Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Journal of Marine Research

Tingkah Laku dan Kemunculan Hiu Paus (Rhincodon typus, Smith 1828) di Pantai Bentar Probolinggo Puspa Kapinangasih; Diah Permata Wijayanti; Agus Sabdono
Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i1.31727

Abstract

Hiu Paus diketahui muncul di Pantai Bentar dari bulan Desember hingga Maret. Kemunculan Hiu Paus  diduga berhubungn dengan aktivitas makan. Fenomena ini dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar Pantai Bentar untuk menarik kedatangan wisatawan. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi Hiu Paus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lokasi kemunculan Hiu Paus di Pantai Bentar serta perubahan tingkah laku Hiu Paus saat kegiatan wisata berlangsung. Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2021 menggunakan metode observasi langsung dengan melakukan pengamatan di lokasi yang diduga menjadi tempat kemunculan Hiu Paus. Data tambahan diperoleh dari hasil wawancara dengan pengelola dan pemandu wisata. Lokasi kemunculan dicatat menggunakan GPS. Total lokasi kemunculan yang ditemukan berjumlah 9 lokasi yang tersebar di Perairan Gending, yaitu di bagian barat dan timur Pantai Bentar. Kemunculan terbanyak berada di timur Pantai Bentar. Hal ini karena wilayah tersebut dekat dengan bagan dan menjadi wilayah pelayaran nelayan Ikan Teri yang merupakan makanan Hiu Paus. Hiu Paus yang ditemukan berjumlah 9 ekor. Tingkah laku Hiu Paus yang ditemukan ketika aktivitas wisata berlangsung, yaitu perubahan secara perlahan seperti menyelam dan mendekat secara perlahan, perubahan mendadak seperti menjauh secara mendadak, perubahan secara tajam seperti menjauh secara tajam dan tidak merespon. Faktor yang mempengaruhi perubahan tingkah laku diduga karena adanya aktivitas yang dilakukan oleh manusia seperti berenang, mengejar Hiu Paus, melihat dari kapal, pelayaran kapal dan pemberian pakan. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan dalam pengelolaan wisata Hiu Paus Pantai Bentar. Whale sharks are known to appear at Bentar Beach from December to March. The appearance of whale sharks is thought to be related to feeding activities. This phenomenon is used by the community around Bentar Beach to attract tourist arrivals. This condition has the potential to have a negative impact on the whale sharks. This study aims to determine the location of the appearance of whale sharks on Bentar Beach and changes in whale shark behavior during tourism activities. The study was conducted in March 2021 using the direct observation method by making observations at the location suspected to be the place where the Whale Shark appeared. Additional data obtained from interviews with managers and tour guides. The location of occurrence is recorded using GPS. The total location of the emergence found was 9 locations scattered in Gending Waters, namely in the west and east of Bentar Beach. Most occurrences are in the east of Bentar Beach. This is because the area is close to Bagan and is a shipping area for Anchovy fishermen which are the food for whale sharks. There were 9 whale sharks observed. Whale Shark behavior found during tourist activities, namely slow changes such as diving and approaching slowly, sudden changes such as moving away suddenly, sharp changes such as moving away sharply and not responding. Factors that influence behavior change are thought to be due to activities carried out by humans such as swimming, chasing whale sharks, watching from ships, ship sailing and feeding. The results of this study are expected to provide input in the management of Whale Shark tourism in Bentar Beach.
Kontaminasi Kadmium (Cd) dalam Air, Sedimen, dan Kerang Hijau (Perna viridis) di perairan pantai Semarang Maurina Edenie Pangalasen; Bambang Yulianto; Subagiyo Subagiyo; Diah Permata Wijayanti
Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i4.49292

Abstract

Pantai Semarang rentan terkontaminasi logam berat kadmium yang bersumber dari aktivitas antropogenik, diantaranya berasal dari industri dan pelabuhan, kadmium merupakan salah satu logam berat yang sangat beracun dan tidak esensial. Kadmium dan senyawanya bersifat hidrofilik sehingga mudah masuk ke rantai makanan dan terakumulasi di dalamnya. Konsumsi makanan terkontaminasi kadmium yang berlebihan atau dalam jangka panjang telah menimbulkan kekhawatiran menyebabkan kerusakan serius pada organ-organ penting. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsentrasi kadmium pada air laut, sedimen, dan kerang hijau di Perairan Pantai Semarang serta menentukan batas aman konsumsi kerang hijau dari wilayah tersebut. Analisis kadmium dilakukan menggunakan metode spektroskopi serapan atom. Hasil penelitian pada bulan September dan Oktober menunjukkan bahwa konsentrasi kadmium dalam air laut berkisar antara <0,0008 – <0,001 mg/L, dalam sedimen <1,932 mg/Kg, dan dalam kerang hijau <0,020 – 0,0049 mg/Kg. Batas aman konsumsi kerang hijau dari Perairan Pantai Semarang masing-masing adalah 2,625 – >5,25 mg dan 2,14 – >5,25 mg untuk anak-anak, 7,875 – >15,75 mg dan 6,43 – >15,75 mg untuk wanita, serta 10,50 – >21 mg dan 8,57 – >21 mg untuk pria. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengelolaan kualitas lingkungan perairan serta pengawasan konsumsi kerang hijau guna meminimalkan risiko kesehatan akibat paparan kadmium.
Ekosistem Lamun di Pantai Prawean dan Pantai Blebak, Jepara: Kondisi Ekosistem dan Sampah Makroplastik Dewinda Safitri; Subagiyo Subagiyo; Bambang Yulianto; Diah Permata Wijayanti
Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i4.49596

