Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

STUDI PERBANDINGAN KEANEKARAGAMAN BIVALVIA DAN GASTROPODA PADA PULAU-PULAU KECIL DI BANGKA Afriyansyah, Budi; Insyira, Rania; Papingka, Tirma; Islamiyah, Umiyatul; Syazili, Ahmad; Lissoliha, Lissoliha; Edelweis, Mutia Anggita; Roshan, Rani Arizki; Meilya, Risna; Julisa, Shella Indila; Tiwi, Raka; Fauziyah, Zaenab; Rangga, M Yusuf; Septiani, Hikmah; Pratoyo, Genta Hazi; Winanto, Winanto; Lingga, Rahmad; Henri, Henri
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 11 No 1 (2023): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.988 KB) | DOI: 10.29406/jr.v11i1.4369

Abstract

Penelitian ini dilakukan pada ketiga pulau kecil yang ada di Bangka Belitung yaitu Pulau Putri, Pulau Panjang dan Pulau Semujur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman bivalvia dan gastropoda berdasarkan karakteristik masing-masing pulau. Metode yang digunakan adalah metode Purposive sampling dengan teknik transek garis yang dilakukan pengambilan garis tegak lurus terhadap garis pantai. Stasiun terdiri dari 3 stasiun dengan 5 plot pencuplikan yang dibuat kerangka kuadran berukuran 50×50cm2 dengan jumlah total daerah pencuplikan adalah 15 masing-masing pulau. Analisis data menggunakan rumus keanekaragaman Shannon Wiener. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter fisik dan kimia pada lingkungan ketiga pulau tergolong baik dengan suhu rata-rata 31,9℃, pH 7,395 dan salinitas 4,15%. Keanekaragaman Gastropoda lebih besar daripada keanekaragaman Bivalvia. Hal ini ditunjukkan dengan adanya 21 spesies gastropoda di Pulau Putri, 18 spesies gastropoda di Pulau Panjang, dan 7 spesies gastropoda di Pulau Semujur sedangkan bivalvia 20 spesies di Pulau Putri, 13 spesies di Pulau Panjang, dan 2 spesies di Pulau Semujur. Famili dari kelas Gastropoda yang paling banyak ditemukan adalah Cerithiidae. Berdasarkan parameter yang diukur pada lokasi penelitian dan adanya perbedaan karakteristik dari ketiga pulau menyebabkan adanya perbedaan keanekaragaman gastropoda dan bivalvia, seperti di Pulau Putri yang didominasi oleh rataan terumbu karang yang sangat luas dan rapat dengan substrat berupa pasir, yang mana kondisi tersebut mempengaruhi tingginya keanekaragaman gastropoda dan bivalvia. Adapun di Pulau Panjang di dominasi oleh ekosistem lamun dengan tipe substrat yang lumpur berpasir, keberadaan lamun dapat menjadi sumber nutrisi serta habitat bagi moluska hal tersebut yang menyebabkan tingginya keanekaragaman gastropoda dan bivalvia. Adapun Kondisi lingkungan di Pulau Semujur di dominasi oleh ekosistem lamun dengan substrat berpasir, serta terdapat pemukiman warga, banyaknya aktivitas seperti rekreasi, memancing dan eksplorasi serta pengambilan fauna untuk koleksi pribadi di Pulau tersebut menyebabkan rendahnya keanekaragaman gastropoda dan bivalvia.
KEANEKARAGAMAN SEMUT (HYMENOPTERA: FORMICIDAE) DI BUKIT NENEK, TAMAN WISATA ALAM GUNUNG PERMISAN, BANGKA SELATAN Bulan, Fitri Husada Sri; Afriyansyah, Budi; Apriyadi, Rion; Henri, Henri
Agrifor : Jurnal Ilmu Pertanian dan Kehutanan Vol 23, No 1 (2024): Maret 2024
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31293/agrifor.v23i1.6610

Abstract

Taman Wisata Alam Gunung Permisan, Kabupaten Bangka Selatan merupakan kawasan konservasi yang berisi flora dan fauna. Keanekaragaman fauna di kawasan konservasi penting untuk diperhatikan karena fauna dapat menjaga keseimbangan ekosistem alam. Selain itu, jenis fauna tanah juga dapat digunakan sebagai bioindikator dalam perubahan habitat, seperti semut, hal ini dikarenakan kepekaannya yang tinggi terhadap gangguan habitat. Penelitian tentang keanekaragaman semut di Bangka juga masih terbatas, sehingga perlu dilakukan penelitian ini terutama di Bukit Nenek sebagai tempat konservasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis semut dan mengetahui keanekaragaman semut di Taman Wisata Alam Bukit Nenek Gunung Permisan Kabupaten Bangka Selatan dengan menggunakan metode pitfall trap, hand collection dan beat sheets. Analisis yang digunakan adalah indeks keanekaragaman, kekayaan jenis, kemerataan, kelimpahan relatif, dominasi dan hubungan antara keberadaan semut dengan parameter lingkungan menggunakan analisis PCA. Penelitian dilakukan di 7 stasiun dengan 21 petak dengan menggunakan metode Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ditemukan 23 jenis semut dengan 5 subfamili yaitu Cerapachyinae, Dolichoderinae, Formicinae, Myrmicinae dan Ponerinae. Hasil analisis PCA menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara jumlah individu semut dengan suhu udara, kelembaban udara, kelembaban tanah sedangkan jumlah spesies semut berkorelasi positif dengan suhu udara, kelembaban udara, kelembaban tanah dan pH.
IDENTIFIKASI DAN PREVALENSI CACING INTESTINAL PADA KIJANG BANGKA (MUNTIACUS MUNTJAK BANCANUS) DARI PENANGKARAN SATWA ZAKARIA, PANGKALPINANG, BANGKA Syafutra, Randi; Afriyansyah, Budi; Hidayati, Nur Annis
CONSERVA Vol 1 No 2 (2023): CONSERVA : Jurnal Konservasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan
Publisher : Unmuh Babel Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35438/conserva.v1i2.196

