Sri Redjeki
Department Of Marine Science, Faculty Of Fisheries And Marine Science, Diponegoro University

Published : 36 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

The Effect of Increasing pH on Heavy Metal Content of Cu and Cd and Structure of the Gills and Coats of Anadara granosa with Scanning Electron Microscopy (SEM) Study Isa Anzori; Delianis Pringgenies; Sri Redjeki
Jurnal Moluska Indonesia Vol. 3 No. 1 (2019): April 2019
Publisher : Masyarakat Moluska Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54115/jmi.v3i1.21

Abstract

Significant changes in pH, both acidic and alkaline, can disrupt water quality. Furthermore, it will affect the life of aquatic biota. The purpose of this study was to determine the effect of increasing pH on heavy metal concentrations of Cu and Cd (quantitative) in shellfish bodies and on the level of damage to the gills and mantle shells (qualitative) by scanning electron microscopy. The research was conducted at the Integrated Marine Science Laboratory, UNDIP Semarang. Heavy metal analysis was carried out at Wahana Laboratorium Semarang. The scanning electron microscopy process was carried out at the Electron Microscopy Unit, Faculty of Medicine, UNAIR Surabaya. The results of the heavy metal analysis both Cu and Cd showed that pH 9 had the highest heavy metal content, namely Cu = 0.33 mg / kg while Cd = 0.57 mg / kg. Whereas for pH 7, the lowest heavy metal concentration was obtained for Cd = 0.35 mg / kg, but for the lowest Cu was found at pH 8 of 0.21 mg / kg. The differences were seen in the SEM results of gills and mantle ph 7 and 9. Observations on mantle epithelial cells and gill filaments with a magnification of 75 and 1000X showed that at pH 7 the epithelial cells had regular folds, the distance between the barriers was clear and the size was normal. Whereas at pH 9 it has irregular folds, the distance between the bulkheads is hollow and perforated. The gill filaments of pH 7 have a smooth filament structure and clear between the filaments.
Kandungan Logam Berat Timbal (Pb) Pada Air, Sedimen, dan Jaringan Lunak Kerang Bambu (Solen sp.) Di Perairan Rembang Jawa Tengah Dan Gresik Jawa Timur Satrio Fahrul Ananda; Sri Redjeki; Ita Widowati
Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i2.29956

Abstract

Kerang merupakan organisme laut berjenis moluska yang terdiri dari jaringan lunak dan sepasang cangkang yang keras kerang bambu (Solen sp) jenis kerang konsumsi yang tumbuh dan berkembang biak di pesisir perairan yang berjenis substrat pasir hingga lumpur. Keberadaan kerang Bambu (solen sp) salah satu bioindikator pencemaran akibat logam berat di perairan keberadaan pencemaran lingkungan berakibat kegiatan manusia seperti industri, pertanian, akivitas nelayan, dan pariwisata yang diduga sumber logam berat timbal (Pb). Logam berat timbal memiliki sifat toxic. Tujuan dalam penelitian penelitian ini adalah mengetahui dan membandingkan kandungan logam berat timbal (Pb) pada air, sedimen dan jaringan lunak di perairan Kabupaten Rembang dan Kabupaten Gresik. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pengambilan sampel menggunakan purposive sampling method. Materi yang digunakan penelitian adalah sampel jaringan lunak kerang bambu (solen sp), sedimen, dan Air. Parameter penelitian yang digunakan adalah salinitas, DO, suhu, dan kadar keasaman (pH). Hasil penelitian ini ditemukan kadar logam berat timbal (Pb) di perairan Kabupaten Rembang pada air 0 - 0,176mg/l, sedimen 3.667 – 11.407 mg/kg, dan jaringan lunak 4.755 mg/l. Perairan Kabupaten Gresik didapatkan hasil jaringan lunak 2.034 mg/l, air 0 -  0.325 mg/l, dan sedimen 6.877 – 8.798 mg/kg. kemampuan organisme kerang bambu (solen sp) mengakumulasi logam berat Timbal (Pb) termasuk kategori rendah dengan nilai faktor biokonsentrasi rata – rata < 100.  Shellfish are mollusk-type marine organisms consisting of soft tissue and a pair of hard shells. Razor clams (Solen sp.) are types of consumption shells that grow and multiply on coastal waters that are of sand to mud substrate type. The existence of Razor clams (Solen sp.) is one of the bio-indicators of pollution due to heavy metals in the waters. The existence of environmental pollution results in human activities such as industry, agriculture, fishing activities, and tourism which are suspected sources of lea-heavy metals). Lead metal has toxic properties. The purpose of this research is to find out and compare the lead content of heavy metals timbale in water, sediment, and soft tissue in the waters of Rembang Regency and Gresik Regency. This research is descriptive in nature with sampling using a purposive sampling method. The material used in this research is a sample of soft tissue Razor clams (Solen sp.), sediments, and water. The research parameters used were salinity, DO, temperature, and acidity (pH). The results of this study found levels of heavy metal lead timbale in the waters of Rembang Regency in water 0 - 0.176mg / l, sediment 3.667 - 11407 mg /kg, and soft tissue 4.755 mg / l. The waters of Gresik Regency obtained 2,034 mg / l soft tissue results, 0 - 0,325 mg / l water, and 6,877 - 8,798 mg / kg sediments. Bamboo shellfish ability  to accumulate heavy metals from timbale is on low category with an average bio-concentration factor value <100.
Analisis Lahan Peneluran Penyu untuk Pengembangan Kawasan Konservasi Berbasis Ekowisata di Pesisir Kabupaten Kebumen Kathan Joy Abelino; Ibnu Pratikto; Sri Redjeki; Suryono Suryono
Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i2.32638

Abstract

Penyu merupakan spesies yang terancam punah dan dilindungi dalam IUCN Red List of Threatened Species. Konservasi terhadap spesies ini telah dijalankan di berbagai tempat, termasuk di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia. Diketahui bahwa konservasi penyu di Kabupaten Kebumen mulai dikembangkan sejak tahun 2016. Konservasi tersebut dijalankan secara swadaya dan masih belum dilakukan secara resmi. Kegiatan konservasi ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara maksimal menjadi kawasan konservasi berbasis ekowisata. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan kawasan pesisir yang potensial untuk kegiatan konservasi menggunakan teknologi penginderaan jauh serta untuk mengetahui potensi ekowisata wilayah tersebut. Lokasi penelitian difokuskan di Pantai Kalibuntu dan Pantai Kembar Terpadu pada periode Maret sampai April 2021. Citra Sentinel-2A digunakan untuk pemetaan kawasan. Data terkait kelerengan, lebar, pasang surut, arus, dan batimetri pantai diambil secara primer dan sekunder. Sampel sedimen diklasifikasikan menurut skala wentworth dan dihitung persentase kelembabannya. Potensi ekowisata kawasan tersebut dinilai berdasarkan pengamatan langsung dan pengambilan data melalui wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua pantai pengamatan memiliki tingkat kesesuaian sebesar 75,75% untuk dijadikan kawasan ekowisata. Analisis butir sedimen, perhitungan kelerengan pantai, dan lebar pantai menunjukkan bahwa kedua stasiun mendukung aktivitas peneluran penyu. Kedua stasiun memiliki kegiatan konservasi penyu seperti pemantauan peneluran, pemindahan telur ke sarang penetasan semi alami, penangkaran, pelepasliaran tukik, serta sosialisasi edukasi. Pengelolaan dilakukan oleh lembaga masyarakat lokal dan Kelompok Tani Ngadimulya. Dinas Kelautan dan Perikanan dan BKSDA Provinsi Jawa Tengah sudah memberikan bantuan sarana dan pelatihan. Budaya pesisir seperti batik penyu dan upacara Sedekah Laut menjadi potensi pendukung pengembangan ekowisata.Sea Turtles are protected species base on the IUCN Red List of Threatened Species. Conservation of this species has been done in various places, including in Kebumen Regency, Central Java, Indonesia since 2016. It is done independently and has not been officially. This activity has great potential to be maximally developed into an ecotourism-based conservation area. This study aims to map potential coastal areas for turtle conservation using remote sensing and to determine the ecotourism potential of the area. The research location is on Kalibuntu Beach and Kembar Terpadu Beach from March to April 2021. Sentinel-2A imagery is used for area mapping. Slope, width, tide, current, and beach bathymetry were taken primary and secondary. Sediment samples were classified according to the Wentworth scale and the moisture percentage was calculated. The ecotourism potential of the area was assessed based on direct observation and interviews. The results showed that the beaches had a suitability level of 75.75% to be used as an ecotourism area. Sediment analysis, coastal slope calculation, and beach width showed that both beaches supported turtle nesting activities. Both stations have turtle conservation activities such as eggs monitoring, transferring eggs to semi-natural hatchery nests, captive breeding, releasing hatchlings, and educational outreach. Conservation is carried out by local community institutions and the Ngadimulya Farmer Group. Department of Marine Affairs and Fisheries and the Central Java Province BKSDA have provided facilities and training assistance. Coastal cultures such as turtle batik and the sea alms ceremony are potential supporters of ecotourism development.
Analisis Morfometri Rajungan (Portunus pelagicus) di Perairan Desa Keboromo Kabupaten Pati Jawa Tengah Hans Arthur Philips; Sri Redjeki; Agus Sabdono
Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i3.33340

Abstract

Rajungan merupakan hasil laut bernilai ekonomi tinggi yang telah lama dikonsumsi oleh masyarakat dalam dan luar negeri. Tingginya nilai jual yang terdapat di pasar luar dan dalam negeri menyebabkan adanya peningkatan terhadap jumlah penangkapan rajungan. Upaya penangkapan yang terus meningkat menyebabkan hasil tangkapan nelayan semakin lama semakin menurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi lebar karapas, berat tubuh, pola pertumbuhan, rasio jenis kelamin dan persentase tingkat kematangan gonad, hubungan lebar karapas dan berat tubuh dan siklus reproduksi rajungan di Desa Keboromo. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan dari 977 ekor rajungan yang diamati, sebaran ukuran lebar karapas rajungan rajungan jantan dan betina yang tertangkap selama penelitian berkisar antara 50-169 mm dengan nilai total tertinggi berada pada interval 100-109 mm dengan jumlah 358 ekor. Hubungan lebar karapas dan berat rajungan menghasilkan pola pertumbuhan alometrik negatif dengan nilai b sebesar 1,47 pada rajungan jantan dan 1,44 pada rajungan betina. Jumlah rasio kelamin rajungan jantan yang tertangkap di Desa Keboromo sebesar 57% (554 ekor) dan 43% (423 ekor) pada rajungan betina. Tingkat kematangan gonad pada rajungan betina terbanyak berada pada kelas II dengan persentase 77% dan dengan jumlah 325 ekor dengan ciri-ciri ukuran abdomen lebar, berwarna gelap (tampak luar abdomen), sudah berisi gonad dan terkadang berwarna jingga. Crab is a marine product with high economic value that has long been consumed by people at home and abroad. The high selling value found in foreign and domestic markets causes an increase in the number of crab catching. The increasing fishing effort causes fishermen's catches to decrease over time. This study aims to determine the variation of carapace width, body weight, growth pattern, sex ratio and the percentage of gonadal maturity level, the relationship between carapace width and body weight and the reproduction cycle of crabs in Keboromo Village.  This research uses a descriptive method. The results of this study showed that from 977 crabs observed, the distribution of carapace width of male and female crabs caught during the study ranged from 50-169 mm with the highest total value being at intervals of 100-109 mm with a total of 358 individuals. The relationship between carapace width and crab weight resulted in a negative allometric growth pattern with a b value of 1.47 for male crabs and 1.44 for female crabs. The sex ratio of male crabs caught in Keboromo Village was 57% (554) and 43% (423) for female crabs. The highest level of gonad maturity in female crabs was in class II with a percentage of 77% and with a total of 325 tails with the characteristics of a wide abdomen, dark color (outside of the abdomen), filled with gonads and sometimes orange. 
Aspek Biologi Rajungan (Portunus pelagicus) Linnaeus, 1758 (Malacostraca : Portunidae) Ditinjau dari Morfometri dan Tingkat Kematangan Gonad di TPI Bulu, Jepara Rina Maharani Iksanti; Sri Redjeki; Nur Taufiq-Spj
Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i3.31258

Abstract

Rajungan (P. pelagicus, Linnaeus, 1758) merupakan salah satu komiditas perikanan yang memiliki nilai ekonomi yang penting sehingga banyak diminati dalam negeri maupun luar negeri. Permintaan rajungan yang terus meningkat berbanding lurus dengan penangkapan yang semakin meningkat. Tingkat pemanfaatan rajungan masih ditemukan ukuran yang masih under size tanpa memperhatikan ukuran dan kondisi habitat sehingga akan berpotensi mengurangi stok rajungan di perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui morfometri dan tingkat kematangan gonad rajungan yang dilaksanakan bulan Oktober – November 2020 selama 30 hari di TPI Bulu, Jepara. Penelitian ini menggunakan metode survey yg bersifat deskriptif dengan pengambilan sampel secara random sampling. Hasil dari penelitian diketahui rasio kelimpahan rajungan jantan sebesar 51% (2.297 ekor); rajungan betina 49% (2.203 ekor) dari 4.500 ekor sampel rajungan. Distribusi lebar karapas rajungan selama penelitian berkisar antara 64 – 164 mm dan berat tubuh kisaran sebesar 23 – 333 gram. Data menunjukkan bahwa pola pertumbuhan rajungan yang ada di perairan TPI Bulu adalah allometrik positif yaitu pertumbuhan berat tubuh lebih cepat dibandingkan dengan lebar karapas. Hasil nilai b sebesar pada rajungan jantan 3,51 dan rajungan betina sebesar 3,33 serta nilai b sebesar 3,41 pada keseluruhan rajungan. Rajungan betina diduga mengalami pertama kali matang gonad pada selang kelas ukuran lebar karapas 61 – 70 mm. Distribusi tingkat kematangan gonad rajungan betina pada perairan TPI Bulu adalah 44% (961 ekor) pada TKG 1; 28% (626 ekor) pada TKG 2; dan 28% (616 ekor) pada TKG 3, yang berarti nelayan Jepara belum sepenuhnya menerapkan kriteria dan ukuran layak tangkap dengan peraturan yang diberlakukan.  Blue swimming crab (P. pelagicus, Linnaeus, 1758) is a fishery commodity and is in great demand both domestically and abroad. The demand for crabs that continues to increase is directly proportional to the increasing catch. The utilization rate of the size is still undersize without paying attention to the size and condition of the crab so that it has the potential to reduce the crab stock in the waters. This study aims to determine the morphometry and maturity level of the small crab gonads which were conducted from October to November 2020 for 30 days in Bulu Fish Port, Jepara. This study used a descriptive survey method where the sample was taken by random sampling. The results of the study revealed that the abudance of male blue swimming crab was 51% (2.297 male blue swimming crabs) and the abudance of the female blue swimming crabs was 49% (2.203 female blue swimming crabs) of 4.500 blue swimming crab samples. The distribution of crab carapace width during the study ranged from 64 – 164 mm and body weight ranged from 23 – 333 gram. The data shows of blue swimming crab growth pattern in Bulu Fish Port waters was positive allometric both male and female blue swimming crab, meaning that bodyweight growth is faster than the size of the carapace width. The result of the b value of 3,51 male crabs and the female crabs was 3,33 and the b value was 3,41 on the whole crab. The female crab is thought to have experienced gonad maturity for the first time in the class sizes of carapace 61 – 70 mm. The distribution of gonad maturity level female blue swimming crabs in the waters Bulu is 44% (961 individual) at TKG 1; 28% (626 individual) at TKG 2; and 28% (616 individual) at TKG 3, which means that Jepara fishermen have not fully implemented the criteria and sizes for catching fish with the applicable regulations.
Kajian Produktivitas dan Kerentanan Portunus pelagicus di Perairan Karangsong Kabupaten Indramayu Ahmad Yassin; Sri Redjeki; Sunaryo Sunaryo
Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i3.31763

Abstract

Rajungan merupakan komoditas perikanan yang telah lama diminati oleh masyarakat, baik di dalam maupun luar negeri dengan nilai ekonomi yang cukup tinggi. Permintaan Rajungan yang begitu besar harus sejalan dengan peningkatan jumlah produksi Rajungan. Jumlah produksi Rajungan yang besar untuk memenuhi kebutuhan pasar ini menyebabkan kegiatan penangkapan Rajungan dilakukan secara besar-besaran yang dapat mengakibatkan kepunahan, jika tidak ditangani dengan baik. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat produktivitas dan kerentanan Rajungan yang ditangkap di perairan Karangsong. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan analisis data menggunakan metode PSA (Productivity and Susceptibility Analysis). Pengambilan data parameter penelitian dilakukan melalui wawancara terhadap nelayan tangkap Rajungan di Desa Karangsong, pengukuran morfometri Rajungan yang dilakukan di pengepul setempat, dan pengukuran parameter perairan, meliputi: suhu, salinitas, pH dan oksigen terlarut. Hasil wawancara menunjukkan penggunaan alat tangkap Rajungan terbagi atas bubu lipat dan jaring kejer. Hasil akhir nilai atribut produktivitas menunjukkan Rajungan masuk ke dalam kategori tinggi, sedangkan nilai atribut kerentanan pada alat tangkap bubu lipat menunjukkan kategori rendah dengan nlai MSC 89,2 dan untuk alat tangkap jaring kejer masuk kategori sedang dengan nilai MSC 81,2. Artinya tingkat kerentanan menggunakan kedua alat tersebut masuk ke dalam kategori rendah karena nilai MSC >80. Pola pertumbuhan Rajungan yang di Desa Karangsong baik untuk jantan dan betina menghasilkan pola allometrik negatif. Hal ini menunjukkan pertumbuhan lebar karapas lebih cepat dibanding pertambahan berat Rajungan. The blue swimming crab is a fishery commodity that has long been in demand by the community, both at home and abroad, with a fairly high economic value. The huge demand for blue swimming crab must be in line with the increase in the number of production. The large amount of small blue swimming crab production to meet market needs has led to large scale catching of crabs which can lead to extinction if not handled properly. The aim of the study was to determine the level of productivity and vulnerability of small crab caught in Karangsong Village. This study uses descriptive methods and data analysis using the PSA (Productivity and Susceptibility Analysis) method. This method uses the results of interviews with small crab fishermen in Karangsong Village, crab morphometric measurements conducted at local collectors, and measurement of water parameters including temperature, salinity, pH and dissolved oxygen. The results of the interview show that the trend of using small crab fishing gear is divided into folded traps and chased nets. The final result of the productivity attribute value stated that the crab is in the high category, while the vulnerability attribute value of the folded trap fishing gear stated a low category with an MSC value of 89.2 and for the catcher net fishing gear it is in the medium category with an MSC value of 81.2. This means that the level of vulnerability using these two tools falls into the low category because the MSC value is> 80. The growth pattern of small crabs in Karangsong Village for both males and females resulted in a negative allometric pattern. This shows that the growth of carapace width is faster than the weight gain of blue swimming crabs.
Kandungan Nutrien di Sedimen pada Ekosistem Padang Lamun di Teluk Awur dan Pulau Panjang, Jepara Monica Virgiana Silvi; Sri Redjeki; Ita Riniatsih
Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i3.32219

Abstract

Nutrien merupakan zat hara penting di perairan untuk menyokong proses pertumbuhan dan perkembangan potensi sumberdaya dari ekosistem laut. Nutrien nitrat dan fosfat secara alami merupakan zat hara yang berasal dari perairan itu sendiri melalui proses penguraian, pelapukan, dekomposisi tumbuhan dan buangan limbah daratan (domestik, industri, pertanian, perikanan dan sisa pakan). Nitrat dan fosfat berperan sebagai faktor pembatas pertumbuhan organisme dan kesuburan perairan. Sedimen merupakan tempat penyimpanan utama bahan organik dan mampu untuk mengikat senyawa seperti nitrat dan fosfat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan nitrat dan fosfat pada sedimen di Teluk Awur dan Pulau Panjang Jepara. Pengambilan sampel sedimen pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan sedimen core, kemudian sedimen dianalisis kandungan nitrat dan fosfat dengan metoda spektrofotometri. Hasil dari penelitin ini yaitu kandungan nitrat di Teluk Awur berkisar 0,2128–0,6383 mg/l dan fosfat 0,48-0,1362 mg/l. Kandungan nitrat di Pulau Panjang berkisar 0,4681–3,9447 mg/l dan fosfat 0,0153–0,2138 mg/l. Nutrients are important nutrients in the waters because they can support the growth and development of the potential of marine ecosystem biological resources. Natural nitrate and phosphate are nutrients that come from the waters themselves through the process of decomposition, weathering, plant decomposition, and land waste disposal (domestic, industrial, agricultural, aquaculture, and feed residues). Nitrates and phosphates can act as limiting factors for organism growth and water fertility. Sediment is the main storage place for organic matter and is able to bind compounds such as nitrates and phosphates. This study aims to determine the content of nitrate and phosphate in sediments in Teluk Awur and Pulau Panjang, Jepara. sediment sampling in this study was carried out using a sediment core, then the sediment was analyzed for nitrate and phosphate content by spectrophotometric methods. The result of this research is that the nitrate content in Teluk Awur ranges from 0.2128–0.6383 mg/l and phosphate range from 0.048–0.1362 mg/l. The nitrate content in Panjang Island ranges from 0.4681–3.9447 mg/l and phosphate 0.0153–0.2138 mg/l.
Aspek Biologi Pari Kekeh (Rhynchobatus spp.) Studi Kasus di PPP Tasik Agung, Rembang Ayu Safitri; Sri Redjeki; Ita Widowati
Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i1.31271

Abstract

Pari kekeh merupakan jenis pari dalam kelompok ordo Rhinopristiformes yang termasuk dalam salah satu komoditas perikanan penting di Indonesia. Pari kekeh telah dikategorikan sebagai spesies ikan terancam punah menurut IUCN dan termasuk ke dalam daftar Appendiks II CITES. Laut Jawa sebagai Wilayah Pengelolaan Perikanan 712 merupakan salah satu daerah penangkapan utama untuk komoditas pari kekeh. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui komposisi jenis, hubungan panjang-berat, dan nisbah kelamin pari kekeh (Rhynchobatus spp.) yang didaratkan di PPP Tasik Agung, Rembang pada tanggal 7 September – 6 Oktober 2020. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Pengambilan data yang dilakukan berupa identifikasi jenis, pengukuran panjang total, panjang standar, berat, dan jenis kelamin ikan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga jenis ikan pari kekeh (Rhynchobatus spp.), yaitu Rhynchobatus australiae, Rhynchobatus springeri, dan Rhynchobatus laevis dengan komposisi secara berturut-turut sebanyak 49%, 34%, dan 17%. Hubungan panjang total dan berat masing-masing jenis pari kekeh (Rhynchobatus spp.) menunjukkan pola pertumbuhan bersifat allometrik negatif (b<3), yaitu pertumbuhan panjang ikan lebih cepat dari pertumbuhan berat. Nisbah kelamin ikan pari Rhynchobatus australiae sebesar 1:1,78, pari Rhynchobatus springeri sebesar 1:1,64, dan pari Rhynchobatus laevis sebesar 1:1,50. Hasil uji Chi-square (X2) dari masing-masing jenis pari Rhynchobatus spp. menunjukkan bahwa perbandingan individu jantan dan betina berbeda nyata atau dapat dikatakan tidak seimbang.Wedgefishes are a type of ray in the order Rhinopristiformes, which is one of the important fisheries commodities in Indonesia. Wedgefishes have been categorized as an endangered species according to the IUCN and is included in the CITES Appendix II list. Java Sea as Fishery Management Area 712 is one of the main fishing areas for wedgefishes commodities. The aim of this study was to determine the species composition, length-weight relationship, and sex ratio of wedgefishes (Rhynchobatus spp.) landed at PPP Tasik Agung Rembang on September 7 - October 6, 2020. This study used a descriptive method. Data were collected by identifying the species, measuring the total length, standard length, weight and sex of the fish. The results showed that there were three types of wedgefishes (Rhynchobatus spp.) found in PPP Tasik Agung, namely Rhynchobatus australiae, Rhynchobatus springeri, and Rhynchobatus laevis with compositions of 49%, 34%, and 17% respectively. The length-weight relationship of each type of wedgefishes (Rhynchobatus spp.) exhibited a negative allometric pattern of growth (b <3), that is, fish length growth is faster than weight growth. The sex ratio of Rhynchobatus australiae was 1: 1.78, Rhynchobatus springeri were 1: 1.64, and Rhynchobatus laevis were 1: 1.50. The results of the Chi-square test (X2) of each type of Rhynchobatus spp. indicates that the ratio of male and female individuals is significantly different or can be said to be imbalance.
Laju Pertumbuhan Harian dan Nisbah Kelamin Lobster Pasir Panulirus homarus di Perairan Liwungan, Pandeglang, Banten Dyanita Havshyari Putri Andrykusuma; Sri Redjeki; Ita Riniatsih
Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i1.31248

Abstract

Lobster pasir (Panulirus homarus) merupakan salah satu spesies lobster yang memiliki nilai ekonomi tinggi dalam sumber daya perikanan kelautan Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan panjang-berat lobster pasir, dan nisbah kelamin P. homarus yang dibudidayakan dalam keramba jaring apung. Penelitian dengan metoda studi korelasional ini dilakukan di Keramba Jaring Apung PT. Royal Samudera Nusantara, Perairan Liwungan, Pandeglang, Banten, dengan sampel lobster sebanyak 93 ekor. Hasil perhitungan Perhitungan hubungan panjang-berat lobster pasir jantan pada keramba 1 yaitu W = 0,0004L2,51 dengan nilai b = 2,51 (b<3), dan lobster betina yaitu W = 0,0034L2,08 dengan nilai b = 2,08 (b<3). Hubungan panjang-berat lobster pasir jantan pada keramba 2 yaitu W = 0,0041L2,04 dengan nilai b = 2,04 (b<3), dan lobster betina yaitu W = 0,0012L2,28 dengan nilai b = 2,28 (b<3). Sehingga hubungan panjang-berat pada lobster pasir jantan maupun betina pada keramba 1 dan keramba 2 termasuk dalam kategori pola pertumbuhan allometrik negatif, dimana pertumbuhan panjang lebih cepat daripada pertumbuhan berat. Nisbah kelamin lobster pasir (P. homarus) pada keramba 1 sebesar 1:2,31 dan pada keramba 2 sebesar 1:0,92.  Scalloped spiny lobster is a species of lobsters that has high economic value in Indonesia’s marine fishery resources. This research aimed to examined the morfometry and sex ratio of Scalloped Spiny Lobster (Panulirus homarus) cultivated in floating net cages. This study used morfometry analysis in PT. Royal Samudera Nusantara’s Cultivation Place, Liwungan, Pandeglang, Banten. Samples of lobster obtained 93 lobsters. Relationship of length-weight lobster for males in cage 1 was W = 0,0004L2,51 with b = 2,51 (b < 3) and for females was W = 0,0034L2,08 with b = 2,08 (b < 3), for males in cage 2 was W = 0,0041L2,04 with b = 2,04 (b < 3) and for females was W = 0,0012L2,28 with b = 2,28 (b < 3). The results of Scalloped Spiny Lobster morfometric for both males and females shows negative allometric, that carapace length growth faster than weight. Sex ratio Scalloped Spiny Lobster in cage 1 was 1:2,31 which shows that sex ratio is in unbalanced condition, and in cage 2 was 1:0,92 which shows that sex ratio is not significantly different and still in equal condition. Keywords: Scalloped Spiny Lobster; Morfometry; Sex Ratio.
Karakteristik Mikroplastik pada Sedimen dan Air laut di Muara Sungai Wulan Demak Nando Arta Gusti Pamungkas; Retno Hartati; Sri Redjeki; Ita Riniatsih; Jusup Suprijanto; Edy Supriyo; Widianingsih Widianingsih
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 3 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i3.14923

