Sunarto Sunarto
Poltekkes Kemenkes Semarang

Published : 23 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

HUBUNGAN ASUPAN LEMAK, PERSEN LEMAK TUBUH, SOMATOTYPE DENGAN KELINCAHAN ATLET SEPAKBOLA DIKLAT SALATIGA TRAINING CENTRE (STC) Rizky Pratama Surya Saputra; Susi Tursilowati; Meirina Dwi Larasati; Sunarto Sunarto
JURNAL RISET GIZI Vol 7, No 1 (2019): Mei (2019)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v7i1.4360

Abstract

Background: Agility is one of the important aspects to achieve maximum achievement. Player agility can be influenced by a combination of genetic factors, motivation, training, nutritional status, health status, and somatotype. In this study the things that will be examined in influencing agility are fat intake, percent body fat, and somatotype.Objective: To determine the relationship between fat intake, body fat percentage, and somatotype with the agility of soccer athletes in the Salatiga Training Center (STC) training.Method: This study was anstudy observational with adesign cross sectional. The sample used was all football athletes at the Salatiga Training Center (STC) and included in the inclusion criteria. The test used wasTest Chi Square to determine the effect of fat intake, percent body fat, somatotype on athlete's agility andtest Logistic Regression to determine how much influence fat intake, body fat percentage, and somatotype had on agility.Results: There was no relationship between fat intake and the agility of soccer athletes at the Salatiga Training Center (STC) training. There is no relationship between the percentage of body fat with the agility of soccer athletes at the Salatiga Training Center (STC) training. There is no relationship between somatotype and the agility of football athletes at the Salatiga Training Center (STC) training.Conclusion: There is no relationship between fat intake, percent body fat, and somatotype with the agility of soccer athletes at the Salatiga Training Center (STC) training.
POLA PEMBERIAN MP-ASI, PENGETAHUAN GIZI IBU DAN TINGKAT EKONOMI KELUARGA DENGAN KEJADIAN STUNTING BADUTA USIA 6-24 BULAN Sunarto Sunarto; Fatimah Sahri Nur Aini; Addina Rizky Fitriyanti
Jurnal LINK Vol 20, No 1 (2024): MEI 2024
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/link.v20i1.10663

Abstract

Ambang batas stunting untuk negara berkembang adalah di bawah 20% sedangkan prevalensi stunting Indonesia 24,4%, Jawa Tengah 20,9% dan Kota Semarang 21,3%. Pemberian MP ASI yang kurang tepat, pengetahuan yang kurang, dan tingkat ekonomi yang rendah berisiko berisiko terhadap kejadian stunting. Tujuan penelitian untuk mengetahui risiko pola pemberian MP-ASI, pengetahuan gizi ibu dan tingkat ekonomi keluarga dengan kejadian stunting baduta usia 6-24 bulan di wilayah kerja Puskesmas Bandarharjo Semarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional dan Instrumen yang digunakan meliputi kuesioner pola pemberian MP-ASI, pengetahuan gizi ibu dan tingkat ekonomi keluarga dengan uji chi square dan Regresi logistic Ganda. Hasil penelitian Balita di bawah 2 tahun (Baduta) yang menerima pola pemberian MPASI kurang tepat memiliki risiko 4,2 kali untuk menderita stunting dibandingkan dengan Baduta yang menerima pola pemberian MPASI secara tepat, dan risiko tersebut secara statistic signifikan. Ibu Baduta yang tergolong berpengetahuan kurang memiliki risiko 1,1 kali untuk mempunyai Baduta stunting dibandingkan dengan ibu Baduta yang berpengetahuan baik, namun risiko tersebut secara statistic tidak signifikan. Keluarga Baduta dengan tingkat ekonomi rendah memiliki resiko 3,2 kali untuk mempunyai Baduta stunting dibandingkan dengan keluarga Baduta dengan tingkat ekonomi tinggi, dan risiko tersebut secara statistic signifikan.
Daya Terima Mix Kefir Buah dan Kefir Susu Buah Wiwik Wijaningsih; Sunarto Sunarto; Desi Wulandari
JURNAL RISET GIZI Vol 12, No 1 (2024): Mei 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v12i1.11414

Abstract

Latar belakang: Kefir adalah produk yang berbahan baku susu yang difermentasi dengan penambahan kefir grains yang merupakan hasil dari simbiosis dari bakteri asam laktat (BAL) dengan khamir. Kefir digolongkan sebagai pangan fungsional karena memiliki efek baik terhadap kesehatan, dan digolongkan makanan prebiotik karena pada kefir terdapat kandungan bakteri baik yang bermanfaat memperbaiki sistem mikroflora usus dan menghambat pertumbuhan patogen dalam usus. Tujuan: untuk mengetahui daya terima kefir buah pada mix kefir buah dan kefir susu buah. Metode: Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah eksperimental dengan rancangan percobaan yang digunakan merupakan  rancangan  acak  lengkap  (RAL).  Pembuatan produk kefir buah pada mix kefir buah dan kefir susu buah. Hasil: Terdapat perbedaan kesukaan aroma dari dua belas jenis kefir buah (p0.05). Skor kesukaan aroma terendah adalah Kefir susu naga 50 dan yang tertinggi adalah Kefir mangga 50. Selain itu, terdapat perbedaan Skor kesukaan viskositas (p0.05), skor kesukaan viskositas terendah kefir susu melon 30 dan tertinggi kefir mangga 50. Terdapat perbedaan Skor kesukaan rasa (p0.05), skor terendah kefir susu pisang 30 dan tertinggi kefir nanas 50. Ada perbedaan Skor kesukaan warna (p0.05). Skor kesukaan warna terendah kefir susu pisang 30 dan yang tertinggi kefir naga 50. Ada perbedaan Skor kesukaan secara umum (p0.05). Skor kesukaan terendah kefir susu pisang 30 dan yang tertinggi Kefir mangga 50. Kesimpulan: Ada perbedaan Skor kesukaan secara umum (p0.05). Skor kesukaan secara umum  bervariasi mulai dari 3.3-4.4, skor kesukaan secara umum terendah adalah Kefir susu pisang 30 dan yang paling tinggi Kefir mangga 50