Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Pemberdayaan Pokdarwis Telaga Sari dalam Mengembangkan Keterampilan Komunikasi Bisnis dan Hospitality I Wayan Sadyana; Made Aryawan Adijaya; I Nyoman Tri Esaputra; I Gusti Agung Ayu Putu Listyana
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 15 No 1 (2026): January
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jwl.v15i1.103351

Abstract

Pemberdayaan masyarakat melalui sektor pariwisata masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan keterampilan komunikasi bisnis, rendahnya penguasaan bahasa asing, serta minimnya pemanfaatan teknologi digital dalam promosi destinasi. Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya daya saing dan keberlanjutan pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat. Pengabdian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pemberdayaan melalui penguatan kapasitas komunikasi bisnis dan hospitality, workshop pemasaran digital, serta pendampingan manajemen pariwisata berbasis budaya lokal. Kegiatan ini menggunakan desain kualitatif partisipatif dengan model pemberdayaan berbasis masyarakat. Subjek kegiatan adalah 25 anggota Pokdarwis Telaga Sari Desa Wisata Pedawa. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, serta pretest–posttest dengan instrumen berupa lembar observasi, pedoman wawancara, dan soal tes kompetensi. Analisis data dilakukan secara tematik untuk data kualitatif dan analisis kuantitatif sederhana untuk membandingkan hasil pretest–posttest. Hasil menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada keterampilan komunikasi, pemahaman hospitality, pengelolaan pemasaran digital, serta perbaikan manajemen usaha pariwisata. Dalam enam bulan setelah pelatihan, terjadi peningkatan interaksi media sosial yang ditandai dengan kenaikan jumlah pengikut, komentar, dan frekuensi unggahan promosi. Simpulan pengabdian ini menegaskan bahwa pendekatan partisipatif berbasis budaya lokal efektif dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan memperkuat kelembagaan desa wisata.
LEXICONS USED IN GENDING OF GENDER WAYANG AT NGABEN CEREMONY IN TAMAN BALI VILLAGE Komang Gede Samudra Artajaya. W; I Gede Budasi; Made Aryawan Adijaya
Krinok:Jurnal Linguistik Budaya Vol 10, No 1 (2026): Krinok: Jurnal Linguistik Budaya
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/krinok.v10i1.2056

Abstract

This study aimed to identify the lexicons found in the Gending Gender Wayang in the Ngaben (Balinese cremation) ceremony in Taman Bali Village and to analyze the cultural meanings contained in each of these lexicons. This study employed a qualitative descriptive design with a naturalistic approach. The data were collected from three informants selected through purposive sampling. Data collection were conducted in Taman Bali Village, Bangli Subdistrict, Bangli Regency, Bali, through in-depth interviews and observation. The research instruments used included an interview guide, a smartphone, and a notebook. Based on the results of data collection and analysis, nineteen lexicons were identified in the Gending Gender Wayang during the ngaben ceremony in Taman Bali Village. These lexicons were classified into two types of gending: gending petegak and gending bebatelan. All the lexicons found contain cultural meanings reflected in five core values: the spiritual journey of the soul, spiritual protection, emotional transformation, spiritual purification, and cosmological balance. These findings indicate that the lexicons in Gending Gender Wayang serve not only as linguistic elements but also as representations of the cultural and spiritual values of Balinese society. This study emphasizes the importance of preserving the lexicon in Gending Gender Wayang as an effort to maintain local identity and ensure cultural sustainability in the midst of globalization. Furthermore, this study is expected to contribute to ethnolinguistic research, particularly in cross-cultural studies and efforts to preserve the Balinese language and culture.
LEXICONS USED IN KAJANG PASEK KAYU SELEM RELATED TO THE CREMATION CEREMONY AT BUNUTIN VILLAGE Komang Dede Arianata; I Gede Budasi; Made Aryawan Adijaya
Krinok:Jurnal Linguistik Budaya Vol 10, No 1 (2026): Krinok: Jurnal Linguistik Budaya
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/krinok.v10i1.2055

