Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Kajian Konflik Masyarakat dengan Satwa Liar di Desa Ketambe Kabupaten Aceh Tenggara Riska Riska; Misdi Misdi; Iqbar Iqbar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 8, No 2 (2023): Mei 2023
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/jimfp.v8i2.24405

Abstract

Abstrak. Masyarakat Desa Ketambe memiliki lahan yang sempit untuk pemenuhan kebutuhan hidup dan ekonomi keluarga. Lokasi Desa Ketambe berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), sehingga masyarakat sangat berpotensi melakukan kegiatan perambahan dalam usaha meningkatkan pendapatan dengan memperluas lahan garapan khususnya sektor perkebunan. Lokasi perkebunan masyarakat Desa Ketambe yang berbatasan dengan TNGL yang dihuni oleh banyak jenis satwa liar juga berpotensi untuk terjadinya konflik akibat gangguan yang ditimbulkan oleh satwa liar. Oleh karena itu diperlukan penelitian untuk mendapatkan data penyebab terjadinya konflik antara masyarakat dengan satwa liar, bagaimana persepsi masyarakat terhadap konflik tersebut, dan bagaimana karakteristik masyarakat Desa Ketambe Kabupaten Aceh Tenggara.  Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai November 2022 dengan menggunakan metode observasi dan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hampir semua masyarakat mengalami konflik dengan satwa liar. Penyebab terjadi konflik antara masyarakat dengan satwa liar akibat perambahan untuk memperluas kebun, kuranganya pakan satwa liar di dalam hutan  pada musim tertentu, hasil perkebunan masyarakat dapat menjadi pakan kesukaan satwa liar, berubahnya kebiasaan mencari makan di dalam hutan dari satwa liar akibat aktivitas memberi makan oleh manusia yang melintasi jalan negara yang berbatasan dengan TNGL. Masyarakat berpendapat bahwa kerusakan akibat satwa liar tersebut mengakibatkan kurangnya hasil panen, mengalami kerugian bahkan sebagian masyarakat gagal panen. Upaya yang dilakukan masyarakat Desa Ketambe untuk mencegah terjadinya konflik adalah mengusir satwa liar kembali ke habitatnya dengan membuat bunyi-bunyian dari drum bekas, petasan, membuat ular-ularan dari ban bekas, menyediakan anjing penjaga dan mebuat pagar pembatas untuk memberi efek jera terhadap satwa liar agar tidak kembali lagi menganggu tanaman masyarakat.(Study of Community Conflict with Animals in Ketambe Village, Southeast Aceh District)Abstract.  The people of Ketambe Village have limited land to meet their family's economic and subsistence needs.  The location of Ketambe Village is directly adjacent to the Gunung Leuser National Park (TNGL) communities have the potential to carry out encroachment activities in an effort to increase income by expanding arable land, especially the plantation sector.  The location of the community plantations in Ketambe Village, which borders the TNGL which is inhabited by many types of wild animals, also has the potential for conflict due to disturbances caused by wild animals.  Therefore research is needed to obtain data on the causes of conflicts between communities and wild animals, how are people's perceptions of these conflicts, and what are the characteristics of the people of Ketambe Village, Southeast Aceh District.  This research was conducted from May to November 2022 using observation and interview methods.  The results of this study indicate that almost all communities experience conflict with wild animals.  The causes of conflict between communities and wild animals due to encroachment to expand gardens, lack of wild animal feed in the forest in certain seasons, community plantation products can become favorite food for wild animals, changing habits of foraging in the forest of wild animals due to feeding activities by  people crossing state roads bordering TNGL.  The community believes that the damage caused by wild animals results in a lack of crop yields, losses and even some people fail to harvest.  Efforts made by the people of Ketambe Village to prevent conflicts from occurring are, driving wild animals back to their habitat, by making sounds from used drums, firecrackers, making snakes from used tires, providing guard dogs and making guardrails to give a deterrent effect to animals,  wild so as not to return to disturb the community's plants.
Evaluasi Kesesuaian Peruntukan Lahan di Sempadan Sungai Krueng Lamnyong, Provinsi Aceh Dahlan Dahlan; Iqbar Iqbar; Eka Puspita Sari; Nizamuddin Nizamuddin
Rona Teknik Pertanian Vol 14, No 2 (2021): Volume 14, No.2, Oktober 2021
Publisher : Department of Agricultural Engineering, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/rtp.v14i2.23188