Abstract

Penangkaran Satwa Zakaria merupakan penangkaran untuk konservasi satwa. Terdapat 12 ekor kijang Bangka di Penangkaran Satwa Zakaria. Berbagai infeksi dan penyakit tidak dapat dihindari, antara lain salah satunya yang disebabkan oleh cacing intestinal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan prevalensi cacing intestinal pada kijang Bangka di Penangkaran Satwa Zakaria melalui pemeriksaan feses, serta mengetahui status kesehatan kijang Bangka. Penelitian ini meliputi pengambilan dan perlakuan terhadap sampel, pemeriksaan sampel (kualitatif: metode pengapungan dan sedimentasi, dan kuantitatif: metode Whitlock), identifikasi, serta analisis data. Pemeriksaan kualitatif menunjukkan adanya keberadaan dari telur cacing Echinococcus sp., Metagonimus sp., dan Schistosoma sp. pada kijang Bangka. Prevalensi total telur cacing intestinal pada kijang Bangka adalah 33,3 %, dengan 16,6 % pada jantan dan 36,6 % pada betina. Prevalensi telur tertinggi adalah Echinococcus sp. (83,3 %) dan terendah adalah Metagonimus sp. dan Schistosoma sp. (8,3 %). TTGF (Total Telur per Gram Feses) kijang Bangka adalah 63,63 ± 7,41, dengan TTGF jantan adalah 36,89 ± 1,93 dan TTGF betina adalah 69,98 ± 8,51. Hal ini menandakan status kesehatan kijang Bangka dari Penangkaran Satwa Zakaria tergolong sehat.
KEANEKARAGAMAN DAN STATUS KONSERVASI BURUNG YANG DIPERDAGANGKAN DI KOTA PANGKALPINANG, PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG Irwanto, Riko; Afriyansyah, Budi; Qomariah, Ismi Shanti; Junita, Junita; Fadhilah, Yulisty Soraya
Berita Biologi Vol 22 No 2 (2023): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/beritabiologi.2023.1976

Abstract

Maraknya perdagangan satwa liar utamanya disebabkan oleh tingginya minat konsumen untuk mengoleksi dan memelihara satwa, khususnya jenis burung. Perdagangan burung diketahui tidak hanya memperjualbelikan jenis burung yang tidak dilindungi saja, melainkan terkadang juga jenis burung yang dilindungi. Banyaknya kasus perdagangan burung ilegal dapat berdampak pada kepunahan satwa jenis burung yang dilindungi. Penelitian ini bertujuan menganalisis keanekaragaman jenis burung dan mengetahui status konservasi jenis burung yang diperjualbelikan di Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Penelitian dilakukan menggunakan metode pengamatan langsung dan wawancara dengan pemilik atau pekerja toko burung dan pasar burung untuk mendapatkan data jenis burung. Data hasil penelitian kemudian dianalisis secara deskriptif, dan penentuan status konservasinya mengacu pada CITES, IUCN dan Peraturan Pemerintah Nomor 106 tahun 2018, serta Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 1.357 ekor burung yang diamati, terdapat 65 jenis burung (22 famili, 6 ordo) yang diperdagangkan di Kota Pangkalpinang. Keenam ordo tersebut adalah Psittaciformes (4 spesies), Passeriformes (39 spesies), Strigiformes (1 spesies), Columbiformes (9 spesies), Anseriformes (3 spesies), dan Galliformes (9 spesies). Empat jenis burung yang termasuk dalam kategori ‘terancam’ (Endangered) adalah Chloropsis sonnerati (cica-daun besar), C. cochinchinensis (cica-daun sayap-biru), Lonchura oryzivora (gelatik jawa) dan Alophoixus bres (empuloh janggut). Sedangkan tiga spesies yang termasuk dalam Apendiks II yaitu Tyto alba (serak jawa), Agapornis fischer (love bird/burung cinta) dan L. oryzivora (gelatik jawa). Data jenis dan jumlah burung yang diperjualbelikan di Kota Pangkalpinang diharapkan dapat menjadi informasi awal dalam upaya mengatur perdagangan burung dan menjaga keberlangsungan hidup satwa tersebut pada habitat aslinya.