Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Bulletin of Applied Animal Research

Analysis of Growth Parameters of First Generation Red Comb and Black Comb Kedu Chicken in BPBTNR Satker Ayam Maron Kabupaten Temanggung Siti Zamhariroh; Edy Kurnianto; H. I. Wahyuni
Bulletin of Applied Animal Research Vol 1 No 2 (2019): Bulletin of Applied Animal Research
Publisher : LPPM Perjuangan University of Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/baar.v1i2.265

Abstract

Penelitian bertujuan untuk membandingkan pola pertumbuhan pada generasi ke-satu (G1) ayam kedu jengger merah (AKJM) dan jengger hitam (AKJH)jenis kelamin jantan dan betina selama 60 hari. Materi yang digunakan adalah G1 AKJM jantan 80 ekor, betina 96 ekor dan AKJH jantan 31 ekor, betina 30 ekor. Penelitian ini dilakukan dengan menimbang bobot ayam setiap 3 hari sekali dari umur 0 sampai 60 hari. Data dianalisis dengan menggunakan model Gompertz pada program komputer Statistical Analysis System v6.12.Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil persamaan regresi model Gompertz pada AKJM jantan dan betina masing-masing adalah Y= 1.691,07 exp (-4,19 exp(0,02)t) dan Y= 1.013,04 exp (-3,70 exp(0,02)t), sedangkan pada AKJH jenis kelamin jantan dan betina masing-masing adalah Y= 1.939,27 exp (-4,18 exp(0,01)t) dan Y= 1.273,44 exp (-3,90 exp(0,02)t). Titik infleksi AKJM jantan terjadi pada bobot 622,11 g dan ti=69,23 hari, sedangkan pada betina adalah 372,68 g dan ti=54,57 hari, untuk AKJH jantan adalah 713,42 g dan ti=77,26 hari, sedangkan pada betina adalah 468,47 g dan ti=63,86 hari. Simpulan dari penelitian ini adalah model Gompertz lebih akurat digunakan pada AKJH betina berdasarkan nilai simpangan baku dan AIC yang dihasilkan.Kata Kunci: ayam kedu, jengger merah, jengger hitam, model Gompertz, titik infleksi.
Pengaruh Bentuk Scrotal Bipartition Terhadap Kadar Follicle Stimulating Hormone dan Testosteron Kambing Kejobong Yuni Widiarti; Enny Tantini Setiatin; Edy Kurnianto
Bulletin of Applied Animal Research Vol 1 No 2 (2019): Bulletin of Applied Animal Research
Publisher : LPPM Perjuangan University of Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/baar.v1i2.268

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh bentuk skrotum terhadap kadar follicle stimulating hormone (FSH) dan testosteron pada kambing Kejobong. Materi yang digunakan adalah kambing Kejobong jantan sebanyak 22 ekor, pita ukur, jangka sorong, spuit, tabung vacutainer no additive, centrifuge, effendorf, kulkas, dan coolbox.  Metode yang dilakukan dalam penelitian adalah observasional, yaitu mengamati secara langsung bentuk skrotum ternak, mengukur skrotum dan testis, dan mengambil sampel darah. Sampel darah dianalisis untuk mengetahui kadar hormon menggunakan metode ELISA. Parameter yang diukur yaitu bentuk scrotal bipartition, kadar follicle stimulating hormone dan testosteron. Perbedaaan respon dari bentuk skrotum terhadap kadar hormon FSH dan testosteron dianalisis menggunakan uji-t pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua bentuk skrotum pada kambing Kejobong, yaitu bentuk A (no bipartition) dan bentuk B (bipartition ≤50%). Kadar FSH kambing Kejobong pada bentuk skrotum A (no bipartition) adalah 6,4787±2,0534 ng/mL dan pada bentuk skrotum B (bipartition ≤50%) adalah 6,0134±2,5628 ng/mL, sementara kadar testosteron bentuk skrotum A adalah 6,1617±5,9590 ng/mL dan pada bentuk skrotum B adalah 5,9512±5,6204 ng/mL. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah tidak ada perbedaan respon kadar FSH maupun testosteron berdasarkan bentuk skrotum.Kata Kunci: kambing Kejobong, bentuk skrotum, kadar follicle stimulating hormone (FSH), dan testosteron.
Pengaruh bentuk scrotal bipartition terhadap kadar follicle stimulating hormone Yuni Widiarti; Enny Tantini Setiatin; Edy Kurnianto
Bulletin of Applied Animal Research Vol 2 No 1 (2020): Bulletin of Applied Animal Research
Publisher : LPPM Perjuangan University of Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/baar.v2i1.373

