Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

MEMBERDAYAKAN KETERLIBATAN ORANG TUA DALAM PEMBELAJARAN LITERASI DI SEKOLAH DASAR Padmadewi, Ni Nyoman; Artini, Luh Putu; Nitiasih, Putu Kerti; Swandana, I Wayan
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish-undiksha.v7i1.13049

Abstract

Literasi memegang peranan sangat penting bagi setiap orang. Keberhasilan dalam literasi siswa terutama anak-anak memerlukan peran orang tua. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis peran orang tua dalam mendukung program sekolah terutama dalam meningkatkan literasi siswa. Penelitian dilakukan di sekolah bilingual Bali Utara yang berbasis literasi dan memiliki program melibatkan orang tua. Penelitian ini dilaksanakan dalam bentuk penelitian deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara, dan data dianalisis secara kualitatif. Hasil analisis data menunjukkan bahwa ada 6 jenis keterlibatan orang tua yang mencakup keterlibatan dalam bentuk  parenting,  komunikasi, sukarelawan, pemberdayaan belajar di rumah, kolaborasi dengan masyarakat dan pengambilan keputusan.  Meskipun keterlibatan orang tua memiliki tantangan tersendiri tetapi telah terbukti membantu peningkatan tidak hanya literasi siswa, dalam membaca dan menulis tetapi juga literasi dalam bidang lain yang mencerminkan literasi dunia nyata. Diharapkan hasil penelitian ini bisa menginspirasi pihak terkait tentang bagaimana memberdayakan peran orang tua untuk meningkatkan literasi siswa.Kata kunci: Keterlibatan Orang Tua, Literasi
MEMBERDAYAKAN KETERLIBATAN ORANG TUA DALAM PEMBELAJARAN LITERASI DI SEKOLAH DASAR Ni Nyoman Padmadewi; Luh Putu Artini; Putu Kerti Nitiasih; I Wayan Swandana
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 7 No. 1 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish-undiksha.v7i1.13049

Abstract

Literasi memegang peranan sangat penting bagi setiap orang. Keberhasilan dalam literasi siswa terutama anak-anak memerlukan peran orang tua. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis peran orang tua dalam mendukung program sekolah terutama dalam meningkatkan literasi siswa. Penelitian dilakukan di sekolah bilingual Bali Utara yang berbasis literasi dan memiliki program melibatkan orang tua. Penelitian ini dilaksanakan dalam bentuk penelitian deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara, dan data dianalisis secara kualitatif. Hasil analisis data menunjukkan bahwa ada 6 jenis keterlibatan orang tua yang mencakup keterlibatan dalam bentuk  parenting,  komunikasi, sukarelawan, pemberdayaan belajar di rumah, kolaborasi dengan masyarakat dan pengambilan keputusan.  Meskipun keterlibatan orang tua memiliki tantangan tersendiri tetapi telah terbukti membantu peningkatan tidak hanya literasi siswa, dalam membaca dan menulis tetapi juga literasi dalam bidang lain yang mencerminkan literasi dunia nyata. Diharapkan hasil penelitian ini bisa menginspirasi pihak terkait tentang bagaimana memberdayakan peran orang tua untuk meningkatkan literasi siswa.Kata kunci: Keterlibatan Orang Tua, Literasi
SISTEM PERKAWINAN POLIGAMI DI DESA ADAT SIAKIN KECAMATAN KINTAMANI KABUPATEN BANGLI I Wayan Swandana; Ni Nyoman Mariadi
Kertha Widya Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.021 KB) | DOI: 10.37637/kw.v8i1.640

