Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Peran Komunikasi Rasional dalam Keberhasilan Pendampingan Pemberdayaan Masyarakat Adat Papua Obeth Kaigere; Antik Tri Susanti; Elly Esra Kudubun
Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS) Vol 5, No 1 (2022): Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS), August
Publisher : Mahesa Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (733.137 KB) | DOI: 10.34007/jehss.v5i1.1229

Abstract

Papua is an island at the eastern tip of Indonesia which is famous for its abundant natural wealth, but its people are still in poverty. The problem is focused on community empowerment. The purpose of this study was to describe the community empowerment program carried out by the Department of Livestock and Animal Health (Diskeswan) of Mimika Regency, Papua Province. In order to approach this problem, Habermas's reference to the theory of communicative rationality is used: objective communication, subjective and intersubjective communication. The type of research used in this research is descriptive, using qualitative research methods. Data collection techniques were carried out by observation, interviews, and documentation. The results of this study indicate that the communicative rationality of Habermas: objective communication, subjective and intersubjective communication, is successful in mentoring. Pig farmers are experiencing a change in managing pigs from the traditional way to a better way of rearing. The rationality of Habermas' communication in this study has proven to play a role in achieving the success of the assistance of the Papuan Indigenous People's pigs.
SOPI KE KOPI: MENGUBAH HABITUS MELALUI MODAL SOSIAL DALAM KEWIRAUSAHAAN Elly Esra Kudubun; Yerik Afrianto Singgalen
Journal SOSIOLOGI Vol. 3 No. 1 (2020): FENOMENA KEHIDUPAN MASYARAKAT PERKOTAAN
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP UPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2547.958 KB) | DOI: 10.59700/jsos.v3i1.2268

Abstract

Kewirausahaan memiliki peran yang sangat penting di daerah paska konflik SARA,selain memberikan manfaat ekonomi juga memberikan manfaat sosial. Coffeeshop merupakansalah satu bentuk usaha yang memberikan manfaat sosial bagi masyarakat di Kota Tobelo,Kabupaten Halmahera Utara. Pada tahun 2016, Tampoeroeng Coffeeshop yang dikenalsebagai ruang diskusi publik yakni tempat berkumpul dan berdiskusi pemuda pemudi di KotaTobelo. Tampoeroeng Coffeeshop merupakan inisial dari kalimat Torang Anak Marahai PunyaCoffeeshop. Tampoeroeng Coffeeshop menjadi katalisator perkembangan usaha coffeeshop diKota Tobelo, hal tersebut dapat dilihat dari berkembangnya usaha coffeeshop pada tahun 2017.Mempertimbangkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji manfaat sosial dariperkembangan kewirausahaan dan sektor pariwisata di Kota Tobelo sebagai daerah paskakonflik, menggunakan metode kualitatif–studi kasus. TeknikPengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi dan studi dokumen.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Tampoeroeng Coffeeshop merupakan usaha yang didirikanoleh lima orang pemuda dengan tujuan untuk “mengkopikan Tobelo” atau mengubah gayahidup pemuda atau pemudi dari kebiasaan konsumsi minuman keras (sopi) menjadi kebiasaankonsumsi kopi, sekaligus mempererat hubungan persaudaraan dan keakraban antar umatberagama. Untuk menarik pemuda pemudi, pengusaha Tampoeroeng Coffeeshop menggunakanstrategi pemasaran bauran. Selain itu, pengusaha Tampoeroeng Coffeeshop juga memanfaatkanjejaring, kepercayaan dan nilai-nilai budaya lokal untuk mempertahankan usaha menghadapitantangan persaingan antar usaha coffeeshop di Kota Tobelo.
Restorasi Identitas Masyarakat Maluku melalui Pendekatan Berbasis Kearifan Lokal Sih Natalia Sukmi; Christian H.J de Fretes; Elly Esra Kudubun; Roberto Octaviaus Cornelis Seba; Ferdy Karel Soukotta
Indonesian Journal of Sociology, Education, and Development Vol 5 No 1 (2023): Januari-Juni 2023
Publisher : Asosiasi Profesi Pendidik dan Peneliti Sosiologi Indonesia (AP3SI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52483/ijsed.v5i1.97

