Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Optimasi Pola Pengasuhan Digital dalam Pemenuhan Kebutuhan Informasi Mutia Rahmi Pratiwi; Heni Indrayani; Swita Amalia
Expose: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : President University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33021/exp.v3i1.1012

Abstract

The implementation of parenting uses digital content to become the major source to gather information, in particular, parents these days. Digital parenting appears not only to provide the information that parents need but also to acknowledge about parenting through digital media. Moreover, the information is enlightenment and experienced by other parents so that it helps to use digital media. This paper examines the effect of digital parenting optimization and the fulfilment information need by the parents. This explanatory quantitative study was conducted with 100 parents that joined the parenting community and practiced the parenting pattern with a digital media platform to access the information. Furthermore, this study applied the purposive sampling technique. Data analyzing technique is to test the hypothesis with the simple linear regression model. The result of this study shows that the relation between digital parenting and fulfilment information need by the parents is significantly correlated. Also, the value of the correlation coefficient in the medium range is R =04,16 influence to the low range (0.173). Eventually, to fulfil the information for the parent need is not only gain by digital access. 
Proses Pendampingan melalui Komunikasi Teurapetik sebagai Upaya Pemulihan Psikologis Korban Perkosaan Soib Tiara; Mutia Rahmi Pratiwi
An-Nida : Jurnal Komunikasi Islam Vol 10, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34001/an.v10i2.790

Abstract

The amount of rape case in Indonesia is quiet high, then in the end it mostly cause the pregnancy. The decision of the rape victim to keep their pregnancy and nurture the baby becomes a very hard point, thus need private accompaniment. It is in line to what the Legal Resoure Center does for the gender equality and human rights (LRC-KJHAM) that creates working groups. The focus is on human rights, especially women and childrens. This research aims to describe the therapeutic communication steps that are conducted as the efforts of recovering the victim’s psychology. This research is a qualitative research and using the descriptive analysis method. The result shows that the companion employs five steps of therapeutic communication, such as Pre interaction step, Initiation step, Orientation step, Working step and Termination step. The companion does various strategies that are adjusted to the case’s condition and situation thus every steps of therapeutic are exceeded.
FILM DOKUMENTER “SAMPAHMU MAKANANKU”: ALTERNATIF PENDEKATAN MASYARAKAT TERHADAP MASALAH SAMPAH Tiara Wahyuningrum; Tamara Adyriswati; Mutia Rahmi Pratiwi
Jurnal Audience: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1, No 1 (2018): Februari 2018
Publisher : COMMUNICATION MAJOR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/ja.v1i1.2684

Abstract

AbstrakPersoalan peningkatan volume sampah yang terus meningkat menjadi perhatian bagi beberapa pihak,termasuk pemerintah. Langkah penanggulangan yang dilakukan pun beragam, misalnya pemberlakuankebijakan kantong plastik berbayar. Namun sayangnya kebijakan ini belum berpengaruh signifikan. Halini menjadi gambaran bahwa persoalan sampah bukan hanya pekerjaan rumah bagi pemeritah namunmasyarakat juga selaku pengguna. Latar belakang tersebut menjadi dasar pembuatan Film Dokumenterberjudul “Sampahmu Makananku” yang mendeskripsikan kehidupan Pak Sarimin dan ibu Suyatmi dalammeminimalisir jumlah sampah di TPA JAtibarang, Semarang. Penelitian ini menggunakan metode compositingyang membagi proses penelitian menjadi tiga tahap yakni pra produksi, produksi dan pasca produksi.Penelitian ini merupakan sebuah penelitian dengan pendekatan kualitatif dengan metode karya cipta. Hasildari penelitian ini adalah berupa karya film dokumenter berjudul Sampahmu Makananku.Kata Kunci: Film Dokumenter, Compositing, SampahAbstractThe problem of  wastes volume raising is becoming concern for  government. Various resolution actions hasbeen done such as the plastic bag payment policy. But unfortunately this policy has not show a significanteffect. It depicts that waste problem is not only government responsibility but also all of the societies asthe users. This background becomes the base of the making of Documenter Movie titled “SampahmuMakananku” which describes the life of Mr. Sarimin and Mrs. Suyatmi in minimalizing the amounts of wastesin TPA Jatibarang, Semarang. This research uses the compositing method that devide the research processinto three main stages, such as pre production, production and post production.This research uses qualitativemethod as its base.Keywords: Documenter, Compositing, Waste
ETNOGRAFI VIRTUAL PADA LAMAN PENGGUNA INSTAGRAM STORIES (IG STORIES) SEBAGAI BENTUK KOMUNIKASI INTERPERSONAL Akira Aulia Witri; Mutia Rahmi Pratiwi
Jurnal Audience: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 2, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : COMMUNICATION MAJOR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/ja.v2i2.2710

