Articles
MAKNA ANAK TUNA DAKSA BAGI IBU The Meaning of Children with Physical Disability for a Mother
Suri, Oni Ranita;
Indriana, Yeniar
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 (Juli 2017)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/empati.2017.19756
Anak adalah anugerah yang diberikan oleh Tuhan kepada sepasang suami istri. Tidak semua anak lahir dan dibesarkan dengan kondisi yang sama, misalnya anak-anak yang terlahir dengan kekurangan atau hambatan fisik. Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk menggambarkan makna anak bagi Ibu yang memiliki anak tuna daksa. Pendekatan kualitatif yang dipilih adalah fenomenologis deskriptif. Subjek pada penelitian ini adalah tiga orang Ibu yang memiliki anak tuna daksa. Pemilihan subjek dilakukan secara purposive dan snowball. Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukan bahwa terjadi pergeseran makna anak tuna daksa bagi Ibu dari makna yang negatif menjadi positif. Awalnya anak tuna daksa dimaknai sebagai pembawa beban psikologis untuk Ibu. Ibu merasa sedih, kecewa, khawatir, dan memiliki perasaan bersalah saat pertama kali mengetahui kondisi anak tuna daksa. Namun, seiring berjalannya waktu, pemaknaan anak sebagai beban semakin menghilang. Penerimaan diri Ibu, dukungan-dukungan dari orang-orang sekitar dan kasih sayang yang didapat dari kebersamaan antara Ibu dengan anak perlahan merubah persepsi Ibu terkait makna anak. Pada akhirnya anak memberikan makna yang positif bagi Ibu. Terdapat harapan-harapan Ibu pada anak tuna daksa. Harapan utama ketiga subjek adalah anak tuna daksa dapat menjadi normal seperti teman-teman seusianya. Perbedaan usia anak tuna daksa membentuk harapan yang berbeda pula pada tiap-tiap subjek. Harapan dari subjek petama dan ketiga adalah anak tuna daksa dapat terus bersekolah untuk masa depan, sedangkan pada subjek kedua, anak tuna daksa dapat hidup mandiri dan bisa memiliki pasangan hidup.
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP DUKUNGAN EMOSIONAL PEMBIMBING BALAI DENGAN OPTIMISME MENGHADAPI MASA DEPAN PADA REMAJA DI BALAI REHABILITASI SOSIAL ANAK “WIRA ADHI KARYA†UNGARAN
Adiputri, Marcelina Khunti;
Indriana, Yeniar
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 (Januari 2017)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (388.084 KB)
|
DOI: 10.14710/empati.2017.15092
Putus sekolah merupakan salah satu masalah bagi remaja. Balai resos memberikan solusi bagi remaja yang putus sekolah, salah satunya dengan pembinaan keterampilan untuk bekerja. Bagi remaja putus sekolah yang tinggal di balai resos, sikap optimisme sangat diperlukan untuk menghadapi masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris hubungan antara persepsi terhadap dukungan emosional pembimbing balai dengan optimisme menghadapi masa depan pada remaja di balai resos anak “Wira Adhi Karya†Ungaran. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja putus sekolah, dengan sampel penelitian sebanyak 40 orang.Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan simple random sampling.Metode pengumpulan data menggunakan skala optimisme menghadapi masa depan sebanyak 22 aitem (α= 0,830) dan skala persepsi terhadap dukungan emosional sebanyak 38 aitem (α= 0,940). Metode analisis menggunakan analisis regresi sederhana dan hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang positif signifikan antara persepsi terhadap dukungan emosional dengan optimisme menghadapi masa depan dengan perolehan rxy = 0,493 ;p = 0,001 . Persepsi terhadap dukungan emosional memberikan kontribusi sebesar 24,3% terhadap optimisme menghadapi masa depan. Terdapat faktor lain sebesar 75,7% yang berperan namun tidak terungkap dalam penelitian ini.
KEMAMPUAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL DITINJAU DARI IDENTITAS DIRI PADA MAHASISWA TAHUN PERTAMA FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS DIPONEGORO
Purba, Evi Junita;
Indriana, Yeniar
Empati Vol 2, No 4 (2013): Empati Fak. Psikologi
Publisher : Empati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (41.856 KB)
Beragamnya latar belakang geografis dan etnis di antara teman-teman, merupakan kondisi yang pertama kali dihadapi individu ketika memasuki dunia perkuliahan. Kondisi ini menuntut kemampuan mahasiswa tahun pertama dalam menjalin komunikasi yang baik dengan orang-orang baru di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara identitas diri dengan kemampuan komunikasi interpersonal pada mahasiswa tahun pertama Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Semarang.Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa tahun pertama Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Semarang. Sampel penelitian berjumlah 120 mahasiswa angkatan 2012, yang diperoleh melalui teknik simple random sampling. Alat pengumpulan data penelitian adalah Skala Kemampuan Komunikasi Interpersonal (35 aitem valid, a = 0,92) dan Skala Identitas Diri (34 aitem valid, a = 0,93) yang telah diujicobakan pada mahasiswa tahun pertama Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Semarang.Data yang didapatkan berdasarkan hasil analisis regresi sederhana menunjukkan nilai koefisien korelasi (rxy) sebesar 0,22 dan s = 0,00 (p < 0.05). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara identitas diri dengan kemampuan komunikasi interpersonal. Semakin positif identitas diri maka akan semakin tinggi kemampuan komunikasi interpersonal. Sebaliknya, semakin negatif identitas diri maka kemampuan komunikasi interpersonal juga akan semakin rendah. Sumbangan efektif identitas diri terhadap kemampuan komunikasi interpersonal sebesar 5%. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa terdapat faktor lain sebesar 95% yang ikut berperan mempengaruhi kemampuan komunikasi interpersonal seperti faktor individu, faktor lingkungan, maupun faktor situasional.
PENGARUH PSIKOEDUKASI DARING TERHADAP INTENSI “HEALTH-SEEKING†INFORMAL PADA MAHASISWA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS DIPONEGORO
Prabandari, Kirana;
Indriana, Yeniar
Jurnal EMPATI Jurnal Empati Volume 7, Nomor 3, Agustus 2018
Publisher : Jurnal EMPATI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (528.521 KB)
Intensi health-seeking informal adalah sebuah keputusan terencana yang dilakukan dengan cara mengkomunikasikan masalahnya pada orang terdekat (significant others) dengan tujuan untuk mendapatkan saran, dukungan, dan bantuan untuk menurunkan taraf permasalahan yang dimiliki. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh empat tema intervensi psikoedukasi daring yakni insomnia, self-injury, sindrom stockholm, dan bunuh diri yang diberikan selama tujuh hari terhadap intensi health-seeking informal. Hipotesis dalam penelitian ini ialah terdapat perbedaan skor intensi health-seeking informal yang signifikan pada subjek sebelum dan sesudah mendapat psikoedukasi daring. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang menggunakan one-group pretest-posttest design. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Diponegoro angkatan 2017. Subjek penelitian berjumlah 40 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Diponegoro angkatan 2017 yang didapatkan dengan menggunakan teknik two stages cluster random sampling. Pengumpulan data menggunakan skala intensi health-seeking informal (34 aitem dengan α = 0,914). Berdasarkan hasil analisis paired sample t-test menunjukkan adanya kenaikan yang signifikan pada skor intensi health-seeking informal pada subjek setelah mendapatkan psikoedukasi via daring/instagram (Msebelum = 100,23; SDsebelum = 9,407; Msesudah = 101,68; SDsesudah = 9,975; t (39) = -2,243; p = 0,031), sehingga hipotesis yang diajukan oleh peneliti terbukti.Kata kunci: Intensi; Health-Seeking; Psikoedukasi; Daring; MahasiswaÂ
HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN AGRESIVITAS PADA SISWA KELAS XI SMK ISLAMIYAH ADIWERNA KABUPATEN TEGAL
Ayunnisa, Ulya;
Indriana, Yeniar
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 (Oktober 2018)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (434.929 KB)
|
DOI: 10.14710/empati.2018.23435
Masa remaja adalah masa dimana individu akan mengalami perubahan yang dapat memicu terjadinya agresivitas. Oleh karena itu, dibutuhkan peran kecerdasan emosional agar dapat mengendalikan dorongannya saat menghadapi konflik. Agresivitas merupakan kecenderungan seseorang untuk menjadi agresif. Kecerdasan emosional adalah kemampuan memahami dan mengelola emosi diri sendiri maupun orang lain dan menggunakan perasaan tersebut untuk memandu pikiran dan tindakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dengan agresivitas pada remaja. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI SMK Islmiyah Adiwerna yang berjumlah 399 dengan sampel penelitian 199. Siswa yang dipilih menggunakan teknik cluster random sampling. Data yang dikumpulkan menggunakan dua buah skala yaitu skala agresivitas (20 aitem valid, α = 0,899) dan skala kecerdasan emosi (24 aitem, α = 0,888). Hasil penelitian ini menunjukkan koefisien korelasi rxy = -0,700 dengan nilai p = 0,000 (p < 0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan diterima, yaitu terdapat hubungan yang negatif dan signifikan antara variabel kecerdasan emosional dengan agresivitas. Semakin tinggi kecerdasan emosional maka semakin rendah agresivitas. Sumbangan efektif yang diberikan oleh kecerdasan emosional terhadap variabel agresivitas sebesar 49 % dan sisanya 51 % dipengaruhi oleh sosial, kebudayaan, situasional, sumber daya dan media massa.
