Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

INTERAKSI SOSIAL BERBASIS AGAMA (Studi Sosiologis Bentuk Interaksi Sosial Antar Pemeluk Agama di Dusun Porot, Desa Getas, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung) Prabowo, Rius Panji; Kudubun, Elly Esra; Suwartiningsih, Sri
Jurnal Sosiologi Dialektika Sosial Vol. 9 No. 1 (2023): Maret
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jsds.v9i1.9527

Abstract

Interaction is the essence of social life. Without interaction between individuals, daily activities will not run well. Religion is a form of real interaction that exists between individuals in everyday life. The formulation of the problem in this research is first, what are the forms of social interaction of Christians, Muslims and Buddhists in Porot hamlet, Second, what are the supporting and inhibiting factors of social interaction of Christians, Muslims and Buddhists in Porot hamlet. In this study using qualitative methods, with data collection methods of observation, interviews and documentation. This study uses Emile Durkheim's theory of religion. The results of this study indicate that the people in Porot hamlet always put forward an attitude of tolerance with people of different religions. Religion-based social interaction in Porot hamlet is based on religious activities, social activities, cultural activities and also activities held by institutions such as the PKK, posyandu, RT/RW groups and so on. From these activities and meetings, there is communication and social contact between the people in Porot hamlet. Factors supporting the occurrence of religion-based social interaction in Porot hamlet are internal factors and external factors. Internal factors due to personal needs that require social interaction while external factors due to meetings held by certain institutions. The inhibiting factor for social interaction based on religion in Porot hamlet is due to the busyness of the community.Interaksi adalah inti dari kehidupan sosial. Tanpa adanya interaksi antar individu maka aktivitas sehari-hari tidak akan berjalan dengan baik. Agama merupakan salah satu bentuk interaksi nyata yang terjalin antar individu dalam kehidupan sehari-hari. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah pertama, apa saja bentuk-bentuk interaksi sosial pemeluk agama kristen, islam dan buddha di dusun Porot, Kedua apa saja faktor-faktor pendukung serta penghambat interaksi sosial pemeluk agama kristen, islam dan buddha di dusun Porot. Dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan metode pengumpulan data observasi, wawancara dan dkoumentasi. Penelitian ini menggunakan teroi agama Emile Durkheim. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa masyarakat di dusun Porot selalu mengedepankan sikap toleransi dengan masyarakat yang berbeda agama. Interaksi sosial Berbasis agama di dusun Porot di dasari adanya kegiatan keagamaan, kegiatan sosial, kegiatan budaya dan juga kegiatan yang diadakan oleh lembaga seperti PKK, posyandu, kumpulan RT/RW dan lain sebagainya. Dari kegiatan dan pertemuan tersebut sehingga terjadi komunikasi dan kontak sosial antar masyarakat di dusun Porot. Faktor pendukung terjadinya interaksi sosial Berbasis agama di dusun Porot adalah faktor Internal dan faktor Eksternal. Faktor Internal karena kebutuhan pribadi yang mengharuskan terjadinya interaksi sosial sedangkan faktor Eksternal karena danya pertemuan yang di selenggarakan oleh lembaga tertentu. Faktor penghambat ientraksi sosial Berbasi agama di dusun Porot di karenakan kesibukan masyarakat.
ANALISIS DISOSIATIF IKATAN KELUARGA MAHASISWA DAN SISWA TIMOR DI SALATIGA Rivaldo Hendry Mooy, Vegar; Tri Susanti, Antik; Esra Kudubun, Elly
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 12, No 6 (2025): Nusantara : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v12i6.2025.2600-2610

