Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

OPTIMASI PROSES PIROLISIS ASAP CAIR DARI TEMPURUNG KELAPA DAN APLIKASINYA SEBAGAI KOAGULAN LATEKS Jaka Darma Jaya; Nuryati Nuryati; Badri Badri
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol 2 No 1 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.472 KB) | DOI: 10.34128/jtai.v2i1.22

Abstract

Salah satu pemanfaatan tempurung kelapa supaya bernilai ekonomis yang tinggi adalah dibuat asap cair dengan proses pirolisis. Asap cair merupakan suatu campuran larutan dan dispersi koloid dari uap asap kayu dalam air yang diperoleh dari hasil pirolisa kayu atau dibuat dari campuran senyawa murni. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimasi proses pirolisis asap cair dan mengaplikasikannya sebagai koagulan lateks. Optimasi proses pirolisis dilakukan dengan melakukan variasi suhu dan waktu pirolisis sebagai berikut: perlakuan A (suhu 150°C waktu 1 jam), perlakuan B (suhu 150°C waktu 2 jam), perlakuan C (suhu 175°C waktu 1 jam), perlakuan D (suhu 175°C waktu 2 jam), perlakuan E (suhu 200°C waktu 1 jam) dan perlakuan F (suhu 200°C waktu 2 jam). Berdasarkan hasil pirolisis ini diketahui bahwa perlakuan dengan suhu 175oC dan waktu 2 jam menghasilkan rendemen tertinggi (27,34%) dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Pada tahapan aplikasi asap cair sebagai koagulan latek diperoleh data kadar karet kering dengan menggunakan koagulan asap cair tempurung kelapa memberikan hasil yang bervariasi antara 39,69-41,24%. Asap cair yang diperoleh dari perlakuan suhu 175°C waktu 2 jam menunjukkan kadar karet kering tertinggi sebesar 41,24% dan asap cair yang diperoleh dari perlakuan suhu 150°C waktu 2 jam menunjukkan kadar karet kering terendah sebesar 39,69%. Kinerja koagulasi lateks oleh asap cair dari tempurung kelapa masih berada sedikit dibawah asap cair dari cangkang kelapa sawit dan asam formiat, asap cair dari tempurung kelapa. Akan tetapi data penelitian menunjukkan bahwa asap cair tempurung kelapa berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai koagulan latek yang ramah lingkungan dan ekonomis, mengingat ketersediaannya yang melimpah di wilayah Kalimantan Selatan.
Karakterisasi dan Analisis Ekonomi Pemanfaatan Limbah Industri Tahu di UD. Usaha Berkah, Pelaihari Jaka Darma Jaya; Ema Lestari; Riddy Yanuar Wicaksono
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol 5 No 2 (2018): Jurnal Teknologi Agro-Industri
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.299 KB) | DOI: 10.34128/jtai.v5i2.78

Abstract

Industri pengolahan tahu dalam proses produksinya menghasilkan limbah cair dan limbah padat. Limbah yang dihasilkan dari industri tahu dapat berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan apabila tidak ditangani dengan benar seperti timbulnya bau yang dapat mengganggu lingkungan sekitarnya dan pencemaran air. Pada penelitian ini dilakukan identifikasi dan karakterisasi limbah yang dihasilkan dari proses produksi tahu di UD. Usaha Berkah, Pelaihari dengan menggunakan analisis neraca massa. Kemudian dilakukan analisis ekonomi pemanfaatan limbah tahu yang bertujuan mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi bagi usaha tahu. Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan hasil analisis neraca massa, proses pengolahan tahu menghasilkan limbah padat ampas tahu 18 kg dan limbah cair 158 kg. Limbah cair paling banyak dihasilkan pada proses pencucian, penggumpalan dan pencetakan, sedangkan limbah padat dihasilkan dari proses penyaringan. Pengujian limbah yang dilakukan menunjukkan bahwa nilai BOD, COD, DO, TSS dan TDS hasil pengujian sampel tidak memenuhi standar yang mengacu pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah. Kemudian, berdasarkan hasil analisis ekonomi yang dilakukan pada pemanfaatan limbah industri diketahui bahwa pemanfaatan limbah tahu untuk biogas, tempe gembus, pakan ternak, dan pupuk organik , secara ekonomi layak untuk dilaksanakan dengan ditunjukkan nilai R/C rasio >1.
Pembuatan Plastik Biodegradable Dari Pati Biji Nangka Nuryati Nuryati; Jaka Darma Jaya; Norhekmah Norhekmah
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol 6 No 1 (2019): Jurnal Teknologi Agro-Industri
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.194 KB) | DOI: 10.34128/jtai.v6i1.83

