Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Ilmu Kimia Tanaman Lauraceae Indonesia: VI. Kriptokaryon dari Cryptocarya Laevigata BL. (Lauraceae) Sjamsul Arifin Achmad; Effendi Effendi; Emilio L. Ghisalberti; Euis Holisotan Hakim; Lia Dewi Juliawaty; Lukman Makmur; Allan H. White
Journal of Mathematical and Fundamental Sciences Vol. 24 No. 2/3 (1991)
Publisher : Institute for Research and Community Services (LPPM) ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekstraksi kulit akar dan kulit barang tanaman Cryptocarya laevigata Bl. (Lauraceae) dengan n-heksan menghasilkan suatu calkon yang diidentifikasi sebagai kriptokaryon (I). Struktur senyawa ini ditetapkan berdasarkan data spektroskopi dan analisis Kristal sinar-X. Kesimpulan mengenai struktur kriptokaryon (I) mendukung saran peneliti sebelumnya, yang terlah merevisi struktur (II) yang pertama kali disarankan. C. laevigata adalah spesies kedua anggota suku Lauraceae yang telah ditemukan mengandung kriptokaryon (I). Tambahan pula, kriptokaryon (I) adalah senyawa alam kedua dari jenis flavonoid yang mengandung cincin A yang tereduksi sebagian, yang pernah ditemukan. Extraction of the root and the tree barks of Cryptocarya laevigata Bl. (Lauraceae) with n-hexane yielded a chalcone identified as cryptocaryone (I). The structure of this compound had been elucidated based on spectroscopic measurements and X-ray crystal analysis. Conclusions about the structure of cryprocaryone (I) confirm the previous suggestion, which revised the structure (ll) suggested earlier. C. laevigata is the second species of Lauraceae which contains cryptocaryone (I). Furthermore, cryptocaryone (I) is a second naturally occurring flavonoid containing a reduced A ring system which has so far been isolated.
KARAKTERISASI SENYAWA FENOL DARI KAYU BATANG MORUS NIGRA Ferlinahayati Ferlinahayati; Euis Holisotan Hakim; Yana Maolana Syah; Lia Dewi Juliawaty
Molekul Vol 8, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.526 KB) | DOI: 10.20884/1.jm.2013.8.1.124

Abstract

Tumbuhan Morus merupakan salah satu genus utama dalam famili Moraceae. Senyawa-senyawa turunan fenol merupakan kandungan utama dari genus ini, diantaranya kelompok stilben, 2-arilbenzofuran, flavonoid dan adductDiels Alder. Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian mengenai kajian fitokimia terhadap tumbuhan Morus. Ekstraksi dilakukan secara maserasi terhadap kayu batang Morus nigra menggunakan pelarut metanol yang dilanjutkan dengan pemisahan menggunakan berbagai teknik kromatografi sehingga diperoleh senyawa murni. Berdasarkan data-data spektroskopi yang meliputi spektrum UV, IR dan NMR maka senyawa murni hasil isolasi tersebut merupakan senyawa fenol yaitu b-resorsilaldehid.
SESKUITERPEN FURANODIENON DARI RIMPANG Curcuma xanthorrhiza DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERINYA Hartiwi Diastuti; Yana Maolana Syah; Lia Dewi Juliawaty; Marlia Singgih
Molekul Vol 8, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (709.283 KB) | DOI: 10.20884/1.jm.2013.8.2.131

Abstract

ABSTRAK [Full Text]Curcuma xanthorrhiza dikenal sebagai tanaman obat Indonesia, rimpangnya sering digunakan dalam pengobatan tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi senyawa seskuiterpen dari rimpang Curcuma xanthorrhizadan menguji aktivitas antibakterinya. Isolasi senyawa dilakukan dengan kromatografi kolom vakum cair dan kromatografi radial. Identifikasi struktur dilakukan secara spektroskopi (FTIR (Fourier Transfrom Infra Red), NMR (Nuclear Magnetic Resonance) 1D dan 2D, serta MS (Mass Spectroscopy)). Uji antibakteri dilakukan dengan metode mikrodilusi, terhadap beberapa bakteri uji yaitu Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Bacillus subtilis  dan Staphylococcus aureus,. Isolat yang diperoleh berupa minyak tak berwarna yang teridentifikasi sebagai senyawa seskuiterpen furanodienon. Furanodienon menunjukkan aktivitas antibakteri dengan  nilai  MIC dan MBC 125,0 dan 250,0 µg/mL . 
Antibacterial Activity of Germacrone Sesquiterpene from Curcuma Xanthorrhiza Rhizomes Hartiwi Diastuti; Yana Maolana Syah; Lia Dewi Juliawaty; Marlia Singgih
ALCHEMY Jurnal Penelitian Kimia Vol 12, No 2 (2016): September
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/alchemy.12.2.1726.103-111