Abstract

Penelitian ini berjudul Sistem Perkawinan Poligami di Desa Adat Siakin, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 3 ayat (1) bahwa sistem perkawinan Indonesia menganut asas monogami. Namun, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974  dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan sehingga dua permasalahan dalam tulisan ini yakni: 1) Bagaimana keabsahan perkawinan pada sistem perkawinan poligami di Desa Adat Siakin?, dan 2) Bagaimana penguasaan harta bersama pada sistem perkawinan poligami di Desa Adat Siakin? Jenis penelitian ini adalah penelitian hukum empiris dan bersifat deksriptif. Penelitian ini dilakukan di Desa Adat Siakin Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Adapun sumber data primer dari penelitian ini adalah pasangan suami istri yang berpoligami dan prajuru adat Di Desa Siakin Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli. Sumber data Sekunder dalam penelitian ini adalah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Hasil pembahasanya menunjukkan bahwa 1) keabsahan perkawinan poligami di Desa Adat Siakin ketika pasangan suami istri telah melakukan upacara beakaonan, dan 2) harta bersama pasangan suami istri yang berpoligami menjadi hak dan kewajiban masing-masing pihak dalam perkawinan poligami.
Lexical development in an Indonesian-Balinese bilingual child Ni Luh Putu Sri Adnyani; Ni Made Rai Wisudariani; I Wayan Swandana
Indonesian Journal of Applied Linguistics Vol 12, No 2 (2022): Vol. 12, No. 2, September 2022
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/ijal.v12i2.51089

Abstract

It is debatable whether bilingual children can distinguish between their two languages from an early age. This study aims to describe how a bilingual infant differentiates between her two languages, focusing on the acquisition of a dual vocabulary. This topic is addressed in a bilingual case study of an infant who acquired a national language (Indonesian) and an indigenous language (Balinese) simultaneously from birth until the age of one year and eleven months. Within the family, the two languages are used interchangeably. The parents' native language is Balinese, and Indonesian is the neighbourhood’s lingua franca. However, within the peer group, Indonesian is the dominant language. Daily diaries are used to record the child's vocabulary development in combination with weekly video recordings in the two language settings. The study shows that the child develops vocabulary in both Indonesian and Balinese. Since Indonesian and Balinese are closely related, the child also develops words that are shared by the two languages. During the development of the child’s vocabulary, Indonesian words outnumbered Balinese words due to the dominant use of Indonesian in the environment. The research demonstrates that translation equivalents (TEs) mean those language choices are available from the early stages of language development. The study shows that translation equivalents (TEs) demonstrate those language choices are available from the initial stages of language development. The findings highlight that a child who is exposed to two closely related languages can differentiate different language systems from an early age. Despite the child's ability to differentiate between the two languages, the national language develops at a far quicker rate than the indigenous language.
ENGLISH ADVERBIAL STRUCTURE I Wayan Swandana
LITERA : Jurnal Bahasa Dan Sastra Vol. 1 No. 1 (2015): LITERA JURNAL BAHASA DAN SASTRA
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/litera.v1i1.29

Abstract

Tulisan ini membahas tentang adverbial bahasa Inggris. Hal ini dibahas karena ada tumpang tindih antara apa kata keterangan dan apa yang adverbial adalah. Penulis bertujuan untuk menganalisis 1) hubungan antara adverbia dan adverbial, 2) unit untuk menunjukkan fungsi adverbial, 3) struktur sintaksis adverbial dan 4) diagram pohon adverbial. Masalah-masalah ini dianalisis dengan menggunakan metode kualitatif. Masalah dijawab oleh teori dari Quirk (1985), kecuali masalah terakhir, diagram pohon adverbial, dijawab dengan menggunakan teori Miller (1994). Dari diskusi beberapa temuandapat disimpulkan beberapa hal. Pertama, ditemukan bahwa kata keterangan adalah item satu kata yang memodifikasi kata kerja. Adverbia mungkin adalah kata-kata tunggal (yaitu kata keterangan) atau frase yang memberikan informasi tentang kapan, di mana, bagaimana, atau mengapa sesuatu terjadi. Kedua, unit yang menunjukkan fungsi adverbial adalah: frase adverbia, frasa nominal, frasa preposisional, klausa verba terbatas, klausa verba non-terbatas, dan klausul tak berverba. Ketiga, struktur adverbial dibagi menjadi tiga bagian; adjunct, conjunct, dan disjunct. Keempat, diagram pohon adverbial ditentukan melalui frase adverbial atau kalimat adverbial.Kata kunci: kata keterangan, adverbial, adjunct, conjunct, disjunct
The Animal Signs in Determining Good and Bad Days in the Ala Ayuning Dewasa on Balinese Caka Calendar Swandana, I Wayan; Paramarta, I K.
Indonesian Journal of EFL and Linguistics Indonesian Journal of EFL and Linguistics, 9(1), May 2024
Publisher : Pusat Pelatihan, Riset, dan Pembelajaran Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21462/ijefl.v9i1.724