Abstract

Jackfruit seeds have not been widely used or thrown away as a waste. The content of jackfruit seeds in 100 gr contains 36,7 gr of carbohydrates, 4,2 gr of protein, 165 kcal of energy, so that it is used as food. Jackfruit seed starch isvery cheap even can bemade by itself simple. Relatively high starch contant of about 40-50%. The purpose of this research is to make biodegradable plastic from jackfruit seed starch with variation of glycerol addition, to know the result of biodegradable plastic from jackfruit seed starch. Method used in the study : making biodegradable plastic from jackfruit seed starch with variation of glycerol 2 ml, 3 ml dan 4ml. research was conducted by conducting water resistance test , melting poin test and biodegradable test. Results obtained from the research of making a better biodegradable plastic glycerol 2 ml because it can be seen plastik sheets of all smooth, thinner, clearer and transparent surfaces, no bubbles compared to other glycerol variations seen brownish. Water resistance test with the addition of 2 ml glycerol with the highest water endurance 91,67% with water absorption test using hot plate because the sample heating cannot melt perfectly and that can be observed only shrinkage. A biodegradable test 4 ml glycerol addition resulted a reduced percentage of residual weight of plastic increased by 78,57%.
Perancangan Ulang Tata Letak Fasilitas Produksi UD. Usaha Berkah Berdasarkan Activity Relationship Chart (ARC) Dengan Aplikasi Blocplan-90 Jaka Darma Jaya; Nuryati Nuryati; Safria Ayu Nur Audinawati
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol 4 No 2 (2017): Jurnal Teknologi Agro-Industri
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1325.747 KB) | DOI: 10.34128/jtai.v4i2.56

Abstract

Tata letak fasilitas pabrik adalah tata cara pengaturan fasilitas-fasilitas pabrik guna menunjang kelancaran proses produksi yang optimal, efektif dan efisien. Penelitian ini dilakukan pada pabrik pembuatan tahu UD Usaha Berkah Desa Atu-atu, Pelaihari. Permasalahan yang terdapat pada perusahaan ini adalah peletakan fasilitas yang tidak sesuai dengan derajat hubungan antar fasilitas. Penelitian ini bertujuan untuk merancang tata letak fasilitas dengan baik dan menghasilkan aliran material yang lancar, sehingga jarak tempuh material tidak terlalu panjang dan dapat mengurangi adanya arus bolak-balik aliran material proses produksi. Perancangan tata letak pabrik ini dilakukan pada seluruh fasilitas departemen produksi dengan menggunakan aplikasi Blocplan-90. Blocplan ini membutuhkan data peta keterkaitan hubungan aktivitas atau Activity Relationship Chart (ARC) antar departemen. Data ARC diperoleh dari wawancara langsung kepada responden. Hasil dari wawancara diperoleh analisa keterkaitan hubungan aktivitas dengan menggunakan nilai derajat kedekatan antar departemen. Langkah selanjutnya, data ARC digunakan sebagai data masukan pada aplikasi Blocplan-90. Pada aplikasi Blocplan didapatkan pilihan layout berdasarkan tiga kriteria, yaitu nilai kedekatan antar fasilitas (Adjacency score), nilai efisiensi layout (R-score), dan total jarak tempuh material (Rel-dist score). Dasar penentuan pemilihan layout terbaik pada aplikasi Blocplan-90 yaitu layout usulan yang memiliki nilai efisiensi (R-score) mendekati 1. Berdasarkan analisis perhitungan aplikasi Blocplan dihasilkan 20 alternatif layout usulan. Layout usulan dipilih berdasarkan pada nilai R–score layout tertinggi. Layout usulan terpilih pada penelitian ini mempunyai nilai R-score 0,89, terbaik dari 20 layout usulan yang dihasilkan dari aplikasi Blocplan-90.
PEMBUATAN ASAP CAIR DARI CANGKANG BIJI KARET DAN APLIKASINYA SEBAGAI KOAGULAN LATEKS Jaka Darma Jaya; Dwi Sandri; Agusten Setiawan
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol 6 No 2 (2019): Jurnal Teknologi Agro-Industri
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.982 KB) | DOI: 10.34128/jtai.v6i2.100

