Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Pengaruh Kedalaman Tancap, Spasi, dan Jumlah Cerucuk dalam Peningkatan Tahanan Geser Tanah Lunak Berdasarkan Permodelan di Laboratorium Rusdiansyah Rusdiansyah; Indrasurya B. Mochtar; Noor Endah Mochtar
INFO-TEKNIK 2015: Prosiding Semnas Teknik Sipil 2015
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/infotek.v0i0.3038

Abstract

Belakangan ini pemakaian cerucuk cukup efektif sebagai metode alternatif perkuatan stabilitas lereng maupun perkuatan embankment jalan. Pada embankment jalan, cerucuk  digunakan sebagai bahan yang kaku berfungsi untuk menaikkan stabilitas tanah. Sebagai perkuatan lereng, cerucuk sangat efektif berfungsi sebagai pasak/tulangan yang dapat memotong bidang kelongsoran lereng. Sehingga cerucuk dapat memberikan tambahan gaya geser pada lereng yang mampu melawan gaya geser longsoran yang terjadi. Tambahan gaya geser yang dihasilkan oleh cerucuk tersebut dapat meningkatkan angka keamanan (safety factor) stabilitas lereng.Akhir-akhir ini pengembangan teori tentang konstruksi perkuatancerucuk padastabilitas lereng tanah lunak guna menambah kekuatan gesernya(yang mendekati kondisi di lapangan) masih sedikit dan belum memadai.Hanya saja untuk pengembangannya tersebut sangat diperlukan informasi yang rinci dan jelas tentang interaksi antara tanah lunak dengancerucuk. Informasi tersebut dapat diperoleh salah satunya dari penelitian skala laboratorium yang dibuat mendekati kondisi lapangan.                Tujuan penelitian ini untuk menjawab bagaimana pengaruh panjang tancapan (rasio tancap) dan pengaruh jarak (spasi) antar cerucuk terhadap penambahan tahanan geser dari stabilitas lereng tanah lunak. Penelitian ini dilaksanakan melalui salah satu cara pendekatan model skala laboratorium, namun perilakunya dibuat mendekati perilaku sebenarnya di lapangan. Bidang kelongsoran lereng yang terjadi di lapangan didekati dengan bidang geser yang sengaja dibuat di laboratorium dengan menggeser contoh tanah (Plab) yang terdapat dalam kotak geser hasil modifikasi yang berukuran relatif besar pada alat geser langsung. Cerucuk yang akan digunakan berupa cerucuk kayu mini dan ditanamkan pada contoh tanah tadi.Variasi rasio tancap (L/D) yang diterapkan sebesar 5, 10, 15, dan 20.Sedangkaan variasi spasi cerucuk yang digunakan sebesar 3D, 5D, dan 8D.Sedangkan untuk variasi jumlah cerucuk yang dipasang yaitu 1 batang, 2 batang, 4 batang, dan 6 batang.Diharapkan dari perilaku skala kecil tersebut dihasilkan tambahan teori mengenai perkuatan lereng dengan cerucuk yang mendekati kondisi sebenarnya di lapangan.Hasil penelitian pendahuluan menunjukkan bahwa semakin besar rasio tancap yang digunakan cerucuk maka semakin meningkatkan tahanan geser tanah lunak.Selain itu tahanan geser tanah lunak juga meningkat apabila spasi antar cerucuk yang digunakan sebesar 3D sampai 5D.Akan tetapi penurunan tahanan geser tanah lunak terjadi apabila spasi antar cerucuk yang digunakan adalah lebih besar dari 5D.Selain itu bahwa tahanan geser tanah menjadi meningkat seiring dengan adanya penambahan jumlah cerucuk. Kelompok cerucuk yang menerima gaya geser horisontal pada arah sejajar terhadap baris kelompoknya (PolaPemasangan  1) menghasilkan tahanan geser tanah yang relatif lebih besar daripada arah tegak lurus terhadap baris kelompoknya (Pola Pemasangan 2). Selain itu bahwa kemampuan kelompok cerucuk dalam menahan geseran horisontal juga dipengaruhi oleh faktor efisiensi. Dimana kemampuan kelompok cerucuk dalam menahan geseran horisontal tidak akan sama dengan kemampuan masing-masing cerucuk dikalikan dengan jumlah cerucuk dalam kelompok yang bersangkutan.
The Use of PT Petro Kimia’s by-Product Gypsum as Fill Materials Raditya Widiatama; Indrasurya Budisatria Mochtar; Noor Endah Mochtar
IPTEK Journal of Proceedings Series No 6 (2020): 6th International Seminar on Science and Technology 2020 (ISST 2020)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23546026.y2020i6.11087

