Yuliana Setyaningsih
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Published : 33 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

KATA FATIS PENANDA KETIDAKSANTUNAN PRAGMATIK DALAM RANAH KELUARGA R. Kunjana Rahardi; Yuliana Setyaningsih; Rishe Purnama Dewi
Adabiyyāt: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 13, No 2 (2014)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.064 KB) | DOI: 10.14421/ajbs.2014.13201

Abstract

One of the pragmatic markers, which shows language impoliteness, is classified in phatic category. This research aims to analyze the phatic discourse particles serving as pragmatic markers of impoliteness. Therefore, the data in this research are the utterances containing phatic discourse markers showing linguistic impoliteness taken from the family of farmers, traders, fishermen, teachers, and noblemen. The data were gathered by employing the listening and speaking methods. The data gathering techniques are the recording and transcribing. The data are classified and analyzed using contextual method. This research indicates that there are 11 categories of phatic discourse markers showing pragmatic impoliteness. They are phatic markers of “kok”, “ah”, “hayo”, “mbok”, “lha”, “tak”, “huu”, “iih”, “woo”, “hei”, and “halah”. Every phatic category conveys a specific intention which is different from other phatic discourse markers.
URGENSI PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MORFOLOGI KONTEKSTUAL BERBASIS MULTIMODALITAS Jasmine Belinda Budijanto; Yuliana Setyaningsih; R. Kunjana Rahardi
Fon : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 18, No 1 (2022): Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/fon.v18i1.4837

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan urgensi dari pengembangan bahan ajar morfologi kontekstual berbasis multimodalitas. Penelitian ini menggunakan penelitian mix-method. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa dan dokumen berupa rencana pembelajaran semester mata kuliah morfologi. Data yang diperoleh berupa hasil pengisian angket dan hasil analisis dokumen. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner dan studi pustaka. Penelitian ini menggunakan kualitatif dan kuantitatif dalam menganalisis data yang diperoleh. Data angket dianalisis menggunakan kualitatif dan kuantitatif, sedangkan hasil analisis dokumen dianalisis dengan menggunakan kualitatif. Berdasarkan penelitian tersebut, peneliti menemukan bahwa mahasiswa mengalami kesulitan dalam belajar morfologi. Kesulitan terbesar mahasiswa adalah mempelajari morfem, morf, alomorf, dan afiksasi. Untuk membantu mahasiswa, sudah terdapat beberapa buku yang membantu, seperti buku ajar morfologi dan buku referensi. Akan tetapi, buku ajar tersebut belum terintegrasi dengan multimodalitas sehingga mahasiswa masih mengalami kesulitan untuk memahami morfologi. Oleh karenanya, diperlukan bahan ajar morfologi yang kontekstual dan terintegrasi dengan multimodalitas. Dengan adanya bahan ajar morfologi kontekstual berbasis multimodalitas, mahasiswa menjadi lebih mudah memahami morfologi. KATA KUNCI: bahan ajar; morfologi kontekstual; multimodalitas. THE URGENCY OF THE DEVELOPMENT OF MULTIMODALITY-BASED CONTEXTUAL MORPHOLOGY TEACHING MATERIALS ABSTRACT: This study aims to describe the urgency of developing multimodality-based contextual morphology teaching materials. This study uses a mix-method research. The subjects of this study were students and documents in the form of semester learning plans for morphology subjects. The data obtained are the results of filling out the questionnaire and the results of document analysis. Data collection techniques used are questionnaires and literature study. This study uses qualitative and quantitative in analyzing the data obtained. Questionnaire data were analyzed using qualitative and quantitative, while the results of document analysis were analyzed using qualitative. Based on this research, the researcher found that students had difficulties in learning morphology. The biggest difficulty for students is learning morphemes, morphs, allomorphs, and affixations. To help students, there are several books that help, such as morphology textbooks and reference books. However, the textbook has not been integrated with multimodality so that students still have difficulty understanding morphology. Therefore, contextual and integrated morphology teaching materials are needed with multimodalities. With multimodality-based contextual morphology teaching materials, students will find it easier to understand morphology.KEYWORDS: teaching materials; contextual morphology; multimodality.
Dimensi-dimensi autentik multimodalitas sosial-semiotik pembelajaran afiksasi dalam morfologi kontekstual Jasmine Belinda Budijanto; Yuliana Setyaningsih
KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/kembara.v8i2.21743

