Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

EVALUASI KEBERHASILAN INSEMINASI BUATAN PADA SAPI SIMENTAL – PO (SIMPO) DI KECAMATAN PATEAN DAN PLANTUNGAN, KABUPATEN KENDAL, JAWA TENGAH (Evaluation of Artificial Insemination Simmental – PO (SIMPO) Cow in the Sub-District of Patean and Plantungan, Kend San, Dona Bella Apri; Yase Mas, I Ketut Gorde; Setiatin, Enny Tantini
Animal Agriculture Journal Vol 4, No 1 (2015): Volume 4 Nomor 1 Tahun 2015
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.861 KB)

Abstract

ABSTRAK   Tujuan penelitian untuk mengetahui keberhasilan pelaksanaan IB pada sapi SIMPO di dua kecamatan yang memiliki suhu dan kelembaban berbeda, berdasarkan perhitungan parameternon return rate (NRR), conception rate (CR) dan service per conception (S/C). Materi penelitian berupa data sekunder pelaksanaan IB tahun 2009-2013 dan data primer berupa 60 ekor sapi SIMPO. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah observatif dan dianalisis secara deskriptif serta di uji dengan Uji Proporsi untuk mengetahui perbedaan antar kedua daerah, dan analisis regresi linier untuk menduga berbagai parameterpada tahun 2014. Untuk memudahkan prosedur menghitung dan mencegah terjadinya Humman Error digunakan perangkat lunak statistik conStat.Hasil analisis menunjukan bahwa nilai dugaan tahun 2014 berturut-turut untuk Patean adalah NRR28-35 83,33%; CR 30,80%; S/C 2,9 kali; dan Plantungan NRR28-35 86,66%; CR 57,2%; S/C 1,5 kali. Hasil pengujian uji proporsi untuk CR dan S/C menunjukkan hasil yang berbeda (p<0,05) tetapi untuk NRR hasilnya tidak berbeda.Simpulan penelitian  adalah kemampuan reproduksi sapi SIMPO di Kecamatan Plantungan lebih baik dibandingkan sapi di Kecamatan Patean berdasarkan evaluasi terhadap NRR, CR, dan S/C. Kata kunci: non return rate; conception rate; service per conception; Sapi SIMPOABSTRACT The purpose of this research was to find out about the success of IB implementation for SIMPO cows in both of district which have different temperature and humidity based on, non return rate (NRR), conception rate(CR) and service per conception (S/C).The materials of this research was secondary data of IB implementation from 2009 until 2013 and the primary data was 60 SIMPO cows. The method that used in this study was observational and drscriptive analysis, and has passed the proportional test in order to determine the difference between the two regions, then linier regression analysis to estimate various parameters of 2014. To make the counting procedure easier and prevent humman error this research used statistical shoftware conStat. The result proved that presumption value 2014 there was a different results fo successively wereNRR28-35 83,33%; CR 30,80%; S/C 2,9 times for Patean and for Plantungan were NRR28-35 86,66%; CR 57,2%; S/C 1,5 times. The result of proportion test for CR and S/C showed different (p<0,05) but there was no differences for NRR result. The conclusion of this research that reproduction capability based on evaluation to NRR, CR and S/C of SIMPO cows in Plantungan district was better than SIMPO cows in Patean District Keywords : non return rate; conception rate; service per conception; SIMPO cows
TIPOLOGI FERNING SAPI JAWA BREBES BETINA BERDASARKAN PERIODE BERAHI Silaban, Nelva Lestari; Setiatin, Enny Tantini; Sutopo, Sutopo
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (805.708 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tipologi ferning sapi betina Jabres berdasarkan periode berahi di Desa Malahayu Kecamatan Banjarharjo Kabupaten Brebes Jawa Tengah. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 13 ekor sapi Jawa Brebes (Jabres) betina milik petani peternak yang dipelihara secara umbaran. Metode pengambilan lendir serviks dengan menggunakan metode ulas vagina, lendir diambil sebanyak 2-4 kali dalam sehari. Gambaran ferning diperoleh dengan cara mengoleskan lendir serviks yang menempel ada cotton bud di atas object glass, dikering udarakan kemudian diamati dengan bantuan mikroskop pada pembesaran 10 x 10. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada 13 ekor sapi selama satu siklus estrus bervariasi antara 11-19 hari. Tipologi ferning sapi Jabres secara spesifik dapat menunjukkan tahapan siklus estrus. Gambaran tipologi ferning sapi Jabres betina diperoleh bervariasi, berupa garis-garis seperti jarum dan bercabang. Gambaran ferning mendekati puncak estrus terlihat jelas dan nyata membentuk daun pakis.Kata kunci: siklus berahi, lendir serviks, ferning, sapi jabres betinaABSTRACTThe research was conducted to learn about ferning typology based on estrous cycle period of javanese cattle breed in the Village District Malahayu Banjarharjo Brebes in Central Java. The material used in this study were 13 cows Java (Jabres) farmers' breeder females reared umbaran. Cervical mucus method of making pillowcase using vaginal mucus taken 2-4 times a day. Ferning’s picture obtained by applying cervical mucus swab stick was above the glass object, aired dried and then observed with a microscope at a magnification of 10 x 10. The results showed that in 13 cows during the estrous cycle varies between 11-19 days. This could be can refer to typology ferning’s Jabres specifically showed estrus cycle stage. Preview typology Jabres female cow ferning obtained varied, such as lines such as needles and branches. Preview ferning pine approaching the peak estrus and tangible form frond.Keywords: estrus cycle, cervical mucus ferning, jabres female cow
PEMBERIAN LARUTAN DAUN BINAHONG DALAM MEMPERPENDEK FASE INVOLUSI UTERUS KAMBING PERANAKAN ETAWAH BERDASARKAN TIPOLOGI FERNING SERVIKS DAN SALIVA (Effect of Binahong’s Leaves solution in Shortening Uterine Involution of Etawah Goat Grade Based on Typology Wijayanti, Dwi; Samsudewa, Daud; Setiatin, Enny Tantini
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 1 (2014): Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.092 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian bertujuan untukmengetahui pengaruh pemberian larutan daun binahong (Anredera cordifolia) dalam memperpendek involusi uterus yang dievaluasi melalui gambaran tipologi ferning kambing. Delapan ekor kambing Peranakan Etawah (PE) dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok A (tanpa pemberian larutan daun Binahong), B (pemberian larutan daun Binahong sebanyak 0,54 g/kg bobot badan kambing), C (pemberian larutan daun Binahong sebanyak 0,64 g/kg bobot badan kambing) dan D (pemberian larutan daun Binahong sebanyak 0,78 g/kg bobot badan kambing). Pemberian larutan binahong diberikan selama 7 hari berturut turut pagi dan sore setelah 7 hari pasca melahirkan. Pengambilan lendir serviks dan saliva dilakukan pagi hari selama 7 hari setelah pemberian perlakuan. Hasil nilai p ferning serviks dan saliva kambing PE adalah 0.981 (p> 0,05) dan 0.847 (p> 0,05). Analisis Kruskal Wallis H – Test menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara tipe ferning serviks dan saliva dengan pemberian larutan binahong pada kambing PE untuk memperpendek involusi uterus. Larutan daun binahong yang diberikan pada kambing Peranakan Etawah (PE) dari 0,54 g/kg bobot badan kambing hingga 0,78 g/kg bobot badan kambing selama 7 hari post partum sejak hari ke-8 sampai ke-14 belum dapat memperpendek fase involusi uterus. Fitoestrogen yang ada di dalam daun binahong baru dapat bekerja membantu kontraksi uterus untuk pengeluaran locia. Hal ini ditandai dengan belum terlihatnya gambaran ferning serviks dan saliva.Kata kunci: kambing peranakan etawah; daun binahong; involusi uterus; ferning lendir serviks; saliva  ABSTRACT Aim of the study was to determine the effect of binahong’s leaves solution (Anredera cordifolia) on shortening the uterine involution evaluated through based typology ferningof cervical mucus and saliva of goats. Eight Etawah goat Grade (PE) were divided into 4 groups. Those were A group (without giving solution Binahong leaf ), B (giving solution leaves much Binahong 0.54 g/kg body weight of goats), C (leaf Binahong solution giving as much as 0.64 g/kg body weight of goats) and D (giving solution Binahong leaves as much as 0.78 g/kg body weight of goats). Giving binahong solution administered for 7 consecutive days in the morning and aftenoon after 7 days postpartum. Intake of cervical mucus and saliva collected in the morning for 7 days after treatment administration. The results of the p-value of cervical and salivary ferning goat had 0.981 (p>0.05) and 0.847 (p>0.05). Kruskal Wallis H - Test showed no significant difference between cervical and salivary ferning with Anredera cordifolia solution to shorten the involution of the uterus. Solution leaves binahong given on Etawah Goat Grade (PE) of 0.54g/kg body weight of goats to 0.78g /kg body weight of goats for 7 days post partum from day 8 to day 14 can not shorten the phase involution of the uterus. Phytoestrogens are there in the new binahong leaves can work to help the uterine contractions locia spending. It is marked by lack ofvisibility typologi of ferning cervix and salivary.Keywords : etawah goat grade; leaves binahong; involution of the uterus; cervical mucus; saliva ferning
Pengaruh Bentuk Scrotal Bipartition terhadap Kualitas Semen pada Kambing Kejobong Rachmat Heru Sulaksono; Enny Tantini Setiatin; Edy Kurnianto
Jurnal Ilmu Ternak Vol 17, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (970.501 KB) | DOI: 10.24198/jit.v17i2.15155

