Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Pelaksanaan Penertiban Bangunan Bantaran Sungai Rokan Hilir Berdasarkan Perda No. 3 Tahun 2014 tentang Ketertiban Umum Ramadhan; Ardiansah; Andrizal
Jurnal Indragiri Penelitian Multidisiplin Vol. 6 No. 2 (2026): Jurnal Indragiri Penelitian Multidisiplin
Publisher : Indra Institute Research & Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu Peraturan Daerah yang merupakan kebijakan publik terkait pengendalian bangunan rumah di tepi sungai adalah Peraturan Daerah Kabupaten Rokan Hilir Nomor 3 Tahun 2014 tentang Ketertiban Umum. Kondisi yang terlihat di lapangan adalah bahwa pelaksanaannya perlu dilakukan secara tegas oleh Pemerintah Daerah. Pembentukan Peraturan Daerah Kabupaten Rokan Hilir Nomor 3 Tahun 2014 tentang Ketertiban Umum berangkat dari permasalahan yang terjadi di Kabupaten Rokan Hilir, yaitu masih banyak warga yang membangun rumah di Bantaran sungai, yang sebenarnya bertentangan dengan Peraturan Daerah tersebut. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah, pertama, untuk mengetahui pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Rokan Hilir Nomor 3 Tahun 2014, kedua untuk mengetahui faktor-faktor penghambatnya, dan ketiga untuk mengetahui upaya-upaya untuk mengatasi pembangunan rumah di bantaran sungai di Kabupaten Rokan Hilir.  Penelitian ini menggunakan metode penelitian sosiologis dan yuridis. Lokasi penelitian berada di Kabupaten Rokan Hilir sedangkan populasi dan sampelnya adalah semua pihak yang terkait dengan masalah yang diteliti. Penelitian ini menggunakan sumber data berupa data primer dan data sekunder, dan teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan kuesioner.  Dari penelitian ini, terdapat tiga poin utama yang dapat disimpulkan. Pertama, pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Rokan Hilir Nomor 3 Tahun 2014 tentang ketertiban umum, khususnya Pasal 18 ayat 1, Sudah Terlaksana namun belum dilaksanakan dengan maksimal. Hal ini karena Peraturan Daerah Kabupaten Rokan Hilir Nomor 3 Tahun 2014 tentang ketertiban umum belum disosialisasikan kepada masyarakat yang tinggal di bantaran sungai. Kedua, faktor penghambat dalam pelaksanaan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2014 tentang Ketertiban Umum di Desa Teluk Nilap adalah faktor hukum, penegakan hukum, budaya hukum, anggaran, sosialisasi hukum,. Ketiga, upaya yang dapat dilakukan di masa mendatang untuk pelaksanaan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2014 tentang Ketertiban Umum adalah dengan mengendalikan rumah-rumah di Bantaran sungai Kabupaten Rokan Hilir, memberikan sosialisasi, dan meningkatkan fasilitas dan infrastruktur dalam upaya melaksanakan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2014 tentang ketertiban umum.
RECONCILING MARRIAGE LAW AND POPULATION ADMINISTRATION LAW IN INDONESIA: THE LEGAL STATUS OF NIKAH SIRI AND THEIR FAMILIES Andrizal; Bambang Hermanto; Muhammad Fauzan
Familia: Jurnal Hukum Keluarga Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Fakultas Syariah UIN Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/familia.v7i1.567

Abstract

This article examines the normative misalignment between two Indonesian legal regimes that intersect over unregistered marriages (nikah siri): the marriage law regime, principally Law No. 1 of 1974 as amended by Law No. 16 of 2019, and the population administration regime under Law No. 24 of 2013 together with its implementing instruments, namely Minister of Home Affairs Regulation No. 9 of 2016 and Minister of Home Affairs Regulation No. 109 of 2019. The study asks two questions. First, how do these two regimes currently treat marriages that are religiously valid but not officially registered, and at which specific normative points do they diverge? Second, what targeted statutory and sub-statutory adjustments are required in order to align the marriage law regime with the documentary inclusivity already achieved within the population administration regime? The study employs a doctrinal legal method, supplemented by two key-informant interviews conducted with the Head of the Pasar Minggu Office of Religious Affairs and the Deputy for Coordination of Quality Improvement for Children, Women, and Youth at the Coordinating Ministry for Human Development and Culture. The interviews are used to illustrate institutional understandings of the two regimes rather than as a basis for empirical generalisation. The study finds that the two regimes operate on distinct regulatory objects: marriage law governs the formal validity and documentary proof of marriage, while population administration law governs the documentation of population events. The relationship between them is therefore best characterised as a partial normative misalignment rather than as a direct doctrinal conflict. On that basis, the article proposes a limited and operational adjustment, focused on three points: the textual separation of religious validity and administrative registration within Article 2 of Law No. 1/1974; the revision of Article 43 of Law No. 1/1974 and Article 100 of the Compilation of Islamic Law in line with Constitutional Court Decision No. 46/PUU-VIII/2010; and the inter-ministerial coordination of the SPTJM mechanism with the implementing regulations of the Marriage Law.
Implementasi Hak Konstitusional Pekerja Mendapatkan Dokumen Kependudukan Dari Perkawinan Tidak Tercatat Di Kelurahan Industri Tenayan: Penelitian Andrizal; Eddy Asnawi; Tatang Suprayoga; Bambang Hermanto; Zulhian Sultan Javari
Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Volume 4 Nomor 2 June - September
Publisher : PT PUSTAKA CENDEKIA GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70292/pchukumsosial.v4i2.378

