Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Aplikasi Rekayasa Mutu untuk Mengurangi Cacat pada Mesin Injection Molding Didik Wahjudi; Roche Alimin; Glenn Eko Yulianto
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 1 No. 2 (1999): OCTOBER 1999
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The imperfect combustion process will be a problem in the development effort of diesel engine's performance. Nonhomogen air-fuel mixing process is one of the factors which cause the imperfect combustion. By heating up the diesel fuel up to a certain temperature before it goes through the high pressure injection pump will lower its density and viscosity. Therefore, when injected in the combustion chamber, it will formed smaller droplets of fuel spray which result in a more homogenious air-fuel mixture. Also by using higher temperature will make the diesel fuel easier to ignite in order to compensate the limited time which is available in high speed operating conditions. Diesel fuel heating can improve the combustion process to increase the power and decrease the fuel consumption optimally. Abstract in Bahasa Indonesia : Tidak sempurnanya proses pembakaran merupakan masalah yang akan dijumpai dalam usaha peningkatan kinerja motor diesel. Proses pencampuran udara dan bahan bakar yang kurang baik menjadi salah satu faktor penyebab ketidak sempurnaan tersebut. Dengan melakukan pemanasan terhadap solar sampai temperatur tertentu sebelum masuk ke dalam pompa tekanan tinggi akan menyebabkan penurunan density dan viskositas solar, sehingga bila diinjeksikan ke dalam ruang bakar akan membentuk butiran kabut bahan bakar yang lebih halus yang akan menyebabkan proses pencampuran bahan bakar dan udara menjadi lebih homogen. Disamping itu, dengan temperatur yang lebih tinggi akan membuat solar menjadi lebih mudah terbakar sehingga dapat mengimbangi singkatnya waktu yang tersedia untuk pembakaran pada putaran tinggi. Pemanasan solar dapat dipergunakan sebagai salah satu cara untuk menyempurnakan proses pembakaran sehingga dihasilkan peningkatan daya dan penurunan konsumsi bahan bakar yang optimal. Kata kunci : peningkatan daya, penurunan konsumsi bahan bakar, motor diesel, proses pembakaran
Penilaian Desain Produk dengan Assembly Analysis and Line Balancing Spreadsheet dan Ullman 13 Guidelines untuk Meningkatkan Kinerja Perakitan Didik Wahjudi
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 1 No. 2 (1999): OCTOBER 1999
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In an industry that produces product with a quite many components, assembly process usually is the most cost-determining process. Realizing that almost all products are assembled from some components and that the assembly process itself takes time, then products as much as possible are made to be assembled easily. Product design that is not proper will cause a very high numbers of components that, in turn, will reduce the reliability of that product. Finally, it will increase the assembly cost. That's why product design needs to be evaluated for assembly purpose. The purpose of this research is to evaluate product design by Assembly Analysis and Line Balancing Spreadsheet (AA&LBS) method. Then, the old design is improved to get a new design. The new design is compared the one resulted from Boothroyd Dewhurst (BD) method, where assembly time reduction, efficiency improvement, assembly cost reduction, and Ullman's 13 Guidelines method are used as the criteria. Of the data analysis, assembly time reduction of AA&LBS method is almost 2.7 times, and assembly cost reduction is almost 2.5 times than of BD method. AA&LBS method also resulted in average efficiency improvement that is larger, i.e. 11.08%, while BD method is only 0.08%. According to Ullman's 13 Guidelines method, AA&LBS method has a total score of 1062, while BD method has a score of 1060. Abstract in Bahasa Indonesia : Pada industri yang menghasilkan produk akhir dengan komponen yang cukup banyak, proses perakitan biasanya merupakan proses yang paling menentukan jumlah biaya produksi. Mengingat hampir semua produk dirakit dari beberapa komponen dan proses perakitan itu sendiri menyita waktu, maka sedapat mungkin dibuat produk-produk yang dapat dirakit dengan mudah. Desain produk yang kurang tepat akan menyebabkan jumlah komponen yang terlalu banyak sehingga mengurangi keandalan produk tersebut. Pada akhirnya, hal ini akan meningkatkan biaya proses perakitan. Oleh karena itu perlu dilakukan penilaian terhadap desain produk dengan tujuan memudahkan perakitan. Tujuan penelitian ini adalah menilai desain produk dengan metode Assembly Analysis and Line Balancing Spreadsheet (AA&LBS), kemudian dilakukan perbaikan terhadap desain lama sehingga diperoleh desain baru. Selanjutnya