Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Estimasi Kepadatan Populasi Orangutan Sumatera (Pongo abelii Lesson, 1827) di Kawasan Konservasi Suaka Margasatwa Rawa Singkil (Studi Kasus : Kecamatan Singkil) Azmi Alamsyah Harahap; Erdiansyah Rahmi; Iqbar Iqbar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 4 (2020): November 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.375 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i4.15880

Abstract

Suaka Margasatwa Rawa Singkil (SMRS) yaitu hutan rawa gambut yang terletak Provinsi Aceh. Wilayahnya meliputi tiga kabupaten/kota, yaitu: Kabupaten Aceh Selatan, Aceh Singkil, dan Kota Subulussalam. Tujuan penelitian ini untuk memperkirakan berapa kepadatan populasi orangutan sumatera berdasarkan total sarang yang dijumpai di Suaka Margasatwa Rawa Singkil pada bagian Kecamatan Singkil. Metode yang dipakai pada proses penelitian ini menggunakan cara metode garis transek yang berdasarkan letak posisi sarang dengan panjang jalur 1 km dengan jumlah transek sebanyak 4 transek dan jarak lebar pada sisi kiri dan sisi kanan yaitu 25 m. Antara transek satu dengan yang lain berjarak sejauh 150 m. Kepadatan populasi orangutan sumatera di kawasan Suaka Margasatwa Rawa Singkil pada bagian Kecamatan Singkil adalah 3,4 individu/km² dengan jumlah sarang 27 sarang.
Pengimplementasian SMART Patrol Terhadap Aktivitas Illegal (Pembalakan dan Perambahan) di Kawasan Konservasi Suaka Margasatwa Rawa Singkil Radiana Sofyan; Iqbar Iqbar; Ryan Moulana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 3 (2020): Agustus 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.39 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i3.14843

Abstract

Abstrak. Suaka Margasatwa Rawa Singkil adalah kawasan Konservasi yang ada di Pulau Sumatera Provinsi Aceh dan merupakan habitat bagi orangutan sumatera . Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengimplementasian SMART Patrol oleh resor Rundeng terhadap beberapa aktivitas illegal. Parameter pada penelitian ini adalah pembalakan liar dan perambahan. Pengumpulan data dilakukan dengan  teknik survei, pengambilan data dilakukan dengan mengambil data langsung di lapangan pada bulan Mei, Juni, dan Juli 2019 dan menggunakan data SMART Patrol dari tahun 2016, menggunakan jurnal dan sumber informasi lain yang mendukung penelitian serta menganalisis semua data secara deskriptif.Hasil yang diperoleh dari penelitin ini adalah kegiatan SMART Patrol dapat mendata  aktifitas illegal  di lapangan. SMART menyimpan dan menyajikan data kawasan SM. Rawa Singki. Kedua data yang diamati pada penelitian ini menunjukkan penurunan dari tahun 2016 hingga 2019. Data SMART Patrol digunakan sebagai data base untuk pengelolaan kawasan SM. Rawa Singkil.Pengimplementasian SMART Patrol yang dilakukan di lapangan digunakan untuk pengamanan dan pengelolaan kawasan SM. Rawa Singkil beserta keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. SMART Patrol juga didukung dengan berbagai upaya dan kegiatan lain yaitu dengan sosialisasi dan penyuluhan serta melakukan kerjasama dengan berbagai pihak termasuk dengan menerapkan hukum dan sanksi.Implementation of SMART Patrol on Illegal Logging and Acroachment in the Conservation Area of Singkil Swamp Wildlife ReserveAbstract. Singkil Swamp Wildlife Reserve is a conservation area on the island of Sumatera in Aceh Province an is a habitat for sumatran orangutan. The purpose of the study was to determine the area’s security activities by the Rundeng resort bases SMART Patrol. The parameters in this study are illegal logging and accroachment. Data collection is done by survey technique, data analysis was performed by taking data directly in the field on Mei, Juni and Juli 2019 and using data from 2016, using journal and other source of information that support and analyze all data descriptively.The result obtained from this study are SMART Patrol activities that can record illegal activities in the field. SMART stores and presents data on the Singkil Swamp Wildlife Reserve area. Both data observed in this study show a decrease from 2016 to 2019. SMART Patrol data can be used as a data base for the management of the Singkil Swamp Wildlife Reserve.Implementation of SMART Patrol conducted in the field for the security and management of the Rawa Singkil Swamp Wildlife Reserve area along with bodiversity in it is supported by various efforts and ather unitiatives outside the area, namely through sosialization and counseling and collaborating with various parties including by implementation laws and sanctions.
Perbandingan Cara Penyadapan Pinus di Kabupaten Gayo Lues dengan Prosedur Baku Penyadapan Pinus Matpiah Matpiah; Ryan Moulana; Iqbar Iqbar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 2 (2022): Mei 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.182 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i2.20209