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Salatiga dengan tujuan menyelidiki kepemimpinan IKMASTI dan alasan keluarnya organisasi Alor (HIMMASAL). Dengan menggunakan metode kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi. Temuan menunjukkan bahwa kepemimpinan IKMASTI adalah kolektif, tetapi tidak memiliki struktur formal seperti AD/ART. HIMMASAL keluar tanpa konflik karena keinginan untuk memperkuat budaya Alor, menurut teori disosiatif. Keluarnya HIMMASAL menunjukkan ketidakpuasan yang tidak diungkapkan secara langsung. Agar organisasi dapat bertahan, IKMASTI harus membentuk AD/ART dan menjadi lebih terbuka terhadap semua etnis.
Realitas Sosial Masyarakat Perkebunan Sawit: Studi Sosiologis Masyarakat Perkebunan Sawit di Desa Air Dekakah, Ketapang, Kalimantan Barat Riyokari, Arif Ar; Utomo, Alvianto Wahyudi; Kudubun, Elly Esra
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 1: Desember 2025
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v5i1.13926

Abstract

Desa Air Dekakah, merupakan salah satu wilayah di Kec. Manis Mata Kab. Ketapang Kalbar yang mengalami perkembangan pesat dalam sektor perkebunan kelapa sawit. Kehadiran industri ini telah mengubah banyak aspek kehidupan masyarakat setempat, mulai dari aspek ekonomi, sosial, hingga lingkungan. Struktur sosial dan ekonomi masyarakat telah berubah secara signifikan akibat maraknya perkebunan kelapa sawit di Desa Air Dekakah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji realitas sosial masyarakat Desa Air Dekakah pasca perkebunan kelapa sawit dan perspektif mereka terhadap transformasi sosial yang dihasilkan. Metodologi kualitatif deskriptif digunakan melalui wawancara dengan manajemen perusahaan, tokoh masyarakat, karyawan, keluarga mereka, petani kecil, dan pemilik usaha kecil. Temuan menunjukkan bahwa perkebunan kelapa sawit meningkatkan pendapatan, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan akses pendidikan dan layanan kesehatan. Namun, ketimpangan sosial, kemunduran lembaga tradisional, dan ketergantungan yang tinggi pada kelapa sawit, semuanya telah terjadi. Dengan menggunakan teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann, realitas sosial ini dipahami sebagai produk eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi.
Peran Aktor dalam Pelestarian Tradisi Caos Dhahar Kampung Ledoksari di Kelurahan Purwokinanti Persepektif Habitus Aritonang, Ulima Amanda; Hadiwijoyo, Suryo Suryosakti; Kudubun, Elly Esra
Jurnal Interaksi Sosiologi Vol 5 No 1 (2025): Jurnal Interaksi Sosiologi Volume 5 Nomor 1 2025
Publisher : Laborataorium Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/jis.v5i1.17688

Abstract

Tradisi Caos Dhahar meruapakan salah satu warisan budaya di Kampung Jagalan Ledoksari Kelurahan Purwokinanti Kemantren Pakualaman. Peran aktor dalam tradisi Caos Dhahar menjadi sangat penting dalam pelestarian tradisi di tengah perkembangan globalilasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran aktor dalam pelestarian Caos Dhahar dengan menggunakan persepektif Habitus Pierre Bourdieu. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui observasi,wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukan bahwa pelestarian tradisi tidak terlepas dari interaksi anatar aktor yang berada dalam satu arena. Setiap aktor membawa modal simbolik, sosial, dan kultural yang membentuk habitus masyarakat Ledoksari. Habitus masyarakat yang telah tertanam secara turun-temurun dalam menjaga tradisi, meskipun dihadapkan pada tantangan modernisasi dan pergeseran. Dengan demikian, pelestarian tradisi Caos Dhahar memperlihatkan antara habitus, modal, dan arena yang memungkinkan tradisi ini tetap bertahan sekaligus bertransformasi sesuai konteks sosial yang berkembang.
Studi Sosiologi tentang Interaksi Sosial Georg Simmel dalam Sosiasi Lokalisasi Tegal Panas Daud Paulus Elkana; Elly Esra Kudubun; Royke Roberth Siahainenia
Jurnal Interaksi Sosiologi Vol 4 No 1 (2024): Jurnal Interaksi Volume 4 Nomor 1 2024
Publisher : Laborataorium Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/jis.v4i1.12634

