Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search
Journal : Journal of Innovative and Creativity

Metode Belajar Halaqah Dan Sorogan: Relevansi Penggunaannya Di Pondok Pesantren Erly Zahara; Titi Oktarina Sambadha; Uswatun Hasanah
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5474

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relevansi metode belajar halaqah dan sorogan dalam dunia pendidikan pondok pesantren di era modern. Kedua metode tersebut merupakan sistem pembelajaran tradisional yang telah menjadi fondasi utama pendidikan Islam di Indonesia selama berabad-abad. Namun, perkembangan teknologi dan globalisasi pendidikan menuntut pesantren untuk beradaptasi tanpa kehilangan identitas keilmuannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan sumber data sekunder yang dikumpulkan dari berbagai publikasi daring, termasuk artikel ilmiah, laporan berita, dan brosur pondok pesantren yang aktif mengimplementasikan pembelajaran berbasis tradisi di era digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode halaqah dan sorogan tetap memiliki relevansi tinggi dalam proses pembelajaran di pesantren, karena keduanya tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer ilmu, tetapi juga sebagai media pembentukan karakter, kedisiplinan, dan spiritualitas santri. Metode halaqah memberikan ruang bagi santri untuk berpartisipasi aktif dalam diskusi ilmiah yang menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, sedangkan metode sorogan menekankan kedekatan personal antara guru dan murid, yang memperkuat nilai tanggung jawab dan kejujuran akademik. Adaptasi metode tradisional dengan teknologi juga telah terjadi di berbagai pesantren. Sejumlah lembaga pendidikan Islam kini menerapkan halaqah online atau sorogan daring menggunakan platform digital seperti Zoom dan Google Meet, tanpa mengurangi nilai-nilai adab dan sanad keilmuan. Dengan demikian, tradisi pendidikan pesantren terbukti memiliki fleksibilitas tinggi dan dapat disinergikan dengan paradigma pendidikan abad ke-21 yang berbasis kolaborasi dan literasi digital. Penelitian ini berkontribusi terhadap pengembangan teori pendidikan Islam dengan menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya bergantung pada inovasi teknologi, tetapi juga pada kemampuan mempertahankan nilai-nilai fundamental dalam proses belajar mengajar. Temuan ini merekomendasikan agar pesantren terus mengintegrasikan metode tradisional dengan pendekatan modern untuk memastikan keberlanjutan nilai-nilai keilmuan Islam di tengah perubahan zaman.
Kebiasaan Bicara Kotor “Carut” di SDN 21 Talang Ubi Tinjauan Qs. Al-ahzab: 70 Sepriyansyah Sepriyansyah; Ziaulhak Ziaulhak; Uswatun Hasanah
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5571

Abstract

Kebiasaan bicara kotor “carut” di kalangan siswa Sekolah Dasar merupakan fenomena yang meresahkan dan memerlukan kajian mendalam, khususnya mengingat potensinya dalam membentuk karakter dan etika komunikasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif dampak kebiasaan bicara kotor “carut” di lingkungan SDN 21 Talang Ubi dan mengkaji relevansinya dengan peringatan Al-Qur'an tentang menjaga lisan, khususnya Surah Al-Ahzab ayat 70 yang menekankan pentingnya ucapan yang benar dan baik (qaulan sadida). Metode yang digunakan adalah studi kasus kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan guru, kepala sekolah, siswa terpilih, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan bicara kotor “carut” di SDN 21 Talang Ubi memiliki dampak yang signifikan dan multidimensi. Dampak utama meliputi: 1) Dampak Psikologis dan Sosial pada siswa, seperti menciptakan lingkungan yang kurang nyaman, memicu perundungan verbal, dan merusak hubungan interpersonal antar teman sebaya; 2) Dampak Edukatif dan Kultural yang mengganggu proses belajar mengmengajar, meruntuhkan nilai-nilai kesopanan, dan mencoreng citra sekolah; 3) Dampak Religius dan Moral yang kontradiktif dengan ajaran agama, khususnya nilai-nilai Islami yang menjunjung tinggi kebersihan lisan. Fenomena ini muncul akibat berbagai faktor, termasuk imitasi dari lingkungan rumah dan media sosial, kurangnya pengawasan, serta pemahaman moral dan agama yang belum matang. Relevansi temuan ini dengan peringatan Al-Qur'an sangat erat. Surah Al-Ahzab ayat 70 menjadi landasan normatif yang kuat bahwa menjaga lisan adalah perintah agama. Kebiasaan bicara kotor “carut” secara langsung melanggar prinsip qaulan sadida (perkataan yang benar dan lurus) dan berpotensi menimbulkan kerugian di dunia maupun akhirat. Penelitian ini merekomendasikan perlunya integrasi pendidikan karakter dan nilai-nilai keagamaan tentang etika berbicara secara lebih intensif dalam kurikulum sekolah, penguatan peran guru sebagai teladan, serta kolaborasi antara sekolah dan orang tua dalam pengawasan dan pembinaan moral siswa. Kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis dan praktis bagi upaya pencegahan dan penanggulangan perilaku verbal negatif di lingkungan pendidikan dasar.
Mengelola Risiko Dan Etika Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) Dalam Pembelajaran Di Sekolah Dasar Lasni Sutri; Siti Sumartini; Uswatun Hasanah
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5692

