Claim Missing Document
Check
Articles

Kajian Risiko Pajanan Dermal Insektisida pada aktivitas Cold Fogging kepada Teknisi Pengendali Hama PT. X Jakarta Lutfi Muzaqi; Mila Tejamaya
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2019): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, Juli 2019
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.27 KB) | DOI: 10.35473/pro heallth.v1i2.242

Abstract

Insecticides are one type of pesticide that is widely used in the community to protect public health. History has proven that the development of pesticides and insecticides has succeeded in reducing the rate of malaria, filariasis, onchocerciasis, and other infectious diseases. However, toxicity of pesticide may expose to pest control officer as well. During the process of manufacturing, mixing and applying insecticides, workers are exposed to chemical hazards from thr active ingredient of pesticide and risk to their health. In this study, insecticide dermal exposure to the pest controll technicians during cold fogging job was assessed using the semi-quantitative method, called DREAM (Dermal Risk Exposure Method). The unit of analysis consisted of pouring the insecticides from a concentrated bottle into a measuring cup, mixing insecticides with water, pouring the insecticide mixture into the fogging machine, and perform cold fogging. The amount of total dermal exposure was influenced by adsorption from emissions, desposition and transfer, and type of active ingredient, hand protection, and length of exposure. It was found that total dermal exposure during the activity of pouring insecticides from the concentrate bottle into a measuring cup was 11.90 (very low dermal exposure), during mixing waterbased insecticides was 11.90 (very low dermal exposure), pouring insecticide into the machine was 29.40 ( low dermal exposure) and cold fogging activities was 33.61 (moderate dermal exposure). Total actual dermal exposure were combination of those activities and gave value 86,83 that fell into moderate risk category.
Assessment of Occupational Heat Stress in A Selected Indonesian Steel Mill Fauzan Huwaidi Ridwan; Siti Marwanis Anua; Bayu Suryo Aji; Ris Nurdin; Muhammad Hidayat Rizky; Mila Tejamaya
The Indonesian Journal of Occupational Safety and Health Vol. 12 No. 2 (2023): The Indonesian Journal of Occupational Safety and Health
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/ijosh.v12i2.2023.292-303

Abstract

Introduction: Workers in the Indonesian steel manufacturing industry are subject to many heat stress risk factors, ranging from the equatorial climate to physically demanding work tasks which may result in heat- related illnesses and reduced worker productivity. Hence, a study was conducted at Steel Mill X to assess the level of heat stress among its workers, determine the association of related factors and to provide meaningful recommendations. Methods: This study uses a descriptive cross-sectional method to assess workers' heat risk level and its association with individual, occupational and heat stress symptoms. An online questionnaire was used to collect primary data yet WBGT monitoring data were provided by Steel Mill X as secondary data. Results: The heat stress risk level score ranged from 48 to 140 (M=89.8, SD=±31.0). 122 workers were in the very high-risk category (75.8%). Occupational factors which had a statistically significant association with heat stress risk category includes: work area, length of exposure, air movement, hot surfaces, confined space, clothing factors and WBGT; while heat stress-related symptoms which were associated include headache, fatigue, profuse sweating, extreme thirst and increased body temperature. The absence of significant association between individual factors and heat stress risk category eliminates it as a confounding factor, suggesting occupational factors was the main variable. Conclusion: Control measures such as improving the supply of drinking water and maintenance of cooling systems should be implemented as soon as possible to prevent heat stress among workers.
BUDAYA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) KOTA BEKASI TAHUN 2023 Cahyo Ari Prastiyo; Mila Tejamaya
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 4 No. 2 (2023): JUNI 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v4i2.15560

