Jusup Suprijanto
Departemen Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan., Universitas Diponegoro

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Potensi Risiko Kesehatan Manusia Akibat Konsumsi Perna viridis yang Mengandung Kadmium Farhan Ghifari; Adi Santoso; Jusup Suprijanto
Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i1.32338

Abstract

Tambak Lorok merupakan salah satu Kawasan yang padat penduduk dan terdapat banyak aktivitas seperti industri, Pelabuhan dan menjadi pusat penjualan hasil laut dengan adanya TPI Tambak Lorok. Limbah hasil kegiatan industri, Pelabuhan dan rumah tangga diduga menyebabkan terjadinya pencemaran logam berat kadmium (Cd) di perairan dan mempengaruhi biota laut seperti kerang hijau ( Perna viridis). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam berat Cd pada air, sedimen, dan kerang hijau (Perna viridis) serta mengetahui potensi risiko Kesehatan yang timbul   apabila   mengkonsumsi kerang hijau (Perna viridis) tersebut. Penelitian ini   dilaksanakan pada   bulan Desember 2020, Januari 2021, dan Maret 2021 dengan metode deskriptif. Analisis kandungan logam berat kadmium (Cd) pada air, sedimen dan kerang hijau dilakukan di Laboratorium Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro dengan metode AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer). Hasil analisis kandungan logam berat pada air berkisar <0,001-0,696 mg/L, sedimen <0,001-1,931 mg/kg, dan jaringan lunak kerang hijau (Perna viridis) 0,070-1,693 mg/kg. Berdasarkan perhitungan Estimasi Asupan Harian (EDI) untuk laki-laki dewasa menunjukkan nilai berkisar 0,000026-0,000626 mg/kg/hari dan pada perempuan dewasa berkisar 0,000035-0,000835 mg/kg/hari. Sedangkan nilai tingkat risiko (THQ) untuk laki-laki dewasa menunjukkan nilai berkisar 0,026-0,626. Dan untuk perempuan berkisar 0,035-0,835. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa di perairan Tambaklorok Semarang di air, sedimen dan jaringan lunak kerang hijau sudah terindikasi tercemar logam berat Cd. Kewaspadaan mengkonsumsi kerang hijau perlu dilakukan meskipun dari aspek kesehatan berdasarkan perhitungan EDI dan THQ masih aman dan belum menunjukkan tingkat bahanya. Tambak Lorok Semarang is one of the densely populated areas. There are many activities such as industry, ports, and becoming a center for selling marine products with the Tambak Lorok TPI. The waste resulted is suspected of causing heavy metal cadmium (Cd) pollution in the waters and affecting marine biota such as green mussels (Perna viridis). This study aimed to determine the content of Cd in water, sediment, and green mussels (Perna viridis) and to determine the potential health risks that arise when consuming the mussels. The field study occurred in December 2020, January 2021, and March 2021 with a descriptive method. Analysis of the Cd content was conducted at the Environmental Engineering Laboratory Diponegoro University by the AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer) method. The results of the heavy metal content in water, sediment, and mussels' soft tissue respectively ranged from <0.001-0.696 mg/L, <0.001-1.931 mg/kg, and 0.070-1.693 mg/kg. The Estimated Daily Intake (EDI) for adult males' values ranged from 0.000026-0.000626 mg/kg/day, and for adult females from 0.000035-0.000835 mg/kg/day. While the value of the risk level (THQ) for adult males showed a value ranging from 0.026-0.626. And for females, it ranged from 0.035 to 0.835. It showed that Cd contaminated the water, the sediment, and soft tissue of green mussels in Tambaklorok Waters. Even though a health aspect is still safe and has not shown the danger, people have to be precaution in consuming the mussels.
Karakteristik Mikroplastik pada Sedimen dan Air laut di Muara Sungai Wulan Demak Nando Arta Gusti Pamungkas; Retno Hartati; Sri Redjeki; Ita Riniatsih; Jusup Suprijanto; Edy Supriyo; Widianingsih Widianingsih
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 3 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i3.14923