Abstract

Abstrak.Penelitian perbandingan cara penyadapan pinus di Kabupaten Gayo Lues dengan prosedur baku penyadapan pinus bertujuan untuk mengetahui kepatuhan penyadapan pinus di Kabupaten Gayo Lues, dalam menerapkan petunjuk teknis penyadapan pinus yang dikeluarkan oleh Dinas Kehutanan Aceh. Penelitian ini dilaksanakan pada akhir Desember 2018 di hutan pinus alam Kabupaten Gayo Lues dengan menggunakan cuplikan disengaja (purposive sampling) berdasarkan luas sebaran populasi pinus yang sudah dilakukan penyadapan. Kecamatan Blang Jerango, Dabun Gelang, dan Rikit Gaib terpilih sebagai lokasi penelitian untuk pendataan praktik penyadapan pinus. Pendataan jumlah, panjang dan lebar koakan dilakukan pada lima kelas diameter sesuai petunjuk teknis Dinas Kehutanan Aceh yaitu diameter 20-30, 30-41, 41-58, 58-75, dan 75 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cara penyadapan pinus di Kecamatan Blang Jerango, Dabun Gelang, dan Rikit Gaib menunjukkan tingkat kepatuhan yang sangat rendah dengan tingkat kesesuaian rerata 14,8%. Penyadapan pinus di Kecamatan Dabun Gelang menunjukkan tingkat kepatuhan yang sangat rendah dibandingkan dengan Blang Jerango dan Rikit Gaib dengan nilai kepatuhan rerata setiapa Kecamatan tersebut sebesar 5%; 13% dan 32,5%. Oleh karena itu diperlukan pengawasan yang baik untuk dapat mempertahankan hutan pinus yang lestari di Kabupaten Gayo Lues.Kata kunci: Perbandingan, Penyadapan Pinus, Prosedur Baku, Gayo Lues(Comparison of pine tapping methods in Gayo Lues regency with standard pine tapping procedures)Abstract.This comparative study of pine tapping methods in Gayo Lues Regency with standard pine tapping procedures aims to determine the of pine tapping in Gayo Lues regency, in applying technical instruction, pine tapping issued by the Aceh Forestry Service. The study was carried out at the end of December 2018 in the natural pine forest of Gayo Lues regency using purposive sampling based on the distribution area of the population that had been tapped. The districts of Blang Jerango, Dabun Gelang, and Rikit gaib were selected as research locations for data collection on pine tapping practice. Data collections on the number, length and width of quarre system was carried out on five diameter classes according to the technical instructions of the Aceh Forestry service, namely diameter 20-30, 30-41, 41-58, 58-75, and 75 cm. the results showed that the pine tapping method in the Districts of Blang Jerango, Dabun Gelang, and Rikit Gaib showed a very low level of compliance with average conformity level of 14.8%. Among the sub-districts selected as research locations, the data showed that pine tapping in Dabun Gelang district showed a very low level of compliance compared to Blang Jerango and Rikit Gaib with the average compliance value of each sub-district of 5%, 13% and 32,5%, respectively. Therefore, good supervision is needed in the practice of pine tapping to be able to maintain a sustainable pine forest in Gayo Lues Regency. Keywords: Comparison, Pine Tapping, Standard Procedure Gayo Lues
Strategi Pengembangan Kawasan Ekowisata Kedah Kecamatan Blangjerango Kabupaten Gayo Lues Mawardi Mawardi; Ashabul Anhar; Iqbar Iqbar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 6, No 1 (2021): Februari 2021
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.399 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v6i1.16733

