Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

PENERAPAN ELEVASI HEAD OF BED 45 DERAJAT PADA PASIEN CEREBROVASCULAR ACCIDENT UNTUK PENCEGAHAN VENTILATOR ASSOCIATED PNEUMONIA DI RUANG ICU RSD DR SOEBANDI JEMBER: Application of 450 Degree Head of Bed Elevation in Patient with Cerebrovascular Accident To Prevent Ventilator Associated Pneumonia in the Intensive Care Unit of General Hospital dr Soebandi Jember Salim, Vigo; Akhmad Zainur Ridla; Baskoro Setioputro; Sugito Tri Gunarto
Jurnal Ilmiah Keperawatan (Scientific Journal of Nursing) Vol. 9 No. 3 (2023): JIKep | Oktober 2023
Publisher : UPPM STIKES Pemkab Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33023/jikep.v9i5.1671

Abstract

Pendahuluan : Kejadian VAP di ruang ICU dilakukan penatalaksanaan dengan diterapkan VAP Bundle di ruang ICU. Penerapan VAP Bundle di Ruang ICU dengan memberikan posisi elevasi head of bed (HOB) dengan kemiringan 45 derajat memberikan efek dalam mengurangi terjadinya VAP dan juga dijadikan sebagai bentuk pencegahan selama perawatan pasien dengan terpasang ventilator mekanik di ruang ICU. Metode : Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus pada salah satu pasien yang memiliki diagnosa medis cerebrovascular accident (CVA) yang menjalani perawatan di ruang ICU RSD dr Soebandi Jember dengan diberikan intervensi elevasi head of bed (HOB) 450 selama 3 hari yang diukur menggunakan Clinical Pulmonary Infection Score (CPIS) dengan diberikan intervensi elevasi head of bed (HOB) 450 selama perawatan. Hasil : Hasil skor CPIS pada Pre-Intervensi hari pertama diperoleh hasil yakni 5 dan setelah diberikan intervensi diperoleh hasil penurunan basis 1 point pada saat dilakukan pengukuran CPIS pada hari perawatan ketiga dengan nilai skor 4. Intervensi elevasi head of bed (HOB) 450 yang diberikan kepada pasien dengan CVA menunjukkan penurunan. Kesimpulan : Penerapan elevasi head of bed (HOB) 450 pada pasien dengan CVA selama perawatan di ruang ICU ditunjukkan dapat mencegah terjadinya VAP.
Perbedaan Tingkat Depresi Pasien Kanker Sebelum dan Sesudah Kemoterapi Pertama A'la, Muhamad Zulfatul; Arini, Puji; Wantiyah, Wantiyah; Setioputro, Baskoro; Ridla, Akhmad Zainur
Jurnal Ilmiah Ners Indonesia Vol 4 No 2 (2023): November 2023
Publisher : Program Studi Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jini.v4i2.27472