Abstract

Penelitian bertujuan untuk menganalisis kualitas semen dari bentuk skrotum yang berbeda pada kambing Kejobong. Penelitian menggunakan 30 ekor kambing Kejobong  sebagai sample. Populasi sasaran yang dituju adalah kambing Kejobong yang berada di Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Sampel ditentukan berdasarkan purposive sampling. Pengamatan pertama dengan melihat perbedaan bentuk skrotum yaitu no bipartition (NB) dan bipartition up to 50% (B<50). Pengukuran skrotum meliputi panjang, lebar, dan lingkar. Kemudian dilakukan pengamatan terhadap kualitas semen yang meliputi uji makrospis dan uji mikroskopis. Data yang diperoleh dianalisis dengan independent t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran skrotum pada kedua bentuk bipartisi berbeda nyata (P<0,05). Uji makrokopis semen kambing Kejobong berbeda nyata (P<0,05), sedangkan uji mikrokopis semen pada pengamatan abnormalitas, gerak individu, dan konsentrasi tidak berbeda nyata, hanya pada  pengamatan volume, pH, hidup dan mati yang berbeda nyata (P<0,05).Disimpulkan bahwa bentuk bipartisi skrotum yang berbeda mempengaruhi ukuran skrotum dan kualitas semen kambing.
KORELASI LINGKAR SKROTUM DENGAN BOBOT BADAN, VOLUME SEMEN, KUALITAS SEMEN, DAN KADAR TESTOSTERON PADA KAMBING KEJOBONG MUDA DAN DEWASA Ono Syamyono; Daud Samsudewa; Enny Tantini Setiatin
Buletin Peternakan Vol 38, No 3 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (3) OKTOBER 2014
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21059/buletinpeternak.v38i3.5248

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi lingkar skrotum dengan bobot badan, volume semen, kualitas semen, dan kadar testosteron pada kambing Kejobong muda dan dewasa. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret–Mei 2013 di Purbalingga, Semarang, dan Yogyakarta. Materi yang digunakan adalah 35 ekor kambing Kejobong jantan, terbagi atas 2 kelompok umur, yaitu muda 20 ekor (8–12 bulan) dan dewasa 15 ekor (13–24 bulan). Variabelvariabel yang diamati meliputi korelasi antar lingkar skrotum dengan bobot badan, volume semen, abnormalitas,konsentrasi, morfologi, spermatozoa hidup, dan kadar testosteron. Kadar testosteron dianalisis menggunakan metodeEnzyme-linked Immunosorbent Assay (ELISA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara lingkar skrotum dengan bobot badan pada kambing Kejobong muda sebesar r = 0,60 (P<0,05) dengan persamaan regresi Y = -50,856 + 3,666X, namun tidak ada korelasi pada kambing Kejobong dewasa. Lingkar skrotum tidak berkorelasi dengan volume, motilitas, konsentrasi, morfologi, dan spermatozoa hidup pada kambing Kejobong muda dan dewasa. Lingkar skrotum berkorelasi negatif dengan kadar testosteron pada kambing Kejobong muda sebesar r = -0,66 (P<0,05) dengan persamaan regresi Y = 14,353 – 0,436X, namun tidak ada korelasi pada kambing Kejobong dewasa. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa lingkar skrotum berkorelasi positif dengan bobot badan dan berkorelasi negatif dengan kadar testosteron pada kambing Kejobong muda. Lingkar skrotum tidak berkorelasi denganvolume dan kualitas semen baik pada kambing Kejobong muda maupun dewasa.(Kata kunci: Lingkar skrotum, Bobot badan, Kualitas semen, Kadar testosteron, Kambing Kejobong)
RASIO BOBOT ORGAN REPRODUKSI DAN BOBOT BADAN RUSA TIMOR (Rusa timorensis) PADA UMUR YANG BERBEDA SEBAGAI DASAR SELEKSI PEJANTAN Casmuti, Casmuti; Samsudewa, Daud; Setiatin, Enny Tantini; Wibowo, Leonardus Abieza; Fattah, Alvian
ZOO INDONESIA Vol 32, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v32i2.4301