Abstract

AbstrakPerkembangan media sosial di Indonesia berdampak pada penggunanya, terutama bagiremaja. Instagram merupakan salah satu media sosial yang digunakan oleh para remaja untukmenunjukan eksistensinya melalui berbagai informasi yang diunggah. Instagram Stories (IGStories) merupakan salah satu fitur di Instagram yang memiliki banyak pengguna. Fitur IGStories menjadi media pengungkapan diri melalui unggahan berupa foto, teks, video yangdidukung dengan filter didalamnya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif denganmetode etnografi virtual. Subjek penelitian terdiri dari dua orang yaitu Icak dan Rizky, remajaberusia 18 dan 23 tahun yang aktif menggunakan IG Stories di akun pribadinya. Hasil penelitianmenunjukan bahwa terdapat lima aspek dalam pengungkapan diri yang melatarbelakangipengguna fitur IG stories, yaitu: (1) Berdasarkan aspek ketepatan, para informan mengunggahkonten yang relevan dengan kegiatan yang sedang dilakukan; (2) Berdasarkan aspek motivasi,para informan termotivasi untuk mengungkapkan dirinya karena adanya dorongan dari luardan dalam melalui setiap foto yang diposting; (3) Berdasarkan aspek waktu, para informanmemposting foto pada pagi, siang dan malam hari; (4) Berdasarkan aspek keintensifan yangditunjukan oleh para informan kepada siapa ia mengungkapkan dirinya; (5) Berdasarkan aspekkedalaman, para informan melakukan postingan di IG Stories yang ditujukan kapada semuafollower di akunnya.    Kata Kunci: Self Disclosure, Instagram Stories, Remaja. AbstractThe development of social media in Indonesia has an impact on its users, especially for teenagers.Instagram is one of the social media used by teenagers to show their existence through variousuploaded information. Instagram Stories (IG Stories) is one of the features on Instagram thathas many users. IG Stories feature is a medium for self disclosure through uploads of photos,text, videos that are supported by filters inside. This research is a qualitative research with virtual ethnographic methods. The research subjects consisted of two people, Icak and Rizky, adolescents aged 18 and 23 years who actively used IG Stories in their personal accounts.The results of the study describe a five aspect of instagram stories feature. Five aspect of selfdisclosure which is influence the user of Instagram Stories feature: (1) Accuracy, the informantsuploaded content that was relevant to the activities being carried out;(2) Motivation aspect,the informant is motivated to express himself because of the encouragement from insideand outside through each photo posted; (3)The time aspect, the informant posted a photoin the morning, afternoon and evening; (4) The intensification aspect, which is indicated bythe informant to whom he revealed himself; (5) The depth aspect, the informant posting on instagram stories is directed to all followers or to certain accounts on his instagram.Keywords: Self Disclosure, Social Media, Adolescent
PENGEMBANGAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI KELUARGAUNTUK KADER JPPA KELURAHAN SADENG DALAM MEWUJUDKAN KOTA LAYAK ANAK Naiza Rosalia; Mutia Rahmi Pratiwi; Fibriyani Nuraliya
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Universitas Al Azhar Indonesia Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/jpm.v2i2.368

Abstract

AbstrakTingginya angka kekerasan pada anak di kota Semarang yang mencapai 195 kasus di tahun 2018 perlu menjadi perhatian bagi pemerintah maupun masyarakat. Hal ini harus segera diatasi karena kota Semarang menargetkan menjadi Kota Layak Anak pada tahun 2020. Upaya telah dilakukan Pemkot Semarang namun belum berdampak signifikan pada penurunan angka kekerasan pada anak.Indikator Kota Layak Anak tidak hanya daritertanganinya anak korban kekerasan, namun juga bagaimana langkah preventif yang dilakukan. Komunikasi keluarga yang baik dapat menjadi benteng pertahanan awal pencegahan kekerasan pada anak.Hal ini menjadi dasar dilakukannyapengabdian masyarakat berupaworkshop mengenai pengembangan komunikasi keluarga untuk kader JPPA (Jaringan Perlindungan Perempuan dan Anak) Kelurahan Sadeng, Semarang.Peranan JPPA (Jaringan Perlindungan Perempuan dan Anak) Kelurahan Sadeng sudah menjadi embrio yang baik namun belum maksimal karena mereka hanya bertindak saat ada kasus namun tidak melaksanakan langkah preventif. Metode pelaksanaan dilakukan dengan pemberian materi dan pengukuran pemahaman peserta terkait komunikasi keluarga yang selama ini dipahami dan telah dilakukan.Hasil post test tertulis yang dilakukan menunjukan terjadi peningkatan kemampuan kamunikasi yang dimiliki oleh para peserta selaku Kader JPPA.Kata kunci:Komunikasi Interpersonal, Kota Layak Anak, Semarang AbstractThe high rate of violence against children in Semarang which reached 195 cases in 2018 needs to be a concern of all parties both government and society. This must be addressed immediately because the city of Semarang is targeting to became a city worthy of children by 2020. Semarang City Government has made various efforts but it has not yet had a significant impact on reducing the number of violence against children. The indicator of the City Worth Child is not only how children who are victims of violence can be handled properly, but also how to take action to prevent violence against children as a preventive act. Good communication in a family can certainly be a stronghold early in preventing violence against children. This became the basis of community service in the form of workshops related to the development of family communication for JPPA (Women’s and Child Protection Network) Sadeng Village, Gunungpati District, Semarang. The role of JPPA in Sadeng Village has become a good embryo, but it is not optimal, because they only take action when their area cases but do not carry out preventive measures. The method of implementation was carried out by providing material and measuring the participant's understanding of family communication that had been understood and done. The result of the written post-test showed an increase in the communication skills possessed by the participants as JPPA Cadres.Keywords:Interpersonal Communication, City Worth Child, Semarang 
KONTEN MEDIA EDUKASI ANAK BERBASIS SELF CONCEPT THEORY Mutia Rahmi Pratiwi; Dzuha Hening Y.
EKSPRESI DAN PERSEPSI : JURNAL ILMU KOMUNIKASI Vol 4, No 2 (2021): Juli
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33822/jep.v4i2.2724