Abstract

Abstrak. Sempadan sungai merupakan kawasan penyangga antara ekosistem perairan (sungai) dan daratan. Sungai Krueng Lamnyong terletak di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar yang merupakan daerah hilir dari sungai Krueng Aceh. Sempadan sungai Krueng Lamnyong telah dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk berbagai peruntukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian peruntukan lahan sempadan sungai Krueng Lamnyong berdasarkan peraturan perundang-undangan. Identifikasi serta evaluasi peruntukan lahan di sempadan sungai Krueng Lamnyong menggunakan perangkat lunak Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan sempadan sungai Krueng Lamnyong diperoleh 10 jenis penggunaan lahan. Penggunaan sempadan sungai Krueng Lamnyong yang teridentifikasi sesuai dengan peruntukan yaitu sebesar 110,91 Ha atau 68,13% yang terdiri dari irigasi, jalan, sawah, rerumputan, tanaman palawija dan tanah kosong. Penggunaan yang tidak sesuai peruntukan sebesar 51,88 Ha atau 31,87% yang terdiri dari ruang terbangun, kebun, vegetasi mangrove dan kanopi pohon.Evaluation of Land Use Suitability in Aceh Province's Krueng Lamnyong River BorderAbstract. The river border is a buffer area between aquatic ecosystems (rivers) and land. The Krueng Lamnyong River is located in Banda Aceh City and Aceh Besar District which is the downstream area of the Krueng Aceh river. The Krueng Lamnyong river border has been used by various parties for various purposes.  This study aims to evaluate the suitability of the land use of the Krueng Lamnyong river border based on the legislation. Identification and evaluation of land use in the Krueng Lamnyong river border using Geographic Information System (GIS) software. The results showed that the use of the Krueng Lamnyong river border obtain 10 types of land use. The use of the Krueng Lamnyong river border identified according to its designation is 110.91 Ha or 68.13% consisting of irrigation, roads, rice fields, grass, crops, and vacant land. The use that is not in accordance with the designation is 51.88 Ha or 31.87% consisting of build space, gardens, mangrove vegetation, and tree canopies.
MOLECULAR IDENTIFICATION OF SHOREA JOHORENSIS IN KETAMBE RESEARCH STATION, GUNUNG LEUSER NATIONAL PARK Nir Fathiya; Essy Harnelly; Zairin Thomy; Iqbar Iqbar
Jurnal Natural Volume 18, Number 2, June 2018
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jn.v18i2.10123

Abstract

Shorea johorensis is one of the red meranti plants in Ketambe Research Station, Gunung Leuser National Park, Aceh Tenggara. Currently, Shorea johorensis also is well known as a major source of valuable commercial timber. This research aimed to analyze the phylogenetic of Shorea johorensis based on chloroplast and nuclear DNA in Ketambe Research Station so that it can be known the relationship of Shorea johorensis with other species Dipterocarpaceae in GenBank database. The research was conducted from July 2015 to August 2016 in Ketambe Research Station and Forestry and Forest Genetics Laboratory of Molecular, Bogor Agricultural University. The method used quadrat sampling technique with purposive sampling and experimental laboratory that consisted of DNA extraction, PCR, electrophoresis, and sequencing. The data analysis was done using BioEdit, MEGA6, and BLAST. The results showed that the phylogenetic tree of Shorea johorensis based on the rbcL and matK showed that Shorea johorensis was closely related with some species Hopea; but the phylogenetic tree based on psbA-trnH, 5.8S rRNA, ITS2, and 28S rRNA showed that Shorea johorensis was closely related with Shorea robusta.Keywords: Chloroplast dna, Ketambe Research Station,Nuclear DNA, Shorea johorensis
TREES VEGETATION DIVERSITY IN PT ARUN NGL HOUSING, LHOKSEUMAWE, ACEH PROVINCE Iqbar Iqbar
Jurnal Natural Volume 16, Number 1, March 2016
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jn.v16i1.4359