Abstract

Abstrak. Pengembangan pariwisata sebagai andalan perekonomian nasional dalam operasionalnya bertumpu pada potensi alam, potensi budaya, dan kehidupan masyarakat di lokasi pengembangan wisata. Penelitian ini betujuan untuk mengetahui kondisi ekowisata Kedah Gayo Lues sebagai kawasan wisata serta mengetahui potensi yang ada di wisata Kedah Gayo Lues, pengembangan ekowisata yang ideal dimasa mendatang dan memformulasikan strategi pengembangan wisata Kedah Gayo Lues sesuai dengan konsep ekowisata. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode Purposive Sampling dengan pengambilan sampel secara sengaja dan didasarkan atas adanya tujuan tertentu. Sampel terpilih merupakan stakeholder yang mempunyai  keterkaitan dengan kawasan ekowisata Kedah.Wawancara dan pengisian kuisioner melibatkan pengelola kawasan ekowisata Kedah, pemerintah, akademisi, pemerintah Desa, masyarakat setempat, pengunjung dan pemandu wisata. Identifikasi faktor internal pengelolaan ekowisata Kedah terdapat permasalahan  pengelolaan yaitu kurangnya dukungan dari pemerintah tentang pengelolaan ekowisata Kedah, belum adanya pengurus yang terstruktur dalam upaya pengembangan wisata Kedah, fasilitas yang belum memadai di wisata Kedah, tidak adanya ciri khas khusus yang dapat menghibur pengunjung seperti kesenian tradisional dan sebagainya, tingkat sumberdaya masyarakat setempat dalam pengembangan wisata Kedah masih tergolong lemah. Abstract. Tourism development as the mainstay of the national economy in its operations rests on natural potential, cultural potential, and community life in tourism development locations. This study aims todetermine the condition of Kedah Gayo Lues ecotourism as a tourist area and to know the potential that exists in Kedah Gayo Lues tourism, to develop ideal ecotourism in the future and to formulate a tourism development strategy for Kedah Gayo Lues according to the ecotourism concept. The method used in this research is purposive sampling method with deliberate sampling and is based on the existence of certain objectives. The selected sample is a stakeholder who has a relationship with the Kedah ecotourism area. Interviews and questionnaires involving the Kedah ecotourism area manager, government, academics, village government, local communities, visitors and tour guides. Identification of internal factors in Kedah ecotourism management, there are management problems, namely the lack of support from the government regarding the management of Kedah ecotourism, the absence of a structured management in efforts to develop Kedah tourism, inadequate facilities in Kedah tourism, the absence of special characteristics that can entertain visitors such as traditional arts and so, the level of local community resources in developing Kedah tourism is still relatively weak.
Keanekaragaman Tumbuhan Pakan dan Tumbuhan Berpotensi Pakan Orangutan Sumatera (Pongo abelii Lesson 1827) Berdasarkan Strata Pertumbuhan Tegakan di Stasiun Penelitian Soraya Kawasan Ekosistem Leuser Intan Regina; Erdiansyah Rahmi; Iqbar Iqbar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 3 (2020): Agustus 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.989 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i3.15046

