Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

DINAMIKA AGRIBISNIS TEMBAKAU DALAM PEREKONOMIAN PROVINSI JAWA TIMUR Rani Khairiyah; Rudi Wibowo; Jani Januar
UNEJ e-Proceeding 2018: Pembangunan Pertanian dan Peran Pendidikan Tinggi Agribisnis: Peluang & Tantangan di Era Indus
Publisher : UPT Penerbitan Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aimed to know: 1) the role of tobacco agribusiness in terms of its relation with other economic sectors in economy of East Java, 2) the role of tobacco agribusiness seen from the economic impact it generates, based on multiplier effect on output, income, and employment in East Java. The research method used is descriptive and analytic method. Methods of data collection used documentation. Data analysis tools used are backward and forward linkage analysis and multiplier effect analysis. This research used Input-Output Table of East Java on 2010 and 2015 with classification of each 110 sectors aggregated into 20 sectors. The results of this research showed that: 1) during the period 2010-2015, the direct backward and forward linkage of tobacco agribusiness is low. Nevertheless, the value of cigarette industry and tobacco sectors in the future has increased, while the tobacco sector declines. While in the value of backward linkages, the tobacco industry and tobacco sector tends to increase, while the processed tobacco sector declines, 2) The role of tobacco agribusiness in creating output, income, and employment is high. However, on output and income multiplier, the processed tobacco sector shows declining value, while the tobacco and cigarette industry shows an increasing value, due to increased cigarette consumption in East Java. In labor multipliers, the tobacco sector has decreased, while the tobacco processing industry has increased.
Supply and Demand Study of Employment in Indonesia the Case of Graduates from Vocation And Agriculture High-School Rudi Wibowo
Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 1 (1992): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.855 KB) | DOI: 10.21082/jae.v11n1.1992.51-62

Abstract

IndonesianPermasalahan penting dan mendasar di Indonesia yang harus dipecahkan dalam tahun-tahun mendatang adalah masalah lapangan kerja dan penyerapannya. Keadaan pasar tenaga kerja di Indonesia dewasa ini menunjukkan bahwa: (a) terdapat sejumlah besar angkatan kerja dengan tingkat pendidikan yang relatif rendah, (b) setiap tahun sekitar 1,5-2 juta angkatan kerja baru memasuki pasar kerja, sebagian besar diantaranya adalah golongan usia muda dan putus sekolah, dan (c) keterbatasan kesempatan kerja disektor formal. Oleh karenanya, dalam jangka panjang sangat diperlukan perencanaan pendidikan yang berorientasi kepada pasar kerja. Salah satu aspek yang sangat berkaitan dengan hal tersebut adalah pendidikan yang bersifat kejuruan yang dirancang sesuai dengan perkembangan teknologi. Studi ini berusaha untuk memberikan gambaran proyeksi tentang isi permintaan dan penawaran tenaga kerja lulusan Sekolah Kejuruan Pertanian Tingkat Menengah Atas. Model pendekatan bersifat makro berlandaskan Tabel Input-Output yang digabungkan dengan koefisien-koefisien pendidikan dan lapangan kerja yang ada di Balitbang Depdikbud. Analisis dan pembahasan sampai pada kesimpulan bahwa jika asumsi tidak ada segmentasi pada pasar tenaga kerja, pada masa mendatang akan terdapat kelebihan penawaran tenaga kerja lulusan Sekolah Kejuruan Pertanian Menengah Atas. Sebaliknya, jika asumsi segmentasi pasar tenaga kerja dipenuhi secara sempurna, maka justru terdapat kelebihan permintaan tenaga kerja lulusan sekolah kejuruan tersebut. Hasil proyeksi hingga tahun 2000 memberi implikasi bahwa kebijaksanaan investasi di dalam peningkatan keberadaan Sekolah Kejuruan Pertanian Menengah Atas sangat mendukung laju percepatan kebutuhan tenaga kerja yang bersangkutan. Pekerjaan yang sangat penting untuk mendukung implikasi tersebut adalah penjabaran kebutuhan investasi pendidikan tersebut menurut pewilayahan dikaitkan dengan jangkauan permintaan terhadap tenaga kerja lulusan sekolah tersebut.
Skenario Goal Programming dalam Perencanaan Pola Tanam Petani: Kasus Daerah Balung Kabupaten Jember Rudi Wibowo
Jurnal Agro Ekonomi Vol 2, No 1 (1982): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1349.649 KB) | DOI: 10.21082/jae.v2n1.1982.32-55