Abstract

Padang lamun merupakan ekosistem pesisir penting sebagai habitat beragam biota laut, penyedia sumber makanan, penyerap karbon biru serta penahan sedimen. Akan tetapi saat ini berpotensi terganggu dan terancam keberlanjutannya akibat aktivitas manusia termasuk sampah makroplastik. Pantai Prawean dan Pantai Blebak, Jepara merupakan area wisata yang berdekatan dengan tambak dan pemukiman warga.  Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi ekosistem dan sampah makroplastik pada padang lamun di Pantai Prawean dan Pantai Blebak, Jepara. Penelitian dilakukan dengan metode survey lapangan. Data komposisi dan tutupan lamun dikumpulkan dengan teknik line transect dan quadrat sampling. Sampah makroplastik dikumpulkan dengan teknik CSIRO untuk mengidentifikasi jenis, ukuran, dan berat sampah pada setiap lokasi penelitian. Selain itu juga juga dilakukan pengukuran secara insitu parameter kualitas perairan, meliputi suhu, salinitas, oksigen terlarut, pH, dan kecepatan arus. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan komposisi jenis lamun antara Pantai Prawean dan Pantai Blebak. Di Pantai Prawean ditemukan lima spesies lamun sedangkan di Pantai Blebak hanya ditemukan tiga spesies lamun. Kondisi tutupan lamun di Pantai Prawean sebesar 37,26% masuk kategori “kurang sehat”, sedangkan di Pantai Blebak sebesar 19,69% masuk kategori “miskin”. Sampah makroplastik yang ditemukan didominasi oleh jenis LDPE, PET, dan PS, dengan total berat 373 gram di Pantai Prawean serta 870 gram di Pantai Blebak. Keberadaan makroplastik ini diperkirakan berkontribusi terhadap kondisi lamun dan tutupannya. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengelolaan lingkungan dan mitigasi sampah terutama makroplastik yang lebih intensif untuk menjaga keberlanjutan ekosistem padang lamun dan jasa ekosistem yang dihasilkannya di perairan Jepara.
Analisa Genetika Gastropoda Nudibranchia dari Pulau Panjang, Jepara Wilhelmina br Sinulingga; Diah Permata Wijayanti; Munasik Munasik; Dwi Haryanti
Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i3.38661

Abstract

Gastropoda Nudibranchia memiliki karakteristik insang telanjang atau insang berbulu atau tanduk di punggungnya merupakan anggota Ordo Opisthobranchia, kelompok Gastropoda terbesar dengan anggota lebih dari 3.000 species. Nudibranchia diketahui hidup di Pulau Panjang, salah satu destinasi wisata terkenal di Jepara. Pergerakannya yang lambat dan bentuknya yang menarik, dapat mengganggu keberadaannya di habitat alaminya. Penelitian mengenai Nudibranchia belum banyak dilakukan di Indonesia, termasuk analisa genetiknya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanekaragaman genetik Nudibranchia dari Perairan Pulau Panjang. Analisa DNA dilakukan di Laboratorium Terpadu Universitas Diponegoro, dengan metode PCR-sequencing menggunakan mtDNA-COI (cytochrome oxidase subunit I gene dari DNA mitokondrial). Primer yang digunakan pada penelitian yaitu primer forward: LCOI1490: 5'-GGTCAACAAATCATAAAGATATTGG-3 dan reverse: HCOI2198: 5'-TAAACTTCAGGGTGACC AAAAAATCA-3'. Rekonstruksi pohon filogenetik dan keragaman genetik dilakukan menggunakan software MEGA 6.06 (Analysis of the Evolution of Molecular Genetics). Hasil analisis sampel Nudibranchia berdasarkan susunan DNA mitokondria, ditemukan 2 spesies dengan 8 individu yaitu, spesies Jorunna funebris dan Chromodoris lineolata. Tingkat kesamaan (homologi) dalam analisa BLAST (Basic Local Alignment Search Tool) sebesar 98 % - 100 %. Hasil analisis filogenetik secara menyeluruh memperlihatkan pengelompokan yang terjadi berdasarkan kemiripan genetiknya.Nudibranchia gastropods have the characteristics of naked gills or hairy gills or horns on their backs and are members of the Order Opisthobranchia, the largest group of Gastropods with more than 3,000 species. Nudibranchia are known to live on Panjang Island, one of the famous tourist destinations in Jepara. Its slow movements and attractive shape can disrupt its existence in its natural habitat. Not much research has been done on Nudibranchia in Indonesia, including genetic analysis. This research aims to analyze the genetic diversity of Nudibranchia from Panjang Island waters. DNA analysis was carried out at the Diponegoro University Integrated Laboratory, using the PCR-sequencing method using mtDNA-COI (cytochrome oxidase subunit I gene from mitochondrial DNA). The primers used in the research were forward primer: LCOI1490: 5'-GGTCAACAAATCATAAAGATATTGG-3 and reverse: HCOI2198: 5'-TAAACTTCAGGGTGACCAAAAAATCA-3'. Phylogenetic tree reconstruction and genetic diversity were carried out using MEGA 6.06 (Analysis of the Evolution of Molecular Genetics) software. The results of analysis of Nudibranchia samples based on mitochondrial DNA structure found 2 species with 8 individuals, namely, Jorunna funebris and Chromodoris lineolata species. The level of similarity (homology) in BLAST (Basic Local Alignment Search Tool) analysis is 98% - 100%. The results of a comprehensive phylogenetic analysis show that grouping occurs based on genetic similarity.