Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Perencanaan Bored Pile dengan dan Tanpa Perbaikan Tanah dengan Memperhatikan Potensi Likuifaksi (Studi Kasus: Apartemen Grand Sagara) Savira Amelia Ramadhan; Yudhi Lastiasih; Noor Endah Mocthtar
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i2.55509

Abstract

Apartemen Grand Sagara terletak di Jalan Tambak Wedi, Surabaya. Apartemen ini direncanakan terdiri atas 50 lantai tanpa basement. Nilai SPT rata-rata pada tanah kedalaman 0 – 15 meter di lokasi proyek adalah sebesar 9 sehingga dapat dikategorikan sebagai tanah pasir lepas. Kondisi ini menyebabkan tanah pada lokasi proyek berpotensi mengalami likuifaksi apabila terjadi gempa, dimana pada lokasi tersebut diketahui nilai PGA adalah sebesar 0,322 g (puskim.pu.go.id). Untuk itu diperlukan perencanaan pondasi dengan memperhatikan potensi likuifaksi dan perencanaan perbaikan tanah yang dapat mengurangi potensi likuifaksi. Dari analisis yang dilakukan, diketahui bahwa tanah pada kedalaman 0.0–15.0 meter berpotensi mengalami likuifaksi. Perbaikan tanah sedalam 15 (lima belas) meter dengan menggunakan metode vibrokompaksi jenis alat BJV130 dengan spacing sebesar 2,5 meter dapat menghasilkan peningkatan nilai SPT rata-rata dari 9 (sembilan) dengan konsistensi tanah pasir lepas menjadi 20 (dua puluh) dengan konsistensi tanah pasir medium. Jenis pondasi bored pile yang dikombinasi dengan pondasi rakit direncanakan untuk masing-masing bagian gedung. Hasil perencanaan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kedalaman dari bored pile yaitu lebih dalam 1.0 meter untuk kondisi tanah yang tanpa perbaikan. Hanya saja, biaya perbaikan tanah yang mahal menyebabkan pondasi bored pile tanpa perbaikan tanah tetap lebih murah dari pada pondasi bored pile dengan perbaikan tanah. Total biaya pekerjaan pondasi tanpa perbaikan tanah adalah Rp 23.502.896.918,00, sedangkan biaya pekerjaan pondasi dengan perbaikan tanah adalah sebesar Rp 28.991.248.358,00.
Perencaan Sel Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dengan Sistem Controlled Landfill Pada TPA Lubuk Binjai - Lubuklinggau Rendy Cahya Putra Pamungkas; Noor Endah; Trihanyndio Rendy Satrya
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.68166

Abstract

Kota Lubuklinggau merupakan salah satu daerah administratif tingkat II di daerah administratif tingkat I/Provinsi Sumatera Selatan. Kepadatan penduduk di kota Lubuklinggau adalah sekitar 578 jiwa/km² dengan peningkatan penduduknya yaitu rata rata 3000 jiwa tiap tahunnya memberikan pengaruh terhadap berbagai sektor, salah satunya adalah infrastruktur persampahan. TPA Petanang yang merupakan tempat penampungan sampah di wilayah Kota Lubuklinggau telah mencapai kapasitas maksimumnya. Dari permasalahan tersebut, maka diperlukan perencanaan TPA baru yaitu TPA Lubuk Binjai dengan pembangunan pada sel C dan D. Dalam tugas akhir ini dilakukan beberapa perencanaan diantaranya perencanaan tanggul dari timbunan tanah yang dipadatkan meliputi dimensi tanggul dengan perkuatan menggunakan geotextile, dan analisa stabilitas timbunan sampah dengan perkuatan cerucuk. Kondisi eksisting pada masing – masing sel harus sesuai persyaratan dalam penentuan lokasi sel TPA menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 3 Tahun 2013. Hasil analisa tanggul untuk sel D memiliki variasi ketinggian menyesuaikan elevasi dasar sampah dengan tinggi terendah 3 m hingga tertingginya 6.7m. Untuk perencanaan sel C tanggul dibuat setinggi 6m. Timbunan sampah sel C dan D direncanakan setinggi 15m dan terbagi menjadi 3 lift. Perencanaan sel D memiliki variasi ketinggian lift sampah, sedangkan untuk sel C memiliki tinggi lift sampah yang seragam yaitu sebesar 5m. Perkuatan geotextile dan cerucuk setiap sel mengikuti kebutuhan masing masing tanggul dan timbunan sampah sesuai analisa yang didapatkan.
Perencanaan Sanitary Landfill dan Lapisan Dasar Landfill pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sekoto-Kabupaten Kediri Achmad Winardi; Noor Endah Mochtar; Putu Tantri Kumala Sari
Jurnal Teknik ITS Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v11i1.82062

