Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

THE DESCRIPTION OF HUSBAND-AND-WIFE INTERACTION IN YOUNG FAMILIES WITH TODDLER IN BOGOR DIOCESE Fransiska Harsyanthi; Tin Herawati; Yulina Eva Riany
Journal of Social and Economics Research Vol 6 No 1 (2024): JSER, June 2024
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v6i1.450

Abstract

Perkawinan sejatinya interaksi antar dua individu, yaitu suami istri. Interaksi antar suami istri diperlukan untuk menyesuaikan peran dan menjalankan tanggung jawab dalam keluarga (Puspitawati 2019). Dalam perkawinan terjadi banyak perubahan, salah satunya perubahan menjadi orang tua setelah kehadiran anak. Penelitian sebelumnya memaparkan bahwa perubahan pasangan menjadi orang tua berdampak pada relasi perkawinan (Lawrence et al. 2008; Doss et al. 2009; Mitnick et al. 2009). Penelitian ini bertujuan memaparkan gambaran interaksi suami istri pada keluarga muda yang memiliki anak balita di Keuskupan Bogor. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian fenomenologis dengan teknik purposive sampling. Responden dalam penelitian ini adalah para ibu yang menikah secara Katolik dengan usia perkawinan lima tahun ke bawah, memiliki anak balita dan tinggal di wilayah Keuskupan Bogor. Pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara semi terstruktur. Hasil dalam penelitian ini menunjukan bahwa terjadi perubahan interaksi suami istri pada keluarga muda yang memiliki anak balita.
ANALISIS RIWAYAT PENGASUHAN PADA TINGKAT POSTTRAUMATIC GROWTH BERBEDA PADA DEWASA MUDA SETELAH TERINFEKSI COVID-19: Analysis of Parenting History on Different Levels of Posttraumatic Growth in Young Adult After Covid-19 Infection Dwi Hastuti; Yulina Eva Riany; Mustamin, Syarifa Nadhrah
Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen Vol. 16 No. 3 (2023): JURNAL ILMU KELUARGA DAN KONSUMEN 16.3
Publisher : Department of Family and Consumer Sciences, Faculty of Human Ecology, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24156/jikk.2023.16.3.249

Abstract

Pandemi Covid-19 memberikan ancaman serius bagi kondisi kesehatan mental pada kelompok dewasa muda, dalam hal ini riwayat pengasuhan diyakini mampu menjelaskan apakah seseorang jadi terpuruk atau justru bertumbuh menjadi pribadi lebih baik, setelah menghadapi situasi krisis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis riwayat pengasuhan ditinjau dari tingkat posttraumatic growth (PTG) pada dewasa muda setelah terinfeksi Covid-19. Desain mixed method digunakan dengan melakukan pengisian kuisioner Posttraumatic Growth Inventory (PTGI) α=0,971 dan wawancara semi terstruktur terkait riwayat pengasuhan. Diperoleh 204 responden yang berpartisipasi mengisi kuisioner, untuk selanjutnya dipilih masing-masing 4 responden dengan skor PTG relatif tinggi dan rendah untuk diwawancarai lebih lanjut. Hasil analisis deskriptif menemukan bahwa responden rata-rata memiliki skor total PTG yang tinggi (M = 77,02; SD = 15,87). Dari lima dimensi PTG, apresiasi hidup menunjukkan skor paling tinggi (M = 81,09; SD = 17,05) dialami oleh para responden setelah terinfeksi Covid-19 dibandingkan dimensi lainnya. Hasil analisis data kualitatif menggunakan Nvivo-12 mengindikasikan bahwa terdapat pola riwayat pengasuhan yang cenderung berbeda dihayati oleh kelompok responden dengan PTG tinggi dan rendah. Temuan ini dapat menjadi rujukan dalam praktek pengasuhan anak untuk menciptakan individu yang lebih tangguh di masa dewasa.
Menguatkan Peran Ayah dalam Pengasuhan: Urgensi Kebijakan Kelembagaan untuk Mendukung Keterlibatan Ayah Yulina Eva Riany; Maulana Achsan Al Farisi; Pintauli Romangasi Siregar; Adam Sugiharto; Rosintha Doris Berlian; Dina Tri Septianti Harahap
Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika Vol. 7 No. 3 (2025): Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika
Publisher : Direktorat Kajian Strategis dan Reputasi Akademik IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agro-maritim.0703.1378-1383