Abstract

Microplastics are small plastic particles that have the characteristics of easily accumulating in seawater and sediments with a diameter of less than 5 mm. The presence of microplastics in seawater and sediments may have a chain impact on marine ecosystems and humans. The purpose of this study was to determine the characteristics of microplastics in sediment and seawater in the Wulan River Estuary, Demak. Sediment and seawater samples were taken by purposive sampling at five different stations in line with the river mouth on 20 May 2021. Visual identification and counting of microplastics using a microscope, and FTIR (Fourier transform infrared) test. The highest abundance of microplastics was found in Station 2 sediment (400 particles.Kg-1) and Station 1 seawater (99 particles.L-1) which is the end of the Wulan river flow. The diversity of microplastic characteristics in the form of fragments, fibers, pellets and films, the most abundance was fragments of particles in sediment and seawater samples. The color of the microplastic particles is predominantly black and blue, with lesser number of brown, white, red, green, yellow and purple. The microplastic particle size range was found between 1.00-259.06 m. Microplastic pollutants are nitrile, nylon and PTFE (Polytetrafluoroethylene) plastics. The results of this study reveal the sources of anthropogenic pollution in the study area which are not only caused by human activities on land but also from the movement of water in the marine environment.  Mikroplastik adalah partikel plastik kecil yang memiliki karakteristik mudah terakumulasi pada air laut laut dan sedimen dengan ukuran diameter kurang dari 5 mm. Keberadaan mikroplastik pada air laut laut dan sedimen dapat memberikan dampak berantai terhadap ekosistem perair lautan dan manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik mikroplastik pada sedimen dan air laut di Muara Sungai Wulan, Demak. Sampel sedimen dan air laut diambil dengan purpossive sampling di lima stasiun yang berbeda segaris dengan muara sungai pada tanggal 20 Mei 2021. Identifikasi dan penghitungan mikroplastik secara visual menggunakan mikroskop, dan uji FTIR (Fourier transform infrared). Kelimpahan mikroplastik tertinggi ditemukan pada sedimen Stasiun 2 (400 partikel.Kg-1) dan air laut Stasiun 1 (99 partikel.L-1) yang merupakan akhir dari aliran sungai Wulan. Keragaman karakteristik mikroplastik yang berupa fragment, fiber, pellet dan film, partikel fragmen terbanyak di sample sedimen dan air laut. Warna partikel mikroplastik didominasi hitam dan biru, dengan warna coklat, putih, merah, hijau, kuning dan ungu yang lebih sedikit.  Rentang ukuran partikel mikroplastik yang ditemukan antara 1,00-259,06 µm. Polutan mikroplastik berjenis plastik nitrile, nylon dan PTFE (Polytetrafluoroethylene). Hasil penelitian ini mengungkapkan sumber polusi antropogenik di daerah penelitian yang tidak hanya disebabkan oleh aktivitas manusia di darat tetapi juga dari pergerakan air di lingkungan laut.
Analisis Kandungan Mikroplastik pada Sedimen di Perairan Semarang, Jawa Tengah Faisal Tegar Ibrahim; Jusup Suprijanto; Dwi Haryanti
Journal of Marine Research Vol 12, No 1 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i1.36506

Abstract

Kota Semarang merupakan ibukota Provinsi Jawa Tengah serta menjadi pusat bisnis, ekonomi, pendidikan, dan berbagai kegiatan sosial. Hal ini menyebabkan kota ini memiliki produksi sampah yang besar. Sampah plastik, yang merupakan salah satu jenis sampah yang sering ditemukan dapat mengalami degradasi menjadi potongan plastik lebih kecil yang dinamakan mikroplastik. Perairan Semarang dipilih sebagai lokasi penelitian karena Kota Semarang merupakan daerah dengan aktivitas manusia yang tinggi dan menghasilkan banyak limbah plastik yang dapat mengendap dalam sedimen laut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pencemaran mikroplastik pada sedimen di Perairan Semarang. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 4 kali yaitu pada bulan April, Mei, Agustus, dan September 2021 secara purposive sampling menggunakan alat sediment grab di tiga titik berbeda yaitu muara, pantai, dan laut. Sedimen sebanyak 50 gram direndam dalam 100 ml larutan ZnCl2 selama 24 jam. Partikel mikroplastik yang mengambang dipisahkan kemudian direndam dalam 50 ml larutan H2O2 30% selama 24 jam dan disaring dengan menggunakan kertas saring MN (Macherey Nagel). Mikroplastik yang diperoleh diamati menggunakan mikroskop dan dianalisis bentuk, warna dan kelimpahannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa warna dan bentuk mikroplastik yang diperoleh yaitu, berdasarkan bentuknya antara lain fragmen, pelet, film, dan fiber, berdasarkan warnanya antara lain hitam, coklat, merah, kuning, putih, hijau, dan ungu. Kelimpahan mikroplastik pada Bulan April sebanyak 2.577 partikel/kg, Bulan Mei sebanyak 2.058 partikel/kg, Bulan Agustus sebanyak 1.858 partikel/kg, dan Bulan September sebanyak 2.011 partikel/kg. Semarang City is the capital city of Central Java Province as well as being the center of business, economy, education, and various social activities.  Plastic waste, which is one type of waste that is often found, can experience degradation into smaller pieces of plastic called microplastics. Semarang Waters were chosen as the research location because Semarang City is an area with high human activity and produces a lot of plastic waste which will later settle in marine sediments. This research was conducted to determine microplastic pollution in sediments in Semarang Waters. Sampling was carried out 4 times in April, May, August, and September 2021 by a purposive sampling using a sediment grab tool at three different points, namely the estuary, beach, and sea. From each sample 50 grams of sediment was immersed in 100 ml of ZnCl2 solution for 24 hours. The floating microplastic particles were separated and then immersed in 50 ml 30% H2O2 solution for 24 hours and filtered using MN (Macherey Nagel) filter paper. The obtained microplastics were observed using a microscope and analyzed for shape, color and abundance. The results showed that these are microplastics in the shape of fragments, pellets, films, and fibers, with the colors of black, brown, red, yellow, white, green, and purple. The abundance of microplastics in April was 2.577 particles kg-1, in May 2.058 particles kg-1, in August 1.858 particles kg-1, and in September 2.011 particles kg-1. 
Kelimpahan dan Karakteristik Mikroplastik di Perairan Kolam Labuh dan Sungai Blangor Kecamatan Palang, Tuban Fawaz Muhammad Sidiqi; Bambang Yulianto; Jusup Suprijanto
Jurnal Kelautan Tropis Vol 26, No 3 (2023): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v26i3.18498