Abstract

Anak-anak memiliki masa emas atau golden age yang idealnya merupakan masa tumbuh optimal anak dengan dukungan adaptasi lingkungan yang baik. Pada kenyataannya jumlah angka kekerasan seksual pada anak di Indonesia terus meningkat mencapai lebih dari 600 kasus di tahun 2019. Berbagai langkah preventif telah dilakukan dari sisi pemerintah hingga di tataran akademisi melalui ragam media edukasi sebagai media pembelajaran pada anak akan bahaya tindak kekerasan anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis media edukasi terkait perlindungan anak yang telah dibuat oleh peneli sebelumnya berbasis pada self concept theory. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan metode analisis isi. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada media edukasi sebelumnya baik berupa teks maupun audio visual, mengedepankan dimensi internal yaitu behavioral self dan judging self. Pada dimensi eksternal, muncul keberagaman esensi utama media edukasi yang sudah dipublikasikan, yaitu: ethical moral self, physical self, family self dan social self. Maka dapat disimpulkan bahwa dimensi self yang tidak ditampilkan dalam media edukasi sebelumnya adalah self identity dan personal self. Temuan ini akan menjadi dasar akan dibentuknya perancangan media edukasi anak yang konsep utamanya adalah mengajarkan anak untuk memperkuat konsep dirinya sehingga menjadi fondasi kuat bagi anak dalam melindungi diri dari berbagai tindak kekerasan.
Edukasi Seks Pada Anak Usia Dini melalui Media Digital dengan Metode StoryTelling Mutia Rahmi Pratiwi; Mukaromah; Egia Rosi Subhiyakto
I-Com: Indonesian Community Journal Vol 2 No 2 (2022): I-Com: Indonesian Community Journal (Agustus 2022)
Publisher : Fakultas Sains Dan Teknologi, Universitas Raden Rahmat Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (735.985 KB) | DOI: 10.33379/icom.v2i2.1506

Abstract

Perkembangan media digital dewasa ini cenderung meningkat dan semakin banyak ragamnya. Instansi maupun organisasi dimanapun menggunakan media digital sebagai sarana promosi, penjualan, maupun mengabarkan informasi penting. Pemanfaatan media digital juga biasanya familiar dengan media edukasi yang digunakan di beberapa instansi maupun organisasi. TK Do’a Ibu Semarang merupakan salah satu lembaga pendidikan anak usia dini. Pihak sekolah belum memaksimalkan media edukasi digital yang tersedia. Tujuan pengabdian ini adalah memberikan pemahaman dan mengenalkan pentingnya pendidikan seksual bagi anak usia dini, yang tentunya disesuaikan dengan pemahaman dan daya pikir anak. Metode yang digunakan adalah dengan storytelling. Penggunaan metode ini didukung pengungkapan ekspresi yang disampaikan dengan percakapan sederhana seperti layaknya bercerita. Dalam bagian ini, ditunjang dengan adanya stimulus pendukung gambar yang ditampilkan dalam LCD, dan lembaran kertas ekspresi yang dipegang oleh anak. Anak menunjukan sikap senang dan antusias dalam proses belajar dan bermain dalam peer-grup, terbukti dengan proses interaksi dan respon yang positif.
Pelatihan Pembuatan Video Pembelajaran Sebagai Media Publikasi Sekolah Melalui Media YouTube Mukaromah; Mutia Rahmi Pratiwi; Egia Rosi Subhiyakto
Society : Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2022): Vol.3 No.1, October 2022
Publisher : Universitas Dinamika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37802/society.v3i1.217

