Luh Gde Sri Surya Heryani
Laboratorium Anatomi Dan Embriologi Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Jl. PB. Sudirman Denpasar, Bali, Indonesia

Published : 18 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Jurnal Veteriner

Paparan Formalin Menghambat Proses Spermatogenesis pada Mencit Luh Gde Sri Surya Heryani; Ni Nyoman Werdi Susari; I Made Kardena; Desak Nyoman Dewi Indira Laksmi
Jurnal Veteriner Vol 12, No 3 (2011)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.505 KB)

Abstract

Formaldehyde is one of the exogenous free radicals. During formaldehyde exposure, there will be morefree radical or reactive oxygen compound formed through electron transport chain. Excessive reactiveoxygen compound triggers the process of lipid peroxide reaction in the membrane of spermatozoa cell. Theaims of this study were to find out that formaldehyde exposure caused abnormalities in the number of thenumber of spermatogonium type A, spermatogonium type Pachytene, 7th spermatid and 16th spermatid inspermatogenesis process.This study was experimentally and randomly pretested-posttested- with controlgroup design. The samples of this study were adult male mice strain Balb-C (age 2-3 months) with thefollowing criteria: body weight between 22-25 grams and healthy. Randomly, 48 mice were divided intothree groups, were control group, the first treatment group and the second treatment group. Prior to thetreatment, were taken a half from each group for the pre-test, by preparing microscopic preparation testicleand examination was performed to the total spermatogenic cells. The rests of the mice were used as posttestexamination after 35 days treatment. On the 36th day, all the rest mice were necropsied for microscopictesticle preparation. The result of this study showed that the formaldehyde exposure caused significantlydecrease in the number of spermatogenic cells (p<0,05), the average of type A spermatogonium cells atcontrol group, 1st treatment group and 2nd treatment group were 39,90±0,51; 20,42±0,72; 15,65±0,88respectively; spermatogonium type Pachytene were 48,47±1,28; 32,60±3,06; 23,14±3,16 respectively; 7thspermatid were 97,47±5,28; 39,98±4,28; 30,36±2,96 respectively and16th spermatid were 73,08±4,05;21,70±1,70; 16,38±1 respectively.It can be concluded that the formaldehyde exposure decreased the amountof spermatogenic cells. The result of this study is expected to be used as the baseline for further study inorder to measure formaldehyde content as a free radical in testicle .
Karakteristik Struktur dan Morfometri Usus Besar Itik Bali pada Pertumbuhan Fase Starter, Grower, dan Finisher Yulia Khalifatun Nissa; Luh Gde Sri Surya Heryani; I Ketut Suatha; Ni Luh Eka Setiasih; Ni Nyoman Werdi Susari; I Made Sukada
Jurnal Veteriner Vol 23 No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.035 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2022.23.3.317

Abstract

Itik bali (Anas sp.) merupakan plasma nutfah asli Indonesia yang dimanfaatkan daging dan telur. Keberadaan itik bali masih kurang mendapat perhatian secara khusus mengenai struktur dan morfometri dasar organ penunjang kehidupan, khususnya usus besar. Seiring masa pertumbuhan, organ itik bali mengalami perkembangan bobot dan struktur. Hal ini yang menyebabkan adanya perbedaan morfometri pada usus besar di umur yang berbeda. Penelitian ini merupakan penelitian observasional non-eksperimental menggunakan itik bali jantan dengan tiga kelompok umur yang mewakili setiap fase, yaitu fase starter (1 bulan), fase grower (3 bulan), dan fase finisher (5 bulan. Hasil pengukuran sekum kiri dan kanan serta kolon itik bali umur 1 bulan meliputi panjang, lebar, dan berat secara berturut-turut yaitu 14,65±0,65 cm, 1,16±0,23 cm, 1,10±0,32 g; 13,70±0,87 cm, 1,01±0,24 cm, 0,96±0,41 g; dan 8,05±0,74 cm, 1,76±0,28 cm, 2,32±0,11 g. Sekum kiri dan kanan serta kolon itik bali berumur 3 bulan berturut-turut yaitu 15,43±1,65cm, 1,05±0,06 cm, 1,83±0,20 g; 13,83±1,59 cm, 1,03±0,10 cm, 1,83±0,20 g; dan 9,08±0,81 cm, 2,15±0,26 cm, 4,66±0,88 g. Sedangkan sekum kiri dan kanan serta kolon itik bali berumur 5 bulan berturut-turut yaitu 18,45±1,34 cm, 1,09±0,96 cm, 2,16±0,32 g; 17,63±1,32 cm, 1,05±0,05 cm, 2,05±0,42 g; dan 10,33±1,50 cm, 2,21±0,23cm, 5,25±0,38 g. Hasil penelitian menunjukkan struktur anatomi dan histologi yang sama, tetapi dalam pengamatan morfometri dapat disimpulkan bahwa perbedaan umur memiliki pengaruh yang nyata terhadap peningkatan morfometri anatomi usus besar itik bali.
STRUKTUR DAN MORFOMETRI LIMPA ITIK BALI (Anas sp.) PADA FASE PERTUMBUHAN Winda Ara Yulisa; Ni Luh Eka Setiasih; Luh Gde Sri Surya Heryani; Ni Ketut Suwiti; Ni Nyoman Werdi Susari; I Gede Soma
Jurnal Veteriner Vol 24 No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.3.357