Abstract

Cancer is one of the main causes of death in the world. The most common cancer treatment is chemotherapy. Chemotherapy in its implementation has a physical and psychological impact on cancer patients. This study aims to determine the differences in depression in cancer patients before and after the first chemotherapy at Baladhika Husada Hospital, Jember. It was a longitudinal study with a comparative design. A total of 39 respondents were recruited using purposive sampling. Respondents before chemotherapy were 39 patients and after chemotherapy there were 39 patients. Beck Depression Inventory II with 21 statement items is utilized as a measuring tool to see the level of depression. Data were analyzed using the Wilcoxon test with a significance level <0.05. The results showed that 3 patients experienced a decrease, 5 patients did not change, and 31 patients experienced an increase in depression after 7 days of first chemotherapy. The Wilcoxon test showed no difference in depression in cancer patients before and after the first chemotherapy (p = 0.000; Z = -4.574). The conclusion of this study showed that there were differences in depression in cancer patients before and seven days after the first chemotherapy at Baladhika Husada Hospital, Jember. This difference is influenced by the side effects of chemotherapy that cause depression in cancer patients. Further research recommends exploring at the factors that influence depression after the first chemotherapy and subsequent chemotherapy. ABSTRAK Kanker adalah salah satu penyebab utama kematian di dunia. Perawatan kanker yang paling umum adalah kemoterapi. Kemoterapi dalam implementasinya memiliki dampak fisik dan psikologis pada pasien kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan depresi pada pasien kanker sebelum dan sesudah kemoterapi pertama di rumah sakit Baladhika Husada, Jember. Ini adalah studi longitudinal dengan desain komparatif. Sebanyak 39 responden direkrut dengan menggunakan purposive sampling. Responden sebelum kemoterapi adalah 39 pasien dan sesudah kemoterapi ada 39 pasien. Beck Depression Inventory II dengan 21 item pernyataan digunakan sebagai alat ukur untuk melihat tingkat depresi. Data dianalisis menggunakan uji wilcoxon dengan tingkat signifikansi <0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 3 pasien mengalami penurunan, 5 pasien tidak berubah, dan 31 pasien mengalami peningkatan depresi sesudah 7 hari pasca kemoterapi pertama. Uji Wilcoxon menunjukkan ada perbedaan dalam depresi pada pasien kanker sebelum dan sesudah kemoterapi pertama (p = < 0,01; Z = -4,574). Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan depresi pada pasien kanker sebelum dan tujuh hari sesudah kemoterapi pertama di Rumah Sakit Baladhika Husada Jember. Perbedaan ini dipengaruhi oleh efek samping kemoterapi yang menyebabkan depresi pada pasien kanker Penelitian selanjutnya merekomendasikan untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi depresi pasca kemoterapi pertama maupun kemoterapi selanjutnya. Kata Kunci: Depresi, Pasien Kanker, Kemoterapi Pertama
Peningkatan Pengetahuan Kesiapsiagaan Bencana Banjir Melalui Edukasi Video Animasi dan Simulasi di SMPN 3 Ambulu Jember Haristiani, Ruris; Setioputro, Baskoro; Yunanto, Rismawan Adi; Al Alawi, Rafi Izuddin; Zahra, Annisa
DEDIKASI SAINTEK Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2023): April 2023
Publisher : Al-Hijrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.394 KB) | DOI: 10.58545/djpm.v2i1.42

Abstract

Bencana banjir termasuk kedalam permasalahan glodal yang dihadapi hampir seluruh Negara di dunia. Insiden dan korban terkait bencana banjir adalah yang tertinggi dalam skala global yaitu 55%. Pengetahuan merupakan faktor kunci dalam kesiapsiagaan yang mempengaruhi sikap untuk siap dan siaga menghadapi bencana. Sikap kesiapsiagaan terhadap bencana memerlukan adanya edukasi tentang kebencanaan. Pengabdian masyarakat bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kesiapsiagaan bencana banjir siswa SMPN 3 Ambulu. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat mengenai Kesiapsiagaan Bencana Banjir yaitu edukasi video animasi dan simulasi evakuasi terkait bencana banjir. Hasil uji Wilcoxon nilai Sig < 0,05 menunjukkan adanya perbedaan pengetahuan siswa sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang kesiapsiagaan bencana banjir melalui media berupa video edukasi. Kesimpulannya terdapat pengaruh penggunaan video edukasi terhadap pengetahuan siswa tentang kesiapsiagaan bencana banjir.
Peningkatan Kesiapsiagaan Bencana Gempa Bumi Pada Pelajar SMPN 1 Jenggawah Melalui Team Building Games Setioputro, Baskoro; Rondhianto; Siswoyo; Agustin, Agil; Rubiansyah, Getha Maharani; Ramadhan, Firman; Pasanti, Jesicha Melni; Mukarromah, Siti Murdiyati
DEDIKASI SAINTEK Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2023): April 2023
Publisher : Al-Hijrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.508 KB) | DOI: 10.58545/djpm.v2i1.99