Abstract

Salah satu pemanfaatan cangkang biji karet supaya bernilai ekonomis yang tinggi adalah dibuat asap cair dengan proses pirolisis. Asap cair merupakan suatu campuran larutan senyawa murni. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimasi proses pirolisis asap cair dan mengaplikasikan nya sebagai koagulan lateks. Proses pirolisis dilakukan dengan melakukan variasi waktu pirolisis sebagai berikut: 30 menit, 60 menit da 120 menit dengan bahan baku seberat 500 gram dan suhu pirolisis 250˚. Berdasarkan hasil pirolisis ini diketahui bahwa perlakuan dengan waktu 120 menit menghasilkan rendemen asap cair paling tinggi sebesar 16% dan perlakuan 30 menit menghasilkan rendemen asap cair terendah sebesar 10,3%. Karakterisasi asap cair cangkang biji karet memperlihatkan bahwa perlakuan 30 menit menghasilkan pH asap cair paling tinggi sebesar 4 (asam asetat 10,6%) dan perlakuan 120 menit menghasilkan pH paling rendah sebesar 3,3 ( asam asetat 9,8%) dari hasil yang didapat dapat diketahui semakin rendah pH asap cair maka semakin tinggi kadar asam asetat didalamnya. Pada aplikasi asap cair sebagai koagulan lateks menunjukan bahwa asap air dari cangkang biji karet berpotensi sebagai koagulan dengan waktu penggumpalan antara 375-440 detik lebih singgkat jika dibandingkan asap cair komersil yang memerlukan waktu penggumpalan 3652 detik.
OPTIMASI PRODUKSI PUPUK KOMPOS TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT (TKKS) DAN APLIKASINYA PADA TANAMAN Jaka Darma Jaya; Nuryati Nuryati; Ramadhani Ramadhani
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol 1 No 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (956.884 KB) | DOI: 10.34128/jtai.v1i1.24

Abstract

Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) merupakan limbah padat yang dihasilkan pabrik kelapa sawit. Pemanfaatan kelapa sawit masih belum optimal dilakukan, oleh karena itu pada penelitian ini dilakukan pemanfaatan TKKS sebagai bahan baku pembuatan kompos. Selain itu, pada penelitian ini juga dilakukan aplikasi pemberian pupuk kompos TKKS pada tanaman cabe dan jagung. Pembuatan pupuk kompos diawali dengan menyiapkan aktivator EM-4 dan mencampurkannya pada bahan berikut: pupuk kandang , dedak, air sumur, air kelapa, dan tandan kosong kelapa sawit (TKKS), diinkubasi pada kondisi aerob. Berdasarkan hasil pengamatan tekstur dan suhu pengomposan, serta hasil pengaplikasian terhadap tanaman cabe dan jagung, diketahui bahwa kompos C dengan komposisi a) Pupuk kandang 0,5 kg, b) Dedak 0,5 kg, c) Air sumur 2 liter, d) Air kelapa 0,1 liter, e) EM-4 0,1 liter, f) TKKS 10 kg adalah kompos terbaik. Uji sampel terhadap kompos C juga menunjukan bahwa kandungan P total (0,2725) dan N total (1,30) adalah lebih tinggi dari nilai SNI pupuk kompos. Pupuk kompos TKSS bersifat ramah lingkungan bisa menjadi alternatif solusi permasalahan limbah yang ada di perkebunan dan pabrik pengolahan sawit.
Optimasi Jumlah Katalis KOH dan NaOH pada Pembuatan Biodiesel dari Minyak Kelapa Sawit Menggunakan Kopelarut Abdullah Abdullah; Jaka Darma Jaya; Rodiansono Rodiansono
Jurnal Sains dan Terapan Kimia Vol 4, No 1 (2010)
Publisher : Program Studi Kimia, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.555 KB) | DOI: 10.20527/jstk.v4i1.2052

Abstract

Telah dilakukan penelitian optimasi jumlah katalis dalam reaksi transesterifikasi pembuatan biodiesel dari minyak sawit menggunakan petroleum benzin sebagai kopelarut. Transesterifikasi minyak sawit yang dilakukan pada penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh penambahan katalis terhadap kualitas biodiesel serta untuk menentukan jumlah optimum katalis KOH atau NaOH yang ditambahkan pada reaksi transesterifikasi. Reaksi transesterifikasi dilakukan dengan mencampurkan 50 ml minyak sawit dengan 12,8 ml metanol (rasio mol 1:6) menggunakan 20 ml kopelarut petroleum bensin teknis (70-90oC) dan variasi jumlah katalis KOH dan NaOH masing-masing: 0; 0,25; 0,375; 0,5; 0,625; dan 0,75 g. Reaksi dilakukan pada temperatur 60oC. Berdasarkan hasil transesterifikasi yang dilakukan, diperoleh jumlah optimum katalis KOH adalah sebesar 0,75 g dengan sifat fisik, antara lain viskositas (5,7099 cSt), berat jenis (0,8666 g/ml) dan bilangan asam (0,1662 mg KOH/g) memenuhi standar biodiesel (ASTM). Sedangkan jumlah optimum katalis NaOH adalah sebesar 0,625 g dengan sifat fisik seperti viskositas (4,6367 cSt), berat jenis (0,8611 g/ml) dan bilangan asam (0,2255 mg KOH/g) telah memenuhi standar biodiesel (ASTM). Kata kunci: transesterifikasi, minyak sawit, katalis, KOH, NaOH 
Analisis Risiko dan Kelayakan Usaha Produk Wirausaha Kembang Goyang dari Daun Kelor Jaka Darma Jaya
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol. 10 No. 02 (2023): Jurnal Teknologi Agro-Industri
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34128/jtai.v10i02.188