Abstract

Time determines the good and bad day to start doing something in Balinese society. This study aims to analyze the sign system in the Ala Ayuning Dewasa on the Balinese Caka Calendar. Data is taken from the Balinese Caka Calendar 2023. There are two types of data in this study, namely written and oral data. Written data is in the form of animal name terms and their meanings. Oral data is a description of the relationship between signifiers and signifieds. Written data were collected through observation assisted by note-taking techniques. Researchers observed the sign system in the Ala Ayuning Dewasa on the Balinese Caka Calendar and noted it in the sheets provided. Oral data were obtained from three informants who wrestled with the Ala Ayuning Dewasa on the Balinese Caka Calendar through interviews. The results showed that (1) signifiers were formed from a combination of times called wewaran, wuku, and penanggal/pangelong, (2) there were 20 animal terms consisting of 9 forms of noun phrases, and 11 simple clauses, (3) signifiers and signifieds have a connotation relationship, (4) signifieds are complex which means that one signified can have the meaning of good das, bad day, good and bad days, even one signifier can have up to 5 meanings. This research is a sound guide for Hindus in Bali to discover the meaning of the relationship between animal signifiers and their signifieds in the Ala Ayuning Dewasa on the Balinese Caka Calendar.
A Descriptive Analysis of Slang Words Used in "Step Up: All In" Movie ., Luh Nik Sudiyanti; ., Drs. I Wayan Suarnajaya,MA., Ph.D.; ., I Wayan Swandana, S.S., M.Hum.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.13585

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang berusaha menemukan jenis-jenis slang dan mengamati fungsi-fungsi slang yang digunakan dalam film "Step Up: All In". Teori dari Allan dan Burridge (2006) tentang jeni-jenis slang dan teori dari Hymes tentang etnografi berbicara digunakan sebagai pedoman. Sehubungan dengan tujuan pertama, ada empat jenis-jenis slang yang ditemukan dalam film ini, yaitu fresh and creative, flippant, imitative, dan clipping. Penggunaan imitative mendominasi jenis slang yang digunakan pada film ini, dikarenakan pembicara tidak memerlukan pengetahuan tertentu dan dapat membuat slang jenis ini dengan mudah dengan meniru kata-kata yang sudah ada dan menyederhanakannya. Merujuk pada tujuan kedua, ada enam fungsi-fungsi slang yang ditemukan dalam film ini, yaitu to address, to form intimate atmosphere, to initiate relax conversation, to show impression, to show intimacy, dan to humiliate. Adapun, fungsi yang memiliki frekuensi paling tinggi adalah to address dan to initiate relax conversation. Dalam situasi informal, orang cederung menggunakan kata-kata slang untuk menciptakan suasana yang lebih santai dimana percakapan mereka dapat berjalan dengan lancar. Tujuan dari menggunakan kedua fungsi ini adalah untuk menjaga hubungan dekat mereka. Sebagai hasil, kedua fungsi ini dominan digunakan oleh karakter dalam film ini. Kata Kunci : deskriptif analisis, kata-kata slang, film This research is a descriptive qualitative research which attempts to find out slang types and observe slang functions used in “Step Up: All In” movie. The theory from Allan and Burridge (2006) about slang types and the theory from Hymes (1989) about ethnography of speaking were used as guidelines. Regarding to the first objective, there are four types of slang found in this movie, such as fresh and creative, flippant, imitative, and clipping. The occurrence of imitative dominates the slang type used in this movie, since the speakers do not require certain knowledge and can make this slang type easily by imitating the existing words and simplifying them. Referring to the second objective, there are six functions of slang discovered in this movie, such as to address, to form intimate atmosphere, to initiate relax conversation, to show impression, to show intimacy, and to humiliate. Therefore, the functions which have high frequency are to address and to initiate relax conversation. In informal situation, people tend to use certain kinds of addresses in addressing their close friends and use slang words since they want to create relax condition in which their conversation can run smoothly. The purpose of using these two functions is to maintain their close relationship. As a result these two functions are dominantly used by the characters in this movie.keyword : descriptive analysis, slang words, movie
AN ANALYSIS OF AFFIXATION FOUND IN SASAK LANGUAGE IN MASBAGIK DIALECT ., Putu Dwitya Pranata; ., Drs. I Wayan Suarnajaya,MA., Ph.D.; ., I Wayan Swandana, S.S., M.Hum.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.14932