Abstract

Gempa bumi adalah bencana alam yang sering terjadi di Indonesia. Kota Jember merupakan salah satu kota yang terletak di sumber gempa potensial, yaitu terdapat lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia di daerah selatan Jawa Timur. Sekolah merupakan bangunan yang menampung banyak individu sehingga dapat menyebabkan korban jiwa dan material akibat gempa bumi. Siswa SMPN 1 Jenggawah, Kabupaten Jember, belum pernah mendapatkan penyuluhan tentang kesiapsiagaan gempa bumi., sehingga siswa tidak siap jika menghadapi bencana gempa bumi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan intensi dan sikap siswa menghadapi bencana gempa bumi. Metode pendidikan kesehatan yang digunakan adalah team building games. Setelah mendapatkan materi melalui ceramah, siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dan berjalan melalui pos-pos untuk mengaplikasikan materi yang diperoleh. Evaluasi dilakukan dengan one group pre-post test design. Pendidikan Kesehatan diikuti oleh 68 siswa. Hasil pre-test menunjukkan 13,3% siswa memiliki intensi lemah dan 17,6% memiliki sikap negative. Setelah mendapatkan Pendidikan Kesehatan dengan team building games seluruh siswa memiliki intensi positif. Sedangkan sikap negative berkurang menjadi 14,7%. Pendidikan Kesehatan dengan metode team building games bisa meningkatkan intensi seluruh siswa dalam menghadapi gempa bumi, dan menurunkan jumlah siswa yang memiliki sikap negative. Team building games dapat digunakan sebagai metode untuk meningkatkan intensi dan sikap dalam menghadapi gempa bumi bagi siswa SMP.
Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Dengan Metode Ceramah dan Simulasi Bantuan Hidup Dasar Pada Siswa SMA Rondhianto; Setioputro, Baskoro; Yunanto, Rismawan Adi
DEDIKASI SAINTEK Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 3 (2023): Desember 2023
Publisher : Al-Hijrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58545/djpm.v2i3.114

Abstract

Bantuan Hidup Dasar (BHD) merupakan suatu bentuk keterampilan yang mempertahankan jalan napas dan sirkulasi tanpa adanya alat dan dilakukan kapan pun. Keterampilan ini dapat dilakukan oleh siapapun, termasuk siswa SMA. Secara umum, banyak orang awam yang belum mengetahui keterampilan ini. Oleh karena itu, tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatan pengetahuan dan keterampilan siswa tentang BHD sehingga mereka dapat berperan dalam menghadapi keadaan darurat serta membantu menyelamatkan nyawa. Metode yang digunakan yaitu ceramah dan simulasi.  Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner. Responden diminta untuk mengisi kuesioner sebelum dilakukan intervensi (Pre-test) dan setelah intervensi (Post-test). Kemudian, data dianalisa menggunakan uji Wilcoxon (p˂α = 0,05). Sebelum dilakukan pendidikan kesehatan sebagian besar responden mempunyai pengetahuan dalam kategori sedang dengan presentase 75%, sedangkan pada keterampilan siswa dalam kategori terampil memiliki presentase 5%. Namun, setelah diberikan pendidikan kesehatan pengetahuan siswa meningkat dengan presentase 90%, sedangkan pada keterampilan siswa juga terjadi peningkatan dengan presentase 62,5%. Hasil analisa uji statistik menunjukan terdapat perbedaan yang signifikan (0,000<0,05) sebelum dan setelah dilakukannya pendidikan kesehatan. Metode ceramah dan simulasi dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa SMAN 4 Jember dalam melakukan Bantuan Hidup Dasar (BHD). Upaya pendidikan kesehatan ini dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menyelamatkan nyawa dalam kegawatdaruratan.
The Self-Efficacy and Disaster Preparedness of Coastal Nurse in Jember: Self-Efficacy and Disaster Preparedness of Coastal Nurse in Jember Adi Yunanto, Rismawan; Rondhianto; Setioputro, Baskoro; Haristiani, Ruris
Jurnal Kesehatan dr. Soebandi Vol 11 No 2 (2023): Jurnal Kesehatan dr. Soebandi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas dr. Soebandi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36858/jkds.v11i2.442

