Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Academic Resilience of Students with Disabilities in Higher Education: The Role of Peer Relationships and Academic Self-Efficacy Jannah, Miftachul; Yulina Eva Riany; Melly Latifah
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 10 No. 01 (2026): January 2026, G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/g-couns.v10i01.8131

Abstract

Access to higher education for students with disabilities is increasing, yet they still face challenges that impact their psychological well-being and academic performance. This study aims to analyze the role of peer relationships and academic self-efficacy on the academic resilience of students with disabilities in higher education. Using a quantitative method and voluntary sampling, 155 students with visual, hearing, and physical-motor impairments participated in an online survey from February to May 2025. Results show that while most students had positive peer relationships, these did not significantly impact academic resilience. However, academic self-efficacy had a significant positive effect on academic resilience. Peer relationships and academic self-efficacy significantly influenced academic resilience (p < 0.05). These findings highlight the key role of academic self-efficacy in promoting resilience and academic success among students with disabilities in higher education settings. Keywords: Academic resilience, peer relationships, academic self-efficacy, student with disability
THE DESCRIPTION OF HUSBAND-AND-WIFE INTERACTION IN YOUNG FAMILIES WITH TODDLER IN BOGOR DIOCESE Fransiska Harsyanthi; Tin Herawati; Yulina Eva Riany
Journal of Social and Economics Research Vol 6 No 1 (2024): JSER, June 2024
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v6i1.450

Abstract

Perkawinan sejatinya interaksi antar dua individu, yaitu suami istri. Interaksi antar suami istri diperlukan untuk menyesuaikan peran dan menjalankan tanggung jawab dalam keluarga (Puspitawati 2019). Dalam perkawinan terjadi banyak perubahan, salah satunya perubahan menjadi orang tua setelah kehadiran anak. Penelitian sebelumnya memaparkan bahwa perubahan pasangan menjadi orang tua berdampak pada relasi perkawinan (Lawrence et al. 2008; Doss et al. 2009; Mitnick et al. 2009). Penelitian ini bertujuan memaparkan gambaran interaksi suami istri pada keluarga muda yang memiliki anak balita di Keuskupan Bogor. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian fenomenologis dengan teknik purposive sampling. Responden dalam penelitian ini adalah para ibu yang menikah secara Katolik dengan usia perkawinan lima tahun ke bawah, memiliki anak balita dan tinggal di wilayah Keuskupan Bogor. Pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara semi terstruktur. Hasil dalam penelitian ini menunjukan bahwa terjadi perubahan interaksi suami istri pada keluarga muda yang memiliki anak balita.
ANALISIS RIWAYAT PENGASUHAN PADA TINGKAT POSTTRAUMATIC GROWTH BERBEDA PADA DEWASA MUDA SETELAH TERINFEKSI COVID-19: Analysis of Parenting History on Different Levels of Posttraumatic Growth in Young Adult After Covid-19 Infection Dwi Hastuti; Yulina Eva Riany; Mustamin, Syarifa Nadhrah
Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen Vol. 16 No. 3 (2023): JURNAL ILMU KELUARGA DAN KONSUMEN 16.3
Publisher : Department of Family and Consumer Sciences, Faculty of Human Ecology, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24156/jikk.2023.16.3.249

Abstract

Pandemi Covid-19 memberikan ancaman serius bagi kondisi kesehatan mental pada kelompok dewasa muda, dalam hal ini riwayat pengasuhan diyakini mampu menjelaskan apakah seseorang jadi terpuruk atau justru bertumbuh menjadi pribadi lebih baik, setelah menghadapi situasi krisis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis riwayat pengasuhan ditinjau dari tingkat posttraumatic growth (PTG) pada dewasa muda setelah terinfeksi Covid-19. Desain mixed method digunakan dengan melakukan pengisian kuisioner Posttraumatic Growth Inventory (PTGI) α=0,971 dan wawancara semi terstruktur terkait riwayat pengasuhan. Diperoleh 204 responden yang berpartisipasi mengisi kuisioner, untuk selanjutnya dipilih masing-masing 4 responden dengan skor PTG relatif tinggi dan rendah untuk diwawancarai lebih lanjut. Hasil analisis deskriptif menemukan bahwa responden rata-rata memiliki skor total PTG yang tinggi (M = 77,02; SD = 15,87). Dari lima dimensi PTG, apresiasi hidup menunjukkan skor paling tinggi (M = 81,09; SD = 17,05) dialami oleh para responden setelah terinfeksi Covid-19 dibandingkan dimensi lainnya. Hasil analisis data kualitatif menggunakan Nvivo-12 mengindikasikan bahwa terdapat pola riwayat pengasuhan yang cenderung berbeda dihayati oleh kelompok responden dengan PTG tinggi dan rendah. Temuan ini dapat menjadi rujukan dalam praktek pengasuhan anak untuk menciptakan individu yang lebih tangguh di masa dewasa.
Menguatkan Peran Ayah dalam Pengasuhan: Urgensi Kebijakan Kelembagaan untuk Mendukung Keterlibatan Ayah Yulina Eva Riany; Maulana Achsan Al Farisi; Pintauli Romangasi Siregar; Adam Sugiharto; Rosintha Doris Berlian; Dina Tri Septianti Harahap
Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika Vol. 7 No. 3 (2025): Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika
Publisher : Direktorat Kajian Strategis dan Reputasi Akademik IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agro-maritim.0703.1378-1383

Abstract

Kebijakan pengasuhan anak di Indonesia masih cenderung menempatkan ibu sebagai pengasuh utama, sementara peran ayah belum mendapat dukungan kelembagaan yang memadai. Data menunjukkan hanya 37,17% anak usia 0–5 tahun diasuh langsung oleh kedua orang tua, dan 1 dari 3 remaja menghadapi masalah kesehatan mental, kondisi yang diperburuk oleh minimnya keterlibatan ayah. Untuk itu, diperlukan kebijakan afirmatif berupa perluasan cuti ayah, layanan pengasuhan yang inklusif, serta program berbasis komunitas yang mendukung kehadiran fisik dan emosional ayah dalam pengasuhan.