Claim Missing Document
Check
Articles

PENGGALIAN POTENSI ARSITEKTUR CANDI DAN APLIKASINYA DALAM ARSITEKTUR MODERN INDONESIA (MEMBANGUN JATI DIRI YANG BERSUMBER PADA KHASANAH BUDAYA LOKAL) Rahadhian PH; Franseno P; Elfan Kedmon
Research Report - Engineering Science Vol. 1 (2009)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.729 KB)

Abstract

Desain candi Jawa diperkirakan menjadi salah satu sumber inspirasi penting di dalam dinamika arsitektur di Indonesia dari masa Islam sampai saat kini. Hal ini dapat dikenali melalui representasi unsur-unsur desainnya yang selalu muncul pada masa pasca Hindu-Buda di Jawa dan Bali tersebut. Di sisi lain fenomena globalisasi pada saat ini. memungkinkan munculnya keragaman representasi arsitektur yang hadir di Indonesia. Kecenderungan pemanfaatan representasi arsitektur asing tanpa dilandasi oleh semangat kelokalan dikuatirkan dapat menghilangkan karakter/identitas. Menghadirkan representasi identitas kelokalan melalui semangat regionalisme merupakan tanggapan terhadap fenomena tersebut. Representasi yang bersumber pada tradisi masa lampau dapat menjadi salah satu rujukannya. Upaya untuk mengembangkan nilai-nilai kelokalan dapat dilakukan melalui pengkajian representasi candi sebagai sumber referensi desain.Studi ini dilakukan untuk mengkaji representasi desain percandian pada bangunan-bangunan masa Pasca Hindu Budha. Pendekatan kesejarahan secara diakronik-sinkronik dan studi korelasi digunakan dalam menganalisis transformasi wujud representasi candi di dalam bangunan-bangunan khususnya Pasca Kolonial di Jawa-Bali tersebut. Aspek kesejarahan diperlukan untuk memahami latar belakang ideologi, politik, ekonomi, sosial-budaya yang mendorong motivasi penggunaan representasi candi. Melalui studi ini diharapkan potensi-potensi arsitektur candi dapat diidentifikasi sebagai salah satu sumber inspirasi desain yang merujuk pada nilai kelokalan, khususnya dalam membangun identitas arsitektur di Indonesia.
Kajian Arsitektural Percandian ‘Kayu’ pada Masa Klasik Tengah dan Muda di Jawa (Identifikasi) Rahadhian PH; Antonius Richard
Research Report - Engineering Science Vol. 1 (2013)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (23519.43 KB)

Abstract

Penelitian terhadap desain arsitektur percandian pada umumnya ditekankanpada candi-candi batu, sementara candi-candi kayu masih belum banyak dilakukanPenelitian terhadap kawasan ini dapat membuka wawasan bahwa bangunan candi padahekekatnya tidak hanya terbuat dari batu saja melainkan dari kayu. Di sisi lainpenelitian candi-candi tersebut pada umumnya didasarkan pada pendekatan ilmukesejarahan dan arkeologi. Oleh karena itu penelitian ini mencoba untuk mengenalipercandian kayu dalam perspektif ilmu arsitektur. Pendekatan Tipo-morfologiarsitektural dapat digunakan sebagai landasan analisis di dalam penelitian ini.Penelitian ini mengambil lokasi di Kawasan Jawa Tengah-Jawa Timur dan Bali.Kawasan ini diperkirakan relatif masih banyak memiliki temuan-temuan yangmengandung unsur-unsur percandian kayu tersebut. Percandian di kawasan ini memilikiartefak reruntuhan candi dan sisa-sisa permukiman kuno yang dibangun kurang lebihdari abad 8 sampai 15 Masehi. Bali merupakan contoh konkret bagaimana arsitekturcandi kayu masih digunakan khususnya pada Pura-puranya dalam wujud Meru.Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pola-pola bangunan yangmenggunakan kayu. Melalui penelitian ini diharapkan akan diketahui pula korelasibentuk arsitekturalnya dengan arsitektur candi batu baik di Jawa ataupun candi kayu diJawa Barat dan di Sumatra. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan wawasan danmasukan kepada pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya yang berkaitan dengan‘desain arsitektur percandian di Nusantara’ Temuan-temuan yang diperolehdiharapkan nantinya dapat digunakan sebagai pengembangan dan rekontekstualisasinilai-nilai seni arsitektur percandian di masa kini.
Menggali Potensi Kesejarahan TAHURA (Taman Hutan Raya) Ir. H Djuanda dalam Pengembangan Arsitektur Kawasan Pariwisata yang berbasis pada Eco-culture Kasus Studi : Curug Dago Tito Gunawan W; Rahadhian Prajudi Herwindo; Amirani R; Caecilia W.
Research Report - Engineering Science Vol. 1 (2014)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3869.435 KB)