Abstract

Gypsum is a by-product of the Phosphoric Acid factory PT Gresik Petrochemicals; it is produced around 1,200,000 tons/year. In order to reduce the amount, an effort needed to use gypsum as fill materials. For this purpose, the problem needs to be considered is that gypsum should not contain substances that harmful to the environment and meet the fill materials requirements. In order to answer all these questions, chemical tests were carried out to determine its heavy metal content. Gypsum plasticity and its particle size distribution were determined by conducting Atterberg limit and sieve analysis tests. Compaction test and CBR test were also carried out to determine the density and its strength. Those results were then analyzed using "The Fifteen Point Method" to obtain a relationship curve between dry density (d) and soaked-CBR. This curve was important to determine the soaked-CBR that can be achieved by gypsum materials in the field with different compaction energy 90%, 95%, and 100% of maximum compaction energy. Chemical test result shows that all heavy metals content in gypsum material are far below the regulatory limit; therefore, it is safe for the environment. Besides, Gypsum is non-plastic (NP) material and it is classified as A-4 (AASHTO) or SM (USCS); it means that Gypsum is very good for fill materials and safe to the environment. In addition, the result from the Fifteen Point Method shows that the minimum soaked CBR value is 13% achieved by using 90% of maximum compaction energy with 30-40 % of water content. It means that the gypsum material can be used as selected fill material because it fulfils its requirement where IP10%.
PENERAPAN KONSEP BARU CRACKED SOILS PADA PENANGULANGAN KELONGSORAN LERENG (STUDI KASUS : PEMBANGUNAN GEDUNG RESKRIMSUS POLDA KALIMANTAN TIMUR, BALIKPAPAN) Dewi Amalia; Indrasurya B Mochtar; Noor Endah Mochtar
Prosiding Industrial Research Workshop and National Seminar Vol 9 (2018): Industrial Research Workshop and National Seminar
Publisher : Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2080.586 KB) | DOI: 10.35313/irwns.v9i0.1043

Abstract

Hasil analisa stabilitas lereng dengan tanah cukup kaku didasarkan pada kondisi terekstrim yaitu kondisi saturated akibat hujan dari lereng di area pembangunan gedung Reskrimsus Polda Kalimantan Timur, Balikpapan menunjukkan angka keamanan, SF>1. Hal ini berarti lereng tersebut kondisi aman walaupun ketika terjadi hujan. Pada kenyataannya, setelah lereng diguyur hujan dengan intensitas sangat lebat, lereng bergerak yang mengakibatkan kerusakan struktur di sekitarnya. Fenomena ini dapat dijawab dengan the concept of cracked soil yang mengakomodir keberadaan retak pada lereng dan pengaruh intensitas hujan yang belum banyak diperhatikan dalam menganalisa stabilitas lereng sampai saat ini. Retakan yang terinfiltrasi air hujan pada saat hujan sangat lebat akan menentukan stabilitas lereng. Parameter pada retakan ini berbeda dengan parameter tanah utuh dimana tanah tersebut dianggap berperilaku seperti pasir (c=0 dan f≠0) dan pada retakan tersebut akan terbentuk pore water pressure build up ketika hujan sangat lebat terjadi. Hasil dari analisa ulang yang dilakukan dengan konsep baru tersebut, lereng yang pada awalnya diprediksi aman (SF>1) ternyata longsor (SF<1). Secara garis besar diusulkan konsep untuk menanggulangi kelongsoran tersebut.
Studi Perbandingan Desain Inti Bendung Dengan Pemakaian Material Alternatif Untuk Optimasi Biaya Studi Kasus: Proyek Bendungan Tapin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan Victor Anton Sutresno; Noor Endah Mochtar; Indrasurya B. Mochtar
Jurnal Aplikasi Teknik Sipil Vol 20, No 3 (2022)
Publisher : Departemen Teknik Infrastruktur Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2626.688 KB) | DOI: 10.12962/j2579-891X.v20i3.13842

