Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

SORAK RANG BALAI: DENDANG SEBAGAI REPRESENTASI DAN IDENTITAS METODE PROMOSI DALAM BUDAYA DAGANG MASYARAKAT MINANGKABAU Surya Rahman; Otto Sidharta; Andar Indra Sastra
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 4, No 2 (2017): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.211 KB) | DOI: 10.26887/bcdk.v4i2.573

Abstract

ABSTRAK Tulisan ini bertujuan untuk membahas tentang bagaimana peran dan ciri khas sorak dalam perdagangan di Minangkabau. Sorak rang balai merupakan sebuah media ungkap yang digunakan oleh pedagang dalam transaksi jual beli yang hanya dilakukan oleh masyarakat Minangkabau. Sorak rang balai ini merupakan sebuah cara promosi yang unik, dimana pedagang di Minangkabau berdendang-dendang dalam mempromosikan dagangannya. Konsep musikal dalam dendang pada sorak rang balai yaitu lirik atau syairnya berisikan tentang jenis, kualitas, dan juga harga barang yang diperdagangkan. Hari balai yang terjadi dalam sekali sepekan ini, merupakan hari dimana pada umumnya para pedagang berlomba-lomba dalam mempromosikan dagangannya dengan cara berdendang. Kompleksitas metode perdagangan ini menjadi ciri khas dan identitas dalam kebudayaan masyarakat Minangkabau. Kata kunci: Sorak Rang Balai, Balai, Promosi Unik, Identitas, Ciri Khas.
BENTUK AKULTURASI ESTETIKA ISLAMI DAN MUSIK POPULER DALAM PERTUNJUKAN SALAWAIK DULANG GROUP ARJUNA MINANG Robby Suhendra; Ediwar Ediwar; Andar Indra Sastra
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 3, No 2 (2016): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.566 KB) | DOI: 10.26887/bcdk.v3i2.550

Abstract

ABSTRACT This writing aims at revealing the acculturation of Islamic aesthetics and popular music in salawaik dulang performance. Salawaik (salawat) literally means praise or adulation toward Prophet Muhammad SAW; dulang is a bronze vessel commonly used as means of serving drinks or as big plate in the ceremony of makan bajamba. Salawaik dulang is religious song that uses dulang as rhythm arranger and also functions as music instrument in salawaik dulang performance. Problem discussed in this writing is religious values packed together with popular music in salawaik dulang performance. Keywords: acculturation, Islamic aesthetics, popular music, salawaik dulang 
KARAKTER PUTRI KENANGA DALAM LAKON KEANGKUHAN KARYA JONHAR SAAD DALAM PERTUNJUKAN DULMULUK DI PALEMBANG Fitria Fitria; Sahrul Sahrul; Andar Indra Sastra
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 3, No 1 (2016): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.07 KB) | DOI: 10.26887/bcdk.v3i1.541

Abstract

ABSTRACT Character is temperament or habit. According to psychologist, character is a system of belief and habit that leads on an individual’s action. If knowledge about someone’s character can be known, how that someone will behave in certain conditions can also be known.The story of Princess Kenanga’s arrogance was started with the story of King and Queen of a country who had a very beautiful and smart daughter whose name’s Princess Kenanga. The beauty of this princess was renowned throughout the country but unfortunately this princess had arrogant and haughty natures.Princess Kenanga in the play “Keangkuhan (=Arrogance)” had evil characteristics because in her every appearance, she showed bad attitudes such as speaking harshly and doing action that’s not supposed to be done by a princess toward her folk and people. In the story of play “Keangkuhan (=Arrogance),” Princess Kenanga act abusively toward her folk.Keywords: Arrogance, Dulmuluk, Theater
KOMPOSISI BAKONSI ATE KOWO Kharisma Kharisma; Andar Indra Sastra; Rafiloza Rafiloza
Melayu Arts and Performance Journal Vol 2, No 1 (2019): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v2i1.696