Abstract

Pratik kerja dalam pendidikan teknologi dan kejuruan di Indonesia memiliki risiko keselamatan dan kesehatan kerja (K3) bagi para guru, siswa, teknisi serta dapat berdampak terhadap masyarakat sekitar. Kecelakaan kerja yang terjadi paling banyak disaat pembelajaran di sekolah yaitu cedera akibat mesin dan peralatan, electrical shock, limb cuts, benda jatuh, terbakar, jatuh dari ketinggian, faktor biologis dan keracunan serta belum terdapat data yang komprehensif mengenai implementasi K3 dan budaya K3. Penelitian ini akan mengkaji mengenai budaya K3 di enam SMK Kota Bekasi tahun 2023. Metode penelitian ini adalah deskriptif observasional dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dengan menggunakan pendekatan The Egg Aggregated Model (TEAM) guna menggambarkan budaya K3 yang terdiri dari tiga dimensi yaitu dimensi organisasi, dimensi teknologi dan dimensi manusia. Data pengukuran dimensi organisasi menggunakan pedoman wawancara, dimensi organisasi menggunakan observasi dan dimensi manusia menggunakan kuesioner online yang berisi pernyataan pengetahuan 5 butir, persepsi 10 butir, sikap 10 butir dan kesadaran berperilaku K3 10 butir. Kuesinoer telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Responden penelitian ini terdiri dari 1.505 siswa, 63 guru dan 6 tenaga pendidikan, sedangkan informan kunci yaitu kepala sekolah atau kepala program jurusan di SMK berjumlah 6 orang. Dalam penelitin ini, dimensi budaya K3 dikategorikan menjadi baik, cukup baik atau kurang baik. Penelitian ini menemukan bahwa budaya K3 di enam SMK Kota Bekasi sudah cukup baik untuk semua dimensi budaya K3. Dari 31 sub-dimensi yang belum dipenuhi seluruh sekolah yang diteliti adalah staf K3 dan penilaian risiko untuk dimensi organisasi serta petunjuk titik kumpul untuk dimensi teknologi.  
ANALISIS FAKTOR RISIKO GANGGUAN MUSKULOSKELETAL PADA PEKERJA KANTOR: SEBUAH TINJAUAN PUSTAKA Debby Nurtanti; Mila Tejamaya
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 4 No. 2 (2023): JUNI 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v4i2.15567

Abstract

Gangguan muskuloskeletal atau Musculoskeletal Disorders (MSDs) diderita oleh 1,71 miliar populasi seluruh manusia di dunia, umumnya ditandai dengan sakit yang menetap sehingga menyebabkan terbatasnya mobilitas, ketangkasan dan menurunnya fungsi otot rangka dalam bekerja (WHO, 2022). Pada tahun 2010, 45,9% pekerja di Uni Eropa melaporkan menderita nyeri punggung, 44,5% melaporkan menderita nyeri otot pada bahu, leher dan tungkai atas dan 33,8% melaporkan menderita nyeri otot pada tungkai bawah (Roquelaure, 2018). Di Indonesia, prevalensi penyakit sendi atau gangguan muskuloskeletal adalah sebesar 7,30%, berdasarkan data dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia dalam RISKESDAS 2018(KEMENKES-RI, 2018). Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan menggunakan kata kunci faktor risiko, gangguan muskuloskeletal, dan pekerja kantor melalui database elektronik. Berdasarkan jurnal atau artikel yang diperoleh, faktor risiko gangguan muskuloskeletal pada pekerja kantor diantaranya yaitu postur kerja, jenis kelamin, umur, Indeks Masa Tubuh (IMT), pengalaman kerja, aktivitas fisik / kebiasaan olahraga, kebiasaan merokok, masalah kesehatan / penyakit komorbid, jam kerja, waktu rehat, desain tempat / peralatan kerja dan stress kerja. Dari faktor-faktor ini dapat menjadi masukkan bagi perusahaan dalam merumuskan kebijakan atau prosedur serta dalam membuat program promotif dan preventif-nya untuk mengurangi angka kejadian gangguan muskuloskeletal pada pekerja kantor.
Analysis of Demographic Factors Affecting Mental Health Among Workers at PT X Mining Company in 2023 Eko Susanto; Mila Tejamaya
Jurnal Indonesia Sosial Sains Vol. 5 No. 06 (2024): Jurnal Indonesia Sosial Sains
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jiss.v5i06.1159

