Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Pemetaan Tingkat Layanan Jalan (M.T. Haryono, Sao-Sao, Abunawas dan Brigjend M.J.) Kendari Lagega, Rahim; Magribi, Laode Muh.; Harimudin, Jamal; Hidayat, Ahmad
JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi) Vol 4, No 1 (2020): JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jagat.v4i1.11956

Abstract

 Abstrak: Peningkatan jumlah kendaraan di Kota Kendari sejak tahun 2014 dengan total 56.076 kendaraan hingga tahun 2018 dengan total 94.078 kendaraan yang tidak disertai dengan pelebaran jalan sehingga menimbulkan kemacetan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui seberapa besar tingkat kemacetan; (2) mengetahui persebaran lokasi terjadinya kemacetan. Penelitian ini dilakukan pada lima ruas jalan yaitu: Jl. M.T. Haryono, Jl. Sao-Sao 2/2 UD, Jl. Sao-Sao 4/2 D, Jl. Abunawas dan Jl. Brigjend M.J. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu survei inventarisasi jalan dan survei LHR. Metode pengolahan data yang digunakan adalah metode analisis kuantitatif untuk mendapatkan nilai Kapasitas, nilai Volume Lalu Lintas dan nilai Derajat Kejenuhan, setelah itu dikelaskan berdasarkan Level of Service dimana kelas A dengan  tingkat kemacetan sangat rendah, B dengan tingkat rendah, C dengan tingkat sedang, D dengan tingkat sedikit tinggi, E dengan tingkat tinggi dan F dengan tingkat sangat tinggi. Hasil penelitian ini antara lain: (1) peta tingkat kemacetan hari senin dan sabtu memiliki kesamaan yaitu pada Jl. M.T Haryono memiliki tingkat kemacetan rendah, Jl. Sao-Sao 2/2 UD memiliki tingkat kemacetan sedang, Jl. Sao-Sao 4/2 D memiliki tingkat kemacetan rendah, Jl. Abunawas memiliki tingkat kemacetan rendah dan Jl. Brigjend M.J. memiliki tingkat kemacetan sedang (2) distribusi kemacetan sendiri terdapat pada lima titik yaitu: pada jalan M.T. Haryono berada di depan Lippo Plaza, pada jalan Sao-Sao berada di depan Brylian Plaza, di jembatan Kali Kadia dan di depan lorong SMPN 9 Kendari, dan pada jalan Brigjend M.J. berada di depan Mexcell Depo Teknik & Bangunan. Kata Kunci : Jalan, Kemacetan, Kapasitas, Volume, Derajat Kejenuhan, DOI : 10.5281/zenodo.3876059
Perbedaan Karakteristik Serta Tingkat Pelayanan Pejalan Kaki Pada Kawasan Pedestrian Di Kota Kendari (TPKPP) Rahayu, Sri Fera; Magribi, Muh.; Harimudin, Jamal; Fitriani, Fitriani; Hidayat, Ahmad
JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi) Vol 5, No 1 (2021): JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jagat.v5i1.17259