Abstract

Registration of marriages under positive law in Indonesia is an administrative obligation of the state to guarantee the protection and fulfillment of human rights. However, in the Industrial Tenayan Village, Pekanbaru City, a group of casual laborers on a palm oil plantation from Nias Regency lack adequate population documents due to their unregistered marital status. The research method used is sociological law with an empirical approach. The results show that the policy transformation through Presidential Regulation No. 96/2018 brought a legal breakthrough in the form of the Absolute Responsibility Statement Letter (SPTJM), which facilitates the inclusion of unregistered married couples' status on Family Cards (KK) and the issuance of birth certificates for children. However, this implementation is hampered by the socio-economic factors of migrant workers, strict work schedules, the lack of original documents, and residents' psychological fear of administrative bureaucracy.
Literasi Hak Konstitusional Memperoleh Bantuan Hukum Gratis melalui Administrasi Kependudukan di MAN 4 Pekanbaru Andrizal Andrizal; Eddy Asnawi Eddy; Tatang Suprayoga Tatang; Wilmar Redixon Lumban Gaol Wilmar; Zulhian Sultan Javari
JUDIKAT: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2026): JUDIKAT: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Institut Bisnis dan Teknologi Pelita Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The low level of legal literacy has resulted in many students at Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 4 Pekanbaru having limited understanding of their constitutional right to obtain free legal aid, particularly for economically disadvantaged citizens, as well as the importance of civil registration documents as a prerequisite for accessing such services. This community service program aimed to enhance students’ knowledge and understanding of the constitutional right to free legal aid and the civil registration requirements necessary to access legal assistance. The target participants were students from low-income families residing in Muara Fajar Village, Rumbai District, and surrounding areas who are vulnerable to legal issues arising from juvenile delinquency, including drug abuse, gang violence, and theft. The program was implemented through legal education sessions, lectures, and interactive discussions, with participants' learning outcomes evaluated using pre-test and post-test assessments. The partner institution actively supported the program by providing the venue, coordinating participants, and facilitating the implementation of activities. The findings demonstrated a significant improvement in participants’ understanding of the constitutional right to free legal aid, eligibility criteria, and the required civil registration documents. Furthermore, the program strengthened students’ legal awareness and encouraged the appropriate utilization of government-funded legal aid services. The outputs of this program include enhanced community legal literacy, scientific publication, and the dissemination of community service outcomes as part of the implementation of the university's Tri Dharma responsibilities.
IMPLEMENTASI VERIFIKASI PERSYARATAN KERJASAMA PUBLIKASI ANTARA PERUSAHAAN PERS DENGAN PEMERINTAH KABUPATEN ROKAN HULU Syafri Is; Ardiansah Ardiansah; Andrizal Andrizal
ANDREW Law Journal Vol. 5 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : ANDREW Law Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61876/alj.v5i1.217

Abstract

Kerjasama publikasi antara pemerintah daerah dan perusahaan pers merupakan instrumen penting dalam menjamin transparansi dan akuntabilitas informasi publik. Untuk itu, Kabupaten Rokan Hulu menetapkan Peraturan Bupati Nomor 7 Tahun 2022 sebagai pedoman kerja sama publikasi yang profesional dan terstandar. Namun, dalam implementasinya, kebijakan ini masih menghadapi berbagai tantangan, terutama pada aspek verifikasi persyaratan sebagai mekanisme penjamin kredibilitas dan profesionalisme media mitra. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi verifikasi persyaratan kerjasama publikasi antara perusahaan pers dan pemerintah Kabupaten Rokan Hulu. Penelitian menggunakan metode hukum sosiologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun implementasi telah dilakukan secara sistematis, masih terdapat kendala pada pemahaman perangkat daerah, kepatuhan prosedur, perencanaan dan penganggaran, serta integrasi sistem pelaporan. Kesimpulannya, pertama, implementasi Peraturan Bupati Rokan Hulu Nomor 7 Tahun 2022 telah menunjukkan upaya penataan kerjasama publikasi melalui koordinasi Diskominfo, namun masih terkendala oleh kurangnya pemahaman perangkat daerah, praktik kerjasama konvensional, perencanaan dan penganggaran yang belum optimal, sistem pelaporan yang belum terintegrasi, serta dilema verifikasi media antara legalitas formal dan dinamika media online. Kedua, implementasi verifikasi persyaratan menghadapi hambatan sistemik berupa keterbatasan pengawasan DPRD, ketiadaan standar teknis, kekhawatiran terhadap independensi pers, proses administrasi dan pencairan pembayaran yang lambat, persyaratan administratif yang ketat, praktik kerjasama yang kurang transparan, serta keterbatasan sumber daya manusia dan infrastruktur media lokal. Ketiga, optimalisasi implementasi memerlukan penyusunan standar teknis yang operasional, peningkatan transparansi dan akuntabilitas, penyederhanaan administrasi melalui sistem digital terintegrasi, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia aparatur dan insan pers secara berkelanjutan.