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki jenis afiks yang terjadi pada Dialek Masbagik. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian ini menggunakan beberapa instrumen, yaitu: peneliti, daftar kata dan panduan wawancara. Informan dipilih berdasarkan kriteria tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 9 macam prefiks yang terjadi dalam dialek Masbagik. Ada 5 kata dengan awalan {be-}, 5 kata dengan awalan {m-}, 5 kata dengan awalan {me-} seperti, 5 kata dengan awalan {ng-}, 5 kata dengan awalan {nge-}, 5 kata dengan awalan {pe-}, 5 kata dengan awalan {seper}, 5 kata dengan awalan {sem-}, 5 kata dengan awalan {sen-}, dan 5 kata dengan awalan {te-}. Selanjutnya, ada 4 jenis sufiks yang terjadi dalam dialek Masbagik. Ada 5 kata dengan akhiran {-ang}, 5 kata dengan akhiran {-in}, 5 kata dengan akhiran {-k}, dan 5 kata dengan sufiks {-ye}. Selain itu, ada 2 macam konfiks yang terjadi dalam dialek Masbagik. Ada 3 kata dengan awalan {ku-} dengan akhiran {-k} dan 3 kata dengan awalan {m-} dengan akhiran {-an}Kata Kunci : Afiksasi, Dialek, Desa Masbagik This study aimed at investigating the kinds of affixes occurring in Masbagik Dialect. This study is a descriptve qualitative study. This study used some instruments, namely: researcher, word list and interview guide. The informants were selected based on certain criteria. The result showed that there were 9 kinds of prefixes which occurred in Masbagik dialect. There were 5 words with prefix {be-}, 5 words with prefix {m-}, 5 words with prefix {me-} such, 5 words with prefix {ng-}, 5 words with prefix {nge-}, 5 words with prefix {pe-}, 5 words with prefix {se-}, 5 words with prefix {sem-}, 5 words with prefix {sen-}, and 5 words with prefix {te-}. Furthermore, there were 4 kinds of suffixes which occurred in Masbagik dialect. There were 5 words with suffix {-ang}, 5 words with suffix {-in}, 5 words with suffix {-k}, and 5 words with suffix {-ye}. , Furthermore, there were 2 kinds of confixes which occurred in Masbagik dialect. There were 3 words with prefix {ku-} with suffix {-k}and 3 words with prefix {m-} with suffix {-an}keyword : Affixation, Dialect, Masbagik Village
The Identification of Character Education Values on the Main Character of Zootopia ., Ni Luh Putu Dwi Payani; ., Dr. Ni Komang Arie Suwastini, S.Pd, M.Hu; ., I Wayan Swandana, S.S., M.Hum.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.14955