Abstract

Microplastic contamination has been identified in Indonesian water bodies, raising environmental concerns. This study investigates microplastic abundance and characteristics in water and sediment of Palang Waters (Kolam Labuh and Sungai Blangor) in Tuban. Seawater and river samples were collected using a 75 µm mesh plankton net. Microplastics were quantified under microscopy, and polymer analysis utilized Fourier Transform Infrared (FT-IR) spectroscopy. Seawater showed an abundance of 40,000 ± 11,357.82 particles/m3, with 48.75% fragments, 44.58% fibers, and 6.67% granules. River microplastic abundance was 13,333.33 ± 5,033.23 particles/m3, comprising 82.5% fibers, 10% fragments, and 7.5% granules. Sediment's average microplastic abundance was 226.67 ± 83.27 particles/m3, including 53% fibers, 29% fragments, and 18% granules. Statistical analysis highlighted significant differences in microplastic abundance among seawater, river water, and sediment (P-Value = 0.001). Notable differences existed between seawater and river water (P-value = 0.009), and seawater and sediment (P-value 0.001), but not between river water and sediment (P-value = 0.143). Polymer analysis revealed polymers such as Polyvinyl Chloride (PVC), Polyethylene (PE), and High-Density Polyethylene (HDPE). This research offers insights into microplastic presence, aiding in understanding aquatic pollution.  Kontaminasi mikroplastik telah terjadi di beberapa perairan Indonesia. Mikroplastik memiliki ukuran ≤5 mm. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan dan karakteristik mikroplastik pada air dan sedimen di Perairan Kolam Labuh dan Sungai Blangor, Kecamatan Palang, Tuban. Sampel air laut dan sungai diambil menggunakan plankton net dengan ukuran mesh 75 µm. Kelimpahan dan bentuk mikroplastik dihitung dan diamati menggunakan mikroskop, dan analisis polimer menggunakan uji Fourier Transform Infrared (FT-IR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan mikroplastik pada air laut sebanyak 40.000 ± 11.357,82 partikel/m3, bentuk fragmen sebanyak 48,75 %, kemudian fiber sebanyak 44,58 % dan granules sebanyak 6,67% pada air laut. Sedangkan di Sungai didapatkan kelimpahan mikroplastik sebanyak 13.333,33 ± 5.033,23 partikel/m3, bentuk fiber sebanyak 82,5 %,fragmen 10 % dan fiber 7,5 %. Kelimpahan rata-rata mikroplastik pada sedimen ialah 226,67 ± 83,27 , bentuk fiber sebanyak 53%, fragmen 29% dan granules 18%. Hasil penelitian juga menunjukkan adanya perbedaan kelimpahan mikroplastik pada air laut, sungai dan sedimen (P-Value = 0,001). Perbedaan kelimpahan mikroplastik terjadi antara air laut dengan air sungai (P-value = 0,009) dan antara air laut dengan sedimen (P-value 0,001), sedangkan antara air sungai dan sedimen tidak terjadi perbedaan (P-value = 0,143). Hasil analisis polimer menunjukkan jenis polimer yang ditemukan meliputi Polivinil Klorida (PVC), Polyethylene (PE) dan High-Density Polyethylene (HDPE).