Abstract

Limpa merupakan organ yang dikelompokkan ke dalam sistem limfoid sekunder. Limpa memiliki fungsi imunitas terhadap antigen yang masuk ke dalam tubuh dan menghancurkan eritrosit yang rusak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur dan morfometri limpa itik bali (Anas sp.) pada fase pertumbuhan/grower. Penelitian ini menggunakan 20 ekor itik bali yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu jantan dan betina yang masing-masing terdiri atas 10 ekor (umur 2-3 bulan). Hasil data struktur anatomi dan histologi dianalisis secara deskriptif kualitatif, sedangkan data morfometri dan histomorfometri untuk menguji perbedaan antara jantan dan betina digunakan uji Independent sample T-test dengan prosedur analisis menggunakan program SPSS versi 26. Struktur anatomi limpa itik bali berbentuk segitiga piramid dan berwarna cokelat kemerahan, struktur histologi limpa itik bali terdiri atas kapsula, trabekula, pulpa merah dan pulpa putih. Hasil pengukuran morfometri berat limpa itik bali jantan diperoleh 0,68 ± 0,20 g dan berat limpa itik betina 0,66 ± 0,24 g. Volume limpa itik bali jantan dan betina berturut-turut 0,60 ± 0,19 mL dan 0,58 ± 0,23 mL. Hasil pengukuran histomorfometri ketebalan kapsula limpa itik jantan dengan betina adalah 17,97 ± 4,81 ?m; 31,75 ± 6,09 ?m; ketebalan trabekula jantan 17,20 ± 3,26?m ; dan betina 22,54 ± 6,29 ?m; serta diameter pulpa putih jantan adalah 214,69 ± 14,77 ?m; dan diameter pulpa putih betina adalah 199,56 ± 23,58 ?m. Simpulan penelitian ini adalah limpa itik bali jantan dan betina pada fase pertumbuhan/grower memiliki struktur anatomi dan histologi yang sama, morfometri yang tidak berbeda nyata, serta histomorfometri yang menunjukkan perbedaan pada ketebalan kapsula dan trabekula sedangkan diameter pulpa putih tidak jauh berbeda.
Struktur dan Morfometri Ginjal Itik Bali (Anas sp.) pada Fase Pertumbuhan Ni Putu Dewi Setia Sari; Ni Luh Eka Setiasih; Luh Gde Sri Surya Heryani; Ni Ketut Suwiti; Ni Nyoman Werdi Susari; I Ketut Suatha
Jurnal Veteriner Vol 24 No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.3.374

Abstract

Ginjal merupakan organ ekskresi yang berperan dalam membuang zat sisa metabolisme yang tidak dibutuhkan lagi di dalam tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur dan morfometri ginjal itik bali (Anas sp.) dengan jenis kelamin berbeda pada fase pertumbuhan/ grower. Penelitian menggunakan 32 ekor itik bali yang dibagi menjadi dua kelompok jenis kelamin masing-masing 16 ekor (umur 2-3 bulan). Hasil data struktur dianalisis dengan deskriptif kualitatif,sedangkan data morfometri digunakan uji Independent sample T-test dengan program SPSS. Hasil pengukuran ginjal itik bali jantan diperoleh panjang ginjal kanan 7,256 + 0,388 cm, panjang ginjal kiri 7,175 + 0,437 cm, bobot ginjal kanan 3,50 + 0,61 g, bobot ginjal kiri 3,487 + 0,497 g, volume ginjal kanan 0,350 + 0,103 cm3, volume ginjal kiri 0,362 + 0,088 cm3, glomerulus tipe mamalia 34,025 + 2,931 ?m dengan lebar bowman 8,173 + 2,447 ?m, glomerulus tipe reptil 14,777 + 2,300 ?m dengan lebar ruang bowman 6,676 + 1,780 ?m. Hasil pengukuran ginjal itik bali betina diperoleh panjang ginjal kanan 6,812 + 0,263 cm, panjang ginjal kiri 6,781 + 0,299 cm, bobot ginjal kanan 4,012 + 0,464 g, bobot ginjal kiri 3,987 + 0,401 g, volume ginjal kanan 0,418 + 0,116 cm3, volume ginjal kiri 0,393 + 0,106 cm3, glomerulus tipe mamalia 43,443 + 4,686 ?m dengan lebar bowman 9,068 + 3,483 ?m, glomerulus tipe reptil 23,312 + 2,761 ?m dengan lebar ruang 6,390 + 1,995 ?m. Hasil pengujian terhadap panjang bobotginjal dan ginjal menunjukkan berbeda nyata P<0,05, sedangkan volume ginjal tidak berbeda nyata P>0,05. Hasil pengujian terhadap glomerulus tipe mamalia dan glomerulus tipe reptil menunjukkan berbeda nyata P<0,05. Struktur anatomi danhistologi antara ginjal itik bali jantan dan betina adalah sama, sedangkan morfometri anatomi dan histologi ginjal itik bali jantan dengan betina berbeda.