Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Potret Full Daycare sebagai Solusi Pengasuhan Anak bagi Orang Tua Perkerja: Studi pada TPA Pertiwi Metro Hamer, Wellfarina; Rachman, Tubagus Ali; Lisdiana, Anita; Wardani, Wardani; Karsiwan, Karsiwan; Purwasih, Atik
Tapis: Jurnal Penelitian Ilmiah Vol 4 No 1 (2020): Tapis : Jurnal Penelitian Ilmiah
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat of Universitas Islam Negeri Jurai Siwo Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/tapis.v4i1.1955

Abstract

Children are priceless gifts, a great mandate that God entrusts to every parent. Parenting and environments greatly affect emotional-social intelligence and children's character. For working parents, efforts to meet the needs of children certainly have not been done optimally. For this reason, there are alternatives for working parents to continue to be able to provide rights and fulfillment of children's needs, namely by utilizing full daycare services where children are kept for a full day at the TPA (Child Care Park) until the parents have finished working. This study aims to describe the implementation of full daycare in one of the TPAs ​​in Metro City. How is the implementation of the landfill in terms of caring programs, education, nutrition, and health? Moreover, human resources were to be being a problem. The subject of this research is the TPA Pertiwi Metro. The method used in this research is descriptive qualitative. Data collection techniques using interviews, observation, and documentation on the principal, teachers, and parents of students. Data validity is done by triangulation of sources. From this research, it is known that TPA Pertiwi Metro excels in creating healthy, child-friendly, character-based, environmentally-based religious faith and diversity so that children still get a good education even though their parents work.
Adok dalam Masyarakat Pepadun Berdasarkan Perspektif Teori Struktural Fungsional Sari, Maya; Karsiwan, Karsiwan
Balale' : Jurnal Antropologi Vol 6, No 2 (2025): November 2025
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/balale.v6i2.98354

Abstract

This study examines the key issue of the role and function of adok as an honorary title in the Lampung Pepadun community, which is closely linked to piil pesenggiri cultural values, customary norms, and the community’s social structure. The aim of this research is to analyze how adok functions in maintaining social order, strengthening cultural identity, and preserving customary continuity through the lens of structural functionalism theory developed by Talcott Parsons. This study employs a qualitative descriptive method with an ethnographic approach. Data were collected through in-depth interviews with customary leaders and community members, participatory observation during the Begawi Cakak Pepadun ceremony, and documentation of traditional archives and activity photos. The findings reveal that adok has a structural function as a regulator of social stratification, a reinforcer of cultural identity, and a medium for social integration. Within Parsons’ AGIL framework, adok contributes to social adaptation, goal attainment, integration, and the maintenance of cultural patterns. The implications of this study emphasize that adok is not merely a symbolic title but an essential instrument in sustaining social stability and preserving local culture in the face of modernization.
PENCEGAHAN POTENSI KONFLIK PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM: PROSPEKTIF EKOWISATA DAM RAMAN KOTA METRO Karsiwan, Karsiwan; Patminingsih, Astuti; Yudiyanto, Yudiyanto
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 11 No 2 (2021): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, IPB (PPLH-IPB) dan Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB (PS. PSL, SPs. IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.11.2.165-176

Abstract

Rencana pengelolaan dan pengembangan kawasan ekowisata Dam Raman di Kota Metro yang mengambil dan memanfaatkan lahan bengkok di eks Desa Purwosari (sekarang Kelurahan Purwosari dan Purwoasri) berpotensi menimbulkan permasalahan timbulnya konflik di tengah masyarakat. Lokasi kawasan juga beririsan dengan dengan tiga kabupaten/kota. Berbagai faktor dimungkinkan akan mempengaruhi usaha merealisasikan pembangunan tempat wisata Dam Raman tersebut. Apa saja faktor penting tersebut tentunya perlu diketahui. Informasi faktor-faktor penting dalam penanggulangan potensi konflik selanjutnya dipakai dalam merumuskan strategi untuk mengantisipasi timbulnya konflik dalam pengelolaan dan pengembangan kawasan Ekowisata Dam Raman di Kota Metro secara berkelanjutan. Penelitian deskriptif ini memilih responden secara purposive. Analisis prospektif meliputi identifikasi faktor penting, penyusunan skenario kemungkinan dimasa depan dan menyusun strategi pencegahan konflik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor penting yang perlu diperhatikan untuk pencegahan potensi konflik dalam pengelolaan dan pengembangan kawasan ekowisata Dam Raman yaitu; pembagian adil pendapatan, komitmen pemerintah daerah, partisipasi masyarakat, kelembagaan, status lahan, dan investor. Strategi pencegahan konflik hendaknya dilakukan dengan memperhatikan enam faktor penting tersebut dari tiga skenario keadaan yang mungkin terjadi dimasa mendatang. Skenario terbaik dalam upaya pencegahan timbulnya konflik dalam pengelolalaan dan pengembangan kawasan adalah Skenario Sai Wawai.
ADOK DALAM STATUS SOSIAL MASYARAKAT LAMPUNG PEPADUN DI DESA SUKARAJA NUBAN Sari, Maya; karsiwan, Karsiwan
Habitus : Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi Vol 8, No 2 (2024): Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v8i2.85358

