Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Studi Etnobotani Tumbuhan Hutan Sebagai Bahan Pangan (Studi Kasus Kecamatan Terangun Kabupaten Gayo Lues) Sartika Sartika; Arif Habibal Umam; Iqbar Iqbar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 6, No 4 (2021): November 2021
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.016 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v6i4.18376

Abstract

Abstrak. Masyarakat suku Gayo sebagian besar memiliki pemahaman tentang pemanfaatan tumbuhan hutan yang dapat dikonsumsi baik untuk bahan pangan maupun sebagai obat-obatan. Atas dasar ini penting diteliti agar dapat memberikan informasi kepada masyarakat maupun pemerintah bahwa terdapat jenis-jenis tumbuhan hutan yang dapat dikonsumsi untuk bahan pangan non pokok yang hidup secara liar dan dikonsumsi oleh suku Gayo yang berdomisili di Terangun. Penelitian ini menggunakan metode wawancara dan observasi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa terdapat 34 jenis tumbuhan liar yang terdiri dari 22 suku tumbuhan masih dimanfaatkan oleh suku Gayo di Terangun sebagai bahan pangan non pokok. Jenis tumbuhan yang paling banyak digunakan yaitu ranti (rukut) dengan penggunaan sebesar 97,50% sehingga dikategori sangat tinggi. Bagian atau organ tumbuhan hutan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan yaitu buah, batang, daun, tunas dan bunga. Organ tumbuhan yang paling sering digunakan yaitu buah sebanyak 47%. Meskipun penggunaan organ buah paling tinggi dari organ lainnya namun penggunaan organ ini masih masuk ke dalam katergori rendah. Tumbuhan hutan tersebut dimanfaatkan dengan cara dimasak, dikupas lalu dimakan, dimakan secara langsung dan dikeringkan kemudian dimakan. Cara pengolahan tumbuhan yang paling sering dilakukan adalah dengan cara dimasak  dan pengolahan dengan cara ini dilakukan sebesar 45% dari penggunaan lainnya. Penggunaan dengan cara dimasak juga masih termasuk ke dalam kategori  rendah.Abstract. Most of the Gayo people have an understanding of the use of forest plants that can be consumed both for food and as medicine. On this basis, it is important to research in order to provide information to the public and the government that there are forest plant species that can be consumed for non-staple foods that live wild and are consumed by the Gayo tribe who live in Terangun. This research uses interview and observation method. The results of the study indicate that there are 34 types of wild plants consisting of 22 plant tribes that are still used by the Gayo tribe in Terangun as non-staple food. The most widely used plant species is black nightshade with a usage of 97.50% so that it is categorized as very high. Parts or organs of forest plants that can be used as food are fruits, stems, leaves, shoots and flowers. The most frequently used plant organ is fruit as much as 47%. Although the use of fruit organs is higher than other organs, the use of these organs is still in the low category. The forest plants are used by cooking, peeling and then eating, eaten directly and dried and then eaten. The method of processing plants that is most often done is by cooking and processing in this way is carried out for 45% of other uses. The use by cooking is also still included in the low category.
Eksplorasi Tumbuhan Survival di Rainforest Lodge Kedah, Desa Penosan Sepakat, Kecamatan Blangjerango, Kabupaten Gayo Lues Ema Julia Sari; Misdi Misdi; Iqbar Iqbar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 8, No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.733 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v8i1.23293

