Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Mangkoan Sound: the Concept of Traditional Talempong Prohibition in Luhak nan Tigo Minangkabau Martis Martis; Yunaidi Yunaidi; Andar Indra Sastra; Syahri Anton; Nurwani Nurwani
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya Vol 8, No 1 (2024): GONDANG: JURNAL SENI DAN BUDAYA
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gondang.v8i1.56611

Abstract

Aesthetically, the aim of this research is to reveal the musical taste and musical standards of tuo talempong in alignment talempong tradition – mangkoan sound. By ontology and epistemology; form music talempong in life public Already Lots revealed by the researchers previously. However there are one component important that hasn't been touched by researchers, which is related to draft alignment talempong tradition in Luhak Nan Tigo Minangkabau. Principle base alignment talempong related with the musical taste and musical standards of the tuo (elders) of talempong in Luhak Nan Tigo Minangkabau. Based on qualitative research principles; The researcher becomes the main instrument in collecting research data,includinginitial study and problem analysis, primary data collection through participant observers – ethnography, in-depth interviews – free and structured, documentation, and data analysis.The analysis was carried out on musical taste and musical standards that were found in the field. Research results show that ' mangkoan the sound ' is A draft alignment talempong tradition in Luhak Nan Tigo Minangkabau. hrough musical sensitivity, tuo talempong in Luhak Nan Tigo Minangkabau created the concept of mangkoan sounds (tala - tuning system) to identify the high and low sounds of jantan-batino talempong.
AYUN-AYUN JO GALITIAK: EKSPRESI MUSIKAL DALAM BABIOLA PADA MASYARAKAT KABUPATEN PESISIR SELATAN Kurniawan, Al Wahyu; Sastra, Andar Indra; Nursyirwan, Nursyirwan
Jurnal Ilmu Budaya Vol. 14 No. 2 (2018)
Publisher : Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4054.168 KB) | DOI: 10.31849/jib.v14i2.1137

Abstract

This analysis entitled ''Ayun-ayun jo galitiak'' musical expression in Babiola in the society of Pesisir Selatan regency. It aims to show the musical expression in that Babiola by formulizing the empirical experience of the respondents. It is a qualitative analysis to explore the form of ayun-ayun jo galatik in the song of Sikambang. Data collecting is done by library research, observation, interview and documentation. The result shows that Ayun-ayun jo galatik has contour melody up and down in slow tempo with free rhythm the musical expression.
IBU DAN PANTI SOSIAL DALAM FOTOGRAFI POTRET Rahman Dani, Dani Aulia; Yusril, Yusril; Sastra, Andar Indra
Humantech : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol. 2 No. 4 (2023): Humantech : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia 
Publisher : Program Studi Akuntansi IKOPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seseorang yang memiliki peran sebagai istri, sebagai orang yang melahirkan dan merawat anak-anaknya. Ibu juga merupakan benteng yang dapat menguatkan setiap anggota keluarga. Perbedaan sikap dan tingkah laku yang berbeda dari Ibu (orangtua lanjut usia) dapat memicu ketidakharmonisan dalam keluarga. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu EDFAT (Entire, Detail, Frame, Angle, Time), merupakan suatu pembiasaan dalam fotografi spontan, membantu pengkarya dalam proses percepatan pengambilan keputusan terhadap momen atau kondisi visual bercerita dan bernilai berita dengan cepat dan lugas serta difungsikan sebagai metode observasi obyek esai foto. Melalui pendekatan metode EDFAT tersebut, pengkarya mendapatkan kesimpulan bahwa dengan Fotografi Potret ibu dan panti sosial ini menjadi penekanan dalam menciptakan sebuah karya fotografi potret, yaitu bagaimana menciptakan ingat-ingatan dalam fotografi potret dengan menonjolkan pribadi-pribadi sosok Ibu untuk melahirkan kembali peran penting sosok Ibu sesungguhnya. Tujuan dari penciptaan karya ini adalah untuk menumbuhkan kesadaran tentang peran sosok Ibu kepada anak-anak yang tega menelantarkan Ibunya.
URANG SIAK: PERTUNJUKAN SENI RELIGIUS DALAM UPACARA DIKIA MULUIK KECAMATAN BATIPUH Wati, Herlina Ira; Syafniati, Syafniati; Sastra, Andar Indra
Jurnal Musik Etnik Nusantara Vol 4, No 2 (2024): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jmen.v4i2.4619