Abstract

Karya komposisi “Bakonsi Ate Kowo” terinspirasi dari fenomena sosial Bakonsi yang merupakan kegiatan gotong royong atau kerja sama dalam membersihkan ladang dan perkebunan di nagari Koto Tuo Kecamatan Sungai Tarab Kabupaten Tanah Datar. Kegiatan ini dilakukan oleh wanita-wanita paruh baya yang beranggotakan lima sampai dengan sepuluh orang. Hingga saat ini bakonsi menjadi mata pencaharian bagi mereka, adapun wanita-wanita paruh baya ini memiliki suka duka dalam menjalani kehidupan. Hal ini yang mendorong para pelaku bakonsi saling berkomunikasi dengan berbalas pantun sambil berdendang pada saat kegiatan membersihkan ladang dan perkebunan. Apapun dendang yang mereka nyanyikan, mereka menyebutnya dengan dendang Ate Kowo dan  pantun-pantun yang mereka lantunkan berisikan tentang parasaian iduik. Berdasarkan dari kegiatan bakonsi ini maka dapatlah suatu prinsip kerja yang hadir dalam kegiatan tersebut.
SUKU MALAYU: SISTEM MATRILINEAL DAN BUDAYA PERUNGGU DI MINANGKABAU Andar Indra Sastra
Melayu Arts and Performance Journal Vol 1, No 1 (2018): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v1i1.626

Abstract

ABSTRACT The goal of this article is to investigate the existence of the Malay ethnic group in connection with the matrilineal system and the bronze culture in Minangkabau. The Malay (Minang) ethnic group is one of the ethnic groups (or clans) with the largest population of all the different ethnic groups in Minangkabau. The matrilineal system is one of the strongest identities – or icons – for recognizing the unique community of Minangkabau. This unique characteristic continues to exist in spite of the fact that the majority of the Minangkabau people are strict Muslims. The matrilineal system refers genealogically to the female line of descent and is centered in the traditional gadang house which is the identity of the ethnic group in the culture of the Malay Minangkabau community. The gadang house is a symbol of status and ethnicity in the social system of the Minangkabau community – the group known as urang asa (original pioneers). One of the identities that strengthens the existence of the urang asa group in the past is marked by the presence of bronze music in the form of salabuhan (a set of) talempong and aguang (gong) – a type of bronze music. The problems discussed in this article are: (1) the Malay ethnic group in Minangkabau; (2) the matrilineal system and bronze culture in Minangkabau. A qualitative method is the basic foundation for this research. The research results show that the Malay ethnic group in Minangkabau first appeared as a result of the dissemination of the inhabitants of the Malay Dharmasraya kingdom and this was subsequently continued by Adityawarman through the Pagaruyuang kingdom. The Malay ethnic group not only follows a matrilineal system but also supports the bronze culture. Keywords: malay ethnic group, matrilineal system, bronze culture, Minangkabau  ABSTRAK Tujuan artikel ini mengungkap bagaimana keberadaan suku Malayu dalam kaitannya dengan sistem matrilenal, dan budaya perunggu di Minangkabau. Suku Malayu (Minang) adalah salah suku (klan) yang tergolong banyak populasinya dalam kelompok suku Minangkabau. Sistem matrilineal adalah salah satu identitas – icon – terkuat untuk mengenali masyarakat Minangkabau – unik. Keunikan tersebut tetap bertahan walapun masyarakat Minangkabau penganut Islam yang taat. Sistem matrilineal secara geneologis merujk pada garis keturuan ibu dan berpusat pada rumah gadang (sebutan rumah adat) sebagai identitas kelompok suku dalam kebudayaan masyarakat Malayu Minangkabau. Rumah gadang menjadi simbol status dan kesukuan dalam sistem sosial masyarakat Minangkabau – kelompok urang asa (peneruka asal). Salah satu identitas yang menguatkan terhadap keberadaan kelompok urang asa pada masa lalu ditandai atau memiliki alat jenis musik perunggu salabuhan (seperangkat) talempong dan  aguang (gong) – jenis musik perunggu. Masalah yang dibaicakan dalam artikel ini: (1) suku malayu di Minangkabau; (2) sistem matrilineal dan budaya perunggu di Minangkabau. Metode kualitatif menjadi dasar dilakukannya penelitain ini. Hasil penelitian ini; suku Malayu di Minangkabau bermula dari penyebaran penduduk kerajaan Melayu Dharmasraya dan kemudian dilanjutkan Adytiawarman melalui kerjaan Pagaruyuang. Suku Malayu, di samping menganut sistem matrilineal, juga sebagai pendukung kebudayaan perunggu.
IDEOLOGI CAPAIAN ESTETIK DALAM PERTUNJUKAN TEATER MUHAMMAD KAFRAWI Fitri Rahmah; Andar Indra Sastra; Sahrul Sahrul
Melayu Arts and Performance Journal Vol 2, No 1 (2019): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v2i1.707