Abstract

TPA Sekoto berada di Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri, melayani pengangkutan sampah dari 13 Kecamatan. TPA Sekoto yang telah menerapkan sistem controlled landfill, pada kenyataannya masih memberikan dampak negatif pada lingkungan. Hal ini disebabkan oleh rusaknya saluran pembuangan air lindi dan kolam instalasi pengolahan air lindi (IPAL). Kondisi ini juga diperparah dengan landfill yang mengalami overload pada tahun 2020 dan ditemukan air yang berupa air rembesan lindi pada lokasi TPA. Oleh karena itu, TPA baru dibangun disamping lokasi TPA lama. Perencanaan TPA baru harus mempertimbangkan dampak lingkungan yang ditimbulkannya. Dalam Tugas Akhir ini, direncanakan TPA Sekoto Baru dengan sistem sanitary landfill. Perencanaan meliputi perencanaan tanggul, pekuatan tanggul dengan geotekstil, dan perkuatan tanah dasar landfill dengan cerucuk, kombinasi lapisan liner di bawah landfill, tinggi dan kapasitas landfill, struktur kolam IPAL, dan jaringan perpipaan air lindi.
Perencanaan Perbaikan Tanah Dasar dan Perkuatan Stabilitas Timbunan Jalan Tol Pasuruan-Grati STA 30+100 s.d STA 31+500 Aditya Daniar Wicaksono; Noor Endah Mochtar; Putu Tantri Kumalasari
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (930.369 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.26381

Abstract

Jalan tol Trans-Jawa merupakan salah satu infrastruktur transportasi yang direncanakan pemerintah untuk meningkatkan ekonomi negara dan mengembangkan wilayah serta meningkatkan mobilitas dan aksesibilitas. Jalan tol Pasuruan-Grati yang merupakan seksi III dari jalan tol Gempol-Pasuruan memiliki ketebalan tanah lempung lunak yang bervariasi dan pada beberapa lokasi memiliki ketebalan yang relative dalam. Oleh sebab itu, di lokasi tersebut perlu dilakukan perbaikan tanah dasar dan diberi perkuatan untuk meningkatkan stabilitas timbunannya.Pengumpulan data dilakukan untuk merencanakan perbaikan tanah dasar dan perkuatan stabilitas timbunan. Perencanaan yang ada akan menggunakan Preloading dan Prefabricated Vertical Drain (PVD) sebagai perbaikan tanah dasar. Sedangkan perkuatan stabilitas yang digunakan adalah Geotextile dan Geotextile-Encased Stone Column (GESC).Dalam perencanaannya terdapat 5 titik Stationing (STA) yang akan ditinjau yaitu STA 30+100, STA 30+500, STA 31+000, STA 31+250, dan STA 31+500. Setiap STA yang ditinjau diwakili oleh tanah dasar yang berada disekitarnya. Prefabricated Vertical Drain (PVD) yang direncanakan menggunakan pola segitiga pada seluruh STA dan kedalaman bervariasi dengan menggunakan spesifikasi CT-D812. Geotextile yang digunakan memiliki spesifikasi UW-250 pada seluruh STA. Geosynthetics Encased Stone Column (GESC) direncanakan menggunakan Geotextile dengan spesifikasi UW-250 dan kolom batu pecah berdiameter 0,5 m untuk STA 30+100, STA 30+500, STA 31+250, dan STA 30+100 serta kolom batu dengan diameter 0,8 untuk STA 31+000.Dari hasil perencanaan dan perhitungan biaya didapatkan alternatif yang paling optimum yaitu, pada STA 30+100 dipasang PVD sampai dengan 2/3 kedalaman tanah lunak tanpa menggunakan perkuatan stabilitas timbunannya. Untuk STA 30+500 dipasang PVD sampai dengan 1/3 kedalaman tanah lunak dan Geotextile sebagai perkuatan stabilitas timbunannya. Pada STA 31+000  dipasang PVD 2/3 kedalaman tanah lunak dan GESC untuk kestabilan timbunannya. Pada STA 31+250 dipasang PVD sampai dengan 1/3 kedalaman tanah lunak dan GESC sebagai perkuatan kestabilan timbunannya. Sedangkan untuk STA 31+500 dipasang PVD hingga 1/3 kedalaman tanah lunak dan perkuatan stabilitas timbunan berupa Geotextile. 
Alternatif Perencanaan Timbunan dan Perbaikan Tanah Dasar pada Jalan Tol Krian-Legundi-Bunder-Manyar (STA 12+434 s/d STA 12+684) Alam Maulana; Noor Endah Mochtar; Putu Tantri Kumalasari
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.182 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.45914

