Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : BERKALA SAINSTEK

The Diversity of Amphibian (Order Anura) in Bandealit Resort, Meru Betiri National Park Siddiq, Arif Mohammad; Pradana, Yuan Zulia; Setiawan, Rendy; Sulistiyowati, Hari
BERKALA SAINSTEK Vol 12 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/bst.v12i1.42624

Abstract

Meru Betiri National Park (MBNP) is a conservation area located in East Java that has a diversity of flora and fauna. However, the information about entirety diversity in this area is still uncleared, due to limited scientific research, one of which is amphibians. So, the aim of this study is to explore the diversity of amphibian species (order Anura) in Bandealit Resort, MBNP. Data collection was carried out on January 6-8, 2023 in four representative habitat types i.e., terrestrial, arboreal, semi-aquatic, and aquatic. The data collection method was using Visual Encounter Surveys (VES) on each observation line with a length of 300m. The ecological data collected included the species names of amphibians (Anura) and the number of individuals of each species. Furthermore, data analysis was using species composition and species diversity using the Shannon-Wiener index (H'). Based on the results, six species of Anura were found (Fejervarya cancrivora, F. limnocharis, Leptobrachium hasseltii, Kaloula baleata, Hylarana chalconota, and Polypedates leucomystax) belonging to five families (Dicroglossidae, Megophryidae, Microhylidae, Ranidae and Rhacophoridae). Species P. leucomystax was found with the highest number of individuals (eight individuals) and occupied arboreal, terrestrial, and semi-aquatic habitat types. Based on the Shannon-Wiener index, the species diversity value of the order Anura amphibians was obtained in the moderate category (H'=1.47). This shows that the Bandealit Resort in MBNP provides an important habitat for several species of the order Anura amphibians. Furthermore, the results of this study also provide updated data regarding the existence of amphibian species of the order Anura in MBNP, especially Bandealit Resort.
Distribusi Lamun di Zona Intertidal Tanjung Bilik Taman Nasional Baluran Menggunakan Metode GIS (Geographic Information System) Hidayatullah, Alhabsy; Sudarmadji, S.; Ulum, Fuad Bahrul; Sulistiyowati, Hari; Setiawan, Rendy
BERKALA SAINSTEK Vol 6 No 1 (2018)
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/bst.v6i1.7557

Abstract

Zona intertidal merupakan wilayah perairan laut yang masih dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Salah satu keanekaragaman hayati yang terdapat di zona intertidal adalah lamun. Salah satu tanjung yang memiliki padang lamun adalah Tanjung Bilik Taman Nasional Baluran. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui distribusi lamun di Zona Intertidal Tanjung Bilik Taman Nasional Baluran dengan menggunakan metode GIS (Geographic Information System). Metode pengambilan data yang digunakan yaitu metode jelajah. Data koordinat habitat lamun dipetakan menggunakan program arcGIS 10. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan ditemukan empat jenis lamun dengan urutan dari distribusi terluas, yaitu Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Halophila minor, dan Halodule pinifolia. Thalassia hemprichii dan Enhalus acoroides memiliki pola distribusi acak. Halophila minor dan Halodule pinifolia memiliki pola distribusi mengelompok. Kata Kunci: Distribusi, Lamun, Zona Intertidal, Tanjung Bilik
Habitat Characteristics of Long-Tailed Macaque (Macaca fascicularis Raffles, 1821) in Kucur Resort at Alas Purwo National Park Siddiq, Arif Mohammad; Wati, Dewi Erna; Sulistiyowati, Hari; Wimbaningrum, Retno; Setiawan, Rendy; Supriadi, Dudun
BERKALA SAINSTEK Vol 10 No 2 (2022)
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/bst.v10i2.31613

Abstract

The Long-Tailed Macaque (LTM) (Macaca fascicularis Raffles, 1821) is a member of the Cercopithecidae which is included in the Vulnerable status. Information on the habitat characteristics of these species is needed to support in-situ conservation efforts. This study aims to determine the habitat characteristics of LTM in Kucur Resort at Alas Purwo National Park (APNP) based on the forest strata occupied by the LTM, Normalizes Difference Vegetation Index (NDVI), and river distance. The research procedure begins with a preliminary survey to determine the six lines of observation. The data used are primary data (LTM encounter points, forest strata they occupy, and data on tree species where they meet) and secondary data (NDVI variables and river distance). Both data were analyzed using a Geographic Information System (GIS) approach. The results showed that the LTM at Resort Kucur TNAP was found in four different groups. The results of data analysis show that the habitat characteristics of the LTM in Kucur Resort based on the forest strata it occupies are at a tree height level of 0-30 meters (strata E-B) which has branches, canopies, and produces young leaves and fruits. Furthermore, the LTM habitat has vegetation characteristics with medium density and cover which has an NDVI value of 0.3-0.5. This indicates the character of this habitat is used as a place to rest, socialize, and avoid from predators. Based on the distance of the river, the habitat characteristics are the location which is quite far from the river, which is > 300 meters. Based on the data on the habitat characteristics of LTM, it shows that Kucur Resort provides a fairly good habitat for the LTM.
Komposisi Jenis Alga Makrobentik Divisi Phaeophyta di Zona Intertidal Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo Kumalasari, Deris Erlita; Sulistiyowati, Hari; Setyati, Dwi
BERKALA SAINSTEK Vol 6 No 1 (2018)
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/bst.v6i1.7558