desain baru tersebut dibandingkan dengan desain yang diperoleh metode Boothroyd Dewhurst (BD), dimana alat pembandingnya adalah tabel penurunan waktu perakitan, tabel peningkatan efisiensi, tabel penurunan biaya perakitan dan metode Ullman's 13 Guidelines. Dari analisa data, diperoleh bahwa dengan metode AA&LBS penurunan waktu perakitan hampir 2.7 kali lebih besar, dan penurunan biaya perakitan hampir 2.5 kali lebih besar dari hasil yang diperolch metode BD. Metode AA&LBS juga memberikan rata-rata peningkatan efisiensi yang lebih besar yaitu 11.08 %, sedangkan metode BD hanya 0.08 %. Berdasarkan metode Ullman's 13 Guidelines, metode AA&LBS memiliki total score sebesar 1062, sedangkan metode BD sebesar 1060. Kata kunci: desain untuk perakitan, efisiensi desain
Optimasi Parameter Operasi Mesin Air Slip Forming untuk Meminimalkan Cacat Produk Didik Wahjudi; Amelia Amelia
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 1 No. 2 (1999): OCTOBER 1999
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air Slip Forming machine is one of the machines that is used to produce luggage. However, so far in the manufacturing process determination of operation parameter air-out time (X1), air-in time (X2) and heating time (X3), also the response variable which is the circumference of the luggage (Y) are done by trial and error. Therefore the circumference of the luggage is not the same as the standard one. Respone surface method and CCD formula will be used to get this mathematical model which describe the relation between luggage circumference and other influential variables. The best condition to produce luggage with circumference that meets the standard are 6.3 sec for air-out time, 2.6 sec for air-in time and 62 sec for heating time. Abstract in Bahasa Indonesia : Mesin Air Slip Forming merupakan salah satu mesin untuk memproduksi koper. Selama ini dalam proses produksinya penentuan parameter operasi waktu air-out (X1), waktu air-in (X2), dan waktu pemanasan (X3) serta variabel respon berupa keliling koper (Y) dilakukan dengan cara trial and error. Karena itu sering didapatkan ukuran keliling koper tidak sesuai standar. Metode respon surface dan rancangan CCD akan digunakan untuk mendapatkan model matematis yang menggambarkan hubungan antara keliling koper dan variabel-variabel yang mempengaruhi. Kondisi proses yang menghasilkan keliling koper yang sesuai standar adalah 6.3 detik untuk waktu air out, 2.6 detik untuk waktu air-in dan 62 detik untuk waktu pemanasan. Kata kunci : permukaan respon, CCD
ANALISA TATA LETAK PABRIK UNTUK MEMINIMALISASI MATERIAL HANDLING PADA PABRIK KOPER Gan Shu San; Didik Wahjudi; Sugiarto Sugiarto
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 2 No. 1 (2000): APRIL 2000
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A manufacturing factory that produce travel bags focused on export market with increasing demand, need to improve the product quantity to fulfil the production target. Initial survey found out that the factory cannot meet the target. This situation was caused by some factors, as: lack of machines and ineficiency of the factory location order. This paper includes analysis of factory location order using Travel Chart method which is performed manually and using QS software to get more accurate results. The objective is to minimize material handling so that realization of the production target determined can be optimized. By adding 1 (one) machine for hot forming, the production quantity can be increased and the new facility location order showed reduction of sum of momen from 949459 to 775494.8 Abstract in Bahasa Indonesia : Sebuah perusahaan manufaktur yang memproduksi koper dan menitik beratkan pemasaran produknya untuk ekspor dengan skala permintaan yang semakin meningkat, diharuskan dapat meningkatkan jumlah produksinya untuk memenuhi target produksi. Pada pengamatan awal ditemukan bahwa target produksi ternyata belum terpenuhi. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain adalah kurangnya jumlah mesin yang digunakan dan bentuk tata letak pabrik yang tidak efisien. Makalah ini memuat analisa tata letak pabrik dengan menggunakan metode travel chart yang dilakukan dengan cara manual dan dengan bantuan software QS untuk mendapatkan hasil perhitungan yang lebih akurat. Tujuan analisa tata letak pabrik ini adalah untuk meminimalisasi material handling sehingga diharapkan dapat mengoptimumkan realisasi target produksi yang telah ditetapkan. Dengan menambahkan 1 (satu) buah mesin untuk hot forming maka produksi dapat ditingkatkan dan perancangan tata letak fasilitas baru memberikan pengurangan total momen dari 949459 menjadi 775494,8. Kata kunci: tata letak pabrik, pesawat pengangkat, metode 'travel chart', momen perpindahan.