Abstract

The mining industry is closely related to high-risk health and safety, including mental health. This study aims to investigate the association of demographic variables (age, length of service, gender, education level, employment status, and work location), on mental health symptoms in workers in mining companies PT X. The DASS-21 instrumentation was used to determine mental health symptoms based on levels of depression, anxiety, and stress. The number of respondents in this study was 764 employees were participated and it was found that 71.2% of respondents did not experience mental health problems, 15.3% experienced mild mental health symptoms, 10.4% moderate, and 3.1% severe mental health symptoms. There is a significant relationship between the age variable and the level of depression (p-value 0.04), the significant relationship between age, education level, length of service, gender, and the level of anxiety (p-value 0.04; 0.005; 0.000; dan 0.007), as well as the relationship between age and level of education and stress in workers (p-value 0.000; dan 0.016). From the research, it can be concluded that the older the worker, the lower the level of depression, anxiety, and work stress. Male employees have lower levels of anxiety and stress than women, and a higher level of education plays a role in increasing anxiety and stress in workers.
Tinjauan Literatur : Dampak Kelelahan Kerja pada Kinerja dan Kesehatan Pekerja di Industri Pertambangan Dimas Kusuma Wardhana; Mila Tejamaya
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 6 No. 02 (2024): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v6i02.148

Abstract

Industri pertambangan sering kali melibatkan pekerjaan fisik yang berat dan lingkungan kerja yang keras. Akibatnya, pekerja sering mengalami tingkat kelelahan yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan tinjauan sistematis dan meta-analisis terhadap literatur yang ada untuk mengidentifikasi dan menganalisis dampak kelelahan kerja pada kinerja dan kesehatan pekerja di industri pertambangan. Penelitian ini menggunakan metode Narrative Literature Review dengan pengumpulan data dilakukan melalui pencarian literatur menggunakan basis data akademik seperti Scopus dan Google Scholar, menggunakan kata kunci yang relevan, dalam rentang waktu antara tahun 2014 hingga 2024. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis dalam tiga tahapan yakni reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa dampak kelelahan kerja pada kinerja dan kesehatan pekerja di industri pertambangan sangat signifikan. Secara kinerja, kelelahan kerja dapat mengakibatkan penurunan efisiensi, produktivitas, dan keselamatan kerja. Sedangkan dari segi kesehatan, kelelahan kerja dapat menyebabkan berbagai masalah fisik dan mental pada pekerja. Sementara itu, dampak mental termasuk stres, kecemasan, depresi, dan gangguan tidur, yang semuanya dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis dan emosional pekerja.
PERSEPSI KEBISINGAN SEBAGAI PREDIKTOR PAJANAN KEBISINGAN PADA PEKERJA INDUSTRI PULP DI SUMETERA SELATAN, INDONESIA Alrasyid, Harun; Tejamaya, Mila
E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 5 (2023): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2023.V12.i05.P05

Abstract

Noise Induced Hearing Loss (NIHL) adalah penyakit akibat kerja yang paling umum di dunia. Diperkirakan 1,3 miliar orang menderita gangguan pendengaran akibat paparan kebisingan. Industri pulp merupakan industri manufaktur yang memiliki karakteristik dengan tingkat paparan kebisingan yang sangat tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi tingkat paparan kebisingan pada pekerja industri pulp di Indonesia dengan membandingkan metode subjektif dan objektif dan menentukan kehandalan metode subjektif dalam melakukan prediksi pajanan sebenarnya. Sebuah studi cross-sectional dilakukan untuk menentukan tingkat pajanan kebisingan pekerja, mengukur persepsi kebisingan, mengevaluasi status pendengaran pekerja dari hasil MCU, dan menentukan hubungan antara tingkat paparan kebisingan, persepsi pendengaran dan status pendengaran. Penelitian ini melibatkan 138 pekerja dari berbagai Similar Exposure Groups (SEG). Tingkat kebisingan di area industri pulp diukur dengan integrated SLM, data persepsi pendengaran dikumpulkan melalui kuesioner dan status pendengaran diambil dari hasil Medical Check Up tahun 2022. Hasil penelitian menunjukkan kadar Leq1-minute berkisar antara 63,2 dBA hingga 100,65 dBA. Sekitar 19,6% pekerja menunjukkan audiogram abnormal dari hasil MCU. Terdapat hubungan yang signifikan antara status pendengaran dan tingkat paparan kebisingan pekerja dan terdapat hubungan signifikan antara persepsi kebisingan terhadap nilai Leq pajanan kebisingan. Persepsi kebisingan dapat digunakan sebagai alat ukur dalam screening menilai pajanan kebisingan.
Penilaian Risiko Inhalasi Penggunaan Bahan Kimia pada Air Umpan Boiler di Fasilitas Produksi Minyak dan Gas di PT X: Inhalation Risk Assessment of Chemicals utilization i Boiler feedwater in oil and gas production facility at PT X Usman, Mirsupi; Mila Tejamaya
Promotif : Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 12 No. 1: JUNE 2022
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.659 KB) | DOI: 10.56338/pjkm.v12i1.2436