Abstract

Tahura Ir. H Djuanda merupakan kawasan penting di kota Bandung yang memiliki multifungsi. Fungsi utama Tahura pada saat ini sebagai area konservasi alam yang dapat menimbulkan dampak positip bagi perkembangan kota Bandung. Dalam rangka mendukung Pariwisata di Kota Bandung ke depan Tahura memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan, khususnya mendukung pariwisata yang berbasis pada Eco-Culture. Potensi penting yang akan dikembangkan dalam desain adalah Curug Dago sebagai bagian dari Tahura. Curug Dago sebagai kawasan bersejarah ternyata tidak memiliki sarana yang memadai khususnya dalam pengembangan wisata alam dan budaya. Pengembangan gagasan Eco-Culture tidak dapat dilepaskan pada aspek kesejarahan suatu tempat. Curug Dago memiliki nilai kesejarahan yang kuat bagi kota Bandung. Oleh karena itu untuk mendukung Pariwisata yang berbasis pada Eco-Culture diperlukan penggalian potensi-potensinya, khususnya yang berkaitan dengan pengembangan aspek kesejarahan. Diharapkan melalui kajian ini akan didapatkan model pengembangan kesejarahan yang dapat diterapkan dalam wujud fisik yakni berupa arsitektur kawasan pariwisata di Curug Dago. Arsitektur dapat menjadi salah satu pendorong terjadinya perubahan, baik menyangkut fisik kawasan maupun aspek sosial masyarakat seperti perilaku-budaya, dsb. Dengan demikian kajian ini akan dapat mendukung pembangunan di Kota Bandung menuju kota yang humanis dan livable serta didukung oleh kreativitas masyarakatnya. Hal ini diharapkan juga berdampak positif bagi peningkatan pendapatan masyarakat di sekitar curug ini.
KAJIAN PERKEMBANGAN DESAIN ARSITEKTUR BANGUNAN SAKRAL HINDU-BUDHA DI JAWA TRANSFORMASI DAN ADAPTASI DALAM ARSITEKTUR PADA MASA ISLAM DI JAWA (TRADISIONAL JAWA) Rahadhian PH
Research Report - Engineering Science Vol. 1 (2008)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (12.803 KB)

Abstract

Potensi yang berasal dari arsitektur candi (arsitektur sakral Hindu-Budha) telah diupayakan untuk diadaptasikan pada masa pasca Hindu-Budha. Desain Arsitektur candi menunjukkan adanya konsep yang dinamis-adaptif, visioner (kebaruan-modern), sinkritisme (akomodatif), dualitas, pro-historis-regionalisme, seperti pendekatan yang dikembangkan dalam posmodernis 1000 tahun kemudian. Candi dapat dipahami sebagai sebuah ‘Place’ atau mempunyai nilai ‘place’ yang mereperesentasikan arsitektur purbakala masa lampau dan dianggap telah menjadi collective memory secara unself -conscious/ alamiah pada masa pasca Hindu-Budha. Candi dianggap merupakan salah satu hasil dari local genius-nya Nusantara dan dapat merupakan reference yang berakar pada ‘local historical prototypes’. Melalui historic precedent dapat dikaji peranannya dalam membentuk salah satu‘karakter’ dan ‘spirit of place’ (genius loci) ke-Indonesia-an.Pengadaptasian arsitektur candi pada jaman Islam adalah mengarah pada adanya semangat pelestarian/pengagungan yang ‘memusakakan’ budaya masa lalu. ‘Islam’ mendayagunakan apa yang telah ada dan melakukan penggubahan pemaknaannya secara evolutif menjadi lebih Islami. Seni arsitektur percandian pada era Majapahit lebih berpengaruh terhadap arsitektur Masjid Awal berikut cungkup makam dan komponen arsitektural di sekitarnya Hal ini dapat dilihat dari morfologi tampak bangunan masjid, makam, gapura, dsb pada masa Islam. Fenomena tersebut menunjukkan adanya penggunaan nilai-nilai yang berlandaskan pada bangunan sakral pada masa lampau yang kemudian digunakan sebagai konsep untuk bangunan tempat tinggal, terbukti adanya penggunaan yang nyata dari bangunan-bangunan sakral pada masa sebelumnya yang dimodifikasi menjadi susunan dalam rumah tradisional Jawa pada masa Mataram Islam, termasuk pula modifikasi dalam tata ruang perkotaannya, dalam konsep Moncopat.. Hubungan dengan masa lalu adalah keharusan bagi munculnya tradisi yang baru dan penuh kepercayaan diri (ke-optimisan). Berdasarkan pembahasan di atas maka nyatalah bahwa arsitektur candi merupakan unsur terpenting dalam perkembangan arsitektur di Indonesia.
Kajian Arsitektural Percandian Batujaya dan Cibuaya Kerawang (Identifikasi) Rahadhian PH; Antonius Richard
Research Report - Engineering Science Vol. 1 (2012)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (26056.588 KB)