Abstract

Multimodalitas kini menjadi salah satu perspektif yang dapat digunakan untuk menganalisis bentuk, makna, dan fungsi afiksasi dalam morfologi kontekstual. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji afiksasi dengan dimensi dimensi aurtentik multimodalitas sosial-semiotik pada pembelajaran morfologi kontekstual. Sumber data substansif penelitian ini adalah komik, iklan, dan video. Data penelitian berupa kata-kata yang mengandung afiksasi. Data dikumpulkan dengan metode simak dengan teknik baca dan teknik catat. Data yang terkumpul diidentifikasi dan diklasifikasikan berdasarkan afiksasi dan dimensi multimodalitas. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode analisis padan intralingual dengan mendasarkan pada teori morfologi dan metode padan ekstralingual dengan mendasarkan pada multimodalitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga bentuk afiks, yaitu prefiks, sufiks, dan konfiks. Setiap kata berafiks tersebut memiliki makna yang dapat dianalisis dengan menggunakan dimensi multimodalitas, seperti aspek visual, aural, gestural dan linguistis. Aspek multimodalitas dapat berfungsi untuk menafsirkan makna kata sesuai dengan konteks dan mengonfirmasi makna kata. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran afiksasi dengan memanfaatkan dimensi autentik multimodalitas dapat membantu peserta didik memaknai makna kata dan fungsi kata yang mengalami proses morfologis. Pembelajaran afiksasi tersebut bermakna gramatikal, sehingga dimensi multimodalitas dapat menegaskan kembali makna dan fungsi kata berafiks tersebut sehingga pembelajaran afiksasi menjadi lebih bermakna bagi peserta didik.
ARGUMENT CONSTELLATION IN JOURNAL ARTICLES: TOULMIN STEPHEN PERSPECTIVE (KONSTELASI ARGUMEN DALAM ARTIKEL JURNAL: PERSPEKTIF STEPHEN TOULMIN) Yuliana Setyaningsih; R. Kunjana Rahardi
Jurnal Gramatika Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Universitas PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1175.922 KB) | DOI: 10.22202/jg.2020.v6i2.4079

Abstract

A constellation of arguments is present in each component of a journal article. Understanding the constellation of arguments in such journal articles is important because they will directly affect the writing of journal articles. This study aims to describe the constellation of arguments in the structure of the intended journal article. Data were collected by the observation method. The technique used in the framework of applying the method of referencing was a competent free observation technique. The next technique is note-taking. Data validation is done theoretically by confirming the available data on the theories. Also, validation is carried out to experts who master the matters of argument. The data validation was done after the data had been classified and verified. The data analysis method applied in this research is the method of distribution or distribution. The technique applied is a technique for direct elements.The data analysis method applied was the content analysis method. The results of the analysis were presented with informal presentation techniques. This research had produced the findings of the constellation of arguments in sections of journal articles. The parts of the journal article that may be present in the argument are in the following sections: (1) background, (2) literature review, (3) method, and (4) discussion. There is no argument in the conclusion section of the paper.
ARGUMENT CONSTELLATION IN JOURNAL ARTICLES: TOULMIN STEPHEN PERSPECTIVE (KONSTELASI ARGUMEN DALAM ARTIKEL JURNAL: PERSPEKTIF STEPHEN TOULMIN) Yuliana Setyaningsih; R. Kunjana Rahardi
Jurnal Gramatika Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Universitas PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22202/jg.2020.v6i2.4079

Abstract

A constellation of arguments is present in each component of a journal article. Understanding the constellation of arguments in such journal articles is important because they will directly affect the writing of journal articles. This study aims to describe the constellation of arguments in the structure of the intended journal article. Data were collected by the observation method. The technique used in the framework of applying the method of referencing was a competent free observation technique. The next technique is note-taking. Data validation is done theoretically by confirming the available data on the theories. Also, validation is carried out to experts who master the matters of argument. The data validation was done after the data had been classified and verified. The data analysis method applied in this research is the method of distribution or distribution. The technique applied is a technique for direct elements.The data analysis method applied was the content analysis method. The results of the analysis were presented with informal presentation techniques. This research had produced the findings of the constellation of arguments in sections of journal articles. The parts of the journal article that may be present in the argument are in the following sections: (1) background, (2) literature review, (3) method, and (4) discussion. There is no argument in the conclusion section of the paper.
MODAL QUALIFIERS AS BOOSTER IN ARGUMENTATIVE WRITING OF THE THESIS DISCUSSION SECTION (MODAL QUALIFIERS SEBAGAI BOOSTER DALAM TULISAN ARGUMENTATIF PADA BAGIAN PEMBAHASAN TESIS) Yuliana Setyaningsih; R. Kunjana Rahardi; Refa Lina Tiawati
Jurnal Gramatika Vol 9, No 1 (2023)
Publisher : Universitas PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22202/jg.2023.v9i1.6316