Abstract

Abstrak.Kemampuan untuk bertahan hidup di alam bebas sangat dipengaruhi salah satunya oleh kemampuan mengenal tumbuhan yang dapat dimakan dalam keadaan darurat (Survival foods). Tumbuhan survival dapat dimanfaatkan oleh manusiakhususnya pecinta alam yang sedang melaksanakan pendakian jika kehabisan bahan makanan.Komunitas pecinta alam memiliki banyak pengetahuan tentang pendakian, seperti bagaimana merencanakan pendakian, bahaya apa yang akan terjadi, dan bagaimana menghadapinya agar dapat mendaki dengan aman dan lancar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis tumbuhan survival, mendapatkan Indeks Nilai Penting (INP) dan keanekaragaman jenis tumbuhan survivalyang terdapat di Rainforest Lodge Kedah Desa Penosan Sepakat, Kecamatan Blangjerango Kabupaten Gayo Lues. Pengamatan tumbuhan survival dilakukan dengan cara berjalan dengan salah seorang pendaki yang berpegalaman pada jalur pendakian dan plot di ketinggian 1.300-1.400 m dpl, 1.400-1.500 m dpl, 1.500-1.600 m dpl setiap jalur dibuat plot berbentuk vertical dengan panjang 100 m dan lebar 5 m kanan dan 5 m kiri (total lebar 10 meter). Jarak untuk ketinggian yaitu 100 m dpl.Hasil pengamatan dari tiga ketinggian terdapat 24  jenis tumbuhan survival yang terdiri dari 14 familia. Tumbuhan survival dari familia Arecaceae memiliki jenis terbanyak yaitu 6 jenis tumbuhan, familia Moraceae 4 jenis ,familia Myrtaceae dan Zingiberaceae terdapat 2 jenis tumbuhan dan  jenis tumbuhan survival familia Myristicaceae, Salicaceae, Poaceae, Athyriaceae, Begoniaceae, Anacardiaceae, Rosaceae, Cucurbitaceae, Cluciaceaedan Phyllathaceae masing-masing terdapat 1 jenis tumbuhan Kata kunci :Familia, Tumbuhan Survival , Rainforester Lodge Kedah.  Abstract. The ability to survive in the wild is strongly influenced by, among other things, the ability to recognize plants that can be eaten in an emergency (survival foods). Survival plants can be used by humans, especially nature lovers who are climbing if they run out of food. The nature lover community has a lot of knowledge about climbing, such as how to plan a hike, what hazards will occur, and how to deal with them so that they can climb safely and smoothly. The purpose of this study was to determine survival plant species, obtain an Important Value Index (IVI) and diversity index of survival plant species found in the Rainforest Lodge Kedah, Penosan Sepakat Village, Blangjerango District, Gayo Lues Regency. Observation of survival plants was carried out by walking with one experienced climber on climbing routes and research plots. Along the observation path at each altitude, 1 transect was made each at an altitude of 1,300 -1,400 m asl, 1,400 -1,500 m asl, 1,500 -1,600 m asl, each route was made a vertical plot with 100 m long and 5 m wide on the left and 5 m on the right (total width of 10 meters), the distance for the height is 100 meters above sea level. Based on observations from three altitudes, there were 24 species of survival plants consisting of 14 families. Survival plants from the Arecaceae family had the most species, namely 6 species, Moraceae family 4 species, Myrtaceae family 2 species and the remaining families Myristicaceae, Salicaceae, Poaceae, Athyriaceae, Begoniaceae, Anacardiaceae, Rosaceae, Cucurbitaceae, Cluciaceae, and Phyllathaceae each with only 1 species.  Keywords: Family, Plant Survival, Rainforester Lodge Kedah
Persepsi Publik Terhadap Kompleksitas Kewisataan di Kampung Wisata Agusen, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues Sudirman Sudirman; Iqbar Iqbar; Ryan Moulana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.972 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i1.13727

