, Annasari
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 7 (2024): Volume 7 No 7 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i7.14864

Abstract

ABSTRAK Stunting pada anak balita merupakan konsekuensi dari beberapa faktor yang sering dikaitkan dengan kemiskinan termasuk gizi, kesehatan, sanitasi dan lingkungan. Beberapa penelitian di Indonesia menemukan bahwa kombinasi antara sanitasi yang tidak layak dan kualitas air minum yang tidak aman merupakan faktor risiko stunting. Permasalahan stunting dapat dicegah sebelum kehamilan dan pada masa kehamilan, dengan cara memberikan edukasi pada calon ibu dimasa prakonsepsi dalam mempersiapkan calon ibu. Pengabdian dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat sehingga memiliki kemandirian dalam bidang Kesehatan dan peningkatan perekonomian keluarga. Kegiatan dilakukan dalam beberapa tahapan mulai bulan Maret hingga November 2023 di Pekon Kanoman Kecamatan Semaka Kabupaten Tanggamus. Sasaran adalah WUS, remaja, keluarga yang memiliki balita stunting dan keluarga berisiko stunting. Telah terjadi peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat tentang IMD, manajemen laktasi, Kesehatan reproduksi, pembuatan MP-ASI, terbangun 10 unit pembuatan SPAL percontohan dan 1 unit DAMIU. Kata Kunci: Infeksi, Gizi, Stunting  ABSTRACT Stunting in children under five is caused by factors that are generally associated with poverty, including nutrition, health, sanitation and the environment. Several studies in Indonesia show that the combination of inadequate drinking water sanitation and unsafe drinking water sanitation is a common cause of stunting. Conception problems before and during pregnancy can be prevented by providing education to prospective mothers during the preconception period in preparing future mothers. Services can increase people's knowledge and skills so that they have independence in the health sector and improve the family economy. Activities were carried out in several stages from March to November 2023 in Pekon Kanoman, Semaka District, Tanggamus Regency. The targets include WUS, teenagers, families with young children who may experience stunting, and families who are at risk of experiencing stunting. There is an increase in community knowledge and capacity regarding IMD, lactation management, reproductive health, MP-ASI production, 10 experimental SPAL manufacturing units and 1 DAMIU unit. Keyword: Infection, Nutrition, Stunting
Analisis risiko potensi bahaya pada pekerja lapak kayu gelam Kurniaati, Fransisca; Hasan, Amrul
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 7 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i7.1963

Abstract

Background: Gelam wood processing activities at stalls in Sidomulyo Village, Mesuji District, Mesuji Regency, are an economic activity that carries a high potential for occupational safety and health (OHS) risks.   Purpose: To analyze the potential hazards and risk levels faced by gelam wood stall workers in carrying out their work activities.   Method: A qualitative descriptive study using an observational approach and in-depth interviews with timber workers. Hazard identification was conducted using the HIRA (Hazard Identification and Risk Assessment) method using the AS/NZS4360:2004 standard. Risk assessment was conducted using a risk matrix.   Results: The study showed several major potential hazards faced by workers, including mechanical hazards resulting from the use of gelam bark stripping tools, ergonomic hazards resulting from improper working positions, and exposure to wood dust, which can irritate the respiratory system. The highest risk levels were found in the gelam bark stripping process and wood transportation.   Conclusion: The lack of use of personal protective equipment (PPE) and low worker awareness of OHS principles increase the potential for workplace accidents. Therefore, increased OHS education and training for workers, adequate provision of PPE, and routine supervision by relevant parties are needed to minimize occupational risks in gleam timber staking.   Keywords: Gelam Wood; Occupational Health and Safety (OHS); Occupational Risks; Potential Hazards.   Pendahuluan: Kegiatan pengolahan kayu gelam di lapak-lapak Desa Sidomulyo, Kecamatan Mesuji, Kabupaten Mesuji merupakan salah satu aktivitas ekonomi masyarakat yang memiliki potensi risiko keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang cukup tinggi.   Tujuan: Untuk menganalisis potensi bahaya serta tingkat risiko yang dihadapi oleh para pekerja lapak kayu gelam dalam menjalankan aktivitas kerjanya.   Metode: Deskriptif kualitatif dengan pendekatan observasional dan wawancara mendalam terhadap pekerja lapak kayu. Identifikasi bahaya dilakukan menggunakan metode HIRA (Hazard Identification and Risk Assessment) dengan menggunakan standard AS/NZS4360:2004. sedangkan penilaian risiko dilakukan dengan menggunakan matriks risiko.   Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa potensi bahaya utama yang dihadapi pekerja, di antaranya adalah bahaya mekanis akibat penggunaan alat pengupasan kulit kayu gelam, bahaya ergonomis akibat posisi kerja yang tidak sesuai, serta bahaya dari paparan debu kayu yang dapat mengganggu sistem pernapasan. Tingkat risiko tertinggi ditemukan pada proses pengupasan kulit kayu gelam dan pengangkutan kayu.   Simpulan: Kurangnya penggunaan alat pelindung diri (APD) serta rendahnya kesadaran pekerja terhadap prinsip K3 memperbesar potensi terjadinya kecelakaan kerja. Sehingga perlu adanya peningkatan edukasi dan pelatihan K3 bagi pekerja, penyediaan APD yang memadai, serta pengawasan rutin oleh pihak terkait untuk meminimalisir risiko kerja di lapak kayu gelam.   Kata Kunci: Kayu Gelam; Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3); Potensi Bahaya; Risiko Kerja.
Edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk Meningkatkan Kesehatan Ibu dan Anak di Kelas Ibu Balita Indrasari, Nelly; Risneni, Risneni; Hasan, Amrul; Octaviana, Amrina; Trianingsih, Indah
Jurnal Perak Malahayati: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 2 (2025): Volume 7 Nomor 2 November 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpmpkm.v7i2.23092

