Claim Missing Document
Check
Articles

TUGU PAHLAWAN SYUNG WENARA DI DESA SUKAWATI GIANYAR- BALI ( BENTUK DAN FUNGSINYA SEBAGAI MEDIA PEWARISAN NILAI MELALUI PEMBELAJARAN SEJARAH DI SEKOLAH MENENGAH ATAS BERBASIS KURIKULUM 2013) Gusti Ayu Padmawati .; Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum .; Ketut Sedana Arta, S.Pd. .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 5 No. 3 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v5i3.3611

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui peristiwa yang menjadi latar belakang didirikannya Tugu Pahlawan Syung Wenara di Desa Sukawati Gianyar, (2) mengetahui bentuk dan nilai-nilai yang terkandung di balik Tugu Pahlawan Syung Wenara di Desa Sukawati Gianyar, dan (3) mengetahui implementasi nilai-nilai tersebut dalam pembelajaran sejarah berbasis kurikulum 2013 . Dalam penelitian ini, data dikumpulkan dengan menggunakan metode kualitatif dengan tahap-tahap ; (1) teknik rancangan penelitian, (2) teknik penentuan lokasi penelitian, (3) teknik penentuan informan, (4) teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, kajian pustaka/dokumen), (5) teknik validitas data (triangulasi data, triangulasi metode), (6) teknik analisis data, (7) teknik penulisan hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa, peristiwa yang melatar belakangi didirikannya Tugu Pahlawan Syung Wenara adalah sebagai peringatan gugurnya pemuda-pemuda pejuang pada masa revolusi fisik dimana pada tanggal 12 April 1946 telah terjadi penembakan terhadap I Wayan Dipta Komandan organisasi PRI (Pemuda Republik Indonesia) dan I Ketut Lanus yang pada saat itu berpangkat sebagai Sersan Mayor dengan tugas sebagai penghubung istimewa staff. Bentuk dari Tugu Pahlawan Syung Wenara adalah : bagian dasar dari banguan tugu berbentuk persegi lima yang memiliki makna dasar negara kita yaitu pancasila. Bagian tengah bangunan tugu bertuliskan nama tugu yaitu Syung Wenara dan di ujung/atas bangunan tugu beriskan patung monyet bersama dengan burung elang. Nilai-nilai yang terkandung dibalik Tugu Pahlawan Syung Wenara adalah : (1) nilai pendidikan, (2) nilai kepahlawanan, (3) nilai patriotisme, (4) nilai kesetiaan dan (5) nilai religius. Nilai- nilai yang terkandung di balik Tugu Pahlawan Syung Wenara diwariskan melalui pranata sekolah dengan cara menyisipkan nilai-nilai tersebut dalam proses pembelajaran. Kata Kunci : Kata Kunci: Tugu Pahlawan, Media ,pewarisan nilai sejarah. ABSTRACT The research was basically designed (1) to find out the historical events that were considered as the background of the Syung Wenara Heroic monument building in Sukawati village, Gianyar Regency, (2) to know the forms and the values reflected inside the Syung Wenara Heroic Monument in Sukawati Village, Gianyar Regency, (3) to find out the implementation of the values in teaching and learning history based on curriculum of 2013.In this research,the data was collected through qualitatif method in which it consisted of some interconnected steps, namely : (1) research design, (2) research location determining, (3) informant determining, (4) data collection (observation, interview,literature review / documentation), (5) data validation (triangulation of data, triangulation of method), (6) data analysis, and (7) interpretation of research finding. Furthermore the result of this research showed that the Syung Wenara Horoic Monument was established as the celebration of the death of the young combatants in the physical revolution in which on April 12 th, 1946 I Wayan Dipta as a comandant of Indonesian youth organization and I Ketut Lanus as a major sargeant who worked as a special staff connactor had been lifted off at the time. The forms of Syung Wenara Heroic Monument are divided in to there parts, namely : the bottom part, the middle part and the top part. On the bottom part, it had a pentagen shape which was considered as the Indonesian basic state and symbol named Pancasila. In the middle of building, it stated the name of the heroic monument called Syung Wenara. At last, there were monkey statue together with eagle statue. Moreover, the value obtained from Syung Wenara Heroic Monument could be showed as follows : (1) education value, (2) heroism value, (3) patriotism value, (4) loyalty value, (5) religion value. As result those values showed in this research must be applied by the school institutions in teaching and learning process. keyword : Keywords : Heroic Monument, Media, Historical Value Hiretage
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SEJARAH SISWA KELAS XI IPS.4 SMA N 2 BANJAR SEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2013/2014 Ni Kadek Dian Lestari .; Drs. I Wayan Mudana,M.Si. .; Ketut Sedana Arta, S.Pd. .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 6 No. 1 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v6i1.3614

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui peningkatan motivasi belajar siswa kelas XI IPS.4 SMA N 2 Banjar semester genap tahun pelajaran 2013/2014 melalui penerapan model pembelajaraan kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT), (2) mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas XI IPS.4 SMA N 2 Banjar semester genap tahun pelajaran 2013/2014 melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT), (3) mengetahui tanggapan siswa kelas XI IPS.4 SMA N 2 Banjar semester genap tahun pelajaran 2013/2014 terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) dalam pelajaran sejarah. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ialah (1) Penentuan Subjek Penelitian, (2) Membuat Rencana Tindakan, (3) Melaksanakan Tindakan, (4) Melakukan Observasi, (5) Evaluasi dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan: (1) motivasi belajar siswa kelas XI IPS.4 SMA N 2 Banjar pada siklus I adalah 58,10 dengan kategori tinggi, meningkat dengan rata-rata pada siklus II menjadi 59,82 dengan kategori tinggi; (2) hasil belajar siswa kelas XI IPS.4 SMA N 2 Banjar pada siklus I mencapai rata-rata 67,34% dengan kategori sedang, serta ketuntasan belajar siswa mencapai 37,93% meningkat pada siklus II yaitu rata-rata hasil belajar sejarah siswa mencapai 80,34% dengan kategori tinggi, serta ketuntasan belajar mencapai 82,75%; (3) Tanggapan siswa kelas XI IPS.4 SMA N 2 Banjar terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT), mencapai rata-rata 41,37 dengan kategori tinggi. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) dapat meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar sejarah siswa kelas XI IPS.4 SMA N 2 Banjar. Kata Kunci : Kata Kunci: Motivasi Belajar, Hasil Belajar, Sejarah, Model Pembelajaran Kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT). ABSTRACT This study aims to (1) determine the increase of student motivation in class XI IPS.4 SMA N 2 Banjar in the second semester of academic year 2013/2014 through the implementation of a model cooperative learning Teams Games Tournament (TGT), (2) determine the increase students' outcomes in learning process in class XI IPS.4 SMA N 2 Banjar in the second semester of academic year 2013/2014 through the implementation of cooperative learning model Teams Games Tournament (TGT), (3) determine the students' responses in class XI student IPS.4 SMA N 2 Banjar in the second semester of academic year 2013/2014 through the implementation of cooperative learning model Teams Games Tournament (TGT) in history. This research is Classroom Action Research (CAR). The stages which are carried out of classroom action research (CAR) is (1) Determination of Research Subjects, (2) Creating an Action Plan, (3) Implement the action, (4) Conducting Observations, (5) Evaluation and Reflection. The results showed: (1) student motivation in class XI IPS.4 SMA N 2 Banjar in the first cycle was 58.10 with a high category, increased by an average of 59.82 on the second cycle into the high category; (2) students' outcomes in learning process in class XI IPS.4 SMA N 2 Banjar in the first cycle at an average of 67.34% with moderate category, as well as mastery learning students achieve 37.93% increase in the second cycle is an average of the results of learning history 80.34% of students achieve the higher categories, as well as mastery learning reaches 82.75%; (3) The students' response in class XI of SMA N 2 IPS.4 about the question of the application of cooperative learning model Teams Games Tournament (TGT), reaching an average of 41.37 with a high category. Based on the results of this research is known that the implementation of cooperative learning model Teams Games Tournament (TGT) can enhance the students' learning motivation and learning outcomes of history class XI IPS.4 in SMA N 2 Banjar. keyword : Keywords: Motivation, Learning Outcomes, History, type of Cooperative Learning Model Teams Games Tournament (TGT).
Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Kelas X Akuntansi SMK PGRI 1 Singaraja Terhadap Mata Pelajaran IPS Melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Snowball Throwing Pada Semester Genap Tahun Ajaran 2013/2014 Ni Made Ninik Susantini .; Dra. Tuty Maryati,M.Pd .; Ketut Sedana Arta, S.Pd. .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 4 No. 2 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v4i2.3622

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah (1) Untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar IPS siswa setelah menggunakan metode snowball throwing pada siswa kelas X Akuntansi SMK PGRI 1 Singaraja, (2) Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar IPS siswa setelah menggunakan metode snowball throwing pada siswa kelas X Akuntansi SMK PGRI 1 Singaraja. (3) Untuk mengetahui bagaimana respon siswa kelas X Akuntansi SMK PGRI 1 Singaraja terhadap penerapan metode snowball throwing. Dalam penelitian tindakan kelas ini yang menjadi subjek adalah siswa kelas X Akuntansi SMK PGRI 1 Singaraja dengan jumlah 25 siswa. Objek penelitiannya adalah motivasi dan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini dengan metode observasi, metode tes, kuisioner dan wawancara. Dari hasil penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan sebanyak 2 siklus dan analisis yang telah dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut (1) motivasi belajar siswa pada siklus I mendapatkan jumlah 1591 dengan rata-tara yang dicapai 63,44, terjadi peningkatan jumlah motivasi yang diperoleh siswa pada siklus II dengan jumlah yang dicapai 1786 dengan rata 71,44. Peningkatan motivasi dari siklus I ke siklus II adalah 195 dengan rata-rata peningkatan mencapai 7,8. (2) Hasil belajar yang siswa adalah 1782 dengan rata-rata 71,28% dan ketuntasan hasil belajar yang dicapai 48% pada siklus I. Terjadi peningkatan hasil belajar yang diperoleh pada siklus II yakni dengan jumlah 2231 dengan rata-rata 89,24% dan ketuntasan hasil belajar yang dicapai 100%. (3) Hasil respons siswa terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif snowball throwing terjadi pada siklus I, respons siswa terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif snowball throwing yaitu 887 dengan pencapaian rata-rata 35,48. Terjadi peningkatan respons siswa terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif snowball throwing pada siklus II yaitu 969 dengan pencapaian rata-rata 38,68. Jumlah peningkatan yang terjadi dari siklus I ke siklus II adalah sebesar 82 dengan pencapaian rata-rata sebesar 3,28. Berdasarkan hasil penelitian, maka jawaban dari hipotesis tindakan yaitu (1) Model pembelajaran kooperatif snowball throwing dapat berjalan dengan efektif dan efisien sehingga motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial meningkat