Abstract

Abstrak, Kabupaten Gayo Lues memiliki keanekaragaman objek wisata yang meliputi air terjun, bukit-bukit dan lembah dengan kondisi alam yang masih asri dengan keberadaan hutan yang belum terjamah. Kondisi alam yang indah dan masih asri tersebut dapat dimanfaatkan dalam bentuk pengelolaan ekowisata. Ekowisata merupakan salah satu kegiatan strategis bagi implementasi konservasi sumberdaya alam dan lingkungan. Program ini dapat meningkatkan fungsi ekologi, sosial dan ekonomi masyarakat setempat. Beberapa aktivitas wisata di Gayo Lues yang sudah berjalan dengan arah wisata alam/ ekowisata, diantaranya yaitu Kampung Wisata Agusen. Untuk menjamin keberhasilan program ini maka diperlukan pengelolaan yang berkelanjutan. Oleh karena itu penelitian ini berjtujuan untuk memberikan gambaran kualitas maupun kuantitas dari komleksitas kewisataan di Kampung Wisata Agusen berdasarkan persepsi publik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan tahapan observasi, wawancara, pengisian kuisioner, dan studi kepustakaan. Informan dalam penelitian ini terbagi menjadi tiga kelas yaitu dinas pariwisata, masyarakat setempat dan pengunjung dengan jumlah responden sebanyak 83 responden. Kompleksitas kewisataan di Kampung Wisata Agusen dilihat dari persepsi responden hanya fasilitas dan keramahan masyarakat yang cukup baik, sementara keorganisasian pengelolaan, aksesibilitas dan promosi wisata masih kurang baik dimana dari hasil persentase yang didapat di bawah 50%.Public Perceptions of the Complexity of Tourism in Agusen Tourism Village, Blangkejeren District, Gayo Lues RegencyAbstract, Gayo Lues Regency has a diversity of attractions that include waterfalls, hills and valleys with natural conditions that are still beautiful in the presence of untouched forest. These beautiful and beautiful natural conditions can be utilized in the form of ecotourism management. Ecotourism is one of the strategic activities for the implementation of conservation of natural resources and the environment. This program can improve the ecological, social and economic functions of the local community. Some tourist activities in Gayo Lues that have been going in the direction of nature / ecotourism tourism, including the Agusen Tourism Village. To guarantee the success of this program, sustainable management is needed. Therefore this study aims to provide an overview of the quality and quantity of the tourism complexities in Agusen Tourism Village based on public perception. This study used a descriptive qualitative method with stages of observation, interviews, questionnaire filling, and literature study. The informants in this study were divided into three classes, namely the tourism office, the local community and visitors with 83 respondents. The complexity of tourism in the Agusen Tourism Village can be seen from the respondents' perceptions only that the facilities and hospitality of the community is quite good, while the organizational management, accessibility and promotion of tourism are still not good where the percentage of results obtained is below 50%.
Estimasi Kepadatan Populasi Orangutan Sumatera (Pongo abelii Lesson, 1827) di Kawasan Konservasi Suaka Margasatwa Rawa Singkil (Studi Kasus : Kecamatan Singkil) Azmi Alamsyah Harahap; Erdiansyah Rahmi; Iqbar Iqbar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 4 (2020): November 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.375 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i4.15880

Abstract

Suaka Margasatwa Rawa Singkil (SMRS) yaitu hutan rawa gambut yang terletak Provinsi Aceh. Wilayahnya meliputi tiga kabupaten/kota, yaitu: Kabupaten Aceh Selatan, Aceh Singkil, dan Kota Subulussalam. Tujuan penelitian ini untuk memperkirakan berapa kepadatan populasi orangutan sumatera berdasarkan total sarang yang dijumpai di Suaka Margasatwa Rawa Singkil pada bagian Kecamatan Singkil. Metode yang dipakai pada proses penelitian ini menggunakan cara metode garis transek yang berdasarkan letak posisi sarang dengan panjang jalur 1 km dengan jumlah transek sebanyak 4 transek dan jarak lebar pada sisi kiri dan sisi kanan yaitu 25 m. Antara transek satu dengan yang lain berjarak sejauh 150 m. Kepadatan populasi orangutan sumatera di kawasan Suaka Margasatwa Rawa Singkil pada bagian Kecamatan Singkil adalah 3,4 individu/km² dengan jumlah sarang 27 sarang.
Pengimplementasian SMART Patrol Terhadap Aktivitas Illegal (Pembalakan dan Perambahan) di Kawasan Konservasi Suaka Margasatwa Rawa Singkil Radiana Sofyan; Iqbar Iqbar; Ryan Moulana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 3 (2020): Agustus 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.39 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i3.14843