Abstract

 Penelitian terhadap desain arsitektur percandian pada umumnya ditekankan pada candi-candi yang didirikan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sementatra penelitian terhadap desain arsitektural candi-candi di Jawa Barat masih terbatas dilakukan. Jawa Barat dikenal sebagai daerah yang memiliki peninggalan percandiannya dengan jumlah yang sangat sedikit, dibandingkan dengan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Penelitian terhadap kawasan ini dapat membuka pemikiran bahwa di Jawa Barat sebenarnya juga memiliki produk candi yang memadai dan merupakan potensi lokal yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Di sisi lain penelitian candi-candi tersebut pada umumnya didasarkan pada pendekatan ilmu kesejarahan dan arkeologi. Oleh karena itu penelitian ini mencoba untuk mengenali percandian di Jawa Barat tersebut dalam perspektif ilmu arsitektur. Pendekatan Tipo-morfologi arsitektural dapat digunakan sebagai landasan analisis di dalam penelitian ini.Penelitian ini mengambil lokasi di Kawasan Kerawang Batujaya dan Cibuaya. Kawasan ini diperkirakan relatif masih banyak memiliki temuan-temuan yang mengandung unsur-unsur percandian. Selain itu kawasan ini diusulkan menjadi salah satu kawasan strategi nasional untuk dikembangkan dalam kaitannya dengan pendidikan, pariwisata, pengembangan budaya, dsb oleh Pemerintah. Percandian di kawasan ini memiliki artefak reruntuhan candi dan sisa-sisa permukiman kuno yang dibangun kurang lebih dari abad 2 sampai 7 Masehi. Situs purbakala Batujaya diyakini merupakan representasi dari Kejayaan Kerajaan Tarumangera dan telah digunakan pada masanya sebagai salah satu pusat pengembangan agama Buda di pesisi Utara Jawa Batat, sementara di Cibuaya diperkirakan menjadi pusat pengembangan Hindu.Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pola-pola bangunan yang dibangun dalam kawasan ini, baik berupa candi maupun kaitannya dengan arsitektur lainnya. Melalui penelitian ini diharapkan akan diketahui pula korelasi bentuk arsitekturalnya dengan arsitektur candi lainnya di Jawa dan di Sumatra, khususnya percandian Buda. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan wawasan dan masukan kepada pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya yang berkaitan dengan ‘desain arsitektur percandian di Nusantara’ Temuan temuan yang diperoleh diharapkan nantinya dapat digunakan sebagai pengembangan dan rekontekstualisasi nilai-nilai seni arsitektur percandian di masa kini.
PERANCANGAN GEREJA ST. GABRIEL BANDUNG Mimie Purnama; Rahadhian Prajudi Herwindo; Y. Basuki Dwisusanto; Sanjaya Hartanto; Kiki Amelia Putri; Stephanie Adryan; Lilian Setiawan
Research Report - Engineering Science Vol. 2 (2014)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16682.303 KB)