Abstract

Rusa timor (Rusa timorensis) merupakan satwa dilindungi yang dapat dimanfaatkan dagingnya. Rusa timor yang sering dimanfaatkan adalah satwa jantan umur 2, 3, dan 4 tahun. Hal ini dapat menyebabkan penurunan jumlah satwa jantan di penangkaran seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu, perlu dilakukan seleksi untuk memilih pejantan rusa timor. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan umur optimum rusa timor yang dapat dijadikan pejantan berdasarkan rasio bobot organ reproduksi dan bobot badan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2020 hingga September 2021 di Penangkaran Rusa Timor H. Yusuf Wartono, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Materi yang digunakan adalah 12 ekor rusa timor jantan umur 2, 3, dan 4 tahun masing-masing 4 ekor. Metode observasional dilakukan dengan mengukur bobot badan dan bobot testis kanan, testis kiri, testis total, dan penis. Penghitungan rasio dilakukan dengan pembagian antara bobot organ reproduksi dengan bobot badan. Data dianalisis menggunakan Kruskal Wallis H test dengan taraf signifikansi 5% pada SPSS 20.0. Hasil penelitian diperoleh nilai asymptotic significant dari bobot testis kanan, testis kiri, testis total, dan penis berturut-turut sebesar 0,904, 0,778, 0,667, dan 0,500. Hasil menunjukkan tidak ada pengaruh umur terhadap rasio bobot organ reproduksi dan bobot badan rusa timor sehingga umur 2, 3, dan 4 tahun dapat dijadikan sebagai pejantan.
RASIO BOBOT ORGAN REPRODUKSI DAN BOBOT BADAN RUSA TIMOR (Rusa timorensis) PADA UMUR YANG BERBEDA SEBAGAI DASAR SELEKSI PEJANTAN Casmuti, Casmuti; Samsudewa, Daud; Setiatin, Enny Tantini; Wibowo, Leonardus Abieza; Fattah, Alvian
ZOO INDONESIA Vol 32, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v32i2.4301

Abstract

Rusa timor (Rusa timorensis) merupakan satwa dilindungi yang dapat dimanfaatkan dagingnya. Rusa timor yang sering dimanfaatkan adalah satwa jantan umur 2, 3, dan 4 tahun. Hal ini dapat menyebabkan penurunan jumlah satwa jantan di penangkaran seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu, perlu dilakukan seleksi untuk memilih pejantan rusa timor. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan umur optimum rusa timor yang dapat dijadikan pejantan berdasarkan rasio bobot organ reproduksi dan bobot badan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2020 hingga September 2021 di Penangkaran Rusa Timor H. Yusuf Wartono, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Materi yang digunakan adalah 12 ekor rusa timor jantan umur 2, 3, dan 4 tahun masing-masing 4 ekor. Metode observasional dilakukan dengan mengukur bobot badan dan bobot testis kanan, testis kiri, testis total, dan penis. Penghitungan rasio dilakukan dengan pembagian antara bobot organ reproduksi dengan bobot badan. Data dianalisis menggunakan Kruskal Wallis H test dengan taraf signifikansi 5% pada SPSS 20.0. Hasil penelitian diperoleh nilai asymptotic significant dari bobot testis kanan, testis kiri, testis total, dan penis berturut-turut sebesar 0,904, 0,778, 0,667, dan 0,500. Hasil menunjukkan tidak ada pengaruh umur terhadap rasio bobot organ reproduksi dan bobot badan rusa timor sehingga umur 2, 3, dan 4 tahun dapat dijadikan sebagai pejantan.
Appearances of Local Prolific Ewes in Semarang Regency Central Java Indonesia Setiatin, Enny Tantini; Sutiyono, Sutiyono; Samsudewa, Daud; Sutopo, Sutopo; Ondho, Yon Soepri
ANIMAL PRODUCTION Vol. 23 No. 2 (2021)
Publisher : Faculty of Animal Science, Jenderal Soedirman University in associate with the Animal Scientist Society of Indonesia (ISPI) and the Indonesian Association of Nutrition and Feed Science (AINI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jap.2021.23.2.10