PENGALAMAN BEKERJA MENJADI CAREGIVER DI PANTI WREDHA: ANALISIS FENOMENOLOGIS INTERPRETATIF
Ayu, Aprillia Sekar;
Indriana, Yeniar
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 9, Nomor 6, Tahun 2020 (Desember 2020)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/empati.2020.30422
Merawat adiyuswa khususnya di Panti Wredha merupakan hal yang jarang diminati individu untuk berkarir. Hal tersebut dikarenakan, mengurus adiyuswa dengan keunikannya masing-masing harus siap menerima segala konsekuensi dan mempersiapkan diri untuk menghadapi segala hal termasuk permasalahan yang terjadi. Seseorang yang bekerja membantu memenuhi segala kebutuhan maupun aktivitas adiyuswa selama berada di Panti Wredha disebut caregiver. Tujuan dari penelitian untuk menggambarkan bagaimana pengalaman bekerja menjadi caregiver di Panti Wredha. Fokus penelitian ini pada pengalaman bekerja menjadi caregiver hingga bertahan menjalani profesi tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis yang melibatkan tiga partisipan berusia 30-31 tahun, telah bekerja kurang lebih 10 tahun dan menjadi caregiver tetap di Panti Wredha Dewanata. Partisipan dipilih menggunakan teknik purposive sampling serta menggunakan wawancara mendalam (in-depthh interview) sebagai teknik pengambilan data. Hasil dari penelitian ini yaitu, keputusan bekerja sebagai caregiver Panti Wredha, konsekuensi yang dirasakan ketika bekerja, dan bagaimana upaya bertahan dengan pekerjaan. Melalui penelitian ini, partisipan menyampaikan pengalamannya selama merawat adiyuswa, tantangan dan dampak selama bekerja, dukungan yang didapatkan, bagaimana upaya adaptasi yang dilakukan dan bagaimana cara partisipan bertahan menjalani pekerjaan tersebut. Kata kunci: bertahan, caregiver, panti wredhaÂ
PENGALAMAN BEKERJA MENJADI CAREGIVER DI PANTI WREDHA: ANALISIS FENOMENOLOGIS INTERPRETATIF
Ayu, Aprillia Sekar;
Indriana, Yeniar
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 (Februari 2021)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/empati.2021.30429
Merawat adiyuswa khususnya di Panti Wredha merupakan hal yang jarang diminati individu untuk berkarir. Hal tersebut dikarenakan, mengurus adiyuswa dengan keunikannya masing-masing harus siap menerima segala konsekuensi dan mempersiapkan diri untuk menghadapi segala hal termasuk permasalahan yang terjadi. Seseorang yang bekerja membantu memenuhi segala kebutuhan maupun aktivitas adiyuswa selama berada di Panti Wredha disebut caregiver. Tujuan dari penelitian untuk menggambarkan bagaimana pengalaman bekerja menjadi caregiver di Panti Wredha. Fokus penelitian ini pada pengalaman bekerja menjadi caregiver hingga bertahan menjalani profesi tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis yang melibatkan tiga partisipan berusia 30-31 tahun, telah bekerja kurang lebih 10 tahun dan menjadi caregiver tetap di Panti Wredha Dewanata. Partisipan dipilih menggunakan teknik purposive sampling serta menggunakan wawancara mendalam (in-depthh interview) sebagai teknik pengambilan data. Hasil dari penelitian ini yaitu, keputusan bekerja sebagai caregiver Panti Wredha, konsekuensi yang dirasakan ketika bekerja, dan bagaimana upaya bertahan dengan pekerjaan. Melalui penelitian ini, partisipan menyampaikan pengalamannya selama merawat adiyuswa, tantangan dan dampak selama bekerja, dukungan yang didapatkan, bagaimana upaya adaptasi yang dilakukan dan bagaimana cara partisipan bertahan menjalani pekerjaan tersebut. Kata kunci: bertahan, caregiver, panti wredhaÂ
HUBUNGAN ANTARA SELF EFFICACY DENGAN PERENCANAAN KARIER PADA SISWA KELAS XI SMK MUHAMMADIYAH SALATIGA
Hesta Galuh Listantina;
Yeniar Indriana
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 10, Nomor 6, Tahun 2021 (Desember 2021)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/empati.2021.33215
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self efficacy dengan perencanaan karier pada siswa kelas XI SMK Muhammadiyah Salatiga. Perencanaan karier merupakan langkah yang dibuat dengan mempertimbangakan berbagai faktor dan peluang untuk mencapai tujuan karier di masa depan. Self efficacy adalah keyakinan seseorang terhadap kemampuannya sendiri untuk menyelesaikan tugas serta memecahkan setiap permasalahan yang dihadapi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Populasi pada penelitian ini yaitu siswa kelas XI SMK Muhammadiyah Salatiga yang berjumlah 324 siswa dengan sampel penelitian 144 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik cluster random sampling. Alat ukur yang digunakan yaitu Skala Self Efficacy (23 item, α= 0,869) dan Skala Perencanaan Karier (24 item, α= 0,885). Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi sederhana. Berdasarkan uji korelasi regresi sederhana diperoleh nilai rxy = 0,593; dengan p=0,000 (p<0,05), sehingga terdapat hubungan positif antara self efficacy dengan perencanaan karier pada siswa kelas XI SMK Muhammadiyah Salatiga. Self efficacy memberikan sumbangan efektif R=0,351 terhadap perencanaan karier pada siswa kelas XI SMK Muhammadiyah Salatiga. Artinya, self efficacy memberikan kontribusi sebesar 35,1% untuk perencanaan karier.