Abstract

Masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan periode emas yang menentukan kualitas pertumbuhan dan perkembangan anak, mencakup aspek kesehatan fisik, kemampuan kognitif, serta potensi produktivitas di masa depan. Salah satu upaya preventif dan promotif yang penting dalam mendukung kesehatan ibu dan anak adalah penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), khususnya dalam tatanan rumah tangga. Namun, hasil observasi awal di Desa Karang Anyar, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan menunjukkan bahwa pemahaman ibu hamil, ibu menyusui, serta ibu yang memiliki bayi dan balita terhadap indikator PHBS masih terbatas, ditambah dengan rendahnya keterlibatan mereka dalam kegiatan edukasi kesehatan. Menyikapi kondisi tersebut, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, membangun kesadaran, serta memotivasi ibu agar mampu menerapkan PHBS secara konsisten dan berperan sebagai agen perubahan di lingkungan keluarga dan komunitas. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk kelas ibu balita di Posyandu Melati 2 pada 11 Juni 2025 dengan jumlah peserta sebanyak 30 orang. Rangkaian kegiatan mencakup pre-test, diskusi interaktif, penyampaian materi melalui pendekatan partisipatif berbasis media visual dan leaflet edukatif, serta post-test sebagai alat evaluasi. Hasil menunjukkan bahwa sebelum intervensi dilakukan, 50% peserta belum memahami indikator PHBS, namun setelah kegiatan, seluruh peserta mengalami peningkatan skor pengetahuan. Selain itu, separuh dari mereka menyatakan komitmen untuk menerapkan minimal lima indikator PHBS di rumah serta bersedia menyebarkan informasi kepada keluarga dan tetangga. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan edukatif berbasis komunitas efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan, memperkuat kesadaran, dan membentuk perilaku hidup sehat secara berkelanjutan. 
Pendampingan program penanggulangan TB paru dengan aplikasi sistem informasi pemantauan pengobatan pasien tuberkulosis paru (SISFOTBPARU) Trigunarso, Sri Indra; Muslim, Zainal; Hasan, Amrul
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 10 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i10.1960