Abstract

Bendungan Tapin merupakan bendungan tipe urugan zonal inti tegak dengan zona inti kedap air menggunakan material lempung. Kendala yang terjadi saat pelaksanaan konstruksi adalah ketersediaan material lempung untuk zona inti yang ada di sekitar proyek. Di sisi lain terdapat material hasil galian spillway yang dibuang begitu saja disekitar area proyek. Adanya permasalahan tersebut, terdapat gagasan untuk memanfaatkan material hasil galian spillway tersebut sebagai material zona inti yang dikombinasi dengan geomembrane untuk meningkatkan impermeabilitasnya. Dalam rangka mendapatkan ukuran zona inti bendung yang optimal, dibuat 5 alternatif desain yang kemudian dianalisa dengan bantuan software SEEP/W dan SLOPE/W. Selanjutnya, hasil perhitungannya dibandingkan dengan perencanaan awal dimana zona inti bendung menggunakan material lempung dari quary. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa geomembrane dapat menurunkan nilai rembesan rata rata hingga 89%. Disamping itu, diperoleh efisiensi biaya sebesar 27.53% apabila material galian spillway dipakai sebagai pengganti material lempung untuk bendung inti.
A Formula for Predicting Primary Settlement of Tropical Highly Organic Soil and Peat in the Field Prativi, Ayu; Mochtar, Noor Endah; Mochtar, Indrasurya B.
Civil Engineering Journal Vol 10, No 11 (2024): November
Publisher : Salehan Institute of Higher Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28991/CEJ-2024-010-11-03

Abstract

Highly organic soil and peat are problematic soils due to their low bearing capacity and high compressibility. In tropical regions, the presence of woody material in these soils often affects the stress-compression and time-compression curves in load-increment consolidation tests, leading to unusual shapes. Consequently, conventional inorganic soil theory and the Cα/Ccconcept are inadequate for analyzing their compression behavior. As an alternative, the Gibson and Lo model can be used to obtain compression parameters from single-load consolidation tests. However, this method introduces considerable discrepancies when predicting the primary settlement. To address this issue, this paper proposes a formula for predicting the primary settlement in highly organic soil and peat in the field, especially in tropical regions. Samples were collected from several locations in Indonesia. The formula was constructed from the stress-strain relationship during the primary compression stage, obtained from numerous single-load consolidation tests. Long-term field settlement is predicted by combining this empirical equation for primary settlement with the Gibson and Lo model for secondary settlement. The proposed formula was verified using field soil monitoring data, demonstrating reasonable accuracy in predicting the primary settlement of highly organic soil and peat. Doi: 10.28991/CEJ-2024-010-11-03 Full Text: PDF
Studi Analisis Penyebab Kelongsoran Timbunan Dan Perencanaan Perkuatan Pada Ruas Jalan Tol Surabaya – Mojokerto STA 14+500 S.D. STA 15+350 Septiandri, Rohmahillah Aviskanasya; Mochtar, Noor Endah; Satrya, Trihanyndio Rendy; Syaripin; Ardiansyah, Ahmad Farid
AGREGAT Vol 9 No 2 (2024): .
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/ag.v9i2.23803