Abstract

Jawa Timur merupakan salah satu provinsi terbesar di Indonesia. Hal ini ditunjukan dengan laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Timur pada triwulan III 2017 mencapai 5,21%. Hal ini tidak terlepas dari dua kota industri penting di Jawa Timur yakni Sidoarjo dan Gresik. Laju pertumbuhan ekonomi yang besar mengakibatkan kedua kota tersebut perlu akses jalan yang cepat dan saling terintegerasi. Pemerintah sudah merencanakan tol Krian-Legundi-Bunder-Manyar (KLBM) sepanjang 38,29 km sebagai solusi untuk mengurangi kemacetan serta mempermudah akses kedua kawasan industri tersebut. Pada seksi II pengerjaan tol tersebut, tepatnya pada STA 12+434 s/d STA 12+684 akan dibangun jembatan yang melewati jalan raya yang menghubungkan Desa Katimoho barat dengan timur. Pada awalnya oprit jembatan direncanakan menggunakan pile slab dikarenakan kedalaman tanah lunak yang mencapai 14 meter. Tanah lunak yang relatif dalam dikhawatirkan akan mengakibatkan penurunan tidak seragam yang besar dan dapat menganggu pengerjaan proyek jalan tol KLBM ini. Namun penggunaan pile slab dirasa kurang efektif mengingat harganya yang sangat mahal. Oleh sebab itu perlu direncanakan alternatif timbunan yang murah, aman terhadap longsor, dan penurunan tidak seragam yang dapat dikendalikan. Pada penulisan tugas akhir ini akan memodifikasi desain awal oprit  jembatan yang awalnya dengan konstruksi pile slab, dirubah menjadi timbunan tanah atau EPS geofoam. Pemilihan material timbunan tanah ditinjau dari segi ekonomi dan ketersediaan material dilapangan. Untuk mengendalikan penurunan yang terjadi pada tanah dasar, maka pada timbunan tanah digunakan prefabricated vertical drain (PVD) untuk mempercepat penurunan yang terjadi. Dalam perencanaan timbunan tanah juga akan digunakan perkuatan berupa geotextile dan encapsulated stone column (ESC). Hasil dari perencanaan dan perhitungan biaya didapatkan alternatif yang paling efisien adalah menggunakan timbunan tanah dengan pemasangan PVD pola segitiga jarak 1,1 meter dan perkuatan timbunan berupa geotextile dengan kuat tarik 120 kN. Harga yang diperlukan untuk alternatif timbunan dan perbaikan tanah dasar tersebut sebesar 12,088 milyar rupiah. 
Analisis Penyebab Kelongsoran dan Alternatif Perkuatan Tanah Timbunan Ruas Jalan Tol Batang-Semarang STA 383+100-STA 383+900 Ryan Gihlang Ramadhan; Suwarno Suwarno; Noor Endah Mochtar
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (729.741 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.47064