Abstract

The aim of this research was to isolate and indentify the terpenoid compound from Curcuma xanthorrhiza rhizomes and its antibacterial activity. Isolation was carried out by using vacuum liquid chromatography and centrifugal chromatography. The structure was determined by NMR spectroscopy (1H-NMR, 13C-NMR 1D and 2D), then compare with data from literatures. Antibacterial test was carried out by using  microdillution methods and evaluated against eight bacteria. They are Bacillus subtilis, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Enterobacter aerogenes, Pseudomonas aeruginosa, Salmonella typhi, Shigella dysentriae and Vibrio cholerae. The result showed that the isolate was a white crystal which was indetified as germacron-type sesquiterpene. Germacron have highest activity againts P. aeruginosa, MIC 15.6 µg/mL and MBC 31.2 µg/mL.
Antibacterial Activity of Germacrane Type Sesquiterpenes from Curcuma heyneana Rhizomes Hartiwi Diastuti; Yana Maolana Syah; Lia Dewi Juliawaty; Marlia Singgih
Indonesian Journal of Chemistry Vol 14, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.319 KB) | DOI: 10.22146/ijc.21264

Abstract

The isolation of terpenoids from C. heyneana rhizomes and their antibacterial activity have been conducted. The terpenoids were isolated by using vacuum liquid chromatography and radial chromatography. The structures of the compounds were determined based on spectroscopic data (1H-NMR, 13C-NMR (1D and 2D)). The antibacterial activity was carried out by using microdilution method and evaluated against eight bacteria. Three germacrane type sesquiterpenes have been isolated from C. heyneana rhizhomes and were identified as germacrone, dehydrocurdione, and 1(10),4(5)-diepoxygermacrone. Germacrone showed highest antibacterial activity against P. aeruginosa with MIC values of 15.6 µg/mL and MBC values 31.2 µg/mL. Dehydrocurdione showed highest antibacterial activity against B. subtilis with MIC values of 31.2 µg/mL and MBC values of 31.2 µg/mL. However, 1(10),4(5)-diepoxygermacrone showed a weak antibacterial activity.
FLAVANONES FROM THE WOOD OF Morus nigra WITH CYTOTOXIC ACTIVITY Ferlinahayati Ferlinahayati; Yana Maolana Syah; Lia Dewi Juliawaty; Euis Holisotan Hakim
Indonesian Journal of Chemistry Vol 13, No 3 (2013)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.38 KB) | DOI: 10.22146/ijc.21277

Abstract

Two flavanone derivatives, norartocarpanone (1) and euchrenone a7 (2) had been isolated for the first time from the methanol extract of the wood of Morus nigra. The structures of these compounds were determined base on spectral evidence, including UV, IR, and NMR. The first compound also confirmed by comparison with the reported data. Cytotoxic properties of these compounds were evaluated against murine leukemia P-388 cells. Euchrenone a7 (2) was found more cytotoxic than norartocarpanone (1) with their IC50 7.8 and 12.7 mg/mL respectively.
RESVERATROL DIMERS FROM STEM BARK OF Hopea gregaria AND THEIR CYTOTOXIC PROPERTIES Sahidin Sahidin; Euis Holisotan Hakim; Yana Maolana Syah; Lia Dewi Juliawaty; Sjamsul Arifin Achmad; Laily Bin Din; Jalifah Latip
Indonesian Journal of Chemistry Vol 8, No 2 (2008)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.862 KB) | DOI: 10.22146/ijc.21629

Abstract

Six resveratrol dimers have been isolated from the stem bark of H. gregaria, ampelopsin A (1), balanocarpol (2), ε-viniferin (3), hopeafuran (4), heimiol A (5), and parviflorol (6). The structures of these compounds were determined based on spectroscopic evidence such as UV, IR, 1-D, 2-D NMR and comparison with the reported data. These compound inventions are strengthen conclusion that Hopea tends to produce resveratrol dimers. Biological activity of those compounds against murine leukemia P-388 cells showed that ε-viniferin (3) is the most active compound with IC50 value 5.1 ± 0.3 μg/mL.
Aktivitas Sitotoksik Alkaloid Dari Cryptocarya archboldiana Allen Suwandri Suwandri; Euis Holisotan Hakim; Yana Maolana Syah; Lia Dewi Juliawaty
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 12 No. 01 Juli 2015
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Cryptocarya merupakan salah satu genus terbesar dari famili Lauraceae dan sebagian besar spesiesnya tumbuh di hutan hujan tropis Asia-Pasifik antara lain hutan di Indonesia. Secara umum genus Cryptocarya mengandung metabolit sekunder utama golongan alkaloid, 2-piron dan flavonoid serta memiliki berbagai aktivitas biologis. Tiga senyawa alkaloid yang telah dikenal telah diisolasi dari tumbuhan Cryptocarya archboldiana; boldin, laurolitsin, dan retikulin. Struktur molekul ketiga senyawa tersebut telah ditetapkan berdasarkan analisis spektroskopi (UV, 1H dan 13C NMR) serta perbandingan dengan data spektrum senyawa yang telah dilaporkan. Senyawa laurolitsin menunjukkan aktivitas sitoksisitas yang moderat, sedangkan boldin dan retikulin memiliki aktivitas yang lemah terhadap sel murine leukemia P388. Kata kunci: C. archboldiana, alkaloid, sitotoksik, aporfin, benzilisokuinolin. ABSTRACT Cryptocarya is one of the largest genus of Lauraceae and most of the species grow in the tropical rain forests of Asia-Pacific, include in Indonesian forest. Generally Cryptocarya contains alkaloids, 2-piron, and flavonoids as well as has a variety of biological activities. Three alkaloids have been isolated from Cryptocarya archboldiana; boldine, laurolitsine, and reticuline. The molecular structure of all these compounds have been established by spectroscopic analysis (UV, 1H, and 13C NMR) and comparison with the spectral data of compounds that have been reported. The cytotoxic of laurolitsine showed moderate activity, while boldine and reticuline have weak activity against P388 murine leukemia cells. Key words: C. archboldiana, alkaloid, cytotoxic, aporphine, benzylisoquinoline.
Sifat Antibakteri dari Daun Tephrosia vogelii Terhadap Vibriosis Eri Bachtiar; Yana Maolana Syah; Lia Dewi Juliawaty
al Kimiya: Jurnal Ilmu Kimia dan Terapan Vol 6, No 1 (2019): al Kimiya: Jurnal Ilmu Kimia dan Terapan
Publisher : Department of Chemistry, Faculty of Science and Technology, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ak.v6i1.4506

Abstract

Sektor kelautan dan perikanan merupakan salah satu sumber andalan dalam produksi pembangunan perikanan di Indonesia. Udang merupakan salah satu komoditas unggulan utama dalam menunjang produksi pendapatan devisa non migas. Untuk mencapai target produksi sesuai dengan yang diharapkan, berbagai permasalahan menghambat upaya peningkatan produksi tersebut, antara lain kegagalan produksi akibat penyakit oleh bakteri Vibrio, sehingga penyakit ini dikenal sebagai ‘vibriosis’. Salah satu pencarian senyawa yang bersifat antibakteri adalah dengan cara melakukan penapisan terhadap senyawa-senyawa alam. Salah satu sumber senyawa alam adalah dari tumbuhan Tephrosia vogelii. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengisolasi senyawa dari tumbuhan T. vogelii sebagai sumber senyawa antibakteri terhadap dua bakteri Vibrio yaitu Vibrio alginolitycus dan Vibrio harveyi. Bahan ekstrak dibuat dengan metode maserasi menggunakan pelarut aseton, sementara uji antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar secara in vitro. Deguelin dan tefrosin kemudian diisolasi dari ekstrak aseton daun T. vogelii. dengan metode difusi agar senyawa deguelin memberikan nilai inhibisi 6,3 mm terhadap V. harveyi dan 6,2 mm terhadap V alginolitycus. Sedangkan  tefrosin memberikan nilai inhibisi 6,3 mm terhadap V. harveyi dan 6,6 mm terhadap V alginolitycus. Ini adalah evaluasi antibakteri pertama dari deguelin dan tefrosin terhadap dua bakteri yang diuji.