Abstract

Background: Tuberculosis is an infectious disease caused by the bacterium Mycobacterium tuberculosis. It is estimated that approximately one-quarter of the world's population has been infected with the TB bacteria. Generally, people infected with TB do not feel sick and are not contagious. The Indonesian Ministry of Health is maximizing efforts by creating a national standard that serves as a benchmark for all healthcare workers in handling pulmonary TB cases. The development of a digital application program is essential to obtain up-to-date and real-time data, enabling healthcare workers to intervene more accurately and expeditiously in handling and managing TB cases. Purpose: To provide knowledge and assistance in using the pulmonary tuberculosis patient treatment monitoring information system (SISFOTBPARU) application. Method: Community service activities were conducted in the P2TB Section of 10 Community Health Centers in Bandar Lampung City, with data input from 10 Community Health Centers in Bandar Lampung City, Lampung Province. Participants were 30 Community Health Center TB officers and PMOs. The educational activities provided participants with understanding and knowledge in implementing and developing a pulmonary tuberculosis patient treatment monitoring information system (SISFOTBPARU). Participants' knowledge and skills after the education were measured using a system usability scale (SUS) questionnaire. Results: The system usability scale (SUS) test showed that 9 participants (30.0%) were in the very good and accepting category, 10 (33.3%) were in the good and accepting category, and 11 (36.7%) were in the good but passive acceptance category. The score of 89.76, with an acceptability range classified as marginally high, graded on the scales, indicated a very good level of usability. Conclusion: Educational and mentoring activities in the implementation of the Pulmonary Tuberculosis Patient Treatment Monitoring Information System (SISFOTBPARU) application have positively contributed to the monitoring and treatment of pulmonary tuberculosis patients. The SISFOTBPARU application also improves the effectiveness of healthcare workers in monitoring and treating pulmonary tuberculosis patients. Suggestion: The SISFOTBPARU application is expected to be implemented sustainably and across a wider range of community health centers (Puskesmas). The application developers are also expected to continue improving the SISFOTBPARU application by keeping up with the latest technological developments. Keywords: Application implementation; Community health; Education and mentoring; Pulmonary tuberculosis Pendahuluan: Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis. Diperkirakan sekitar seperempat populasi dunia telah terinfeksi bakteri TB. Umumnya, orang yang terinfeksi TB tidak merasa sakit dan tidak menular. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memaksimalkan upaya dengan menciptakan suatu standar secara nasional yang menjadi patokan untuk setiap tenaga kesehatan dalam melakukan penanganan kasus TB Paru. Pengembangan program berupa aplikasi digital harus dilakukan untuk mendapatkan data yang up to date dan secara realtime dapat di akses, agar penanganan dan penanggulangan kasus TB menjadi lebih tepat dan cepat bagi petugas kesehatan untuk melakukan intervensi. Tujuan: Memberikan pengetahuan dengan pendampingan dalam menggunakan aplikasi sistem informasi pemantauan pengobatan pasien tuberkulosis paru (SISFOTBPARU). Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan di Seksi P2TB 10 Puskesmas Kota Bandar Lampung dengan input data berasal dari 10 Puskesmas Kota Bandar Lampung, Propinsi Lampung. Peserta kegiatan adalah petugas TB Paru Puskesmas dan PMO dengan jumlah 30 orang. Kegiatan berupa edukasi memberikan pemahaman dan pengetahuan kepada peserta dalam menerapkan dan pengembangan aplikasi sistem informasi pemantauan pengobatan pasien tuberkulosis paru (SISFOTBPARU). Pengukuran tingkat pengetahuan dan kemampuan peserta setelah edukasi yang diberikan menggunakan kuesioner system usability scale (SUS). Hasil: Berdasarkan uji system usability scale (SUS) menunjukkan bahwa peserta yang dalam kategori sangat baik dan dapat menerima adalah sebanyak 9 orang (30.0%), yang dalam kategori baik dan dapat menerima adalah sebanyak 10 orang (33.3%), dan yang dalam kategori baik tetapi pasif menerima adalah sebanyak 11 orang (36.7%). Hasil skor 89.76 dengan acceptability ranges tergolong marginal high, grade scales termasuk nilai A, dan mengindikasikan tingkat usability yang sangat baik. Simpulan: Kegiatan edukasi dan pendampingan dalam penerapan aplikasi sistem informasi pemantauan pengobatan pasien tuberkulosis paru (SISFOTBPARU) memberikan kontribusi positif terhadap pemantauan dan pengobatan pasien tuberkulosis paru. Aplikasi SISFOTBPARU juga memberikan peningkatan efektifitas kinerja petugas kesehatan dalam melaksanakan pemantauan dan pengobatan pasien tuberkulosis paru. Saran: Diharapkan aplikasi SISFOTBPARU dapat diterapkan secara berkelanjutan dan untuk sebaran wilayah Puskesmas yang lebih luas. Diharapkan juga kepada pihak pengembang aplikasi, untuk terus membuat aplikasi SISFOTBPARU agar menjadi lebih sempurna dengan mengikuti perkembangan teknologi terbaru. 
Sanitation Overview On The Working Area Kadarusman, Haris; Sutopo, Agus; Hasan, Amrul; Prianto, Nawan
MIDWIFERY JOURNAL Vol 5, No 4 (2025): Volume 5 No 4 Desember 2025
Publisher : Universitas Malahayati Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mj.v5i4.24161