tinggi. (2) Model pembelajaran kooperatif snowball throwing dapat berjalan dengan efektif dan efisien sehingga hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial meningkat tinggi. Kata Kunci : Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif Snowball Throwing, Motivasi, Hasil Belajar, Respons Siswa, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) ABSTRACT The purpose of this action research are (1) To determine the increase in students' motivation to learn IPS after throwing the snowball method in class X Accounting SMK PGRI 1 Singaraja, (2) To determine the improvement of student learning outcomes IPS after throwing the snowball method in class X Accounting SMK PGRI 1 Singaraja. (3) To determine how the response class X Accounting SMK PGRI 1 Singaraja on the application of the method of snowball throwing. In this classroom action research is the subject of class X is Accounting SMK PGRI 1 Singaraja the number of 25 students. While the research object is the motivation and learning of Social Sciences (IPS). Data collection methods used in this classroom action research with the method of observation, test methods, questionnaires and interviews. From the results of action research conducted by 2 cycles and analyzes that have been conducted, obtained the following results (1) student motivation in the first cycle to get the average number between 1591 reached 63.44, an increase in the number of student motivation obtained at second cycle with the amount achieved in 1786 with 71.44 average. Increased motivation from the first cycle to the second cycle was 195 with an average increase of 7.8. (2) The results of student learning is 1782 with an average of 71.28% and mastery of learning outcomes achieved 48% in cycle I. An increase learning outcomes obtained in the second cycle which is the number of 2231 with an average of 89.24% and mastery of learning outcomes achieved 100%. (3) The results of a student's response to the application of cooperative learning model snowball throwing occurred in the first cycle, the student response to the application of cooperative learning model snowball throwing is 887 with an average achievement of 35.48. An increase in student responses to the application of cooperative learning model snowball throwing in the second cycle is 969 with an average achievement of 38.68. The amount of the increase that occurred from the first cycle to the second cycle is the attainment by 82 with an average of 3.28. Based on the results of the research, the answer to the hypothesis that the action was previously thought (1) snowball throwing cooperative learning model to be effective and efficient and the motivation to study the subject of Social Sciences rise high. (2) snowball throwing cooperative learning model to be effective and efficient, student learning outcomes in the Social Sciences subjects increased height. keyword : Keywords: Snowball Throwing Cooperative Learning, Motivation, Learning Outcomes, Student Response, Social Science (IPS)
TRADISI NGREKES DI DESA PAKRAMAN MUNTIGUNUNG, KUBU, KARANGASEM BALI (LATAR BELAKANG, SISTEM RITUAL DAN POTENSI NILAI-NILAINYA SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH DI SMA) Ni Wayan Nonoriati .; Dra. Luh Putu Sendratari,M.Hum .; Ketut Sedana Arta, S.Pd. .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 4 No. 2 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v4i2.3810

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, (1) latar belakang masyarakat Desa Pakraman Muntigunung tetap mempertahankan tradisi Ngrekes; (2) sistem ritual pelaksanaan tradisi Ngrekes, (3) Nilai- nilai karakter yang terdapat pada tradisi Ngrekes yang dapat dipakai sebagai sumber pembelajaran sejarah di SMA. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu: (1) teknik penentuan informan; (2) teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, studi analisis/content); (3) teknik analisis data; (4) teknik penulisan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang pemertahanan tradisi Ngrekes di Desa Pakraman Muntigunung berkaitan erat dengan fungsi dari tradisi yaitu; (1) pemenuhan kebutuhan fisik yaitu: (1) fungsi individu yang berkaitan erat dengan kekuatan rasa aman dan suatu kepuasan diri secara emosional; (2) fungsi sosial berkaitan erat dengan peningkatan solidaritas sosial antara sesama sehingga menumbuhkan rasa integrasi sosial antar masyarakat sehingga dapat bekerja sama dengan baik; (2) pemenuhan kebutuhan psikologis yaitu: (1) keyakinan; (2) memohon keselamatan dan umur yang panjang; (3) historis, hal ini berkaitan erat untuk menghindarkan diri dari mara bahaya serta rasa takut oleh hal yang bersifat gaib, yang ada di luar kemampuan dan nalar manusia atau alam niskala. Adapun upaya pemertahanan tradisi Ngrekes diantaranya; (1) sosialisasi yang terjadi di keluarga; (2) sosialisasi masyarakat; (3) sosialisasi di sekolah. Sistem ritual pelaksanaan tradisi Ngrekes meliputi aspek-aspek : (1) lokasi upacara yaitu di Catus Pata Desa; (2) waktu pelaksanaan; (3) peserta upacara. Rangkaian pelaksanaan upacara Ngrekes diantaranya: (1) tahap perisiapan mencari dewasa ayu;( 2) ngulemin pemangku; (3) bakti piuning; (4) upacara memutus. Nilai-nilai karakter yang terdapat pada tradisi Ngrekes secara umum dapat dibagi menjadi lima diantaranya: (1) nilai religius; (2) cinta damai; (3) disiplin; (4) tanggung jawab; (5) peduli sosial. Berdasarkan potensi nilai yang dimiliki tradisi Ngrekes sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran sejarah di SMA.Kata Kunci : Kata Kunci : Ngrekes, Potensi, Pendidikan Karakter. This study aims to determine, (1) background people Pakraman Muntigunung maintain the tradition Ngrekes, (2) system implementation ritual tradition Ngrekes, (3) karakter values contained in the tradition Ngrekes that can be