Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

REPRESENTASI NASIONALISME DALAM FILM RUDY HABIBIE (STUDI ANALISIS SEMIOTIKA CHARLES SANDERS PIERCE) Nurma Yuwita

Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35891/heritage.v6i1.1565

Abstract

Semiotika merupakan ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda.Periset akan menganalisis film dengan menggunakan kajian semiotika Charles Sanders Pierce. Film yang akan di riset adalah ”Rudy Habibie”. Alasan periset menganalisis Rudy Habibie adalah karena film ini mengangkat kisah nyata yang diadopsi dari kehidupan presiden ke-3 Indonesia yakni Prof. Dr. Bacharuddin Jusuf Habibie. Film Rudy Habibie masuk nominasi film terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2016. Dalam jangka waktu satu bulan lebih film Rudy Habibie menggenapkan perolehan jumlah penontonnnya di angka dua juta.Film Rudy Habibie menggambarkan seorang yang inspiratif dan memiliki jiwa nasionalis.Periset sengaja mengambil tema nasionalisme karena semangat dan cintanya generasi muda yang mulai luntur pada bangsanya. Representasi nasionalisme dalam film Rudy Habibie menggunakan metode kualitatif dan analisis semiotik sebagai pendekatannya. Semiotika Charles Sanders Pierce yang digunakan oleh periset adalah modeltriangle meaning yang terdiri atas: Sign, Object, dan Interpretant. Periset akan memilih potongan adegan dalam film Rudy Habibie yang merepresentasikan tentang nasionalisme dengan menggunakan analisis triangle meaning. Riset representasi nasionalisme dalam film Rudy Habibie menghasilkan: 1) Repesentasi nasionalisme Rudy Habibie ditunjukkan dengan cara dan keinginan yang kuat untuk memperjuangkan Indonesia setelah kembali dari studinya dalam bidang industri dirgantara; 2) Representasi nasionalisme yang kedua diinterpretasikan dengan rancangan akan kebutuhan potensi sumber daya manusia yang dibutuhkan oleh Indonesia dalam bidang industri dirgantara, perikanan, pertanian dan maritim; 3) Representasi nasionalisme Rudy Habibie yang ketiga diinterpretasikan dengan falsafah dari orang tuanya untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi nusa dan bangsa Indonesia; 4) Representasi nasionalisme yang keempat diinterpretasikan dengan puisi Habibie tentang sumpah terhadap ibu pertiwi untuk mewujudkan mimpi dan cita-cita bangsa Indonesia.
DIFUSI INOVASI DALAM MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF TEKS FANTASI MENGGUNAKAN APLIKASI ADOBE ANIMATE CREATIVE CLOUD Nurma Yuwita; Ahmad Aminudin; Gatut Setiadi

Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35891/heritage.v7i2.1702

Abstract

Media pembelajaran dengan menggunakan teknologi aplikasi dapat menumbuhkan minat belajar pada peserta didik, sehingga mampu meningkatkan kompetensi peserta didik dalam memahami materi pelajaran. Difusi inovasi Aplikasi Adobe Animate Creative Cloud menjadi alternatif aplikasi yang dapat digunakan pada pembelajaran interaktif. Tujuan dari penelitian ini adalah difusi inovasi dalam pengembangan media interaktif teks fantasi menggunakan aplikasi Adobe Animate Creative Cloud. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media pembelajaran interaktif menggunakan aplikasi adobe animate creative cloud teks cerita fantasi merupakan gabungan konsep pembelajaran dengan teknologi audiovisual yang mampu menghasilkan fitur-fitur baru yang dapat dimanfaatkan dalam pendidikan khususnya pada materi teks fantasi oleh peserta didik SMP untuk pembelajaran kurikulum 2013. Aplikasi adobe animate creative cloud teks cerita fantasi harus menggunakan sebuah sarana komputer yang memiliki tingkat spesifikasi yang layak, agar media tersebut dapat digunakan dengan maksimal, yakni (a) kecepatan prosesor Dual Core 1,8 Ghz; (b) operating system windows menggunakan windows 7, windows 8.0 dan 8.1; (c) 2 GB RAM; (d) 250 GB Hard Drive space; (e) 64-bit monitor warna LED 20 inch yang bisa menampilkan resolusi 1336 x 768; (f) CD-ROM drive.
PERAN MEDIA KOMUNIKASI PEMBELAJARAN BAGI ANAK PENYANDANG DISLEKSIA Ninuk Riswandari; Nurma Yuwita

Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35891/heritage.v9i2.2782

Abstract

The success of the learning process is when students are able to absorb and understand the information provided by educators. However, not all children have normal conditions that are able to absorb all information without any difficulties. For children with dyslexia, the main learning processes related to reading, writing and arithmetic are activities that are quite difficult for them. This disorder is due to congenital biological factors of the child. The sensitivity of teachers and parents in detecting children with dyslexia is very necessary in order to support their growth and development. Because of the learning difficulties experienced by children with dyslexia, media is needed that helps their learning process so that any information conveyed by the teacher can be well received. Media that can be used can be in the form of human-based media, print-based media, audio-based media, or audio-visual-based media. The form of the picture will usually be more easily understood by children with dyslexia.
Tradisi Grebeg Suro Sebagai Ritual Religi Desa Gerbo Dengan Pendekatan Symbolic Convergence Theory Mohammad Alfian Ekarizal Maulana; Nurma Yuwita
INTELEKTUAL ( E-Journal Administrasi Publik dan Ilmu Komunikasi ) Vol 11 No 2 (2024): Jurnal Intelektual: Administrasi Publik dan Ilmu Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bhayangkara Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55499/intelektual.v11i02.1211

Abstract

Grebeg Suro is an important tradition in Javanese culture which is carried out in Gerbo Village, Pasuruan Regency. This tradition combines religious, cultural and social elements, and is a symbol of togetherness and cultural identity of the local community. This research uses the Symbolic Convergence Theory (SCT) approach to analyze the symbolic meaning and communication processes that occur in the Grebeg Suro tradition. The method used is descriptive qualitative with data collection techniques through interviews and documentation. The research results show that the Grebeg Suro tradition not only functions as a religious celebration, but also as a means of strengthening social relations between village residents and strengthening their cultural identity. Analysis using SCT revealed fantasy themes such as togetherness and cultural identity that emerged in group communication during the Grebeg Suro event. The symbols in this tradition, praying together, sharing food, have deep meanings that reflect the cultural and religious values of the Javanese people in Gerbo Village. This research provides insight into the importance of the Grebeg Suro tradition in maintaining and strengthening social ties and cultural identity of the Gerbo Village community. It is hoped that the results can become a reference for efforts to preserve local culture and develop cultural communication studies.
MSME Assistance Through Tempe Product Branding by Opinionjo Village Purwodadi Yuwita, Nurma; Solihah, Nikmatus; Sakdiyah, Anis Fatus
Amalee: Indonesian Journal of Community Research and Engagement Vol 5 No 2 (2024): Amalee: Indonesian Journal of Community Research and Engagement
Publisher : LP2M INSURI Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/amalee.v5i2.5863

Abstract

Tempe in Parerejo Village, Purwodadi, Pasuruan, has good potential; therefore, in addition to making raw Tempe, Tempe artisans also innovate by processing it into various products, such as tempe chips and Tempe pudding. However, it is known that the problems MSMEs face in Parerejo Village, Purwodadi, are in the promotional media that could be more attractive, and there is a need for more understanding of business actors regarding branding. Community service through mentoring MSMEs aims to empower MSME actors in Parerejo Village and increase public knowledge about branding strategies. The method in this service is CBR (Community Based Research). The results of community service through this mentoring can impact the MSME community in Parerjo-Purwodadi Village by increasing Brand Awareness, building brand image, having an online MSME community, and increasing sales. After this mentoring, MSME participants gain insight into the concept of branding, which can increase product appeal and use relevant advertising techniques to reach a wider audience. Through interactive sessions and direct practice, participants learn how to brand products and utilize digital platforms, including social media.
BAD INFLUENCE SOSMED PADA KAWASAN WISATA TRETES TERHADAP POLA PIKIR PSIKOLOGI, LIFE STYLE GENERASI MUDA PASURUAN ( TINJAUAN TEORI DETERMINISME TEKNOLOGI ) Nur Avivah; Nurma Yuwita; Zainul Ahwan

Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35891/heritage.v11i2.4286

Abstract

Media sosial telah memiliki dampak yang signifikan pada aktivitas generasi muda, Konten video pendek, terutama Reel, memiliki potensi untuk menjadi viral, mempengaruhi gaya hidup, dan pandangan global. Namun, konten negatif seperti "nom-noman taek tretes versi" dapat memengaruhi sikap terhadap tren seperti pacaran remaja dan rumah bordil. Meskipun Pemerintah Kabupaten Pasuruan berusaha mengubah citra Tretes menjadi kawasan wisata keluarga, dampak konten negatif masih mempengaruhi persepsi masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan mengacu pada teori determinisme teknologi. Dari penelitian sebelumnya, terungkap bahwa media sosial sangat memengaruhi perbuatan dan tindakan generasi muda Pasuruan di Tretes. Pesan-pesan buruk dan pengaruh negatif media sosial dapat mempengaruhi pola pikir psikologi dan gaya hidup generasi muda, berdampak serius pada perkembangan mereka. Isi pesan dalam media sosial dapat disampaikan secara pribadi atau dipublikasikan. Keterbatasan ruang dalam pesan media sosial dapat membuat informasi menjadi dangkal dan terfragmentasi, mempengaruhi pemahaman komprehensif. Konten negatif dapat menyebar cepat dan mempengaruhi pola pikir dan gaya hidup generasi muda. Oleh karena itu, kesadaran dalam memilih dan menyebarkan konten bermanfaat penting bagi perkembangan positif generasi muda Pasuruan. Faktor konteks yang mempengaruhi media sosial di Tretes terhadap pola pikir psikologi dan gaya hidup generasi muda meliputi: Pengaruh Negatif Media Sosial, Pengaruh Grup Sebaya, Pengaruh Gaya Hidup, Rendahnya Pengawasan Orang Tua, Pengaruh Media Online. Kata Kunci : Bad Influence Sosmed, generasi muda
INTERAKSIONISME SIMBOLIK DALAM KESENIAN TEATER “RESOLUSI JIHAD NU” SEBAGAI KOMUNIKASI DAKWAH ISLAM DI PONDOK PESANTREN WALISONGO PURWOSARI PASURUAN Rosalina Wulandari; Nurma Yuwita

Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35891/heritage.v12i2.5945

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya interaksionisme simbolik dalam kesenian teater yang berjudul “Resolusi Jihad NU”. Penelitian ini di latar belakangi dengan kesenian teater yang dijadikan sebagai komunikasi dakwah di pondok pesantren. Di era zaman yang semakin maju ini bukan menjadi hambatan bagi pengasuh dan sanri pondok pesantren, akan tetapi hal tersebut menjadi tantangan bagi santri untuk bisa memaksimalkan kemajuan teknologi untuk sesuatu yang bermanfaat khususnya dakwah. Penelitian ini menggunakan perspektif pendekatan interaksionisme simbolik yang berdasar pada 3 tema utama George Herbert Mead yaitu tema makna (meaning), konsep (concept) dan hubungan (Relationship). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualititatif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu didapat dari data primer yang diperoleh dari wawancara kepada narasumber dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwasanya kesenian teater Resolusi Jihad NU dijadikan sebagai komunikasi dakwah Islam di Pondok Pesantren Walisongo.
Management Makna Terkoordinasi Dalam Tradisi Fenomenologis Cok Bakal di Desa Dayurejo Yuwita, Nurma
Al-Ittishol: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 5 No. 2 (2024): Al-Ittishol: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51339/ittishol.v5i2.2754