Abstract

IndonesianOrientasi petani-petani dengan sumberdaya yang sangat terbatas padanya adalah usaha pemenuhan sekumpulan tujuan-tujuan yang diinginkannya. Masing-masing spesifikasi tujuan mempunyai prioritas yang berbeda, tergantung pada perilaku petani sendiri. Dengan demikian, keputusan yang diambilnyapun akan sangat terbatas pula. Dasar pemikiran tersebut memberikan signal bahwa pengambilan keputusan menurut perilaku ekonomi ortodoks tidaklah seirama lagi dengan permasalahannya. Berangkat dari kenyataan tersebut, penelitian ini mencoba melangkah dengan metodologi "Linear Goal Programming" (LGP) untuk menolong problematika yang kompleks di atas dengan karakterisasi tujuan berganda. Optimasi perancangan meliputi beberapa skenario optimal berdasarkan kemungkinan perubahan tingkat harga-harga keluaran. Penelitian dilakukan di daerah WKBPP Balung Kabupaten Jember pada lahan sawah usahatani musim tanam MH 1979 dan MK 1980. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan sumberdaya pertanian di daerah penelitian belum menunjukkan skema yang optimal. Belum diambilnya kesempatan skema pola pertanaman yang optimal tersebut dalam banyak hal disebabkan oleh belum teradopsinya beberapa tehnik produksi usahatani oleh petani-petani. Faktor tenaga kerja keluarga dan modal terlihat merupakan restriksi yang ketat, walaupun terjadi kemungkinan adanya perubahan harga-harga keluaran. Dilain pihak, walaupun penguasaan lahan usahatani sangat terbatas, namun kebutuhan konsumsi pokok keluarga terhadap padi/beras masih dapat dijangkau. Hal yang sangat menarik adalah perilaku petani-petani yang cenderung menjual hasil produksi padinya andaikan harga padi cenderung meningkat. Sampai pada batas-batas tertentu, perubahan harga-harga keluaran dapat memacu perubahan pemilihan skema optimal pola bertanam, dan kemungkinan-kemungkinan tersebut masih memperlihatkan belum dapat dipenuhinya semua tujuan petani.
Indonesia's Bioethanol Industry Diamond Porter Model Gita K. Indahsari; Arief Daryanto; Endang Gumbira Said; Rudi Wibowo
STI Policy and Management Journal Vol 9, No 1 (2011): Warta KIML (Journal of S&T Policy and R&D Management)
Publisher : Center for Science and Technology Development Studies, Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11785.319 KB) | DOI: 10.14203/STIPM.2011.84

Abstract

-
PREFERENSI PETANI TERHADAP VARIETAS TEBU (Studi Kasus di PT. Perkebunan Nusantara X) Ahmad Zainuddin; Rudi Wibowo
JURNAL PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v28i1.409

Abstract

Permasalahan dari segi perbibitan yang menyebabkan rendahnya efisiensi industri gula nasional adalah tidak seimbangnya komposisi varietas-varietas tebu yang ditanam yaitu antara varietas masak awal, masak tengah dan masak akhir sehingga rendemen tidak optimal. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis preferensi petani terhadap atribut bibit/varietas tebu. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja PTPN X. Sampel diambil secara purposive dengan memilih 45 orang responden petani tebu. Preferensi petani dianalisi dengan menggunakan pendekatan multiatribut Fishbein. Hasil Penelitian menunjukkan terdapat 10 atribut yang dianggap paling penting bagi petani dalam menentukan pemilihan varietas bibit tebu. Selain itu, sikap responden petani berbeda-beda terhadap ketiga jenis varietas tebu. Petani tebu cenderung lebih menyukai varietas masak akhir dibandingkan masak awal dan akhir. Petani juga lebih menyukai tebu varietas masak awal dibandingkan dengan varietas masak akhir. Hal ini dikarenakan varietas masak akhir diyakin oleh petani memiliki potensi produktivitas dan rendemen yang lebih tinggi dibandingkan dengan varietas masak awal atau tengah.
Dampak Kebijakan Kartu Tani terhadap Produksi dan Efisiensi Usahatani Padi di Kabupaten Jember Zainuddin Ahmad; Rudi Wibowo
JURNAL PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v30i2.540