Abstract

Abstrak. Soraya adalah salah satu stasiun penelitian yang dikelola oleh Forum Konservasi Leuser (FKL) yang berada dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Indeks Nilai Penting (INP) tumbuhan pakan orangutan sumatera berdasarkan strata pertumbuhan tegakan hutan dan  Indeks keanekaragaman tumbuhan pakan orangutan sumatera berdasarkan strata pertumbuhan tegakan hutan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu garis berpetak dibuat memanjang mengikuti jalur yang sudah ada dengan panjang 1000 meter  dengan jarak antar petak contoh 50 m. Petak contoh dibuat sesuai strata pertumbuhan tegakan 2 m x2 m untuk semai, 5 m x 5 m untuk pancang, 10 m x10 m untuk tiang dan 20 m x 20 m untuk pohon dengan jumlah total masing-masing sebanyak 14 petak contoh.  Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi tumbuhan pakan orangutan sumatera berdasarkan strata semai yaitu Artocarpus integer (47,7 %), strata pancang yaitu Cyathocalix sumatranus (32,9) Streblus elongatus (46,5 %) dan strata pohon yaitu Dipterocarpus grandiflorus (57,7 %). Indeks keanekaragaman tumbuhan pakan orangutan sumatera pada strata semai 1,86 (sedang), strata pancang 2,38 (sedang), strata tiang 3,35 (tinggi), strata pohon 2,62 (sedang)Diversity of Sumatran Orangutan Feed Plants (Pongo abelii Lesson 1827) Based on Standing Growth Strata at the Soraya Research Station in the Leuser EcosystemAbstract. Soraya is one of the research stations managed by the Leuser Conservation Forum (FKL) in the Leuser Ecosystem Area (KEL). This study aims to determine the Important Value Index (IVI) of forage plants to feed Sumatran orangutan based on growth strata of forest stands and the diversity index of plant growth of Sumatran orangutan for feed based on strata growth of forest stands. The method used in this study is that the plotted line is made to follow the existing path with a length of 1000 meters with a spacing between 50 m samples according to the growth stratum 2m x2 m for seedlings, 5 m x5 m for saplings, 10 mx10 m for poles and 20 m x 20 m for tree of 14 sample plots. The highest Importance Value Index (IVI) of Sumatran orangutan forage plants is based on the seedling strata, namely Artocarpus integer (47,7%), sapling strata, Cyathocalix sumatranus (32,9) Streblus elongatus (46,5%) and tree strata namely Dipterocarpus grandiflorus (57,7%). Sumatran orangutan food plant diversity index at 1,86 (medium) seedling strata, 2,38 (medium) saplings, 3,35 pole pole strata (high), 2,62 tree strata (medium)
Studi Etnobotani Tumbuhan Obat Di Kecamatan Sawang Kabupaten Aceh Selatan Restika Restika; Gina Erida; Iqbar Iqbar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 8, No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.736 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v8i1.23308

Abstract

Abstrak. Studi etnobotani di Kecamatan Sawang Kabupaten Aceh Selatan bertujuan untuk mengidentifikasi jenis tumbuhan obat serta penyakit apa saja yang dapat diobati dengan tumbuhan obat tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode wawancara yang dilakukan secara semi terstruktur dan terstruktur terhadap responden yang terpilih sebanyak 97 Kepala Keluarga (KK) dari total keseluruhan jumlah KK. Penentuan informan dilakukan dengan menggunakan teknik Snowball sampling yaitu teknik awal yang respondennya diperoleh melalui penelusuran dari sampel pertama ke sampel berikutnya sesuai petunjuk dari sampel pertama. Lokasi penelitian ini terletak di Kecamatan Sawang Kabupaten Aceh Selatan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat Sawang Kabupaten Aceh Selatan sebanyak 94 jenis yang dapat menyembuhkan 31 jenis penyakit. Penyakit tersebut digolongkan ke dalam dua kategori penyakit yaitu penyakit menular sebanyak (34 % ) dan penyakit tidak menular(66 %).Study of Ethnobotany of Medicinal Plants in Sawang District South Aceh RegencyAbstract. The ethnobotanical study in Sawang District, South Aceh Regency aims to identify the types of medicinal plants and what diseases can be treated with these medicinal plants. This research was conducted using the interview method which was carried out in a semi-structured and structured manner to the selected respondents as many as 97 heads of households (KK) from the total number of families. The determination of informants was carried out using the Snowball sampling technique,which is an initial technique in which the respondents were obtained by tracing from the first sample to the next according to the instructions from the first sample. The research location is located in Sawang District, South Aceh Regency. Based on the research results it was found that there were 94 types of medicinal plants used by the people of Sawang, South Aceh Regency, which could cure 31 types of diseases. These diseases are classified into two categories of diseases, namely communicable diseases (34%) and non-communicable diseases (66%). 
Daya Dukung habitat Terhadap Ketersediaan Pakan Gajah Sumatera yang Ditangkarkan di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli Provinsi Sumatera Utara Devi Kristina Br Ginting; Saida Rasnovi; Iqbar Iqbar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 4 (2020): November 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.326 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i4.15717