Abstract

Pengabdian masyarakat ini merangkul mitra sekolah dasar atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Hikmah Semarang. Mitra pengabdian memiliki kendala keterbatasan keterampilan terkait pembuatan video pembelajaran dengan keterbatasan peralatan bagi guru dan tenaga promosi sekolah sebagai bagian media pembelajaran sekolah dan sekaligus media branding sekolah. Kelebihan media YouTube yang memiliki potensi mendapatkan keuntungan dengan adanya monetisasi juga menjadi peluang tersendiri bagi mitra pengabdian. Tujuan pengabdian ini ingin menambah pengetahuan dan keterampilan bagi mitra terkait teknik pengambilan gambar dengan menggunakan telepon pintar yang dimiliki dan editing dengan aplikasi vlognow. Metode yang digunakan dengan melakukan obeservasi awal terkait kemampuan peserta, memberikan pengetahuan dan pelatihan terkait variasi media, teknik pengambilan gambar dan aplikasi editing Vlognow, sekaligus melakukan literasi terkait monetisasi pada channel media YouTube yang dimiliki sekolah. Hasil yang didapatkan peserta setelah melakukan proses tanya jawab sebagai umpan balik kegiatan pendampingan, peserta merasa lebih percaya diri dan mampu dalam membuat video pembelajaran, cara mengambil angle gambar, editing menggunakan aplikasi VN atau VlogNow dan lebih mengenal YouTube dan konten video pembelajaran sebagai bagian soft selling promosi sekolah.
PELATIHAN PRODUKSI KONTEN KOMUNIKASI KESEHATAN UNTUK MEDIA SOSIAL BAGI PEGAWAI PUSKESMAS SE KOTA SEMARANG Swita Amallia Hapsari; Mutia Rahmi Pratiwi; Choirul Ulil Albab; Naiza Rosalia; Hanif Pandu Suhito; Diah Lestari R
Aptekmas Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol 6 No 2 (2023): Aptekmas Volume 6 Nomor 2 2023
Publisher : Politeknik Negeri Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36257/apts.v6i2.6838

Abstract

Puskesmas as a Regional Technical Implementation Unit (UPTD) which is under Dinas Kesehatan Kota Semarang was responsible for assisting public health in their rural area. There were 37 puskesmas in Semarang that also liable to share the information about public health in digital media such as Instagram. In order to improve the performance in digital media, puskesmas need to acknowledge the social media maintenance skill. By collaborating between Dinas Kesehatan Kota Semarang and Dian Nuswantoro University Communication Studies Program in the field of community service was carried out with teme of producing health communication content in social media. In this activity, we have to materials presented: content production in social media and reportase. Training activity was held on June 25, 2023 and was attended by 37 participant, they were social media managers at Puskesmas in Semarang. The methods in this activity is carried out three steps: Pre Activity, Activity, and Evaluation. Evaluation results were obtained from prepost test and discussion with participants. In the pretest, we have concluded that participants had good skills in understanding the Instagram features but did not knowing management and production of digital content. Participants understanding of reporting needs to be improved because 60% was reporting practices well. The results of this training post test showed that more than 90% of participant felt their understanding had increased about optimizing instagram media for increased content production and competence in public speaking for reporting on the implementation of puskesmas activity.
Analisis Teks Berita Anak Berlabel Broken Home di Media Online Adra Absyar; Mutia Rahmi Pratiwi
IQTIDA : Journal of Da'wah and Communication Vol. 2 No. 01 (2022)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Dakwah, UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Central Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1752.534 KB) | DOI: 10.28918/iqtida.v2i01.4582

Abstract

The continuity of family life is something that is expected to continue from the side of both parents and children. But in fact, the data shows that the number of divorces in Indonesia is increasing.Divorce has an impact on children in the position of victims and the emergence of the label of broken home children. Stigma in society shows that children from a broken home are often considered a source of problems in their environment. News about children from broken homes is an interesting thing to study regarding the role of the media in strengthening the existing stigma or vice versa. The purpose of this study is to dissect news texts in the Kompas.com media,explicitly reporting about broken home children using framing analysis methods. The number of news objects is 9 news texts that appear during the span of 2019-2020. The results showed that in reporting about broken home children, they focused more on delinquency from broken home children and considered it a painful experience for children. Of the 9 news that became the object of research, more than 90 percent told about the negative stigma of a broken home child. The reality that is built on the object of the news is to strengthen the negative stigma against children from broken homes. The research findings are the basis for the urgency of the role of parents in supervising children even though they are not in the form of a complete family.