Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

DETEKSI KANDUNGAN LOGAM BERAT TIMBAL (PB) PLASMA DARAH SAPI BALI (BOS SONDAICUS) METODE AAS DI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) GILI TRAWANGAN Hairul Fatihi; Ni Luh Lasmi Purwanti; Candra Dwi Atma; Mariyam Al Haddar; Nur Rusdiana
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 11 No. 1 (2024): JUNI 2024
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu tempat wisata di Lombok yang cukup terkenal adalah Gili Trawangan yang terletak di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Volume pengunjung yang banyak menghasilkan banyak sampah, baik organik maupun anorganik. Di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bank Sampah NTB Bintang Sejahtera, sampah Gili Trawangan diolah. Sapi bali dipelihara oleh masyarakat di tempat pembuangan sampah. Sapi bali mempunyai tingkat adaptasi lingkungan yang tinggi diantara banyak manfaat lainnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah plasma darah sapi bali di Gili Trawangan mengandung logam berat timbal (Pb). Berdasarkan hasil pemeriksaan sepuluh sampel plasma darah sapi bali dengan metode analisis AAS menunjukkan tidak terdapat kontaminasi logam berat timbal (Pb) pada plasma darah sapi bali (≤0,0036 mg/dL). Faktor internal yaitu umur dan bobot tubuh serta faktor eksternal yaitu jumlah zat toksik, konsentrasi dan lama paparan timbal yang mempengaruhi kadar logam timbal (Pb) dalam darah sapi bali.
PENGARUH KETINGGGIAN LOKASI DAN KONDISI LINGKUNGAN TERHADAP FISIK SAPI BALI (BOS SONDAICUS) (Studi Pada Peternakan Skala Kecil Di Daerah Pegunungan Sembalun) Yusri Ghinand Marzuki; Sucika Armiani; Ni Luh Lasmi Purwanti
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 12 No. 2 (2025): DESEMBER
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh ketinggian lokasi dan kondisi lingkungan terhadap fisik Sapi Bali (Bos sondaicus) pada peternakan skala kecil di Pegunungan Sembalun. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif pada 56 ekor Sapi Bali yang dipelihara di tiga lokasi berbeda: Bukit Pergasingan (1.720 mdpl), Bukit Savana Dandaun (1.429 mdpl), dan Bukit Savana Bentotok (1.319 mdpl). Body Condition Score (BCS) digunakan sebagai indikator fisik sapi, sementara kondisi lingkungan diukur berdasarkan parameter suhu, kelembaban, dan tekanan udara. Analisis data menggunakan uji Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa ketinggian lokasi berpengaruh signifikan terhadap BCS sapi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sapi yang dipelihara di lokasi dengan ketinggian lebih rendah, seperti Bukit Savana Bentotok, memiliki rata-rata BCS lebih baik dibandingkan lokasi dengan ketinggian lebih tinggi, seperti Bukit Pergasingan. Selain itu, suhu dan kelembaban juga memengaruhi kondisi fisik sapi, di mana lokasi dengan suhu yang lebih stabil mendukung kondisi fisik ternak yang lebih optimal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ketinggian lokasi dan kondisi lingkungan merupakan faktor penting dalam menentukan kondisi fisik Sapi Bali. Oleh karena itu, pemilihan lokasi peternakan yang strategis serta penerapan manajemen lingkungan yang baik diperlukan untuk mendukung produktivitas dan kesejahteraan ternak di daerah pegunungan. Kata kunci : Sapi Bali, ketinggian lokasi, kondisi lingkungan, Body Condition Score, Pegunungan Sembalun
DETEKSI DAN PREVALENSI TELUR CACING NEMATODA PADA AYAM PETELUR (HY-LINE BROWN) DI DESA BAGIK POLAK KECAMATAN LABUAPI Septiana Wurru; Ni Luh Lasmi Purwanti; I Gede Bagas Upaditha Adresya Kaler; Maratun Janah; Kholik
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 12 No. 2 (2025): DESEMBER
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak : Ayam petelur merupakan salah satu jenis unggas yang sangat populer di Indonesia, dikarenakan kualitas telurnya yang tinggi dan harga yang relatif terjangkau. Namun, dalam proses budidaya ayam petelur, masih sering terjadi kendala, salah satunya disebabkan oleh infeksi parasit yang menyebabkan gangguan pada sistem pencernaan dan dapat mengurangi produktivitas ayam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui deteksi dan prevalensi infeksi cacing Nematoda pada ayam petelur yang dipelihara di desa Bagik Polak kecamatan Labuapi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November tahun 2024 dengan menggunakan 25 sampel feses ayam petelur dengan menggunakan metode natif dan apung. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 25 sampel terdapat 12 sampel positif, telur cacing Nematoda. Jenis Nematoda yang ditemukan yaitu 7 sampel positif Ascaridia galli dengan prevalensi 28% dan 5 sampel positif Tetrameres sp dengan prevalensi 20%. Total prevalensi telur cacing Nematoda sebesar 48%. Kata kunci : Ayam petelur, Deteksi, Prevalensi, Nematoda sp, Labuapi
ANALISIS PROFIL HEMATOLOGI DAN MORFOLOGI ERITROSIT PENYU SISIK (ERETMOCHELYS IMBRICATA) SEBAGAI INDIKATOR KESEHATAN DI WILAYAH PESISIR PANTAI LOMBOK, NUSA TENGGARA BARAT M. Iftitah Mahroza; Septyana Eka Rahmawati; Muhammad Munawaroh; Ni Luh Lasmi Purwanti