Abstract

Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK Aek Nauli merupakan salah satu KHDTK yang ditetapkan melalui surat keputusan menteri kehutanan no. 39/Menhut-II/2005, tanggal 7 Februari 2005 dengan luasan 1900 ha. Untuk alokasi habitat gajah sumatera diberikan 100 ha terletak pada ekosistem hutan sekunder. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis pakan gajah sumatera dan menghitung daya dukung habitat terhadap ketersediaan pakan gajah sumatera.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis vegetasi dan menghitung daya dukung habitat. Analisis vegetasi yaitu metode jalur dan garis berpetak (Kusmana 1997, 2006) sebanyak 5 petak contoh diletakkan pada garis transek yang panjangnya 50 m. Jumlah transek untuk analisis vegetasi adalah 2 transek. Ukuran petak contoh untuk setiap strata pertumbuhan adalah semai  2m x 2m, pancang 5m x 5m, dan tiang 10m x 10m.Untuk menghitung daya dukung pakan gajah dilakukan dengan menentukan tumbuhan pakan gajah yang terdapat pada petak pengamatan lalu memilih bagian tumbuhan yang dimakan yang memiliki karateristik jumlah daun, panjang, dan diameter ranting yang relatif sama sebanyak 4-5 ranting contoh dalam satu individu, kemudian memotong contoh daun/ranting pertama untuk ditimbang k, pemotongan kembali contoh daun/ranting kedua dan seterusnya dalam selang waktu 1 minggu dalam 4 minggu. Berdasarkan hasil perhitungan iketahui bahwa daya dukung habitat gajah sumatera di KHDTK Aek Nauli dengan luasan 100 ha  dengan proper use 60%, dan kebutuhan per ekor gajah rata-rata 250 kg/hari adalah1,71ha/ekor/hari. 
Keanekaragaman Jenis Meranti (Shorea spp.) di Hutan Arul Relem Kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues Farida Husna; Iqbar Iqbar; Ashabul Anhar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 6, No 4 (2021): November 2021
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.483 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v6i4.18255

