Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Evaluasi Ketepatan Penggunaan Obat Pada Pasien Penyakit Saraf Di Apotek Sinar Baru Pangkalan Bun 2023 Nurhasanah, Nurhasanah; Irawan, Yogie; Efendi, Harun
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 5 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i5.15502

Abstract

Pendahuluan: Penyakit saraf merupakan masalah kesehatan yang masih sulit diatasi di Indonesia dan mengancam kehidupan masyarakat hal ini dapat dilihat dari meningkatnya angka kesakitan dan kematian akibat penyakit saraf di Indonesia. Apotek sebagai fasilitas pelayanan kesehatan memiliki peran strategis dalam memastikan bahwa pasien mendapatkan obat yang sesuai dengan resep dokter dan informasi penggunaan yang tepat. Tujuan: Mengetahui penggunaan obat saraf pada pasien penyakit saraf yang rasional meliputi ketepatan obat, ketepatan dosis, ketepatan pasien, dan ketepatan indikasi pada pasien penyakit saraf di Apotek sinar baru Pangkalan Bun pada tahun 2023. Metode: Penelitian ini adalah penelitian non eksperimental dengan metode kuantitatif dan pendekatan yang bersifat deskriptif. Populasinya adalah seluruh pasien yang menggunakan obat saraf di Apotek sinar baru pangkalan bun pada tahun 2023. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling, Data dianalisis dengan metode deskriptif untuk mengetahui persentase rasionalitas penggunaan obat. Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa dari 283 pasien yang diteliti, mayoritas penderita penyakit saraf adalah perempuan (63,95%) dan kelompok usia terbanyak adalah 40-50 tahun (65,01%). Gejala yang paling sering dialami adalah nyeri sendi dan saraf. Obat saraf yang paling banyak digunakan adalah Orinox dengan dosis 60/90/120 mg, tercatat sebanyak 148 obat (22,32%). Evaluasi rasionalitas penggunaan obat menunjukkan bahwa 100% resep telah memenuhi kriteria tepat indikasi, tepat obat, tepat pasien, dan tepat dosis. Kesimpulan: Penggunaan obat saraf di Apotek Sinar Baru Pangkalan Bun tahun 2023 sebagian besar sudah rasional dengan tingkat ketepatan sebesar 100%. Namun, masih terdapat ruang untuk perbaikan guna mencapai penggunaan obat yang lebih optimal bagi pasien penyakit saraf. Kata kunci: Penyakit Saraf, Obat Saraf, Ketepatan Obat
Evaluasi Penggunaan Antibiotik dengan Metode ATC/DDD dan DU 90% pada Pasien Anak Rawat Jalan di RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun Arbaini, Novi Hidayah; Irawan, Yogie; Makani, Mawaqit
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 6 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i6.16503

Abstract

Pendahuluan: Salah satu permasalahan kesehatan saat ini yaitu resistensi terhadap antibiotik. Derajat resistensi antibiotik pada anak Indonesia terus meningkat. Menurut tim peneliti dari University of Sydney pada 31 Oktober 2023, angka resistensi antibiotik pada anak Indonesia sebesar 67%, dengan resistensi terhadap antibiotik sefalosporin generasi ketiga. Metode: Metode pada penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif analitik kualitatif dengan rancangan cross sectional. Sampel yang diambil pada penelitian ini adalah seluruh pasien anak rawat jalan yang menerima antibiotik oral dengan usia 0-16 tahun. Penelitian ini menggunakan teknik total sampling yaitu seluruh pasien yang menggunakan antibiotik oral dan data yang lengkap dijadikan sampel. Pengumpulan data ini menggunakan data dari rekam medis pasien, untuk mengumpulkan data demografi pasien, data diagnosis penyakit pasien. Hasil: hasil penelitian didapatkan bahwa karakteristik pasien anak jenis kelamin laki – laki banyak mendapatkan terapi antibiotik sebesar 54,62%. sedangkan untuk usia paling banyak mendapatkan terapi antibiotik direntang usia 0 – 5 tahun sebesar 59,23% dengan diagnosis terbanyak di RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun adalah faringitis akut sebesar 53,85%. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian didapatkan 4 golongan antibiotic yaitu cefixime, amoxicillin, cefadroxil dan cotrimoxazole dengan nilai DDD tertinggi cefixime DDD/1000 KPRJ. Sedangkan antibiotik yang masuk dalam segmen DU 90% adalah cefixime dan amoxicillin.
Differences in Interleukin-6 Levels, Neutrophil Levels, and Length of Hospitalization in Pneumonia Patients with and without Garlic Supplementation (Allium sativum) Irawan, Yogie; Harsini, Harsini; Sutanto, Yusup Subagio
Jurnal Respirologi Indonesia Vol 44 No 3 (2024)
Publisher : Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)/The Indonesian Society of Respirology (ISR)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36497/jri.v44i3.396

