Claim Missing Document
Check
Articles

Simbol dan Identitas Budaya dalam Upacara Kasada Suku Tengger: Perspektif Teori Konvergensi Simbolik Salsabillah Reghita Aulia; Nurma Yuwita
Jurnal Ilmu Komunikasi Pattimura Vol 4 No 2 (2025): Jurnal Ilmu Komunikasi Pattimura
Publisher : Department of Communication Science, University of Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/JIKPvol4iss2pp276-288

Abstract

Upacara Kasada merupakan salah satu ritual paling penting bagi masyarakat Tengger yang memadukan unsur religi, budaya, dan identitas kolektif. Sebagai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, Kasada tidak hanya berfungsi sebagai bentuk persembahan kepada Sang Hyang Widhi dan leluhur, tetapi juga sebagai media komunikasi simbolik yang memperkuat kesadaran bersama (shared consciousness) dalam komunitas. Melalui perspektif Symbolic Convergence Theory (SCT), penelitian ini menelaah bagaimana simbol-simbol yang hadir dalam rangkaian ritual seperti persembahan, mantra, prosesi menuju kawah, serta peran dukun Pandhita membentuk dan memperkokoh fantasy themes yang melahirkan rhetorical vision tentang hubungan harmonis antara manusia, alam, dan yang transenden. Proses konvergensi simbolik ini menjadikan Kasada sebagai ajang pembentukan narasi kolektif mengenai asal-usul, nilai moral, dan struktur sosial komunitas Tengger. Analisis menunjukkan bahwa setiap unsur dalam upacara Kasada memiliki makna simbolik yang disepakati secara sosial, sehingga memungkinkan terjadinya proses pemaknaan bersama yang berperan dalam mempertahankan kohesi sosial. Simbol-simbol tersebut tidak hanya berfungsi secara ritualistik, tetapi juga sebagai sarana komunikasi budaya yang memperkuat identitas kelompok, solidaritas, serta legitimasi kepemimpinan religius melalui figur dukun Pandhita. Selain itu, ritual Kasada berfungsi sebagai ruang negosiasi makna, tempat masyarakat meneguhkan kembali struktur nilai dan etika komunal. Dengan demikian, upacara Kasada bukan semata tradisi keagamaan, melainkan mekanisme simbolik yang memastikan keberlanjutan identitas dan harmoni sosial masyarakat Tengger. Penelitian ini menegaskan bahwa komunikasi simbolik dalam Kasada memainkan peran sentral dalam menjaga keberlanjutan budaya, kesadaran kolektif, dan integrasi sosial komunitas Tengger di tengah perubahan sosial kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berbagai simbol yang muncul dalam upacara seperti ongkek (sesaji utama), larung saji ke kawah Gunung Bromo, serta proses pemilihan pemuka adat memiliki makna religius, sosial, dan pragmatis. Simbol-simbol tersebut memperkuat identitas budaya, nilai spiritual, serta solidaritas komunitas dalam masyarakat Tengger. Selain sebagai bentuk pelestarian budaya, upacara ini juga menjadi media komunikasi antara masyarakat dengan leluhur serta lingkungan alam. Pandangan retoris dalam teori konvergensi simbolik terwujud dalam tiga dimensi: kesalehan (righteous), sosial, dan pragmatis yang terlihat dalam keseluruhan proses ritual. Upacara ini juga memberikan kontribusi terhadap sektor pariwisata budaya tanpa menghilangkan nilai-nilai sakral yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, simbol dalam Upacara Kasada tidak hanya berfungsi dalam konteks spiritual, tetapi juga menjadi bagian dari narasi budaya yang terus hidup dan berkembang dalam masyarakat Tengger.
Makna Simbol dalam Praktik Komunikasi Transendental pada Perayaan Nyepi: Perspektif Teori Konvergensi Simbolik (Symbolic Convergence Theory/SCT) pada Masyarakat Hindu Tengger Muhamad Syaifudin; Nurma Yuwita
Jurnal Indonesia : Manajemen Informatika dan Komunikasi Vol. 7 No. 3 (2026): September
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) STMIK Indonesia Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63447/jimik.v7i3.2065

Abstract

This study aims to analyze the symbolic meaning within transcendental communication practices during Nyepi celebrations among the Hindu Tengger community, through the perspective of Symbolic Convergence Theory (SCT). Employing a qualitative descriptive approach, data were collected via observation, in-depth interviews, and documentation related to ritual practices, symbol interpretation, and community communication processes. The data were analyzed interactively through stages of reduction, presentation, and conclusion, with validity ensured through source and technique triangulation. The findings reveal that Nyepi symbols are not limited to physical objects but also include actions, ritual sequences, and sacred atmospheres. Melasti is interpreted as self and nature purification; Tirta as a symbol of life and cleansing; Tawur Kesanga as an effort to maintain balance; Ogoh-ogoh as representations of negative traits; offerings as a means to approach God; incense as a symbol of purity; and Catur Brata Penyepian as self-control and introspection. Ngembak Geni is regarded as a moment for behavioral renewal. The process of symbolic convergence is formed through repeated ritual experiences and intergenerational communication, involving plot, scene, characters, and supporting agents. Transcendental communication and symbolic convergence complement each other in fostering spiritual understanding and collective consciousness, strengthening community identity and ensuring the sustainability of Hindu Tengger cultural and religious values in Tosari.
Dinamika Batasan Privasi Komunikasi Pengguna Judi Online dalam Relasi Keluarga dan Interaksi Sosial di Kabupaten Pasuruan Muhammad Slamet Basofi; Nurma Yuwita
SABER : Jurnal Teknik Informatika, Sains dan Ilmu Komunikasi Vol. 4 No. 3 (2026): Juli : Jurnal Teknik Informatika, Sains dan Ilmu Komunikasi
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/saber.v4i3.3922

Abstract

This study is motivated by the development of digital technology, which has contributed to the increasing practice of online gambling conducted personally and concealed from family members and the social environment. This condition is closely related to communication privacy management, particularly when individuals attempt to conceal information that may lead to stigma and interpersonal conflict. This study aims to analyze how online gambling users establish privacy rules, manage privacy boundaries, and deal with boundary turbulence in family and social relationships. The study employed a qualitative method with a descriptive approach. The informants consisted of five online gambling users in Pasuruan Regency selected through purposive sampling. Data were collected through semi-structured interviews, observation, and documentation, and were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, which involved data reduction, data display, and conclusion drawing and verification. The findings indicate that online gambling users selectively apply privacy rules by concealing their activities from family members while being more open with trusted friends or individuals with similar experiences. Privacy boundaries are maintained by restricting device access, deleting browsing history, and concealing activities and transactions. When the information is disclosed, boundary turbulence occurs in the form of anger, arguments, disappointment, anxiety, and strained relationships. Privacy management is dynamic and influenced by trust, stigma, and the risk of conflict. Open family communication and a nonjudgmental approach are necessary to reduce interpersonal conflict.