Abstract

Begawi is a traditional ceremony for taking the highest title in the Lampung Pepadun tradition which has been carried out from time to time by the community to include cultural values. The aim of this research is to find out how to get adok in the traditional Lampung pepadun begawi in Sukaraja Nuban Village, Batanghari Nuban District, East Lampung Regency which is in the highland and inland areas of Lampung including the Abung, Way Kanan, Way Seputih (Pubian) areas. is ulun (person). Lampung Sukaraja Nuban people still adhere to their local wisdom, one of which is the ritual of giving traditional titles during or after marriage. This article aims to explain the process of giving traditional titles to the Lampung Saibatin people and find out how giving traditional titles affects the social status of the Lampung Saibatin people. With qualitative research methods, this research uses symbolic interactionism theory as an analytical study. The results of the research explain that the procession of awarding degrees goes through several processes, including paying traditional money such as lighting fees, kissing fees, and kibau. The meaning of giving traditional titles includes respect and social status in traditional ceremonies, regulation of relationships in kinship, symbols of maturity, as well as mechanisms for preserving culture carried out from generation to generation. The implications of traditional titles for social status include roles, social recognition in the community, and as social control.Keywords: adok, begawi, dan  social status AbstractBegawi merupakan sebuah upacara adat dalam pengambilan gelar tertinggi di adat lampung pepadun yang telah dilaksanakan dari zaman ke zaman oleh masyarakat dalam mencantumkan nilai-nilai kebudayaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana cara mendapatkan adok dalam begawi adat lampung pepadun di Desa sukaraja nuban, Kecamatan Batanghari Nuban, Kabupaten Lampung Timur yang berada di daerah dataran tinggi dan pedalaman Lampung meliputi daerah Abung, Way Kanan, Way Seputih (Pubian) Mayoritas masyarakatnya adalah ulun (orang). Lampung Masyarakat Sukaraja Nuban masih berpegang teguh pada kearifan lokalnya, salah satunya adalah ritual pemberian gelar adat saat atau setelah perkawinan.Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan proses pemberian gelar adat pada masyarakat Lampung Saibatin dan mengetahui pemberian gelar adat terhadap status sosial masyarakat Lampung Saibatin. Dengan metode penelitian kualitatif, penelitian ini menggunakan teori interaksionisme simbolik sebagai kajian analisis. Hasil penelitian menjelaskan bahwa prosesi pemberian gelar melalui beberapa proses diantaranya membayar uang adat seperti dau penerangan, dau pengecupan, serta kibau. Makna dari pemberian gelar adat meliputi, penghormatan dan status sosial dalam upacara adat, pengaturan relasi dalam kekerabatan, simbol kedewasaan, serta mekanisme pelestarian budaya yang dilakukan secara turun temurun. Implikasi gelar adat terhadap status sosial meliputi, peran, pengakuan sosial dalam komunitas, dan sebagai kontrol social.Kata Kunci: adok, begawi, dan status sosial
TARI NENEMO SEBAGAI BUKTI KESENIAN MASYARAKAT LAMPUNG, TULANG BAWANG BARAT Oktaviani, Rita; Karsiwan, Karsiwan
Habitus : Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi Vol 9, No 1 (2025): Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v9i1.85838

Abstract

Kabupaten Tulang Bawang Barat di provinsi Lampung merupakan tempat asal mula tari Nenemo. Pada tahun 2016, Hartati menciptakan tarian ini. Tarian ini diciptakan dengan tiga konsep menurut koreografernya: masyarakat multikultural, aktivitas masyarakat Tulang Bawang Barat, dan makna dibalik istilah Nemen, Nendes, Nerimo. Ketika ide ini terwujud, terciptalah karya tari bernama Nenemo. Tarian Nenemo biasanya ditampilkan untuk mengawali acara-acara resmi dan informal. Seseorang dapat menampilkan tarian Nenemo secara solo, berkelompok, atau sebagai raksasa. Peneliti masih menyisakan banyak permasalahan yang belum terjawab dengan keberadaan tarian ini, khususnya mengenai koreografi tari Nenemo dan isinya, serta bagaimana dinamika proses kreatif tari tersebut dilihat dari sudut pandang sosial budaya. Tempat Tari Nenemo di Kabupaten Tulang Bawang Barat. Temuan penelitian ini memperjelas bahwa prosedur yang komprehensif dan inklusif yang melibatkan anggota semua lapisan masyarakat digunakan untuk menciptakan dan memproduksi tari Nenemo. Dibandingkan dengan tarian lain di Lampung, koreografi tari Nenemo tergolong baru. Keberadaan tari Nenemo di Tulang Bawang Barat menuntutnya melambangkan masyarakat multikultural, meskipun dalam hal ini diperlukan waktu lebih lama untuk mengukuhkan jati dirinya. Keywords: Tari Nenemo, Budaya Kesenian Lampung Tulang Bawang Barat ABSTRACTWest Tulang Bawang Regency in Lampung province is the origin of the Nenemo dance. In 2016, Hartati created this dance. This dance was created with three concepts according to the choreographer: multicultural society, activities of the West Tulang Bawang community, and the meaning behind the terms Nemen, Nendes, Nerimo. When this idea was realized, a dance work called Nenemo was created. The Nenemo dance is usually performed to start formal and informal events. One can perform the Nenemo dance solo, in a group, or as a giant. Researchers still have many unanswered problems regarding the existence of this dance, especially regarding the Nenemo dance choreography and its content, as well as how the dynamics of the dance's creative process are seen from a socio-cultural perspective. Nenemo Dance Place in West Tulang Bawang Regency. The findings of this research make it clear that comprehensive and inclusive procedures involving members of all levels of society were used to create and produce the Nenemo dance. Compared to other dances in Lampung, the Nenemo dance choreography is relatively new. The existence of the Nenemo dance in West Tulang Bawang requires it to symbolize a multicultural society, although in this case it takes longer to establish its identity. Keyword: Nenemo Dance, West Lampung Tulang Bawang Arts Culture