Abstract

Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan dasar semakin meningkat seiring perkembangan teknologi digital dan kebutuhan akan pembelajaran yang adaptif. AI mampu membantu guru menganalisis capaian belajar siswa dan mengoptimalkan administrasi pembelajaran. Namun, adopsi AI yang masif pasca-pandemi menciptakan kesenjangan kritis: belum adanya kerangka kerja yang komprehensif untuk mengelola risiko teknologis (privasi data, bias algoritmik) sekaligus menjamin prinsip etika (transparansi, akuntabilitas, kemanusiaan) dalam konteks perkembangan moral dan kognitif anak usia sekolah dasar. Artikel ini bertujuan untuk menjembatani kesenjangan tersebut dengan menyajikan Model Konseptual Etika-Risiko AI Sekolah Dasar (ERAI-SD). Penelitian konseptual-kualitatif ini menggunakan studi pustaka kritis yang mengacu pada berbagai literatur ilmiah tiga tahun terakhir dan menganalisis regulasi etika AI global (UNESCO) dan nasional (UU PDP No. 27 Tahun 2022). Temuan utama mengidentifikasi dan memetakan tiga risiko yang paling kritis dalam implementasi AI di SD Indonesia: (1) Risiko pelanggaran UU Perlindungan Data Pribadi (PDP) karena kerentanan data pribadi siswa, (2) risiko bias algoritmik yang dapat menimbulkan ketidakadilan dalam rekomendasi pembelajaran, dan (3) risiko dehumanisasi pendidikan akibat potensi melemahnya interaksi manusiawi antara guru dan siswa. Sebagai kontribusi utama, artikel ini menyajikan Model ERAI-SD yang mengintegrasikan tiga dimensi pengelolaan: Teknis (keamanan data), Etis (transparansi, keadilan, akuntabilitas), dan Pedagogis (penguatan peran guru dan pembentukan karakter digital). Model ini menjadi dasar strategis bagi sekolah untuk menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) Etika AI internal dan pelatihan guru guna menjamin integrasi AI yang aman dan beradab.
Pengaruh Interaksi Parasosial Dengan Influencer Islami Terhadap Perilaku Belajar Siswa: Perspektif Manajemen Pendidikan Islam Hendri Purnama Sari; Tati Lasmita; Uswatun Hasanah
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5700