Abstract

Coastal areas in Jember Regency have a high risk of getting a big impact if an earthquake and tsunami. These potential disasters force all elements to be prepared to face disasters that can arise anytime, including nurses in the Coastal Public Health Center of Jember. Self-efficacy is thought to have a relationship in improving nurse preparedness in dealing with disaster situations. The aim of this research is to analyze and describe the relationship between the self-efficacy of coastal nurses and the level of preparedness of nurses in dealing with earthquakes and tsunamis in Jember. This study was a correlational research study with a cross-sectional approach. The population of this study was 161 nurses. The sampling method used was convenience sampling, with the total number of nurses participating in this study was 144. We used two main questionnaires to collect the data: the General Self-Efficacy (GSE) and the Disaster Preparedness Evaluation Tool (DPET). We analyzed the data using Pearson Product moment with a significant level (α) =0.05. We found a significant correlation between the disaster preparedness and self-efficacy of the coastal nurse in Jember with a p-value of 0,008 (< 0.05). The degree of relationship was 0.619, which is considered significant and positive. There is a relationship between self-efficacy and nurse preparedness in dealing with disasters. The association is in a positive direction, meaning that the higher the level of self-efficacy, the higher the nurse's disaster preparedness. Keyword: Disaster Preparedness, Self-efficacy, Coastal nurse, Coastal Areas of Jember
How spirituality strengthens community resilience to flood disasters Setioputro, Baskoro; Haristiani, Ruris; Iksafani, Moh Afif Jakaria; Yunanto, Rismawan Adi
Jurnal Penelitian Vol. 21 No. 1 (2024): June 2024
Publisher : University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/jp.v21i1.13281

Abstract

Flood is one of the natural disasters that often occurs in Indonesia. Floods that threaten and disrupt people's lives cause casualties, environmental damage, loss of property, and psychological impacts. The community's ability to deal with disasters well through the process of adaptation and maintaining self-functions so that they return to their original state before the disaster occurs. Spirituality has an important role in forming a resilient individual. Individuals with good spirituality have a strong relationship with their God, fellow human beings, and even with themselves. The purpose of this study was to determine the relationship between spirituality and community resilience to floods in Wonoasri Village, Tempurejo District, Jember. The independent variable of this research is spirituality and the dependent variable is disaster resilience. This research is a correlational study with a cross-sectional approach. Sampling using the g-power application with the results of 193 respondents. Data collection using the DSES questionnaire and resilience questionnaire. Data analysis used Kendall's Tau C test with a p-value <0.05. The results of this study indicate a positive relationship between the two variables. There is a relationship between spirituality and resilience to floods in Wonoasri Village, Tempurejo Jember district (α = 0.000 or α < 0.05. Correlation coefficient 0.279). This research shows that the higher the level of spirituality, the higher the level of resilience possessed.
Optimizing the level of disaster preparedness for coastal children in creating a disaster resilient generation Rismawan Adi Yunanto; Ruris Haristiani; Baskoro Setioputro; Dewi Rokhmah
Abdimas: Jurnal Pengabdian Masyarakat Universitas Merdeka Malang Vol. 9 No. 2 (2024): May 2024
Publisher : University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/abdimas.v9i2.12746

Abstract

Indonesia is home to various natural disasters, including earthquakes and tsunamis, due to its location in the Ring of Fire. Jember Regency in East Java is one of the areas with a high risk of these disasters. Sabrang Village, bordering the South Coast of Jember, has the potential to become a disaster-resilient village. This program aims to increase disaster preparedness for children on the south coast, optimize partner empowerment in increasing child preparedness, and establish a Disaster Empowerment Center (DEC) in Sabrang Village. The DEC program was implemented over three months, involving coastal children. Methods included education, training, and empowerment through Communication, Information, and Education (IEC) and disaster simulation training. Program evaluation used a preparedness questionnaire covering participants' knowledge, attitudes, and skills. The DEC program succeeded in increasing disaster preparedness for children in Sabrang Village. Collaboration with the village government, public health center, and other partners was crucial to the program's success. DEC implementation can serve as a model for community empowerment in dealing with earthquakes and tsunamis.
Optimalisasi level kesiapsiagaan bencana gempa bumi dan tsunami kelompok rentan melalui disaster empowerment center Setioputro, Baskoro; Yunanto, Rismawan Adi; Haristiani, Ruris; Rokhmah, Dewi
Jurnal Inovasi Hasil Pengabdian Masyarakat (JIPEMAS) Vol 8 No 1 (2025)
Publisher : University of Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jipemas.v8i1.22676