Abstract

Abstrak. Suaka Margasatwa Rawa Singkil adalah kawasan Konservasi yang ada di Pulau Sumatera Provinsi Aceh dan merupakan habitat bagi orangutan sumatera . Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengimplementasian SMART Patrol oleh resor Rundeng terhadap beberapa aktivitas illegal. Parameter pada penelitian ini adalah pembalakan liar dan perambahan. Pengumpulan data dilakukan dengan  teknik survei, pengambilan data dilakukan dengan mengambil data langsung di lapangan pada bulan Mei, Juni, dan Juli 2019 dan menggunakan data SMART Patrol dari tahun 2016, menggunakan jurnal dan sumber informasi lain yang mendukung penelitian serta menganalisis semua data secara deskriptif.Hasil yang diperoleh dari penelitin ini adalah kegiatan SMART Patrol dapat mendata  aktifitas illegal  di lapangan. SMART menyimpan dan menyajikan data kawasan SM. Rawa Singki. Kedua data yang diamati pada penelitian ini menunjukkan penurunan dari tahun 2016 hingga 2019. Data SMART Patrol digunakan sebagai data base untuk pengelolaan kawasan SM. Rawa Singkil.Pengimplementasian SMART Patrol yang dilakukan di lapangan digunakan untuk pengamanan dan pengelolaan kawasan SM. Rawa Singkil beserta keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. SMART Patrol juga didukung dengan berbagai upaya dan kegiatan lain yaitu dengan sosialisasi dan penyuluhan serta melakukan kerjasama dengan berbagai pihak termasuk dengan menerapkan hukum dan sanksi.Implementation of SMART Patrol on Illegal Logging and Acroachment in the Conservation Area of Singkil Swamp Wildlife ReserveAbstract. Singkil Swamp Wildlife Reserve is a conservation area on the island of Sumatera in Aceh Province an is a habitat for sumatran orangutan. The purpose of the study was to determine the area’s security activities by the Rundeng resort bases SMART Patrol. The parameters in this study are illegal logging and accroachment. Data collection is done by survey technique, data analysis was performed by taking data directly in the field on Mei, Juni and Juli 2019 and using data from 2016, using journal and other source of information that support and analyze all data descriptively.The result obtained from this study are SMART Patrol activities that can record illegal activities in the field. SMART stores and presents data on the Singkil Swamp Wildlife Reserve area. Both data observed in this study show a decrease from 2016 to 2019. SMART Patrol data can be used as a data base for the management of the Singkil Swamp Wildlife Reserve.Implementation of SMART Patrol conducted in the field for the security and management of the Rawa Singkil Swamp Wildlife Reserve area along with bodiversity in it is supported by various efforts and ather unitiatives outside the area, namely through sosialization and counseling and collaborating with various parties including by implementation laws and sanctions.
Perbandingan Cara Penyadapan Pinus di Kabupaten Gayo Lues dengan Prosedur Baku Penyadapan Pinus Matpiah Matpiah; Ryan Moulana; Iqbar Iqbar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 2 (2022): Mei 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.182 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i2.20209