Abstract

The present study examined the quantitative and qualitative physical parameters of prolific local ewes in Bawen and Jambu districts, Central Java. We used purposive sampling to select and categorized 132 local, three-lambing ewes into three groups based on their prolific capacity: 66 single, 49 twins and 17 triplets. The data were subjected to analysis of variance using Chi-Square. The result showed that many quantitative properties of prolific ewes resembled those of fat-tailed sheep: thin tail, highly significant (P<0.01) compared to fat tails; straight face, highly significant (P<0.01); and fewer convex face and short body, significant (P<0.05) with a tall body in the non-prolific ewes. Few prolific ewes had big ears and black-white wool and significantly different (P<0.05) from the non-prolific ewes. Conclusively, local prolific ewes had a qualitative appearance more closely related to that of thin-tailed ewes, but greater quantitative performances than the non-prolific ewes.
Identification of Gene Diversity of Melanocortin 4 Receptor for Commercial Rabbit Breeds Kamila, Firda Tasya; Kamalludin, Mamat Hamidi; Sutopo, Sutopo; Lestari, Dela Ayu; Setiatin, Enny Tantini; Agustine, Ananda Dwi; Latifa, Alfa Putri; Nabilah, Zata; Philco, Syaddad Verahry; Setiaji, Asep
Buletin Peternakan Vol 49, No 1 (2025): BULETIN PETERNAKAN VOL. 49 (1) FEBRUARY 2025
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21059/buletinpeternak.v49i1.99303

Abstract

Molecular genetic markers are regularly implemented in rabbit management for better breeding by selecting for specific genotypes. This study aimed to examine the diversity of the melanocortin-4 receptor gene in rabbits in Central Java, Indonesia. A total of 35 bucks were used in this study, comprising 10 New Zealand White, 11 Hyla and 14 Hycole. The DNA was extracted by Gene JET Whole Blood Genomic DNA extraction kit. Single Nucleotide Polymorphism (SNP) was detected by Polymerase Chain Reaction (PCR) and DNA sequencing. Hot carcass weight, cold carcass weight, reference weight and cut point 1-5 weight were among the parameters that were measured. This study showed that Melanocortin 4 Receptor (MC4R) genes were polymorphic, containing missense mutations and one SNP at 519G→A SNP 519GA had two alleles, A and G, with three genotypes (AA, GG, and AG). The rabbit population did not achieve HardyWeinberg Equilibrium (HWE) and showed a low level of genetic diversity as indicated by the heterozygosity results. The result of this study concluded that the frecuency AG as a genotype was higher than either GG or AA and A had a higher allele frequency than G. We recommended improving the validity of the data across various rabbit populations
Performa Pertumbuhan Tiga Varietas Ayam Kedu Umur 0–10 Minggu Akramullah, Muh; Kurnianto, Edy; Lestari, Dela Ayu; Setiatin, Enny Tantini; Setiaji, Asep
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 20 No 3 (2025)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.20.3.123-127

Abstract

This study aimed to evaluate the growth performance of Red-Combed Kedu (RCK), Black-Combed Kedu (BCK), and White Kedu (WK) chickens based on sex during the early growth phase (0 to 10 weeks of age). A total of 136 Kedu chickens were raised under uniform management conditions, consisting of 99 RCK (65 roosters and 34 hens), 29 BCK (5 roosters and 24 hens), and 8 WK (6 roosters and two hens). Body weight was recorded weekly and analysed using a two-way General Linear Model (GLM) in SAS to assess the effects of chicken variety, sex, and their interaction. The Shapiro–Wilk test confirmed that the data were normally distributed (p > 0.05). The results showed that sex had a significant effect on body weight from weeks 3 to 10 (p < 0.05), with roosters consistently exhibiting higher weights than hens. Significant differences among chicken varieties were observed only in the hen group at weeks 9 and 10, where BCK hens had higher body weights (p < 0.05) than WK hens, while RCK hens showed intermediate values. In contrast, no significant differences were found among rooster groups at any age. These findings suggest that genetic factors play an essential role in influencing growth performance in Kedu chickens, particularly in hens. This information provides a valuable foundation for breeding selection and the conservation of local chicken genetic resources.