Abstract

Keberagaman budaya masyarakat lokal terlihat dari kekayaan seni budaya masyarakat, diantaranya pada kesenian Dikia Muluik (Dzikir Maulid). Kegiatan ini membutuhkan peran Urang Siak. Urang Siak merupakan sebutan bagi seseorang yang mengabdikan dirinya dalam mendalami ajaran islam dan berperan penting dalam Pendidikan religi di surau, menjadi imam masjid serta patokan atau guru bagi masyarakat sekitar dalam mendalami ajaran islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peran Urang Siak di dalam kegiatan Dikia Muluik di Nagari Sabu Kecamatan Batipuh Kabupaten Tanah Datar. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah kualitatif, melalui pengumpulan data yang di lakukan dengan observasi dan wawancara serta di dukung dengan analisa dan pengujian data. Hasil yang dicapai dari penelitian ini, yaitu menjelaskan bahwa peran Urang Siak memang sangat esensial dalam kehidupan masyarakat dapat juga dilihat dari kuatnya peran Urang Siak sebagai tokoh kharismatik, berkedudukan status sosial tinggi sebagai imam masjid, pemimpin ritual agama, mediator penengah dalam masyarakat, sebagai ulama, penceramah agama dan penjaga tradisi budaya. Hasil penelitian inilah yang kemudian disusun dalam bentuk skripsi. Kata Kunci: Urang Siak, Seni Religius, Dikia Muluik, Nagari Sabu
EKSPRESI MUSIKAL DALAM PERTUNJUKAN RAPAI BUBEE DI MEE PANGWA TRIENGGADENG PIDIE JAYA PROVINSI ACEH Intan Rizki Intan; Ediwar Ediwar; Andar Indra Sastra; Nursyirwan Nursyirwan
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 12 No. 2 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i2.49103

Abstract

Rapai Bubée is traditional music typical of the people of Gampong Mee Pangwa, Trienggadeng District, Pidie Jaya Regency, Aceh Province. The form of the Rapai Bubée art performance is different from other Rapai performances. Rapai Bubée uses Bubée as a performance property and the Rapai musical instruments as a sound medium. This research uses several theories related to musical and aesthetic expression by Mondro, whose contents state that, there are three characteristics that become good (beautiful) qualities or build aesthetics from aesthetic objects in general, namely: 1 (one) unity (unity) : 2 (two) complexity : 3 (three) seriousness (intensity).The aim of this research is related to the problem raised, namely uncovering the problem of musical expression in the Rapai Bubée performance in Gampong Mee Pangwa, Trienggadeng District, Pidie Jaya Regency, Aceh Province. The method used in this research is qualitative method. Data collection techniques were carried out using observati techniques, interview techniques and documentation techniques.Keywords: expression, musical, rapai bubée.AbstrakRapai Bubée merupakan musik tradisional khas masyarakat di  Gampong Mee Pangwa Kecamatan Trienggadeng Kabupaten Pidie Jaya Provinsi Aceh. Bentuk pertunjukan kesenian Rapai Bubée berbeda dengan pertunjukan Rapai lainnya. Rapai Bubée menggunakan Bubée sebagai properti pertunjukan dan alat musik Rapai sebagai media bunyi. Penelitian ini mengunakan beberapa teori yang berhubungan dengan ekspresi musikal dan estetika oleh mondro, yang isinya menyebutkan bahwa, ada tiga ciri yang menjadi sifat-sifat baik (indah) atau membangun estetis dari objek estetis pada umumnya yaitu : 1 (satu) kesatuan (unity) : 2 (dua) kerumitan (complexity) : 3 (tiga) kesungguhan (intensity). Tujuan penelitian ini berkaitan dengan masalah yang diangkat yakni mengungkap masalah ekspresi musikal dalam pertunjukan Rapai Bubée di  gampong Mee Pangwa Kecamatan Trienggadeng Kabupaten Pidie Jaya Provinsi Aceh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, teknik wawancara dan teknik dokumentasi.Kata Kunci: ekspresi, musikal, rapai bubée. Authors:Intan Rizki Junita Utami : Institut Seni Indonesia PadangpanjangEdiwar : Institut Seni Indonesia PadangpanjangAndar Indra Sastra : Institut Seni Indonesia PadangpanjangNursyirwan : Institut Seni Indonesia Padangpanjang References:Azis, A. C. K., Mesra, M., & Sugito, S. (2021). Pengembangan Bahan Ajar Micro Teaching Bagi Mahasiswa Seni Rupa Universitas Negeri Medan. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(1), 223-229.Ediwar, E. (2010). Kesenian Bernuansa Islam Suku Melayu Minangkabau. Jurnal UKM, 5(1), 227-249.Nugroho, P. A., Fenriana, I., & Arijanto, R. (2020). Implementasi Deep Learning Menggunakan Convolutional Neural Network (CNN) pada Ekspresi Manusia. Algor, 2(1), 12-20.KBBI. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.Marzuwan, M. (2019). Seni Tari Rapai Bubѐe Pidie Jaya. Penerbit: Bravo Darussalam.Rachmawati, I. N. (2007). Pengumpulan data dalam penelitian kualitatif: wawancara. Jurnal Keperawatan Indonesia, 11(1), 35-40.Sanjaya, Wina, (2013). Penelitian Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.Soeharto, M. (1992). Kamus Musik. Jakarta: Gramedia Widia Serana Indonesia.
MANAGEMENT OF INTERNAL CULTURAL ARTS SANGGAR PENGHULU: OMPEK GANJI LIMO GONOK TRADITION FESTIVAL IN KIBUL VILLAGE Febra Muyusari; Asril Asril; Andar Indra Sastra
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 2 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i2.61735