Abstract

Phaeophyta merupakan salah satu kelompok makroalga yang tersebar melimpah di zona intertidal. Alga makrobentik ini memiliki struktur talus yang terdiri atas bagian holdfast, stipe, dan blade. Kelompok tersebut memiliki kandungan warna yang disebut pigmen fukosantin. Metode yang digunakan adalah road sampling dengan melakukan penyusuran seluruh area sampling menggunakan GPS (Global Positioning System). Jenis-jenis alga yang ditemukan diidentifikasi dan dideskripsikan secara morfologi. Analisis komposisi jenis dilakukan secara deskripsi kualitatif . Hasil yang diperoleh yaitu terdapat empat jenis Phaeophyta yang terdiri atas Sargassum sp., Padina australis, Spatoglossum sp., dan Turbinaria ornata. Jenis-jenis yang ditemukan umumnya memiliki karakteristik morfologi holdfastnya bentuk cakram dan lempeng, stipe pendek, serta blade berupa lembaran dan silindris.Kata Kunci: Pantai Pancur, Phaeophyta, Struktur Morfologi, Zona intertidal
Efektivitas Tanaman Lembang (Typha angustifolia L.) di Lahan Basah Buatan dalam Penurunan Kadar TSS, BOD dan Fosfat pada Air Limbah Industri Laundry Wimbaningrum, Retno; Arianti, Indriana; Sulistiyowati, Hari
BERKALA SAINSTEK Vol 8 No 1 (2020)
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/bst.v8i1.16499

Abstract

Industri laundry merupakan industri rumah tangga yang menggunakan air dan deterjen dalam melaksanakan aktivitasnya. Deterjen mengandung surfaktan, builder, filler dan zat aditif yang menyebabkan kadar materi padat tersuspensi total (total suspended solid, TSS), kebutuhan oksigen biologi (biological oxygen demand, BOD) dan fosfat dalam air limbah laundry tinggi sehingga ketika dibuang langsung ke lingkungan dapat menimbulkan pencemaran ekosistem perairan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan efektivitas tanaman lembang (Typha angustifolia L.) di lahan basah buatan dalam penurunan kadar TSS, BOD dan fosfat air limbah industri laundry. Tanaman T. angustifolia ditanam di dalam bak reaktor bervolume 44,73 L yang dasarnya diisi pasir, kerikil dan lempung sebagai media tanam. Air limbah industri laundry dialirkan ke dalam bak reaktor melalui inlet. Proses fitoremediasi berlangsung enam hari. TSS, BOD, dan fosfat air limbah laundry sebelum dan sesudah perlakuan ditentukan kadar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan air limbah laundry dengan tanaman T. angustifolia dalam lahan basah buatan mampu menurunkan kadar TSS, BOD dan fosfat secara berturut-turut sebesar 50 mg/L, 485,5 mg/L dan 29,1 mg/L. Efektivitas tanaman T. angustifolia dalam lahan basah buatan dalam penurunan kadar TSS, BOD dan fosfat secara berturut-turut sebesar 54 %, 22 % dan 39 %.
Tingkat Pencemaran Udara di Desa Silo dan Pace, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember dengan Menggunakan Lichen Sebagai Bioindikator Fandani, Septian Theo; Sulistiyowati, Hari; Setiawan, Rendy
BERKALA SAINSTEK Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/bst.v7i2.6861

Abstract

Polusi udara dapat menurunkan kualitas lingkungan yang berdampak pada masalah kesehatan. Sumber utama yang menyebabkan masalah tersebut adalah terganggunya gas atmosfer yang berasal dari kendaraan roda empat, kendaraan roda dua, dan gas buang industri. Salah satu upaya monitoring kualitas udara adalah dengan menggunakan lichen. Lichen seringkali dijadikan indikator kualitas udara, karena organisme ini mempunyai sifat akumulator dan sangat adaptif terhadap perubahan lingkungan. Penelitian ini dilaksanakan untuk menentukan tingkat pencemaran udara di Desa Silo dan Pace. Kecamatan Silo. Metode sampling yang digunakan adalah dengan mengambil sampel lichen menggunakan plot-plot yang diletakkan secara vertikal pada pohon di tiga stasiun berbeda pada waktu yang hampir bersamaan. Tiga stasiun tersebut berada di Desa Silo, Pace, dan perkebunan Pace. Data yang didapat berupa nama jenis, jumlah koloni dan luas penutupan lichen untuk menentukan nilai IAP (Index of Atmospheric Purify). Hasil dari perhitungan IAP menunjukkan bahwa tingkat pencemaran udara di Desa Silo lebih tinggi daripada di Desa Pace dan perkebunan Pace. Hal ini dikarenakan Desa Silo memiliki nilai IAP yang lebih rendah (10,58) dibandingkan dengan di dua stasiun lainnya (nilai IAP 30,84 dan 81,28). Tingginya pencemaran udara tersebut disebabkan oleh tingginya volume kendaraan bermotor yang melewati jalan di Desa Silo (2.530 smp/jam/lajur).