Abstract

Kembang goyang moringa leaves is a traditional cake that was developed as an innovation in entrepreneurship. The development of the Moringa leaf goyang flower business aims to develop the cultural heritage of traditional South Kalimantan cakes, while optimizing the use of local Moringa leaf resources. Therefore, in this research, a study was carried out on the production of the Moringa leaf rocking flower using 3 (three) different formulations, risk and business feasibility analysis, and marketing strategy analysis of Moringa leaf rocking flower. Based on the results of the hedonic test on the kembang goyang moringa leaf product, it is known that the kembang goyang K10 product containing 10 g of moringa leaf flour is the best kembang goyang product in terms of taste, appearance, aroma and texture of the product. Next, a risk analysis was carried out on the Moringa leaf goyang flower business to map and anticipate risks that might occur. It is known that business capital and the availability of Moringa raw materials occupy extreme and high risk levels. The business feasibility analysis shows that the Moringa leaf rocking flower business is feasible to run with an R/C ratio of 1.87% and a PBP of 1.15. In further development, it is necessary to optimize marketing using a segmenting, targeting and positioning approach so that the Moringa leaf goyang flower product is well received by consumers.
Biodegradable pot from oil palm fronds waste: production process, physical properties, and biodegradability study Jaka Darma Jaya; Abdul Majid; Nuryati Nuryati; Yuliana Ningsih
AGROINTEK Vol 18, No 3 (2024)
Publisher : Agroindustrial Technology, University of Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrointek.v18i3.22635

Abstract

This research investigated the potential use of oil palm frond waste as a new raw material for developing biodegradable pots (biopot), which could substitute planting containers made from petroleum-based materials such as pots or plastic polybags. This study was aimed, in particular, at examining the physical characteristics and biodegradability of biopot products. This objective was essential for ensuring that the functionality, characteristics, and biodegradability of biopots were technically acceptable for their agricultural application. Production of biopot was done by cold pressing method, which started by mixing the frond fibers as reinforcement with tapioca as a matrix and molding it using the cold pressing method. Furthermore, testing of physical characteristics includes density, moisture content, water absorption, and biodegradability in soil media. The research shows that the biopot from oil palm fronds has a density of 0.27-0.44 g / cm3, moisture content of 1.28-4.71%, and water absorption of 179.88-285.74%. The degradability of biodegradable pots ranged from 11.07-34.22%. Based on the above characteristics, the biodegradable pot from oil palm fronds has the potential to be used for planting containers. Biopot from oil palm fronds was interesting to develop since it performed suitable characteristics, compared to the Indonesian National Standard (SNI) of the similar composites product and the characteristics of biodegradable pot from other previous reliable research
Quality Evaluation and Causal Analysis of Crude Palm Oil Based on Critical Quality Parameters: Free Fatty Acids, Moisture, and Impurities Jaya, Jaka Darma; Khairiah
Jurnal Teknologi Agro-Industri Vol. 12 No. 1 (2025): Jurnal Teknologi Agro-Industri
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34128/jtai.v12i1.227

Abstract

Crude Palm Oil (CPO) is a vital commodity derived from the processing of sterilized oil palm mesocarp extracted from Fresh Fruit Bunches (FFB), serving as a primary raw material in the edible oil industry. The quality of CPO is critically influenced by parameters such as Free Fatty Acid (FFA), moisture content, and impurities, which directly affect its stability, shelf life, and market value. Despite established quality standards, many CPO production facilities continue to face inconsistencies in these parameters due to variations in harvesting practices, post-harvest handling, and processing conditions, yet few studies have explored plant-specific root causes. This study aimed to evaluate the quality of CPO at XYZ Co. in Barito Kuala Regency by analyzing FFA levels, moisture content, and impurity content through a qualitative-descriptive approach, including field observations, staff interviews, and analysis using bar charts and fishbone diagrams, with data collected from October 2023 to January 2024. Results showed that FFA levels remained within the company's standard of 5%, ranging from 3.9% to 4.06%; moisture content varied between 0.25% and 0.35%, with some values exceeding the limit; while impurity levels surpassed the 0.030% threshold in two observation periods. Fishbone diagram analysis identified human error, substandard raw materials, poor machine maintenance, and non-compliance with standard operating procedures as key contributing factors. The study recommends improvements in supervision, operator training, equipment maintenance, and SOP implementation to enhance and maintain consistent CPO quality