Abstract

The purpose of this study is to ascertain how the Ompek Ganji Limo Gonok Oral Tradition festival (OGLG) in West Tabir District is processed by the Sanggar Seni Batin Penghulu. This study employed a qualitative approach, including observation, interviews, and recording; the presenting method was descriptive qualitative. Sanggar Seni Batin Penghulu combines traditional management and modern management. The results of OGLG oral tradition management consist of planning, organization, implementation, and supervision. The planning carried out by the Sanggar Seni Batin Penghulu included creating concepts, coordinating meetings, and dividing work tasks, administrative preparations, and making technical instructions. The organization carried out is the division of work tasks and preparing strategies and tactics to create a festival. The implementation carried out is applying everything that has been designed. This activity consists of an oral tradition competition, an oral tradition workshop, a culinary competition, and an oral tradition performance. The departments responsible for supervision are the Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, and the Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Merangin. The ministry receives direct information on the finances and operations of Sanggar Seni Batin Penghulu Inner Culture.
EKSPRESI MUSIKAL DALAM PERTUNJUKAN RAPAI BUBEE DI MEE PANGWA TRIENGGADENG PIDIE JAYA PROVINSI ACEH Intan, Intan Rizki; Ediwar, Ediwar; Sastra, Andar Indra; Nursyirwan, Nursyirwan
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 12 No. 2 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i2.49103