Abstract

Abstrak: Penelitian di kawasan perdagangan (Mall Mandonga) dan pendidikan (Universitas Halu Oleo) Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Juli 2019 sampai Oktober 2019. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan 1) survey melalui kuisioner dan wawancara terhadap responden 2) observasi pengamatan kegiatan fisik di lapangan 3) dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan yaitu analisis karakteristik pejalan kaki, tingkat pelayanan jalan kaki dan tingkat kepuasan pejalan kaki kemudian dijelaskan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pelayanan fasilitas pejalan kaki pada kawasan pendidikan di Universitas Halu Oleo adalah C dengan pejalan kaki memiliki arus stabil tetapi pejalan kaki dibatasi dalam memilih kecepatan dan sedikit ada konflik dengan tingkat pelayanan. Sedangkan tingkat pelayanan pejalan kaki pada kawasan perdagangan di Mall Mandonga adalah D dengan pejalan kaki memiliki arus mendekati tidak stabil sedangkan kecepatan masih bisa dikendalikan dan konflik yang terjadi di trotoar tersebut masih dapat ditolerir.. Kata Kunci : Karakteristik, Pejalan Kaki, Tingkat Pelayanan, Kawasan Pedestrian Abstrack: Research in the trade area (Mandonga Mall) and education (Halu Oleo University) This research was conducted in July 2019 to October 2019. Data collection techniques were carried out by 1) surveying through questionnaires and interviews with respondents 2) observing physical activity observations in the field 3) documentation. The data analysis method used is the analysis of pedestrian characteristics, the level of walking services and the level of pedestrian satisfaction then described descriptively. The results showed that the level of service of pedestrian facilities in the education area at Halu Oleo University is C with pedestrians having a steady flow but pedestrians are limited in choosing speed and there is little conflict with service levels. While the level of pedestrian services in the trade area at Mandonga Mall is D with pedestrians having an unstable approaching flow while speed can still be controlled and conflicts occurring on the sidewalk are still tolerable. Keywords: Characteristics, Pedestrians, Service Level, Pedestrian Region.
Analisis Pola dan Intensitas Curah Hujan Berdasarkan Data TRMM di Sulawesi Tenggara Yulisari, Erna; Muliddin, Muliddin; Harimudin, Jamal
JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi) Vol 5, No 2 (2021): JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jagat.v5i2.21465

Abstract

Abstrak: Cuaca dan iklim merupakan sebuah proses fenomena di atmosfer yang keberadaannya sangat penting dalam berbagai aktivitas kehidupan. Perhatian mengenai informasi cuaca dan iklim semakin meningkat seiring dengan meningkatnya fenomena alam yang tidak lazim terjadi atau biasa disebut dengan cuaca ekstrim yang sulit untuk dikendalikan dan dimodifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola dan intensitas curah hujan berdasarkan data TRMM di Sulawesi Tenggara berdasarkan aspek temporal. Metode analisis data yaitu analisis korelasi dan uji signifikan untuk mengetahui hubungan data TRMM dengan data stasiun curah hujan, serta menggunakan persamaan Mononobe untuk intensitas curah hujan. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa pola hujan di Sulawesi Tenggara merupakan pola region A tipe monsunal dengan ciri terjadi puncak musim hujan yang terjadi antara bulan Desember, Januari, Februari dan puncak musim kemarau terjadi antara Bulan Agustus dan September. Kecendrungan intensitas curah hujan mengalami kenaikan dengan kala ulang yang lebih lama. Kata Kunci: Curah Hujan, TRMM, Monsunal Abstract: Weather and climate are a process of phenomena in the atmosphere whose existence is very important in various activities life. Concern about weather and climate information is increasing along with the increase in natural phenomena that are not uncommon or commonly referred to as extreme weather that are difficult to control and modify . This study aims to determine rainfall patterns and intensity based on TRMM data in Southeast Sulawesi based on temporal aspects. Data analysis method is correlation analysis and significant test to determine the relationship of TRMM data with rainfall station data, and using the Mononobe equation for rainfall intensity. The results of this study found that the pattern of rain in Southeast Sulawesi is a type of Region A Monsunal pattern characterized by the peak of the rainy season which occurs between December, January, February and the peak of the dry season occurs between August and September. The intensity of rainfall increases with a longer return period. Keywords: Precipitation, TRMM, Monsoonal
Evaluasi Kesesuaian Pemanfaatan Pola Ruang Kota Baubau (Studi Kasus: Kecamatan Batupoaro, Murhum dan Wolio) Izat, Asnawati; Restele, La Ode; Harimuddin, Jamal
JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi) Vol 5, No 1 (2021): JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jagat.v5i1.16169