Abstract

Abstrak. Hutan Arul Relem merupakan salah satu hutan lindung di Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues yang memiliki flora dan fauna. Salah satu flora yang terdapat di Hutan Arul Relem adalah meranti. Keanekaragaman jenis meranti di Hutan Arul Relem belum diketahui. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian mengenai keanekaragaman jenis meranti (Shorea spp.) yang bertujuan untuk mengidentifikasi, mengetahui indeks nilai penting, mengetahui indeks keanekaragaman, dan menentukan status konservasi jenis meranti berdasarkan Peraturan Perundang-undangan Indonesia dan IUCN (International Union for Conservation of Nature) di Hutan Arul Relem. Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode garis berpetak. Terdapat 4 transek dengan panjang 180 m, jarak antar transek 50 m. pada setiap transek terdapat 5 plot contoh dengan ukuran 20 m x 20 m yang diletakkan pada masing-masing transek, jarak antarplot dalam transek 20 m. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan 4 jenis meranti di Hutan Arul Relem yaitu Shorea platyclados, Shorea leprosula, Shorea sumatrana dan Shorea parvifolia. Indeks nilai penting jenis meranti paling tinggi tingkat semai terdapat pada Shorea sumatrana (INP: 77,71%), tingkat pancang yaitu Shorea platyclados (INP: 125%), tingkat tiang yaitu Shorea sumatrana (INP: 221,75%), tingkat pohon yaitu Shorea platyclados (INP: 112,42%). Indeks keanekaragaman jenis meranti di Hutan Arul Relem pada tingkat semai 1,33, pancang 0,56, tiang 0,56 dan tingkat pohon 1,16. Hal ini menunjukkan bahwa keanekaragaman jenis meranti pada tingkat semai dan pohon dikategorikan sedang melimpah, sedangkan pada tingkat pancang dan tiang dikategorikan rendah. Empat jens meranti di Hutan Arul Relem, Kecamatan Pining tercantum dalam red list IUCN dengan kategori endangered, least concern, dan near threatened.Abstract. Arul Relem Forest is a protected forest in Pining Sub-Regency, Gayo Lues Regency which has a flora and fauna. One of the flora in Arul Relem Forest is meranti. The diversity of meranti species in the Arul Relem Forest is not yet known. Therefore, it is necessary to conduct a research on the diversity meranti species (Shorea spp.) in the Arul Relem Forest with the aim of identifying, knowing the importance value index, knowing the diversity of index, and determining the conservation status of meranti species based on Indonesian laws and regulations and IUCN (International Union for Conservation of nature) in the Arul Relem Forest. The method used in this research is the line-transect method. There are 4 transects with a length of 180 m with the distance between transects of 50 m. On each transects there are 5 sample plots with a size of 20 m x 20 m which are placed on each transects with 20 m distance between plots in the transect. Based on the result of the study, 4 types of meranti are found in the Arul Relem Forest, namely Shorea platyclados, Shorea leprosula, Shorea sumatrana, and Shorea parvifolia. The highest importance index of meranti species at the seedling level was found in Shorea sumatrana (IVI:77,71%), at the sapling level was found in Shorea platycaldos (IVI:125%), at the pole level was Shorea sumatrana (IVI:221,75%), and at tree level was Shorea platyclados (IVI:112,42%). Meranti species diversity index in Arul Relem Forest was 1,33 at the seedling level, 0,56 at the sapling level, 0,56 at the pole level, and 1,16 at the tree level. This shows that the diversity of meranti species at the seedling and tree levels is categorized as moderately abundant, while the sapling and pole level are categorized as low. Four of meranti species in Arul Relem Forest, Pining Sub-Regency are listed on the IUCN red list with the categories of endangered, least concern, and near threatened.
Tumbuhan Obat dan Pemanfaatannya oleh Masyarakat Sekitar Hutan HujanTropis Kedah Kabupaten Gayo Lues Kasrin Kasrin; Ryan Moulana; Iqbar Iqbar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.642 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i1.13651

Abstract

Abstrak Tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Penosan dan Desa Peosan Sepakat terdapat 72 tumbuhan terdiri 42 suku/familia. Intensitas penggunaan jenis-jenis  tumbuhan yang dikelompokkan berdasarkan suku adalah Zingiberaceae (8,5%), Asteraceae (7,0%), Fabaceae (7,0%), Malvaceae (5,6%), Moraceae (5,6%), Poaceae (4,2%), dan Arecaceae (4,2%). Suku tumbuhan lainnya yaitu Verbenaceae, Araceae, Fhyllanthaceae, Rubiaceae, Rutaceae, Solanaceae, Apocynaceae, Verbenaceae dan Annonaceae masing-masing digunakan dengan intensitas rendah (2,8%). Sisanya sebanyak  26 suku digunakan dengan intensitas sangat rendah yaitu masing-masing (1,4%). Bila dilihat pemanfaatan tumbuhan obat ini berdasarkan habitus maka tumbuhan habitus pohon dimanfaatkan dengan intensitas paling tinggi (33,3%), diukuti oleh perdu (30,6%), herba (29,2%) dan yang paling rendah adalah liana (6,9%). Namun pemanfaatan tumbuhan untuk obat berdasarkan organ tumbuhan yang paling banyak digunakan adalah organ daun (39,3%), diikuti oleh seluruh bagian tumbuhan (13,8%), buah (12,4%) dan umbi (11,0%), sedangkan yang paling sedikit digunakan dari organ akar (7,6%), kulit (7,6%), batang (2,8%), biji (2,1%), bunga (2,8%), dan seludang (0,7%).Medicinal Plants and its Utilization by the Communities Around the Tropical Rain Forest Kedah Gayo Lues DistrictAbstract There are 72 plants utilized by the Penosan and Peosan Sepakat Villages consisting of 42 tribes / families. The intensity of the use of plant species grouped by ethnicity is Zingiberaceae (8.5%), Asteraceae (7.0%), Fabaceae (7.0%), Malvaceae (5.6%), Moraceae (5.6%) , Poaceae (4.2%), and Arecaceae (4.2%). Other plant tribes namely Verbenaceae, Araceae, Fhyllanthaceae, Rubiaceae, Rutaceae, Solanaceae, Apocynaceae, Verbenaceae and Annonaceae are each used with low intensity (2.8%). The remaining 26 terms are used with very low intensity, each (1.4%). When observing the use of medicinal plants based on habitus, tree habitus plants are used with the highest intensity (33.3%), followed by shrubs (30.6%), herbs (29.2%) and the lowest is liana (6, 9%). However, the use of plants for medicine based on the most widely used plant organs is the leaf organ (39.3%), followed by all parts of the plant (13.8%), fruit (12.4%) and tubers (11.0%), while the least used were root organs (7.6%), bark (7.6%), stems (2.8%), seeds (2.1%), flowers (2.8%), and sheath ( 0.7%).
Studi Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Berkayu di Rainforest Lodge Kedah, Ekosistem Leuser, Gayo Lues Hawati Hawati; Iqbar Iqbar; Essy Harnelly
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 4 (2020): November 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.395 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i4.15882