Abstract

Kebijakan pengasuhan anak di Indonesia masih cenderung menempatkan ibu sebagai pengasuh utama, sementara peran ayah belum mendapat dukungan kelembagaan yang memadai. Data menunjukkan hanya 37,17% anak usia 0–5 tahun diasuh langsung oleh kedua orang tua, dan 1 dari 3 remaja menghadapi masalah kesehatan mental, kondisi yang diperburuk oleh minimnya keterlibatan ayah. Untuk itu, diperlukan kebijakan afirmatif berupa perluasan cuti ayah, layanan pengasuhan yang inklusif, serta program berbasis komunitas yang mendukung kehadiran fisik dan emosional ayah dalam pengasuhan.
Pengaruh Pola Asuh Afeksi dan Kualitas Emotional Bonding Ibu terhadap Perkembangan Anak Usia 3-4 Tahun Siti Sekar Ayu Fadillah; Zazirah S; Eva Fitria Yulianty; Yulina Eva Riany
Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 8 No. 4 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/obsesi.v8i4.5833

Abstract

Kemampuan anak untuk mengenali dan mengelola emosi dengan baik dapat berdampak positif pada kesejahteraan mental, psikososial dan hubungan interpersonal yang sehat. Psikososial anak adalah kegiatan merangsang kemampuan dasar anak dalam bentuk bermain, yang dilakukan oleh pengasuh utamanya,  penelitian terdahulu (Sukmawati, 2020) menyatakan ada pengaruh yang signifikan pemberian stimulasi psikososial terhadap perkembangan motorik kasar. Tujuan pada penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pola asuh afeksi dan kualitas emotional bonding ibu terhadap perkembangan anak usia 3-4 tahun. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan melakukan sebar angket melalui google form kepada responden. Penelitian ini melibatkan 50 responden di Kota Bogor yang dilakukan pada 08 November-14 November 2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pengasuhan afeksi tidak berdampak pada perkembangan anak usia dini. Hal ini membuktikan bahwa pengasuhan afeksi tidak memiliki pengaruh pada kecerdasan motorik halus, kasar dan komunikasi aktif-pasif pada anak.
PENGALAMAN KELUARGA PENERIMA MANFAAT (KPM) DALAM MENAVIGASI KEMANDIRIAN SOSIAL EKONOMI MELALUI PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH) Sri Rahayu Ningsih; Wahyuni Ilhamis Sholihah; Indi Ayu Maretia; Yulina Eva Riany
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 14 No. 1 (2025): Empati Edisi Juni 2025
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v14i1.47931