Abstract

Jalan tol Surabaya - Mojokerto merupakan jalan tol yang menghubungkan Kota Surabaya dan Kota Mojokerto. Adanya jalan tol tersebut diharapkan dapat memicu pertumbuhan ekonomi di sekitar kawasan yang dilaluinya. Selain kondisi topografi yang tidak rata, jalan tol Surabaya - Mojokerto juga dibangun di atas timbunan setinggi 10 meter. Pada STA 14+500 s.d STA 15+350 diketahui ketebalan lapisan tanah lunak mencapai 9 meter; hal ini kemungkinan menjadi penyebab terjadinya kelongsoran pada saat umur timbunan mencapai 3 bulan dengan ketinggian 8 meter dimana masih kurang dari tinggi timbunan rencana. Untuk itu perlu dilakukan evaluasi penyebab kelongsoran dan alternatif perbaikannya agar kelongsoran tidak terjadi lagi pada ruas jalan tol tersebut. Berdasarkan hasil observasi lapangan, data tanah dan data teknis diketahui bahwa tidak ada perkuatan dan PVD (Prefabricated Vertical Drain) yang dipasang dibawah timbunan. Hal ini diperkuat dengan hasil analisis stabilitas lereng yang dilakukan menggunakan program bantu XSTBL diperoleh nilai SF 0,887 s/d 1,157. Angka keamanan ini menunjukkan bahwa timbunan tersebut tidak stabil, dengan kata lain daya dukung tanah dibawah timbunan tidak mencukupi untuk menahan beban setinggi 8 meter sehingga terjadi kelongsoran. Oleh karena itu, perlu direncanakan sistem perkuatan timbunan dengan pemasangan geotextile dan pemasangan spunpile pada tanah dasar dibawah timbunan. Untuk perhitungannya, perlu diperhatikan kenaikan daya dukung akibat pemampatan yang telah terjadi selama 3 bulan oleh timbunan eksisting setinggi 8 meter. Hasil perencanaan kedua alternatif tersebut kemudian dievaluasi untuk mendapatkan perencanaan yang paling efisien. Apabila perkuatan yang dipakai adalah geotextile, maka diperlukan 26 lapis dan per lapisnya terdapat 2 lembar geotextile tipe UW-250 52/52 dengan total biaya material sisi kanan kiri timbunan sebesar Rp 106,996,623,000. Sedangkan untuk pemasangan spunpile dengan d = 30 cm dan p = 6 m, diperlukan 38 buah spunpile/m panjang jalan; total biaya material sisi kanan kiri adalah Rp 79,853,109,750. Dari kedua alternatif yang telah direncanakan, pemasangan spunpile pada tanah dasar merupakan alternatif terpilih.
Studi Analisis Penyebab Kelongsoran Timbunan Dan Perencanaan Perkuatan Pada Ruas Jalan Tol Surabaya – Mojokerto STA 14+500 S.D. STA 15+350 Septiandri, Rohmahillah Aviskanasya; Mochtar, Noor Endah; Satrya, Trihanyndio Rendy; Syaripin; Ardiansyah, Ahmad Farid
AGREGAT Vol 9 No 2 (2024): Vol. 9 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/ag.v9i2.23803