Abstract

Abstrak: Kota Baubau yang terus berkembang mengakibatkan pesatnya pertumbuhan penduduk dan peningkatan kebutuhan lahan sehingga cenderung mempengaruhi pola ruang wilayah kota. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui berapa besar penyimpangan pemanfaatan pola ruang; (2) mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penyimpangan pemanfaatan pola ruang. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini:             (1) analisis overlay dan analisis kesesuaian pemanfaatan pola ruang untuk melihat tingkat kesesuaian pemanfaatan pola ruang dan mengetahui besaran penyimpangan pemanfaatan pola ruang; (2) analisis regresi berganda dengan variabel dummy untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi penyimpangan pola ruang. Hasil penelitian antara lain: (1) besaran klasifikasi luas lahan yang sesuai terhadap rencana tata ruang di lokasi penelitian (Kecamatan Batupoaro, Murhum dan Wolio) adalah seluas 2.438 ha (67%), klasifikasi belum terbangun seluas    1.097 ha (30%), dan klasifikasi tidak sesuai atau menyimpang seluas 104 ha (3%) dari luas wilayah perencanaan; (2) faktor yang paling signifikan mempengaruhi penyimpangan pola ruang adalah faktor perizinan. Kata Kunci: Evaluasi, Kesesuaian, Pola Ruang
Identifikasi Pusat Pertumbuhan dan Wilayah Pendukungnya dalam Pengembangan Wilayah Kota Kendari Yahya, Fifi; Harimuddin, Jamal; Restele, La Ode; Fitriani, Fitriani
JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi) Vol 5, No 2 (2021): JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jagat.v5i2.21509

Abstract

Abstrak Pusat pertumbuhan ialah wilayah atau kawasan yang pertumbuhannya sangat pesat sehingga dijadikan sebagai pusat pembangunan yang mempengaruhi wilayah lain di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui wilayah mana saja yang termasuk dalam kategori orde I sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di Kota Kendari; (2) mengetahui interaksi antara pusat pertumbuhan dan wilayah pendukung disekitarnya. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis skalogram untuk mengetahui pusat pertumbuhan wilayah dan analisis gravitasi untuk mengetahui interaksi antara pusat pertumbuhan dan wilayah pendukung. Hasil dari penelitian ini adalah: (1) wilayah yang termasuk dalam kategori orde I sebagai pusat pertumbuhan utama di Kota Kendari adalah Kelurahan Bende, Korumba dan Kambu; (2) pusat pertumbuhan Kelurahan Bende memiliki hubungan interaksi yang paling erat dengan Kelurahan Pondambea sebagai daerah sekitarnya (hinterland), pusat pertumbuhan Kelurahan Korumba memiliki hubungan interaksi yang paling erat dengan Kelurahan Alolama sebagai daerah hinterland, dan  pusat pertumbuhan Kelurahan Kambu memiliki hubungan interaksi yang paling erat dengan Kelurahan Padaleu sebagai hinterland. Kata Kunci: Pusat pertumbuhan, Interaksi wilayah, Analisis Skalogram, Analisis Gravitasi Abstract The growth center is a region or area that is very rapidly growing so that it is made as a development center affecting other regions around it. The research aims to: (1) Know which areas are intended in the category I order as the center of economic growth in the city of Kendari; (2) Know the interaction between the growth center and the surrounding area supporting. Data analysis methods used in this study: Analysis of Skalogram to find out the regional growth and Gravity analysis to know the interaction between growth centres and support areas. The results of the research include: (1) The region that belongs to the category of order I as the main growth center in the district of Kendari is Bende village, Korumba and Kambu; (2) village Bende Growth Center has the most closely related interaction with the village Pondambea as the surrounding area (hinterland), village Korumba Growth Center has the most closely related interaction with Alolama village as its surrounding area (hinterland) and village Kambu Growth Center has the most close interaction relationship with Padaleu village as its surrounding area (hinterland).Keywords: Growth Center, Area Interactions, Analysis Skalogram, Analysis Gravity
Kajian Spasial Kebutuhan Sarana Pendidikan Tingkat SMAN Di Kota Kendari Eka Apriana; La Ode Restele; Jamal Harimudin; Fitriani Fitriani; Hasbullah Syaf
Jurnal Perencanaan Wilayah Vol 7, No 1 (2022): Jurnal Perencanaan Wilayah
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jpw.v7i1.25259

Abstract

Kendari City is one of the regions with a fairly large population level with total population is 359.371 person. The rapid growth in Kendari city caused an increase total of population, so that the increase in educational facilities and infrastructure. The method used to identify the need for high school facilities in this study is the analysis of SNI No. 13-1733-2004 and Voronoi Diagram Analysis. The study aims to: (1) determine the distribution of senior high school educational facilities in the Kendari City in 2019; (2) determine the need for senior high school educational facilities in the Kendari City in 2019. The results of this study are: (1) the distribution of the number of school-aged population in Kendari city in 2019 as much 9.790 persons with the total area of buildings is 1.643 m² needs an area of 25.454 m² with a standard 2.6 m²/person; (2) the need for education facilities at the senior high school in Kendari City, namely (the number of schools, the number of classrooms, and the number of teachers) in the study area is still largely low, however the level of availability of educational service facilities have a high score, so that in planning, developing, and constructing of educational facilities can be evenly distributed in all areas of Kendari City.Keywords: Voronoi Diagram Analysis, Education, Facilities and InfrastructureKota Kendari merupakan salah satu wilayah dengan tingkat populasi yang cukup besar dengan jumlah penduduk 359.371 jiwa. Pesatnya pertumbuhan di Kota Kendari menyebabkan bertambahnya jumlah penduduk, sehingga semakin meningkatnya kebutuhan akan fasilitas sarana dan prasarana pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) untuk mengetahui persebaran sarana pendidikan tingkat SMAN di Kota Kendari pada tahun 2019 (2) untuk mengetahui kebutuhan sarana pendidikan tingkat SMAN di Kota Kendari pada tahun 2019. Metode yang digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan sarana pendidikan tingkat SMAN adalah analisis SNI No. 13-1733-2004 dan Analisis Diagram Voronoi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) persebaran jumlah penduduk usia sekolah tingkat SMAN di Kota Kendari pada tahun 2019 sebanyak 9.790 jiwa dengan jumlah bangunan 1.643 m² membutuhkan luas lahan 25.454 m² dengan standar kebutuhan sarana 2,6 m²/jiwa; (2) kebutuhan sarana pendidikan tingkat SMAN di Kota Kendari, yaitu (jumlah sekolah, jumlah ruang kelas, dan jumlah guru) di daerah penelitian sebagian besar masih rendah, walaupun demikian tingkat ketersediaan fasilitas pelayanan pendidikan mempunyai nilai skor yang tinggi, sehingga dalam perencanaan, pengembangan, dan pembangunan fasilitas pendidikan bisa merata di semua wilayah Kota Kendari.Kata kunci: Analisis Diagram Voronoi, Pendidikan, Sarana dan Prasarana
PREDICTION OF DEVELOPMENT DIRECTION IN KENDARI CITY BASED ON CHANGES IN DENSITY OF BUILT-UP AREA Jamal Harimudin; Fitriani Fitriani
Plano Madani : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 9 No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jpm.v9i2.17629

Abstract

This research was conducted to determine changes in the area of built land and the direction of development of the city of Kendari in 2039 by using Landsat imagery at different times in Kendari City in 1999, 2009, and 2019. The method used is digital interpretation technique using NDBI algorithm (Normalized Difference Built-Up Index) to obtain building density information. Overlay analysis is used to determine changes in the density of built land over the past 20 years and Cellular Automata analysis to predict the density of built up land in the next 20 years. Testing the accuracy of the sample utilizes the confusion matrix on the actual constructed land density information in 2019. The results obtained in the form of information on the developed land density and its changes in 1999, 2009, and 2019 as well as information on the direction of development of the city of Kendari in the next 30 years. The analysis shows that in the period 1999 to 2009 there was a change of 2,206.09 Ha or as much as 8.17%. Then in the period 2009 to 2019 there was a change of 4,024.25 Ha or 14.90% of the total area of the study. There is a tendency for Kendari City to develop towards Baruga Districts and Puwatu Districts for the next 20 years. 
PEMETAAN WILAYAH KAWASAN RAWAN PETIR MENGGUNAKAN METODE SIMPLE ADDITIVE WEIGHTING (STUDI KASUS: KOTA KENDARI, KONAWE SELATAN, KONAWE) Joshua Purba; La Ode Restele; Jamal Harimudin; Nurgiantoro Nurgiantoro; Irfan Ido
JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi) Vol 6, No 2 (2022): JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jagat.v6i2.28312

Abstract

Abstrak: Petir merupakan suatu proses pelepasan muatan listrik dari awan bermuatan (cumulonimbus (Cb)) yang terdapat di atmosfer. Aktivitas pelepasan muatan yang menuju objek tertentu dinamakan sambaran petir yang mana memiliki kekuatan yang beragam. Petir yang terjadi di atmosfer umum terjadi, namun apabila sambaran petir sampai ke daratan dan memiliki kekuatan yang besar dapat mengancam keselamatan jiwa dan harta benda manusia. Kota Kendari, Kabupaten Konawe Selatan, dan Kabupaten Konawe berada di wilayah iklim tropis dengan curah hujan tinggi yang terbentuk dari awan cumulonimbus yang dapat membentuk petir. Dikarenakan wilayah ini memiliki kepadatan penduduk cukup tinggi disertai pembangunan infrastruktur yang semakin berkembang sehingga perlu dilakukan  suatu  penelitian untuk menganalisis tingkat kerawanan sambaran petir. Terdapat 2 Faktor yang diperlukan untuk mengidentifikasi tingkat kerawanan sambaran petir, yaitu faktor ancaman menggunakan data kejadian petir CG (Cloud to Ground) tahun 2014–2019 dan faktor  kerentanan menggunakan data kepadatan penduduk dan luas lahan untuk rumah dan bangunan. Metode yang digunakan dalam penelitian  ini adalah Metode Simple Additive Weighting (SAW) untuk mendapatkan tingkat  kerawanan  sambaran petir pada beberapa kecamatan yang diinterpretasikan ke dalam peta tematik menggunakan software ArcGIS. Hasil analisis menunjukkan bahwa Kecamatan Bondoala, Kadia, Konda, dan Moramo Utara  memiliki  nilai  tingkat  kerawanan sambaran  petir  tinggi.  Kecamatan Abeli, Kendari, Kendari Barat, Moramo, dan Soropia memiliki tingkat kerawanan sedang. Kecamatan Baruga, Kambu, Mandonga, Nambo, Poasia, Puwatu, dan Wua-Wua memiliki tingkat kerawanan rendah. Kata kunci: Petir CG, Tingkat Kerawanan, Simple  Additive Weighting Abstract: Lightning is an electrical discharge process from loaded cloud (cumulonimbus (Cb)) that occurs in the atmosphere. The electrical discharge activity towards a particular object is called a lightning strike which has various strength. Lightning usually occurs in the atmosphere but if the lightning strike reaches the land and has a great power it can threatens the safety of human life and property. Kendari City, Konawe Selatan, and Konawe is a lightning strike prone area located on tropical high rainfall level potentially forming thunder cloud (cumulonimbus). Due to high population density and infrastructure development in this region, so that a research is needed to analyze lightning vulnerability level. This research was conducted based on 2 factors to identify the lightning strikes vulnerability. The first one is the threat factor using lightning CG events in 2014-2019 and the second one is using population density and areas used as residence and building. The method used in this research is Simple Additive Weighting to calculate the lightning strike vulnerability level in several district and the result is interpreted into thematic map using ArcGis software. Based on the calculation result it shows that Bondoala, Kadia, Konda, and Moramo Utara district have the highest lightning strike vulnerability level. Abeli, Kendari, Kendari Barat, Moramo, and Soropia district have moderate level. Baruga, Kambu, Mandonga, Nambo, Poasia, Puwatu, and Wua-Wua have the lowest lightning strike vulnerability level. Keywords: CG Lightning, Vulnerability Level, Simple  Additive Weighting
KAJIAN DAYA DUKUNG LINGKUNGAN PANGAN DAN AIR DENGAN MEMANFAATKAN CITRA LANDSAT 8 (STUDI KASUS: KABUPATEN BUTON) Amilusri Amilusri; Jamal Harimudin; Fitra Saleh; Ahmad Hidayat; Nurgiantoro Nurgiantoro
JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi) Vol 6, No 2 (2022): JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jagat.v6i2.28350

