Articles
Drawing therapy to improve the quality of life for children victims of landslides
Elli Nur Hayati;
Inda Purwasih;
Siti Urbayatun
HUMANITAS: Indonesian Psychological Journal Vol 16, No 1 (2019): February 2019
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (312.27 KB)
|
DOI: 10.26555/humanitas.v16i1.7681
Disasters may affect the quality of life of survivors, including children. Therefore, interventions that may improve survivors' quality of life is needed. The purpose of this study is to determine the effect of drawing therapy in improving the quality of life of children survivors of landslides in Purworejo, Central Java, Indonesia. This study used a quasi-experimental design with one group pretest - posttest. The subjects were five children aged 8 to 11 years who experienced a landslide disaster, and had low or moderate quality of life based on WHOQOL-BREF scale categorization. The experimental group was treated using therapeutic techniques that facilitated the subject to externalize their traumatic experiences through creative actions that reflected their feelings and thoughts. Therapy was done through three stages of warm up, mindfulness, and drawing. The results of the Friedman Test analysis show the differences in the quality of life scores in all domains before and after the intervention was given. Qualitative data that was taken as complimentary to the quantitative part also showed a description of improved behavior, attitudes, and social interactions among the children. It is concluded that drawing therapy can improve the quality of life of the children survivors of a landslide disaster.
Eye Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR) untuk Menurunkan PTSD pada Korban Inses
Dwi Sari Rizki;
Khoirudin Bashori;
Elli Nur Hayati
HUMANITAS: Indonesian Psychological Journal Vol 14, No 1: February 2017
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26555/humanitas.v14i1.5032
Kekerasan seksual terhadap anak perempuan dapat memicu terjadinya PTSD (post-traumatic stress disorder) yang menyebabkan individu menjadi tidak berdaya seumur hidupnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh EMDR (Eye Movement Desensitization and Reprocessing) dalam menurunkan PTSD (post-traumatic stress disorder) yang diderita oleh seorang remaja putri korban inses yang didampingi oleh YLPA (Yayasan Lembaga Perlindungan Anak) DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta). Subjek dalam penelitian ini yang mengalami PTSD adalah remaja puteri berusia 17 tahun dengan gejala PTSD sebagaimana diukur dengan IES-R (Impact of event scale-Revised). Penelitian ini dilakukan dengan desain eksperimen kasusu tunggal (single case experimental design) dengan desain A-B-A-B dan follow up. Wawancara dan observasi kualitatif juga dilakukan untuk melihat pengalaman subjektif subjek selama menjalani terapi EMDR. Perlakuan terapi EMDR dilaksanakan dalam tujuh sesi. Hasil penelitian menunjukkan menurunnya skor PTSD dari prates (skor 35), pascates (skor 4), dan follow up (skor 3). Hasil wawancara dan observasi juga menunjukkan bahwa subjek telah dapat mengelola emosi negatifnya, dan dapat mengontrol dirinya sendiri ketika melihat objek yang menstimulasi traumanya, serta telah dapat menemukan keyakinan baru yang positif. Berdasarkan termuan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa EMDR dapat menurunkan skor PTSD yang diderita oleh remaja putri korban inses di YLPA DIY.
Social Support, Religiosity, and Health Literacy as Predictors of Resilience in Pregnant Women during COVID-19 Pandemic
Nora Devi Irianjani;
Elli Nur Hayati;
Ma Teresa De Guzman
Journal of Educational, Health and Community Psychology Vol 11 No 1 March 2022
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12928/jehcp.v11i1.22306
Being pregnant during pandemic is challenging for women. A long and uncertain pandemic condition is accompanied by changes in health services, and other life conditions that require adaptation, coping, and resilient.  This study aimed to examine the role of social support, religiosity, and health literacy as predictors of resilience among pregnant women during the COVID-19 pandemic in Yogyakarta, Indonesia. A purposive random sampling was employed to select participants of the survey, which was pregnant women that attended in antenatal care in Primary Health Care in Yogyakarta region.  The scales of resilience, social support, religiosity, and health literacy was carried out to collect the data. Results showed that social support has a more significant contribution than health literacy and religiosity on resilience of pregnant women. Overall, there is a suitable health literacy mediation model between social support and resilience and religiosity with resilience. Social support, health literacy, and religiosity can be the predictors of resilience.