Abstract

Pengunaan bahan-bahan kimia berbahaya yang semakin meningkat didalam kegiatan produksi minyak dan gas semakin memunculkan kekhawatiran akan potensi bahaya kesehatan bagi pekerja. Salah satu kegiatannya adalah penambahan bahan kimia yaitu Amerzine (CAS: 302-01-2), Adjunct B (CAS:7558-79-4), GC Alkaline concentrate (1310-73-2) dan SLCC-A (CAS:110-91-8) pada air umpan boiler (boiler feedwater). Air umpan boiler atau boiler feedwater adalah air yang di salurkan ke dalam ketel uap (boiler) yang kemudian menghasilkan uap panas yang dapat digunakan dalam proses produksi minyak dan gas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat risiko dan tindakan prioritas dari risiko pajanan inhalasi penggunaan bahan kimia pada boiler feedwater. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus di fasilitas produksi minyak dan gas kapal FPSO PT X. Metode yang digunakan adalah Chemical Health Risk Assessment (CHRA) yang diperkenalkan oleh DOSH (Department Occupational Health and Safety) Malaysia, ditentukan oleh faktor Hazard Rating (HR), Exposure Rating (ER), dan Risk Rating (RR), dimana Exposure Rating (ER) ditentukan oleh nilai frequency-duration rating (FDR) dan magnitude rating (MR). Hasil CHRA menunjukkan bahwa tingkat risiko (RR) dari bahan kimia yang digunakan, tiga diantaranya yaitu amerzine (hygdrazine) skor :12, Adjunct B (sodium phosphate) skor: 9, SLCC-A (morpholine) skor: 9 yang ketiganya masuk dalam kategori risiko sedang (moderate risk) dan satu bahan kimia GC Alkaline concentrate (sodium hydroxide) skor: 3 kategori risiko rendah (low risk). Hasil risk rating (RR) kategori sedang (moderate) menentukan pula tindakan prioritas untuk pengendalian potensi bahaya dari bahan kimia yang digunakan, yaitu Action Priority (AP-2), dimana aktvitas pekerjaan tidak harus dihentikan segera ketika melakukan upaya pengendalian risiko, dengan syarat praktek kerja aman diterapkan hingga proses penerapan tindakan pengendalian diterapkan secara permanen. Selanjutnya merekomendasikan tahapan pengendalian bahaya (hierarchy control) bertujuan menurunkan tingkat risiko dari bahaya pajanan inhalasi ke kondisi ALARP sehingga tercipta lingkungan kerja yang aman dan sehat bagi pekerja. Diharapakan bisa dilanjutkan penilaian risiko secara semi-kuantitatif atau kuantitatif.
Analisis Faktor Risiko Kelelahan Tidak Terkait Pekerjaan pada Pengemudi Dump Truck PT X Tahun 2022: Perbandingan Tiga Kuesioner Pengukuran Kelelahan Secara Subjektif : Analysis of Nonwork-Related Fatigue Risk Factors on Dump Truck Drivers PT X in 2022: Comparison of Three Subjective Fatigue Measurement Aziz Rofi'i; Tejamaya, Mila
Promotif : Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 12 No. 1: JUNE 2022
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.928 KB) | DOI: 10.56338/pjkm.v12i1.2454