Abstract

Background: Communicable diseases remain a health problem in all regions of Indonesia, especially environmentally-based diseases such as Acute Respiratory Infections and Diarrhea, which are consistently among the top ten diseases in every region of Indonesia, including on the working area of Hajimena Health Center area in Natar District, South Lampung Regency.Objectives: To reveal the sanitation conditions on the Hajimena Health Center’s service area, comprised of clean water facilities, household toilets, waste management, and handwashing with soap behavior.Methods: The study was conducted by surveying 365 households, and the sample distribution was consisted of 200 households at Hajimena Village, 105 households at Pemanggilan Village, and 60 households at Sidosari Village. Data collection was carried out through home observations and interviews with the respondents i.e. head of the family or housewife of the selected sample. Data analysis was performed using statistical univariate analysis by calculating the frequency distribution and percentage for each variable.Results: The provision of drinking water, family latrine, and waste management is in good condition in more than 85% of the households, while good household wastewater disposal is still below 80%. For handwashing aspect, more than 95% of the respondents wash their hands before or after activities, but not all use soap. Those who wash their hands with soap range from 79% to 89%, and there are still 1.1% - 2.65% of respondents who rarely or do not wash their hands before or after activities. Regarding with food preparation, about 79.18% of respondents wash their hands with soap beforehand, 18.9% wash their hands but without using soap, and 1.79% rarely wash their hands.Conclusion: The sanitation conditions and handwashing with soap behavior on the working area of Hajimena Health Center area are quite good Key Words : Sanitation, Overview, Hands Wash  Latar belakang : Penyakit menular masih menjadi masalah kesehatan disemua wilayah di Indonesia, khususnya penyakit menular berbasis lingkungan seperti Infeksi Saluran Pernafasan Akut, Diare dan penyakit lainnya yang selalu ada dalam 10 (sepuluh) besar penyakit disetiap wilayah di Indinonesia termasuk di Wilayah Puskesmas Hajimena Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan.Tujuan: Diketahuinya gambaran Sanitasi di Wilayah Puskesmas Hajimena yang meliputi Sarana Air Bersih,  Jamban Keluarga, Pengelolaan Sampah dan Perilaku Cuci Tangan Pakai SabunMetode : Penelitian dilaksanakan dengan melakukan survey terhadap 365 Rumah Tangga di wilayah kerja Puskesmas Hajimena dengan distribusi sampel sebanyak 200 Rumah di Desa Hajimena, 105 Rumah di Desa Pemanggilan dan 60 Rumah di Desa Sidosari. Pengumpulan data dilaksanakan dengan melakukan observasi rumah dan wawancara dengan kepala keluarga dan ibu rumah tangga sampel terpilih. Analisa data menggunakan Uni Variat dengan Distribusi Frekwensi pada masing-masing variableHasil : Untuk penyediaan air Minum, jamban Keluarga, dan pengelolaan sampah sudah lebih dari 85 % baik, hanya pembuangan air limbah rumah tangga masih dibawah 80 %. Untk cuci tangan sudah lebih dari  95 % ibu atau kepala keluarga melakukan cuci tangan sebelum atau sesudah melakukan kegiatan, namun belum semuanya mencuci tangan pakai sabun. Ibu.  Mereka yang mencuci tangan pakai sabun berkisar antara 79 % sampai 89 % dan masih ada 1,1 % - 2,65 % ibu atau kepala keluarga yang jarang atau tidak mencuci tangan setelah atau sebelum melakukan kegiatan.Kesimpulan : Untuk kondisi sanitasi dan perilaku cuci tangan pakai sabun di wilayah Puskesmas Hajimena sudah cukup baik.Pakai Sabun masih 79,18 % ibu yang mencuci tangan pakai sabun sebelum menyiapkan makanan, 18,9 % mencuci tangan tetapi tidak menggunakan sabun dan masih ada 1,79 % jarang mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan