Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Pembuatan Sirup Glukosa dari Umbi Singkong (Manihot esculenta Crantz), Umbi Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.), Rimpang Ganyong (Canna edulis Ker.), Buah Sukun (Artocarpus communis Forst), dan Rimpang Garut (Maranta arundinace Linn) dengan Metode Enzimatis Muhamad Insanu; Fakar Daras Kamal; Asep Gana Suganda
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 38 No. 3 (2013)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Glukosa merupakan salah satu jenis gula yang banyak dimanfaatkan oleh industri, terutama industri makanan dan minuman ringan. Di Indonesia sirup glukosa diproduksi dari pati singkong. Akan tetapi, saat ini produksi sirup glukosa dalam negeri tidak sebanding dengan kebutuhannya yang tinggi sehingga pemerintah harus mengimpornya. Salah satu solusi untuk meningkatkan produksi sirup glukosa adalah dengan cara diversifikasi bahan baku. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mencari alternatif pengganti pati singkong sebagai bahan baku, tetapi penelitian yang telah dilakukan tidak membandingkan secara langsung potensi bahan baku alternatif tersebut. Selain itu, penelitian yang dilakukan umumnya menggunakan bahan baku dari pati bukan dari bagian tanaman sumber pati tersebut. Tujuan penelitian ini adalah menentukan potensi ubi jalar (Ipomoea batatas L.), ganyong (Canna edulis Ker.), sukun (Artocarpus communis Forst), dan garut (Maranta arundinace Linn) sebagai sumber sirup glukosa pengganti singkong (Manihot esculenta Crantz). Bahan baku dibersihkan dan dipotongpotong dengan ukuran sekitar 5x5 mm. Likuifikasi dilakukan dengan penambahan 63 µL α-amilase (185,1 unit/mL), dipanaskan pada suhu 95-100 °C selama 2 jam. Sakarifikasi dilakukan dengan penambahan 107 µL glukoamilase (345,7 unit/mL), dipanaskan pada suhu 61-64 °C selama 72 jam. Pemurnian dilakukan dengan pemberian karbon aktif. Analisis kualitatif dilakukan dengan metode kromatografi kertas, sedangkan analisis kuantitatif dilakukan dengan metode titrasi redoks yang dikembangkan Lane & Eynon dengan pembanding glukosa 0,1g/mL. Analisis kualitatif menunjukkan semua sirup mengandung glukosa. Hasil perhitungan kadar gula total yang ekuivalen dengan glukosa per gram bahan baku dari sirup yang berasal dari singkong, ubi jalar, ganyong, sukun, dan garut masing-masing adalah 2,69±0,45%; 5,56 ± 0,77%; 2,91±0,40%; 2,77±1,39%; dan 2,92±0,40%. Berdasarkan analisis kuantitatif, ubi jalar paling potensial menggantikan singkong sebagai sumber sirup glukosa.Kata kunci: sirup glukosa, singkong, ubi jalar, ganyong, sukun, garut, enzimatisAbstractGlucose syrup is commonly used in food and beverages industries, but the production is still insufficient so to fulfil the need government has to import it. In Indonesia glucose syrup was produced from cassava starch. The production of glucose syrup should be increased by the diversification of raw materials. Several researches have been conducted to look for alternative raw materials for substituting the use of cassava. However, no researches have compared the potential among these alternative materials and uses parts of the plants directly. The purpose of this study was to determine the potential of sweet potato (Ipomoea batatas L.), canna (Canna edulis Ker.), breadfruit (Artocarpus communis Forst), and arrowroot (Maranta arundinace Linn) as a source of glucose syrup for substituting cassava (Manihot esculenta Crantz). The raw materials were cleaned and cut into pieces with a size of 5x5 mm. Liquefaction was done by adding 63 μL of α-amylase (185.1 units/mL) followed by heating at 95-100°C for 2 hours. Saccharification was done by adding 107 µL of glucoamylase (345.7 units/mL) followed by heating at 61-64°C for 72 hours. Glucose syrup was purified by adding activated carbon as an absorbent. Qualitative analysis was performed by paper chromatography, while the quantitative analysis was conducted by the redox titration which was developed by Lane & Eynon using glucose 0.1 g/mL as a standard. Qualitative analysis showed all syrups contain glucose. The total sugar content equivalent to glucose per gram of raw material for each glucose syrup were 2.69±0.45%, 5.56±0.77%, 2.91±0.40%, 2.77±1.39%, and 2.92±0.40% for cassava, sweet potato, canna, breadfruit, and arrowroot respectively. Based on the quantitative analysis, sweet potatoes were the most potential substituting agent for cassava as a source of glucose syrup.Keywords: glucose syrup, cassava, sweet potato, canna, breadfruit, arrowroot, enzymatic
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI LIMA BELAS JENIS MUTU TEH HITAM ORTODOKS ROTORVANE DAN TEH PUTIH (CAMELLIA SINENSIS VAR. ASSAMICA) PADA STAPHYLOCOCCUS AUREUS ATCC 6538 Muhamad Insanu; Ida Maryam; Dadan Rohdiana; Komar Ruslan Wirasutisna
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 42 No. 1 (2017)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKCamellia sinensis (L.) Kuntze atau teh merupakan tumbuhan yang berasal dari suku theceae, digolongkan menjadi beberapa jenis, yaitu teh hitam, teh oolong, teh hijau, dan teh putih.  Secara tradisional teh digunakan sebagai obat kumur hal ini diperkuat oleh beberapa penelitian sebelumnya yang membuktikan aktivitas antibakteri terhadap bakteri yang ada pada rongga mulut antara lain Staphylococcus aureus. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan aktivitas antibakteri dari lima belas mutu teh hitam dan teh putih yang diekstraksi dengan pelarut yang berbeda kepolaran. Serbuk simplisia daun teh diekstraksi secara maserasi menggunakan pelarut dengan kepolaran yang meningkat, yaitu n-heksana, etil asetat, dan etanol. Ekstrak difraksinasi menggunakan ekstraksi cair-cair. Seluruh ekstrak dan fraksi diuji aktivitas antibakterinya terhadap Staphylococcus aureus ATCC6538 menggunakan metode mikrodilusi dan difusi agar. Fraksi yang paling kuat aktivitas antibakterinya diuji menggunakan biaoautografi. Hasil percobaan menunjukkan ekstrak etanol teh putih memiliki aktivitas antibakteri yang paling kuat dengan nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) 78,13 μg/mL, sedangkan berbagai macam ekstrak teh hitam KHM-nya bervariasi antara 625-2500 μg/mL. Fraksi etil asetat dari ekstrak etanol teh putih memiliki aktivitas paling kuat dengan nilai KHM 156,25 μg/mL. Hasil bioautografi fraksi etil asetat menunjukkan hambatan pertumbuhan bakteri S. aureus pada nilai Rf 0,5 dan 0,76. Berdasarkan reaksi warna kedua nilai Rf ini termasuk golongan  flavonoid.Kata kunci: antibakteri, Staphylococcus aureus, teh putih, teh hitam orthodoxEVALUATION ON ANTIBACTERIAL ACTIVITY OF FIFTEEN DIFFERENT CLASSES OF ORTHODOX ROTORVANE BLACK TEA AND WHITE TEA (CAMELLIA SINENSIS VAR. ASSAMICA) AGAINST STAPHYLOCOCCUS AUREUS ATCC 6538ABSTRACTCamellia sinensis (L.) Kuntze or tea is a plant belonging to Theaceae family. It can be classified into four different classes, which are black tea, oolong tea, green tea and white tea. Traditionally, tea was used as a mouthwash. It was strengthened by previous researches; tea had antibacterial activity especially against bacteria that live in the oral cavity such as Staphylococcus aureus. The aim of this study was to evaluate the antibacterial activity of 15 different classes of black tea and white tea which were extracted by various organic solvents. The crude drugs were obtained by maceration using three different solvents, which were n-hexane, ethyl acetate, and ethanol. The extract was fractionated by liquid-liquid extraction. All extracts and fractions were evaluated their antibacterial activity using microdilution and disc diffusion. The strongest antibacterial fraction was continued to bioautography assay. Based on the result the ethanol extract of white tea showed the strongest activity with the Minimum Inhibition Concentration (MIC) was 78.13 μg/mL while the other extracts of black tea were ranged between 625-2500 μg/mL. Ethyl acetate fraction of white tea ethanol extract had MIC value which was 156.25 μg/mL.  Bioautography showed the rf values of 0.5 and 0.76 inhibited the growth of bacteria. Based on spot test, they were flavonoid compounds.Keywords: antibacterial, Staphylococcus aureus, white tea, orthodox black tea
PENGUJIAN TOKSISITAS IN VITRO EKSTRAK DAN FRAKSI DARI DAUN JAMBU AIR (SYZYGIUM AQUEUM) DAN KULIT BUAH DELIMA (PUNICA GRANATUM) TERHADAP SEL VERO Muhamad Insanu; Cindra Mutia; Anita Artarini
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 42 No. 2 (2017)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daun jambu air (Syzygium aqueum) dan kulit buah delima (Punica granatum) merupakan tanaman yang pada umumnya terdapat di Indonesia. Kandungan flavonoid pada daun jambu air dan kulit buah delima diketahui memiliki efek antioksidan yang baik untuk tubuh sehingga tanaman ini banyak digunakan untuk pengobatan dan pencegahan beberapa penyakit. Secara tradisional daun jambu air dan kulit buah delima biasa digunakan sebagai antimikroba, antidiabetes, dan pengobatan diare. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan toksisitas ekstrak dan fraksi dari daun jambu air dan kulit buah delima secara in vitro terhadap sel Vero. Serbuk simplisia daun jambu air diekstraksi bertingkat dengan metode maserasi, sedangkan serbuk simplisia kulit buah delima diekstraksi bertingkat menggunakan metode refluks. Keduanya diekstraksi bertingkat dengan pelarut n-heksana, etil asetat, dan etanol. Ekstrak dipantau menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT). Ekstrak etanol dari daun jambu air dan kulit buah delima difraksinasi dengan metode ekstraksi cair-cair (ECC) menggunakan pelarut n-heksan dan etil asetat. Fraksi dipantau menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT). Ekstrak dan fraksi diuji toksisitasnya secara in vitro terhadap sel Vero menggunakan reagen alamar blue. Ekstrak dan fraksi daun jambu air dan kulit buah delima pada konsentrasi uji antara 2 µg/ml sampai dengan 1024 µg/ml bersifat tidak toksik terhadap sel Vero. Berdasarkan penelitian, dapat disimpulkan bahwa ekstrak n-heksana, etil asetat, dan etanol tidak toksik terhadap sel Vero. Fraksi n-heksana, etil asetat, dan air dari tidak toksik terhadap sel Vero.  Kata kunci: Alamar blue, ekstrak, fraksi, Punica granatum, sel Vero, Syzygium aqueum. Syzygium aqueum and Punica granatum are plants commonly found in Indonesia. Flavonoids from Syzygium aqueum leaves and Punica granatum peels are known to have antioxidant effect for the human body. Because of that these plants widely used for treatment several diseases. Traditionally, Syzygium aqueum leaves and Punica granatum peels are commonly used as antibiotic, antidiabetic, and treatment for diarrhea. This study aim to determine in vitro toxicity effect of Syzygium aqueum and Punica granatum extracts and fractions using Vero cell lines. Crude drug of Syzygium aqueum was extracted by maceration, while crude drug of Punica granatum was extracted by reflux. Both crude drugs were extracted using continuous extraction method and solvents with increasing polarity which were n-hexane, ethyl acetate, and ethanol. Extracts were monitored by thin layer chromatography (TLC). The ethanol extract from Syzygium aqueum and Punica granatum were fractionated by liquid-liquid extraction using n-hexane, and ethyl acetate as solvents. Fractions were monitored by thin layer chromatography (TLC). Toxicity effect of Syzygium aqueum and Punica granatum extracts and fractions on Vero cells were evaluated using Alamar blue. Extracts and fractions of Syzygium aqueum leaves and Punica granatum had no toxicity effect against Vero cell at concentrations between 2 µg/ml-1024 µg/ml. Based on our findings all of extracts and fractions had no toxicity effect against Vero cell lines.Keyword: Alamar blue, extract, fraction, Punica granatum, Syzygium aqueum, Vero cell.
SKRINING TOKSISITAS AKUT LIMA RIMPANG SUKU ZINGIBERACEAE MENGGUNAKAN EMBRIO IKAN ZEBRA Anggra Paramita; Indra Wibowo; Muhamad Insanu
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 46 No. 2 (2021)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/api.v46i2.16093

Abstract

Tumbuhan suku Zingiberaceae dikenal sebagai sumber obat tradisional. Pemanfaatan sebagai tanaman obat sudah dikenal secara turun temurun dari generasi ke generasi. Oleh sebab itu, perlu dilakukan pengujian toksisitas untuk mengevaluasi dan memprediksi keamanan penggunaan tanaman obat tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui toksisitas akut dari ekstrak dan fraksi temu hitam (Curcuma aeruginosa Roxb.), temu mangga (Curcuma mangga Roxb.), jahe merah (Zingiber officinale Rosc. var. rubrum), bangle (Zingiber cassumunar Roxb.) dan kencur (Kaempferia galanga L.) berdasarkan nilai LC50 (Lethal concentration 50). Proses ekstraksi rimpang dari tanaman temu hitam, temu mangga, jahe merah, bangle, dan kencur dengan ekstraksi sinambung menggunakan pelarut etanol 70%. Ekstrak yang dihasilkan difraksinasi menggunakan pelarut bertingkat (n-heksan, etil asetat dan air). Pengujian toksisitas akut dilakukan menggunakan ikan zebra. Dari pengamatan diperoleh perbedaan morfologi embrio dan larva ikan zebra yang dipaparkan dengan ekstrak etanol, fraksi etil asetat maupun fraksi air jika dibandingkan dengan kontrol negatif yang berisi media E3 1X. Perbedaan tersebut antara lain edema perikardial, edema kantong kuning telur (yolk sac), tulang belakang lengkung, tulang ekor lengkung, koagulasi dan malformasi rahang. Hasil nilai LC50  diperoleh melalui perhitungan regresi probit  kemudian data diekstrapolasi ke dalam golongan sesuai dengan kategori toksisitasnya. Dari penelitian diperoleh hasil bahwa ekstrak, fraksi etil asetat maupun fraksi air dari sampel tergolong dalam toksisitas sedang, sedikit beracun, dan praktis tidak beracun.  
PENAPISAN FITOKIMIA DAN KARAKTERISASI SIMPLISIA DAUN JAMBU MAWAR (Syzygium jambos Alston) Selpida Handayani; Komar Ruslan Wirasutisna; Muhamad Insanu
Jurnal Farmasi UIN Alauddin Makassar Vol 5 No 3 (2017): Jurnal Farmasi
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jfuinam.v5i3.4353

Abstract

Syzygium jambos Alston adalah tumbuhan dari suku Myrtaceae. Secara tradisional daun dan awetan bunga biasanya digunakan sebagai obat penenang, kulit kayu dan bijinya  dapat mengobati demam, diare dan disentri. Buah dan kulit batang  mengandung saponin,  flavonoid  dan tannin, di samping itu daun dan buahnya mengandung polifenol. Namun penelitian kandungan kimia tumbuhan yang bermanfaat tersebut  di Indonesia  masih sedikit dilaporkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menetapkan senyawa fitokimia dan mengkarakterisasi simplisia daun S. jambos. Dilakukan pengambilan sampel dan pengolahan simplisia daun jambu mawar kemudian dilakukan ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut dengan kepolaran bertingkat (n-heksana, etil asetat, dan metanol). Dilakukan karakterisasi serbuk simplisia meliputi penetapan kadar air, penetapan kadar abu total dan kadar abu tidak larut asam, penetapan susut pengeringan serta penetapan kadar sari larut air dan etanol. Pemeriksaan kandungan kimia alkaloid: menggunakan pereaksi Dragendroff dan Mayer; flavonoid:  menggunakan pereaksi serbuk magnesium, HCl 2 N serta amil alcohol; tannin : diberikan pereaksi FeCl3, larutan gelatin 1% dan Steasny; fenol : ditetesi larutan FeCl3 10%; saponin: ditambahkan beberapa tetes asam klorida 2 N; steroid/triterpenoid: diteteskan pereaksi Liebermann-Burchard. Diperoleh nilai kadar air 8,33 ±1,52, kadar abu total 7,64 ±0,08 dan kadar abu tidak larut asam 5,41 ±0,15, susut pengeringan 15,33 ±4,04, kadar sari larut air 20,90 ±0,56 serta kadar sari larut etanol 22,43 ±1,35. Penapisan fitokimia ekstrak daun S. jambos mengandung fenol, flavonoid, dan steroid/triterpenoid.
Phytochemistry and pharmacological activities of Annona genus: A review Siti Kusmardiyani; Yohanes Andika Suharli; Muhamad Insanu; Irda Fidrianny
Current Research on Bioscences and Biotechnology Vol. 2 No. 1 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/crbb.2020.2.1/KNIA7708

Abstract

Plants have been significantly used in traditional medicine by a variety of societies since antiquity, and knowledge of their safety, efficacy, and quality value can be developed through further research. The Genus Annona consisting of 119 species has been extensively researched and proven to have a diverse range of pharmacological activities such as antioxidant, antiulcer, antidiarrheal, and antiparasitic. This is because the Annona plants possess a great number of phytochemicals found in almost every part of the plant, which can be isolated to be developed into herbal medicine. Phytochemicals are classified into several classes, such as Annonaceous acetogenin, alkaloids, flavonoids, and essential oils. This article was created by collecting 137 research articles which discuss phytochemical compounds from 38 species and the pharmacological activity from 13 species.
The Use of Chemometrics for Classification of Sidaguri (Sida rhombifolia) Based on FTIR Spectra and Antiradical Activities Abdul Rohman; Asefin Nurul Ikhtiarini; Widiastuti Setyaningsih; Mohamad Rafi; Nanik Siti Aminah; Muhamad Insanu; Irnawati Irnawati; Djoko Santosa
Indonesian Journal of Chemistry Vol 21, No 6 (2021)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijc.64360

Abstract

Sidaguri (Sida rhombifolia) is one of the herbal components used in traditional medicine. The application of chemometrics in the standardization of herbal medicine is common. The objective of this study was to classify Sidaguri from different regions based on FTIR spectra with chemometrics of principal component analysis (PCA) and to correlate the antioxidant activities with FTIR spectra using the multivariate calibration of partial least square regression (PLSR). The extraction of Sidaguri powder was performed using ultrasound-assisted extraction (UAE) at optimum conditions. The obtained extracts were subjected to antiradical scavenging activities using DPPH (2,2’-diphenyl-1-picrylhydrazyl) and ABTS (2,2′-azinobis-3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid) radicals. The PCA result shows that Sidaguri from different regions could be separated using 14 wavenumbers of FTIR spectra based on the PCA's loading plot. PLSR regression using the second derivative FTIR spectra at wavenumbers of 3662–659 cm–1 could predict radical scavenging activities (RSA) of Sidaguri with R2 values of 0.9636 and 0.9024 for calibration and validation models, with RMSEC and RMSEP values of 1.45% and 2.65%, respectively. It can be concluded that FTIR spectra treated by PCA were reliable for classifying Sidaguri from different regions. At the same time, PLSR was accurate and precise enough to predict the RSA of Sidaguri.
HISTOCHEMICAL ANALYSIS OF THE LEAVES OF FOUR ERICALES MEDICINAL PLANTS Nurma Sabila; Siti Kusmardiyani; Muhamad Insanu
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 47 No. 1 (2022)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/api.v47i1.16256

Abstract

Active chemical compounds from medicinal plants are mostly secondary metabolites that can be histochemically tested. It enables the identification and localization of diverse secondary metabolites within the tissue, which is not possible with screening phytochemicals. In this study, the histochemistry of the leaf blades of Ericales plants i.e., cantigi (Vaccinium varingiaefolium (Blume) Miq.), persimmon (Diospyros kaki Thunb.), sapodilla (Manilkara zapota (L.) van Royen), and star apple (Chrysophyllum cainito L.) were evaluated. These species have been reported as folk medicines that have secondary metabolites. Each leaf tissue was observed under a microscope, and phytochemical compounds presence and location were detected by using specific reagents. The results showed that those four leaves contained phenols, flavonoids, and terpenes, while quinones were only found in cantigi leaves. The secondary metabolites were present in the idioblast of parenchymal and epidermal tissues. The persimmon and star apple leaves had secretory cavities in trichomes with terpenes and phenolic compounds.
Uji Aktivitas Antioksidan dan Penetapan Kadar Flavonoid Total dan Fenolik Total Ekstrak Sidaguri (Sida rhombifolia L.) Asma Asma; Abdul Rohman; Djoko Santosa; Mohamad Rafi; Nanik Siti Aminah; Muhamad Insanu; Irnawati Irnawati
Journal of Food and Pharmaceutical Sciences Vol 10, No 2 (2022): J.Food.Pharm.Sci
Publisher : Institute for Halal Industry and System (IHIS) Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfps.4955

Abstract

Sidaguri atau Sida rhombifolia L. telah digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional, yaitu: penghilang rasa nyeri, radang, asam urat, penyakit kuning, muntah darah, dan sakit gigi. Faktor yang mempengaruhi produksi kandungan metabolit sekunder adalah kondisi lingkungan seperti tempat tumbuh, iklim, interaksi intra dan inter-spesifik serta waktu panen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan serta kadar flavonoid dan fenolik total ekstrak sidaguri berdasarkan tempat tumbuh. Sampel diekstraksi dengan ultrasonic-assisted extraction (UAE) dan diuji penangkapan radikal bebas menggunakan metode 2,2’-difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH) dan 2,2’-azino-bis(3-diethyl4benzothiazoline-6-sulfonic acid) (ABTS), serta penetapan kadar flavonoid total dan kandungan fenolik total. Hasil uji aktivitas antioksidan sidaguri dari Cangkringan dan Ngemplak memiliki aktivitas antioksidan tertinggi baik pada metode penangkapan radikal DPPH dengan nilai IC50 masing-masing sebesar 0,400±0,004 dan 0,403±0,004 mg/mL, maupun metode ABTS dengan nilai TEAC masing-masing sebesar 40,733±0,240 dan 35,598±0,153 mg/g serbuk sidaguri, dengan kadar flavonoid total masing-masing sebesar 10,095±0,068 dan 12,066±0,025 mg/g serbuk sidaguri dan kadar fenolik total masing-masing sebesar 56,45±0,068 dan 31,502±0,025 mg/g serbuk sidaguri.
Identification of Sida rhombifolia from Its Related Plants Using Thin-Layer Chromatographic Analysis Mohamad Rafi; Sefni Reza Yolanda; Dewi Anggraini Septaningsih; Maria Bintang; Nanik Siti Aminah; Muhamad Insanu; Abdul Rohman
Indonesian Journal of Chemistry Vol 23, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijc.73077

Abstract

Sida rhombifolia belongs to the Malvaceae family and is often used to treat gout in Indonesia. S. rhombifolia has many efficacies and contains many different chemical components. The abundance and variation of chemical content and chemical compounds in this medicinal plant are challenging factors in ensuring medicinal plants' safety and quality control. Thin-layer chromatography (TLC) fingerprint analysis derived from S. rhombifolia extract can also be used for the medicinal plant's quality control. This research aimed to develop the optimum condition for the chemical fingerprint analysis of S. rhombifolia using a TLC fingerprint analysis. A total of 11 bands were produced with optimum separation using silica gel 60 F254 TLC plate, a mixed mobile phase condition with chloroform, ethyl acetate, and methanol (6.5:2:1.5). This fingerprint analysis performed an excellent separation in the TLC plate at 366 nm with sulfuric acid as reagent derivatization. In general, the results of the analysis validation, including stability, specificity, precision, and robustness of TLC fingerprints, met the acceptance criteria. The TLC fingerprint of S. rhombifolia can be distinguished from 2 related plants with similar leaf shapes, Turnera ulmifolia L. and Hibiscus rosa-sinensis. The developed method was validated, so it could be used to control S. rhombifolia quality.