Abstract

Latar Belakang: Indonesia yang terletak di Cincin Api Bumi memiliki risiko tinggi terhadap gempa bumi dan tsunami, khususnya di wilayah pesisir selatan seperti Kabupaten Jember. Desa Sabrang di Jember merupakan wilayah dengan kesiapsiagaan bencana yang belum optimal, terutama di kalangan kelompok rentan seperti lansia, difabel, ibu hamil, dan ibu dengan balita. Tujuan: untuk meningkatkan kesiapsiagaan bencana pada kelompok rentan melalui program DEC. Metode: Program DEC ini menggunakan pendekatan pemberdayaan bagi kelompok rentan di Desa Sabrang melalui serangkaian edukasi dan pelatihan intensif pada Juni hingga Oktober 2024. Tahapan meliputi identifikasi kebutuhan, perancangan, pelaksanaan, serta diseminasi dengan monitoring dan evaluasi. Hasil: Hasil program DEC menunjukkan peningkatan kesiapsiagaan kelompok rentan di Desa Sabrang dalam menghadapi bencana, terutama dalam aspek peningkatan pengetahuan tentang bencana (dari 56,17 menjadi 66,71), perencanaan kegiatan bencana (dari 5,38 menjadi 6,30), pemahaman peringatan bencana (dari 2,07 menjadi 3,33), serta mobilisasi sumber daya (dari 1,63 menjadi 3,42). Peningkatan ini mencerminkan kemampuan kelompok rentan dalam memahami risiko bencana, menyusun rencana kesiapsiagaan, merespons peringatan dini, serta mengoptimalkan sumber daya yang tersedia. Kesimpulan: Program Disaster Empowerment Center di Desa Sabrang berhasil meningkatkan kesiapsiagaan kelompok rentan, khususnya dalam pengetahuan bencana, perencanaan, peringatan dini, dan mobilisasi sumber daya. Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan pemberdayaan komunitas efektif dalam membangun ketangguhan bencana dan dapat direplikasi di wilayah berisiko tinggi lainnya.
Peningkatan Pengetahuan Kesiapsiagaan Bencana Banjir Melalui Edukasi Video Animasi dan Simulasi di SMPN 3 Ambulu Jember Haristiani, Ruris; Setioputro, Baskoro; Yunanto, Rismawan Adi; Al Alawi, Rafi Izuddin; Zahra, Annisa
DEDIKASI SAINTEK Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2023): April 2023
Publisher : Al-Hijrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58545/djpm.v2i1.42

Abstract

Bencana banjir termasuk kedalam permasalahan glodal yang dihadapi hampir seluruh Negara di dunia. Insiden dan korban terkait bencana banjir adalah yang tertinggi dalam skala global yaitu 55%. Pengetahuan merupakan faktor kunci dalam kesiapsiagaan yang mempengaruhi sikap untuk siap dan siaga menghadapi bencana. Sikap kesiapsiagaan terhadap bencana memerlukan adanya edukasi tentang kebencanaan. Pengabdian masyarakat bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kesiapsiagaan bencana banjir siswa SMPN 3 Ambulu. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat mengenai Kesiapsiagaan Bencana Banjir yaitu edukasi video animasi dan simulasi evakuasi terkait bencana banjir. Hasil uji Wilcoxon nilai Sig < 0,05 menunjukkan adanya perbedaan pengetahuan siswa sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang kesiapsiagaan bencana banjir melalui media berupa video edukasi. Kesimpulannya terdapat pengaruh penggunaan video edukasi terhadap pengetahuan siswa tentang kesiapsiagaan bencana banjir.