REGULASI EMOSI PADA PENDERITA HIV/AIDS
Mekar Duwi Indah Sari;
Elli Nur Hayati
Empathy : Jurnal Fakultas Psikologi Vol 3, No 1 (2015): Volume 3 No 1, Juni 2015
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (48.146 KB)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui regulasi emosi penderita HIV/AIDS dan faktor-faktor yang mempengaruhi regulasi emosi pada penderita HIV/AIDS. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi kepada subjek penderita HIV/AIDS. Subjek penelitian terdiri dari dua orang penderita HIV/AIDS dengan dua orang significant person. Hasil penelitian menunjukkan regulasi emosi dilakukan oleh kedua subjek untuk mengatur respon emosi dari permasalahan yang muncul setelah kedua subjek terinfeksi HIV/AIDS. Subjek pertama yang merupakan seorang wanita yang telah menikah, menggunakan strategi regulasi emosi antecendent-focussed strategy (cognitive reapraissal). Melalui proses regulasi emosi yang terdiri dari situation selection, situation modification, attention deployment, cognitive change, dan modulation respon. Faktor yang mempengaruhi penggunaan regulasi emosi subjek pertama yakni harapan akan masa depan anak, keterbukaan (self disclosure) dan dukungan sosial (sosial support). Subjek kedua yang merupakan pria yang belum menikah, meregulasi emosi dengan menggunakan strategi regulasi emosi respon focused strategy (expression suppression) melalui proses regulasi emosi situation selection. Penggunaan strategi regulasi emosi ini dipengaruhi faktor ketidakmampuan membuka diri dan dukungan sosial (sosial support). Kesimpulan dari penelitian ini adalah kedua subjek meregulasi emosi dengan pemilihan strategi regulasi emosi yang berbeda. Faktor yang paling mempengaruhi penggunaan regulasi emosi penderita HIV/AIDS adalah dukungan sosial (sosial Support).Kata Kunci : Pengidap HIV/AIDS, regulasi emosi
KEBAHAGIAAN PADA BURUH GENDONG
Tri Yuni Angriyani;
Elli Nur Hayati
Empathy : Jurnal Fakultas Psikologi Vol 2, No 2 (2014): Volume 2 No 2, Desember 2014
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (311.897 KB)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kebahagiaan dan faktor yang mempengaruhi kebahagiaan pada buruh gendong di pasar tradisional. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara dan observasi. Metode analisis data pada penelitian ini dengan menggunakan analisis tema. Pengambilan sampel menggunakan criterion sampling yaitu sampel yang kriterianya sudah ditentukan sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subyek I merasa cukup bahagia. pada aspek kognitif dan aspek afektif, ini ditunjukkan dengan adanya perasaan puas pada berbagai domain kehidupannya seperti adanya penerimaan dari pihak keluarga terhadap kondisi pekerjaan subyek, perasaan puas terhadap keadaan keluarga dan pekerjaan, hubungan yang baik dengan sesama buruh gendong dan pandangan positif mengenai kehidupan masa depan serta dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk keluarga. Hal ini membuat subyek merasa senang dan bersyukur dengan keadaannya, namun dengan kondisi pekerjaannya subyek I mengalami masalah kesehatan yang mengganggu kebahagiaan subyek dikarenakan sering mengalami pegal-pegal pada bagian tubuhnya yang terkadang mengganggu aktifitas pekerjaan subyek bahkan pernah membuat subyek tidak bekerja sehingga membuat subyek merasa sedih dan menyalahkan diri sendiri. Sedangkan pada subyek II juga menunjukkan bahwa subyek II cukup bahagia. Pada aspek kognitif dan afektif juga menunjukkan bahwa subyek II merasa puas dan lebih merasakan afek positif di berbagai domain kehidupannya. Kepuasan terlihat dari adanya dukungan dan tidak adanya pemaksaan terhadap subyek untuk bekerja dari keluarga, interaksi dengan sesama buruh gendong yang baik dan penilaian yang positif serta pemanfaatan waktu luang yang positif yang dilakukan subyek membuat subyek lebih banyak merasakan afek positif seperti senang. Hal yang mengganggu kebahagiaan pada subyek II adalah kondisi kesehatan yang mengakibatkan subyek tidak maksimal dalam bekerja karena mengalami batuk-batuk ketika bekerja terlalu berat. Sedangkan faktor yang mempengaruhi kebahagiaan kedua subyek buruh gendong bersifat eksternal yakni uang yang didapat dari bekerja sebagai buruh gendong yang dimanfaatkan untuk membahagiakan keluarga. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa kedua subyek merasa cukup bahagia, dilihat dari pemenuhan aspek kognitif dan afektif dalam domain kehidupannya seperti keluarga, diri sendiri, pekerjaan, uang, kesehatan dan waktu luang.Kata Kunci : kebahagiaan, buruh gendong
Pelatihan Efikasi Diri Islami untuk Menurunkan Kecemasan Berbicara di Depan Umum pada Santri
Faiz Alfi Rachmawati;
Khoiruddin Bashori;
Elli Nur Hayati
JIP (Jurnal Intervensi Psikologi) Vol. 9 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Islam Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20885/intervensipsikologi.vol9.iss1.art4
his study was able to find out whether Islamic self-efficacy training can reduce the anxiety of public speaking for the student of Islamic boarding school. The method used in this research was experimental method with randomized pretest-posttest with control group. Subjects in this study were male and female of Islamic boarding school student with range of age 13 to 16 years old which contained 18 subjects with an anxiety score of public speaking in high to medium and divided into two groups, 9 subjects for experimental group and 9 subjects for control group. The experimental group was given self-efficacy training, while the control group was not treated. The scale used to measure anxiety levels in public speaking was public speaking anxiety scale constructed by researcher based on the theory of Rogers (2003). The results were obtained by Mann-Whitney statistic test, the difference of score during pretest-posttest of experimental group with control group showing Z value equal to -2,790 with p = 0,005 <0,05. These results indicate significant differences between experimental and control groups. Islamic Self-efficacy training in this study provides positive change and reduces the anxiety of public speaking for Islamic boarding school student, motivate them to improve their positive self by maximizing their excess, and emerge positive emotion to relieve irrational thinking.Key words: Islamic self-efficacy training, public speaking, anxiety, Islamic boarding school student
PELATIHAN KEBERSYUKURAN UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP PADA WANITA DISABILITAS FISIK
Desta Israwanda;
Siti Urbayatun;
Elli Nur Hayati
JIP (Jurnal Intervensi Psikologi) Vol. 11 No. 1 (2019): Jurnal Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Islam Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20885/intervensipsikologi.vol11.iss1.art2
This study examines the effect of gratitude training to improve the quality of life in women with physical disabilities. Participans of this study were 30 participants, there are 15 participants in each group. The data were analyzed using mixed design anova.The result showed a very significant difference in quality of life’s score at pretest, posttest, and follow up between the experimental and controlled group (F=56,586, p=0,000 (p<0,05)).In addition, there was significant changes in quality of life’s score at experimental group (MD=-15,467 and p=0,000.Those findings indicate that there was increase in the level quality of life in the experimental group.Furthermore,gratitude training contributed 84,3% to the increase quality of life.of women with physical disabilities.