Abstract

Perkembangan pesat era ini berdampak pada keberlanjutan bahasa dan budaya, termasuk leksikon dalam ritual Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi leksikon dan makna budaya yang tertanam dalam kajang pasek kayu selem yang digunakan dalam upacara Ngaben di Desa Bunutin, Kabupaten Bangli, Bali. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara mendalam dengan informan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dan snowball sampling. Data dianalisis menggunakan model yang terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi/kesimpulan yang diusulkan oleh Miles dan Huberman (1994), didukung oleh triangulasi metodologis dan sumber data untuk memastikan validitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kajang pasek kayu selem terdiri dari enam bagian utama: gedang kaikik, kelasa, beten pengawak, angkeb sarira, angkeb rai, dan rurub kajang , dengan total tiga puluh tiga (33) leksikon yang tersebar di seluruh bagian. Leksikon-leksikon ini membawa makna budaya yang dikategorikan ke dalam tujuh kelompok utama: penyucian, pembubaran, perlindungan atma ( jiwa), pemulihan Panca Maha Bhuta (unsur-unsur tubuh fisik), pelepasan keterikatan duniawi, kembalinya atma kepada Tuhan, dan manifestasi Tuhan. Leksikon-leksikon ini sebagian besar bersifat pasif, seringkali hanya muncul dalam ritual Ngaben . Studi ini menyoroti risiko kepunahan leksikon karena jarang dilakukannya upacara tersebut, terbatasnya akses ke naskah-naskah suci, dan terbatasnya pemahaman masyarakat. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya mempertahankan leksikon-leksikon ini sebagai pengetahuan budaya untuk melestarikan identitas masyarakat dan bahasa Bali.
Pemanfaatan Mobile-Assisted Language Learning (MALL) bagi Kelompok Sadar Wisata I Made Tegeh; Desak Putu Parmiti; G.A.P. Suprianti; Made Aryawan Adijaya
International Journal of Community Service Learning Vol. 9 No. 2 (2025): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/ijcsl.v9i2.85207

Abstract

Permasalahan yang ada pada mitra yakni kemampuan mitra dalam penggunaan Bahasa asing masih rendah. Selain itu, mitra kurang terampil dalam pemanfaatan teknologi yang berbasis pelatihan bahasa asing. Pengabdian ini merupakan Pengabdian tindakan dengan pendekatan partisipatif yang melibatkan 24 anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bahasa asing melalui penerapan Mobile-Assisted Language Learning (MALL). Data dikumpulkan menggunakan metode observasi, wawancara, dan tes kompetensi dengan instrumen berupa lembar observasi, panduan wawancara, serta pre-test dan post-test. Analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil menunjukkan bahwa 83,3% anggota Pokdarwis mengalami peningkatan signifikan dalam kemampuan bahasa asing, sementara 95,8% peserta menguasai penggunaan teknologi MALL. Pengabdian ini memberikan kontribusi pada pengembangan kapasitas masyarakat lokal dalam bidang pariwisata. Implikasi dari Pengabdian ini menegaskan pentingnya pelatihan berkelanjutan dan penguasaan teknologi untuk mendukung daya saing destinasi wisata lokal.
Nusantara Mythology as a Green Education Medium: The Implementation of Jagapati Bumi in Earth-Caring Learning for Elementary School Students Ade Asih Susiari Tantri; I Nyoman Yasa; I Gede Nurjaya; I Wayan Artika; I Putu Mas Dewantara; Ida Bagus Putrayasa; Made Aryawan Adijaya
ARRUS Journal of Social Sciences and Humanities Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : PT ARRUS Intelektual Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35877/soshum5138