Abstract

Abstrak Globalisasi dan postmodernitas menawarkan konsep berpikir dan praktek yang berimbas pada cara hidup masyarakat secara berbeda. Euforia gelombang budaya Korea dan Jepang, sedikit menggeser budaya barat (dewesterinisasi) yang telah mengkooptasi budaya anak muda di Indonesia, menjadi salah satu bukti bagaimana kontestasi kepentingan terjadi pula dalam era kini. Terlebih ketika isu ini kemudian melekat dengan persoalan pergeseran identitas anak muda, pun yang terjadi di Maluku, dimana lokus penelitian ini akan dilakukan. Dalam kondisi tersebut, berbagai gerakan diinisiasi oleh beberapa kelompok untuk mempertahankan identitas subkultur yang dimiliki. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk (a) mendeskripsikan identitas kultural yang dipahami penggiat seni di Maluku; (b) menjelaskan upaya restorasi identitas subkultur masyarakat Maluku dilakukan oleh para penggiat seni; dan (c) mendeskripsikan tantangan yang dihadapi dalam restorasi tersebut. Penelitian akan dilakukan menggunakan metode kualitatif melalui Focus Group Discussion (FGD), wawancara mendalam terhadap 6 orang seniman Maluku, observasi, serta menggunakan proses analisis yang diperkuat dengan dokumen-dokumen karya yang mereka ciptakan. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa penggiat seni di Maluku memandang identitas kultural merupakan kekhasan budaya Maluku yang bersifat statis dan harus dipertahankan. Upaya restorasi mereka lakukan menggunakan medium karya seni berupa musik (baik lirik maupun instrument) dan karya foto dan audio visual. Tantangan penggiat seni di Maluku adalah rendahnya penerimaan masyarakat lokal terhadap karya seni berbasis identitas lokal dan keberlangsungan pelaku sendiri dalam mempertahankan ideologi mereka terhadap eksistensi budaya lokal. Kata kunci: Restorasi, identitas, Maluku, sustainabilitas Abstract Globalization and postmodern society have provided a way of thinking and pragmatism aspect that yields diverse impacts. The euphoria of Korea and Japan's cultural wave has shaped the de-westernization that has coopted Indonesian youth. The issue influenced by identity shifting includes the youth of Molluca where this research is conducted. This condition ignited several community groups to preserve their subculture. According to the above background, this study aims to (a) describe the cultural identity of Mollucan artists, (b) describe the challenges in the culture restoration process, and (c) explain the restoration efforts to preserve Mollucan subculture identity by the Mollucan artist. The research used a qualitative method which conducted Focus Group Discussion (FGD) and in-depth-interview with 6 Mollucan artists and observation. In the analysis process, we strengthened the secondary data including their artworks. The results conclude that Mollucan artists perceive that cultural identity is Molucca cultural peculiarities that tend to be static and need to be maintained. They have undertaken cultural restoration through artwork, such as music (lyrics and instruments), photos, and audio-visual. Their challenges are local people's rejection of art based on local identity and the sustainability of artist livelihood in the art ecosystem to keep their ideology of local culture. Keywords: Restoration, identity, Molluca, sustainability
Studi Evaluasi Program Keluarga Harapan (Pkh) Di Kecamatan Essang Selatan Kabupaten Kepulauan Talaud Tahun 2020-2022 Esty M. Tempoh; Suryo S. Hadiwijoyo; Elly E. Kudubun
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 4 (2023): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v3i4.4752

Abstract

Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi program PKH di kecamatan Essang Selatan dengan menerapkan teori strukturasi dan konsep evaluasi kebijakan public. Pendekatan strukturasi digunakan untuk memahami interaksi antara actor-aktor yang terlibat dalam implementasi program dan bagaimana struktur sosial mempengaruhi hasilnya. Konsep evaluasi kebijakan public digunakan untuk menilai efektivitas, efisiensi, kesetaraan, dan dampak program PKH. Melalui pengumpulan data kualitatif, penelitian ini akan menganalisis implementasi program, partisipasi masyarakat, peran actor-aktor terkait, dan keberlanjutan program. Dengan demikian Program PKH di Kecamatan Essang Selatan berhasil mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam konsep evaluasi kebijakan public.
Marapu dan Penyelesaikan Kasus Sengketa Tanah di Kelurahan Mauliru Kabupaten Sumba Timur: marapu dan penyelesaikan kasus sengketa tanah Jeztril u m Kalaway; Elly Esra Kudubun; Daru Purnomo
JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 11 (2023): JIIP (Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan)
Publisher : STKIP Yapis Dompu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54371/jiip.v6i11.3104