Abstract

Microplastics are small plastic particles that have the characteristics of easily accumulating in seawater and sediments with a diameter of less than 5 mm. The presence of microplastics in seawater and sediments may have a chain impact on marine ecosystems and humans. The purpose of this study was to determine the characteristics of microplastics in sediment and seawater in the Wulan River Estuary, Demak. Sediment and seawater samples were taken by purposive sampling at five different stations in line with the river mouth on 20 May 2021. Visual identification and counting of microplastics using a microscope, and FTIR (Fourier transform infrared) test. The highest abundance of microplastics was found in Station 2 sediment (400 particles.Kg-1) and Station 1 seawater (99 particles.L-1) which is the end of the Wulan river flow. The diversity of microplastic characteristics in the form of fragments, fibers, pellets and films, the most abundance was fragments of particles in sediment and seawater samples. The color of the microplastic particles is predominantly black and blue, with lesser number of brown, white, red, green, yellow and purple. The microplastic particle size range was found between 1.00-259.06 m. Microplastic pollutants are nitrile, nylon and PTFE (Polytetrafluoroethylene) plastics. The results of this study reveal the sources of anthropogenic pollution in the study area which are not only caused by human activities on land but also from the movement of water in the marine environment.  Mikroplastik adalah partikel plastik kecil yang memiliki karakteristik mudah terakumulasi pada air laut laut dan sedimen dengan ukuran diameter kurang dari 5 mm. Keberadaan mikroplastik pada air laut laut dan sedimen dapat memberikan dampak berantai terhadap ekosistem perair lautan dan manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik mikroplastik pada sedimen dan air laut di Muara Sungai Wulan, Demak. Sampel sedimen dan air laut diambil dengan purpossive sampling di lima stasiun yang berbeda segaris dengan muara sungai pada tanggal 20 Mei 2021. Identifikasi dan penghitungan mikroplastik secara visual menggunakan mikroskop, dan uji FTIR (Fourier transform infrared). Kelimpahan mikroplastik tertinggi ditemukan pada sedimen Stasiun 2 (400 partikel.Kg-1) dan air laut Stasiun 1 (99 partikel.L-1) yang merupakan akhir dari aliran sungai Wulan. Keragaman karakteristik mikroplastik yang berupa fragment, fiber, pellet dan film, partikel fragmen terbanyak di sample sedimen dan air laut. Warna partikel mikroplastik didominasi hitam dan biru, dengan warna coklat, putih, merah, hijau, kuning dan ungu yang lebih sedikit.  Rentang ukuran partikel mikroplastik yang ditemukan antara 1,00-259,06 µm. Polutan mikroplastik berjenis plastik nitrile, nylon dan PTFE (Polytetrafluoroethylene). Hasil penelitian ini mengungkapkan sumber polusi antropogenik di daerah penelitian yang tidak hanya disebabkan oleh aktivitas manusia di darat tetapi juga dari pergerakan air di lingkungan laut.
Co-Authors Abdul Ghofar Adi Santoso Aditya Dwi Nugroho Agus Sabdono Ahmad Yassin Ali Djunaedi Ali Djunaedi Ambariyanto Ambariyanto Anggit Sapta Raudina Annisa Rahma Firdaus Argina Dewi S Aufa Anam Aulia Dessy Ramadhani Ayu Safitri Azis Nur Bambang Bagas Santosa Bagus Eko Hardiono Bayu Khrisna Yudhatama Bintang Septiarani Cantika Elistyowati Andanar Chrisna Adhi Suryono Delianis Pringgenies Delianis Pringgenies Diah Ayu Mustofa Diah Permata Wijayanti Dyanita Havshyari Putri Andrykusuma Edi Wibowo Edi Wibowo Kushartono Edy Supriyo Elsa Lusia Agus Endang Sri Susilo Endika Meirawati Fabian Panji Ayodya Hadi Endrawati Hans Arthur Philips Hargo Seno Wahyu Edi Henrian Rizki Pradana Hudanu Hapsara Ibnu Pratikto Ika Ayuningtyas Ika Desie Wulandari Inggrid Debora Hutagaol Iqbal Maulana Irwani Irwani Irwani Irwani Isa Anzori Ita Riniatsih Ita Widowati Jakfar Shodiq Panatar Jufri Ubay Jusup Suprijanto Kathan Joy Abelino Ken Suwartimah Ken Suwartimah Krisiyanto Krisiyanto Kurnia Adi Nusaputro Laras Kinanti Pinandita Lita Tyesta Addy Listya Wardhani Lutfil Hakim Baidhowie M. Amanun Tharieq M. Amanun Tharieq Mas’ad Arif Meutia Shibaa Nadaa Michael Abbey Michael Abbey Monica Virgiana Silvi Muhammad Zainuri Muhammad Zainuri Muhammad Zainuri Mustagfirin Mustagfirin Mustagpirin Mustagpirin Nando Arta Gusti Pamungkas Nur Taufiq-Spj Panji Ayodya Parameswari Iccha Nirmalabuddhi Wishnuputri Praressha Wizurai R. Noer Pagripto W Rachellia Rose Nugraha Raden Ario Retno Hartati Retno W. Astuti Ria Azizah Ria Azizah Ria Azizah Tri Nuraini Rina Maharani Iksanti Rindika Wahyu Riska Novianti Putri Robertus Triaji Mahendrajaya Robertus Triaji Mahendrajaya Romadhon Romadhon Rudhi Pribadi Satrio Fahrul Ananda Slamet Suharto, Slamet Sri Sedjati Sri Turni Hartati Sunaryo Sunaryo Surya Fajar Suryono Suryono Widianingsih Widianingsih Widianingsih Widianingsih Yustin Ragil Dewanti