Abstract

This study aims to implement the ecological values embedded in the Jagapati Bumi myth for fifth-grade students at SD N 1 Banyuasri through learning activities under the theme Love the Earth. The study employed a mixed-methods approach. The qualitative method was used to identify and describe the ecological values contained in the Jagapati Bumi myth, while the quantitative method was employed to examine the effectiveness of implementing these ecological values in improving students' understanding of how to care for the Earth. Data on the ecological values were collected through intensive reading of the Jagapati Bumi myth, followed by identifying and analyzing the ecological values embedded in the narrative. Data on the effectiveness of implementing these ecological values were collected through observation, documentation, and tests. The qualitative data were analyzed through the stages of data reduction, data display, and conclusion drawing. Meanwhile, the quantitative data were analyzed using inferential statistics, specifically the t-test. The findings revealed six major ecological values embedded in the Jagapati Bumi myth: ecological balance, conservation and sustainability, environmental ethics and responsibility, the spirituality and sacredness of nature, local wisdom, and biodiversity. Furthermore, the implementation of these ecological values proved effective in enhancing students' understanding of how to care for the Earth. This was evidenced by the results of the non-parametric Wilcoxon Signed-Rank Test, which yielded a test statistic of 336.5 with a p-value of 0.0000000312 (well below 0.05). These findings indicate a highly significant difference between the students' pre-test and post-test scores.
An Ethnolinguistic Analysis of Lexicons and Cultural Meaning in the Gebug Ende Ritual in Seraya Village, Karangasem Regency Veranita Helmawan; I Gede Budasi; Made Aryawan Adijaya
Krinok:Jurnal Linguistik Budaya Vol 10, No 2 (2026): Krinok: Jurnal Linguistik Budaya
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/krinok.v10i2.2104

Abstract

This research aims to identify the lexicons used in the Gebug Ende ritual in Seraya Village, Karangasem Regency, and to analyze the cultural meanings embedded in those lexicons. The study is based on the declining understanding of ritual lexicons among the younger generation of the Seraya community, which poses a challenge to the preservation of the Balinese language and local cultural heritage. This study employed an ethnographic approach. The data were collected through non-participant observation and in-depth interviews with Penglingsir (a respected senior figure), ritual practitioners, and Jero Pendalem (a traditional ritual custodian), selected through purposive sampling. The findings reveal that there are 37 lexicons used in the Gebug Ende ritual, categorized into four groups: 20 lexicons related to the ritual stages, 9 lexicons related to ritual tools, 4 lexicons related to ritual participants, and 4 lexicons related to ritual offerings. The identified lexicons represent the Seraya community's spiritual beliefs, cultural identity, local wisdom, and the values of harmony among humans, nature, and the divine. In conclusion, documenting and understanding the lexicons used in the Gebug Ende ritual plays a significant role in preserving the Balinese language, strengthening cultural identity, and supporting the continuity of this traditional ritual for future generations.
Cultural Meanings of Lexicons Used in the Sudi Wadani Ritual in Tamblang Village Ni Made Gita Pratiwi; I Gede Budasi; Made Aryawan Adijaya
Krinok:Jurnal Linguistik Budaya Vol 10, No 2 (2026): Krinok: Jurnal Linguistik Budaya
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/krinok.v10i2.2105

Abstract

This research aims to identify the lexicon used in the Sudi Wadani ritual in Tamblang Village and analyze the cultural meanings embedded in it. The study was conducted in response to the decreasing understanding of ritual lexicons among the local community, particularly the younger generation, which may affect the preservation of the Balinese language and cultural identity. This study employed a descriptive qualitative method with an ethnolinguistic approach. The data were collected through non-participant observation and in-depth interviews with selected informants. The findings revealed that 25 lexicons were identified and classified into four categories: 10 lexicons of ritual stages, 4 of ritual tools, 6 of ritual participants, and 5 of ritual offerings. The identified lexicons reflect cultural values related to spiritual purification, devotion, harmony, religious identity, and the relationship between humans and Ida Sang Hyang Widhi. Therefore, documenting and understanding these ritual lexicons are essential for preserving the Balinese language, cultural heritage, and local identity, while also supporting the transmission of traditional knowledge to future generations.