Abstract

Kegiatan Pengabdian dengan judul PERANCANGAN BANGUNAN GEREJASANTO GABRIEL ini, ditujukan untuk membuat rancangan bangunan baru bagi Gereja Santo Gabriel diatas lahan seluas lebih dari tiga ribu meter persegi, yang letaknya bersebelahan dengan bangunan Gereja Santo Gabriel yang ada sekarang ini.Bangunan Gereja St Gabriel yang ada sekarang dirasakan sudah tidak dapat lagi menampung kebutuhan yang ada, seperti kapasitas tempat duduk, ruang-ruang untuk menunjang kegiatan beribadah dan kenyamanan termal, visual dan audial nya. Sehingga diputuskan untuk membangun Gereja Santo Gabriel dengan rancangan baru yangdisesuaikan dengan perkembangan kebutuhannya.Rancangan baru Gereja St. Gabriel dialokasikan dapat menampung seributempat duduk di ruang dalam gereja. Bila diperlukan, ada teras lantai dasar di ruang luar bangunan yang cukup untuk menampung dua ratus sampai tiga ratus kursi disana. Bangunan Gereja ini juga dilengkapi dengan ruang basement yang direncanakan untuk menampung kegiatan penunjang beribadah lainnya.Kenyamanan termal dan visual dirancang dengan pendekatan disain pasif yang artinya lebih memerdayakan energi alami seperti angin, cahaya matahari dan tanaman untuk mendapatkan kenyamanan termal dan visual kedalam ruangan gereja.Sedang bentuk bangunan gereja diilhami oleh bangunan tradisional sundadengan atap lebar yang menaungi, dinding-dinding bangunan yang bebas membawa udara segar masuk ke dalam ruangan dan kaki bangunan yang cukup tinggi mengangkat lantai dasar dari muka tanah.Selebihnya seperti bangunan-bangunan ibadah lainnya, ruangan Gereja St. Gabiel ini, dikondisikan oleh desain interiornya agar umat mendapat kenyamanan lahir dan bahtin yang optimal dalam menjalankan ibadahnya. Semoga apa yang direncanakan ini, sungguh juga atas kehendakNYA, amin.  
Pengembangan Potensi Kesejarahan TAHURA (Taman Hutan Raya) Ir. H Djuanda dalam Arsitektur Kawasan Pariwisata yang berbasis pada Eco-culture Koneksitas Curug Dago-Tahura Tito Gunawan; Dimas Hartawan; Rahadhian Prajudi; Amirani Amirani; Caecilia W. Caecilia W.
Research Report - Engineering Science Vol. 1 (2015)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3539.093 KB)

Abstract

Tahura Ir. H Djuanda merupakan kawasan penting di kota Bandung yang memiliki multifungsi. Fungsi utama Tahura pada saat ini sebagai area konservasi alam yang dapat menimbulkan dampak positip bagi perkembangan kota Bandung. Dalam rangka mendukung Pariwisata di Kota Bandung ke depan Tahura memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan, khususnya mendukung pariwisata yang berbasis pada Eco-Culture. Potensi penting yang akan dikembangkan dalam desain adalah Curug Dago sebagai bagian dari Tahura. Curug Dago sebagai kawasan bersejarah ternyata tidak memiliki sarana yang memadai khususnya dalam pengembangan wisata alam dan budaya. Curug Dago terkesan tanpa koneksitas yang memadai jika dikaitkan dengan TAHURA. Terkesan Tidak ada jalur dan program-program memadai yang dapat menghubungkan kedua titik penting tersebut. Karena letaknya yang memang terpisah. Curug Dago semestinya dapat menjadi jembatan yang strategis bagi kedua Negara Indonesia dan Thailand, khususnya sejarah dan budayaPengembangan gagasan Eco-Culture tidak dapat dilepaskan pada aspek kesinambungan antara Curug Dago dan TAHURA. Curug Dago memiliki nilai kesejarahan yang kuat bagi kota Bandung. Oleh karena itu untuk mendukung Pariwisata yang berbasis pada Eco-Culture diperlukan pengembangan potensi-potensinya, khususnya yang berkaitan dengan pengembangan TAHURA secara keseluruhan. Diharapkan melalui kajian ini akan didapatkan model pengembangan desain yang dapat menyatukan curug Dago dengan TAHURA secara utuh dalam wujud fisik yakni berupa arsitektur. Arsitektur dapat menjadi salah satu pendorong terjadinya perubahan, baik menyangkut fisik kawasan maupun aspek sosial masyarakat seperti perilaku-budaya, dsb. Dengan demikian kajian ini akan dapat mendukung pembangunan di Kota Bandung menuju kota yang humanis dan livable serta didukung oleh kreativitas masyarakatnya. Hal ini diharapkan juga berdampak positif bagi peningkatan pendapatan masyarakat di sekitar curug ini   
Kajian Arsitektur Percandian Petirtaan di Jawa (identifikasi) Rahadhian Prajudi Herwindo; Fery Wibawa C.
Research Report - Engineering Science Vol. 1 (2015)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5703.417 KB)