Abstract

Abstrak.Penelitian perbandingan cara penyadapan pinus di Kabupaten Gayo Lues dengan prosedur baku penyadapan pinus bertujuan untuk mengetahui kepatuhan penyadapan pinus di Kabupaten Gayo Lues, dalam menerapkan petunjuk teknis penyadapan pinus yang dikeluarkan oleh Dinas Kehutanan Aceh. Penelitian ini dilaksanakan pada akhir Desember 2018 di hutan pinus alam Kabupaten Gayo Lues dengan menggunakan cuplikan disengaja (purposive sampling) berdasarkan luas sebaran populasi pinus yang sudah dilakukan penyadapan. Kecamatan Blang Jerango, Dabun Gelang, dan Rikit Gaib terpilih sebagai lokasi penelitian untuk pendataan praktik penyadapan pinus. Pendataan jumlah, panjang dan lebar koakan dilakukan pada lima kelas diameter sesuai petunjuk teknis Dinas Kehutanan Aceh yaitu diameter 20-30, 30-41, 41-58, 58-75, dan 75 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cara penyadapan pinus di Kecamatan Blang Jerango, Dabun Gelang, dan Rikit Gaib menunjukkan tingkat kepatuhan yang sangat rendah dengan tingkat kesesuaian rerata 14,8%. Penyadapan pinus di Kecamatan Dabun Gelang menunjukkan tingkat kepatuhan yang sangat rendah dibandingkan dengan Blang Jerango dan Rikit Gaib dengan nilai kepatuhan rerata setiapa Kecamatan tersebut sebesar 5%; 13% dan 32,5%. Oleh karena itu diperlukan pengawasan yang baik untuk dapat mempertahankan hutan pinus yang lestari di Kabupaten Gayo Lues.Kata kunci: Perbandingan, Penyadapan Pinus, Prosedur Baku, Gayo Lues(Comparison of pine tapping methods in Gayo Lues regency with standard pine tapping procedures)Abstract.This comparative study of pine tapping methods in Gayo Lues Regency with standard pine tapping procedures aims to determine the of pine tapping in Gayo Lues regency, in applying technical instruction, pine tapping issued by the Aceh Forestry Service. The study was carried out at the end of December 2018 in the natural pine forest of Gayo Lues regency using purposive sampling based on the distribution area of the population that had been tapped. The districts of Blang Jerango, Dabun Gelang, and Rikit gaib were selected as research locations for data collection on pine tapping practice. Data collections on the number, length and width of quarre system was carried out on five diameter classes according to the technical instructions of the Aceh Forestry service, namely diameter 20-30, 30-41, 41-58, 58-75, and 75 cm. the results showed that the pine tapping method in the Districts of Blang Jerango, Dabun Gelang, and Rikit Gaib showed a very low level of compliance with average conformity level of 14.8%. Among the sub-districts selected as research locations, the data showed that pine tapping in Dabun Gelang district showed a very low level of compliance compared to Blang Jerango and Rikit Gaib with the average compliance value of each sub-district of 5%, 13% and 32,5%, respectively. Therefore, good supervision is needed in the practice of pine tapping to be able to maintain a sustainable pine forest in Gayo Lues Regency. Keywords: Comparison, Pine Tapping, Standard Procedure Gayo Lues
Strategi Pengembangan Kawasan Ekowisata Kedah Kecamatan Blangjerango Kabupaten Gayo Lues Mawardi Mawardi; Ashabul Anhar; Iqbar Iqbar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 6, No 1 (2021): Februari 2021
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.399 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v6i1.16733

Abstract

Abstrak. Pengembangan pariwisata sebagai andalan perekonomian nasional dalam operasionalnya bertumpu pada potensi alam, potensi budaya, dan kehidupan masyarakat di lokasi pengembangan wisata. Penelitian ini betujuan untuk mengetahui kondisi ekowisata Kedah Gayo Lues sebagai kawasan wisata serta mengetahui potensi yang ada di wisata Kedah Gayo Lues, pengembangan ekowisata yang ideal dimasa mendatang dan memformulasikan strategi pengembangan wisata Kedah Gayo Lues sesuai dengan konsep ekowisata. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode Purposive Sampling dengan pengambilan sampel secara sengaja dan didasarkan atas adanya tujuan tertentu. Sampel terpilih merupakan stakeholder yang mempunyai  keterkaitan dengan kawasan ekowisata Kedah.Wawancara dan pengisian kuisioner melibatkan pengelola kawasan ekowisata Kedah, pemerintah, akademisi, pemerintah Desa, masyarakat setempat, pengunjung dan pemandu wisata. Identifikasi faktor internal pengelolaan ekowisata Kedah terdapat permasalahan  pengelolaan yaitu kurangnya dukungan dari pemerintah tentang pengelolaan ekowisata Kedah, belum adanya pengurus yang terstruktur dalam upaya pengembangan wisata Kedah, fasilitas yang belum memadai di wisata Kedah, tidak adanya ciri khas khusus yang dapat menghibur pengunjung seperti kesenian tradisional dan sebagainya, tingkat sumberdaya masyarakat setempat dalam pengembangan wisata Kedah masih tergolong lemah. Abstract. Tourism development as the mainstay of the national economy in its operations rests on natural potential, cultural potential, and community life in tourism development locations. This study aims todetermine the condition of Kedah Gayo Lues ecotourism as a tourist area and to know the potential that exists in Kedah Gayo Lues tourism, to develop ideal ecotourism in the future and to formulate a tourism development strategy for Kedah Gayo Lues according to the ecotourism concept. The method used in this research is purposive sampling method with deliberate sampling and is based on the existence of certain objectives. The selected sample is a stakeholder who has a relationship with the Kedah ecotourism area. Interviews and questionnaires involving the Kedah ecotourism area manager, government, academics, village government, local communities, visitors and tour guides. Identification of internal factors in Kedah ecotourism management, there are management problems, namely the lack of support from the government regarding the management of Kedah ecotourism, the absence of a structured management in efforts to develop Kedah tourism, inadequate facilities in Kedah tourism, the absence of special characteristics that can entertain visitors such as traditional arts and so, the level of local community resources in developing Kedah tourism is still relatively weak.
Keanekaragaman Tumbuhan Pakan dan Tumbuhan Berpotensi Pakan Orangutan Sumatera (Pongo abelii Lesson 1827) Berdasarkan Strata Pertumbuhan Tegakan di Stasiun Penelitian Soraya Kawasan Ekosistem Leuser Intan Regina; Erdiansyah Rahmi; Iqbar Iqbar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 3 (2020): Agustus 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.989 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i3.15046