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 12 No. 2 (2025): DESEMBER
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) merupakah salah satu jenis penyu yang dapat di temukan di Pesisir Pantai Lombok, NTB. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil dan morfologi eritrosit pada darah Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) yang berada di Pesisir Pantai Lombok, Nusa Tenggara Barat, sebagai indikator kesehatan dan adaptasi lingkungan. Sampel darah diambil dari dua ekor penyu menggunakan metode accidental sampling dan dianalisis di Balai Besar Veteriner Denpasar menggunakan alat hematology analyzer serta pengamatan mikroskopis apus darah dengan pewarnaan Giemsa. Hasil penelitian menunjukkan jumlah eritrosit (RBC) sebesar 2,2–2,9×10⁶/μl, kadar hemoglobin (Hb) 7,00–8,80 g/dl, dan hematokrit (HCT) 13,5–19%. Nilai MCV, MCH, dan MCHC tidak dapat terekam karena keterbatasan alat. Morfologi eritrosit menunjukkan bentuk elips berinti khas reptil. Data ini diharapkan dapat menjadi acuan dasar bagi pemantauan kesehatan penyu di wilayah Pesisir Pantai Lombok. Kata kunci: Penyu sisik, eritrosit, hematologi, morfologi darah, Lombok
LAJU PERTUMBUHAN DIMENSI PANJANG TUBUH BABI DOMESTIK (Sus scrofa domesticus) DI KABUPATEN LOMBOK BARAT Baiq Marwah Arradyah; Ni Luh Lasmi Purwanti; Mariyam Al Haddar; Septyana Eka Rahmawati; Eprinanda Galuh Berliana
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 12 No. 2 (2025): DESEMBER
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Ternak babi berperan penting secara ekonomi dan sosial bagi masyarakat, serta menunjukkan potensi produktivitas tinggi sebagai komoditas unggulan. Pertumbuhan babi pada aspek panjang tubuh, dipengaruhi oleh faktor genetik dan hormon, sehingga perlu dikaji untuk mengetahui potensi pertumbuhan dan performa ternak secara lebih akurat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan laju pertumbuhan babi domestik (Sus scrofa domesticus) antara jantan dan betina, serta membandingkan dimensi panjang tubuh yang meliputi kepala, leher, telinga, punggung, dan ekor. Penelitian dilakukan secara observasional terhadap 54 ekor babi domestik (27 jantan dan 27 betina) berumur 1–3 bulan yang dipelihara secara intensif di Kecamatan Gerung dan Kuripan, Kabupaten Lombok Barat. Data diperoleh melalui pengukuran morfometrik dan dianalisis menggunakan model regresi power. Hasil penelitian menunjukkan ukuran dimensi panjang tubuh babi domestik jantan berbeda nyata (P<0,05) dengan betina, namun tidak terdapat interaksi dengan umur. Dimensi panjang tubuh babi domestik jantan paling dini tumbuh yaitu panjang kepala, panjang telinga, panjang punggung, panjang ekor dan yang paling akhir tumbuh yaitu panjang leher. Sedangkan babi domestik betina, dimensi yang paling dini tumbuh yaitu panjang kepala, panjang telinga, panjang ekor, panjang leher, dan terakhir tumbuh yaitu panjang punggung. Kata kunci: Babi Domestik, Laju Pertumbuhan, Dimensi Panjang Tubuh, Morfometrik, Lombok Barat.
LAJU PERTUMBUHAN DIMENSI LINGKAR TUBUH BABI DOMESTIK (Sus scrofa domesticus) DI KABUPATEN LOMBOK BARAT Nova Eriyanto; Ni Luh Lasmi Purwanti; Mariyam Al Haddar; Devia Wulandasari
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 12 No. 2 (2025): DESEMBER
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak : Kabupaten Lombok Barat merupakan salah satu daerah penghasil ternak babi di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan laju pertumbuhan dimensi lingkar tubuh yang meliputi lingkar leher (regio cervicalis), lingkar abdomen (regio abdominal), dan lingkar panggul (regio coxalis) pada babi domestik jantan dan betina. Penelitian dilakukan secara kuantitatif dengan rancangan acak lengkap (RAL) menggunakan dua faktor utama, yaitu jenis kelamin dan umur. Sampel terdiri dari 54 ekor babi domestik (27 jantan dan 27 betina) berumur 1 hingga 5 bulan yang diukur setiap bulan selama tiga bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kelamin dan umur berpengaruh nyata terhadap dimensi lingkar tubuh. Babi jantan memiliki pertumbuhan paling dini yaitu pada dimensi lingkar leher (regio cervicalis) dengan nilai laju (b=0,812), kemudian disusul oleh lingkar panggul (regio coxalis) dengan nilai laju (b=1,042) dan terakhir tumbuh adalah dimensi lingkar abdomen (regio abdominal) dengan nilai laju (b=1,118). Sedangkan babi betina dimensi yang paling dini tumbuh yaitu dimensi lingkar leher (regio cervicalis) dengan nilai laju (b=0,852), kemudian disusul oleh dimensi lingkar abdomen (regio abdominal) dengan nilai laju (b=1,038) dan dimensi lingkar yang paling akhir tumbuh yaitu dimensi lingkar panggul (regio coxalis) dengan nilai laju (b=1,086). Hal ini disebabkan oleh adanya tuntutan dari fungsi fisiologis tubuh dan adanya pengaruh peran hormonal seperti androgen pada ternak jantan serta estrogen pada ternak betina. Kata kunci: Babi domestik, Laju pertumbuhan, Dimensi lingkar, jantan, betina.