Abstract

Pengemudi dump truck merupakan salah satu jenis pekerjaan yang beresiko mengalami kelelahan karena beban kerja yang cukup tinggi. Kuesioner Fatigue Assessment Scale (FAS), Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) dan Swedish Occcupational Fatigue Inventory (SOFI) merupakan tiga instrumen yang sering digunakan untuk mengukur kelelahan kerja pada berbagai jenis pekerjaan karena kemudahan penggunaannya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan membandingkan validitas dan reliabilitas FAS, IFRC dan SOFI dan mengukur kelelahan pada pengemudi dump truck di PT X Jobsite TB serta menilai hubungan antara faktor risiko kelelahan tidak terkait pekerjaan dengan kelelahan pada pengemudi. Penelitian dilakukan terhadap 97 pengemudi dump truck. Sampel untuk penelitian ini ditentukan dengan menggunakan simple random sampling, uji validitas dan reliabilitas menggunakan Pearson Product Moment dan Alpha Cronbach's. Sedangkan uji korelasi antara faktor risiko kelelahan tidak terkait pekerjaan dengan kelelahan pengemudi dump truck yang diukur menggunakan 3 (tiga) kuesioner kelelahan adalah uji Chi Square karena data berdistribusi normal. Semua kuesioner dinyatakan valid dan reliabel namun SOFI memiliki validitas dan reliabilitas yang memadai untuk mengukur kelelahan kerja pada pengemudi dump truck. Faktor risiko kelelahan tidak terkait pekerjaan yaitu usia, waktu tidur, pekerjaan sampingan dan konsumsi kafein mempunyai hubungan dengan terjadinya kelelahan pada pengemudi dump truck.
Perbandingan Risiko Kardiovaskuler Menggunakan Metode Framingham, WHO Chart dan ASCVD Pada Pekerja PT. X Tahun 2021: Comparison of Cardiovascular Risk Using the Framingham Method, WHO Chart and ASCVD in PT. X Year 2021 Anharudin; Mila Tejamaya
Promotif : Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 12 No. 1: JUNE 2022
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.841 KB) | DOI: 10.56338/pjkm.v12i1.2465

Abstract

Latar Belakang: Penyakit kardiovaskular (CVD) adalah penyebab kematian nomor satu secara global, dan identifikasi lebih dini terhadap risiko tinggi sangat penting untuk mencegah penyakit CVD dan mengurangi biaya perawatan kesehatan. Mengetahui faktor risiko individu CVD dan memprediksi lebih awal risiko CVD akan membantu manajemen perusahaan mengelola Pekerja berisiko CVD dengan lebih baik. Jurnal ini juga akan mempelajari sensitivitas metode prediksi CVD Framingham Score (FRS) dan ASCVD terhadap WHO. Metode: Desain studi penelitian ini adalah cross-sectional, data sekunder didapat dari 287 Pekerja yang melakukan pemeriksaan kesehatan di PT. X tahun 2021. Faktor risiko CVD dihitung dengan metode FRS, WHO dan ASCVD, juga dianalisis untuk mengetahui signifikansi faktor risiko terhadap potensi terjadinya CVD menggunakan program SPSS version 26 for Windows. Hasil: Penelitian ini melibatkan 278 sampel, terdiri dari 87,8% laki-laki dan 12,2% perempuan. Perhitungan risiko CVD pada sample didapatkan hasil tinggi berdasarkan FRS, WHO dan ASCVD masing-masing sebagai berikut 11,5%, 1,1% dan 2,2%. Semua faktor risiko CVD meliputi gender, usia, kolesterol total, HDL, tekanan darah sistol, status diabetes, status merokok mempunyai pengaruh signifikan pada FRS, sedang WHO yang tidak berpengaruh signifikan pada BMI dan HDL ATP III, untuk ASCVD signifikan hanya pada gender, usia, tekanan darah sistolik dan status merokok.Kesimpulan: Dari penelitian kami didapatkan bahwa ketiga model (FRS, WHO Chart dan ASCVD) memiliki hasil kalkulasi yang berbeda terhadap faktor risiko CVD yangada dimana FRS memprediksi paling banyak beresiko tinggi dibandingkan dengan WHO dan ASCVD. Penelitian kami sejalan dengan beberapa penelitian bahwa metode WHO dan ASCVD mengidentifikasi hanya sedikit jumlah sampel mempunyai risiko CVD yang tinggi. Faktor risiko CVD utama pada penelitian kami yang signifikan pada 3 metode prediksi risiko baik menggunakan FRS, WHO dan ASCVD adalah usia, tekanan darah sistol dan merokok.