Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Jurnal Ternak Tropika

KARAKTERISTIK SAPI MADURA BETINA BERDASARKAN KETINGGIAN TEMPAT DI KECAMATAN GALIS DAN KADUR KABUPATEN PAMEKASAN Angga Putra Pradana; Woro Busono; Sucik Maylinda
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 16, No 2 (2015): TERNAK TROPIKA
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.712 KB) | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2015.016.02.9

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik sapi Madura betina yang dipelihara di ketinggian tempat yang berbeda di Kabupaten Pamekasan. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sapi Madura betina umur kurang dari 1 sampai 1,5 tahun sebanyak 12 ekor pada dataran rendah, 21 ekor pada dataran tinggi dan sapi Madura betina umur lebih dari 1,5 sampai 2 tahun sebanyak 28 ekor pada dataran rendah, 19 ekor pada dataran tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sapi Madura betina pada umur dan ketinggian tempat yang berbeda memiliki sifat kualitatif yang sama yakni warna dominan tubuh merah kecoklatan, memiliki tanduk, memiliki warna putih pada kaki, memiliki garis punggung, serta memiliki warna hitam di bagian bawah telinga dan ujung ekor berwarna hitam. Berdasarkan hasil penelitian rataan lingkar dada di dataran tinggi lebih tinggi yaitu 141,1±7,8 cm dibanding dengan rataan lingkar dada di dataran rendah yakni 133,6±10,4 cm. Rataan panjang badan di dataran tinggi lebih tinggi yaitu 116,7±7,1 cm dibanding dengan rataan panjang badan di dataran rendah yakni 111,1±6,6 cm. Rataan tinggi badan di dataran tinggi lebih tinggi yaitu 114,0±3,8 cm dibanding dengan rataan tinggi badan di dataran rendah yakni 112,1±5,4 cm. Rataan bobot badan di dataran tinggi lebih tinggi yaitu 212,8±26,8 kg dibanding dengan rataan bobot badan di dataran rendah yakni 154,0±36,8 kg. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu rektal di dataran tinggi lebih rendah yaitu 37,9±0,6oC dibanding dengan rataan suhu rektal di dataran rendah yakni 38,0±0,5oC. Rataan frekuensi pernapasan di dataran tinggi lebih rendah yaitu 28,7±2,8/menit dibanding dengan rataan frekuensi pernapasan di dataran rendah yakni 30,7±1,89/menit. Rataan HTC di dataran tinggi lebih rendah yaitu 2,2±0,1 dibanding dengan rataan HTC di dataran rendah yakni 2,3±0,1.Kata Kunci: HTC, sapi Madura betina, statistik vital.
KARAKTERISTIK SAPI SONOK DAN SAPI KERAPAN PADA UMUR YANG BERBEDA DI KABUPATEN PAMEKASAN PULAU MADURA Chairdin Dwi Nugraha; Sucik Maylinda; Moch Nasich
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 16, No 1 (2015): TERNAK TROPIKA
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.254 KB) | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2015.016.01.9