ANALISA PENJADWALAN DAN BIAYA PERAWATAN MESIN PRESS UNTUK PEMBENTUKAN KAMPAS REM Didik Wahjudi; Amelia Amelia
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 2 No. 1 (2000): APRIL 2000
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maintenance scheduling system is very important for a company to reduce total maintenance cost. Maintenace scheduling will be done on hydraulic seal and oil burner pipe that are components of press machine for hot forming process. Scheduling model will consider labor cost, production loss cost, and spare part cost. The aim of this model is to determine the interval of maintenance by optimizing cost. This calculation will reduce total maintenance cost between 35,07 % and 90,73 % of the previous total maintenance cost. Abstract in Bahasa Indonesia : Sistem penjadwalan perawatan mesin sangatlah penting bagi perusahaan untuk menekan biaya yang harus dikeluarkan. Penjadwalan perawatan akan dilakukan pada seal hydrolis yang merupakan komponen dari mesin press dan slang oil burner yang merupakan komponen mesin press untuk proses hot forming. Model perawatan yang digunakan akan memperhitungkan komponen-komponen biaya yang meliputi biaya tenaga kerja, biaya kehilangan produksi dan harga komponen. Model ini bertujuan untuk menentukan interval waktu perawatan dengan mengoptimalkan biaya. Dari hasil perhitungan dapat menekan biaya total berkisar antara 35,07% sampai 90,73% dari biaya total semula. Kata kunci: penjadwalan, perawatan mesin, biaya perawatan
OPTIMASI KINERJA HEAT EXCHANGER TABUNG KOSENTRIS Didik Wahjudi
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 2 No. 2 (2000): OCTOBER 2000
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Heat exchanger effectiveness is affected by some factors such as pipe shape, temperature, cold and hot air direction and velocity entering the heat exchanger. Research about heat exchanger has been done but the significance level of the heat exchanger effectiveness resulted is unknown. A designed experiment should be done to optimize the performance of concentric tube heat exchanger with measured significance level. From the analysis of result of previous experiment, factors that seem to affect the effectiveness are velocity of cold air, velocity of hot air, and pipe shape of heat exchanger used (outlet and inlet similar to U, S and L shape). Experimental design that is used here is three-level factorial design. On the arrangement of factors as follows: velocity of cold air = 4 m/s, velocity of hot air = 7 m/s, and pipe of S shape, optimum effectiveness gained at significance level of 95 % is 0,39098. Abstract in Bahasa Indonesia : Efektifitas heat exchanger tabung konsentris bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain bentuk pipa, temperatur, arah aliran dan kecepatan udara masuk baik dingin maupun panas. Penelitian mengenai heat exchanger telah dilakukan sebelumnya namun tingkat signifikasi dari efektifitas heat exchanger yang dihasilkan tidak diketahui. Suatu eksperimen yang terancang perlu dilakukan untuk mengoptimalkan kinerja dari heat exchanger tabung kosentris dengan tingkat signifikasi yang terukur. Dari analisa terhadap hasil eksperimen terdahulu, tampak bahwa faktor yang berpengaruh adalah kecepatan udara dingin, kecepatan udara panas dan bentuk pipa heat exchanger (outlet dan inlet menyerupai bentuk U, S dan L) yang digunakan. Rancangan eksperimen yang digunakan ialah rancangan faktorial 3 level. Pada pengaturan level faktor sebagai berikut: kecepatan udara dingin = 4 m/det, kecepatan udara panas = 7 m/det dan bentuk tabung yang digunakan ialah pipa berbentuk S, diperoleh efektifitas optimum pada tingkat signifikasi 95 % = 0,39098. Kata kunci: heat exchanger, desain eksperimen, efektifitas
PENELITIAN OPTIMASI TEMPERATUR YANG MEMPENGARUHI KEKERASAN PADA PEMBUATAN GRINDING BALL DENGAN CARA HOT ROLLING Didik Wahjudi; Amelia Amelia
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 2 No. 2 (2000): OCTOBER 2000