used as a source of teaching history in high school. This study used a qualitative approach is: (1) determination techniques informant; (2) data collection techniques (observation, interviews, analysis study/ content our documentation); (3) data analysis techniques; (4) writing techniques. Results showed that the background retention in the tradition Ngrekes Pakraman Muntigunung closely related to the function of tradition, namely : (1) physical needs, ie: (1) individual functions are closely related to strength and a sense of self satisfaction emotionally; (2) social function is closely related to an increase in social solidarity among fellow that foster a sense of social integration among the people so that they can work well together; (2) fulfillment of psychological needs, namely: (1) confidence; (2) invoke the safety and long life; (3) historically, it relates closely to avoid distress an fear by the things that are unseen, that is beyond the ability of human reason or nature and abstract. The preservation efforts such Ngrekes tradition; (1) socialization that occurs in the family; (2) community outreach; (3 socialization in schools. The system rituals implementation tradition Ngrekes aspects of cover : (1) the location of the ceremony is in catus pata village;(2) execution time; (3) participants of the ceremony. Series implementation of ceremonies such Ngrekes: (1) stage of preparation looking for adult ayu; (2) ngulemin pemangku; (3) bakti piuning; (4) upacara memutus. Character values contained in Ngrekes tradition in general can be divided among five: (1) value rilegius; (2) love peace; (3) discipline; (4) responsibility; (5) social care. Based on the pontential value of owned Ngrekes tradition that can be used as a source of teaching history in high school. keyword : Keywords: Ngrekes, potential,character education
Monumen Perjuangan Wira Bhuwana Di Desa Gitgit, Sukasada, Buleleng (Latar Belakang Pendirian, Bentuk Serta Potensinya Sebagai Media Pembelajaran IPS) Gede Adi Putra .; Drs. I Ketut Margi, M.Si .; Ketut Sedana Arta, S.Pd. .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 2 No. 2 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v2i2.3817

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Latar belakang pendirian Monumen Perjuangan Wira Bhuwana; (2) Bentuk Monumen Perjuangan Wira Bhuwana dan (3) Potensi yang bisa dikembangkan sebagai media pembelajaran IPS dari Monumen Perjuangan Wira Bhuwana. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan langkah-langhkah: (1) Penentuan lokasi penelitian; (2) Metode penentuan informan; (3) Metode pengumpulan data (observasi, wawancara, dan analisis dokumen); (4) Metode penjaminan keaslian data (triangulasi data dan triangulasi metode); dan (5) Metode analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Monumen Perjuangan Wira Bhuwana didirikan atas tekad dari para veteran kecamatan Sukasada. Ada tiga faktor yang melatar belakangi pendiriannya yakni, faktor historis, faktor sosial, dan faktor religi, (2) Bentuk Monumen Perjuanan Wira Bhuwana mengambil konsep Tri Mandala dalam ajaran agama Hindu. Bentuk Monumen Perjuangan Wira Bhuwana termasuk ke dalam tampilan bangunan figuratif dan non figuratif. Bukti bangunan figuratif pada Monumen Perjuangan Wira Bhuwana adalah adanya beberapa patung-patung berwujud manusia pada areal halaman luar monumen yang melambangkan kesembilan pasukan pribumi yang gugur dalam pertempuran di Kilometer 17 Pangkung Bangka, Desa Gitgit pada 12 Mei 1946. Sedangkan bukti bangunan non figuratif pada Monumen Perjuangan Wira Bhuwana adalah adanya sebuah bangunan tugu pada areal halaman tengah monumen dan terdapat beberapa relief-relief pada dinding halaman luar monumen serta terdapat pelinggih Padmasana pada bagian halaman utama monumen. (3) Potensi Monumen Perjuangan Wira Bhuwana yang dapat dikembangkan sebagai media pembelajaran IPS, yakni Sejarah dan Artefak ( Arsitektur Monumen Perjuangan Wira Bhuwana). Kata Kunci : Media pembelajaran IPS , Potensi, Sejarah Monumen Perjuangan Wira Bhuwana This study aimed to determine (1) the establishment Background of Monumen Perjuangan Wira Bhuwana; (2) Form of Monumen Perjuanan Wira Bhuwana and (3) the potential that could be developed as a learning media of social science studies from Monumen Perjuangan Wira Bhuwana. This study used a qualitative approach: (1) Determining the location of the study; (2) Method of determination of the informant; (3) Data collection methods (observation, interviews, and document study); (4) Method of guaranteeing the authenticity of the data; (5) The method of data analysis; and (6) The method of research results. The results showed that (1) Monumen Perjuangan Wira Bhuwana founded on the determination of the veterans Sukasada districts. There are three factors namely the establishment background, historical factors, social factors, and religious factors, (2) Monumen Perjuanan Wira Bhuwana shape take the concept of Tri Mandala in the Hindu’s religion. Forms of Monumen Perjuangan Wira Bhuwana included in the display of figurative and non-figurative building. Evidence figurative building on Monumen Perjuangan Wira Bhuwana is the presence of some form human statues on the outside courtyard area of the monument that symbolizes the nine native troops who died in battle at Kilometer 17 Pangkung Bangka, Gitgit village on May 12 1946. While evidence of non-figurative building on Monumen Perjuangan Wira Bhuwana is the existence of a building pillar in the middle of the courtyard area of the monument and there are some reliefs on the walls of the courtyard outside the monument and there Padmasana shrine monument on the main page (3) Potential of Monumen Perjuangan Wira Bhuwana that could be developed as a learning media of social science studies is the History and Artifacts (Architecture of Monumen Perjuangan Wira Bhuwana).keyword : Learning Media of Social Studies, Potential, History of Monumen Perjuangan Wira Bhuwana,