Abstract

AbstrakTulisan ini merupakan hasil analisis terhadap pertunjukan teater Hang Kafrawi dengan pendekatan ideologi capaian estetik. Kajian diarahkan pada motif penciptaan pertunjukan teater yaitu untuk apa dan untuk siapa pertunjukan teater diciptakan. Metodologi penciptaan teater yaitu bagaimana pertunjukan teater itu diciptakan. Fungsi pertunjukan yaitu bagaimana pertunjukan teater tersebut berperan dalam konstelasi sosial budaya. Tujuan pertunjukan yaitu cita-cita apa yang akan diraih atau dunia ideal macam apa yang hendak diwujudkan.Hasil dari penelitian ini adalah pertunjukan Hang Kafrawi mengusung unsur-unsur kemanusiaan yang terus diperjuangkan. Banyak nilai-nilai pendidikan dalam pertunjukan-pertunjukan Hang Kafrawi. Pertunjukan teater karya Hang Kafrawi selalu berorientasi dalam menyuarakan hubungan kelas dominan dan kelas subordinat yang kepentingannya sering kali dikesampingkan
TIGO LAREH: SISTEM KEKUASAAN DAN KONSEP ESTETIKA MUSIKAL TIGA GENRE MUSIK DI LUHAK NAN TIGO MINANGKABAU Andar Indra Sastra; Wilma Sriwulan; Yon Hendri
PROSIDING: SENI, TEKNOLOGI, DAN MASYARAKAT No 3 (2018): Seni, Teknologi, dan Masyarakat #3
Publisher : LP2MP3M, INSTITUT SENI INDONESIA SURAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study was to uncover and discover the influence of the power of tigolareh (three laras) in shaping the aesthetic concepts and theories of three traditional music genres in Luhak Nan TigoMinangkabau. TigoLareh’s system of power emerged as a political-legal reality that comes from two legendary Minangkabau figures, namely Dt. Katumangguangan and Dt. Parpatiah Nan Sabatang. Told in a story of traditional historiog-raphy, the two involved in ideological conflict in establishing a system of ‘governance’ (power) in Minangkabau called LarehKotopiliang and LarehBodicaniago. LarehKotopiliang, in his system of government, is character-ized by royal autocracy and LarehBodicaniago is more democratic in nature. The ideological conflict between the two figures gave rise to the third figure, namely RajoBabandiang, who held the title of Dt. Nan SakelapDunia, who then give birth to the concept of Lareh Nan Buntathat is a synthesis of both systems. The musical reality of bronze talempong music - is part of the (power) cultural system of LarehKotopiliang, and can be divided into two genres, namely: (1) the talempongbararak genre (procession), and; (2) talempong genre duduak (sitting). Talempongbararak appears in the form of “arakan” music and talempongduduak is played on the Java rea: rancakan and usually use gongs. LarehBodicaniago’s musical concept is populist and it is oriented to the power of vocal music (dendang) which in its presentation it is tied to the concept of bagurau (joking) which is accompanied by a musical instrument saluang (a type of wind instrument typical of Minangkabau). Meanwhile, the musical concept of Lareh Nan Bunta reflects the synthesis of both bronze musical concepts and vocal music (dendang). The musical concept of bronze music gave birth to the concept of talempongbasaua which was presented in the form of a hocketting technique. Tigolareh as a symbol of power synchronized with the reality of musical culture in its society.
Rekam Jejak Estetika Sufi Dalam Struktur Seni Pertunjukan Salawaik Dulang Di Minangkabau Indonesia M. Arif Anas; Andar Indra Sastra; Mirnawati Mirnawati; Marzam Marzam
PANGGUNG Vol 31, No 2 (2021): Estetika Dalam Keberagaman Fungsi, Makna, dan Nilai Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.01 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v31i2.1587