Abstract

Jalan tol Surabaya - Mojokerto merupakan jalan tol yang menghubungkan Kota Surabaya dan Kota Mojokerto. Adanya jalan tol tersebut diharapkan dapat memicu pertumbuhan ekonomi di sekitar kawasan yang dilaluinya. Selain kondisi topografi yang tidak rata, jalan tol Surabaya - Mojokerto juga dibangun di atas timbunan setinggi 10 meter. Pada STA 14+500 s.d STA 15+350 diketahui ketebalan lapisan tanah lunak mencapai 9 meter; hal ini kemungkinan menjadi penyebab terjadinya kelongsoran pada saat umur timbunan mencapai 3 bulan dengan ketinggian 8 meter dimana masih kurang dari tinggi timbunan rencana. Untuk itu perlu dilakukan evaluasi penyebab kelongsoran dan alternatif perbaikannya agar kelongsoran tidak terjadi lagi pada ruas jalan tol tersebut. Berdasarkan hasil observasi lapangan, data tanah dan data teknis diketahui bahwa tidak ada perkuatan dan PVD (Prefabricated Vertical Drain) yang dipasang dibawah timbunan. Hal ini diperkuat dengan hasil analisis stabilitas lereng yang dilakukan menggunakan program bantu XSTBL diperoleh nilai SF 0,887 s/d 1,157. Angka keamanan ini menunjukkan bahwa timbunan tersebut tidak stabil, dengan kata lain daya dukung tanah dibawah timbunan tidak mencukupi untuk menahan beban setinggi 8 meter sehingga terjadi kelongsoran. Oleh karena itu, perlu direncanakan sistem perkuatan timbunan dengan pemasangan geotextile dan pemasangan spunpile pada tanah dasar dibawah timbunan. Untuk perhitungannya, perlu diperhatikan kenaikan daya dukung akibat pemampatan yang telah terjadi selama 3 bulan oleh timbunan eksisting setinggi 8 meter. Hasil perencanaan kedua alternatif tersebut kemudian dievaluasi untuk mendapatkan perencanaan yang paling efisien. Apabila perkuatan yang dipakai adalah geotextile, maka diperlukan 26 lapis dan per lapisnya terdapat 2 lembar geotextile tipe UW-250 52/52 dengan total biaya material sisi kanan kiri timbunan sebesar Rp 106,996,623,000. Sedangkan untuk pemasangan spunpile dengan d = 30 cm dan p = 6 m, diperlukan 38 buah spunpile/m panjang jalan; total biaya material sisi kanan kiri adalah Rp 79,853,109,750. Dari kedua alternatif yang telah direncanakan, pemasangan spunpile pada tanah dasar merupakan alternatif terpilih.
Penentuan Ketebalan Replacement Parsial Dari Lapisan Tanah Dasar Yang Paling Efisien Didasarkan Pada Penanganannya Terhadap Pemampatan Dan Stabilitas Jalan Yang Direncanakan Daryanto, Daryanto; Mochtar, Noor Endah
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i9.61412

Abstract

Jalan Tol Tebing Tinggi - Parapat Tahap I Ruas Tebing Tinggi – Serbelawan (Seksi 3) adalah bagian dari Jalan Tol Trans Sumatra yang merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional yang menghubungkan Tebing Tinggi dan Serbelawan dengan panjang 30 km. Trase tersebut melewati beberapa titik lokasi tanah lunak; salah satu lokasinya adalah di Sta 15+950 – Sta 16+075. Berdasarkan hasil penyelidikan tanah, di lokasi tersebut terdapat material organik/gambut yang ketebalannya mencapai 5.3m; kondisi ini tentunya akan beresiko terhadap stabilitas dan daya dukung jalan tol yang akan dibangun di atasnya. Sesuai perencanaan desain, di lokasi tersebut dilakukan penanganan tanah dengan cara melakukan penggantian (replacement) lapisan tanah dasar sampai dengan kedalaman 2m dengan jenis tanah yang lebih baik; penimbunannya dilakukan secara bertahap. Dalam perkembangannya, ada kekhawatiran masih akan terjadi pemampatan pada lapisan tanah gambut yang tidak diganti. Oleh karena itu, akhirnya diputuskan untuk melakukan replacement secara total untuk menghilangkan seluruh lapisan tanah gambut tersebut dari badan jalan maupun kaki timbunan untuk memastikan tidak terjadi pemampatan sekunder maupun pemampatan tersier akibat dekomposisi tanah gambut. Dalam studi ini dianalisis ketebalan replacement tanah dasar yang paling efisien untuk diganti didasarkan pada biaya penanganan pemampatan dan stabilitas dari timbunan jalan yang direncanakan. Berdasarkan evaluasi, metode penanganan sesuai perencanaan awal (replacement 2m) masih memenuhi terhadap besar dan lama pemampatan maupun stabilitas yang disyaratkan. Evaluasi beberapa alternatif yang lain menunjukkan bahwa ketebalan replacement berbanding terbalik dengan besar pemampatan yang terjadi dan berbanding lurus dengan peningkatan stabilitasnya. Berdasarkan evaluasi terhadap biaya pelaksanaan pekerjaan, metode perbaikan yang paling efisien adalah penanganan tanah dasar dengan preloading.