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh interaksi parasosial dengan influencer Islami terhadap perilaku belajar siswa dalam konteks pendidikan Islam. Interaksi parasosial merujuk pada hubungan satu arah yang terjadi antara siswa dan figur publik, dalam hal ini influencer Islami, melalui media sosial. Influencer Islami memainkan peran penting dalam membentuk motivasi belajar, karakter, dan pengetahuan siswa melalui konten edukatif yang mereka bagikan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif, dimana data diperoleh melalui wawancara mendalam dan kuesioner yang disebarkan kepada siswa yang mengikuti influencer Islami di media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi parasosial dengan influencer Islami berpengaruh positif terhadap perilaku belajar siswa. Siswa yang mengikuti influencer Islami cenderung memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi, meningkatkan disiplin dalam mengatur waktu belajar, serta lebih terbuka terhadap metode pembelajaran berbasis teknologi. Selain itu, influencer Islami juga berperan dalam menanamkan nilai-nilai Islami seperti disiplin, tanggung jawab, dan kejujuran, yang turut membentuk karakter siswa. Konten Islami yang disampaikan oleh influencer juga membantu siswa memperluas pengetahuan agama mereka dan melihat pendidikan sebagai bagian dari perjalanan spiritual yang lebih besar. Namun, terdapat tantangan dalam mengelola pengaruh ini, terutama terkait dengan kualitas konten yang tidak selalu sesuai dengan ajaran Islam yang benar dan potensi distraksi dari konten lain yang tidak relevan. Untuk memaksimalkan dampak positif, manajemen pendidikan Islam perlu mengembangkan kebijakan yang mendukung penggunaan media sosial secara bijak, serta meningkatkan literasi digital siswa dan orang tua agar dapat memilih konten yang bermanfaat.
Gaya Kepemimpinan Digital Walikota Palembang Dalam Perspektif Transformational Digital Leadership Indra Mukti Abam; Arin Wibowo; Uswatun Hasanah
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5707

Abstract

Transformasi digital telah mengubah secara signifikan pola kepemimpinan kepala daerah, khususnya dalam cara pemimpin berinteraksi dengan masyarakat dan mengelola pelayanan publik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gaya kepemimpinan digital Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, dengan menggunakan perspektif Digital Transformational Leadership. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui analisis konten media sosial Wali Kota Palembang (Instagram, Facebook, TikTok) dalam periode Oktober–November 2025, dilengkapi dengan studi dokumentasi kebijakan daerah dan pemberitaan daring. Teknik analisis data merujuk pada model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, kategorisasi, penyajian data, serta verifikasi melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan Ratu Dewa mencerminkan karakter pemimpin transformasional digital yang ditandai oleh keterbukaan informasi, komunikasi horizontal, kolaborasi publik, dan penggunaan media sosial sebagai sarana kontrol birokrasi serta partisipasi warga. Namun demikian, praktik kepemimpinan digital juga menghadapi tantangan berupa hoaks, bias citra politik, dan disparitas literasi digital masyarakat. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa kepemimpinan digital bukan sekadar aktivitas publikasi visual, melainkan membentuk pola baru tata kelola pemerintahan berbasis interaksi dan transparansi.
Efektivitas Pencegahan Bullying Dengan Pendekatan Al-Qur’an Surat Al-Hujurat Ayat 11 Pada Siswa MTsN 1 Palembang Else Meina; Ida Fitri; Uswatun Hasanah
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5774

Abstract

Artikel ini mengkaji efektivitas pencegahan bullying berbasis nilai QS. Al-Hujurat ayat 11 di MTsN 1 Palembang. QS. Al-Hujurat ayat 11 mengajarkan pentingnya menjaga kehormatan dan tidak merendahkan sesama, yang merupakan prinsip dasar dalam upaya mengurangi perilaku bullying. Dalam konteks pencegahan bullying, prinsip ini sangat relevan karena bullying sering kali berakar pada perilaku merendahkan, mengejek, dan menyakiti perasaan orang lain, baik secara fisik, verbal, sosial maupun cyberbullying. Metodologi penelitian dalam artikel ini adalah penelitian kualitatif, penelitian ini mengintegrasikan pendekatan tafsir tematik dan studi kasus guna menemukan indikator perubahan perilaku siswa setelah penerapan program religius. Data dikumpulkan melalui sumber data yang diperoleh dari kajian literatur, tafsir QS. Al-Hujurat ayat 11, teori bullying modern, teori perkembangan dan sosial serta artikel terkait. Wawancara mendalam dan observasi partisipatif juga dilaksanakan di lingkungan MTsN 1 Palembang. Wawancara dilakukan dengan siswa, guru, dan orang tua untuk menggali perspektif mereka mengenai penerapan ajaran QS. Al-Hujurat ayat 11 dalam kehidupan sehari-hari dan pengaruhnya terhadap perilaku bullying. Observasi partisipatif dilakukan untuk melihat secara langsung interaksi sosial yang terjadi di sekolah, serta bagaimana nilai-nilai dalam ayat tersebut diterapkan dalam menghindari bullying. Efektivitas diukur dengan mengamati penurunan kasus bullying, perubahan sikap siswa, serta evaluasi persepsi guru dan orang tua. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan laporan kasus bullying sebesar 73% dalam empat bulan, serta peningkatan sikap saling menghormati antar siswa menurut survei dan wawancara. Temuan ini memperlihatkan bahwa pendekatan QS. Al-Hujurat ayat 11 efektif sebagai landasan pencegahan bullying dalam konteks pendidikan keagamaan, sosial dan perkembangan moral siswa.
PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DALAM MENGHADAPI LEDAKAN KONTEN VIRAL PADA PESERTA DIDIK SEKOLAH DASAR DI ERA DIGITAL Ranita Ranita; Firda Fadila Ghassani; Uswatun Hasanah
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5881