Abstract

Jalan Tol Batang-Semarang merupakan salah satu rangkaian dari Jalan Tol Trans Jawa yang menghubungkan Kabupaten Batang, Kabupaten Kendal, dan Kabupaten Semarang. Pada proses pelaksanaan Jalan Tol BSTR seksi 2 terdapat beberapa kendala, salah satunya yaitu terdapat suatu kondisi tanah dasar pada STA 383+100 sampai STA 383+900 yang terletak di area persawahan dengan rata-rata kedalaman tanah lunak sampai 15,0 meter, sementara tinggi tanah timbunan yang direncanakan adalah 4,72 sampai 8,27 meter. Pada lokasi tersebut, desain awal yang digunakan oleh perencana untuk perbaikan tanah dasar hanya dilakukan replacement setebal 1,50 meter. Ditengah proses pelaksanaan terjadi kelongsoran saat tahap timbunan tinggi 3,50 meter. Hasil analisis dari penyebab kelongsoran yaitu stabilitas timbunan yang direncanakan belum cukup aman terhadap kelongsoran mengingat nilai safety factor setelah di cek ulang ternyata masih kurang dari 1,0. Besar pemampatan yang sudah terjadi saat longsor (selama 6 bulan) pada tiap zona bervariasi yaitu 4 cm hingga 6 cm. Perubahan parameter tanah dasar yang diakibatkan oleh pemampatan terlalu kecil sehingga perubahan parameter tanah dapat diabaikan atau dianggap tidak berubah. Metode perbaikan tanah dasar yang digunakan untuk menghilangkan pemampatan dan meningkatkan daya dukung tanah adalah metode preloading sistem surcharge serta untuk mempercepat waktu proses pemampatan dilakukan dengan memasang PVD dengan pola pemasangan segiempat dan jarak atar PVD 1,0 meter. Ada 3 alternatif perkuatan yang ditawarkan untuk menjaga stabilitas tanah timbunan terhadap kelongsoran yaitu Cerucuk, Encapsulated Stone Column (ESC) dan Counterweight. Hasil dari perhitungan alternatif perkuatan menggunakan cerucuk memerlukan biaya Rp. 112,6 milyar dengan waktu pelaksanaan 73 hari, perkuatan menggunakan Encapsulated Stone Column memerlukan biaya Rp. 22,1 milyar dengan waktu 198 hari dan perkuatan menggunakan Counterweight memerlukan biaya Rp. 51,1 milyar dengan waktu 87 hari. Dari hasil analisis perbandingan alternatif perkuatan yang dipakai adalah menggunakan cerucuk.
Usulan Penyelesaian Masalah Rekayasa Tanah untuk Jalan dan Gedung di Atas Tanah Ekspansif Studi Kasus Surabaya Barat Samuel Giovanni; Indrasurya Budisatria Mochtar; Noor Endah
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1202.316 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i1.28980