Kerajinan Kain Tenun Rangrang Dusun Karang, Desa Pejukutan, Kecamatan Nusa Penida, Klungkung, Bali (Pemertahanan, Proses Pembuatan) Potensinya Sebagai Sumber Belajar IPS di SMP I Komang Wisujana Putra .; Drs. I Wayan Mudana,M.Si. .; Ketut Sedana Arta, S.Pd. .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 6 No. 1 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v6i1.3826

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini dilakukan di Dusun Karang, Desa Pejukutan bertujuan untuk mendeskripsikan (1) Latar belakang masyarakat Dusun Karang, Desa Pejukutan mempertahankan usaha kerajinan Tenun Rangrang, (2) Sistem Produksi usaha kerajinan tenun rangrang, (3 Potensi kerajinan Tenun Rangrang di Dusun Karang, Desa Pejukutan sebagai Sumber Pembelajaran IPS di SMP.Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jalan memahami situasi sosial, peristiwa, peran, interaksi dan kelompok.Populasi penelitian ini adalah perajin tenun rangrang di Dusun karang, Desa Pejukutan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung yang berjumlah 81 orang. Sampel penelitian ini berjumlah 6 orang penenun kerajinan tenun Rangrang, 2 siswa SMP kelas VII dan 2 Guru bidang Studi IPS yang ditentukan melalui pendekatan porposive sampling. Langkah-langkah yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu 1) Teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, dan studi dokumen) 2) Analisis data, 3) Penulisan hasil penelitian. Hasil penelitian ini menunjukan 1) sejarah keberadaan tenun rangrang diperkirakan sudah ada sejak zaman kerajaan Majapahit dengan nama cerik bolong, kemudian berkembang menjadi nyrangnyang, terakhir menjadi rangrang; (2) Pemertahanan usaha kerajinan tenun Rangrang dipengaruhi oleh beberapa faktor,yaitu ; meningkatkan pendapatan keluarga, melestarikan warisan dari kebudayaan leluhur dan faktor lingkungan; 3) sistem produksi meliputi : Alat, bahan dan tenaga kerja. Alat yang digunakan adalah tenun cagcag, Bahan yang dipergunakan: benang metris dan rayon, pewarna alami menggunakan daun tarum, daun jati, kulit kayu (jamblang, mangga, kepundung/menteng, mengkudu),dan kayu secang/sepang, penguat warna alami digunakan tunjung/mimusops elengi, kapur tohor/calcium carbonate, dan tawas/ potasium alum sulfide), sedangkan pewarna kimia menggunakan pewarna direk dan nandrin, serta metanol sebagai penguat pewarna kimia; (3) Aspek yang terdapat pada kerajinan Tenun Rangrang sebagai sumber belajar meliputi: Aspek ketekunan, Aspek sumber daya alam dan aspek kewirausaha. Kata Kunci : pemertahanan, Tenun Rangrang, produksi, sumber belajar, IPS, SMP Abstract This research was conducted in theDusun Karang, Pejukutan Village aims at describing (1) The background of Dusun Karang community, Pejukutan village in preserving handicraft of Tenun Rangrang, (2) The production system of handicraft of Tenun Rangrang, (3 The potential of handicraft of Tenun Rangrang, Pejukutan village as social learning resources of social study in SMP. The approach which is used in this study is qualitative approach to understand social situation, event, role, and group interaction. Population of this study is the artisan of Tenun Rangrang in Dusun Karang, Pejukutan village, Nusa Penida subdistict, Klungkung regency which totaled 81 people. There are 6 samples of Tenun Rangrang’s asrtisan in this study, 2 junior high school students and 2 teachers of class VII social studies field studies determined through sampling porposive approach. The steps of which are used to collect data: 1) data collection technique (observation, interviews, and studies document) 2) data analysis, 3) Writing research results. The result of the study indicates 1) the history of Tenun Rangrang is believed existuing since the era of Majapahit kingdom named Cerik Bolong, then developing became Nyrangnyang, the lattest being Rangrang; (2) The preserving of Tenung Rangrang handicraft’s business is affected by several factors, namely; increasing family income, preserving the cultural heritage of the ancestors and environmental factors; 3) the production system includes: equipment, materials and labors. The tools which is used is the Tenun Cagcag, the materials used: metric and rayon yarn, natural dyes using Tarum leaf, teak leaves, bark (jamblang, mango, kepundung, Morinda citrifolia), and a Sepang wooden, natural color boosters which are used namely lotus / mimusops elengi, calcium oxide / calcium carbonate, and alum / alum potassium sulfide), while the use of chemical are direk and dyes Nandrin, and methanol as a chemical dye amplifier; (3) the aspects which are contained in Tenun Rangrang as a learning resource include: Aspects of preseverance, Aspects of natural resources and personal business aspects. keyword : preservance, Tenun Rangrang, production, learning resources, IPS, junior high school
Identifikasi Koleksi Museum Puri Lukisan di Kelurahan Ubud, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali (Kajian Sejarah, Struktur, dan Fungsinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah Kebudayaan di SMA Kelas XI Bahasa) I Wayan Agus Suatmika .; Drs. I Wayan Mudana,M.Si. .; Ketut Sedana Arta, S.Pd. .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 2 No. 2 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v2i2.3827