Abstract

Abstrak. Soraya adalah salah satu stasiun penelitian yang dikelola oleh Forum Konservasi Leuser (FKL) yang berada dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Indeks Nilai Penting (INP) tumbuhan pakan orangutan sumatera berdasarkan strata pertumbuhan tegakan hutan dan  Indeks keanekaragaman tumbuhan pakan orangutan sumatera berdasarkan strata pertumbuhan tegakan hutan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu garis berpetak dibuat memanjang mengikuti jalur yang sudah ada dengan panjang 1000 meter  dengan jarak antar petak contoh 50 m. Petak contoh dibuat sesuai strata pertumbuhan tegakan 2 m x2 m untuk semai, 5 m x 5 m untuk pancang, 10 m x10 m untuk tiang dan 20 m x 20 m untuk pohon dengan jumlah total masing-masing sebanyak 14 petak contoh.  Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi tumbuhan pakan orangutan sumatera berdasarkan strata semai yaitu Artocarpus integer (47,7 %), strata pancang yaitu Cyathocalix sumatranus (32,9) Streblus elongatus (46,5 %) dan strata pohon yaitu Dipterocarpus grandiflorus (57,7 %). Indeks keanekaragaman tumbuhan pakan orangutan sumatera pada strata semai 1,86 (sedang), strata pancang 2,38 (sedang), strata tiang 3,35 (tinggi), strata pohon 2,62 (sedang)Diversity of Sumatran Orangutan Feed Plants (Pongo abelii Lesson 1827) Based on Standing Growth Strata at the Soraya Research Station in the Leuser EcosystemAbstract. Soraya is one of the research stations managed by the Leuser Conservation Forum (FKL) in the Leuser Ecosystem Area (KEL). This study aims to determine the Important Value Index (IVI) of forage plants to feed Sumatran orangutan based on growth strata of forest stands and the diversity index of plant growth of Sumatran orangutan for feed based on strata growth of forest stands. The method used in this study is that the plotted line is made to follow the existing path with a length of 1000 meters with a spacing between 50 m samples according to the growth stratum 2m x2 m for seedlings, 5 m x5 m for saplings, 10 mx10 m for poles and 20 m x 20 m for tree of 14 sample plots. The highest Importance Value Index (IVI) of Sumatran orangutan forage plants is based on the seedling strata, namely Artocarpus integer (47,7%), sapling strata, Cyathocalix sumatranus (32,9) Streblus elongatus (46,5%) and tree strata namely Dipterocarpus grandiflorus (57,7%). Sumatran orangutan food plant diversity index at 1,86 (medium) seedling strata, 2,38 (medium) saplings, 3,35 pole pole strata (high), 2,62 tree strata (medium)
Studi Etnobotani Tumbuhan Obat Di Kecamatan Sawang Kabupaten Aceh Selatan Restika Restika; Gina Erida; Iqbar Iqbar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 8, No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.736 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v8i1.23308