HARDINESS DAN KECENDERUNGAN POST POWER SYNDROME PADA LANJUT USIA PENSIUNAN PEGAWAI NEGERI SIPIL (PNS) ANGGOTA PERSATUAN WREDATAMA REPUBLIK INDONESIA (PWRI) KECAMATAN GAJAH MUNGKUR SEMARANG
Mahsunah Ariyanti;
Yeniar Indriana
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 (Januari 2015)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (111.464 KB)
|
DOI: 10.14710/empati.2015.13124
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara hardiness dengan kecenderungan post power syndrome. Post power syndrome merupakan sekumpulan gejala mental yang menimbulkan gejala-gejala depresi yang diderita oleh orang yang mengalami stresor psikososial yang berkaitan dengan hilangnya jabatan atau kekuasaaan. Hardiness merupakan pola kepribadian yang menunjukkan bahwa individu memiliki ketahanan untuk melawan stres yang ditandai dengan sikap komitmen, kontrol, dan tantangan. Populasi dalam penelitian ini adalah lansia pensiunan PNS anggota PWRI Kecamatan Gajah Mungkur, Semarang. Pengumpulan data menggunakan Skala Hardiness (35 aitem; α = 0,934) dan Skala Kecenderungan Post Power Syndrome (38 aitem; α = 0,926). Subjek penelitian berjumlah 60 orang pensiunan PNS anggota PWRI Kecamatan Gajah Mungkur Semarang yang dipilih melalui purposive sampling. Hasil analisis data menggunakan teknik analisis regresi sederhana menunjukkan terdapat hubungan negatif antara hardiness dengan kecenderungan post power syndrome pada pensiunan PNS (r = -0,695; p < 0,001). Sumbangan efektif variabel hardiness terhadap kecenderungan post power syndrome sebesar 48,4%.
KECERDASAN SPIRITUAL PADA PENGGUNA DAN PENGEDAR NARKOBA DI LAPAS KEDUNGPANE SEMARANG
Muhammad Dzikron Fadhlurrohman;
Yeniar Indriana
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 8, Nomor 1, Tahun 2019 (Januari 2019)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (233.139 KB)
|
DOI: 10.14710/empati.2019.23580
Kecerdasan spiritual merupakan kemampuan untuk memaknai setiap kejadian yang telah terjadi yang membuat seseorang menjadi tahu apa yang harus dilakukan kedepanya. Penelitian ini bertujuan menggambarkan bagaimana kecerdasan spiritual pengguna dan pengedar narkoba yang berada di dalam lapas, sehingga mereka mengetahui apa yang harus mereka lakukan agar kehidupan mereka lebih bermakna atau lebih positif. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif fenomenologi dengan metode eksplikasi data. Partisipan dalam penelitian ini dipilih dengan teknik purposive. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah tiga orang yang merupakan pengguna dan pengedar narkoba namun, bukan narapidana residivis. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam dan sebelumnya partispan diberikan informed consent. Hasil penelitian menunjukkan ketiga partisipan memiliki kecerdasan spiritual yang baik. Kecerdasan spiritual yang baik dari ketiga partisipan ditunjukan dengan mampu menerima keadaan sekarang, bangkit dari kejadian masa lalu, dan menjadikan kejadian masa lalu sebagai pelajaran untuk menentukan langkah kedepan. Dua dari tiga subjek menunjukkan kecerdasan spiritual yang dipengaruhi oleh religiusitas, itu terlihat dengan semakin dekat mereka dengan pencipta. Saat mereka dekat dengan pencipta, mereka menjadi pribadi yang lebih bersyukur dan percaya bahwa Allah selalu bersama mereka meskipun dalam keadaan yang susah sekalipun. Kecerdasan spiritual yang baik membuat mereka menjadi tahu rencana apa yang akan mereka lakukan kedepanya.