Abstract

Penelitian ini menggunakan pendekatan interpretatif-konstruktivis. Metodologi yang digunakan kualitatif deskriptif dengan metode pengambilan sampel purposive sampling. Wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi digunakan sebagai metode pengumpulan data. Penelitian ini menghasilkan tradisi Cok bakal dalam Management Makna Terkoordinasi yakni tradisi ini sangat menjunjung tinggi nilai kepercayaan para leluhur, karena nilai-nilai cok bakal digali dari nilai-nilai luhur budaya bangsa, dan merupakan pancaran dari nilai-nilai ajaran budaya. Cok bakal menanamkan konsep rasa syukur dan rasa hormat kita kepada para leluhur dan juga kepada sang pencipta alam semesta. Komunikasi pemimpin dalam ritual cok bakal menggunakan bahasa ujub Jowo atau bisa di sebut bahasa Jawa halus. Implementasi dari cok bakal adalah Takir, Ancak, Telur, Jajan Pasar, Bucet (Nasi Di Cetak Tumpeng), Kembang, Bumbu Kinang, Bumbu Jangkep, Mendang, Lawe (Menyan, Dupa Gunung, dan Rokok), Lawe (Gula, dan Kopi), dan Badek (Ketan Hitam). Komunikasi transendental merupakan level hubungan manusia dangan sang pencipta dalam ritual cok bakal. Naskah hidup dalam ritual Cok bakal pernikahan dengan hajatan yang lain adalah jikalau melangsungkan Cok bakal hajatan masyarakat hanya menggunakan tujuh Cok bakal yang di tempatkan di penyimpanan Beras, penyimpanan jajan, dapur, teras rumah, tempat cuci piring, salon, dan pembuangan, namun berbeda ketika Cok bakal pernikahan, dalam Cok bakal pernikahan pemasangan Cok bakal di tempatkan di sembilan tempat seperti di penyimpanan beras, penyimpanan jajan, dapur, teras rumah, tempat cuci piring, salon, pembuangan, dan juga di empat sumber mata air. Pola budaya dari Cok bakal adalah ritual ini sangat mempercayai kepercayaan nilai-nilai para leleluhurnya.
Sinkretisme Budaya Sebagai Aktualisasi Local Wisdom Pada Yayasan Tlasih Delapan Tujuh Melalui Pendekatan Coordinated Management Of Meaning (CMM) Cahya Sari; Nurma Yuwita
Al-Ittishol: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 6 No. 1 (2025): Al-Ittishol: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51339/ittishol.v6i1.2815

Abstract

Penelitian ini berfokus pada Yayasan Tlasih Delapan Tujuh di Mojokerto yang berperan sebagai pusat pengembangan nilai-nilai budaya lokal. Latar belakang penelitian ini adalah pentingnya menjaga dan mengembangkan kearifan lokal di tengah keberagaman budaya dan agama di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji bagaimana Yayasan Tlasih Delapan Tujuh mengaktualisasikan local wisdom melalui pendekatan Coordinated Management of Meaning (CMM). Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Yayasan Tlasih Delapan Tujuh berhasil memperkokoh nilai-nilai Pancasila, mempererat persaudaraan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan budaya melalui berbagai kegiatan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Yayasan Tlasih Delapan Tujuh efektif dalam memelihara dan mengembangkan budaya lokal serta mendukung keharmonisan sosial.
Pelestarian Warisan Budaya melalui Tradisi Petik Laut: Analisis Interaksi Simbolik terhadap Kearifan Lokal Masyarakat Lekok Syafa Ayunda Putri; Nurma Yuwita
Filosofi : Publikasi Ilmu Komunikasi, Desain, Seni Budaya Vol. 2 No. 3 (2025): Agustus : Filosofi : Publikasi Ilmu Komunikasi, Desain, Seni Budaya
Publisher : Asosiasi Seni Desain dan Komunikasi Visual Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/filosofi.v2i3.910

Abstract

The Sea Picking Tradition is a cultural ritual of the coastal community in Jatirejo Village, Lekok District, Pasuruan Regency, which is held annually as a form of gratitude for marine products. Amidst the current of modernization, this tradition has an important meaning in preserving local wisdom and cultural heritage of coastal communities. This study aims to understand the symbolic meaning contained in the series of Sea Picking Tradition processions and examine its role as a form of local wisdom in maintaining community identity and solidarity. Cultural symbols displayed through offerings, decorated boats, traditional clothing, collective prayers, and other socio-cultural activities are seen as having deep meanings that represent the relationship between humans with nature, each other, and the Creator. The research method used is a qualitative approach with descriptive methods and symbolic interaction analysis. Data were obtained through observation, interviews, and documentation, then analyzed to uncover the hidden meanings in cultural symbols. The results show that the symbols in the Sea Picking Tradition form collective meanings that strengthen individual self-concept, social relations, and ecological awareness of coastal communities. This tradition serves as a means of strengthening social solidarity, solidifying local cultural identity, and preserving spiritual values ​​and local wisdom amidst the challenges of modernization. Thus, the Petik Laut tradition serves not only as a ritual of gratitude but also as a cultural heritage that must be preserved to maintain the social, cultural, and spiritual values ​​of coastal communities.