Abstract

Abstrak. Studi etnobotani di Kecamatan Sawang Kabupaten Aceh Selatan bertujuan untuk mengidentifikasi jenis tumbuhan obat serta penyakit apa saja yang dapat diobati dengan tumbuhan obat tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode wawancara yang dilakukan secara semi terstruktur dan terstruktur terhadap responden yang terpilih sebanyak 97 Kepala Keluarga (KK) dari total keseluruhan jumlah KK. Penentuan informan dilakukan dengan menggunakan teknik Snowball sampling yaitu teknik awal yang respondennya diperoleh melalui penelusuran dari sampel pertama ke sampel berikutnya sesuai petunjuk dari sampel pertama. Lokasi penelitian ini terletak di Kecamatan Sawang Kabupaten Aceh Selatan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat Sawang Kabupaten Aceh Selatan sebanyak 94 jenis yang dapat menyembuhkan 31 jenis penyakit. Penyakit tersebut digolongkan ke dalam dua kategori penyakit yaitu penyakit menular sebanyak (34 % ) dan penyakit tidak menular(66 %).Study of Ethnobotany of Medicinal Plants in Sawang District South Aceh RegencyAbstract. The ethnobotanical study in Sawang District, South Aceh Regency aims to identify the types of medicinal plants and what diseases can be treated with these medicinal plants. This research was conducted using the interview method which was carried out in a semi-structured and structured manner to the selected respondents as many as 97 heads of households (KK) from the total number of families. The determination of informants was carried out using the Snowball sampling technique,which is an initial technique in which the respondents were obtained by tracing from the first sample to the next according to the instructions from the first sample. The research location is located in Sawang District, South Aceh Regency. Based on the research results it was found that there were 94 types of medicinal plants used by the people of Sawang, South Aceh Regency, which could cure 31 types of diseases. These diseases are classified into two categories of diseases, namely communicable diseases (34%) and non-communicable diseases (66%). 
Daya Dukung habitat Terhadap Ketersediaan Pakan Gajah Sumatera yang Ditangkarkan di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli Provinsi Sumatera Utara Devi Kristina Br Ginting; Saida Rasnovi; Iqbar Iqbar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 4 (2020): November 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.326 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i4.15717

Abstract

Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK Aek Nauli merupakan salah satu KHDTK yang ditetapkan melalui surat keputusan menteri kehutanan no. 39/Menhut-II/2005, tanggal 7 Februari 2005 dengan luasan 1900 ha. Untuk alokasi habitat gajah sumatera diberikan 100 ha terletak pada ekosistem hutan sekunder. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis pakan gajah sumatera dan menghitung daya dukung habitat terhadap ketersediaan pakan gajah sumatera.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis vegetasi dan menghitung daya dukung habitat. Analisis vegetasi yaitu metode jalur dan garis berpetak (Kusmana 1997, 2006) sebanyak 5 petak contoh diletakkan pada garis transek yang panjangnya 50 m. Jumlah transek untuk analisis vegetasi adalah 2 transek. Ukuran petak contoh untuk setiap strata pertumbuhan adalah semai  2m x 2m, pancang 5m x 5m, dan tiang 10m x 10m.Untuk menghitung daya dukung pakan gajah dilakukan dengan menentukan tumbuhan pakan gajah yang terdapat pada petak pengamatan lalu memilih bagian tumbuhan yang dimakan yang memiliki karateristik jumlah daun, panjang, dan diameter ranting yang relatif sama sebanyak 4-5 ranting contoh dalam satu individu, kemudian memotong contoh daun/ranting pertama untuk ditimbang k, pemotongan kembali contoh daun/ranting kedua dan seterusnya dalam selang waktu 1 minggu dalam 4 minggu. Berdasarkan hasil perhitungan iketahui bahwa daya dukung habitat gajah sumatera di KHDTK Aek Nauli dengan luasan 100 ha  dengan proper use 60%, dan kebutuhan per ekor gajah rata-rata 250 kg/hari adalah1,71ha/ekor/hari.