Abstract

Abstract. The Family Hope Program (PKH) is a conditional social assistance program launched by the Indonesian government to support underprivileged families through cash transfers directed at improving access to education, health, and the economy. In 2020, the government allocated IDR 36.9 trillion in funds for 10 million recipient families as part of a strategy to accelerate poverty alleviation. However, in practice, some families remain recipients for years without experiencing significant improvements in their social and economic conditions. Using a phenomenological approach, this study involved six informants selected through purposive sampling based on inclusion criteria. The results show that KPM's understanding of the Family Hope Program (PKH) is generally functional, with a focus on children's educational needs. In the aspect of socio-economic independence related to irregular income, lack of access to productive businesses, increased social participation and interaction, the dynamics of social stigma, the strategic role of assistants, social solidarity, and changes in social identity and self-confidence. Socio-economic challenges, self-awareness and empathy values, the role of assistants, structural limitations of the program, as well as family and neighborhood support.  Keyword: Beneficiary families, phenomenological approach, family hope program, poverty reduction, socio-economic self-sufficiency. Abstrak. Program Keluarga Harapan (PKH) merupakan program bantuan sosial bersyarat yang diluncurkan oleh pemerintah Indonesia untuk mendukung keluarga prasejahtera melalui transfer tunai yang diarahkan pada peningkatan akses pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Pada tahun 2020, pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp36,9 triliun bagi 10 juta keluarga penerima, sebagai bagian dari strategi percepatan pengentasan kemiskinan. Namun, dalam praktiknya, sebagian keluarga masih tetap menjadi penerima bantuan selama bertahun-tahun tanpa mengalami peningkatan signifikan dalam kondisi social dan ekonomi mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman hidup Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dalam proses menuju kemandirian sosial-ekonomi Dengan menggunakan pendekatan fenomenologis, penelitian ini melibatkan enam informan yang dipilih melalui purposive sampling berdasarkan kriteria inkulsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman KPM terhadap Program Keluarga Harapan (PKH) umumnya bersifat fungsional, dengan fokus pada kebutuhan pendidikan anak. Pada aspek kemandirian sosial ekonomi terkait dengan penghasilan tidak tetap, minimnya akses terhadap usaha produktif, peningkatan partisipasi dan interaksi sosial, dinamika stigma sosial, peran strategis pendamping, solidaritas sosial, serta perubahan identitas sosial dan kepercayaan diri. Tantangan sosial ekonomi, kesadaran diri dan nilai empati, peran pendamping, keterbatasan struktural program, serta dukungan keluarga dan lingkungan dapat menjadi faktor pendorong dan penghambat bagi KPM untuk graduasi mandiri. Kata Kunci: Bantuan sosial, KPM, studi fenomenologi, kemandirian sosial ekonomi, Program Keluarga Harapan (PKH).
Exploring the Influence of Parental Interaction on Consumptive Behavior: The Mediating Role of Self-Control Among Santri Maulana Achsan Al Farisi; Yulina Eva Riany; Lilik Noor Yuliati
Jurnal Pendidikan Islam Indonesia Vol. 10 No. 1 (2025)
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Ibrahimy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Santri in Islamic boarding schools (pesantren) are expected to uphold values of simplicity and self-discipline. However, increasing exposure to consumerist culture has challenged these ideals, leading to a rise in consumptive behavior among santri-college students. This study investigates how parental interaction influences consumptive behavior, with self-control acting as a mediating factor. Grounded in a quantitative approach, the study involved 237 santri aged 18–23 years in Yogyakarta, selected through Cluster Random Sampling and refined via Purposive Sampling based on defined criteria. Validated instruments were used to measure parental interaction (Cronbach’s Alpha = 0.85), self-control (α = 0.85), and consumptive behavior (α = 0.96). Data analysis using Structural Equation Modeling (SEM) revealed that while parental interaction does not directly reduce consumptive behavior (p = 0.080), it significantly enhances self-control (p < 0.001), which in turn negatively correlates with consumptive behavior (p < 0.001). These findings underscore the critical role of self-control as a mediator and suggest that strengthening parental interaction may indirectly reduce consumptive tendencies. This research contributes to educational and psychological strategies that support the development of financially wise, disciplined santri aligned with pesantren values.
Exploring the Influence of Parental Interaction on Consumptive Behavior: The Mediating Role of Self-Control Among Santri Maulana Achsan Al Farisi; Yulina Eva Riany; Lilik Noor Yuliati
Jurnal Pendidikan Islam Indonesia Vol. 10 No. 1 (2025)
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Ibrahimy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Santri in Islamic boarding schools (pesantren) are expected to uphold values of simplicity and self-discipline. However, increasing exposure to consumerist culture has challenged these ideals, leading to a rise in consumptive behavior among santri-college students. This study investigates how parental interaction influences consumptive behavior, with self-control acting as a mediating factor. Grounded in a quantitative approach, the study involved 237 santri aged 18–23 years in Yogyakarta, selected through Cluster Random Sampling and refined via Purposive Sampling based on defined criteria. Validated instruments were used to measure parental interaction (Cronbach’s Alpha = 0.85), self-control (α = 0.85), and consumptive behavior (α = 0.96). Data analysis using Structural Equation Modeling (SEM) revealed that while parental interaction does not directly reduce consumptive behavior (p = 0.080), it significantly enhances self-control (p < 0.001), which in turn negatively correlates with consumptive behavior (p < 0.001). These findings underscore the critical role of self-control as a mediator and suggest that strengthening parental interaction may indirectly reduce consumptive tendencies. This research contributes to educational and psychological strategies that support the development of financially wise, disciplined santri aligned with pesantren values.