Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : JURNAL ILMIAH PLATAX

PERKEMBANGAN EKONOMI SUBSEKTOR PERIKANAN DI KABUPATEN MINAHASA SELATAN PROVINSI SULAWESI UTARA Aldy Adrianus Tatali; Eddy Mantjoro; Florence V. Longdong
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 1 No. 2 (2013): EDISI JANUARI - APRIL 2013
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.1.2.2013.1249

Abstract

PERKEMBANGAN EKONOMI SUBSEKTOR PERIKANAN DI KABUPATEN MINAHASA SELATAN PROVINSI SULAWESI UTARA1 Economic Development Fisheries Subsector in the South Minahasa Regency Aldy Adrianus Tatali2, Eddy Mantjoro3, Florence V Longdong3   ABSTRACT The Development of fisheries in North Sulawesi refers to fisheries subsector progress and national marine. Also look at the potential of natural resources, so that fisheries and marine sector to be one of the flagship program of economic development of North Sulawesi. By knowing the great potential of fisheries resources and the development of fishing effort, aquaculture and fisheries management efforts, the government set the fisheries subsector as one driving force of development. Fishermen fishing in coastal South Minahasa regency fishing along the coast and in the Celebes Sea. Most fishermen only catch about 2-3 miles away from the coast. For fishermen purse seine at a distance far enough from the coast 7-12 mill. Mariculture potential to be developed because it is supported by the marine and coastal areas of South Minahasa regency broad and potent. Some commodities, seeded mariculture in South Minahasa Regency is seaweed, grouper, giant travelly (bobara) and sea cucumbers. Production of processed fishery products in South Minahasa Regency is very diverse both in the traditional and modern though. Commodities processed fishery products in the form of wooden fish, salted fish, smoked fish/fufu and bakasang. Keywords : economic, development, fisheries   ABSTRAK Pengembangan usaha perikanan di Sulawesi Utara mengacu pada pembangunan subsektor perikanan dan kelautan nasional. Juga melihat potensi sumberdaya alam, sehingga dari sektor perikanan dan kelautan menjadi salah satu program unggulan pembangunan ekonomi Sulawesi Utara. Dengan mengetahui potensi sumberdaya perikanan yang besar dan perkembangan usaha penangkapan, budidaya dan usaha pengelolaan hasil perikanan maka pemerintah menetapkan subsektor perikanan sebagai salah satu motor penggerak pembangunan. Nelayan perikanan tangkap di pesisir Kabupaten Minahasa Selatan menangkap ikan sepanjang pantai maupun di Laut Sulawesi. Kebanyakan nelayan tradisional hanya menangkap ikan sekitar 2-3 mil jauhnya dari pantai. Bagi nelayan Purse Sein cukup jauh dengan jarak 7-12 mill dari pantai. Budidaya laut sangat potensial untuk dikembangkan karena di dukung oleh wilayah laut dan pesisir Kabupaten Minahasa Selatan yang luas dan potensial. Beberapa komoditi yang menjadi unggulan budidaya laut di Kabupaten Minahasa Selatan adalah rumput laut, ikan kerapu, ikan kuwe (bobara) dan teripang. Produksi olahan hasil perikanan di Kabupaten Minahasa Selatan sangat beragam baik yang di olah secara tradisonal maupun modern. Komoditas olahan hasil perikanan itu berupa ikan kayu, ikan asin, ikan asap/fufu dan bakasang.   Kata kunci : ekonomi, pengembangan, perikanan   1 Bagian dari skripsi 2 Mahasiswa Program Studi Agrobisnis Perikanan FPIK-UNSRAT 3 Staf pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi
Analysis Of Consumer Willingness to Pay (Wtp) For Processed Carp (Cyprinus Carpio) And Tilapia (Oreochromis Niloticus) Product Attributes in North Minahasa Regency Longdong, florence V.; Sondakh, Srie J.; Aling, Djuwita R. R.
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 13 No. 2 (2025): ISSUE JULY-DECEMBER 2025
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v13i2.64657

Abstract

North Minahasa Regency has great potential for freshwater fish aquaculture development, particularly carp (Cyprinus carpio) and tilapia (Oreochromis niloticus). This research aims to analyze consumer willingness to pay (WTP) for processed freshwater fish product attributes and influencing factors. The study was conducted on 45 respondents at nine restaurants in Airmadidi, Kalawat, and Dimembe Districts using purposive and accidental sampling methods. Data analysis employed the Contingent Valuation Method (CVM) with bidding game approach and logistic regression. Results showed average consumer WTP for large-sized fried tilapia was IDR 78,400 (20.6% above market price), while large-sized grilled spicy carp was IDR 82,200 (18.5% above market price). Fish size and freshness attributes were the most significant factors affecting consumer WTP (p<0.05). Socio-economic factors significantly influencing WTP were income (p=0.012), age (p=0.028), and visit frequency (p=0.035). Aggregate WTP value indicates potential revenue increase of 15-20% for business operators if desired consumer attributes are met. Keywords: willingness to pay, carp, tilapia, contingent valuation, North Minahasa   Abstrak Kabupaten Minahasa Utara memiliki potensi besar dalam pengembangan budidaya ikan air tawar, khususnya ikan Mas (Cyprinus carpio) dan Nila (Oreochromis niloticus). Penelitian ini bertujuan menganalisis kesediaan konsumen membayar (Willingness to Pay/WTP) terhadap atribut produk olahan ikan air tawar serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian dilakukan pada 45 responden di sembilan rumah makan di Kecamatan Airmadidi, Kalawat, dan Dimembe menggunakan metode purposive dan accidental sampling. Analisis data menggunakan Contingent Valuation Method (CVM) dengan pendekatan bidding game dan regresi logistik. Hasil menunjukkan rata-rata WTP konsumen untuk ikan Nila goreng ukuran besar adalah Rp 78.400 (20,6% di atas harga pasar), sedangkan ikan Mas bakar rica ukuran besar adalah Rp 82.200 (18,5% di atas harga pasar). Atribut ukuran ikan dan kesegaran merupakan faktor paling signifikan yang mempengaruhi WTP konsumen (p<0,05). Faktor sosio-ekonomi yang berpengaruh signifikan adalah pendapatan (p=0,012), usia (p=0,028), dan frekuensi kunjungan (p=0,035). Nilai agregat WTP menunjukkan potensi peningkatan pendapatan pelaku usaha sebesar 15-20% jika dapat memenuhi atribut yang diinginkan konsumen. Kata kunci: willingness to pay, ikan mas, ikan nila, contingent valuation, Minahasa Utara.