Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Analisis Sosiologi Persepsi Masyarakat Desa Banjarsari Terhadap Profesi Non-Industri Nafian, Nuril Nuzhulah; Legowo, Martinus
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 7 No. 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v7i2.21053

Abstract

Diversifikasi mata pencaharian yang terjadi di masyarakat memicu timbulnya stratifikasi antar profesi. Zaman yang semakin modern menciptakan karakter masyarakat yang terus menginginkan kesempurnaan dalam pemenuhan kebutuhan hidup mereka. Masyarakat beromba-lomba mencari pendapatan yang sesuai dengan kebutuhan mereka yang juga semakin besar. Alhasil, masyarakat menggolongkan mana profesi yang dianggap baik untuk dilakukan, serta profesi yang kurang cocok untuk dilakukan. Dunia yang terus berkembang menuju era industrialisasi mendorong berkembangnya tipikal masyarakat industri. Beranjak dari sinilah kemudian pekerjaan sebagai karyawan swasta dan buruh pabrik dipandang sebagai pekerjaan paling pas untuk dilakukan sebagian besar orang. Penelitian ini bertujuan menguraikan mengapa banyak masyarakat yang menilai bahwa pekerjaan industri seperti karyawan dan buruh pabrik dianggap lebih prospektif dan menguntungkan daripada profesi non-industri. Fenomena ini akan diteliti menggunakan teori perubahan sosial fungsional dan teori tindakan sosial. Hasil dari penelitian ini ialah bahwasanya masyarakat menganggap profesi karyawan industri lebih baik dari profesi non-industri dikarenakan masyarakat industri beranggapan bahwa terdapat banyak kelebihan dan keuntungan  dengan bekerja sebagai karyawan industri. Sedangkan profesi wirausaha atau pekerjaan non-industri lainnya dianggap memiliki banyak resiko dan keuntungan yang tidak pasti. Hal tersebut sebenarnya bisa diatasi dengan pengoptimalan sumber daya manusia yang terampil dan kreatif di Indonesia. Abstract Diversification of livelihoods that occur in the community triggers the emergence of stratification between professions. An increasingly modern era creates the character of a society that continues to want perfection in meeting the needs of their lives. People are competing to find income that suits their needs which are also getting bigger. As a result, people classify which professions are considered good to do, as well as professions that are not suitable to do. The world that continues to develop towards the era of industrialization encourages the development of typical industrial society. Starting from here then the job as a private employee and factory worker is seen as the most appropriate job for most people to do. This study aims to describe why many people consider that industrial work such as employees and factory workers is considered more prospective and profitable than non-industrial professions. This phenomenon will be examined using the theory of functional social change and social action theory. The result of this study is that the community considers the profession of industrial employees better than the non-industrial profession because the industrial community thinks that there are many advantages and advantages by working as an industrial employee. While the profession of entrepreneurship or other non-industrial jobs is considered to have many risks and uncertain benefits. This can actually be overcome by optimizing skilled and creative human resources in Indonesia.
STIGMA DAN KRIMINALITAS : STUDI KASUS STIGMA DUSUN BEGAL DI BANGKALAN MADURA Dayanti, Fitria; Legowo, Martinus
Jurnal Ilmiah Dinamika Sosial Vol 5 No 2 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.932 KB) | DOI: 10.38043/jids.v5i2.3202

Abstract

Adanya tindak kriminal begal di sebuah daerah membawa pengaruh buruk pada daerah tersebut. Kasus kriminal begal yang terjadi di Dusun Candih membawa permasalahan baru pada nama baik dan citra Dusun. Stigma dan pelabelan buruk mulai bermunculan pada dusun tersebut. Studi ini memfokuskan pada bentuk-bentuk stigma yang diterima oleh Masyarakat Dusun Candih, serta respon dari masyarakat atas stigma yang diberikan.  Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan subjek penelitian yakni tetuah dusun dan masyarakat asli Dusun Candih. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori stigma dari Erving Goffman. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan dengan wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis interaktif dengan langkah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini yakni bentuk-bentuk stigma yang diterima oleh masyarakat Dusun Candih. Stigma yang ada bersifat verbal dan non verbal. Stigma verbal berupa julukan atau pelabelan pada dusun yakni  julukan “Dusun Begal”. Sedangkan stigma non verbal berupa anggapan bahwa semua masyarakat Dusun Candih merupakan pelaku begal yang identik dengan kejahatan dan tindak kriminal. Selain itu stigma non verbal juga mengarah pada pandangan yang merendahkan atau bahkan menjelek-jelekkan masyarakat Dusun Candih.
Tren Bersepeda sebagai Kebiasaan Baru Pada Masa Pandemi Covid-19 Di Kota Surabaya Auliyah, Dhiyaul; Legowo, Martinus
Jurnal Dinamika Sosial Budaya Vol. 23 No. 2 (2021): Desember (2021)
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jdsb.v23i2.3429