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian awal tentang identifikasi percandian tipe petirtaan di Jawa baik pada masa Klasik Tengah dan Muda. Penelitian ini akan ditekankan pada aspek perkembangan dan korelasi dengan percandian lainnya baik di kawasan yang sama atau berbeda. Penelitian terhadap desain arsitektur percandian pada umumnya ditekankan pada candi-candi menara, sementara candi-candi yang bertipe petirtaan masih belum banyak dilakukan. Penelitian terhadap ranah ini dapat membuka wawasan bahwa bangunan candi hanya berbentuk menara melainkan juga ada yang berbentuk petirtaan kayu. Di sisi lain penelitian candi-candi tersebut pada umumnya didasarkan pada pendekatan ilmu kesejarahan dan arkeologi. Oleh karena itu penelitian ini mencoba untuk mengenali percandian petirtaan dalam perspektif ilmu arsitektur dari sudut pandang form dan space..Penelitian ini mengambil lokasi di Jawa dan Bali. Kawasan ini diperkirakan relatif masih banyak memiliki temuan-temuan yang mengandung unsur-unsur percandian tersebut. Percandian di kawasan ini memiliki artefak reruntuhan candi dan sisa-sisa permukiman kuno yang dibangun kurang lebih dari abad 8 sampai 15 Masehi. Bali merupakan contoh konkret bagaimana tipe arsitektur ini masih digunakan khususnya pada Pura-puranya.Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pola-pola bangunan tipe ini. Melalui penelitian ini diharapkan akan diketahui pula korelasi bentuk arsitekturalnya dengan arsitektur candi lain Spada umumnya. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan wawasan dan masukan kepada pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya yang berkaitan dengan ‘desain arsitektur percandian di Nusantara’ Temuan-temuan yang diperoleh diharapkan nantinya dapat digunakan sebagai pengembangan dan rekontekstualisasi nilai-nilai seni arsitektur percandian di masa kini.   
PERENCANAAN FASILITAS SOSIAL DAN PENDIDIKAN PROPINSI NUSA TENGGARA TIMUR Rahadhian Prajudi Herwindo
Research Report - Engineering Science Vol. 2 (2015)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6876.34 KB)

Abstract

Kegiatan pengabdian ini bertujuan memberikan bantuan keahlian teknis dalam bidang perencanaan tapak dan perancangan arsitektur bagi mitra kegiatan. Bantuan teknis ini berbentuk pemrograman fungsi dan perencanaan tata letaknya pada lahan. Perencanaan tersebut didukung pula dengan rancangan fisik untuk mewadahi fasilitas layanan pendidikan dan sosial bagi mitra kegiatan sebagai bantuan teknisMetode yang digunakan adalah pengumpulan data melalui survey, diskusi, studi literatur dan referensi, yang dilanjutkan dengan perencanaan tapak, pemrograman fungsi dan perancangan arsitektur sesuai dengan kaidah keteknikan dan standard kerja profesi arsitek. Pendekatan akan berangkat dari data tentang kebutuhan fungsi dan ruang, besaran atau batasan dan karakteristik alamiah tapak yang dipilih, serta latar belakang budaya masyarakat di daerah di mana tapak berada.Selanjutnya dilakukan analisis terhadap data- data primer dengan menggunakan data sekunder (studi tipologi, referensi, standard teknis, dan lain-lain) sebagai pelengkap atau pembanding. Sintesa dituangkan dalam bentuk rencana perletakan sirkulasi, fungsi dan massa bangunan serta rancangan arsitektur bagi tiap bangunan atau fasilitas yang diperlukan.
Penerapan bentuk arsitektur tradisional Bali pada teater kesenian di Kabupaten Badung Alan Darma Saputra; Rahadhian Prajudi Herwindo; Yohanes Karyadi Kusliansjah
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 5 No 3 (2020): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | September 2020 ~ Desember 2020
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/arteks.v5i3.540

Abstract

Bali Island is a famous tourist destination in the world and this has made it a gathering hub and multicultural meeting center for tourists from several countries, thereby, raising concern on the possibility of the area losing its traditional Balinese architecture. It is necessary to make adjustments by adopting the shape of the old Balinese building. This means the emergence of new functions is not a taboo but a new design challenge, therefore, the traditional Balinese architecture and theater provisions were combined to produce a neo-vernacular architecture by using descriptive qualitative method. This led to the application of Asta Kosala-kosali in the theater space, modification on the roof, body and legs shape of the Balinese building, and the integration of the construction system and materials in the Balinese theater architecture. © 2020 Alan Darma Saputra, Rahadhian Prajudi Herwindo, Yohanes Karyadi Kusliansjah