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hardness is one of the mechanical properties needed in a grinding ball. The hardness of grinding ball produced up to now is gained by trial and error to those parameters which are presumed influencing the hardness. Research is done to get parameter influence the hardness of grinding ball and optimum level. Three parameters presumed influencing the hardness are temperature of raw material (Tm), the initial temperature of quenching (Tq), and the final temperature of quenching (Tt). Design of experiment is used to analysis which parameter influence the hardness. A 23 factorial design is chosen, each parameter has two level. According to experiment and data analysis, the influencing parameter are Tq, Tt and interaction between Tq and Tt. The optimum value of Tq and Tt are 905 ± 10°C and 133 ± 3°C, value of Tm is 1110 ± 10°C. Abstract in Bahasa Indonesia : Kekerasan merupakan salah satu sifat yang dibutuhkan oleh grinding ball. Untuk mendapatkan sifat tersebut hingga saat ini masih dilakukan dengan cara trial and error sehingga sangatlah tidak efektif. Maka dari itu dilakukan suatu penelitian untuk mengetahui parameter-parameter yang mempengaruhi kekerasan grinding ball dan level yang optimal. Ada tiga parameter yang diduga mempengaruhi kekerasan grinding ball, yaitu temperatur raw material (Tm), temperatur awal proses quenching (Tq) dan temperatur akhir proses quenching (Tt). Untuk menganalisa parameter-parameter yang berpengaruh digunakan desain eksperimen. Desain eksperimen yang digunakan adalah rancangan faktorial 23, masing-masing terdiri atas 2 level. Dari percobaan dan analisa data, tampak bahwa parameter yang berpengaruh adalah Tq, Tt serta interaksi antara Tq dan Tt. Nilai Tq dan Tt yang optimum adalah 905 ± 10°C dan 133 ± 3°C, sedang nilai Tm yang dianjurkan 1110 ± 10°C. Kata kunci: Desain eksperimen, grinding ball, temperatur quenching
REKAYASA MUTU BESI BETON DENGAN METODE TAGUCHI Didik Wahjudi; Roche Alimin
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 2 No. 2 (2000): OCTOBER 2000
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In attempt to increase the quality of SR-24-type iron rods several constraints are often faced. One of the problems is the high variability of yield strength quality characteristic. A research of influential factors and ideal composition of materials that can minimize quality variability is needed. To solve the above problem Taguchi method is used in designing the experiment. The superiority of this method is the ability to minimize variability of response and the efficiency of experiment. First steps that is taken is choosing control and noise factors and determining the levels. Then, the orthogonal matrix for experiment is built. Data analysis are done by optimizing signal-to-noise ratio, analysis of means, and analysis of variance. Result of analysis of SNR and mean give a conclusion that Carbon content of 0.1 %, Silicon content of 0.15 %, and Mangan content of 0.5 % are sufficient composition of additive material that will minimize variability level of yield strength. Abstract in Bahasa Indonesia : Dalam usaha untuk meningkatkan kualitas besi beton jenis SR-24 dijumpai beberapa kendala. Salah satu kendalanya adalah cukup tingginya tingkat variasi karakteristik mutu yield strength yang terjadi. Sehingga dibutuhkan suatu penelitian terhadap faktor-faktor yang berpengaruh dan pengaturan komposisi bahan yang ideal untuk meminimalkan variasi mutu tersebut. Untuk menyelesaikan masalah tersebut digunakan metode Taguchi dalam perancangan eksperimen. Kelebihan metode ini ialah mampu meminimalkan akibat dari variasi terhadap respon serta eksperimen dapat dilakukan dengan efisien. Langkah yang dilaksanakan ialah memilih faktor-faktor kendali dan noise sekaligus penentuan level-levelnya dan selanjutnya membuat matriks ortogonal untuk eksperimen. Analisa data dilakukan berdasar pengoptimalan Signal to Noise Ratio (SNR), analisa Mean serta Anova. Hasil analisa terhadap SNR dan mean didapatkan kesimpulan bahwa kadar Karbon 0,1 %, kadar Silikon 0,15 %, kadar Mangan 0,5 % merupakan komposisi bahan penolong yang cukup memadai sehingga tingkat variasi yield strength dapat diminimalkan. Kata kunci: Besi beton, Metode Taguchi, yield stregth
OPTIMASI PROSES INJEKSI DENGAN METODE TAGUCHI Didik Wahjudi; Gan Shu San; Yohan Pramono
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 3 No. 1 (2001): APRIL 2001
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

