Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

BENGKULU; SEBELUM DAN SESUDAH TRAKTAT LONDON: BENGKULU; SEBELUM DAN SESUDAH TRAKTAT LONDON Nina Herlina
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 6 No 2 (2024): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Juni 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v6i2.234

Abstract

Wilayah Bengkulu memiliki dinamika sejarah yang berbeda dengan wilayah Nusantara lainnya. Semula seperti daerah-daerah lain di Nusantara, di Bengkulu ada beberapa kerajaan yang tersebar di berbagai bagian Bengkulu yaitu Manjuto (di Muko Muko), Pinang Berlapis (di Ketahun), Serdang (di Lais), Sungai Lemau (di daerah Pondok kelapa), Sungai Serut (di Bengkulu), Selebar (di daerah Selebar), Empat Petuali (di Rejang Lebong), dan Serawai (di Manna & Bintuhan, Bengkulu Slatan)..Permasalahan yang diteliti adalah bagaimana perubahan terjadi terutama setelah Bengkulu jatuh ke tangan Inggris (EIC), sejak 1685 hingga th 1824 lahir Traktat London. Traktat ini intinya adalah tukar guling wilayah jajahan kedua negara. Inggris menyerahkan Fort Marlborough di Bengkulu dan semua kepemilikannya di Sumatera kepada Belanda dan Belanda menyerahkan semua perusahaan di India yang telah berdiri sejak 1609. Belanda juga menyerahkan Kota dan Benteng Malaka kepada Inggris dan Inggris menarik pasukannya dari daerah Belitung dan menyerahkan Belitung kepada Belanda. Selain itu, Belanda menarik pasukannya dari Singapura dan menyerahkan wilayah tersebut kepada Inggris. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode sejarah yang terdiri atas empat tahap yaitu heuristic, kritik, interpretasi dan historiografi. Hasil peneltian menunjukkan bahwa dengan lahirnya traktat ini, Bengkulu jatuh ke tangan Pemerintah Hindia Belanda sehingga kondisi Bengkulu mengalami perubahan besar di berbagai bidang, kondisi ekonomi memburuk. Dan lebih jauh lagi ketika Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Bengkulu menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bila Traktat London tidak pernah ada, mungkin Bengkulu menjadi bagian dari negara Persemakmuran Inggris.
GERAKAN SOSIAL DI KABUPATEN BANDUNG AWAL ABAD KE -20: GERAKAN SOSIAL DI KABUPATEN BANDUNG AWAL ABAD KE -20 Nina Herlina
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 6 No 3 (2024): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Oktober, 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v6i3.271

Abstract

Pada awal abad ke-20 terjadi beberapa gerakan sosial di Kabupaten Bandung, khususnya di Ciparay, Banjaran , dan Majalaya serta di desa-desa sekitarnya. Gerakan sosial ini ternyata melibatkan Sarekat Islam. Penelitian difokuskan untuk mencari jawaban mengapa terjadi gerakan sosial di daerah pedesaan tersebut. Dengan menggunakan metode sejarah kritis yang terdiri atas empat tahap yaitu heuristik, kritik eksternal dan internal, interpretasi serta historiografi dapat dinarasikan peristiwa-peristiwa gerakan sosial yang terjadi. Dan dengan pendekatan menggunakan teori Perilaku Kolektif dari Neil J. Smelser dapat dijelaskan mengapa dan bagaimana gerakan sosial di Ciparay, Banjaran, dan Majalaya serta di desa-desa sekitarnya dapat terjadi. Menurut Teori Perilaku Kolektif yang berdasarkan Value added theory, dapat disimpulkan bahwa ada enam faktor yang menyebabkan mengapa gerakan sosial sebagai salah satu bentuk perilaku kolektif dapat terjadi.
KONFLIK ANTARA SULTAN AGENG TIRTAYASA DENGAN VOC DAN SULTAN HAJI: KONFLIK ANTARA SULTAN AGENG TIRTAYASA DENGAN VOC DAN SULTAN HAJI Nina Herlina
KABUYUTAN Vol 3 No 1 (2024): Kabuyutan, Maret 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i1.225

Abstract

Sultan Ageng Tirtayasa, sejak naik tahta di Kesultanan Banten pada tahun 1651, didera konflik dengan VOC yang bertubi-tubi. Peperangan pun terjadi berulang-ulang di Teluk Banten dan sekitarnya. Setelah berkuasa cukup lama, Sultan Ageng Tirtayasa juga konflik dengan putra mahkota yaitu Sultan Haji. Konflik ini berakhir dengan tragis, Sultan dipenjara di Batavia dari th 1681 hingga meninggal di penjara sepuluh tahun kemudian. Yang akan diteliti di sini adalah apa penyebab konflik Sultan Ageng Tirtayasa dengan kedua pihak. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode sejarah kritis yang terdiri atas empat tahap yaitu pertama, tahap heuristik, kedua, tahap kritik eksternal dan internal, ketiga, tahap interpretasi, dan keempat, tahap historiografi. Untuk mendapatkan eksplanasi tentang penyebab konflik, penulis melakukan pendekatan multidimensi yaitu meminjam teori Ilmu-ilmu sosial yang memiliki daya penjelas atau daya analitis yang lebih besar. Namun pendekatan ini tidak dituliskan secara eksplisit, namun secara implisit yang terefleksikan dalam hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab konflik antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan VOC adalah perbedaan kepentingan. Sultan Ageng Tirtayasa menganggap bahwa Kesultanan Banten adalah pemegang hegemoni satu-satunya sedangkan VOC mau memonopoli perdagangan rempah-rempah khususnya lada. Penyebab konflik dengan Sultan Haji adalah karena putra mahkota ingin segera naik tahta ketika ayahnya masih menjadi sultan dan untuk itu ia melakukan kudeta dengan meminta dukungan musuh ayahnya yaitu VOC.