Abstract

The importance of using modal qualifiers as a component of argumentative writing in the discussion section of student theses has not been fully realized by students. In fact, this component greatly determines the level of strength of the argument as a vehicle for conveying scientific truth. Scientific truth can be tested through the strength of the argument that appears in the selection of the types of modal qualifiers that accompany the position statement. This study aims to describe the manifestation of the form and function of the modal qualifier as a booster in argumentative writing for thesis discussion. The research data is in the form of excerpts of claims which contain boosters from the thesis discussion section of students of the Indonesian Language Education Master’s Program at Sanata Dharma University, Yogyakarta. Data was collected by listening method with note-taking technique. Furthermore, the stages of classification and typification of data are carried out. The analytical method used in this study is the distributional analysis method and the content analysis method. The results of this study are the following forms of capital qualifiers as boosters: (1) definitely, (2) necessary, (3) must, (4) certainly, and variations in form. This study also found seven booster functions as follows: (1) affirming by showing confidence, (2) affirming by giving recommendations, (3) affirming by confirming something, (4) affirming by confirmation of clarity, (5) affirming by inferring purpose, (6) affirming of intent by ensuring, (7) affirming by suggesting something.
MODAL QUALIFIERS AS BOOSTER IN ARGUMENTATIVE WRITING OF THE THESIS DISCUSSION SECTION (MODAL QUALIFIERS SEBAGAI BOOSTER DALAM TULISAN ARGUMENTATIF PADA BAGIAN PEMBAHASAN TESIS) Yuliana Setyaningsih; R. Kunjana Rahardi; Refa Lina Tiawati
Jurnal Gramatika Vol 9, No 1 (2023)
Publisher : Universitas PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22202/jg.2023.v9i1.6316

Abstract

The importance of using modal qualifiers as a component of argumentative writing in the discussion section of student theses has not been fully realized by students. In fact, this component greatly determines the level of strength of the argument as a vehicle for conveying scientific truth. Scientific truth can be tested through the strength of the argument that appears in the selection of the types of modal qualifiers that accompany the position statement. This study aims to describe the manifestation of the form and function of the modal qualifier as a booster in argumentative writing for thesis discussion. The research data is in the form of excerpts of claims which contain boosters from the thesis discussion section of students of the Indonesian Language Education Master’s Program at Sanata Dharma University, Yogyakarta. Data was collected by listening method with note-taking technique. Furthermore, the stages of classification and typification of data are carried out. The analytical method used in this study is the distributional analysis method and the content analysis method. The results of this study are the following forms of capital qualifiers as boosters: (1) definitely, (2) necessary, (3) must, (4) certainly, and variations in form. This study also found seven booster functions as follows: (1) affirming by showing confidence, (2) affirming by giving recommendations, (3) affirming by confirming something, (4) affirming by confirmation of clarity, (5) affirming by inferring purpose, (6) affirming of intent by ensuring, (7) affirming by suggesting something.
Urgensi Pengembangan Instrumen Pengukuran Kemampuan Berkreasi dan Berinovasi dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Zethly Ronaldo; Yuliana Setyaningsih; B. Widharyanto
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 9 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v9i2.3004

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui urgensi dari pengembangan instrumen pengukuran kemampuan berkreasi dan berinovasi dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terbuka yang dibagikan kepada peserta didik kelas 9 di jenjang SMP. Terdapat tiga aspek yang diberikan dengan total 8 pernyataan. Hasil penelitian menunjukan bahwa peserta didik memberikan tanggapan yang baik mengenai seluruh aspek kuesioner awal kebutuhan peserta didik. Hal ini bisa dilihat dengan skor rata-rata keseluruhan aspek adalah 4,29 atau 85,73%, dengan kategori “sangat setuju”. Aspek pertama mengenai ketersediaan bacaan dan pemberian tugas memiliki pengaruh dalam meningkatkan kemampuan berkreasi dan berinovasi, memiliki skor rata-rata 4,04 dengan persentase 80,77, kategori “sangat setuju”. Aspek kedua mengenai strategi pembelajaran memiliki pengaruh dalam mengembangkan keterampilan berkreasi dan berinovasi, memiliki skor rata-rata 4,46 dengan persentase 89,23%, kategori “sangat setuju”. Aspek ketiga mengenai urgensi pengembangan instrumen pengukuran kemampuan berkreasi dan berinovasi dalam pembelajaran bahasa Indonesia, memiliki skor rata-rata 4,36 dengan persentase 87,18%, kategori “sangat setuju”.
Kemampuan Menulis Argumentasi Siswa: Analisis Profil dan Problematika Pembelajaran Zain Syaifudin Nakrowi; Dadang S. Ansori; Yeti Mulyati; Yuliana Setyaningsih
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 10 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v10i1.3107

