Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Nutrisi Selama Kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Tangse Tahun 2023 Nurlaili, Nurlaili; Inayati, Rahmi; Nasution, Decy Erni; Mardhiah, Ainal; Hamdani, Hamdani
Auxilium : Jurnal Pengabdian Kesehatan Auxilium : Jurnal Pengabdian Kesehatan - Januari 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/auxilium.v2i1.15273

Abstract

Nutrisi merupakan zat-zat yang berasal dari makanan yang di perlukan oleh tubuh. Jika asupan nutrisi untuk ibu hamil tidak seimbang dengan kebutuhan tubuh maka akan terjadi defisiensi zat gizi. Ibu hamil yang kekurangan nutrisi beresiko melahirkan bayi prematur, berat bayi lahir rendah, (BBLR) bahkan perdarahan kala bersalin. Ibu memiliki peran penting dalam memberikan nutrisi kepada anak karena ibu adalah orang yang terdekat dengan anak. Pemberian nutrisi pada ibu hamil sangatlah di perlukan, antara ibu yang satu dengan ibu yang lain tidak lah sama. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berbeda dari setiap ibu. Sehingga pemberian penyuluhan gizi pada ibu hamil masih diperlukan Melihat latar belakang di atas, maka dapat disimpulkan bahwa perumusan masalah dalam penulisan laporan ini yaitu perlunya dilakukan penyuluhan pada Ibu hamil melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat,adapun kegiatan dilakukan pada tanggal 12 oktober 2023 dengan menguji tingkat pengetahuan ibu hamil melalui pretes dengan10 soal pertanyaan,dilanjutkan dengan sosialisasi dan dilakukan Kembali Post tes pada ibu untuk melihat bagaimana pengetahuan ibu setelah dilakukan sosialisasi Hasil Pre tes pada tingkat pengetahuan ibu hamil diperoleh pengetahuan kurang 39 orang pengetahuan baik 11 orang sedangkan hasil sesudah dilakukan sosialisasi maka didapatkan pengetahuan kurang 18 orang pengetahuan baik 32 orang. Dari peningkatan hasil ini menunjukkan satu indikator bahwa Ibu hamil sudah mengetahui dengan baik hal-hal yang terkait dengan nutrisi yang harus dikonsumsi selama kehamilan.
Model Desa Siaga (Deteksi Dini dan Edukasi Berkelanjutan) Dalam Pengendalian Hipertensi di Gampong Tijue Kecamatan Pidie Kabupaten Pidie Rahmi Inayati; Ainal Mardhiah; Adam; Manza Aulia Risky; Tuti Lestari Siagian
Jurnal Pengabdian Meambo Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEAMBO
Publisher : PROMISE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56742/jpm.v5i1.228

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang prevalensinya terus meningkat dan berdampak pada tingginya angka kesakitan di berbagai wilayah, termasuk Gampong Tijue, Kecamatan Pidie. Rendahnya kesadaran masyarakat mengenai deteksi dini serta terbatasnya akses edukasi kesehatan menjadi tantangan dalam upaya pengendalian hipertensi. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran masyarakat melalui penerapan Model Desa Siaga yang berfokus pada deteksi dini dan edukasi berkelanjutan. Metode pelaksanaan meliputi tahap pra pelaksanaan berupa koordinasi dan persiapan, tahap pelaksanaan berupa skrining tekanan darah, penyuluhan kesehatan, serta pelatihan kader, diikuti dengan evaluasi dan monitoring keberlanjutan program. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan partisipasi masyarakat dalam pemeriksaan tekanan darah, meningkatnya pemahaman mengenai pengendalian hipertensi, serta adanya penguatan kapasitas kader dalam melakukan pemantauan kesehatan secara mandiri. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah bahwa Model Desa Siaga efektif dalam meningkatkan resiliensi kesehatan masyarakat dan mendukung pengendalian hipertensi berbasis komunitas
Self-Management and Knowledge Gaps in Chronic Disease Care: A Phenomenological Study of Patients with Hypertension, Diabetes Mellitus, and COPD in Indonesia Inayati, Rahmi; Sofyan, Hizir; Tahlil, Teuku; Marthoenis, Marthoenis
Asian Journal of Public Health and Nursing Vol. 2 No. 3 (2025)
Publisher : Queeva Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62377/sxh5bz43

Abstract

Background: Non-communicable diseases (NCDs), including hypertension, diabetes mellitus, and chronic obstructive pulmonary disease (COPD), remain significant public health challenges in Indonesia. Despite advances in clinical management, patients lived experiences, particularly regarding disease-related knowledge and self-care practices, have received limited scholarly attention. Methods: A qualitative phenomenological approach was employed using focus group discussions and in-depth interviews with 19 participants, including 12 patients with hypertension, diabetes mellitus, and COPD; five primary health workers from community health center; and two district health office staff. The research was conducted between February and June 2024. Data were analyzed using descriptive phenomenological methods. Results: Three interrelated themes emerged. First, participants described delayed symptom recognition accompanied by limited initial understanding of their disease. Second, deeply entrenched lifestyle-related risk factors, including smoking, high salt and sugar intake, and physical inactivity. Third, inconsistent self-management practices following diagnosis. Although some participants attempted to adhere to medical advice and adopt healthier behaviors, these efforts were frequently constrained by inadequate health literacy, low motivation, and barriers to healthcare access. Persistent misconceptions regarding disease etiology were evident, reflected in culturally embedded terms such as “sweet urine” for diabetes and “lung pain” for COPD. Family support and religious beliefs were found to exert a dual influence, functioning as both facilitators and barriers to treatment adherence. Conclusion: Improving chronic disease outcomes in Indonesia requires the integration of culturally responsive health education, patient-centered communication, continuous follow-up, and health literacy interventions that are aligned with the sociocultural context of affected communities.