Daniel Budiana
Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Petra

Published : 55 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Representasi Feminisme dalam film Captain Marvel Renaldy Renaldy; Daniel Budiana; Agusly Irawan Aritonang
Jurnal e-Komunikasi Vol 8, No 2 (2020): VOL 8, NO 2 AUGUST 2020
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peran media komunikasi massa dalam film sebagai alat untuk menyampaikan pesan dalam peradaban modern yang dapat memberikan dampak pada masyarakat. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pesan representasi feminisme dalam film Captain Marvel. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode semiotika John Fiske. Teori yang dipakai dalam penelitian ini adalah teori feminisme, kode televise, semiotika, film, repesentasi. Temuan dalam penelitian ini terdapat representasi gerakan feminisme gelombang kedua yaitu feminisme yaitu feminisme liberalisme, feminisme radikal, liberalisme, dan patriotisme. Gelombang feminisme aliran pertama cenderung bersifat liberal dan kedua cenderung bersifat radikal. Serta ideology liberalisme dan patriotisme ada dalam pada film Captain Marvel. Liberalisme yang menginginkan kebebasan atau kesetaraan gender serta patriotisme yang sangat mencintai Negara dan rela berkorban demi bangsa tanpa memandang rendah bangsa lain.
Penggambaran Kekerasan Rasisme Dalam Film Detroit Filbert Bagus Setiawan; Ido Prijana Hadi; Daniel Budiana
Jurnal e-Komunikasi Vol 6, No 2 (2018): VOL 6, NO 2 AUGUST 2018
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (806.897 KB)

Abstract

Fenomena rasisme merupakan isu yang selalu kencang berhembus di masyarakat. Bahkan fenomena ini juga terdapat dalam dunia perfilman. Film Detroit yang menceritakan kisah nyata kerusuhan rasial di Detroit tahun 1967. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana kekerasan rasisme digambarkan dalam film Detroit. Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Metode yang dipergunakan adalah analisis semiotika Roland Barthes dengan signifikasi dua tahap yaitu denotasi – konotasi dan mitos. Hasil penelitian ini memperlihatkan penggambaran kekerasan rasisme di dalam film Detroit. Pertama kekerasan rasisme dalam film ini dapat digambarkan dengan kekerasan fisik dengan senjata api dan kekerasan fisik tanpa senjata api yang dilakukan oleh polisi kulit putih. Selain kekerasan fisik peneliti menemukan adanya kekerasan verbal yang ada dalam film ini. Kekerasan verbal dalam film ini dihadirkan melalui umpatan-umpatan khas antar ras yang bertujuan untuk menghina ras lain.
Penerimaan Sobat Swameka Terhadap Program Radio OMA (Obrolan Malam) Milik Radio Swara Menara Kasih (101.1 FM) Nabire, Papua Inge Averina; Ido Prijana Hadi; Daniel Budiana
Jurnal e-Komunikasi Vol 9, No 2 (2021): VOL 9, NO 2 SEPTEMBER 2021
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Radio Swameka memiliki program favorit pendengarnya yaitu program OMA. Program OMA mengangkat materi yang diangkat dari masalah kehidupan yang sering terjadi pada manusia dengan tujuan menjawab kebutuhan pedengar. Penerimaan mengenai program OMA tentu berbeda-beda berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang informan miliki. Penerimaan program OMA yang dibahas dalam penelitian ini mencakup beberapa aspek seperti materi renungan, kompetensi penyiar, lagu/musik, kompetensi narasumber dan materi sebagai rujukan kehidupan. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang dilakukan dengan wawancara mendalam. Metode yang digunakan adalah analisis penerimaan. Informan dari penelitian ini adalah pendengar program OMA berusia 40-70 tahun berdasarkan persepsi dan pengalaman mereka tentang program OMA. Dalam aspek materi renungan teradapat penerimaan dominant karena materi yang disampaikan sudah sesuai dengan kehidupan, dan negotiated karena perbedaan latar belakang agama. Kedua penerimaan tersebut ada karena dipengaruhi frame of reference yang berbeda. Aspek kompetensi penyiar memiliki penerimaan negotiated karena penyiarnya masih dilihat lebih banyak interaksi dengan narasumber daripada pendengar. Berikutnya, aspek lagu / musik memiliki penerimaan negotiated karena adanya berbeda frame of reference dan kurangnya kepuasan terhadap pemilihan lagu. Pada aspek kompetensi narasumber terdapat penerimaan dominant karena dari berbagai latar belakang narasumber yang diundang, mereka sudah sesuai dengan tema atau topik yang diangkat pada hari tersebut. Dalam aspek materi sebagai rujukan kehidupan sendiri memiliki penerimaan dominant karena materi yang disampaikan dapat dijadikan pedoman kehidupan untuk menghadapi suatu masalah. Penerimaan para informan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu field of experience dan frame of reference.