Abstract

Kemampuan menulis argumen sangatlah penting dan kompleks. Oleh karena itu, penelitian mengenai kemampuan menulis argumentasi sering dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas menulis argumentasi siswa untuk memetakan profil dan problematika pembelajaran menulis argumentasi. Selain itu, penelitian ini juga mengkaji kemungkinan konsep berpikir kritis sebagai model pembelajaran menulis argumentasi. Metode yang digunakan adalah metode campuran. Statistik sederhana digunakan untuk analisis kualitatif. Objek penelitiannya adalah 173 siswa dari 5 (lima) SMA Negeri di Jawa Tengah. Hasil penelitiannya adalah: 1) tingkat kemandirian berpikir siswa rendah; sebanyak 69,94% karya siswa tidak lolos uji kemiripan; 2) Rata-rata hasil karya siswa secara keseluruhan berada pada klasifikasi rendah dengan perolehan skor 1,19 dari rentang 0,00-4,00; 3) Secara konseptual, berpikir kritis dapat digunakan sebagai alat bantu dalam pembelajaran menulis argumentasi. Berdasarkan hasil tersebut maka penguatan literasi, keteladanan, dan melibatkan berpikir kritis sangat penting dalam pembelajaran menulis argumentasi. Guru dan siswa harus meningkatkan kemampuan literasinya. Literasi sangat penting dalam menulis argumen. Struktur jaminan tersebut hanya akan terpenuhi apabila penulis mempunyai kemampuan literasi yang baik. Siswa harus diberikan contoh bagaimana memperoleh dan menggunakan informasi dalam menyusun teks argumentatif. Selain itu, siswa harus terbiasa menentukan tujuan, merumuskan pertanyaan, menggali informasi, menarik kesimpulan, membuat konsep, melihat berbagai asumsi, mempertimbangkan implikasi, dan mengkonstruksi sudut pandang. Dengan cara ini, siswa dapat menyusun argumen dengan struktur klaim, landasan, pernyataan, jaminan, dan sanggahan.
Optimalisasi Penggunaan Teknologi dalam Implementasi Kebutuhan Bahan Ajar BIPA Tingkat Pemula Maranta, Patrick Fiskhas; B. Widharyanto, B. Widharyanto; Setyaningsih, Yuliana
GHANCARAN: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 2023: SPECIAL EDITION: LALONGET IV
Publisher : Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/ghancaran.vi.11764

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena pembelajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing (BIPA) yang mengalami perkembangan pesat dalam era digital. Namun, terdapat keterbatasan pengembangan bahan ajar terintegrasi teknologi ajar untuk melatih keterampilan berbicara BIPA tingkat pemula di Yogyakarta. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan kebutuhan pembelajar BIPA tingkat pemula di Yogyakarta dalam melatih keterampilan berbicara melalui penggunaan bahan ajar terintegrasi teknologi. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif. Data penelitian yang digunakan adalah hasil dari wawancara mendalam kepada pengajar BIPA dan penyebaran angket terhadap pembelajar asing di Yogyakarta. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pembelajar BIPA memiliki kebutuhan beragam materi pembelajaran, konsep, dan integrasi teknologi dan informasi pada materi pengajaran dengan memerhatikan: 1) e-book digital interaktif yang dapat membantu pembelajar untuk melatih keterampilan berbicara, 2) Pemilihan topik pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan pembelajar, 3) penggunaan bahan ajar secara mandiri, 4) materi yang dapat mengakomodasi tantangan, gambaran nyata kehidupan sehari-hari, dan variasi multimedia, 5) Beragam topik pembelajaran yang dapat merangsang kognivitas pembelajar.