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui latar belakang berdirinya Museum Puri Lukisan (2) mengetahui tata ruang dan koleksi-koleksi yang terdapat di Museum Puri Lukisan (3) mengetahui koleksi-koleksi yang terdapat dalam Museum Puri Lukisan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar sejarah kebudayaan. Dalam penelitian ini, data dikumpulkan dengan menggunakan metode kualitatif dengan tahap-tahap ; (1) teknik penentuan lokasi penelitian, (2) teknik penentuan informan, (3) teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, studi pustaka), (4) teknik validitas data (triangulasi data), dan (5) teknik analisis data. Hasil penelitian menunjukan bahwa, (1) Pendirian Museum Puri Lukisan diprakarsai oleh Tjokorda Gde Agung Sukawati yang didukung oleh Rudolf Bonnet dan seniman-seniman Pita Maha yang bertujuan untuk menyelamatkan warisan hasil budaya leluhur agar tidak hilang dibawa ke luar negeri oleh wisatawan asing. (2) Tata ruang Museum Puri Lukisan mengikuti struktur tata rumah adat di Bali yakni konsep Asta Kosala-kosali dimana koleksi museum ditempatkan di empat ruangan yakni gedung utara, gedung barat, gedung timur dan gedung selatan berdasarkan urutan waktu koleksi tersebut dibuat. (3) Koleksi-koleksi di Museum Puri Lukisan dapat dirasakan manfaatnya sebagai sumber belajar sejarah kebudayaan di kelas XI Bahasa yang dimaksudkan agar siswa dapat melihat relevansi antara pembelajaran yang diberikan di sekolah dengan yang ada di lingkungan sehingga bermanfaat bagi pemahaman dan hasil belajar siswa. Selain itu, manfaat lainnya adalah siswa dapat menumbuhkan rasa cinta akan budaya sendiri dan turut serta untuk melestarikannya.Kata Kunci : museum, sumber belajar sejarah, tata ruang dan koleksi This study was aimed at (1) knowing the background of the existence of Puri Lukisan Museum (2) knowing the architecture and the collections of Puri Lukisan Museum (3) knowing the collections existed in Puri Lukisan museum which could be used as the source of learning for cultural history. In this study, the data was collected by using the qualitative method which consisted of the following steps; (1) technique of examining the setting of the study, (2) technique of determining the informant, (3) technique of data collection (observation, interview, literature review), (4) technique of data validation (data triangulation), (5) technique of data analysis. The result of the study indicated that (1) the establishment of Puri Lukisan museum was initiated by Tjokorda Gde Agung Sukawati with the support from Rudolf Bonnet and Pita Maha artists, and was established in purpose to save the cultural heritage of the ancestor for not being extinct and taken abroad by foreigner tourists. (2) the architecture of Puri Lukisan museum followed the concept of Balinese traditional architecture known as Asta Kosala Kosali where the collections of the museum were placed in four different rooms namely gedung utara (north building), gedung barat (west building), gedung timur (east building), and gedung selatan (south building) in accordance with the chronological times when those collections of the museum were made. (3) the collections of Puri Lukisan museum contributed to the learning sources of cultural history for language class students at grade XI, for which the students could see the relevancy of the lesson they got at school and the one existed in the community, therefore it could be beneficial for their understanding as well as their learning outcome. Besides that, as the other advantages, the students could grow their interest toward their own culture and take the role in protecting it.keyword : museum, learning source of history, architecture and collection
YAYASAN EKOTURIN (STUDI TENTANG SEJARAH DAN SISTEM PENDIDIKAN DI DAERAH TERTINGGAL DI DESA BAN, KUBU, KARANGASEM, BALI) Ni Nyoman Murdani .; Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum .; Ketut Sedana Arta, S.Pd. .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 6 No. 1 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v6i1.4152

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui latar belakang sejarah didirikanya Yayasan Ekoturin; dan 2) mengetahui sistem pendidikan di Yayasan Ekoturin di Desa Ban, Kubu, Karangasem Bali. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan metode penelitian sejarah dengan tahap-tahap sebagai berikut: (1) heuristik (observasi, wawancara, studi dokumentasi); (2) kritik sumber; (3) interpretasi (analisi data), (4) historiografi (penulisan sejarah). Hasil penelitian menunjukan bahwa: 1) ada tiga faktor yang melatarbelakangi pembangunan Yayasan Ekoturin yaitu faktor politik, faktor sosial, dan faktor ekonomi: 2) sistem pendidikan di Yayasan Ekoturin terdiri dari: unsur masukan (raw input), input instrumen, input lingkungan (environmental input), output, kurikulum, tujuan pendidikan, proses pembelajaran, evaluasi, alat pendidikan, pendidik, peserta didik, dan lingkungan. Dinamika di Yayasan Ekoturin dari input, sejak tahun 2009 sampai sekarang mengalami penurunan, dan dinamika output di Yayasan Ekoturin di Desa Ban, Kubu, Karangasem terus stabil.Kata Kunci : Sejarah, Yayasan Ekoturin This study was aimed to (1) determine the background of the establishment of the Foundation Ekoturin (History and Education system in lagging Regions of Ban village, Kubu, Karangasem, Bali, (2) Know Foundation Ekoturin education system in the village of Ban, Kubu, Karangasem Bali. In this study this, the data collected using methods of historical researc, namely: (1) heuristic (observations, interviews, document study), (2) a source of criticism, (3) interpretation (data analysis), (4) historiography (the writing of history). The results showed that, (1) there are three factors behind the development of the Foundation Ekoturin in Desa Ban, Kubu, Karangasem such as political factors, social factors, and economic factors, (2) the education system in the village of Ban Ekoturin foundation, Kubu, Karangasem consists of (1) the element input (raw input), (2) input instrument, (3) environmental inputs (environmental input), (4) output, (5) curriculum, (6) the purpose of education, (7) the learning process , (8) evaluation, (9) an educational tool, (10) educators, (11) learners, (12) the environment, (13), (3) dynamics in Ekoturin Foundation in Desa Ban, Kubu, Karangasem in terms of inputs from 2009 until now has decreased, and the dynamics of output in Ekoturin Foundation in Desa Ban, Kubu, Karangasem hold steady. keyword : History, Education System