Abstract

Era digital telah memunculkan ledakan konten viral yang berdampak signifikan terhadap perilaku, penalaran moral, dan karakter peserta didik sekolah dasar. Fenomena ini tidak hanya mencerminkan perkembangan teknologi komunikasi, tetapi juga menunjukkan adanya krisis nilai dalam cara anak-anak memahami dan menilai informasi yang mereka konsumsi. Paparan konten viral yang bersifat sensasional, emosional, dan mudah disebarkan tanpa filter etis telah menimbulkan berbagai konsekuensi sosial dan psikologis bagi peserta didik, termasuk penurunan empati, perilaku imitasi negatif, dan disorientasi nilai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara sistematis peran guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam menghadapi fenomena konten viral dan bagaimana nilai-nilai Islam dapat diintegrasikan secara praktis ke dalam kompetensi literasi digital. Metode penelitian menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan menelaah publikasi ilmiah dan laporan kebijakan (2018–2024) dari sumber nasional dan internasional, termasuk UNESCO, UNICEF, dan Kemendikbud. Hasil analisis menunjukkan bahwa guru PAI berperan strategis dalam membentuk ketahanan moral digital (digital moral resilience) siswa melalui lima fungsi utama: (1) pembimbing moral digital, (2) filter informasi berbasis nilai Islam, (3) teladan dalam penggunaan media, (4) mediator komunikasi rumah–sekolah, dan (5) fasilitator etika digital. Sebagai hasil sintesis, penelitian ini menawarkan model konseptual Digital Islamic Moral Guidance (DIM-G) yang terdiri atas empat tahap utama: Tabayyun Digital, Ta’dib Media, Uswah Digital, dan Kolaborasi Rumah–Sekolah. Temuan penelitian ini menegaskan pentingnya sinergi antara pendidikan agama dan literasi digital dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga berkarakter Islami dan beretika di dunia maya. Model DIM-G diharapkan menjadi kerangka praktis dalam kebijakan pendidikan moral digital di sekolah dasar Islam di Indonesia.
Persepsi Guru Dan Orang Tua Terhadap Program Mbg Setelah Muncul Kasus Keracunan:Kajian Qs. Anfal Ayat 27 Dan Qs. Al Maidah Ayat 32 Tati Lasmita; Hendri Purnama Sari; Uswatun Hasanah
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.6401