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pendidikan karakter pada tokoh utama dalam film Zootopia. Analisis tekstual digunakan untuk menganalisis media sebagai teks untuk memahami dan membuat makna untuk mengetahui bagaimana media tersebut dapat digunakan untuk berkomunikasi dan mendidik di anak-anak dan siswa. Media yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengembangkan pendidikan karakter adalah film berjudul Zootopia. Dari 18 nilai pendidikan karakter yang dinyatakan dalam keputusan dari Menteri Pendidikan Nasional (2010: i-ii), 17 nilai ditemukan pada karakterisasi Judy Hopps sebagai karakter utama film Zootopia, nilai-nilai tersebut dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok. Pertama, nilai-nilai yang sudah dimiliki oleh Judy Hopps dan dia mengembangkannya dengan baik di film seperti kerja keras, disiplin, bertanggung jawab, kreatif, menghargai prestasi, demokratis, patriotik, rasa ingin tahu, jujur, pedulian sosial, gemar membaca dan mudah bergaul. Kedua, nilai-nilai yang sudah dimiliki oleh Judy Hopps tetapi dia tidak mengembangkannya dengan baik di film seperti mandiri dan damai. Ketiga, nilai-nilai yang belum dimiliki oleh Judy Hopps pada awal film tetapi ia menumbuhkan dan mengembangkan niliai-nilai toleran, simpati, peduli lingkungan, dan kooperatif. Tiga penelitian sebelumnya digunakan sebagai pertimbangan untuk mengidentifikasi nilai-nilai pendidikan karakter. Nilai-nilai yang teridentifikasi pada karakterisasi Judy Hopps berfokus pada softskill karena ia memunculkan dan mengembangkannya dari pengalaman, situasi, kondisi, dan kemauan. Dapat disimpulkan bahwa media tidak hanya digunakan untuk menghibur tetapi juga mendidik, oleh karena itu, semoga dosen, guru, calon guru, orang tua atau masyarakat dan pemerintah dapat memanfaatkan film ini sebagai media untuk anak-anak dan siswa dalam meningkatkan pendidikan karakter melalui pengalaman, situasi, kondisi dan kemauan sebagaimana tercermin pada karakterisasi Judy Hopps.Kata Kunci : pendidikan karakter, film, media, analisis tekstual This study aimed at identifying the character education on the main character of Zootopia. Textual analysis was used in order to analyze the media as a text to understand and make meaning of it in order to know how it can be used to communicate and educate among children and students. The media that was used in this research on developing character education was film entitled Zootopia. From 18 character education values that was stated in decision from Minister of National Education (2010: i-ii), 17 values are found on Judy Hopps’s characterization as the main character of Zootopia which those values can be classified into three types. Firstly, the values that already had by Judy Hopps and she developed it well on the film like persistent, committed, disciplined, responsible, creative, appreciative, democratic, patriotic, discoverable, honest, social care, bibliophile and sociable. Secondly, the values that already had by Judy Hopps but she does not develop it well on the film like autonomous and peaceful. Thirdly, the values that are not had yet in the initial film but she was raised and developed it on the middle until the end of film like tolerant, sympathy, environmental awareness, cooperative and inquisitive. Three previous researches were used as consideration on identifying the values of character education. The values that are identified on Judy Hopps’s characterization focus on the soft skill because she raises and develops it because of the experiences, situations, conditions and willingness. It could be concluded that media are not only used to entertain but also educate, hence, hopefully lecturer, teachers, future teacher, parents or society and government could utilize this film as media to children and students in raising character education education through experiences, situations, conditions and willingness as reflected on the Judy Hopps’s characterization. keyword : character education, film, media, textual analysis.
AN ANALYSIS OF GRAMMATICAL ERRORS IN STUDENTS' WRITING RECOUNT TEXT COMMITTED BY TENTH GRADE STUDENTS OF SMA N 4 SINGARAJA IN ACADEMIC YEAR 2018 ., Ni Nyoman Indah Ayu Maharani; ., Dr. Dewa Putu Ramendra, S.Pd., M.Pd.; ., I Wayan Swandana, S.S., M.Hum.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.14963

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesalahan-kesalahan tata bahasa pada tulisan recount yang dibuat oleh siswa-siswa di SMA N 4 Singaraja tahun ajaran 2018. Penelitian ini dilakukan melalui deskriptif kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mencari kesalahan tata bahasa yang dibuat oleh siswa. Subjek dari penelitian ini adalah 59 siswa dari kelas X MIPA 3 dan X MIPA 6. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah analisa dokumen dan wawancara. Selain itu, sumber dari kesalahan-kesalahn yang dibuat siswa adalah kesalahan intralingual, kesalahan interlingual, dan strategi komunikasi. Penelitian ini juga mengandung saran untuk para guru agar lebih perhatian pada kesulitan siswa dalam mengerti dan memberi banyak latihan. Strategi ini dapat membantuk siswa untuk lebih terbiasa dengan tata bahasa dari bahasa target.Kata Kunci : Tata Bahasa, Kesalahan, Tulisan This study aimed at analyzing of grammatical error in students’ writing recount text committed by tenth grade students of Sma n 4 Singaraja in academic year 2018. It was conducted through descriptive qualitative. This study is intended to find out the error committed by students. The subjects of this study were 59 students of X Mipa 3 and Mipa 6. The method were document analysis and interview. There were 340 errors which were classified into 15 types. Besides, the sources of those errors were intralingual error, interlingual error, and communication strategy. It is futher suggested for the teachers to pay more attention to students' difficulties in learning grammar. The teachers were expected to ask the students about which part were still difficult to understand and gave many practices. This strategy could help students to be more familiar with the grammar of targer language.keyword : Grammar, Error, Writing