Abstract

Abstrak: Penentuan besarnya daya dukung lingkungan dilakukan dengan cara mengetahui kapasitas yang dimiliki suatu lingkungan untuk memenuhi dan mendukung kegiatan manusia sebagai pengguna ruang untuk menjamin keberlangsungan hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) memetakan jasa lingkungan penyedia pangan di Kabupaten Buton; (2) memetakan jasa lingkungan penyedia air di Kabupaten Buton. Metode yang digunakan adalah skoring dan bobot. Hasil Penelitian: (1) klasifikasi ketersediaan pangan Kabupaten Buton dibagi menjadi lima kelas, yaitu: Jasa ekosistem penyedia pangan kelas sangat rendah seluas 517,66 ha (0,30 %), kelas rendah seluas 97.107,90 ha (57,97 %), kelas sedang seluas 68.041,64 ha (40,62%), kelas tinggi seluas 539,70 ha (0,32 %), dan kelas sangat tinggi seluas 1.294,12 ha (0,77 %); (2) Jasa ekosistem penyedia air di Kabupaten Buton kelas sangat rendah seluas 35.998,34 (21.49 %), kelas rendah seluas 1.312,43 ha (0,78 %), kelas sedang seluas 11.8750,60 ha (70,89%), dan kelas tinggi seluas 11.439,25 ha (6,82 %). Kata kunci: Daya Dukung Lingkungan, Jasa Ekosistem, Kabupaten Buton Abstract: Determination of the carrying capacity of the environment is done by knowing the capacity of an environment to fulfill and support human activities as users of space to ensure its survival. This study aims to: (1) map the environmental services of food providers in Buton Regency; (2) map the environmental services of water providers in Buton Regency. The method used is scoring and weighting. Research results: (1) classification of food availability in Buton Regency is divided into five classes, namely: Ecosystem services providing food, very low class, covering an area of 517.66 acre (0.30 %), low class covering an area of 97,107.90 acre (57.97 %), medium class covering an area of 68,041.64 acre (40.62%), high class covering an area of 539.70 acre (0.32 %), and very high class area of 1,294.12 acre(0.77% );(2) Water supply ecosystem services in Buton Regency are very low class covering an area of 35,998.34 acre (21.49 %), low class covering an area of 1,312.43 acre (0.78%), medium class covering an area of 11,8750.60 acre (70.89%), and high class area of 11,439.25 ha (6.82%). Keywords: Environmental Carrying Capacity, Ecosystem Services, Buton Regency
Pembuatan Basis Data Spasial Desa Perkotaan (Urban Village) Melalui Partispasi Masyarakat Harimudin, Jamal; Alfirman, Alfirman; Fitriani, Fitriani
Jurnal Ilmiah Pangabdhi Vol 9, No 1: April 2023
Publisher : LPPM Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/pangabdhi.v9i1.14097

Abstract

Increasing the knowledge and capacity of village officials in understanding and managing spatial data bases in the urban village is an important part of the one map program. The purpose of the service is (1) knowing the administrative boundaries of Melai Village, Murhum District; (2) have an understanding of participatory-based spatial databases for tourism objects in Melai Urban Village, Murhum District. The method used is participatory based. The results of this trial are that participants are able to determine the boundaries of the urban village and the participants show the Melai Urban Village tourism object and then produce the results from the joint consultation.