Abstract

Rapai Bubée is traditional music typical of the people of Gampong Mee Pangwa, Trienggadeng District, Pidie Jaya Regency, Aceh Province. The form of the Rapai Bubée art performance is different from other Rapai performances. Rapai Bubée uses Bubée as a performance property and the Rapai musical instruments as a sound medium. This research uses several theories related to musical and aesthetic expression by Mondro, whose contents state that, there are three characteristics that become good (beautiful) qualities or build aesthetics from aesthetic objects in general, namely: 1 (one) unity (unity) : 2 (two) complexity : 3 (three) seriousness (intensity).The aim of this research is related to the problem raised, namely uncovering the problem of musical expression in the Rapai Bubée performance in Gampong Mee Pangwa, Trienggadeng District, Pidie Jaya Regency, Aceh Province. The method used in this research is qualitative method. Data collection techniques were carried out using observati techniques, interview techniques and documentation techniques.Keywords: expression, musical, rapai bubée.AbstrakRapai Bubée merupakan musik tradisional khas masyarakat di  Gampong Mee Pangwa Kecamatan Trienggadeng Kabupaten Pidie Jaya Provinsi Aceh. Bentuk pertunjukan kesenian Rapai Bubée berbeda dengan pertunjukan Rapai lainnya. Rapai Bubée menggunakan Bubée sebagai properti pertunjukan dan alat musik Rapai sebagai media bunyi. Penelitian ini mengunakan beberapa teori yang berhubungan dengan ekspresi musikal dan estetika oleh mondro, yang isinya menyebutkan bahwa, ada tiga ciri yang menjadi sifat-sifat baik (indah) atau membangun estetis dari objek estetis pada umumnya yaitu : 1 (satu) kesatuan (unity) : 2 (dua) kerumitan (complexity) : 3 (tiga) kesungguhan (intensity). Tujuan penelitian ini berkaitan dengan masalah yang diangkat yakni mengungkap masalah ekspresi musikal dalam pertunjukan Rapai Bubée di  gampong Mee Pangwa Kecamatan Trienggadeng Kabupaten Pidie Jaya Provinsi Aceh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, teknik wawancara dan teknik dokumentasi.Kata Kunci: ekspresi, musikal, rapai bubée. Authors:Intan Rizki Junita Utami : Institut Seni Indonesia PadangpanjangEdiwar : Institut Seni Indonesia PadangpanjangAndar Indra Sastra : Institut Seni Indonesia PadangpanjangNursyirwan : Institut Seni Indonesia Padangpanjang References:Azis, A. C. K., Mesra, M., & Sugito, S. (2021). Pengembangan Bahan Ajar Micro Teaching Bagi Mahasiswa Seni Rupa Universitas Negeri Medan. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(1), 223-229.Ediwar, E. (2010). Kesenian Bernuansa Islam Suku Melayu Minangkabau. Jurnal UKM, 5(1), 227-249.Nugroho, P. A., Fenriana, I., & Arijanto, R. (2020). Implementasi Deep Learning Menggunakan Convolutional Neural Network (CNN) pada Ekspresi Manusia. Algor, 2(1), 12-20.KBBI. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.Marzuwan, M. (2019). Seni Tari Rapai Bubѐe Pidie Jaya. Penerbit: Bravo Darussalam.Rachmawati, I. N. (2007). Pengumpulan data dalam penelitian kualitatif: wawancara. Jurnal Keperawatan Indonesia, 11(1), 35-40.Sanjaya, Wina, (2013). Penelitian Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.Soeharto, M. (1992). Kamus Musik. Jakarta: Gramedia Widia Serana Indonesia.
Management of Internal Cultural Arts Sanggar Penghulu: Ompek Ganji Limo GonokTradition Festival in Kibul Village Muyusari, Febra; Asril, Asril; Sastra, Andar Indra
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 2 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i2.61735

Abstract

The purpose of this study is to ascertain how the Ompek Ganji Limo Gonok Oral Tradition festival (OGLG) in West Tabir District is processed by the Sanggar Seni Batin Penghulu. This study employed a qualitative approach, including observation, interviews, and recording; the presenting method was descriptive qualitative. Sanggar Seni Batin Penghulu combines traditional management and modern management. The results of OGLG oral tradition management consist of planning, organization, implementation, and supervision. The planning carried out by the Sanggar Seni Batin Penghulu included creating concepts, coordinating meetings, and dividing work tasks, administrative preparations, and making technical instructions. The organization carried out is the division of work tasks and preparing strategies and tactics to create a festival. The implementation carried out is applying everything that has been designed. This activity consists of an oral tradition competition, an oral tradition workshop, a culinary competition, and an oral tradition performance. The departments responsible for supervision are the Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, and the Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Merangin. The ministry receives direct information on the finances and operations of Sanggar Seni Batin Penghulu Inner Culture.
Mangkoan Sound: the Concept of Traditional Talempong Prohibition in Luhak nan Tigo Minangkabau Martis, Martis; Yunaidi, Yunaidi; Sastra, Andar Indra; Anton, Syahri; Nurwani, Nurwani
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya Vol. 8 No. 1 (2024): GONDANG: JURNAL SENI DAN BUDAYA, JUNE 2024
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gondang.v8i1.56611

Abstract

Aesthetically, the aim of this research is to reveal the musical taste and musical standards of tuo talempong in alignment talempong tradition “ mangkoan sound. By ontology and epistemology; form music talempong in life public Already Lots revealed by the researchers previously. However there are one component important that hasn't been touched by researchers, which is related to draft alignment talempong tradition in Luhak Nan Tigo Minangkabau. Principle base alignment talempong related with the musical taste and musical standards of the tuo (elders) of talempong in Luhak Nan Tigo Minangkabau. Based on qualitative research principles; The researcher becomes the main instrument in collecting research data,includinginitial study and problem analysis, primary data collection through participant observers “ ethnography, in-depth interviews “ free and structured, documentation, and data analysis.The analysis was carried out on musical taste and musical standards that were found in the field. Research results show that ' mangkoan the sound ' is A draft alignment talempong tradition in Luhak Nan Tigo Minangkabau. hrough musical sensitivity, tuo talempong in Luhak Nan Tigo Minangkabau created the concept of mangkoan sounds (tala - tuning system) to identify the high and low sounds of jantan-batino talempong.