Abstract

Tujuan artikel ini adalah untuk mengungkap Rekam Jejak Estetika Sufi Dalam Konsep Seni Pertunjukan Salawaik Dulang Di Minangkabau. Rekam jejak (track record) adalah semua hal yang dilakukan seseorang pada di masa lalu dan dapat di jadikan teladan sampai sekarang. Semua hal dalam konteks ini bersentuhan dengan estetika sufi dan hubungannya dengan seni pertunjukan Salawaik Dulang. Dalam tradisi sufi, estetika lebih jauh dikaitkan dengan metafisika dan jalan kerohanian – spirutulitas – yang ditempuh melalui metode tasauf. Spiritualitas adalah hidup dengan kesadaran bahwa Tuhan senantiasa di dekat kita. Kesadaran itu menumbuhkan dorongan bagi seluruh tindakan manusia; termasuk dalam dunia seni pertunjukan – salawaik dulang. Secara musikal, dulang sebagai media pengantur tempo, ritme dan sekaligus berfungsi sebagai musiknya. Pendendangan syair yang diiringi oleh tabuhan dulang tersebut dilakukan dua kelompok (grup) salawat dulang; keduanya bertarung secara estetik dalam pertunjukan salawaik dulang. Metode kualitatif yang didasari pengamatan terlibat digunakan dalam pengumpulan data penelitian melalui: penyelidikan (observasi), wawancara, dokumentasi, dan analisis data. Hasil; Rangkaian syair dinarasikan tukang salawaik dulang; mulai dari kotbah sampai lagu cancan merepresentasikan ajaran tarekat, karena bersifat filosofis; Pertunjukan salawat dulang telah menjadi salah satu bentuk ekspresi yang merepresentasikan ajaran tasauf bagi penganut ajaran tarekat Syatariyah di Minangkabau.Kata Kunci: Kerajinan Eceng Gondok, Karakteristik, Konsep Pengembangan, Diversifikasi, Inovasi.
Satangah Tiang’ Re-interpretasi Prinsip Musikal Dendang Satangah Tiang pada Kesenian Bagurau Saluang Dendang Minangkabau Muhammad Hadi Habib; Elizar Elizar; Andar Indra Sastra
Jurnal Musik Nusantara Vol 2, No 1 (2022): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jmen.v2i1.3087

Abstract

ABSTRAK            Karya komposisi karawitan yang berjudul Satangah Tiang ini bersumber dari kesenian saluang dendang atau sering disebut dengan bagurau. Terdapat tiga jenis yaitu dendang ratok, dendang hoyak dan satangah tiang. Satu jenis dendang yang menjadi landasan dalam penggarapan karya adalah dendang jenis satangah tiang, spesifiknya dalam repertoar dendang Ratok Taram dan Sabai Nan Aluih. Karakter melodi yang menarik dalam dendang ini yaitu terdapat unsur musikal ritmis dan non-ritmis. Rumusan penciptaan yang diajukan dalam penciptaan karya seni ini yaitu: Bagaimana mewujudkan karya komposisi karawitan yang bersumber dari prinsip musikal dendang satangah tiang yang mana struktur melodi pada dendang tersebut pengkarya tafsirkan kembali menjadi bentuk di luar kaidah tradisinya, dan dilahirkan dengan karakter musikal yang serba ‘tangguang’ (tanggung). Pelahiran karya re-interpretasi ini adalah upaya mewujudkan tawaran baru dalam bentuk garap yang bersumber dari kesenian tradisi bagurau saluang dendang yang mana di dalam penggarapan karya ini terdapat penggabungan idiom-idiom tradisi dengan bentuk musikal inovatif yang dikemas dalam bentuk karya komposisi karawitan menggunakan pendekatan garap re-interpretasi tradisi. Berdasarkan rumusan penciptaan di atas, karya yang dihasikan berupa: Bagian satu menyajikan unsur ritmis dan non-ritmis yang telah ditafsirkan kembali, akan tetapi masih memuat idiom tradisi. Bagian dua menghadirkan karakteristik musikal yang bersifat ‘tangguang’ atas interpretasi kembali terhadap dendang Ratok Taram. Kata kunci: Satangah Tiang; Bagurau Saluang Dendang; Ritmis; Non-ritmis; Tangguang.       ABSTRACTKarawitan composition work entitled Satangah Tiang is sourced from the art of saluang dendang or often called bagurau. There are three types, namely Dendang Ratok, Dendang Hoyak and Satangah Tiang. One type of kick that becomes the basis in the production of works is the satangah tiang type, specifically in the repertoire of Ratok Taram and Sabai Nan Aluih. Interesting melodic characters in this dendang that there are musical elements rhythmical and non-rhythmic. The formulation of creation proposed in the creation of this artwork is: How to realize the work of karawitan composition derived from the musical principle of satangah tiang where the melodic structure on the dendang is reinterpreted into a form outside the rules of its tradition, and born with musical characters that are all 'tangguang' (in between/not minimized/not maximized). The completion of this re-interpretation work is an effort to realize a new offer in the form of work derived from the art tradition bagurau saluang dendang which in the production of this work there is a combination of idioms of tradition with innovative musical forms packaged in the form of karawitan composition works using a traditional re-interpretation approach. Based on the formulation of creation above, the work is in the form of: Part one presents rhythmic and non-rhythmic elements that have been reinterpreted, but still contain idioms of tradition. Part two presents musical characteristics that are 'tangguang' for the reinterpretation of Ratok Taram. Keywords : Satangah Tiang; Bagurau Saluang Dendang; Rhythmic; Non-rhythmic; Tangguang. 
PACU ITIAK DALAM FOTOGRAFI ESAI DENGAN PENDEKATAN EDFAT Taufik Imran; Rasmida Rasmida; Andar Indra Sastra
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 2 (2022): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v11i2.35265