Representasi Rasisme dalam film Hairspray (2007) Nathasya Amelia Irawan; Daniel Budiana; Megawati Wahjudianata
Jurnal e-Komunikasi Vol 10, No 1 (2022): VOL 10, NO 1 MARET 2022
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana rasisme direpresentasikan di film Hairspray (2007) yang menceritakan bagaimana seorang murid kulit putih, Tracy, menggunakan ketenarannya di Corny Collins Show untuk mewujudkan integrasi antara orang kulit hitam dan putih di dalam acara tersebut. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif, dengan jenis penelitian deskriptif. Peneliti menggunakan metode semiotika kode-kode televisi John Fiske yang mengandung tiga tahapan yaitu level realitas, level representasi, dan level ideologi. Setelah menganalisa temuan data melalui tiga tahapan tersebut, peneliti menemukan bahwa dalam level realitas, penampilan orang kulit putih digambarkan sebagai murni dan berkuasa, sedangkan penampilan kelompok orang Yahudi dan Afrika-Amerika digambarkan sebagai kusam dan tidak rapi. Lalu level representasi menunjukkan bahwa ada penggambaran bahwa ras kulit putih merupakan kelompok yang superior melalui sudut kamera dan cara berdialog mereka terhadap orang Yahudi dan orang Afrika-Amerika. Akan tetapi, level realitas dan representasi berubah dengan drastis menuju akhir film. Kelompok Afrika-Amerika digambarkan lebih rapi dan beradab, sedangkan kelompok pelaku rasisme digambarkan sebagai lemah dan tidak berdaya. Film ini juga mengandung ideologi-ideologi, yaitu feminisme dan kapitalisme. Dalam film ini, kapitalisme merupakan ideologi yang mendasari penindasan terhadap ras tertentu, karena kelompok ras yang tertindas digambarkan sebagai kelas pekerja sedangkan kelompok kulit putih digambarkan sebagai kelas elit.
Representasi Bullying Dalam Film The Greatest Showman Cynthia Andriana Tjitra; Daniel Budiana; Chory Angela Wijayanti
Jurnal e-Komunikasi Vol 10, No 1 (2022): VOL 10, NO 1 MARET 2022
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana bullying yang terjadi dalam film “The Greatest Showman”. Film The Greatest Showman adalah film yang mengangkat isu bullying yang terjadi pada abad 18. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan analisis semiotika John Fiske. Representasi bullying dalam film “The Greatest showman” dapat dilihat dari level kode – kode televisi seperti level realitas, level representasi dan level ideologi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif guna mendeskripsikan tanda dan lambang yang ada pada film The Greatest Showman. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menemukan bahwa bullying ini terjadi karena ada empat hal yaitu bullying terjadi karena adanya perbedaan status sosial, bullying terjadi karena adanya perbedaan fisik, bullying terjadi karena sirkus dianggap sebagai pertunjukkan untuk kalangan bawah dan pengaruh media massa terhadap bullying. Ideologi yang ditemukan dalam penelitian ini adalah Egalitarisme, liberalisme dan kapitalisme.
Brand Personality pada Konten Iklan Meta Inc. versi “The Metaverse and How We’ll Build it Together” Regina Sydney Rosalind; Astri Yogatama; Daniel Budiana
Jurnal e-Komunikasi Vol 10, No 2 (2022): VOL 10, NO 2 SEPTEMBER 2022
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Meta company, yang sebelumnya bernama Facebook, meluncurkan produk teknologi baru yang dinamai Horizon Worlds dan Horizon Workrooms. Sebagai produk baru, perusahaan membutuhkan aktivitas komunikasi pemasaran untuk menjual produknya. Salah satu strategi yang digunakan adalah menggunakan kampanye periklanan dengan media video sebagai alat untuk memperkenalkan produk baru. Video juga menjadi sarana bagi sebuah merek untuk menampilkan brand personality perusahaan. Oleh sebab itu, penelitian ini menggunakan 5 (lima) dimensi brand personality dari Aaker (1997), yaitu sincerity, excitement, competence, sophistication, dan ruggedness sebagai objek penelitian, dari Metaverse versi Meta melalui video iklan “The Metaverse and How We’ll Build it Together” sebagai subjek penelitian. Unit analisis yang digunakan adalah 13 chapters dari video tersebut yang diunggah di YouTube. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan metode analisis isi kualitatif deduktif. Berdasarkan hasil penelitian, 4 (empat) dimensi brand personality Metaverse versi Meta ditemukan, yaitu sincerity, excitement, competence, dan ruggedness. Video iklan Meta menggunakan cara penyampaian storytelling agar dapat menyentuh perasaan publik dan lebih menerima pesan komunikator. Hasil penelitian ini memperlihatkan Metaverse versi Meta menggunakan brand personality untuk menjalankan fungsi Marketing Public Relations dalam meningkatkan penjualan produk, melalui dikenali oleh publik dengan mengeluarkan persona brand agar pesannya diterima, serta membangun keterikatan emosional dengan publik yang akhirnya membangun kepercayaan pada brand.