Abstract

Keberadaan coronavirus atau Covid-19 sebagai pandemi di Indonesia membuat perubahan yang signifikan dalam kehidupan masyarakat. Semua orang semakin giat untuk menjaga kesehatan tubuh mereka termasuk dengan rutin melakukan olahraga. Bersepeda termasuk olahraga yang biasa saja kemudian menjadi tren di masa pandemi ini karena banyak diminati masyarakat, terkhususnya masyarakat Surabaya. Penelitian kali ini berangkat dari fenomena tren bersepeda sebagai kebiasaan baru yang ada pada masa pandemi Covid-19 di Kota Surabaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memaparkan latar belakang ketertarikan masyarakat dan dampak yang dirasakan setelah ikut dalam tren bersepeda, sekaligus memaparkan analisis temuan data dengan teori yang relevan. Metode penelitian yang digunakan yakni pendekatan deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan studi literatur. Hasil dari penelitian ini adalah aktivitas bersepeda menjadi tren baru pada masa pandemi di Kota Surabaya karena tingginya minat masyarakat yang didasari faktor internal dalam diri mereka masing-masing. Dampak yang diterima dari aktivitas ini juga bergantung pada pemikiran individu, mulai dari tubuh yang semakin sehat dan kuat juga kesenangan yang didapat saat menjalani aktivitas bersepeda.
FENOMENA PENGEMIS KELUARGA PADA MASA PANDEMI COVID-19 (Studi di Sentra Wisata Kuliner Manukan) Rusadi, Millena Apriliani; Legowo, Martinus
Jurnal Dinamika Sosial Budaya Vol. 25 No. 1 (2023): Juni (2023)
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jdsb.v25i1.4270

Abstract

Pandemi covid-19 yang terjadi telah melumpuhkan berbagai sektot. Salah satunya sektor ekonomi. Banyak perusahana yang melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara besar-besaran. Hal ini berdampak pada meningkatnya jumlah pengangguran. Masalah penggangguran ini dapat dijumpai pada perkotaan yang banyak terdapat masyarakat migrasi. Masyarakat migrasi yang tidak mampu bersaing akan cenderung bekerja pada sektor informal seperti pengemis. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi Alfred Schutz. Lokasi peelitian berada di Sentra Kuliner, Manukan. Subjek penelitian adalah pengemis dewasa (sudah menikah dan memiliki anak) yang membawa anggota keluarga pada saat menjalankan tindakan mengemis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa relasi pengemis dengan sentra kuliner dikarenakan terdapat aktivitas sosial ekonomi yang menjadi ciri dalam memilih tempat mengemis. Adapun because of motive (motif sebab) diantaranya aspek pendidikan, sosial budaya, ekonomi, dan keluarga. Selanjutnya in order to motive (motif tujuan) adalah untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari di masa pandemi covid-19.
Social Capital and Subjective Well-Being (SWB) of Public Rental Apartment Occupants: Study at Jambangan Rusun Surabaya Rinawati, Herrukmi Septa; Sadewo, F X Sri; Legowo, Martinus
Jurnal Bina Praja Vol 9 No 2 (2017)
Publisher : Research and Development Agency Ministry of Home Affairs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21787/jbp.09.2017.321-333

Abstract

Housing needs in major cities in Indonesia are increasing due to urbanization. The solution taken by the government is to provide rental housing (rusunawa). Low income families who initially live in slums need some adaption when moving into the rusunawa. The purpose of this research is to analyze the socio-demographic relationships of families, social capital and subjective well-being (SWB). Using quantitative method and household survey, this study was conducted by giving questionnaires and interview to 90 residents of 396 rusunawa units. The study use regression analysis. Thus, the result shows that social capital, the social network, and trust, determine the SWB. If SWB is an indicator of the process of adaption of a person or family in a new place, in this study, we concluded that these two variables were very important for the resident. Using social networking and trust, these residents can adjust to a new housing milieu.