Abstract

Sengketa lahan saat ini tidak dapat dihindari karena tingginya kebutuhan akan tanah sementara jumlah bidang tanah terbatas. Penyelesaian sengketa tanah merupakan upaya penyelesaian sengketa tanah antara pihak-pihak yang merasa hak atas tanahnya di langgar Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Mauliru Kabupaten Sumba Timur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan dan menganalisis konflik tanah adat di Kelurahan Mauliru.metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif konstruktivisme, hasil penelitian adalah bahwa kasus sengketa tanah Terjadi mula-mula akibat kedua belah pihak bentrok dengan batas tanah. Penyelesaian ini menggunakan tiga jenis teori konflik Ralf Dahdendrof yakni mediasi, konsiliasi, dan arbitrase. Konsiliasi dibawa atau dilaporkan langsung ke Badan Pertanahan Kabupaten Sumba Timur agar mendapatkan penyelesaian yang diinginkan Namun lembaga yang dituju tidak dapat menyelesaikan permasalahan yang timbul, oleh karena itu dihadirkan proses mediasi yaitu dilakukan dengan cara adat Marapu yang dimana proses mediasi tersebut dihadirkan kepala adat sebagai pihak penengah. Hasil dari mediasi terkait masalah konflik tanah, diperoleh kesepakatam kedua belah pihak melakukan penyelesaian secara kekeluargaan, dan hasilnya kasus konflik tanah dapat diselesaikan secara adat.
Interaksi Sosial Warga Binaan Pemasyarakatan Perempuan Di Rutan (Rumah Tahanan) Kelas II B Di Salatiga Bendon, Kesya; Suwartiningsih, Sri; Kudubun, Elly Esra
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 6 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i6.16837

Abstract

Lembaga pemasyarakatan merupakan tempat untuk melakukan pembinaan terhadap narapidana atau warga binaan yang ada di Indonesia. Di kota Salatiga terdapat rumah tahanan Kelas II B, dengan jumlah narapidana 169 orang, dengan jumlah narapidana Perempuan 18 orang. Selama menjalani masa tahanan narapidana atau warga binaan akan melakukan interaksi satu dengan yang lainnya, maupun dengan petugas lapas. Interaksi sosial merupakan hubungan yang terjadi antara satu individu dengan individu lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi narapidana yang ada di Rutan Kelas II B Salatiga, khususnya narapidana perempuan, baik itu interaksi antara narapidana dengan narapidana lainnya maupun antara narapidana dengan petugas lapas. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Hasil dari penelitian ini terjadinya interaksi yang baik antar narapidana khususnya narapidana perempuan dengan narapidana yang lainnya maupun juga dengan petugas lapas.
Studi Sosiologi tentang Interaksi Sosial Georg Simmel dalam Sosiasi Lokalisasi Tegal Panas Elkana, Daud Paulus; Kudubun, Elly Esra; Siahainenia, Royke Roberth
Jurnal Interaksi Sosiologi Vol 4 No 1 (2024): Jurnal Interaksi Volume 4 Nomor 1 2024
Publisher : Laborataorium Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/jis.v4i1.12634

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini membahas mengenai fenomena kegiatan prostitusi di lokalisasi Tegal Panas, Desa Jatijajar, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk-bentuk interaksi menurut pandangan Georg Simmel dalam sosiasi lokalisasi Tegal Panas. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif, dengan menggunakan pendekatan konstruktivisme. Teknik Pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah melalui teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Selain itu, teknik analisis data yang digunakan meliputi tiga alur kegiatan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil yang ditemukan dari penelitian ini adalah bahwa interaksi para aktor utama di lokalisasi Tegal Panas, yaitu Pekerja Seks Komersial (PSK), Mami, dan Konsumen, dapat digambarkan sebagai sebuah hierarki. Dalam hal ini, posisi PSK adalah sebagai poros interaksi, sehingga dapat menjadi subordinat saat sedang berinteraksi dengan Mami, dan dapat menjadi superordinat saat sedang berinteraksi dengan Konsumen. Adapun posisi pengurus atau pihak keamanan lokalisasi Tegal Panas adalah sebagai pihak ketiga, yang sekaligus mewakili pihak pemerintahan dan warga sekitar. Adanya aturan-aturan serta kebijakan yang ditetapkan bagi para PSK dan para Mami, membuat pengurus atau pihak keamanan ini berada di posisi superordinat tertinggi dalam struktur sosial lokalisasi Tegal Panas. Kata Kunci: Georg Simmel, Interaksi Sosial, Lokalisasi, Prostitusi. ABSTRACT This research discusses the phenomenon of prostitution activities in Tegal Panas localization, Jatijajar Village, Bergas District, Semarang Regency. The purpose of this research is to find out the forms of interaction according to Georg Simmel’s view in Tegal Panas localization. The research method used in this research is descriptive qualitative method, using constructivist approach. The data collection techniques used in this research were interviews, observation, and documentation. In addition, the data analysis technique used includes three streams of activities, namely data reduction, data presentation, and conclucion drawing. The results found from this study are that the interaction of the main actors in Tegal Panas localization, namely Commercial Sex Workers (CSW), Mami, and Consumers, can be describe as a hierarchy. In this case, the CSW’s position is as the axis of interaction, so it can be subordinate when interacting with Mami, and can be superordinate when interacting with Consumers. The position of the management or security of Tegal Panas localization is as a third party, which also represents the government and local residents. The existence of rules and policies set for the CSW and the Mami, made the management or security in the highest superordinate position in the social structure of Tegal Panas localization. Keywords : Georg Simmel, Social Interaction, Localization, Prostitution.
Dinamika Interaksi Antar Budaya Dalam Masyarakat Multikultural Studi Kasus Pada Komunitas Urban Etnis Porodisa Di UKSW Salatiga Essing, Maria Juliance; Esra Kudubun, Elly; Roberth Siahainenia, Royke
Jurnal Interaksi Sosiologi Vol 4 No 2 (2025): Jurnal Interaksi Volume 4 Nomor 2 2025
Publisher : Laborataorium Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/jis.v4i2.14144