Representasi Kritik Sosial dalam Video “DPR – Musikal” di Channel YouTube SkinnyIndonesian24 Frado Theo; Ido Prijana Hadi; Daniel Budiana
Jurnal e-Komunikasi Vol 10, No 2 (2022): VOL 10, NO 2 SEPTEMBER 2022
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kritik sosial merupakan salah satu cara masyarakat untuk dapat mengungkapkan isi hati mereka terhadap pemerintah. Kritik sosial bisa disampaikan lewat media apapun, salah satunya media sosial. Media sosial yang sering digunakan oleh masyarakat Indonesia adalah YouTube. Dengan YouTube, masyarakat dapat mengekspresikan kritik dengan tetap memperhatikan Undang-Undang yang ada. Salah satu video kritik sosial yang ada di YouTube adalah video DPR – Musikal pada channel SkinnyIndonesian24. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana penggambaran kritik sosial dalam video “DPR – Musikal”. Video ini mengungkapkan ada beberapa faktor mengapa lembaga DPR tidak dapat berkembang secara bebas. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Metode yang penulis gunakan adalah semiotika milik John Fiske dengan 3 level yakni level realitas, level representasi dan level ideologi. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya kritik sosial mengenai politisi muda mendapat perhatian khusus, anggota DPR identik dengan “proyek”, “bisnis” dan uang, anggota DPR berpikir secara realistis, serta anggota DPR terdiri dari dua kubu yang berbeda.
Resepsi Perempuan terhadap Konsep Kecantikan pada Kampanye Somethinc #YourOnlyLimit di Instagram Angelique Diamannov Widodo; Astri Yogatama; Daniel Budiana
Jurnal e-Komunikasi Vol 10, No 2 (2022): VOL 10, NO 2 SEPTEMBER 2022
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk melihat penerimaan informan terpilih terkait dengan pesan kampanye yang disampaikan oleh Somethinc melalui kampanye #YourOnlyLimit yang dilakukan pada media sosial Instagram. Kampanye tersebut dilakukan untuk mengubah suatu konsep kecantikan yang ada di masyarakat, sehingga kampanye yang dilakukan ini memiliki jenis kampanye ideological or caused campaigns. Kecantikan dipandang oleh masyarakat sebagai sesuatu yang penting, yang diukur melalui suatu standar yang berlaku di masyarakat. Karena standar yang berlaku di masyarakat. Oleh karena standar yang berlaku tersebut, terdapat banyak orang yang menjadi tidak percaya diri. Bahkan dengan adanya hal tersebut banyak orang di masyarakat melakukan hal ekstrem seperti bunuh diri, hanya karena ia dinilai tidak sesuai dengan standar oleh orang – orang disekitarnya. Sehingga ia terganggu secara mental dan lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya. Maka, brand kecantikan Somethinc ingin mendobrak pandangan tersebut dengan membuat kampanye #YourOnlyLimit yang ingin menyampaikan sebuah konsep kecantikan yaitu, “be unstoppable because you’re #YourOnlyLimit”. Somethinc berharap melalui kampanye dan peluncuran produk tersebut masyarakat dapat terlepas dari standar kecantikan yang berlaku dengan menyampaikan tiga pesan besar yaitu unstoppable, unbreakable, unconditional. Penelitian ini menggunakan metode analisis resepsi dengan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan menerima pesan kampanye Somethinc dengan memaknai pesan tersebut secara dominant dan negotiated. Pada penelitian ini menemukan bahwa hasil penerimaan oleh informan tersebut dipengaruhi oleh banyak hal seperti field of experience dan menghasilkan struktur sikap (kognitif, afektif, konatif). Oleh karena itu penerimaan pada kampanye ini adalah dominant dan negotiated. Dimana mereka menerima pesan kampanye yang disampaikan, namun mereka juga berkompromi terhadap pesan tersebut.