Abstract

bacteria, viruses, fungi, or parasites, with high mortality and morbidity rates. The examination of IL-6 and neutrophils helps in diagnosis as a marker of inflammation, a predictor of mortality and morbidity, and is useful in evaluating the outcome of treatment. Garlic and its organosulfur content possess anti-inflammatory activity that has the potential to be used as additional therapy in pneumonia patients.Methods: A clinical study with a pretest-posttest quasi-experimental design was conducted on pneumonia patients who were hospitalized at Dr. Moewardi General Hospital, Surakarta from August to October 2022 by consecutive sampling. The treatment group (n=20) received standard therapy plus 3.5 mg of garlic capsules per day for 6 days, while the control group (n=20) received standard therapy. Levels of IL-6 and neutrophil were calculated on the first and sixth days, while the length of hospitalization was calculated from when the patient was admitted until discharge.Results: There was a significant IL-6 difference in the treatment group (P=0.027) and a neutrophil difference in the treatment group (P=0.025) compared to the control group, but there was no significant difference (P=0.876) in the length of stay in the treatment group compared to the control group.Conclusion: Giving garlic as a supplemental therapy to pneumonia patients could significantly reduce IL-6 and neutrophil levels.
Evaluasi Kualitatif Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Infeksi Saluran Kemih Di RSUD Sultan Imanuddin Menggunakan Metode Gyssens Muzdalifah, Siti; Irawan, Yogie; Makani, Mawaqit
Jurnal Pelayanan Kefarmasian dan Sains Vol 6 No 1 (2025): Journal of Pharmaceutical Care and Sciences (JPCS)
Publisher : LPPM Universitas Sari Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33859/jpcs.v6i1.995

Abstract

Pendahuluan: Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan salah satu infeksi bakteri tersering yang membutuhkan terapi antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat menimbulkan resistensi dan menurunkan efektivitas pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola dan rasionalitas penggunaan antibiotik pada pasien ISK di RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun menggunakan metode Gyssens. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan retrospektif terhadap data rekam medik pasien ISK rawat inap tahun 2024. Sampel sebanyak 83 pasien diambil dengan purposive sampling. Evaluasi rasionalitas dilakukan menggunakan metode Gyssens berdasarkan ketepatan indikasi, dosis, interval, rute, dan durasi. Hasil: Golongan antibiotik yang paling banyak digunakan adalah sefalosporin (95,0%) dengan Ceftriaxone (70,4%) sebagai jenis terbanyak, diikuti Cefotaxime (16,0%) dan Cefixime (4,9%). Berdasarkan metode Gyssens, sebanyak 41 pasien (49,6%) tergolong rasional (kategori 0) dan 42 pasien (50,4%) tidak rasional, dengan ketidaktepatan terutama pada lama pemberian dan pemilihan antibiotik. Simpulan: Pola penggunaan antibiotik pada pasien ISK masih didominasi sefalosporin. Berdasarkan metode Gyssens, tingkat rasionalitas penggunaan antibiotik sebesar 49,6%, menunjukkan perlunya peningkatan pengawasan terapi antibiotik di rumah sakit.
Analisis Pengetahuan Dan Persepsi Remaja Terhadap Paparan Sinar Matahari Dan Suplementasi Vitamin D Sebagai Upaya Preventif Rakitis Makani, Mawaqit; Efendi, Harun; Irawan, Yogie; Citra Jaluri, Poppy Dwi; Dwiannur, Febriandi Ramadhan
Jurnal Borneo Cendekia Vol 9 No 2 (2025): Jurnal Borneo Cendekia
Publisher : STIKES Borneo Cendekia Medika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54411/jbc.v9i2.695

Abstract

Defisiensi vitamin D pada masa remaja merupakan masalah kesehatan global yang dapat meningkatkan risiko rakitis dan gangguan imunitas. Kurangnya paparan sinar matahari dan penggunaan tabir surya berlebih menjadi faktor risiko utama di kalangan remaja. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan vitamin D dengan persepsi remaja terhadap paparan sinar matahari serta suplementasi sebagai upaya preventif rakitis. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif analitik dengan desain cross-sectional. Penelitian dilakukan pada 150 remaja Sekolah Menengah Atas (SMA) yang berada di Kotawaringin Barat yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang tervalidasi mencakup aspek pengetahuan dan persepsi. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang telah diuji validitas (rhitung > 0.159) dan reliabilitasnya (? = 0.765). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square (? = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan baik (23,4%), cukup (37.3%), dan kurang (39.3%). Sebanyak 51.9% responden memiliki persepsi negatif terhadap paparan sinar matahari karena kekhawatiran terhadap perubahan warna kulit (estetika). Hasil uji bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan sikap remaja dalam pemenuhan vitamin D (p<0,05). Hasil uji Odds Ratio (OR) didapatkan hasil sebesar 7.8 (95% CI:4,2-14,5) yang menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan merupakan faktor determinan yang signifikan terhadap persepsi remaja dalam upaya pencegahan rakitis.