Abstract

Masyarakat multikultural merupakan suatu lingkungan sosial yang terdiri dari berbagai suku bangsa, agama, dan budaya yang masing-masing memiliki identitas yang unik. Interaksi antar budaya dalam konteks ini menjadi signifikan dalam memahami dinamika sosial. Berangkat dari konflik internal yang terjadi pada etnis Porodisa memberikan harapan dan dorongan baru untuk tumbuh menjadi etnis yang lebih menonjol di lingkungan UKSW Salatiga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana suku bangsa Porodisa mempertahankan identitas budayanya di lingkungan perkotaan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan focus group discussion dan observasi partisipan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa etnis Porodisa dapat mempertahankan identitas budayanya meskipun telah mengalami akulturasi dalam masyarakat perkotaan. Dalam hal ini etnis Porodisa mampu dan tanggap dalam memahami simbol dan berkomunikasi baik antar sesama etnis maupun dengan etnis lainnya. Jadi, bagi etnis Porodisa, interaksi yang terjadi tidaklah statis melainkan dinamis.
Analisis Konflik dan Resolusinya pada Perpecahan Etnis Porodisa di Kota Salatiga Bawoel, Silvani Agnes; Esra Kudubun, Elly; Roberth Siahainenia, Royke
Jurnal Interaksi Sosiologi Vol 4 No 2 (2025): Jurnal Interaksi Volume 4 Nomor 2 2025
Publisher : Laborataorium Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/jis.v4i2.14194

Abstract

This study analyzes the conflict and resolution processes that occurred in the ethnic division of Porodisa in Salatiga City, leading to the establishment of a new organization called PERSADA. This conflict was triggered by controversies surrounding changes to the organization’s identity, such as the alteration of the name, logo, and Articles of Association (AD/ART) without involving all members. Although Porodisa initially served as a gathering place for students from Talaud, dissatisfaction arising from unilateral decisions led to division. Utilizing a qualitative method based on interviews, observations, and documentation, the analysis is conducted through Johan Galtung's Conflict Triangle Theory, which provides insight into the interactions between attitudes, behaviors, and contradictions and can help formulate more effective conflict resolution strategies. The findings indicate that, despite Porodisa and PERSADA now operating as separate entities, there is a strong desire from both sides to rebuild harmonious relationships. The conflict resolution process is recommended through open dialogue and mediation by neutral third parties, reflecting Galtung's peacemaking approach to create an inclusive and constructive environment. Emphasizing transparent communication and the participation of all members in decision-making, this research underscores that the sustainability and harmony within the organization are significantly dependent on involvement and sensitivity to shared needs. This is expected to strengthen solidarity and ensure the group’s longevity in the future.
Fenomena Labeling Kafir dan Sesat terhadap Komunitas Jemaat Ahmadiyah dan Pengaruhnya dalam Kehidupan Sosial Para Anggotanya Javier Ikram Wiradinata; Kudubun, Elly Esra; Antik Tri Susanti
SOSMANIORA: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 3 (2025): September 2025
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/sosmaniora.v4i3.6383

Abstract

This study examines the phenomenon of labeling the Indonesian Ahmadiyya Community (JAI) as ‘infidel’ (kafir) and ‘heretical’ (sesat) and its profound influence on the social lives of its members. Using a qualitative approach that combines observation, in-depth interviews, and a literature review, analyzed through the framework of Labeling Theory, this research reveals how the stigma is not just a product of theological differences but is socially constructed and institutionalized through religious fatwas and state policies like the Joint Ministerial Decree (SKB 3 Menteri). This process effectively transforms differences in belief into a justification for systemic and widespread persecution. The findings indicate that the impacts of this labeling are multidimensional, ranging from brutal physical violence, such as in the Cikeusik tragedy and the destruction of mosques, to systemic discrimination that hinders access to public services and civil rights. Furthermore, the psychosocial consequences are significant, creating collective trauma, fear, and deep social isolation, with children being the most vulnerable victims. Amidst this wave of rejection, the Ahmadiyya community demonstrates resilience by developing a dual adaptation strategy: strengthening internal solidarity while adopting an accommodative external approach through positive social participation and a firm commitment to the principle of non-violence. This research concludes that the ‘heretical’ label has functioned as a master status that fundamentally shapes, limits, and defines the social reality of the Ahmadiyya community in Indonesia.