Konten Brand Attribute dalam Instagram RANS PIK Basketball Grazindy Clarisa Armand; Jandy Edipson Luik; Daniel Budiana
Jurnal e-Komunikasi Vol 10, No 2 (2022): VOL 10, NO 2 SEPTEMBER 2022
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan brand attribute yang dilakukan oleh klub basket RANS PIK Basketball. Instagram adalah salah satu media sosial untuk dapat melakukan komunikasi pemasaran. Penelitian ini menggunakan analisis isi kuantitatif. Unggahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah unggahan yang dibagikan oleh akun Instagram RANS PIK Basketball pada tanggal 15 September 2021 hingga 30 Maret 2022. Hasilnya ditemukan, RANS PIK Basketball sering mengunggah pada hari Rabu 17,2% dan pada bulan Maret 26.4%, yang paling sedikit unggahan dilakukan pada hari Sabtu dan bulan September. Konten brand attribute yang paling sering muncul adalah pada indikator product-related dengan perolehan jumlah unggahan 181. Sedangkan, yang paling sedikit unggahan dilakukan pada atribut product-related adalah pada head coach dengan frekuensi 21 unggahan. Selain itu, attribute non product-related yang paling banyak diunggah adalah brand mark dengan 77 unggahan. Sedangkan, unggahan yang sedikit dilakukan adalah pada atribut fans 3 unggahan. Hasil dari penelitian ini adalah RANS PIK Basketball sebagai tim yang baru, banyak mengunggah konten dengan brand attribute product-relation dan menonjolkan para pemainnya (star player). Selain itu, untuk menguatkan identitas RANS PIK Basketball juga menonjolkan pada brand mark yang dimiliki dalam indikator non product-related. Konten brand attribute yang dilakukan oleh RANS PIK Basketball berkaitan dengan sport communication as sport in industry.
Representasi Posfeminisme dalam Drama Korea “Vincenzo” Meiliana Sukwanto; Daniel Budiana; Megawati Wahjudianata
Jurnal e-Komunikasi Vol 10, No 2 (2022): VOL 10, NO 2 SEPTEMBER 2022
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Drama Korea “Vincenzo” merupakan drama bergenre dark, crime, dan dark comedy, garapan sutradara perempuan Kim Hee Won, yang tayang di tahun 2021. Dalam drama ini, posfeminisme direpresentasikan lewat karakter perempuan, yang diceritakan sebagai sosok dominan, tidak lemah, dan memiliki pengaruh besar dalam setiap masalah. Belakangan ini produk Hallyu, termasuk drama, sering kali menggambarkan posfeminisme melalui karakter perempuan sebagai sosok yang percaya diri dan memiliki eksistensi, serta dapat mengekspresikan diri tanpa terjerat konsep superior-inferior. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui representasi posfeminisme dalam drama Korea Vincenzo.Metode yang digunakan adalah semiotika milik John Fiske, yang terdiri dari 3 level yaitu, level realitas, level representasi, dan level ideologi. Dengan hasil, perempuan sebagai posfeminisme dalam drama Korea Vincenzo, merupakan perempuan yang aktif di ruang publik dan memiliki intelegensi intrapersonal. 
Co-Authors Agusly Irawan Aritonang Agusly Irawan Aritonang Agusly Irawan Aritonang Agusly Irawan Aritorang Ancilla Evelyn Angelique Diamannov Widodo Angga Rakadiwak Tusan Anggi Panjaitan Antonius Adika Kusuma Antonius Antonius Astri Yogatama Astri Yogatama Astri Yogatama Astri Yogatama Audrey Laksmono Chory Angela Wijayanti Chory Angela Wijayanti Cynthia Andriana Tjitra Desi Yoanita Desi Yoanita Dhea Dithya Senduk Fanny Lesmana Fennuel Victoryan Christianto Filbert Bagus Setiawan Florentina Fahriza Kusuma Frado Theo Fransisca Prayogo Gatut Priyowidodo Grazindy Clarisa Armand Hartono, Lukas I Nyoman Adhisthaya Sawitra Ido Prijana Hadi Ido Prijana Hadi Inge Averina Inri Inggrit Indrayani Inri Inggrit Indrayani Isyela Netanya Putri Lantu Ivana Wardana Jandy Edipson Luik Jandy Edipson Luik Jandy Luik Jeffrey Hendrawan Joy Christy Rawung Juan Arthur Samosir Julia Ayu Gracia Kayla Vanessa Immanuel Kevin Vielden Minanlarat Lady Joanne Tjahyana Lady Joanne Tjahyana Lady Joanne Tjahyana Lady Joanne Tjahyana Lukas Hartono Malvin Sebastian Surianto Mamarimbing, Gabriella Valentina Masniari Dewi Cheryl Siregar Maudy Christina Johanna Wuwung Megawati Wahjudianata Megawati Wahjudianata Meiliana Sukwanto Michielle Erica Wilson Minanlarat, Kevin Vielden Nadya Febiola Nathasya Amelia Irawan Nevan Gonza Paramuswari, Lentera Poppy Wahyuni Prayogo, Fransisca Purmiasa, Shella Eunice Rachel Ade Suryaning Kalla Regina Sydney Rosalind Renada Ardio Praba Swara Renaldy Renaldy Setiawan, Filbert Bagus Steyer Noya Thessalonica Dwi Setya Angestuti Triantoro Tipta Santa Tampubolon Tjia Maissy Carreta Valerie Audrey Laurencia Wahjudianata, Megawati Wahyuni, Poppy Winny Pangestu Yuta Kogawa