At this time about 3% of products produced by "X" plastic factory does not reach the standard. This factory has a problem to minimize the amount of defects. Taguchi method is used to lower the level of product defects. From the field survey, all the suspected factors can be obatained and it is shown ini the fishbone diagram. From the suspected factors, the factory chose factors that are to be used ini the experiments. Experiments were conducted using those four factors : pellet material percentage (60%, 70%, 80%), temperature (217°C, 225°C, 233°C), injection pressure (92 Bar, 93 Bar, 94 Bar), screw speed (81%, 83%, 85%). Taguchi method provide the combination and number of experiments. From each level of defects condition, analysis was done to obtain the affecting variables. The results of analysis shows that the combination of pellet material (80%), temperature (225°C), injection pressure (93 Bar), screw speed (83%) can minimize the amount of defects to 0.3%. Abstract in Bahasa Indonesia : Pada saat ini sekitar 3% produk yang dihasilkan oleh perusahaan plastik "X" tidak memenuhi standar. Perusahaan mengalami kesulitan untuk menurunkan tingkat kecacatan produk tersebut. Hal inilah yang mendasari penelitian dengan metode Taguchi yang bertujuan untuk menurunkan tingkat kecacatan produk. Dari survey lapangan didapatkan faktor-faktor yang dicurigai dan ditampilkan dalam bentuk diagram tulang ikan. Dari faktor-faktor yang dicurigai berpengaruh, perusahaan memilih faktor-faktor yang diijinkan untuk dieksperimentasikan. Empat faktor yang akan dieksperimentasikan adalah persentase bahan pelet, temperatur (217°C, 225°C, 233°C), tekanan injeksi (92 Bar, 93 Bar, 94 Bar), screw speed (81%, 83%, 85%). Metode Taguchi dipergunakan untuk menentukan kombinasi dan jumlah dari eksperimen. Dari tingkat kecacatan tiap kondisi dilakukan analisa sehingga didapatkan variabel yang berpengaruh. Dari hasil analisa didapat bahwa kombinasi persentase bahan pelet (80%), temperatur (225°C), tekanan injeksi (93 Bar) serta srew speed (83%) dapat menurunkan tingkat kecacatan hinga 0,3%. Kata kunci: Metode Taguchi, cacat produk, diagram tulang ikan.
OPTIMASI CRANKING AMPERE AKI DI P.T. "X" Didik Wahjudi
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 3 No. 2 (2001): OCTOBER 2001
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Accumulator products of P.T. "X" that have accumulator of 221 CA can not fulfil Japanese, Europe and U.S. standards that require minimum cranking ampere of 275 CA. By using fishbone diagram suspected affecting factors to accumulator cranking ampere are obtained. Company chooses factors that are allowed to be experimented. There are 4 chosen factors. Each factors has 3 levels that are charging time interval (30 minutes, 60 minutes, 90 minutes), cell plate thickness (1.2 mm, 1.4 mm, 1,6 mm), material purity percentage (96%, 97%, 98%), and charging current (160 A, 170 A, 180 A). From the data, the experiment combination is done by using orthogonal array that is one of the Taguchi's method steps. From the analysis the best combination is obtained that is charging time interval of 60 minutes, cell plate thickness of 1.4 mm, material purity percentage of 98%, and charging current of 180 A. This combination can increase cranking ampere to 278 CA. Verification test proves that cranking ampere of 278 CA can be attained. Abstract in Bahasa Indonesia : Produk aki di P.T. "X" memiliki cranking ampere 221 CA sehingga tidak bisa memenuhi permintaan pasar Jepang, Eropa dan Amerika yang mempersyaratkan cranking ampere minimal 275 CA. Dengan menggunakan diagram tulang ikan didapat faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap cranking ampere aki. Perusahaan memilih faktor-faktor yang bisa dieksperimentasikan. Faktor-faktor yang dipilih berjumlah 4 faktor dan masing-masing faktor memiliki 3 level, yaitu: interval waktu charging (30 menit, 60 menit, 90 menit), tebal plat sel (1,2 mm, 1,4 mm, 1,6 mm), persentase kemurnian bahan (96%, 97%, 98%), dan besar kuat arus charging (160 A, 170 A, 180 A). Dari data tersebut, dilakukan kombinasi percobaan dengan menggunakan matriks ortogonal yang merupakan salah satu langkah dari metode Taguchi. Dari hasil analisa didapatkan hasil kombinasi terbaik ialah interval waktu charging 60 menit, tebal plat sel 1,4 mm, persentase kemurnian bahan 98%, dan besar kuat arus charging 180 A yang dapat meningkatkan cranking ampere hingga mencapai 278 CA. Uji verifikasi membuktikan bahwa cranking ampere sebesar 278 tersebut dapat dicapai. Kata kunci: optimasi, cranking ampere, metode Taguchi.