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis sifat kuantitatif pada sapi Sonok dan sapi Kerapan pada umur yang berbeda di kabupaten Pamekasan, Madura. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 24 ekor sapi Sonok dan 24 ekor sapi Kerapan.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalahsurvey dan pengukuran di lapang. Variabel yang diamati meliputi lingkar dada (LD), panjang badan (PB), tinggi badan (TB), tinggi pinggul (TP) dan bobot badan (BB). Hasil penelitian diperoleh rata-rata LD, PB, TB, TP dan BB berturut-turut pada sapi Sonok PI0: (121,34 ± 11,23 cm), (99,90 ± 9,35 cm), (101,55 ± 7,46 cm), (101,00 ± 6,94 cm) dan (141,68 ± 30,15 kg) sedangkan Sapi Sonok PI1: (138,00 ± 8,89 cm), (115,36 ± 5,87 cm), (111,50 ± 4,29 cm), (109,33 ± 4,95 cm) dan (201,29 ± 25,14 kg). Ukuran statistik vital sapi Kerapan PI0: (116,05 ± 12,33 cm), (104,10 ± 10,47 cm), (101,22 ± 6,30 cm), (101,98 ± 5,49 cm) dan (130,90 ± 33,09 kg) sedangkan Sapi Kerapan PI1: (122,00 ± 17,36 cm), (102,78 ± 18,61 cm), (102,90 ± 8,70 cm), (105,80 ± 6,32 cm) dan (205,60 ± 179,13 kg). Hasil uji-t tidak berpasangan menunjukkan bahwa pengaruh umur terhadap statistik vital pada sapi Sonok adalah sangat nyata (P<0,01) sedangkan pada sapi Kerapan tidak nyata. Statistik vital sapi Sonok kelompok umur PI1 (18-24 bulan) lebih tinggi dari kelompok umur PI0 (<18 bulan). Kata kunci: Statistik vital, lingkar dada, panjang badan, tinggi badan, tinggi pinggul, bobot badan, sifat kuantitatif, sifat kualitatif.
Relationship Between Body Weight and Linear Measurement with Udder Volume in Fat Tailed Sheep in Sumenep, Madura Rohman , D. R.; Maylinda, Sucik
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 25 No. 2 (2024): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2024.025.02.7

Abstract

The aim of the research was to determine the relationship between between body weight, linear measurements, and udder volume in fat-tailed sheep. Material used in this reseach were 120 female fat- tailed sheep (DEG) with the range of the age PI1 to PI4. Method used in this research was cases study a with direct measurement in the field. Variables observed were chest girth, body length, body height, body weight, and udder volume. Data were analyzed using simple correlation and linear regression analysis. Results showed that the correlation between body weight and udder volume was significant (P < 0.05). With a corelation coefficient 0.687 (R2 47.2%). The function of regression equation is Y=509.05481+ 5.28X. The coefficient of correlation and coeffision of determination between vital statistics and udder volume is low, on chest circumference 0.429 (18.41%), body length 0.221 (4.88%), and shoulder height 0.2 (4%). Moreover, the regression equation values for chest circumference, body length, and shoulder height are Y = 676,3112-5,44X, Y = 495,6451-2.94X and Y = 495,4974-2,91X, respectively. It can be concluded the udder volume has a positive relationship with body weight, while udder volume have a weak relationship with linear measurements
Prediction of Milk Yield and Lactation Curve from Early-Stage Milk Recording Data: A Comparative Analysis of Three Mathematical Models in Tropical Smallholder Dairies Ridhowi, Aswah; Djoharjani, Trianti; Maylinda, Sucik
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 26 No. 1 (2025): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2025.026.01.9

Abstract

Accurate milk yield prediction is essential for effective dairy herd management, particularly in smallholder dairy where daily milk recording is often limited. Predictive models that can estimate total milk yield during one lactation period using early-stage recording data offer a practical solution to support decision-making in such environments. This study aimed to evaluate the predictive performance of three mathematical models, i.e incomplete gamma function model , orthogonal polynomial contrast model , and non-linear regression model for estimating total milk production during lactation in dairy cows. Milk yield data were obtained from 164 Holstein-Friesian cows across five lactation parities at a dairy cooperative in East Java, Indonesia. Milk production records over the first three months (13  weeks) of lactation were used to estimate total 305-day (44 weeks) milk yield using three predictive mathematical models, each fitted with parity-specific constants (a, b, c). Model performance was evaluated by comparing predicted and actual milk yields, using absolute and percentage errors as accuracy metrics. All models demonstrated acceptable predictive ability under weekly data conditions, with average percentage errors below 10%. The incomplete gamma function model showed the highest predictive accuracy and stability with lowest deviation (average deviation: 274.67 L; 6.17%), followed by orthogonal polynomial contrast model (324.43 L; 7.29%) and non-linear regression model (346.27 L; 7.78%). Those mathematical model exhibited stronger alignment with biological lactation patterns, and more sensitive to variation across parities. Frequent data collection enhances the accuracy of milk yield predictions. The incomplete gamma function model is recommended for initial milk yield prediction in smallholder dairy systems, offering an optimal balance between flexibility and biological plausibility. These findings support the integration of predictive modeling into routine herd management practices to improve productivity and sustainability.
Perbandingan Karakteristik Morfometrik Domba Ekor Tipis, Cross Texel dan Dorper di Wilayah Tropis Indonesia Pramujo, Muhammad; Maylinda, Sucik; Nurgiartiningsih, Veronica Margareta Ani; Susilorini, Tri Eko; Hamiyanti, Adelina Ari
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 26 No. 1 (2025): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2025.026.01.6