Abstract

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu program prioritas nasional di bawah kepemimpinan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang bertujuan meningkatkan kesehatan dan gizi masyarakat, terutama anak-anak sekolah, ibu hamil, dan ibu menyusui. Namun, munculnya kasus keracunan pada pelaksanaan awal program ini menimbulkan beragam tanggapan dari masyarakat, termasuk guru dan orang tua. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk persepsi dari sikap guru serta orang tua terhadap keberlanjutan program MBG setelah kasus tersebut, dengan menggunakan pendekatan studi literatur (library research). Kajian ini menyoroti nilai-nilai amanah, tanggung jawab, dan kehati-hatian dalam kebijakan publik melalui perspektif QS. Al-Anfal ayat 27 dan QS. Al-Maidah ayat 32. Hasil kajian menunjukkan bahwa persepsi guru dan orang tua tetap tinggi terhadap tujuan program MBG, namun terdapat dorongan kuat untuk memperketat sistem pengawasan, uji kelayakan pangan, dan evaluasi rantai distribusi. Nilai-nilai Islam dalam dua ayat tersebut memberikan dasar etis bahwa amanah dan perlindungan jiwa merupakan prinsip utama dalam setiap kebijakan publik, termasuk dalam pelaksanaan program MBG di lingkungan pendidikan.
Implementasi Konsep Sabar Dalam Pendidikan Qs. Al-Baqarah 153 Siti Sumartini; Lasni Sutri; Uswatun Hasanah
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.6402

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk membahas implementasi nilai sabar dalam dunia pendidikan dengan mengacu pada QS. Al-Baqarah ayat 153. Ayat ini menjadi landasan yang kuat untuk memahami bagaimana kesabaran dapat diterapkan dalam dunia pendidikan mulai dari sikap, perilaku, atau cerminan seseorang untuk menahan diri, mengendalikan emosi, dan bertahan dalam menghadapi situasi sulit. Tujuan dari pembahasan ini adalah untuk mengidentifikasi bagaimana implementasi sabar yang digunakan dalam dunia Pendidikan melalui Q.S. Al-Baqarah : 153. Penelitian ini menggunakan tiga pendekatan melalui tafsir ibn-katsir, Al-maraghi, dan Al-Misbah. Metode pembahasan dalam artikel ini menggunakan metode kepustakaan dengan menganalisis berbagai tafsir klasik maupun kontemporer serta literatur pendidikan Islam. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa konsep sabar memiliki relevansi tinggi dengan proses pembelajaran, baik dari sisi guru, peserta didik, maupun lingkungan Pendidikan melalui tiga pendekatan yang digunakan yiatu, melalui tafsir ibn-katsir, Al-maraghi, dan Al-Misbah. Sabar berperan dalam meningkatkan ketekunan, pengendalian emosi, serta membentuk karakter resilien. Kesimpulannya, dalam implementasi sabar di sekolah dapat diwujudkan melalui keteladanan guru, pembiasaan disiplin, internalisasi nilai, serta pembelajaran berbasis karakter.
Konsep Kebhinekaan Dalam Kajian Al-Quran Surah Al-Hujurat Ayat 13 Ziaulhak Ziaulhak; Sepriyansyah Sepriyansyah; Uswatun Hasanah
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.6403

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep kebhinekaan dalam perspektif Al-Qur’an dengan fokus pada surat Al-Hujurat ayat 13. Ayat tersebut menegaskan bahwa perbedaan bangsa, suku, dan identitas manusia merupakan sunnatullah yang dimaksudkan agar manusia saling mengenal, bukan untuk menimbulkan diskriminasi maupun perpecahan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Surah Al-Hujurat ayat 13 mengandung tiga prinsip utama dalam membangun kebhinekaan, yaitu: pengakuan terhadap realitas keberagaman manusia sebagai bagian dari ciptaan Allah, pentingnya membangun relasi sosial berdasarkan prinsip saling mengenal (ta‘aruf) untuk memperkuat persaudaraan dan kerja sama; serta penegasan bahwa ukuran kemuliaan manusia bukanlah identitas sosial, melainkan ketakwaan kepada Allah SWT. Temuan ini relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia yang plural, di mana konsep kebhinekaan dalam Al-Qur’an dapat menjadi landasan etis dan teologis bagi penguatan toleransi, persatuan, dan harmoni sosial. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dalam memperkaya khazanah kajian tafsir tematik Al-Qur’an sekaligus kontribusi praktis dalam membangun nilai-nilai kebangsaan yang berlandaskan spiritualitas Islam. Kajian ini menegaskan bahwa kebhinekaan bukanlah ancaman, melainkan rahmat yang harus dikelola dengan prinsip persaudaraan universal.