Abstract

Tanah ekspansif merupakan salah satu jenis tanah bermasalah yang paling sering ditemui di Indonesia. Tingginya kemampuan kembang susut saat mengalami perubahan kadar air merupakan sifat yang menonjol pada tanah ekspansif. Dalam kondisi basah, volume tanah ekspansif akan bertambah dan sebaliknya di saat kering, volume tanah ekspansif akan mengecil. Perubahan volume inilah yang sering menyebabkan kerusakan pada bangunan sipil yang berdiri di atas tanah ekspansif. Surabaya Barat juga mengalami masalah akibat tanah ekspansif, oleh karena itulah dibutuhkan suatu alternative usulan penyelesaian untuk menyelesaikan masalah ini. Kontur tanah Surabaya Barat yang naik turun menyerupai bukit dan lembah membuat perencanaan perbaikan tanah untuk jalan dan gedung di 2 jenis lokasi tersebut menjadi berbeda. Hal ini disebabkan karena, daerah lembah akan sangat mungkin tergenang air pada saat musim penghujan dikarenakan air hujan secara langsung maupun air hujan yang mengalir dari bukit, oleh karena itu digunakan metode Keep it Wet untuk setiap perencanaan yang dilakukan. Sedangkan di daerah bukit tidaklah demikian, pembasahan hanya terjadi di daerah permukaan karena sifat alami air yang mengalir ke tempat yang lebih rendah menyebabkan tidak mungkinnnya terjadi genangan. Namun tetap dibutuhkan perencanaan untuk memastikan agar tidak mempengaruhi kadar air dalam tanah di atas bukit. Oleh karena itu pada perencanaan di Bukit, digunakan metode Keep it Dry.
PHYSICS AND SHEAR STRENGTH PARAMETER CORRELATION USING MODIFIED DIRECT SHEAR IN CRACKED SOIL Rosa Irdiana; Indrasurya Budisatria Mochtar; Noor Endah Mochtar
Journal of Civil Engineering Vol 36, No 2 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j20861206.v36i2.9608

Abstract

The theory of landslides due to cracks on the surface of the slope / cliff is known as the cracked soil theory. Several studies about shear parameters of cracked soil had been carried out. The latest research was about soil physical and shear strength parameters correlation in soft to stiff consistency soil. The soil conditions in that research were less representative of the slope / cliff soil consistency that can be very stiff. Therefore, further research for medium to very stiff consistency was conducted. Cracked test specimens were tested using water pressure variations and showed that water pressure had no significant effect. In cracked soils, the friction angle was not affected by the void ratio of the soil. Empirical formula for cracked soil at medium to very stiff consistency were for LL < 50%; Ø = 22˚ and LL ≥ 50%, Ø = -0.0024 LL2 + 0.2062 LL + 17.514.
Pengaruh Overconsolidation Ratio (OCR) dan Kadar Organik (Oc) Terhadap Koefisien Tekanan Tanah Kesamping “at Rest” (Ko), Tanah Gambut Berserat Halus Rusdiansyah Rusdiansyah; Noor Endah Mochtar
Jurnal Teknik Sipil Vol 10 No 2 (2003)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2003.10.2.1

Abstract

Abstrak. Koefisien tekanan tanah kesamping “at rest” (Ko) untuk setiap jenis tanah tidak sama; tanah inorganic mempunyai harga Ko lebih besar dari pada tanah organik. Harga Ko tersebut juga masih dipengaruhi oleh overconsolidation ratio (OCR). Untuk tanah anorganik, harga Ko dapat ditentukan dengan formula yang telah tersedia; tetapi untuk tanah gambut harga Ko masih harus ditentukan dengan melakukan test di laboratorium.Dalam tulisan ini disajikan hasil penelitian yang menunjukkan hubungan antara Ko, OCR, dan Oc (kadar organik) tanah gambut berserat halus. Sampel yang diteliti dibuat dengan kandungan organik bervariasi (55%, 65%, 71%, 85%, dan 99%); tipe seratnya hanya serta halus saja. Ukuran sampel yang di test adalah : tinggi 15cm dan diameter 7 cm. Besar beban yang diberikan adalah 50, 100, 200, dan 400 kPa; harga OCR yang dipilih adalah 1, 2, 4, dan 8. Harga Ko ternyata makin membesar dengan meningkatnya harga OCR dan kandungan organik. Hubungan antara Ko dan OCR merupakan dua garis lurus patah yang mempunyai kemiringan berbeda. Pada OCR ≤ 2 peningkatan harga Ko terhadap harga OCR adalah sedikit lebih besar jika dibandingkan pada OCR > 2. Abstract. Coefficient of lateral earth pressure at rest (Ko) is different for each soil type; anorganic soil has higher value of Ko than organic soil. The ko value is also affected by the overconsolidation ratio (OCR) of the soil. For anorganic soil, the Ko value can be determined using the available formula; for peat soil, however, a laboratory testing has to be carried out in order to get the Ko value of the peat. In this paper is presented the research result that show correlation between Ko, OCR, and Oc (organic content) of fine fibrous peat. The soil sample was prepared with different organic content (55%, 65%, 71%, 85%, and 99%); the fibers chosen were only the fine ones. The sample size was 15 cm height and 7 cm in diameter. The loads applied were 50, 100, 200, and 400 kPa; the OCR values chosen were 1, 2, 4, and 8. The study results show that the Ko value is getting higher with the increase of the OCR value and the organic content. The correlation between Ko and OCR shows as two broken straight lines with different slope. At OCR ≤ 2 the increase of Ko is slightly higher compared to the one at OCR > 2.
Pengaruh Usia Stabilisasi pada Tanah Gambut Berserat yang Distabilisasi dengan Campuran CaCO3 dan Pozolan Noor Endah Mochtar; Faisal Estu Yulianto; Trihanyndio Rendy S
Jurnal Teknik Sipil Vol 21 No 1 (2014)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2014.21.1.6