KEUNIKAN SITUS CAGAR BUDAYA DI PURA LUHUR GONJENG DESA KUKUH, MARGA, TABANAN, BALI (Identifikasi Artefaktual Dan Pemanfaatannya Sebagai Sumber Belajar Sejarah Di SMA) Ni Nyoman Tri Cahyani .; Ketut Sedana Arta, S.Pd. .; Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 3 No. 2 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v3i2.4168

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Peninggalan artefak yang ada di Pura Luhur Gonjeng; (2) fungsi artefak-artefak yang ada di Pura Luhur Gonjeng bagi masyarakat Desa Pakraman Kukuh dan sekitarnya; dan (3) peluang untuk memanfaatkan artefak-artefak di Pura Luhur Gonjeng sebagai sumber belajar sejarah di SMA. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu: (1) teknik penentuan informan; (2) teknik pengumpulan data (observasi, wawancara dan studi dokumen); (3) teknik pengolahan data/analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, (1) ada lima peninggalan yang ada di Pura Luhur Gonjeng, yaitu Lingga Yoni, Arca kuno, Prasasti, Uang Kepeng, dan Batu Megalit, (2) Lingga dan Yoni berfungsi sebagai tempat spiritual yang sangat tinggi seperti tempat pemujaan dewa kesuburan dan tempat untuk meminta sentana(anak) dan tamba (obat), Arca Kuno berfungsi sebagai media untuk meminta kesaktian dan juga sebagai penjaga kesakralan pura Luhur Gonjeng, Prasasti berfungsi adalah sebagai bukti autentik tentang perjalanan Anak Agung Anom sampai dengan membangun Pura Luhur Gonjeng, Uang Kepeng berfungsi sebagai perlengkapan upacara Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Pitra Yadnya, Manusia Yadnya, dan Bhuta Yadnya, Batu Megalit berfungsi sebagai media pemujaan masyarakat Desa Kukuh dan sekitarnya, (3) aspek-aspek yang terdapat pada peninggalan cagar budaya di Pura Luhur Gonjeng yang bisa dikembangkan menjadi sumber belajar sejarah di SMA yaitu, aspek bentuk fisik bangunan, aspek historis, aspek riligius, dan aspek budaya. Kata Kunci : Peninggalan, Sumber belajar. This research aimed at finding out (1) The artifacts heritage in Luhur Gonjeng Temple ; (2) The function of the artifacts for Kukuh village community and surrounding ; and (3) The opportunity to utilize the artifacts in Luhur Gonjeng temple as source in history in high school. This research used qualitative research method : (1) determination of informants technique ; (2) data collection technique (observation, interview and study documents) ; (3) data processing/data analysis. The results of the study showed that ; (1) there are five existing relics in Luhur Gonjeng temple are Lingga and Yoni, Arca kuno, Prasasti, Uang Kepeng and Batu Megalit ; (2) the function of Lingga and Yoni as high spiritual place and place for request sentana (child) and tamba (medicine), the function of ancient statues as media to ask the magic and also to keep the sanctity of Luhur Gonjeng temple, the function of inscription as authentic avidence about the trip of Anak Agung Anom to built the Luhur Gonjeng temple, the function of Pis Bolong as equipment for Dewa Yanya ceremony, Rsi Yadnya, Pitra Yadnya, Manusia Yadnya, and Bhuta Yadnya, the function of Batu Megalit as media for public worship in Kukuh village, (3) aspects contained in the relics of cultural heritage of Luhur Gonjeng temple can be developed to be source in history in high school there are the physical form of the building aspects, history aspects, religious aspects and cultural aspects. keyword : heritage, source of teaching
IDENTIFIKASI NILAI-NILAI KEPAHLAWANAN IDA MADE RAI DALAM MENGUSIR KOLONIALISME BELANDA DI DESA BANJAR PADA TAHUN 1868 SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN SEJARAH DI SMA Gede Okva Wiguna .; Dra. Tuty Maryati,M.Pd .; Ketut Sedana Arta, S.Pd. .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 3 No. 2 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v3i2.4169

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Nilai-nilai kepahlawanan yang ada dibalik perlawanan Ida Made Rai terhadap Belanda tahun 1868; (2) Nilai-nilai kepahlawanan yang dapat diwariskan dari perjuangan Ida Made Rai agar dapat diteladani sebagaimana yang tertuang dalam perlawananya dalam memimpin rakyat Banjar mengusir Belanda tahun1868; dan (3) Kontribusi nilai -nilai kepahlawanan tersebut bagi pembelajaran sejarah di SMA berdasarkan Kurikulum 2013. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yaitu: (1) heuristik atau pengumpulan jejak-jejak sejarah (studi dokumen, teknik wawancara, dan teknik observasi); (2) kritik sumber (ekstern dan intern); (3) intepretasi data; (4) historiografi. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Nilai-nilai kepahlawanan dibalik perlawanan Ida Made Rai terhadap Belanda tahun 1868 dapat dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu (a) latar belakang Perang Banjar tahun 1868; (b) Ida Made Rai pahlawan kebanggaan Desa Banjar; dan (c) nilai-nilai kepahlawanan yang terkandung dari sosok Ida Made Rai yaitu: (1) keberanian; (2) rela berkorban; (3) kewibawaan; (4) patriotisme; (5) etika dan moral; (6) kejujuran; (7) solidaritas; dan religius. (2) Nilai-nilai kepahlawanan beliau yang dapat diwariskan bagi generasi bangsa: (a) nilai kejujuran; (b) nilai solidaritas; (c) nilai patriotisme; (d) nilai etika dan moral; (e) nilai rela berkorban; (f) nilai kewibawaan; (g) nilai religius; (h) nilai keberanian. (3) Kontribusi nilai-nilai kepahlawanan Ida Made Rai sebagai sumber pembelajaran sejarah di SMA berdasarkan pada kurikulum 2013 pada (a) ranah kognitif; (b) ranah afektif; (c) ranah