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini membahas mengenai fenomena kegiatan prostitusi di lokalisasi Tegal Panas, Desa Jatijajar, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk-bentuk interaksi menurut pandangan Georg Simmel dalam sosiasi lokalisasi Tegal Panas. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif, dengan menggunakan pendekatan konstruktivisme. Teknik Pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah melalui teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Selain itu, teknik analisis data yang digunakan meliputi tiga alur kegiatan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil yang ditemukan dari penelitian ini adalah bahwa interaksi para aktor utama di lokalisasi Tegal Panas, yaitu Pekerja Seks Komersial (PSK), Mami, dan Konsumen, dapat digambarkan sebagai sebuah hierarki. Dalam hal ini, posisi PSK adalah sebagai poros interaksi, sehingga dapat menjadi subordinat saat sedang berinteraksi dengan Mami, dan dapat menjadi superordinat saat sedang berinteraksi dengan Konsumen. Adapun posisi pengurus atau pihak keamanan lokalisasi Tegal Panas adalah sebagai pihak ketiga, yang sekaligus mewakili pihak pemerintahan dan warga sekitar. Adanya aturan-aturan serta kebijakan yang ditetapkan bagi para PSK dan para Mami, membuat pengurus atau pihak keamanan ini berada di posisi superordinat tertinggi dalam struktur sosial lokalisasi Tegal Panas. Kata Kunci: Georg Simmel, Interaksi Sosial, Lokalisasi, Prostitusi. ABSTRACT This research discusses the phenomenon of prostitution activities in Tegal Panas localization, Jatijajar Village, Bergas District, Semarang Regency. The purpose of this research is to find out the forms of interaction according to Georg Simmel’s view in Tegal Panas localization. The research method used in this research is descriptive qualitative method, using constructivist approach. The data collection techniques used in this research were interviews, observation, and documentation. In addition, the data analysis technique used includes three streams of activities, namely data reduction, data presentation, and conclucion drawing. The results found from this study are that the interaction of the main actors in Tegal Panas localization, namely Commercial Sex Workers (CSW), Mami, and Consumers, can be describe as a hierarchy. In this case, the CSW’s position is as the axis of interaction, so it can be subordinate when interacting with Mami, and can be superordinate when interacting with Consumers. The position of the management or security of Tegal Panas localization is as a third party, which also represents the government and local residents. The existence of rules and policies set for the CSW and the Mami, made the management or security in the highest superordinate position in the social structure of Tegal Panas localization. Keywords : Georg Simmel, Social Interaction, Localization, Prostitution.
Fenomena Labeling Kafir dan Sesat terhadap Komunitas Jemaat Ahmadiyah dan Pengaruhnya dalam Kehidupan Sosial Para Anggotanya Javier Ikram Wiradinata; Elly Esra Kudubun; Antik Tri Susanti
SOSMANIORA: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 3 (2025): September 2025
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/sosmaniora.v4i3.6383

Abstract

This study examines the phenomenon of labeling the Indonesian Ahmadiyya Community (JAI) as ‘infidel’ (kafir) and ‘heretical’ (sesat) and its profound influence on the social lives of its members. Using a qualitative approach that combines observation, in-depth interviews, and a literature review, analyzed through the framework of Labeling Theory, this research reveals how the stigma is not just a product of theological differences but is socially constructed and institutionalized through religious fatwas and state policies like the Joint Ministerial Decree (SKB 3 Menteri). This process effectively transforms differences in belief into a justification for systemic and widespread persecution. The findings indicate that the impacts of this labeling are multidimensional, ranging from brutal physical violence, such as in the Cikeusik tragedy and the destruction of mosques, to systemic discrimination that hinders access to public services and civil rights. Furthermore, the psychosocial consequences are significant, creating collective trauma, fear, and deep social isolation, with children being the most vulnerable victims. Amidst this wave of rejection, the Ahmadiyya community demonstrates resilience by developing a dual adaptation strategy: strengthening internal solidarity while adopting an accommodative external approach through positive social participation and a firm commitment to the principle of non-violence. This research concludes that the ‘heretical’ label has functioned as a master status that fundamentally shapes, limits, and defines the social reality of the Ahmadiyya community in Indonesia.