Abstract

Abstrak. Tanah gambut dikenal sebagai tanah yang sangat lunak dengan kandungan organik tinggi (≥75% ). Tanah gambut memiliki perilaku yang kurang menguntungkan, yaitu daya dukung yang rendah dan pemampatan yang besar. Metode perbaikan tanah, seperti: preloading dengan beban tambahan, kolom pasir, dan galar kayu telah dilakukan untuk meningkatkan perilakunya. Hanya saja, metode tersebut tidak ramah lingkungan karena menggunakan banyak tanah dan kayu. Karena itu, metode stabilisasi menggunakan kapur telah dikembangkan untuk meningkatkan perilaku gambut. Makalah ini menyajikan efektivitas penggunaan abu sekam padi (RHA) dan Fly Ash (FA) sebagai pozolon untuk dicampurkan dengan CaCO3 sebagai bahan stabilisasi dan pengaruh Usia stabilisasi terhadap perilaku tanah gambut yang distabilisasi. Dalam studi ini, digunakan 10 % Admixture-1 (30% CaCO3 +70% RHA) dan 10% Admixture-2 (30% CaCO3 +70 % FA). Pada usia stabilisasi 20-45 hari, perilaku tanah gambut yang distabilisasi meningkat secara signifikan. Pada usia peram diatas 45 hari perilaku gambut yang distabilisasi menurun karena adanya perubahan jelly CaSiO3 menjadi kristal dan terjadinya dekomposisi serat gambut. Meskipun dua jenis admixture tersebut memberikan hasil yang baik dalam meningkatkan perilaku gambut berserat, tetapi Admixture-2 menunjukkan hasil yang lebih menjanjikan karena ukuran butirannya yang lebih halus dan kemudahannya dalam pelaksanaan pencampuran.Abstract. Peat soil is known as a very soft soil with high organic content (≥ 75%). It has unfavorable behaviour, that is, low bearing capacity and very high compressibility. Soil improvement methods, such as: preloading with surcharge, sand column, and corduroy have been adopted to improve its behaviour. Those methods, however, are not environmentally friendly because they use a lot of irreversible materials. Because of that, stabilization method using lime had been developed to improve peat behaviour. This paper presents the effectiveness of using rice husk ash (RHA) and Fly Ash (FA) as pozolon to enhance the CaCO3 for stabilization material and the effect of curing period to the behavior of stabilized peat soil. In this study, 10% of Admixture-1 (30% CaCO3+70% RHA) and 10% of Admixture-2(30% CaCO3+70% FA) were used. During 20-45 days curing period, very significant improvement of the stabilized peat soil behaviour occured. After that, however, slightly decreament of the stabilized peat behaviour happened caused by the change of CaSiO3gel to be crystal and by the fibers peat decomposition. Although both types of admixtures gave good results in improving the stabilized fibrous peat behaviour, however, Admixture-2 gives more promising results due to its finergrain size and easier in mixing.