Abstract

Kebijakan Kartu Tani ditujukan guna mendukung pembangunan pertanian, khususnya peningkatanproduktivitas tanaman padi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak kartu tani terhadap produksidan efisiensi usahatani padi di Kabupaten Jember. Sampel yang digunakan adalah 60 petani yang terdiriatas 48 petani penerima kartu tani dan 12 petani non penerima. Analisis data menggunakan analisisfungsi produksi dan efisiensi stochastic frontier, dan analisis perbandingan dengan uji-t. Hasil penelitianmenunjukkan variabel luas lahan, jumlah benih, jumlah pupuk urea, jumlah pupuk ZA, jumlah tenaga kerjaberpengaruh positif terhadap produksi padi. Hasil lainnya menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaanproduktivitas petani penerima dan non penerima kartu tani yaitu 53,80 kuintal/ha dan 53,07 kuintal/ha.Variabel usia, jumlah anggota keluarga, pengalaman usahatani, dan dummy kartu tani berpengaruh nyataterhadap efisiensi teknis usahatani padi. Nilai rata-rata efisiensi teknis usahatani padi penerima kartutani sebesar 0,82 dan petani non penerima sebesar 0,88. Usahatani padi penerima kartu tani dan bukanpenerima kartu tani dapat dikatakan efisien secara teknis karena berada di atas nilai 0,70. Artinya, kartutani belum menunjukkan produktivitas dan efisiensi yang lebih baik dari petani non kartu tani. Oleh karenaitu, perlu adanya sosialisasi penggunaan dan manfaat dari kartu tani kepada petani di Kabupaten Jember.
Analisis Risiko Produksi Usahatani Bawang Merah di Desa Petak Kecamatan Bagor Kabupaten Nganjuk Muhammad Rizal Ghozali; Rudi Wibowo
Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Department of Agricultural Social Economics, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.909 KB) | DOI: 10.21776/ub.jepa.2019.003.02.7

Abstract

Petani bawang merah di Desa Petak sebagian besar melakukan usahatani bawang merah diluar musimnya atau off-season. Usahatani bawang merah yang dilakukan saat diluar musimnya atau off-season tidak akan memperoleh hasil maksimal karena kondisi cuaca dan iklim tidak mendukung pertumbuhan, sehingga memungkinkan hasil produksi bawang merah yang dihasilkan rendah. Rendahnya produksi tersebut disebabkan karena adanya risiko yang dihadapi petani bawang merah di Desa Petak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sumber risiko produksi di Desa Petak, tingkat risiko produksi, dan faktor-faktor yang mempengaruhi risiko produksi usahatani bawang merah diluar musim atau off-season  di Desa Petak. Metode penentuan daerah penelitian dilakukan secara sengaja (purposive methods). Metode penelitian ini adalah metode deskriptif dan analitik. Populasi petani bawang merah saat off-season adalah sebesar 52 dengan sampel 46. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Analisis yang digunakan yaitu analisis risiko secara deskriptif, analisis variance, coefficient variation, standard deviation, peta risiko, dan Analisis model Just and Pope  serta analisis regresi model Cobb-Douglas. Sumber risiko produksi usahatani bawang merah di Desa Petak Kecamatan Bagor Kabupaten Nganjuk adalah cuaca dan iklim, hama dan penyakit, kualitas benih bawang merah, kesuburan lahan usahatani, dan sumber daya manusia atau petani yang melakukan proses budidaya bawang merah. Tingkat risiko produksi usahatani bawang merah saat off-season di Desa Petak berdasarkan nilai variance sebesar 2,10, standard deviation 1,45, dan coefficient variation 1,01 maka risiko produksi usahatani bawang merah dihadapi petani adalah tinggi, sedangkan berdasarkan peta risiko produksi menunjukkan risiko produksi bawang merah yang dihadapi petani berada pada orange area sehingga termasuk dalam kategori risiko tinggi. Faktor-faktor yang mempengaruhi risiko produksi usahatani bawang merah diluar musim atau off-season di Desa Petak adalah faktor pestisida cair, sedangkan faktor benih, pupuk, pestisida padat dan tenaga kerja tidak berpengaruh nyata terhadap risiko produksi bawang merah.
Analisis Pemasaran Beras Organik di Kabupaten Bondowoso Reinita Dwi Putri Anggraini; Rudi Wibowo; M. Rondhi
Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Vol 2, No 5 (2018)
Publisher : Department of Agricultural Social Economics, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.396 KB)