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh bentuk skrotum terhadap kadar Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan testosteron pada kambing Kejobong. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kambing Kejobong jantan sebanyak 18 ekor (11 ekor bentuk skrotum A dan 7 ekor bentuk skrotum B), alat yang digunakan adalah pita ukur, jangka sorong, spuit, tabung vacutainer no additive, tabung Effendorf, kulkas, dan cool box. Metode yang dilakukan dalam penelitian adalah observasional, yaitu mengamati secara langsung bentuk skrotum ternak, mengukur panjang, lebar dan lingkar skrotum, mengukur lebar dan lingkar testis, dan mengambil sampel darah pada vena jugularis. Sampel darah dianalisis untuk diukur kadar hormon menggunakan metode Enzym Immunoassay (EIA), EIA Test Kit dengan Catalog Number : 4S00055 digunakan untuk analisa FSH dan EIA Test Kit dengan Catalog Number : 4S00072 dari General Biologicals Corp (GBC) digunakan untuk analisa testosteron. Parameter yang diukur yaitu bentuk scrotal bipartition, kadar follicle stimulating hormone dan testosteron. Perbedaaan respon dari bentuk skrotum terhadap kadar hormon FSH dan testosteron dianalisis menggunakan uji-t pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada dua bentuk skrotum pada kambing Kejobong, yaitu bentuk skrotum A (no bipartition) dan bentuk skrotum B (bipartition <50%).  Pada bentuk skrotum A, nilai rata-rata lingkar skrotum bagian kanan adalah 14,1 ± 2,8 cm dan bagian kiri 13,9 ± 2,3 cm. Nilai rata-rata lebar testis bagian kanan adalah 3,5 ± 0,3 cm dan bagian kiri memiliki lebar 3,5 ± 0,4 cm. Pada bentuk skrotum B, nilai rata-rata lingkar skrotum bagian kanan adalah 13,3 ± 1,2 cm dan bagian kiri 13,7 ± 1,9 cm. Nilai rata-rata lebar testis kanan adalah 3,2 ± 0,3 cm dan bagian kiri 3,4 ± 0,2 cm. Nilai kadar FSH pada skrotum A yaitu 1,8113 ± 0,4115 mIU/ml dan kadar pada skrotum B yaitu 1,6490 ± 0,6756 mIU/ml. Kadar testosteron pada skrotum A 0,9841 ± 0,6212 ng/ml dan pada skrotum B yaitu 0,6925 ± 1,5537 ng/ml. Hasil uji-t menunjukkan bahwa bentuk skrotum tidak berpengaruh (P>5%) terhadap kadar FSH maupun testosteron.Simpulan dari hasil penelitian ini adalah bentuk skrotum pada kambing Kejobong tidak mempengaruhi kadar FSH maupun testosteron.Kata kunci: kambing Kejobong, bentuk skrotum, follicle stimulating hormone, testosteron.  
Perbedaan Morfometri Kelinci New Zealand White Pada Jenis Kelamin dan Ketinggian Tempat yang Berbeda Nur Wakhid Salamudin; Edy Kurnianto; Sutopo Sutopo; Asep Setiaji
Bulletin of Applied Animal Research Vol 4 No 2 (2022): Bulletin of Applied Animal Research
Publisher : LPPM Perjuangan University of Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/baar.v4i2.956

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keragaman morfomtrik kelinci New Zealand White berdasarkan se dan ketinggian tempat. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 200 ekor kelinci dengan umur bulan lebih. Penelitian ini dilakukan di lokasi dengan ketinggian yang berbeda yaitu pada dataran rendah di wilayah Pleret Bantul Yogyakarta dengan ketinggian 0-250 meter di atas permukaan laut, pada dataran sedang di kabupaten magelang, Kendal dan Semarang dengan ketinggian 250-750. meter di atas permukaan laut dan pada ketinggian yang terletak di daerah temanggung dengan ketinggian lebih dari 750 meter di atas permukaan laut. Parameter yang digunakan adalah panjang kepala, lebar kepala, panjang telinga, lebar telinga, lingkar dada, dada bagian dalam, lebar dada, panjang tulang femur, panjang ulna-radius, panjang tulang tibia, dan panjang badan. Data dianalisis dengan desain klasifikasi two way dan uji rata-rata Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan ukuran tubuh yang signifikan (P<0,05) antara jantan dan betina, yaitu pada lebar kepala, panjang telinga, lebar telinga, radius ulna panjang, dan panjang tulang skapula. Terdapat perbedaan (P<0,05) ukuran tubuh kelinci di dataran rendah, dataran sedang, dan dataran tinggi, tose terdapat pada lebar kepala, lebar telinga, lingkar dada, lebar dada, tampilan radius ulna, tulang skapula panjang, dan lebar pinggul sedangkan pada variabel panjang kepala, panjang tulang femur, panjang tulang tibia, dan panjang badan tidak menunjukkan perbedaan yang mencolok. Kesimpulan dari penelitian ini adalah perbedaan ukuran tubuh yang signifikan antara jarak pandang dan ketinggian tempat. Kata kunci : New Zealand White, kelinci, keanekaragaman morfometrik