psikomotorik. Kata Kunci : Kata Kunci: pahlawan, nilai kepahlawanan, sumber belajar sejarah. ABSTRACT This study is aimed at identifying (1) heroism value behind the effort of Ida Made Rai to fight off the Dutch colonialism in 1868; (2) the heroism value which can be inherited from Ida Made Rai and can be exemplified as it is decanted in her effort in leading the people of Banjar to fight off the Dutch in 1868; (3) the contribution of the heroism value toward the subject of history for high school based on curriculum 2013. The researcher used historical method of gathering the data, they are: (1) heuristic or the collection of historical tract (the study of document, interview, and observation); (2) source of criticism (extern and intern); (3) data interpretation; (4) historiography. The result of this research showed that (1) heroism value behind the effort of Ida Made Rai toward the Dutch colonialism in 1868 can be divided into three steps, they are (a) the background of Banjar battle in 1868; (b) Ida Made Rai is a hero which become the pride of Banjar village; and (c) the heroism value from Ida Made Rai including: (1) courage; (2) willingness of sacrifice; (3) authority; (4) patriotism; (5) ethics and morality; (6) honesty; (7) solidarity; and religious. (2) The heroism value which can be inherited from the effort of Ida Made Rai and can be exemplified toward the young generation are: (a) courage value; (b) willingness of sacrifice value; (c) authority value; (d) patriotism value; (e) ethics and morality value; (f) honesty value; (g) solidarity value; and (h) religious value. (3) The contributions of the heroism value toward the subjects of history for high school based on curriculum 2013 are (a) cognitive aspect; (b) affective aspect; (c) psychomotor aspect. keyword : Key words: hero, heroism value, history learning source
Co-Authors ., Aniqa Faza ., Baiq Zohrah ., CAHYO BINTORO ., Febri Dwi Cahyo ., Gusti Made Sriwidiari ., I Gusti Ayu Ratnasari ., I Km Ega Mahendra ., I Komang Edi Heliana ., I Made Adi Astawa ., I Made Cahyana Mp ., I Made Reynaldi Ambara Gita ., I Putu Yudi Permana Saputra ., I Wayan Edi Setiawan ., Ilham Yahya ., Kadek Ariasa ., Kadek Dwi Mahayoni ., Komang Gede Arya Bawa ., M BUSAR ., Made Pradnyana Putra ., Muh. Reza Khaeruman Jayadi ., N Iputu Sri Widiastuti ., Ni Putu Budiartini ., NUR MINAH ., NURUS MAULIDA ., Nurus Shobah ., Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, M.A. ., Purwa Aditya ., Putu Agustina Setiawan ., Qori Bayyinaturrosyi ., Rini Anggraini A.A. Istri Pradnyana Asrama P. . Abd. Rasyid Syamsuri Alfarizi, Moh Alif Alfi Syahrin Aniqa Faza . Aryantika, I Kadek Adi Baiq Zohrah . Both, Lusitiana CAHYO BINTORO . Desak Made Oka Purnawati Desak Oka Purnawati Dewa Gede Suma Adnyana . Dr. Tuty Maryati,M.Pd . Dra. Luh Putu Sendratari,M.Hum . Drs. I Wayan Mudana,M.Si. . Febri Dwi Cahyo . Gede Adi Putra . Gede Okva Wiguna . Ginting, Enni Maharani Br Gusti Ayu Padmawati . Gusti Made Sriwidiari . I Dewa Gede Yoga I Gede Bayu Ary Hermawan . I Gede Justiasa . I Gusti Ayu Ratnasari . I Gusti Made Aryana I Gusti Ngurah Riki Wahyudi . I Gusti Ngurah Riki Wahyudi ., I Gusti Ngurah Riki Wahyudi I Kadek Adi Aryantika I Kadek Adi Widiastika I Kadek Parmadi . I Ketut Agus Adijaya . I Ketut Anom Mahartawan . I Ketut Anom Mahartawan ., I Ketut Anom Mahartawan I Km Ega Mahendra . I Komang Edi Heliana . I Komang Wisujana Putra . I Made Adi Astawa . I Made Cahyana Mp . I Made Citra Wibawa I Made Pageh I Made Reynaldi Ambara Gita . I Nengah Suastika I Nyoman Jampel I Nyoman Oka Hendrawan . I Nyoman Oka Hendrawan ., I Nyoman Oka Hendrawan I Putu Budiana . I Putu Edy Saputra . I Putu Yudi Permana Saputra . I Wayan Agus Suatmika . I Wayan Edi Setiawan . I Wayan Pardi I Wayan Pardi I Wayan Putra Yasa I Wayan Suastra I Wayan Widiana Ida Ayu Widya Pratiwi Ida Bagus Putu Arnyana Ilham Yahya . Ivanka Angelina Dheyanita Prasada Kadek Ariasa . Kadek Ayu Sutarminingsih . Kadek Dwi Mahayoni . Kadek Mega Arista Sinta Devi Kadek Virgotama Krissanta . Kardila, Maria Marisa Ketut Jasiani . Ketut Jasiani ., Ketut Jasiani Komang Gede Arya Bawa . Lathifah, Desi Fairuz Luh Putu Ayu Diah Pratiwi . Luttfy Chateriyan, Ivan M BUSAR . M.Si Drs. I Ketut Margi . Made Pradnyana Putra . Made Wisnu Dwipayani . Made Wisnu Dwipayani ., Made Wisnu Dwipayani Maria Marisa Kardila Mathias Maranata Surbakti Muh. Reza Khaeruman Jayadi . N Iputu Sri Widiastuti . Nengah Cipta Sari . Nengah Cipta Sari ., Nengah Cipta Sari Ngakan Made Viky Purnama Teja . Ngakan Made Viky Purnama Teja ., Ngakan Made Viky Purnama Teja Ni Kadek Dian Lestari . Ni Komang Sukariasih . Ni Komang Sukasih . Ni Komang Sukasih ., Ni Komang Sukasih Ni Komang Trisna Suparwati . Ni Luh Made Ari Darmini . Ni Made Ary Widiastini Ni Made Ninik Susantini . Ni Made Wibhu Satyayu Ni Nyoman Murdani . Ni Nyoman Tri Cahyani . Ni Putu Budiartini . Ni Putu Rai Yuliartini Ni Putu Ristiana Rahitasari Ni Putu Sri Ratna Dewi Ni Wayan Dewi Lasmi ., Ni Wayan Dewi Lasmi Ni Wayan Nonoriati . Ni Wayan Suratni . NUR MINAH . NURUS MAULIDA . Nurus Shobah . Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, M.A. . Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja,MA . Puger, I Gusti Ngurah Purnawati, Desak Oka Purnawibawa, R. Ahmad Ginanjar Purwa Aditya . Putu Adi Sutama . Putu Adi Sutama ., Putu Adi Sutama Putu Agustina Setiawan . Putu Ari Antara . Putu Sulistyawati Qori Bayyinaturrosyi . Raden Ahmad Ginajar Purnawibawa Raden Ahmad Ginajar Purnawibawa Rini Anggraini . Santhi, Dewa Ayu Aprilia Vidya satria dwi mahendra Satyayu, Ni Made Wibhu Simatupang, Gavin Ar Rasyid Sinta Devi, Kadek Mega Arista Suadnyana, Kadek Nova Sukadi Sukadi Sukadi Sukadi Sulistyawati, Putu Sumiyati , Sumiyati Sumiyati Sumiyati Vita Octavia Anggraini Widiani, Ni Kadek Yiena Yoga, I Dewa Gede Yudi Setiawan