Abstract

Beras organik di Kabupaten Bondowoso diproduksi oleh petani beras organik di Desa Lombok Kulon Kecamatan Wonosari Kabupaten Bondowoso dan merupakan satu-satunya kawasan percontohan usahatani beras organik di Kabupaten Bondowoso yang sudah memiliki sertifikasi dari Lembaga Sertifikasi Pertanian Organik Seloliman (LeSOS). Beras organik dipasarkan di daerah Kabupaten Bondowoso dan luar Kabupaten Bondowoso. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) struktur pasar beras organik di Kabupaten Bondowoso; (2) perilaku pasar beras organik di Kabupaten Bondowoso. Lokasi penelitian ditentukan secara sengaja (Purposive Method) di Desa Lombok Kulon Kecamatan Wonosari Kabupaten Bondowoso.Pengambilan contoh menggunakan teknik snowball sampling. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder yang dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif dan kuantitatif yaitu (1) analisis market share, perhitungan CR4 (Concentration Ratio for The Biggest Four), analisis HHI, Minimum Efficient Scale (MES) untuk mengetahui struktur pasar beras organik; (2) analisis deskriptif sistem penentuan harga, kerjasama dan analisis integrasi vertikal menggunakan Model Ravallion untuk mengetahui perilaku pasar beras organik.
Manajemen Usahatani dan Faktor-Faktor Pengambilan Keputusan Petani Padi Organik di Desa Rowosari Kecamatan Sumberjambe Kabupaten Jember Dian Puspa; Rudi Wibowo; Julian Adam Ridjal
Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Vol 2, No 4 (2018)
Publisher : Department of Agricultural Social Economics, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.439 KB) | DOI: 10.21776/ub.jepa.2018.002.04.3

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Manajemen usahatani padi organik kelompok tani “Tani Jayaa II” (2) Proses sertifikasi organik kelompok tani “Tani Jaya II”, dan (3) Faktor-faktor pengambilan keputusan petani dalam menerapkan usahatani padi organik di kelompok tani “Tani Jaya II”. Metode penelitian yang digunakan metode deskriptif analitik. Metode pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan disproportionate random sampling. Metode analisis data menggunakan analisis deskriptif dan analisis regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Manajemen usahatani yang dilakukan kelompok tani “Tani Jaya II” sudah menerapkan 5 fungsi manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, dan pengawasan, namun, masih terdapat beberapa hal yang tidak sesuai dengan perencanaan kelompok tani; (2) Proses sertifikasi organik kelompok tani “Tani Jaya II” dilakukan pada tahun 2012 di LeSOS yang kemudian melakukan perpanjangan sertifikasi (re-sertifikasi) organik pada tahun 2015 yang berlaku 3 tahun dan proses sertifikasi terdiri dari permohonan awal sertifikasi, pra inspeksi, tinjauan dokumen, pelaksanaan inspeksi, sidang komisi sertifikasi, dan pemberian sertifikasi organik; (3) Faktor-faktor yang berpengaruh signifikan terhadap pengambilan keputusan petani padi organik adalah umur, pendapatan, pendidikan, pengalaman usahatani, luas lahan dan pelatihan metode organik, sedangkan faktor lain seperti jumlah anggota berpengaruh tidak signifikan terhadap pengambilan keputusan petani padi organik dengan taraf kepercayaan 90%.