Abstract

Nagari Ampangan in Payakumbuh has a tradition of racing ducks which is the only race in the world. This tradition provides a kind of education about cultural values such as the value of honesty, competition, competition, harmony, mutual cooperation, entertainment and these values are appropriate and must be preserved. Media photography is one way to find out information about the duck race, with a photography essay that will present the charm of the ducks in the racing arena on the highway. The EDFAT method is one of the methods used in creating this journalistic photography visual. The results of the photography capture the various interactions of the players and visitors which are one of the activities and moments during the implementation of the duck race. So that the complex activities of the pacu itiak are presented  with photo works of the charm of the spur itiak. Keywords: pacu itiak, fotografer, esai, EDFAT. AbstrakNagari Ampangan di Payakumbuh memiliki tradisi pacu itiak yang merupakan satu-satunya pacuan yang ada di dunia. Tradisi ini memberikan semacam edukasi tentang nilai-nilai budaya seperti nilai kejujuran, perjuangan, persaingan, harmonis, gotong-royong,  hiburan dan nilai-nilai ini patut dan harus dilestarikan. Media fotografi salah satu cara mengetahu informasi tentang pacu itiak, dengan fotografi esai yang akan menghadirkan pesona itiak dalam gelangang pacuan di jalan raya. Metode EDFAT salah satu  metode yang digunakan dalam penciptaan visual fotografi jurnalistik ini. Hasil fotografi mengabadikan bebagai interaksi para pemain dan pengunjung yang menjadi salah satu  aktivitas dan momen ketika dalam pelaksaan pacu itiak. Sehingga kompleksnya kegiatan pacu itiak disajikan dengan karya foto pesona pacu itiak. Kata Kunci:pacu itiak , fotografer, esai, EDFAT. Authors:Taufik Imran : Institut Seni Indonesia PadangpanjangRasmida : Institut Seni Indonesia PadangpanjangAndar Indra Sastra : Institut Seni Indonesia Padangpanjang References:Arsola, P., Rafiloza, R., & Sahrul, N. Pacu Itiak Sebagai Sumber Penciptaan Komposisi “SRIPANGGUNG”. Grenek Music Journal, 10(2), 1-16.Berutu, D. I., & Isnaini, D. (2012). Analisis Foto Jurnalistik Mengenai Kerusuhan di Mesuji Lampung pada Harian Kompas. Jurnal. Universitas Sumatera Utara.Danandjaja, J. (2015). Bab V Cerita Rakyat dan Pembangunan Kalimantan Tengah: Merekonstruksi Nilai Budaya Orang Dayak Ngaju dan Ot Danum Melalui Cerita Rakyat Mereka. Metodologi Kajian Tradisi Lisan (Edisi Revisi) , 79.Koentjaraningrat, L. (1987). Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta: Rineka Cipta.Kurnianto, A. D. (2012). TA: Pembuatan Buku Esai Fotografi Tari Pendet Sebagai Media Promosi Warisan Budaya Bali (Doctoral dissertation, STIKOM Surabaya).McCurry, S. (2013). Steve McCurry Untold. The Stories Behind the Photographs. USA: Phaidon Press.Soedjono, Soeprapto. (2006). Pot Pourri Fotografi. Jakarta: Penerbit Universitas Trisakti.Purnama, F., & Nurman, N. (2018). Tradisi Pacu Itiak dalam Melestarikan Nilai-Nilai Budaya di Payakumbuh. Journal of Civic Education, 1(2), 174-180.Putra, I. P. D. A. (2021) Penguatan Penguasaan Kompetensi Fotografi, Videografi dan Tata Kelola Media Sosial pada POKDARWIS Pemanis Heritage, Desa Wisata Biaung, Tabanan, Bali. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(2), 530-540.Sastra, A. I., Sriwulan, W., Caniago, E., MUCHTAR, A., & Haris, A. S. (2021). Lareh Koto Piliang: Systems of Governmental Power and Bronze Music in the Study of the Concept of Musical Aesthetics in Luhak Nan Tigo Minangkabau. Music Scholarship/Problemy Muzykal'noi Nauki, (2).