Abstract

Kedah adalah salah satu nama Dusun di Desa Penosan Sepakat, Kecamatan Blangjerango, yang merupakan salah satu gerbang menuju Hutan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Hutan yang ada di Desa Penosan Sepakat dikenal dengan nama Rainforest Lodge Kedah yaitu salah satu hutan yang menjadi objek wisata dan penelitian bagi masyarakat lokal atau mancanegara, karena Rainforest Lodge Kedah menyimpan kekayaan sumberdaya alam hayati  baik itu flora maupun fauna. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis tumbuhan berbasis pohon pada tingkat pertumbuhannya, dan menghitung indeks keanekaragaman jenis tumbuhan. Pada penelitian ini metode yang di gunakan yaitu menganalisis tumbuhan pada setiap stara pertumbuhan yang berkayu. Metode analisis yang digunakan yaitu dengan mengkombinasikan jalur dan garis berpetak dengan ukuran 20 x 100 m, yaitu sebanyak 9 jalur. Peletakan 3 jalur pada masing-masing ketinggiaan yaitu pada ketinggian 1.300 m dpl, 1.400 m dpl dan 1.500 m dpl, jarak setiap jalur masing-masing  60 m, setiap jalur di bagi menjadi 4 petak contoh, setiap petak contoh dibagi lagi menjadi 4 ukuran yaitu dengan masing-masing memilki ukuran yang berbeda-beda sesuai stara pertmbuhan. Jenis tumbuhan yang terdapat di Rainforest Lodge Kedah terdapat 45 jenis tumbuhan kayu dari 21 suku, yang merupakan hasil seluruh jenis kayu yang terdapat disemua ketinggian. Jenis-jenis tumbuhan yang terdapat di Rainforest Lodge Kedah saat pengamatan dengan luas petak contoh 14.400 m² terdapat 45 jenis dengan jumlah 950 individu, di mana untuk strata pohon terdapat 248 individu, untuk strata tiang terdapat 144 individu, untuk strata pancang terdapat 335 individu dan untuk strata semai terdapat 223 individu. Indeks keanekaragaman tumbuhan di Rainforest Lodge Kedah untuk strata pohon diperoleh 3,184 untuk strata tiang diperoleh 3,096, Untuk strata pancang diperoleh 3,191, untuk strata semai di peroleh 2,919 Hal ini menunjukan bahwa komunitas jenis pohon, tiang, pancang dan semai bisa dikatakan termasuk ke dalam kondisi baik serta tinggi berdasarkan ilustrai penyebaran nilai indeks tersebut.