Abstract

Domba Ekor Tipis (DET), Cross Texel, dan Dorper memiliki karakteristik dan daya adaptasi yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan karakteristik morfometrik dari tiga ras domba tersebut sebagai indikator untuk mengevaluasi kapasitas adaptasinya terhadap lingkungan tropis. Metode yang digunakan meliputi pengukuran langsung di lapangan, termasuk berat badan (BB), lingkar dada (LD), tinggi badan (TB), dan panjang badan (PB). Data dianalisis menggunakan analisis korelasi, analisis regresi, dan ANOVA satu arah. Hasil analisis antara ukuran tubuh (LD, TB, dan PB) dengan BB pada ketiga ras domba menunjukkan hubungan yang sangat signifikan (P < 0,01). Persamaan regresi yang diperoleh dari hasil analisis untuk ketiga ras domba adalah: Domba DET: Y = -47,66 + 0,48X₁ + 0,29X₂ + 0,40X₃ dengan koefisien korelasi r = 0,91. Domba Cross Texel: Y = -19,43 + 0,42X₁ + 0,25X₂ + 0,12X₃ dengan koefisien korelasi r = 0,68. Domba Dorper: Y = -79,32 + 1,01X₁ + 0,27X₂ + 0,44X₃ dengan koefisien korelasi r = 0,88. Berat badan pada ketiga ras domba menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan (P < 0,01). Rata-rata berat badan domba DET, Cross Texel, dan Dorper masing-masing adalah 27,09 ± 5,73 kg, 35,58 ± 5,95 kg, dan 68,13 ± 6,34 kg. Ukuran tubuh (LD, TB, dan PB) pada ketiga ras domba juga menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan (P < 0,01), dengan domba Dorper memiliki ukuran tubuh terbesar. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa ukuran tubuh (LD, TB, dan PB) memiliki hubungan yang sangat kuat dengan berat badan. Ukuran tubuh (LD, TB, dan PB) dan berat badan pada ketiga ras domba berbeda secara signifikan (P < 0,01), di mana domba Dorper betina memiliki ukuran dan berat badan yang lebih besar dibandingkan domba DET dan Cross Texel meskipun dipelihara dalam lingkungan yang sama.
Korelasi dan Regresi Bobot Badan dan Morfometrik Tubuh Sapi Madura Kerapan Pada Kelompok Umur Berbeda Mubarak Z, Sultan; Maylinda, Sucik; Ciptadi, Gatot
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 25 No. 1 (2024): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2024.025.01.6

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara bobot badan dan morfometrik tubuh berupa tinggi gumba (TG), lingkar dada (LD) dan panjang badan (PB) pada sapi Madura Kerapan. Terdapat 24 ekor sapi Madura Kerapan dengan rentang umur 6 sampai dengan 36 bulan sebagai sampel dari beberapa kecamatan di Sumenep. Data dianalisis menggunakan klasifikasi satu arah dan kemudian diikuti oleh analisis korelasi dan regresi untuk mengetahui hubungan setiap variabel yang diamati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap pertumbuhan bobot badan dan morfometrik tubuh. Laju pertumbuhan menurun pada saat ternak mencapai umur 18 bulan. Pendugaan bobot badan sapi Madura Kerapan terbaik menggunakan persamaan regresi YÌ‚ = -57,361+1,6444X, dengan X adalah lingkar dada. Kesimpulan pada penelitian ini adalah lingkar dada merupakan objek terbaik untuk memprediksi bobot badan sapi Madura Kerapan