Persepsi Pasien Hipertensi Tentang Kepatuhan Minum Obat Di Instalasi Rawat Jalan Rs Pku Muhammdiyah Yogyakarta : Studi Kualitatif
Nabial Chiekal Gibran;
Dyah Aryani Perwitasari;
Elli Nur Hayati
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 5 No 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (256.589 KB)
|
DOI: 10.37874/ms.v5i2.197
Kepatuhan minum obat merupakan hal yang penting dalam terapi pengobatan pasien hipertensi berguna untuk mengontrol tekanan darah pasien. Persepsi partisipan berguna untuk diketahui sehingga nanti tenaga kesehatan mampu berikan terapi yang optimal untuk pasien hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi kepatuhan minum obat pasien hipertensi. Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi menggunakan wawancara semi-struktur. Bertempat di instalasi rawat jalan di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta menggunakan accidental sampling dan dianalisis secara tematik. Temuan peneliti yakni tema utama â€Keinginan Untuk Sembuh†dan “Upaya Untuk Sembuhâ€. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwasanya gambaran persepsi pasien hipertensi tentang kepatuhan minum obat ialah upaya menjaga kondisi kesehatan diri. Persepsi ini dilandasi dari temuan tema utama yakni “Keinginan Untuk Sembuh†dan “Upaya Untuk Sembuh†temuan tema ini memperlihatkan bahwasanya partisipan memiliki kecenderungan menunjukkan perilaku self-care.
Nomophobia di Kalangan Remaja
Labbaika Fadhilah;
Elli Nur Hayati;
Khoiruddin Bashori
Jurnal Diversita Vol 7, No 1 (2021): JURNAL DIVERSITA JUNI
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Medan Area
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31289/diversita.v7i1.4487
Berkembangnya teknologi yang semakin canggih seperti sekarang ini khususnya pengguna smartphone, tanpa disadari mereka hidup berdampingan dengan nomophobia. Nomophobia memiliki peran yang besar pada pengguna smartphone karena memunculkan rasa ketergantungan dan rasa kekhawatiran berlebih jika tidak mengoperasikan smartphone. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah tinjauan literatur, metode ini digunakan untuk mengumpulkan materi yang relevan tentang topik ini untuk mengkaji lebih jauh mengenai nomophobia dalam upaya untuk memperluas pengetahuan serta mengetahui dampak yang diakibatkan dari nomophobia pada remaja. Ketergantungan smartphone dikalangan remaja disebabkan adanya kekhawatiran berlebih akan ketidakmampuan menggunakan smartphone untuk aktif di media sosial karena saat ini remaja memposisikan media sosial sebagai salah satu fasilitas untuk berinteraksi dan kebutuhan yang sangat penting bagi remaja. Kurangnya pemahaman tentang penggunaan smartphone yang ideal pada remaja, menjadikan saat kegiatan belajar mengajar berlangsung tidak jarang para siswa mengoperasikan smartphonenya dan tidak fokus terhadap pelajaran yang sedang berlangsung sehingga akan mempengaruhi prestasi belajar pada siswa. Kepribadian remaja juga berkembang menjadi apatis dan memiliki rasa peduli yang rendah.
Self Disclosure Media Sosial pada Fase Kehidupan Dewasa Awal
Ratih Ratnasari;
Elli Nur Hayati;
Khoiruddin Bashori
Jurnal Diversita Vol 7, No 2 (2021): JURNAL DIVERSITA DESEMBER
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Medan Area
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31289/diversita.v7i2.4511
Teori perkembangan menjelaskan bahwa tahap perkembangan dewasa awal merupakan suatu siklus hidup yang tidak mudah. Ketika individu mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugas perkembangan serta ketidak mampuan untuk segera menyelesaikan masalah yang sedang dialami, individu akan cenderung mengalami stress. Lazarus dan Folkman (1984) mengatakan ada dua cara untuk mengatasi stress yaitu problem focused coping dan emotion focused coping. Biasanya orang-orang yang menggunakan emotion focused coping untuk mengtasi stress cenderung akan seneng berbagi informasi mengenai keadaan dirinya terhadap orang lain. Berbagi informasi mengenai keadaan dirinya pada orang lain dapat disebut self disclosure. Berkembangnya zaman membuat self disclosure dilakukan secara tidak langsung atau dilakukan dengan cara melalui media sosial. Penggunaan media sosial membuat penggunanya untuk membuat suatu konten.. Tulisan ini secara kritis menelaah literature mengenai self disclosure pada penggunaan media sosial instagram oleh perempuan dewasa awal. Tulisan ini juga akan berisi mengenai faktor ,aspek dan hasil penelitian sebelumnya mengenai self disclosure dimedia sosial.