Abstract

The research about trees vegetation diversity in PT Arun NGL area had been done in December 2012. The objective of the research was to calculate the trees vegetation diversity index. The data had been collected in nine belt transects by length 400 m and  400 m2  (10 m x 40 m) plots  for each belt transect. The collecting data was  including name of species, family, density, frequency and  dominancy.  The data was analyzed to get important value and diversity index. The result showed that there were 39 tree species belongs to 23 families found in the research area.  There were three dominant species namely; Pterocarpus indicus,  Pithecelobium dulce, dan Leucaena leucocephala which had higher important value than others species that lead  influencing the ecosystem. The trees diversity index in this area was about 3,3 which interpreted this area has high diversity index. Moreover, the plants were planted in PT Arun NGL Housing Area have another function as reducing pollutant material in the air.
DAMPAK MEDAN MAGNET PEMBANGUNAN JARINGAN LISTRIK PLTA LUTEUNG 16 MW TERHADAP KESEHATAN MASYARAKAT Syukri, Mahdi; Syukriyadin, Syukriyadin; Alfisyahrin, Alfisyahrin; Siregar, Ramdhan Halid; Iqbar, Iqbar
JPMA - Jurnal Pengabdian Masyarakat As-Salam Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Pengabdian Masyarakat As-Salam (JPMA)
Publisher : Asosiasi Dosen Perguruan Tinggi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37249/jpma.v3i2.693

Abstract

Salah satu tulang punggung penyaluran energi listrik dari pusat pembangkit ke beban adalah jaringan listrik saluran udara tegangan tinggi (SUTT) dan saluran udara tegangan menengah (SUTM). Pembangunan jaringan listrik SUTT dan SUTM tidak luput dari dampak yang ditimbulkan kepada masyarakat akibat adanya paparan medan magnet yang ditimbulkan pada jaringan. Keberadaan pembangunan jaringan SUTT dan SUTM yang menghubungkan jaringan tersebut ke pembangkit listrik tenaga air PLTA Luteung 16 MW menimbulkan kekhawatiran dampak kesehatan kepada masyarakat. Oleh karena itu pelaksanaan pengabdian ini bertujuan untuk melihat potensi medan magnet yang ditimbulkan jaringan SUTT dan SUTM yang melintas di desa Luteung. Dari hasil pengukuran dibawah jaringan SUTT pada koordinat N 04o 52’ 02.49” dan E 96o 05’ 06.15” diperoleh kuat medan magnet sebesar 1.57 ?T dan jaringan SUTM pada koordinat N 04o 52’14.77” dan E 96o 05’ 11.34” diperoleh kuat medan magnet sebesar 0 ?T. Berdasarkan Standar Nasional Indonesia SNI 04-6950-2003 dapat disimpulkan kuat medan magnet yang terukur masih dibawah ambang batas 25 mT sehingga dapat dinyatakan bahwa medan  magnet yang ditimbulkan  pada SUTT dan SUTM yang melintas di desa Luteung masih dalam taraf aman bagi kesehatan masyarakat Luteung.
Studi Etnofarmakologi Tumbuhan Aren (Arenga Pinnata (Wurmb.) Merr.) oleh Masyarakat Lokal Kabupaten Aceh Tengah Itawarnemi, Hilmina; Iqbar, Iqbar; Masykur, Masykur
Biosfer : Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi Vol. 10 No. 1 (2025): BIOSFER: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP Unpas,

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/biosfer.v10i1.24071

Abstract

Tumbuhan Aren (Arenga Pinnata (Wurmb. Merr) memiliki aktifitas farmakologis dan telah dimanfaatkan sebagai obat diberbagai daerah dengan cara yang beragam. Masyarakat di Kabupaten Aceh Tengah sudah sejak lama memanfaatkan aren sebagai obat tradisional, namun pengetahuan mengenai kegunaannya sebagai obat belum terdokumentasi dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang kegunaan tumbuhan aren sebagai obat oleh masyarakat lokal. Penentuan Lokasi penelitian dan responden dilakukan secara Purposive Sampling, sedangkan untuk kajian etnofarmakologi menggunakan Metode Participatory Rural Appraisal (PRA). Masyarakat Kabupaten Aceh Tengah memanfaatkan tumbuhan aren sebagai sumber obat-obatan untuk menyembuhkan 31 jenis penyakit. Selain penggunaan tujuh bagian tumbuhan, hasil produksi tumbuhan aren seperti air nira dan gula aren juga berkhasiat obat. Bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan adalah buah (33,52%), sedangkan untuk hasil produksinya adalah air nira (64,29%).  Teknik pengolahan tumbuhan aren sebagai obat paling banyak digunakan dengan cara direbus (16 penyakit). Cara penggunaan tumbuhan aren paling banyak dikonsumsi secara oral. Tumbuhan aren di kabupaten ini merupakan tumbuhan liar yang populasinya saat ini menurun drastis akibat ditebang (61,73%) dan serangan beruang (38,27%).